Hari Ketika Hidup Berhenti
Bayangkan ini: Anda berusia 22 tahun. Baru lulus dari Princeton. Punya pekerjaan impian sebagai war correspondent di Paris. Punya pacar tampan yang Anda cintai. Seluruh hidup terbentang di depan Anda seperti kanvas kosong yang siap dilukis dengan petualangan.
Dan kemudian, dalam satu kalimat dari mulut dokter, semuanya hilang.
"Anda menderita leukemia akut. Kami perlu memulai kemoterapi sekarang juga, atau Anda akan mati dalam beberapa minggu."
Ini yang terjadi pada Suleika Jaouad pada November 2011.
Seminggu sebelumnya, dia sedang packing untuk pindah ke Paris. Membayangkan cafe di Montmartre, meliput cerita internasional, menjelajahi Eropa di weekend.
Sekarang? Dia terbaring di ranjang rumah sakit dengan jarum infus di kedua tangan, rambut mulai rontok, dan tidak tahu apakah dia akan hidup cukup lama untuk melihat ulang tahun berikutnya.
"Between Two Kingdoms" adalah memoar tentang apa yang terjadi ketika hidup yang Anda rencanakan hancur—dan Anda harus menemukan cara untuk hidup dengan yang tersisa.
Tapi ini bukan hanya cerita tentang kanker. Ini cerita tentang pertanyaan yang kita semua hadapi cepat atau lambat:
Siapa kita ketika segala yang mendefinisikan kita diambil? Bagaimana kita hidup ketika kita tidak tahu berapa lama kita punya? Dan ketika badai berlalu, bagaimana kita menemukan jalan pulang ke kehidupan—atau menciptakan kehidupan baru?
Mari kita masuki perjalanan Suleika.
Bagian 1: Gejala yang Diabaikan
Tubuh yang Mencoba Berteriak
Semuanya dimulai dengan gejala-gejala kecil yang Suleika abaikan.
Kelelahan yang luar biasa. Tapi dia mahasiswa tahun terakhir—tentu saja dia lelah. Demam yang datang dan pergi. Tapi dia tinggal di asrama—semua orang sakit.
Gatal-gatal di seluruh tubuh yang membuat dia ingin menggaruk kulitnya sampai berdarah. "Mungkin alergi," pikirnya.
Nyeri punggung yang membuatnya sulit tidur. "Mungkin kasurnya buruk."
Ini adalah pola yang sangat umum. Tubuh kita mencoba memberi tahu kita ada yang salah. Tapi kita terlalu sibuk, terlalu muda, terlalu percaya bahwa kita invincible untuk mendengarkan.
Butuh hampir satu tahun dan puluhan kunjungan dokter sebelum Suleika mendapat diagnosis yang benar.
Satu tahun di mana kanker tumbuh di tubuhnya, menyebar ke sumsum tulangnya, mengambil alih sistem imunnya.
Diagnosis: Leukemia Myeloid Akut
Ketika diagnosis akhirnya datang, itu seperti bom.
Leukemia myeloid akut (AML)—salah satu jenis kanker darah paling agresif. Tingkat survival: sekitar 35% dalam 5 tahun untuk orang muda.
Artinya: Lebih dari setengah orang dengan diagnosis yang sama akan mati dalam 5 tahun.
Dokter menjelaskan dengan cepat: "Kita perlu memasang port chemotherapy hari ini. Mulai kemo besok. Anda akan di rumah sakit paling tidak sebulan. Mungkin lebih lama."
Tidak ada waktu untuk proses. Tidak ada waktu untuk menangis. Tidak ada waktu untuk bilang goodbye pada kehidupan yang dia kenal.
Dalam 24 jam, Suleika berpindah dari apartemennya di New York ke ruang isolasi di rumah sakit Mount Sinai—ruangan steril dengan tekanan udara negatif untuk melindunginya dari infeksi karena sistem imunnya akan dihancurkan oleh kemo.
Ini adalah awal dari 1,500 hari—lebih dari empat tahun—yang akan dia habiskan berjuang untuk hidupnya.
Bagian 2: Kingdom of the Sick—Kerajaan Orang Sakit
Kehilangan Diri
Suleika menulis tentang konsep yang dia pinjam dari penulis Susan Sontag: ada dua kerajaan yang kita semua hidup di dalamnya.
