Nuclear War: A Scenario

Annie Jacobsen


Pertanyaan yang Tidak Ingin Kita Jawab 

Bayangkan ini adalah Selasa pagi yang normal. Anda sedang sarapan dengan keluarga. Anak-anak bersiap sekolah. Anda mungkin scrolling berita di ponsel sambil minum kopi. 

Tiba-tiba—tanpa peringatan, tanpa deklarasi perang, tanpa ultimatum—rudal balistik antarbenua meluncur dari Korea Utara menuju pantai barat Amerika Serikat. 

Waktu tempuh: 33 menit. 

Dalam 33 menit, satu rudal nuklir bisa menghapus San Francisco dari peta. Satu juta orang mati dalam sekejap. Dua juta terluka parah. Radiasi menyebar ratusan kilometer. 

Tapi itu baru permulaan. 

Karena dalam 72 menit berikutnya—hanya 72 menit—5.000 hulu ledak nuklir akan diluncurkan di seluruh planet. Kota-kota besar musnah. Ratusan juta orang tewas dalam jam pertama. Miliaran lainnya akan mati dalam minggu dan bulan berikutnya dari radiasi, kelaparan, dan keruntuhan peradaban. 

Ini bukan fiksi ilmiah. Ini bukan film Hollywood. Ini adalah skenario yang sangat mungkin terjadi—berdasarkan protokol nyata, sistem yang ada saat ini, dan kebijakan yang berlaku sekarang. 

Annie Jacobsen, jurnalis investigasi pemenang Pulitzer Prize, menghabiskan bertahun-tahun mewawancarai mantan Sekretaris Pertahanan, komandan NORAD, perancang senjata nuklir, ilmuwan iklim, dan orang-orang yang pernah berada di dalam bunker perintah nuklir. 

Pertanyaan yang dia ajukan sederhana tapi menakutkan: "Apa yang sebenarnya terjadi jika perang nuklir dimulai hari ini?" 

Jawabannya akan mengubah cara Anda melihat dunia. 

Mari kita mulai dengan menit pertama.

 


Bagian 1: T-0 hingga T+6 Menit - Keputusan Terpenting dalam Sejarah 

Deteksi: Satelit yang Tidak Pernah Tidur 

T-0 (Jam 11:00 pagi, waktu Washington DC) 

Di suatu tempat di atas semenanjung Korea, satelit deteksi inframerah Amerika menangkap sesuatu: heat signature yang sangat khas—plume api dari peluncuran rudal balistik. 

Komputer di Colorado Springs langsung memproses data. Algoritma canggih menganalisis: 

● Lokasi peluncuran 

● Trajektori 

● Kecepatan 

● Kemungkinan target 

Kesimpulan dalam 90 detik: ICBM Korea Utara. Target: Washington DC atau San Francisco. Waktu tiba: 33 menit. 

Alarm berbunyi di NORAD (North American Aerospace Defense Command). Di gedung Pentagon. Di Gedung Putih. 

T+2 Menit: Telepon yang Mengubah Segalanya 

Presiden Amerika Serikat sedang meeting dengan kabinet. Tiba-tiba seorang ajudan masuk dengan wajah pucat, membawa briefcase nuklir—tas kulit hitam yang selalu mengikuti presiden ke mana pun. 

"Pak Presiden, kita punya situasi darurat." 

Video call secure dimulai. Di layar: Panglima Militer, Sekretaris Pertahanan, Komandan NORAD. 

"Presiden, kami mendeteksi peluncuran ICBM dari Korea Utara. Satu rudal. Hulu ledak diperkirakan 1 megaton. Target kemungkinan Washington DC. Waktu tiba: 31 menit." 

Ruangan hening. 

Presiden bertanya, "Berapa persen kemungkinan terjadinya?" 

"98%, Pak. Kita tracking dengan tiga satelit dan dua radar ground. Ini bukan false alarm."

T+4 Menit: 6 Menit untuk Mengubah Sejarah

Inilah yang tidak dipahami kebanyakan orang: Presiden Amerika punya waktu hanya sekitar 6 menit untuk memutuskan apakah akan melakukan serangan balasan nuklir. 

Mengapa hanya 6 menit? 

