Phaedo

Plato


Hari yang Mengubah Filsafat Selamanya

Athens, 399 Sebelum Masehi. 

Di sebuah sel penjara yang sederhana, seorang pria berusia 70 tahun duduk tenang, dikelilingi murid-muridnya. Rantai besi yang mengikat kakinya baru saja dilepas. Dia menggosok pergelangan kakinya, tersenyum, dan berkata sesuatu yang aneh: 

"Betapa lucunya hubungan antara rasa sakit dan kesenangan. Mereka tidak mau datang bersamaan kepada manusia, tapi jika seseorang mengejar yang satu dan menangkapnya, dia hampir selalu terpaksa mengambil yang lain juga—seolah keduanya terikat dalam satu kepala." 

Pria itu adalah Socrates—filsuf paling berpengaruh dalam sejarah Barat. Dan ini adalah hari terakhirnya. 

Beberapa jam lagi, dia akan minum racun hemlock dan mati—dihukum oleh negara Athens atas tuduhan "merusak pemuda" dan "tidak percaya pada dewa-dewa kota." 

Tapi anehnya, Socrates tidak sedih. Tidak takut. Tidak marah. 

Dia justru menghabiskan jam-jam terakhirnya melakukan apa yang dia lakukan sepanjang hidupnya: berdiskusi tentang kebenaran

Murid-muridnya—Phaedo, Simmias, Cebes, dan lainnya—duduk di sekitarnya, beberapa menangis, beberapa mencoba menahan air mata. Mereka tidak mengerti: Bagaimana bisa seseorang begitu tenang menghadapi kematian? 

Dan Socrates pun menjelaskan. 

"Phaedo" adalah dialog yang ditulis Plato untuk merekam percakapan luar biasa itu—percakapan tentang mengapa kita tidak perlu takut mati, mengapa jiwa kita abadi, dan mengapa filsafat sejati adalah latihan untuk kematian.

Ini bukansekadarcatatanhistoris. Ini adalahundanganuntukmemikirkanulangapaartinya hidup—danmati.

 


Bagian 1: Mengapa Filsuf Tidak Takut Mati 

Pertanyaan yang Mengejutkan 

Cebes, salah satu murid, bertanya dengan hati-hati: "Socrates, mengapa Anda begitu tenang? Kebanyakan orang menganggap kematian sebagai kejahatan terbesar. Tapi Anda terlihat... bahagia?" 

Socrates tersenyum. Lalu dia mengajukan proposisi yang radikal: 

"Filsuf sejati sebenarnya sudah berlatih untuk mati sepanjang hidupnya." Apa maksudnya? 

Socrates menjelaskan: Tubuh kita adalah penjara bagi jiwa. Tubuh membuat kita lapar, haus, sakit, terangsang secara seksual. Tubuh membuat kita sibuk dengan hal-hal material—makanan, pakaian, uang, kenyamanan. 

Tapi jiwa menginginkan sesuatu yang berbeda: pengetahuan murni, kebenaran, keindahan yang sejati, keadilan yang sempurna

Masalahnya, tubuh terus mengganggu. Ketika kita mencoba berpikir tentang keadilan, perut kita keroncongan dan kita teralihkan untuk mencari makan. Ketika kita mencoba memahami kebenaran, mata kita tertarik pada hal-hal indah secara fisik. 

Kematian adalah momen ketika jiwa akhirnya terlepas dari tubuh—bebas untuk mengejar pengetahuan tanpa gangguan. 

Jadi bagi filsuf sejati, kematian bukan akhir yang menakutkan. Kematian adalah pembebasan.

Hidup Melepaskan Tubuh 

"Tapi tunggu," kata Simmias. "Jika memang begitu, mengapa filsuf tidak bunuh diri saja?"

Pertanyaan bagus. Dan Socrates punya jawaban: 

"Kita adalah milik dewa-dewa. Kita tidak boleh melarikan diri dari pos yang diberikan kepada kita." 

Bunuh diri adalah desersi. Kita harus menjalani hidup sampai dewa—atau alam, atau takdir, atau apapun kekuatan lebih tinggi yang Anda percayai—memanggil kita pergi. 

Tapi sementara kita hidup, filsuf berlatih untuk mati dengan cara: 

● Mengurangi ketergantungan pada kesenangan tubuh 

● Tidak takut pada rasa sakit fisik

● Fokus pada pengembangan pikiran, bukan tubuh 

● Mengejar kebijaksanaan, bukan kekayaan atau ketenaran 

Intinya: Filsuf sudah "meninggal" terhadap dunia material sementara masih hidup.