Kingdom of the Well (Kerajaan Orang Sehat)—tempat sebagian besar kita tinggal sebagian besar waktu. Tempat di mana kita merencanakan masa depan, mengejar mimpi, khawatir tentang hal-hal kecil seperti deadline kerja atau drama percintaan.
Kingdom of the Sick (Kerajaan Orang Sakit)—tempat yang tidak ada yang mau kunjungi, tapi begitu Anda masuk, sangat sulit keluar. Tempat di mana waktu bergerak berbeda. Di mana tubuh Anda adalah medan perang. Di mana hidup diukur dalam hitungan hasil lab, bukan pencapaian karir.
Suleika menemukan dirinya terusir dari kerajaan pertama dan dipaksa tinggal di kerajaan kedua—tanpa peta, tanpa panduan, tanpa tahu berapa lama dia akan di sana.
Yang lebih menyakitkan dari kemo? Kehilangan identitas.
Dia bukan lagi Suleika si mahasiswa. Bukan lagi Suleika si calon jurnalis. Bukan lagi Suleika si pacar, si sahabat, si anak perempuan mandiri.
Sekarang dia hanya "pasien kanker"—label yang menelan segala yang lain.
Rutinitas Kemoterapi
Kehidupan di rumah sakit punya ritme tersendiri yang brutal.
6 pagi: Perawat masuk untuk mengambil darah. "Maaf bangunin kamu, sayang."
7 pagi: Tim dokter datang untuk ronde—berbicara tentang Anda seperti Anda bukan di ruangan. "Pasien menunjukkan tanda-tanda mucositis. Kami akan naikkan dosis pain medication."
9 pagi: Kemoterapi dimulai. Cairan beracun—ya, beracun, karena itu yang membunuh sel kanker tapi juga membunuh segalanya—mengalir ke pembuluh darah Anda selama berjam-jam.
Sore: Mual datang seperti gelombang. Tidak ada yang bisa dimakan tanpa muntah. Bahkan air terasa seperti racun.
Malam: Rasa sakit di mulut—luka terbuka di seluruh mulut dan tenggorokan dari kerusakan yang disebabkan kemo. Berbicara sakit. Makan mustahil. Bahkan menelan ludah terasa seperti menelan kaca.
Dan besok? Sama. Dan besok lusa? Sama.
Berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan.
Rambut Rontok dan Identitas yang Hilang
Seminggu setelah kemo pertama, rambut Suleika mulai rontok.
Bukan perlahan. Tapi dalam gumpalan besar.
Dia menulis: "Orang bilang, 'Rambut kan tumbuh lagi.' Tapi buat saya, kehilangan rambut bukan tentang vanitas. Ini tentang kehilangan kontrol terakhir atas tubuh saya. Ini tentang terlihat sakit—sehingga semua orang tahu Anda sakit sebelum Anda membuka mulut."
Dia membeli wig. Tapi wig terasa seperti kostum—berpura-pura menjadi orang yang dulu dia kenal.
Akhirnya, dia melepas wig dan merangkul kepala botaknya. Bukan karena dia merasa powerful. Tapi karena dia terlalu lelah untuk berpura-pura.
Isolasi: Sepi yang Membunuh
Sistem imun Suleika dihancurkan oleh kemoterapi. Artinya: infeksi kecil bisa membunuhnya. Jadi dia tidak boleh:
● Keluar dari apartemen (kecuali ke rumah sakit)
● Bertemu banyak orang
● Makan makanan mentah (sushi, salad—semuanya bisa punya bakteri)
● Menyentuh hewan peliharaan
● Pergi ke tempat ramai
Teman-temannya tetap mengirim pesan di awal. "Semangat! Kamu kuat!" Tapi seiring waktu, pesan berkurang. Kehidupan mereka berlanjut. Mereka dapat pekerjaan. Pindah ke kota lain. Menikah. Punya anak.
Sementara Suleika? Terjebak dalam satu hari yang sama, berulang-ulang.
Dia menulis: "Ketika Anda sakit kronis, Anda tidak hanya kehilangan kesehatan. Anda kehilangan tempat Anda di dunia."
Bagian 3: Cinta di Tengah Kehancuran
Will: Pacar yang Tinggal (dan Pergi)
Ketika diagnosis datang, Suleika punya pacar bernama Will. Mereka sudah bersama 2 tahun. Berencana pindah ke Paris bersama.