Karena dalam protokol militer AS, rudal balasan harus diluncurkan sebelum rudal musuh meledak—ini disebut "launch on warning" policy. 

Alasannya: jika menunggu sampai rudal musuh menghantam, infrastruktur komunikasi mungkin hancur. Bunker komando mungkin musnah. Sistem command-and-control lumpuh. Amerika tidak bisa membalas. 

Jadi keputusan harus dibuat sekarang. Sebelum musuh menyerang. 

Presiden membuka briefcase nuklir. Di dalamnya: buku kecil dengan opsi-opsi serangan—SIOP (Single Integrated Operational Plan). 

Ada ratusan opsi. Tapi dalam situasi ini, yang relevan adalah beberapa: 

Opsi 1: Serangan terbatas Hancurkan fasilitas nuklir Korea Utara dengan 20 hulu ledak. Kirim pesan: "Kami bisa menghancurkan Anda, tapi kami menahan diri." 

Opsi 2: Serangan penuh Korea Utara 150 hulu ledak. Hancurkan semua kota besar, fasilitas militer, infrastruktur. Korea Utara lenyap dari peta. 

Opsi 3: Tidak membalas sama sekali Tunggu rudal menghantam. Evaluasi kerusakan. Baru putuskan respons. 

T+5 Menit: Dilema yang Mustahil 

Presiden punya 60 detik untuk memutuskan. 

60 detik untuk keputusan yang akan membunuh jutaan orang—atau membiarkan jutaan warga Amerika mati tanpa perlawanan. 

Tidak ada waktu untuk konsultasi kongres. Tidak ada waktu untuk diplomasi. Tidak ada waktu untuk verifikasi lebih lanjut. 

Hanya satu manusia. Satu keputusan. Satu menit. 

Inilah yang Annie Jacobsen sebut "the madness of nuclear war"—kegilaan dari sistem yang memaksa manusia membuat keputusan terbesar dalam sejarah dengan informasi tidak lengkap dalam waktu yang mustahil singkat. 

T+6 Menit: "Execute"

Presiden mengambil kartu autentikasi nuklir dari saku—kartu plastik yang selalu dia bawa, berisi kode-kode rahasia. 

Dia membaca kode verifikasi ke telepon. Operator di bunker komando nuklir mencocokkan kode. 

"Identitas telah dikonfirmasi, Pak Presiden." 

Presiden berbicara perlahan, jelas: "Laksanakan Opsi 2. Otorisasi.

Alpha-Zulu-Seven-Four." 

Di bunker bawah tanah di Montana, Wyoming, North Dakota, silo-silo rudal menerima sinyal. Operator melakukan protokol peluncuran—dua orang harus memutar kunci secara bersamaan, dipisahkan cukup jauh sehingga satu orang tidak bisa melakukannya sendiri. 

"Launch in 10... 9... 8..." 

Tidak ada jalan mundur sekarang.

 


Bagian 2: T+7 hingga T+30 Menit - Eskalasi yang Tak Terelakkan 

Rudal Amerika Meluncur 

150 rudal balistik antar benua Amerika meluncur dari darat dan kapal selam menuju Korea Utara. 

Setiap rudal membawa 3-8 hulu ledak independen (MIRV—Multiple Independently targetable Reentry Vehicles). Satu rudal bisa menghancurkan beberapa kota sekaligus. 

Total: lebih dari 600 hulu ledak menuju Korea Utara. 

Dalam 20 menit, Korea Utara akan berhenti ada. 

Tapi ada masalah. 

Rusia Melihat—Dan Salah Paham 

Satelit Rusia juga mendeteksi peluncuran massal rudal Amerika. 

Tapi mereka tidak tahu targetnya. 

Trajektori awal rudal Amerika terlihat ambigu—bisa ke Korea Utara, tapi juga bisa ke Timur Jauh Rusia atau bahkan Moskow jika rudal itu mengubah jalur. 

Sistem deteksi Rusia tidak sempurna. Ada ketidakpastian. 

Dan dalam ketidakpastian, protokol militer Rusia jelas: Asumsikan skenario terburuk. Launch on warning. 

T+15 Menit: Rusia Bereaksi 

Presiden Rusia menghadapi dilema yang sama dengan Presiden Amerika 15 menit sebelumnya. 

