Katak Emas yang Menghilang
Tahun 1989. Hutan pegunungan Panama.
Seorang ahli herpetologi bernama Karen Lips sedang melakukan penelitian di hutan hujan yang masih perawan. Dia mencari katak—khususnya katak emas Panama, salah satu amfibi paling indah di dunia. Warnanya oranye terang berkilauan, seolah dibuat dari emas cair.
Lips menemukan ribuan katak. Hutan penuh dengan suara mereka. Ekosistem yang sehat dan hidup.
Dia kembali setahun kemudian.
Hening.
Tidak ada suara katak. Tidak ada katak di sungai. Tidak ada di bebatuan. Tidak ada di mana pun.
Dalam satu tahun, populasi yang tadinya ribuan—lenyap total.
Ini bukan karena deforestasi. Hutan masih utuh. Ini bukan karena polusi. Air masih bersih. Ini bukan karena predator baru. Tidak ada yang berubah secara kasat mata.
Tapi katak-katak itu menghilang.
Lips tidak tahu apa yang terjadi. Tidak ada yang tahu. Ini adalah misteri yang menakutkan—dan petunjuk pertama dari sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di planet kita.
Elizabeth Kolbert, jurnalis The New Yorker, menghabiskan bertahun-tahun menyelidiki misteri ini dan ratusan misteri serupa di seluruh dunia. Perjalanannya membawanya dari hutan Panama ke Great Barrier Reef, dari gua-gua di Amerika hingga pulau-pulau terpencil di Pasifik.
Yang dia temukan mengubah cara kita memahami tempat kita di planet ini:
Kita sedang berada di tengah kepunahan massal—yang keenam dalam sejarah Bumi. Dan untuk pertama kalinya, penyebabnya bukan asteroid, bukan gunung berapi, bukan bencana geologi. Penyebabnya adalah kita.
Buku "The Sixth Extinction" adalah kisah tentang bagaimana satu spesies—Homo sapiens—dalam waktu yang sangat singkat, mengubah planet ini dengan cara yang tidak akan pernah bisa dipulihkan.
Ini bukan buku tentang masa depan yang suram. Ini buku tentang apa yang sedang terjadi sekarang.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Lima Kepunahan Sebelumnya—Planet yang Telah Mati Berkali-kali
Sebelum kita memahami kepunahan keenam, kita perlu tahu: Bumi telah "mati" lima kali sebelumnya.
Kepunahan Pertama: Ordovician (443 juta tahun lalu)
85% spesies laut musnah. Penyebab: zaman es tiba-tiba yang mengubah suhu laut secara drastis.
Kepunahan Kedua: Devonian (375 juta tahun lalu)
75% spesies musnah. Penyebab: perubahan kadar oksigen di laut, mungkin dipicu oleh munculnya tanaman darat pertama.
Kepunahan Ketiga: Permian (252 juta tahun lalu)
Ini adalah "The Great Dying"—kepunahan paling dahsyat. 96% spesies laut dan 70% spesies darat musnah.
Penyebab: erupsi vulkanik masif di Siberia yang berlangsung jutaan tahun, melepaskan CO₂ dalam jumlah luar biasa, mengubah iklim, mengasamkan laut.
Planet butuh 10 juta tahun untuk pulih.
Kepunahan Keempat: Triassic (201 juta tahun lalu)
80% spesies musnah. Penyebab: kombinasi aktivitas vulkanik dan perubahan iklim cepat.
Kepunahan Kelima: Cretaceous (66 juta tahun lalu)
Ini yang paling terkenal: kepunahan dinosaurus.
Asteroid sebesar gunung menabrak Meksiko dengan kecepatan 40.000 mph. Ledakannya setara dengan 10 miliar bom Hiroshima. Debu dan abu menutupi atmosfer selama bertahun-tahun, menghalangi sinar matahari. Fotosintesis berhenti. Rantai makanan runtuh.
75% spesies musnah—termasuk semua dinosaurus non-unggas.
Pola yang Sama
Semua kepunahan massal memiliki pola yang sama:
1. Perubahan cepat dalam kondisi planet
2. Spesies tidak punya waktu untuk beradaptasi
3. Efek domino melalui ekosistem
4. Jutaan tahun untuk pulih
Dan sekarang, kita sedang dalam kepunahan keenam. Tapi kali ini berbeda.