Will berjanji akan ada untuk Suleika. Dan di awal, dia memang ada. Dia datang ke rumah sakit setiap hari. Tidur di kursi yang tidak nyaman di sampingnya. Memegang tangannya saat kemo mengalir.
Tapi seiring waktu—dan kanker bukanlah sprint, ini adalah marathon yang melelahkan—hubungan mereka retak.
Will masih muda. Dia punya karir yang berkembang. Teman-temannya keluar, pesta, hidup. Sementara dia menghabiskan malam di rumah sakit dengan pacar yang terlalu sakit untuk berbicara, terlalu lemah untuk bergerak.
Dan kemudian, dalam salah satu momen paling menyakitkan dalam buku ini, Will mengakhiri hubungan mereka—saat Suleika masih di tengah pengobatan.
"Aku tidak bisa lagi," katanya. "Ini terlalu berat."
Suleika menulis: "Aku tidak menyalahkannya. Bagaimana aku bisa? Dia baru 24 tahun. Dia tidak mendaftar untuk ini. Tidak ada yang mendaftar untuk ini."
Tapi kehilangan itu menghancurkan. Bukan hanya kehilangan pacar. Tapi kehilangan orang yang dia pikir akan menemaninya di saat paling gelap.
Jon: Musisi yang Muncul dari Kegelapan
Beberapa bulan kemudian, seorang musisi bernama Jon Batiste—sekarang terkenal sebagai bandleader di The Late Show with Stephen Colbert—mengirim pesan ke Suleika setelah membaca blognya tentang kanker.
Dia tidak kenal Suleika. Tapi dia tersentuh oleh tulisannya.
Mereka mulai berkirim pesan. Lalu video call. Jon akan memainkan musik untuknya dari studionya. Dia mengirim lagu-lagu yang dia tulis terinspirasi oleh perjuangannya.
Perlahan, tanpa mereka rencanakan, mereka jatuh cinta—jenis cinta yang dibangun di atas kerentanan total, bukan fantasi tentang masa depan sempurna.
Jon tidak berpura-pura situasi Suleika tidak menakutkan. Dia tidak bilang, "Semuanya akan baik-baik saja," karena tidak ada yang tahu itu benar.
Tapi dia bilang: "Aku di sini. Hari ini. Besok. Selama kamu mau aku di sini."
Dan dia benar-benar datang. Bukan sebagai penyelamat. Tapi sebagai teman dalam kegelapan.
Bagian 4: Transplantasi Sumsum Tulang—Dilahirkan Kembali
Ketika Kemo Tidak Cukup
Setelah setahun kemoterapi yang brutal, kanker Suleika kembali.
Relapse.
Kata yang membuat setiap pasien kanker terbangun di tengah malam dengan keringat dingin.
Dokter memberikan pilihan: transplantasi sumsum tulang—prosedur yang akan menghancurkan sistem imun Suleika sepenuhnya dan menggantinya dengan sumsum tulang dari donor.
Ini adalah all-or-nothing gamble. Jika berhasil, dia bisa sembuh total. Jika gagal—infeksi, penolakan transplant, komplikasi—dia bisa mati.
Tidak ada pilihan lain.
Menemukan Donor: Kakaknya
Untuk transplantasi sumsum tulang, Anda butuh donor yang genetiknya sangat cocok. Biasanya saudara kandung.
Kakak perempuan Suleika, Anne-Marie, adalah match sempurna.
Tapi ini bukan anugerah sederhana. Ini adalah pengorbanan yang luar biasa.
Anne-Marie harus menjalani prosedur ekstraksi sumsum tulang—prosedur bedah yang menyakitkan. Dia memberikan sel-sel dari tubuhnya sendiri untuk menyelamatkan adiknya.
Suleika menulis: "Kakakku memberiku hidup baru. Secara harfiah. Sel-sel yang mengalir di tubuhku sekarang adalah miliknya. Darah di pembuluh darahku punya DNA-nya. Aku hidup karena dia bersedia memberikan bagian dari dirinya."
100 Hari di Ruang Steril
Sebelum transplantasi, Suleika menjalani "conditioning"—kemoterapi dosis tinggi dan radiasi seluruh tubuh untuk membunuh setiap sel di sumsum tulangnya, termasuk sel kanker.