Satelit menunjukkan ratusan rudal Amerika di udara. Tujuan tidak jelas. Waktu untuk memutuskan: kurang dari 10 menit. 

Rusia punya 1.600 hulu ledak nuklir dalam status "ready to launch." Jika mereka menunggu terlalu lama dan ini memang serangan ke Rusia, mereka kehilangan kemampuan untuk membalas. 

Keputusan dibuat: Balasan massal.

Rusia meluncurkan 500 rudal—tidak hanya ke Amerika, tapi juga ke pangkalan-pangkalan NATO di Eropa yang dianggap ancaman. 

T+18 Menit: NATO Terpaksa Terlibat 

Satelit NATO mendeteksi peluncuran Rusia. Beberapa rudal menuju London, Paris, Berlin. 

Inggris dan Prancis—yang punya arsenal nuklir independen—bereaksi dengan meluncurkan rudal mereka. 

China, melihat rudal Amerika dan Rusia terbang di sekitar perbatasan mereka, juga meluncurkan rudal sebagai "pencegahan." 

Dalam 30 menit sejak peluncuran pertama Korea Utara, 5.000 hulu ledak nuklir berada di udara. 

Tidak ada lagi komunikasi. Tidak ada lagi negosiasi. Hanya mesin-mesin perang yang mengikuti protokol yang telah diprogram.

 


Bagian 3: T+30 hingga T+90 Menit - Kiamat Global

Ledakan Pertama: San Francisco 

Rudal Korea Utara mencapai target: San Francisco. 

T+33 Menit 

Bola api berdiameter 1,6 kilometer. Suhu di pusat ledakan: 100 juta derajat Celsius—lebih panas dari inti matahari. 

Dalam radius 3 kilometer: setiap makhluk hidup menguap seketika. Bangunan menguap. Tidak ada abu, tidak ada sisa—hanya radiasi. 

Radius 8 kilometer: badai api. Angin 1.000 km/jam. Semua yang bisa terbakar—terbakar. Orang-orang yang tidak mati langsung mati karena sesak napas—api menghabiskan semua oksigen. 

Radius 15 kilometer: radiasi dosis fatal. Mereka yang selamat dari ledakan akan mati dalam beberapa hari atau minggu karena efek radiasi. 

Total korban dari satu rudal: 1,2 juta tewas langsung. 2 juta terluka parah.

Tapi ini baru satu kota. Satu rudal. 

72 Menit Berikutnya: Peradaban Berakhir 

Dalam satu jam berikutnya, 5.000 hulu ledak meledak di seluruh dunia. 

Amerika Serikat: 

● Washington DC: musnah 

● New York: musnah 

● Los Angeles: musnah 

● Chicago: musnah 

● 50 kota besar lainnya: musnah 

Rusia: 

● Moskow: musnah 

● St. Petersburg: musnah 

● Semua kota besar: musnah 

Eropa: 

● London: musnah

● Paris: musnah 

● Berlin: musnah 

● Roma: musnah 

Asia: 

● Beijing: musnah 

● Tokyo mengalami kerusakan masif dari EMP dan radiasi

● Seoul: musnah 

● Seluruh semenanjung Korea: tidak lagi bisa dihuni

Total dalam 2 jam pertama: 

● 300 juta orang tewas langsung 

● 500 juta terluka parah 

● Infrastruktur global: hancur total 

Tapi ini baru awal.

 


Bagian 4: Hour 3 - Week 2 - Nuclear Winter 

Asap yang Menggelapkan Dunia 

Inilah yang tidak dipahami kebanyakan orang tentang perang nuklir: ledakan adalah bagian terkecil dari kematian. 

Bagian terburuk datang setelahnya. 

5.000 ledakan nuklir menciptakan badai api di ratusan kota. Kebakaran masif yang tidak bisa dipadamkan—karena petugas pemadam kebakaran mati, sistem air hancur, dan tidak ada yang tersisa untuk dipadamkan. 

Asap dari kebakaran ini—150 juta ton jelaga dan abu—naik ke stratosfer.

Dalam dua minggu: asap menutupi seluruh planet. 

Matahari terhalang. Temperatur global turun drastis. 