 


Bagian 2: Argumen Pertama—Siklus Berlawanan

Sekarang dimulailah bagian inti dari dialog: pembuktian bahwa jiwa itu abadi

Socrates memberikan beberapa argumen. Yang pertama adalah Argumen dari Siklus Berlawanan. 

Segala Sesuatu Berasal dari Lawannya 

Socrates bertanya: "Ketika sesuatu menjadi lebih besar, dari mana itu berasal?" "Dari yang lebih kecil," jawab Simmias. 

"Benar. Dan ketika sesuatu menjadi lebih lemah?" 

"Dari yang lebih kuat." 

"Dan ketika seseorang tertidur?" 

"Dari terjaga." 

"Dan ketika seseorang bangun?" 

"Dari tidur." 

Pola jelas: Segala sesuatu berasal dari keadaan berlawanannya. 

Socrates kemudian menerapkan logika ini pada hidup dan mati: 

"Jika hidup berasal dari mati, dan mati berasal dari hidup, maka jiwa harus ada sebelum kelahiran dan akan tetap ada setelah kematian." 

Pikirkan seperti ini: Jika jiwa benar-benar musnah saat kematian, dari mana jiwa yang "hidup" berasal saat kelahiran? Pasti ada sesuatu yang sudah ada sebelumnya—yang "mati" atau tidak terwujud—yang kemudian menjadi hidup. 

Dan siklus ini terus berputar: hidup → mati → hidup → mati. 

Jiwa tidak diciptakan saat lahir, dan tidak musnah saat mati. Jiwa berpindah melalui siklus.

 


Bagian 3: Argumen Kedua—Teori Reminiscence (Mengingat Kembali) 

Argumen kedua lebih elegan—dan lebih mendalam. 

Kita "Mengingat" Pengetahuan 

Socrates bertanya: "Pernahkah kalian berpikir bagaimana kita tahu hal-hal tertentu yang tidak pernah diajarkan kepada kita?" 

Contohnya: Kesetaraan sempurna

Kita tahu konsep "A sama dengan B secara sempurna." Tapi di dunia fisik, tidak ada dua benda yang benar-benar sama secara sempurna. Dua tongkat yang "sama panjang" selalu punya perbedaan mikroskopis. 

Jadi dari mana kita tahu konsep kesetaraan sempurna jika kita tidak pernah mengalaminya di dunia fisik? 

Socrates menjawab: Kita mengingatnya dari sebelum kita lahir. 

Sebelum jiwa masuk ke tubuh, jiwa berada di dunia Bentuk (Forms)—dunia di mana ada Kesetaraan Sempurna, Keindahan Sempurna, Keadilan Sempurna, Kebaikan Sempurna. 

Ketika jiwa masuk ke tubuh dan lahir, dia "lupa" pengetahuan ini. Tapi saat kita belajar, kita tidak benar-benar belajar hal baru—kita mengingat apa yang sudah kita tahu. 

Ini mengapa ketika guru yang baik (seperti Socrates) bertanya dengan cara yang tepat, bahkan orang yang tidak berpendidikan bisa "menemukan" kebenaran matematika atau filosofis. Mereka tidak diberi informasi baru—mereka dibimbing untuk mengingat

Implikasi untuk Keabadian Jiwa 

Jika jiwa kita sudah memiliki pengetahuan tentang Bentuk sebelum kelahiran, maka jiwa pasti sudah ada sebelum tubuh. 

Dan jika jiwa bisa eksis tanpa tubuh sebelum kelahiran, mengapa tidak bisa eksis tanpa tubuh setelah kematian?

 


Bagian 4: Argumen Ketiga—Jiwa sebagai Bentuk Kehidupan 

Argumen ketiga adalah yang paling abstrak tapi paling powerful. 

Apa yang Tidak Bisa Mati 

Socrates membedakan antara dua jenis hal: 

1. Hal yang komposit (tersusun dari bagian) 

● Tubuh fisik: terdiri dari daging, tulang, darah 

● Meja: terdiri dari kayu 

● Bisa hancur, terurai, rusak 

2. Hal yang sederhana (tidak tersusun dari bagian) 

● Bentuk/Ide: Keindahan itu sendiri, Keadilan itu sendiri 

● Tidak bisa hancur karena tidak punya bagian yang bisa terurai 

Socrates bertanya: "Ke kategori mana jiwa termasuk?" 

Jawabannya: Jiwa lebih mirip dengan Bentuk—sederhana, tidak berubah, abadi.