Prosesnya mengerikan. Dia mengalami:
● Muntah tanpa henti
● Luka terbuka di seluruh mulut dan tenggorokan
● Demam tinggi
● Halusinasi dari obat-obatan
● Rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan
Dan kemudian, transplantasi itu sendiri—cairan merah muda berisi sumsum tulang kakaknya mengalir perlahan ke pembuluh darahnya melalui IV.
Tidak dramatis. Tidak ada operasi besar. Hanya infus yang terlihat seperti infus lainnya. Tapi ini adalah kelahiran kembali.
Setelah transplantasi, Suleika harus tinggal di ruang isolasi selama 100 hari. Tidak boleh keluar. Tidak boleh sentuh siapa pun. Sistem imunnya harus dibangun dari nol—seperti bayi baru lahir yang tidak punya perlindungan terhadap dunia.
100 hari menunggu untuk tahu apakah dia akan hidup atau mati.
Bagian 5: Remisi—Tapi Bukan Akhir yang Bahagia
"Anda Sembuh"—Kata-kata yang Seharusnya Membahagiakan
Setelah 1,500 hari—empat tahun lebih—berjuang melawan kanker, dokter akhirnya mengucapkan kata-kata yang Suleika tunggu-tunggu:
"Anda dalam remisi penuh. Tidak ada tanda-tanda kanker."
Seharusnya ini momen paling bahagia dalam hidupnya. Seharusnya dia melompat kegirangan. Merayakan. Berterima kasih.
Tapi yang dia rasakan? Kosong. Hilang. Bingung.
Dia menulis: "Semua orang mengharapkan saya untuk bahagia. Dan saya mencoba. Tapi tidak ada yang memberitahu saya bahwa yang paling sulit bukan bertahan dari kanker—tapi belajar hidup setelahnya."
Reentry: Masuk Kembali ke Dunia yang Asing
Suleika menyebut fase ini "reentry"—seperti pesawat luar angkasa yang masuk kembali ke atmosfer bumi. Gesekan yang membakar.
Empat tahun hilang dari hidupnya. Teman-teman sebayanya sekarang punya karir mapan, menikah, punya anak. Mereka tahu siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.
Suleika? Dia seperti Rip Van Winkle—terbangun dari tidur panjang ke dunia yang tidak dia kenali.
Dia tidak punya pekerjaan. Tidak punya karir. Tubuhnya rusak—efek samping dari kemo dan radiasi yang akan dia bawa seumur hidup. Dia lupa bagaimana rasanya keluar dengan teman. Bagaimana membuat small talk. Bagaimana menjadi "normal."
Dan pertanyaan paling mengerikan: "Sekarang apa? Untuk apa saya bertahan hidup?"
Bagian 6: Road Trip—100 Hari Mencari Makna
Ide Gila: Perjalanan Melintasi Amerika
Suleika merasa terjebak. Tidak sakit, tapi tidak sehat. Tidak mati, tapi tidak benar-benar hidup. Dia butuh sesuatu. Sebuah misi. Sebuah tujuan.
Maka dia membuat keputusan impulsif: Perjalanan road trip 15,000 mil melintasi Amerika untuk bertemu orang-orang yang memberinya harapan selama dia sakit.
Selama bertahun-tahun di rumah sakit, ratusan orang—kebanyakan orang asing—menulis surat kepadanya. Membagikan cerita mereka tentang kehilangan, perjuangan, dan bagaimana mereka bertahan. Surat-surat itu menyelamatkannya di hari-hari tergelap.
Sekarang, dia ingin bertemu mereka. Mendengar cerita mereka secara langsung. Dan mungkin, dalam prosesnya, menemukan cerita barunya sendiri.
Perjalanan dengan Oscar—Anjing Penyelamat
Suleika mengadopsi anjing bernama Oscar—anjing yang selamat dari shelter pembunuhan. Mereka berdua survivors.
Dengan Oscar di kursi penumpang, dia berkendara dari New York ke California, lalu ke utara sampai Montana, turun ke Texas, dan kembali. 100 hari. 22 negara bagian. Puluhan orang.
Setiap pertemuan membuka luka dan menyembuhkannya sekaligus.
Orang-Orang yang Ditemuinya
Ned—Veteran perang dengan PTSD: Mengajarkan Suleika bahwa trauma tidak pernah benar-benar hilang. Anda hanya belajar hidup dengannya.