Kematian Massal Fase Dua 

Minggu 1-4: Radiasi dan Kelaparan Awal 

Dampak radiasi turun seperti salju—tapi salju yang membunuh. Orang-orang yang selamat dari ledakan mulai mati karena penyakit dari efek radiasi: 

● Mual dan muntah 

● Rambut rontok 

● Pendarahan internal 

● Kegagalan organ 

● Kematian dalam 2-4 minggu 

Rantai pasokan makanan kolaps. Tidak ada truk, tidak ada listrik, tidak ada komunikasi. Supermarket kosong dalam 3 hari. Orang-orang mulai kelaparan. 

Bulan 2-6: Nuclear Winter Dimulai 

Temperatur global turun 20-30 derajat Celsius. 

Tanaman mati. Tidak ada fotosintesis—tidak ada sinar matahari. Hasil panen global: nol.

Hewan ternak mati—tidak ada makanan untuk mereka. 

Ikan di laut mati—perubahan temperatur dan ekosistem kolaps. 

Miliaran orang menghadapi kelaparan massal.

Tahun 1-5: Kepunahan Massal 

Dalam lima tahun setelah perang nuklir: 

90% populasi manusia mati—dari kelaparan, penyakit, kekerasan, dan kedinginan

● Peradaban modern berakhir—tidak ada listrik, tidak ada internet, tidak ada pemerintahan 

● Kelompok-kelompok kecil manusia bertahan dengan berburu dan mencari sisa-sisa—seperti kembali ke zaman batu

 


Bagian 5: Kesalahan Manusia - Mengapa Ini Bisa Terjadi

False Alarm yang Hampir Memicu Kiamat 

Annie Jacobsen mendokumentasikan betapa rapuhnya sistem ini dengan cerita nyata:

26 September 1983: Hari Dunia Hampir Berakhir 

Letnan Kolonel Stanislav Petrov bertugas di bunker peringatan dini Soviet. Tengah malam, alarm berbunyi. 

Komputer menunjukkan: 5 rudal nuklir Amerika diluncurkan menuju Uni Soviet.

Protokol jelas: laporkan ke Moskow. Moskow akan meluncurkan ribuan rudal sebagai balasan. 

Tapi Petrov ragu. Kenapa hanya 5 rudal? Jika Amerika benar-benar menyerang, seharusnya ratusan. 

Dia punya 5 menit untuk memutuskan: laporkan atau tidak? 

Dia memutuskan: False alarm. 

Dia benar. Satelit Soviet salah mengidentifikasi pantulan sinar matahari di awan sebagai peluncuran rudal. 

Satu orang. Satu keputusan. Menyelamatkan miliaran nyawa. 

Tapi Petrov tidak diberi medali. Dia malah diturunkan pangkat—karena sistem Uni Soviet seharusnya "sempurna" dan Petrov meragukannya, walaupun pada akhirnya ia terbukti benar.

1995: Bill Clinton Hampir Meluncurkan Nuklir 

Norwegia meluncurkan roket penelitian cuaca. Mereka memberitahu Rusia sebelumnya—tapi notifikasi tidak sampai ke radar operator di shift malam. 

Radar Rusia mendeteksi: roket menuju Moskow. 

Briefcase nuklir diaktifkan di depan Presiden Yeltsin. Dia punya 8 menit untuk memutuskan.

Pada menit ke-7, mereka menyadari: ini roket cuaca, bukan serangan. 

Dunia terhindar dari perang nuklir karena 60 detik. 

Berapa Kali Lagi Kita Akan Beruntung?

Sejak 1950-an, ada setidaknya 6 kejadian di mana dunia hampir masuk ke perang nuklir karena kesalahan teknis, misinterpretasi, atau miscommunication. 

Dan sistem hari ini tidak lebih baik—malah lebih kompleks, lebih otomatis, dengan lebih sedikit waktu untuk keputusan manusia.

 


Bagian 6: Tidak Ada Pemenang - Doktrin Kehancuran Bersama 

Mutual Assured Destruction (MAD) 

Sejak Perang Dingin, kebijakan nuklir dunia didasarkan pada satu konsep: MAD—Mutual Assured Destruction (Kehancuran Bersama yang Terjamin). 