Tapi argumen paling brilian adalah ini: 

"Jiwa adalah prinsip kehidupan itu sendiri. Jiwa membawa kehidupan ke tubuh. Jadi jiwa tidak bisa menerima kematian—sama seperti api tidak bisa menerima dingin, atau salju tidak bisa menerima panas." 

Ketika api bertemu dingin, api tidak menjadi dingin—api padam atau pergi. K

etika jiwa bertemu kematian, jiwa tidak mati—jiwa pergi ke tempat lain.

 


Bagian 5: Keberatan dan Jawaban 

Tentu saja, murid-murid Socrates tidak langsung menerima begitu saja. Mereka mengajukan keberatan. 

Keberatan Simmias: Jiwa sebagai Harmoni 

Simmias berargumen: "Mungkin jiwa seperti harmoni dari lyre (alat musik). Lyre terdiri dari senar-senar. Ketika senar-senar dalam kondisi tepat, mereka menghasilkan harmoni. Tapi harmoni tidak eksis terpisah dari senar. Jika senar putus, harmoni hilang." 

"Mungkin jiwa adalah 'harmoni' dari tubuh. Ketika tubuh berfungsi dengan baik, ada jiwa. Ketika tubuh mati, jiwa—sebagai harmoni—juga hilang." 

Socrates merespons dengan tenang: 

"Tapi harmoni tidak bisa mengendalikan bagian-bagiannya. Harmoni adalah hasil pasif dari senar. Sedangkan jiwa mengendalikan tubuh—dia memerintahkan tubuh untuk lapar tapi memilih untuk tidak makan, untuk takut tapi memilih untuk tetap berdiri." 

Jiwa aktif. Jiwa memiliki kehendak. Jadi jiwa bukan sekadar hasil dari tubuh.

Keberatan Cebes: Jiwa yang Lelah 

Cebes punya keberatan lebih serius: 

"Baiklah, mungkin jiwa eksis sebelum tubuh dan bisa bertahan setelah satu kematian. Tapi bagaimana jika jiwa seperti tukang tenun yang membuat banyak jubah? Dia bertahan lebih lama dari satu jubah, bahkan beberapa jubah. Tapi akhirnya, tukang tenun juga mati." 

"Mungkin jiwa bertahan melalui beberapa kehidupan, tapi akhirnya, setelah banyak reinkarnasi, jiwa juga habis dan musnah?" 

Ini keberatan yang serius. Dan Socrates menghabiskan waktu panjang menjawabnya—yang membawa kita ke argumen terakhir tentang jiwa sebagai prinsip kehidupan yang tidak bisa mati.

 


Bagian 6: Mitos tentang Akhirat 

Setelah argumen filosofis selesai, Socrates melakukan sesuatu yang unexpected: dia menceritakan mitos tentang apa yang terjadi pada jiwa setelah kematian. 

Mengapa mitos? Karena ada hal-hal yang tidak bisa dibuktikan dengan logika murni. Tapi narasi yang baik bisa memberikan panduan untuk hidup. 

Nasib Jiwa Setelah Kematian 

Socrates menggambarkan: 

Setelah kematian, jiwa dinilai berdasarkan bagaimana dia hidup. 

Jiwa yang murni—yang menghabiskan hidup mengejar kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan kesederhanaan—naik ke tempat yang murni, bergabung dengan para dewa dan jiwa-jiwa baik lainnya. 

Jiwa yang kotor—yang terikat pada kesenangan tubuh, keserakahan, kekerasan—tertarik kembali ke dunia material. Mereka reinkarnasi ke tubuh baru, kadang bahkan ke hewan yang cocok dengan karakter mereka: 

● Yang rakus menjadi keledai atau babi 

● Yang kejam dan tidak adil menjadi serigala atau elang 

● Yang hanya mengejar kesenangan tanpa refleksi menjadi lebah atau semut 

Jiwa yang moderat—yang hidup dengan baik tapi tidak mencapai kebijaksanaan filosofis—pergi ke tempat istirahat, menunggu kesempatan lahir kembali dalam kondisi yang lebih baik. 

Bukan Tentang Surga dan Neraka 

Ini bukan sistem reward-punishment sederhana. 

Poin Socrates adalah: Jiwa menjadi seperti apa yang dia cintai. 

Jika Anda menghabiskan hidup mencintai uang, jiwa Anda menjadi materialistis—dan setelah kematian, jiwa Anda akan tertarik kembali ke dunia material. 