Salsa—Remaja dengan kanker terminal: Menunjukkan keberanian menghadapi kematian dengan mata terbuka dan hati yang masih bisa tertawa.
Max—Pria yang kehilangan putranya: Mengajarkan bahwa grief tidak punya timeline. Anda tidak "sembuh" dari kehilangan. Anda hanya membawa luka itu dengan lebih anggun.
Katherine—Seniman yang melawan depresi: Menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi bentuk survival.
Setiap orang yang dia temui adalah cermin dari bagian dirinya—bagian yang patah, bagian yang mencari, bagian yang masih berharap.
Apa yang Dia Temukan
Di akhir perjalanan 100 hari, Suleika tidak menemukan "jawaban" yang dia cari.
Dia tidak menemukan karir baru yang sempurna. Tidak menemukan makna hidup yang jelas. Tidak menemukan kebahagiaan yang permanen.
Tapi dia menemukan sesuatu yang lebih berharga: Dia menemukan bahwa dia tidak sendiri.
Semua orang yang dia temui sedang berjuang dengan sesuatu. Semua orang hidup di antara dua kerajaan—antara siapa mereka dulu dan siapa mereka akan menjadi. Antara kehilangan dan harapan. Antara patah dan menyembuhkan.
Dan dia menyadari: Tidak ada yang benar-benar "kembali" ke kehidupan lama mereka setelah trauma besar. Kita tidak pulang ke rumah yang sama. Kita membangun rumah baru.
Bagian 7: Menulis untuk Bertahan Hidup
Blog yang Menyelamatkan
Sejak awal sakit, Suleika menulis—awalnya blog untuk memberitahu keluarga dan teman tentang kondisinya.
Tapi menulis menjadi lebih dari update medis. Ini menjadi terapi. Saksi. Cara untuk membuat hidup yang terasa chaos punya makna.
Blognya, "Life, Interrupted" di New York Times, dibaca jutaan orang. Orang asing dari seluruh dunia menulis kepadanya—berbagi cerita mereka tentang kanker, kehilangan, kesedihan, harapan.
Dia menyadari: Menulis adalah cara dia mengubah penderitaan menjadi sesuatu yang berharga. Bukan menghapus rasa sakit, tapi memberikan rasa sakit itu purpose.
"Between Two Kingdoms"—Buku yang Lahir dari Luka
Butuh 8 tahun setelah diagnosis untuk Suleika menulis buku ini.
8 tahun untuk cukup jauh dari trauma sehingga dia bisa melihatnya dengan jelas. Tapi tidak terlalu jauh sehingga dia lupa bagaimana rasanya.
Buku ini bukan hanya tentang kanker. Ini tentang liminal space—ruang di antara. Antara sakit dan sehat. Antara kehidupan lama dan kehidupan baru. Antara siapa kita dulu dan siapa kita akan menjadi.
Kita semua, suatu saat, akan hidup di ruang ini. Mungkin karena penyakit. Mungkin karena kehilangan. Mungkin karena perubahan besar yang tidak kita pilih.
Dan pertanyaannya selalu sama: Bagaimana kita hidup di antara dua kerajaan?
Penutup: Pelajaran dari Hidup yang Terhenti
Suleika mengakhiri bukunya dengan refleksi yang powerful:
"Kanker mengajari saya bahwa hidup bukan tentang menunggu badai berlalu. Hidup adalah belajar menari di tengah hujan—bahkan ketika hujan itu adalah kemoterapi beracun, bahkan ketika kakimu terlalu lemah untuk berdiri."
Lima Pelajaran dari "Between Two Kingdoms"
1. Tidak Ada yang Dijamin
Suleika kehilangan 4 tahun terbaik hidupnya—usia 22-26, waktu ketika kebanyakan orang membangun karir, hubungan, identitas.
Pelajaran brutal: Masa depan yang kita rencanakan bisa hancur dalam satu hari.
Tapi ini juga membebaskan. Jika tidak ada yang dijamin, mengapa menunda hal-hal yang penting? Mengapa tidak mengatakan "aku cinta kamu" hari ini? Mengapa tidak mengejar mimpi itu sekarang?
2. Kesehatan Bukan Hanya Tentang Tubuh
Suleika sembuh dari kanker. Tapi dia tidak "sehat"—setidaknya tidak untuk waktu lama.
Kesehatan mental, emosional, spiritual sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dan kadang lebih sulit untuk sembuh.