Logikanya: Jika kedua pihak tahu bahwa perang nuklir akan menghancurkan keduanya, tidak ada yang akan memulai. 

Tapi ada masalah fundamental: 

Sistem ini mengasumsikan: 

1. Semua aktor rasional 

2. Tidak ada kesalahan teknis 

3. Tidak ada miscommunication 

4. Tidak ada aktor irasional (seperti diktator yang tidak peduli dengan nyawa rakyatnya)

Dan kita sudah tahu: semua asumsi itu salah. 

Arsenal Hari Ini 

Saat ini, ada 12.500 hulu ledak nuklir di dunia: 

● Rusia: 5.889 

● Amerika: 5.244 

● China: 410 

● Prancis: 290 

● Inggris: 225 

● Pakistan: 170 

● India: 164 

● Israel: 90 

● Korea Utara: 50 

Cukup untuk menghancurkan peradaban manusia 10 kali lipat. 

Dan yang lebih menakutkan: lebih dari 2.000 di antaranya dalam status "ready to launch"—bisa diluncurkan dalam hitungan menit.

 


Bagian 7: Pelajaran untuk Kita Semua 

1. Ini Bukan Masalah Abstrak 

Kebanyakan orang tidak pernah memikirkan perang nuklir. Ini terasa seperti ancaman abstrak, sesuatu dari film atau masa Perang Dingin yang sudah berlalu. 

Tapi tidak. Ancamannya nyata. Sekarang. Hari ini. 

Setiap hari, ada ribuan senjata nuklir yang siap diluncurkan. Setiap hari, sistem deteksi bisa salah. Setiap hari, pemimpin bisa membuat keputusan buruk. 

2. Tidak Ada Pertahanan dari Nuklir 

Tidak ada "missile defense system" yang bisa menghentikan serangan nuklir massal. Tidak ada teknologi yang memadai .

Iron Dome Israel bisa menghentikan roket sederhana. Tapi melawan ratusan ICBM dengan puluhan hulu ledak palsu (decoys)? Mustahil. 

Pertahanan terbaik adalah: tidak pernah ada perang nuklir. 

3. Waktu Keputusan Terlalu Singkat 

6 menit untuk memutuskan apakah akan membunuh jutaan orang. 

Tidak ada sistem yang bisa dipercaya dengan keputusan se-monumental itu dalam waktu se-singkat itu. 

Satu-satunya solusi: perpanjang waktu keputusan. Hilangkan "launch on warning." Tapi ini memerlukan kepercayaan antar negara—dan itu tidak ada. 

4. Generasi Muda Harus Peduli 

Generasi yang hidup melalui Perang Dingin memahami ancaman ini. Mereka pernah melakukan drill gempa atau serangan nuklir di sekolah. 

Tapi generasi baru tidak pernah mengalami ini. Untuk mereka, nuklir adalah sesuatu dalam buku sejarah. 

Annie Jacobsen menulis buku ini untuk mengingatkan: ancaman belum hilang. Malah lebih berbahaya sekarang. 

5. Satu Senjata Nuklir Sudah Terlalu Banyak

Hiroshima dan Nagasaki—satu-satunya senjata nuklir yang pernah digunakan dalam perang—membunuh 200.000 orang. 

Bom nuklir hari ini 100 kali lebih kuat. 

Satu bom nuklir modern bisa membunuh satu juta orang. 

Dan ada 12.500 di dunia. 

Jika hanya 1% diluncurkan, itu 125 bom. 125 juta orang mati. Peradaban kolaps.

 


Penutup: Pertanyaan yang Harus Kita Jawab

Annie Jacobsen menutup bukunya dengan pertanyaan yang mengganggu: 

"Mengapa kita, sebagai spesies, menyimpan senjata yang bisa mengakhiri semua kehidupan di planet ini—dan kita menyimpannya dalam kondisi siap diluncurkan dalam hitungan menit?" 

Tidak ada jawaban yang masuk akal. 

Tidak ada skenario di mana penggunaan senjata nuklir "menang." 

Tidak ada skenario di mana satu pihak selamat sementara yang lain hancur.

Dalam perang nuklir, semua orang kalah. 