Jika Anda menghabiskan hidup mencintai kebijaksanaan, jiwa Anda menjadi murni—dan setelah kematian, jiwa Anda bebas untuk bergabung dengan yang murni dan abadi. 

Kematian tidak mengubah Anda. Kematian mengungkapkan siapa Anda sebenarnya.

 


Bagian 7: Kematian Socrates—Pelajaran Terakhir

Setelah berjam-jam berdiskusi, matahari mulai terbenam. 

Penjaga masuk dan berkata dengan sedih: "Socrates, saya harus memberitahumu bahwa waktunya sudah tiba. Saya harus memintamu untuk minum racun." 

Bahkan penjaga menangis. "Anda adalah tahanan paling mulia dan paling baik yang pernah saya jaga," katanya. 

Socrates menenangkannya. Lalu dia bertanya: "Bagaimana cara minum racunnya?" 

"Cukup minum, lalu berjalan-jalan sampai kakimu terasa berat. Lalu berbaring. Racun akan bekerja dengan sendirinya." 

Momen Terakhir 

Murid-muridnya menangis. Beberapa tidak bisa menahan isak. 

Socrates menegur mereka dengan lembut: "Apa ini? Bukankah kita sudah setuju bahwa kematian adalah pembebasan? Mengapa kalian menangis untuk sesuatu yang baik?" 

Tapi dia juga memahami. "Baiklah," katanya. "Tapi tenangkan diri kalian." Dia mengambil cangkir racun hemlock. Tanpa gemetar. Tanpa ragu. 

Dia meminumnya dengan tenang—seolah minum anggur di pesta. 

Kemudian dia berjalan-jalan. Ketika kakinya mulai terasa berat, dia berbaring. 

Perlahan, kedinginan menyebar dari kaki ke atas tubuhnya. Penjaga menekan kakinya dan bertanya apakah dia masih merasakan sesuatu. Socrates menggeleng. 

Saat kedinginan mencapai jantungnya, Socrates berkata untuk terakhir kalinya: 

"Crito, kita berhutang seekor ayam jantan kepada Asclepius. Bayarlah hutang itu dan jangan lupakan." 

(Asclepius adalah dewa penyembuhan. Orang-orang mempersembahkan ayam ketika mereka sembuh dari penyakit. Socrates menyebut kematian sebagai "penyembuhan" dari penyakit kehidupan.) 

Lalu dia menutup matanya. Dan pergi. 

Phaedo, yang menyaksikan semua ini, kemudian berkata:

"Begitulah akhir dari sahabat kami—orang yang, dari semua orang di zamannya, adalah yang terbaik dan juga yang paling bijaksana dan paling adil."

 


Bagian 8: Apa yang Bisa Kita Pelajari Hari Ini 

Phaedo ditulis lebih dari 2.400 tahun yang lalu. Tapi pertanyaan yang diajukan Socrates masih relevan: 

1. Apakah Jiwa Abadi? 

Anda tidak harus setuju dengan semua argumen Socrates untuk mendapat nilai dari dialog ini. 

Yang penting adalah: Socrates menjalani hidup seolah jiwa itu abadi dan hal-hal spiritual lebih penting daripada hal-hal material. 

Dan dia mati dengan damai—tanpa penyesalan, tanpa ketakutan. 

Bahkan jika Anda tidak percaya pada kehidupan setelah kematian, pertanyaannya adalah: Jika Anda hidup seolah jiwa Anda abadi, bagaimana itu akan mengubah prioritas Anda? 

2. Apa yang Benar-Benar Penting? 

Socrates menghabiskan hidupnya mengejar kebijaksanaan, bukan kekayaan. 

Dia bisa hidup dalam kemiskinan dengan gembira. Dia bisa menghadapi kematian dengan tenang. 

Karena dia tidak pernah mengidentifikasikan dirinya dengan tubuhnya atau kepemilikannya. 

Pertanyaan untuk kita: Siapa kita jika semua hal eksternal diambil? Jika kita kehilangan pekerjaan, rumah, status, bahkan kesehatan—apa yang tersisa? 

Socrates menjawab: Jiwa Anda—karakter, kebijaksanaan, kebajikan Anda—itu satu-satunya yang benar-benar Anda miliki. 

3. Bagaimana Seharusnya Kita Menghadapi Kematian? 

Kebanyakan dari kita takut mati. Tapi Socrates menunjukkan alternatif: 

Jika kita hidup dengan baik—mengejar kebenaran, keadilan, keindahan, kebajikan—kita tidak perlu takut mati. 