Pelajaran: Jangan abaikan luka yang tidak terlihat. Jangan pura-pura kuat ketika kamu patah.
3. Komunitas Adalah Obat
Yang menyelamatkan Suleika bukan hanya obat-obatan. Tapi surat dari orang asing. Blog yang menghubungkannya dengan orang lain. Kakak yang memberikan sumsum tulangnya. Jon yang datang setiap hari dengan musiknya.
Kita tidak bisa bertahan sendirian. Kita butuh orang lain—untuk mendengar, untuk menahan, untuk mengingatkan kita siapa kita ketika kita lupa.
4. Menulis (atau Bentuk Ekspresi Lain) Menyelamatkan
Menulis memberikan Suleika cara untuk memproses trauma. Untuk membuat makna dari chaos. Untuk mengubah penderitaan menjadi sesuatu yang bisa membantu orang lain.
Pelajaran: Temukan cara Anda untuk berekspresi—menulis, melukis, musik, apa pun. Jangan pendam luka Anda. Biarkan keluar, dalam bentuk yang konstruktif.
5. "Sembuh" Bukan Destinasi—Itu Proses Seumur Hidup
Suleika dalam remisi. Tapi dia tidak "kembali normal." Karena tidak ada "kembali."
Dia adalah orang yang berbeda sekarang. Dengan bekas luka yang berbeda. Dengan kekuatan yang berbeda. Dengan pemahaman tentang hidup yang berbeda.
Pelajaran: Setelah trauma besar, Anda tidak pulang ke rumah lama. Anda membangun rumah baru. Dan itu oke.
Pertanyaan untuk Anda
Suleika menulis: "Kita semua, di beberapa titik dalam hidup, akan mengalami momen ketika hidup kita terhenti. Ketika rencana hancur. Ketika kita tidak tahu siapa kita lagi."
Mungkin Anda sedang di sana sekarang:
● Kehilangan pekerjaan yang mendefinisikan Anda
● Berakhirnya hubungan yang Anda pikir akan selamanya
● Diagnosis yang mengubah segalanya
● Kehilangan orang yang Anda cintai
● Perubahan besar yang tidak Anda pilih
Atau mungkin Anda akan di sana suatu hari nanti. Karena hidup tidak bertanya izin sebelum menghancurkan rencana kita.
Pertanyaannya bukan "Apakah ini akan terjadi?" Pertanyaannya adalah "Bagaimana saya akan merespons ketika terjadi?"
Suleika menunjukkan satu cara: Dengan kerentanan. Dengan komunitas. Dengan menemukan makna di tengah penderitaan. Dengan terus melangkah maju, bahkan ketika Anda tidak tahu ke mana Anda pergi.
Seperti yang dia tulis:
"Hidup terhenti bukan akhir cerita. Kadang itu adalah awal cerita yang paling penting."
Tentang Buku Asli
"Between Two Kingdoms: A Memoir of a Life Interrupted" diterbitkan pada Februari 2021 dan langsung menjadi New York Times bestseller.
Suleika Jaouad adalah penulis, pembicara, dan advokat untuk pasien kanker muda. Selama pengobatannya, dia menulis kolom "Life, Interrupted" untuk New York Times yang memenangkan Emmy Award setelah diadaptasi menjadi video series.
Dia menikah dengan Jon Batiste pada Februari 2022. Pada November 2022, dia mengumumkan bahwa kankernya kembali—dan dia sekali lagi menjalani pengobatan. Dia terus menulis dan berbagi perjalanannya dengan transparansi yang luar biasa.
Untuk pemahaman lengkap tentang perjalanan ini—dengan semua nuansa, detail emosional, dan momen-momen indah yang tidak bisa diringkas—sangat disarankan membaca buku aslinya.
Suleika adalah penulis luar biasa. Setiap kata dipilih dengan hati-hati. Setiap kalimat membawa bobot emosional yang dalam. Ini bukan sekadar memoar tentang kanker—ini adalah karya seni tentang apa artinya menjadi manusia yang rapuh dan kuat pada saat yang sama.
Sekarang pergilah dan hadapi kingdom Anda sendiri—apa pun bentuknya. Dan ingat: Anda tidak sendiri di ruang di antara.
Seperti yang Suleika tunjukkan: Di ruang itulah kita menemukan siapa kita sebenarnya.