Apa yang Bisa Kita Lakukan? 

Jacobsen tidak hanya menulis buku untuk menakut-nakuti. Dia menulis untuk menyadarkan.

Karena kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan. 

Sebagai individu: 

1. Edukasi diri sendiri—pahami bahwa ancaman ini nyata 

2. Bicarakan dengan orang lain—jangan biarkan topik ini menjadi tabu

3. Dukung organisasi anti-nuklir—ada banyak yang bekerja untuk gerakan bebas nuklir 

Sebagai masyarakat global: 

1. Tuntut transparansi—dari pemerintah tentang kebijakan nuklir 

2. Dukung perjanjian disarmament—seperti Perjanjian Larangan Penggunaan Nuklir sebagai senjata perang 

3. Perpanjang waktu keputusan—hilangkan "launch on warning" 

4. Kurangi jumlah senjata "ready to launch"—tidak ada alasan 2.000+ senjata harus siap dalam menit 

Pesan Terakhir 

Di akhir buku, Jacobsen mengutip Albert Einstein: 

"Saya tidak tahu senjata apa yang akan digunakan dalam Perang Dunia III, tapi Perang Dunia IV akan dilakukan dengan tongkat dan batu." 

Einstein mengatakan ini tahun 1949—76 tahun yang lalu.

Dan kita masih belum belajar. 

Kita masih menyimpan senjata yang bisa mengakhiri peradaban. Kita masih punya sistem yang memberi manusia 6 menit untuk keputusan yang akan membunuh miliaran. 

Tapi kita masih punya waktu untuk berubah. 

Selama tidak ada rudal yang diluncurkan, selama masih ada dialog, selama masih ada kesadaran—kita punya kesempatan. 

Buku "Nuclear War: A Scenario" bukan prediksi. Ini peringatan. 

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita akan mendengarkan? 

Atau kita akan terus hidup seolah-olah 12.500 senjata kiamat tidak ada—sampai suatu hari, satu kesalahan, satu miscommunication, satu keputusan buruk—dan semuanya berakhir? 

72 menit. Itu saja waktu yang dibutuhkan untuk mengakhiri segalanya. 

Sekarang Anda tahu

Apa yang akan Anda lakukan dengan pengetahuan ini?

 


Tentang Buku Asli 

"Nuclear War: A Scenario" diterbitkan Maret 2024 dan langsung menjadi New York Times #1 Bestseller. 

Annie Jacobsen adalah jurnalis investigasi pemenang Pulitzer Prize yang sebelumnya menulis "Area 51" (2011), "Operation Paperclip" (2014), dan "The Pentagon's Brain" (2015)—semua tentang program-program rahasia militer Amerika. 

Untuk buku ini, Jacobsen mewawancarai: 

● Mantan Sekretaris Pertahanan 

● Komandan NORAD 

● Perancang senjata nuklir di Los Alamos 

● Ilmuwan iklim yang memodelkan nuclear winter 

● Operator di bunker komando nuklir 

Buku ini bukan opini. Ini kompilasi dari ratusan jam wawancara dengan orang-orang yang benar-benar tahu bagaimana sistem ini bekerja—dan betapa rapuhnya. 

Untuk pemahaman lengkap tentang ancaman eksistensial yang kita hadapi setiap hari, sangat disarankan membaca buku aslinya. Jacobsen memberikan detail teknis, dialog sebenarnya dari protokol militer, dan puluhan skenario tambahan yang tidak bisa dirangkum di sini. 

Ringkasan ini menangkap esensi, tapi buku asli memberikan gambaran lengkap yang akan mengubah cara Anda melihat dunia—dan membuat Anda tidak bisa tidur nyenyak lagi. 

Sekarang pergilah dan lakukan sesuatu dengan pengetahuan ini. 

Karena diam sama dengan setuju bahwa status quo—di mana kita satu kesalahan jauhnya dari kepunahan—bisa diterima. 

Dan itu tidak bisa diterima. 

Waktu kita terbatas. Seperti halnya waktu itu akan terbatas jika satu rudal diluncurkan.

72 menit. Itulah waktu antara perdamaian dan kepunahan. 

Mari pastikan 72 menit itu tidak pernah dimulai.