Bukan karena ada jaminan surga. Tapi karena kita sudah hidup sebagai jiwa yang murni, jadi apapun yang terjadi setelah kematian, kita siap. 

4. Filsafat sebagai Latihan untuk Mati 

Ini mungkin poin paling radikal Socrates: Filsafat adalah latihan untuk mati.

Apa artinya? 

● Melepaskan attachment pada hal-hal yang tidak kekal: uang, ketenaran, kenyamanan fisik 

● Fokus pada yang abadi: kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan 

● Hidup seolah Anda bisa mati besok: Tidak menunda hal-hal penting. Tidak menyia-nyiakan waktu pada hal-hal trivial. 

Seperti yang Steve Jobs katakan ribuan tahun kemudian: "Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah alat paling penting yang pernah saya temui untuk membantu saya membuat pilihan besar dalam hidup." 

Socrates adalah yang pertama mengatakan ini.

 


Penutup: Warisan Socrates 

Pemerintah Athens berpikir mereka membungkam Socrates dengan mengeksekusinya. Mereka salah. 

Kematian Socrates—dan terutama cara dia mati—menjadi lebih berpengaruh daripada seluruh hidupnya. 

Plato menulis Phaedo untuk memastikan bahwa pesan terakhir gurunya tidak akan pernah dilupakan: 

"Jangan takut mati. Takutlah hidup tanpa makna." 

"Jangan kejar kekayaan. Kejar kebijaksanaan." 

"Jangan hidup seolah tubuh Anda adalah segalanya. Hidup seolah jiwa Anda adalah segalanya." 

Pertanyaan untuk Anda 

Socrates mati dengan tenang karena dia hidup sesuai dengan prinsipnya. Dia tidak punya penyesalan. Tidak ada "seandainya." 

Jika Anda hanya punya satu hari lagi untuk hidup—seperti Socrates di penjara itu—apakah Anda bisa mati dengan tenang? 

Atau apakah Anda akan penuh penyesalan tentang waktu yang terbuang, hubungan yang diabaikan, kebijaksanaan yang tidak dikejar? 

Kabar baiknya: Anda tidak harus menunggu sampai hari terakhir untuk mulai hidup dengan cara yang benar. 

Anda bisa mulai hari ini. 

Seperti yang Socrates tunjukkan: Kematian bukan musuh. Kehidupan yang tidak bermakna adalah musuh. 

Jadi hiduplah seolah jiwa Anda abadi. 

Kejar kebenaran. Kejar kebijaksanaan. Kejar kebaikan. 

Dan ketika akhirnya waktunya tiba untuk meletakkan cangkir racun kita sendiri—baik literal atau metaforis—kita bisa melakukannya dengan tenang, tanpa penyesalan. 

Seperti Socrates.

 


Tentang Karya Asli 

"Phaedo" (juga dikenal sebagai "On the Soul") ditulis oleh Plato sekitar 360 SM, hampir 40 tahun setelah kematian Socrates. 

Plato adalah murid Socrates yang paling terkenal. Setelah eksekusi gurunya, Plato mengabdikan hidupnya untuk melestarikan dan memperluas ajaran Socrates melalui dialog-dialog filosofis. 

Phaedo adalah salah satu dari empat dialog yang menggambarkan hari-hari terakhir Socrates (yang lainnya adalah Euthyphro, Apology, dan Crito). 

Yang membuat Phaedo spesial adalah kombinasi antara drama emosional dan argumen filosofis yang ketat. Ini bukan hanya memoir—ini adalah pembelaan atas cara hidup Socrates dan demonstrasi bahwa filsafat bukan sekadar permainan intelektual, tapi cara untuk hidup dan mati dengan baik

Dialog ini telah mempengaruhi ribuan tahun pemikiran Barat tentang jiwa, kematian, dan tujuan hidup. 

Untuk pemahaman lengkap tentang argumen filosofis Socrates dan keindahan narasi Plato, sangat disarankan membaca teks aslinya. Banyak terjemahan bagus tersedia, dan membaca Phaedo secara utuh adalah pengalaman yang akan mengubah cara Anda melihat hidup dan kematian. 

Ringkasan ini menangkap ide-ide inti, tetapi kekuatan penuh dari dialog—logika yang ketat, pertukaran yang hidup, momen-momen emosional—hanya bisa dialami dalam teks lengkap. 

Sekarang pergilah dan hiduplah seolah jiwa Anda abadi. 

Karena siapa tahu? Mungkin memang begitu.