Penyebabnya bukan dari luar angkasa. Penyebabnya adalah kita.
Bagian 2: Kepunahan Keenam—Manusia sebagai Asteroid
Berapa Cepat Spesies Menghilang?
Sebelum manusia, background extinction rate—tingkat kepunahan alami—adalah sekitar 1 spesies per juta spesies per tahun.
Sekarang? Tingkat kepunahan adalah 100 hingga 1.000 kali lebih tinggi.
Beberapa ilmuwan memperkirakan kita kehilangan puluhan spesies setiap hari.
Jika tren ini berlanjut, pada akhir abad ini, setengah dari semua spesies di Bumi bisa punah.
Mengapa Manusia Begitu Destruktif?
Kolbert mengidentifikasi beberapa cara manusia menyebabkan kepunahan:
1. Overhunting (Perburuan Berlebihan)
Ketika manusia pertama kali tiba di Australia 50.000 tahun lalu, benua itu penuh dengan megafauna—kanguru raksasa sebesar mobil, wombat sebesar badak, burung yang tidak bisa terbang setinggi 3 meter.
Dalam beberapa ribu tahun, semua megafauna punah.
Pola yang sama terjadi di Amerika Utara 13.000 tahun lalu: mammoth, saber-toothed cat, ground sloth raksasa—semua punah tidak lama setelah manusia tiba.
Suatu kebetulan? Tidak. Manusia adalah predator paling efisien yang pernah ada.
2. Habitat Destruction (Perusakan Habitat)
Setiap hutan yang ditebang, setiap sungai yang dibendung, setiap lahan basah yang dikeringkan—adalah rumah yang hancur untuk ribuan spesies.
Kolbert mengunjungi hutan hujan Amazon. Setiap tahun, area seluas Inggris hilang. Dengan hutan itu, hilang juga spesies yang bahkan belum kita temukan.
3. Introduced Species (Spesies Invasif)
Manusia—sengaja atau tidak—memindahkan spesies melintasi lautan.
Hasilnya? Bencana ekologis.
Contoh: Ketika tikus Eropa tiba di pulau-pulau Pasifik yang terisolasi, burung-burung lokal yang tidak pernah melihat predator mamalia—punah dalam hitungan dekade.
4. Climate Change (Perubahan Iklim)
Ini adalah ancaman terbesar. Manusia melepaskan CO₂ dengan kecepatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Bumi—bahkan lebih cepat dari erupsi vulkanik Siberia yang menyebabkan Great Dying.
Spesies tidak punya waktu untuk bermigrasi. Tidak punya waktu untuk evolusi. Mereka terjebak.
5. Ocean Acidification (Pengasaman Laut)
CO₂ tidak hanya menghangatkan atmosfer—ia juga diserap oleh laut, mengubah kimia air.
Laut menjadi lebih asam. Dan untuk hewan dengan cangkang atau kerangka kalsium—terumbu karang, kerang, plankton—ini adalah hukuman mati.
Bagian 3: Kisah-Kisah dari Garis Depan
Kepunahan Katak yang Terkutuk
Kembali ke misteri katak emas Panama.
Setelah bertahun-tahun penelitian, ilmuwan akhirnya menemukan jawabannya: jamur pembunuh.
Jamur bernama Batrachochytrium dendrobatidis (disingkat Bd)—yang menyerang kulit amfibi, mengganggu kemampuan mereka bernapas dan menyerap air. Dalam beberapa minggu, katak mati.
Dari mana jamur ini? Kemungkinan besar dari perdagangan hewan peliharaan internasional. Manusia memindahkan katak melintasi benua, dan bersama mereka, jamur yang mematikan.
Hasilnya? Lebih dari 200 spesies amfibi punah dalam beberapa dekade. Ini adalah kepunahan tercepat yang pernah dicatat dalam sejarah modern.
Kolbert mengunjungi El Valle de Anton, Panama—sebuah suaka terakhir untuk katak emas. Ilmuwan menjaga mereka di tangki kaca, mencoba membiakkan mereka, berharap suatu hari bisa melepaskan mereka kembali ke alam liar.
Tapi apakah mereka akan punya hutan untuk kembali? Itu pertanyaan yang belum terjawab.
Kelelawar yang Mati di Gua
Di Amerika Utara, jutaan kelelawar mati karena White-Nose Syndrome—jamur lain yang menyerang kelelawar yang hibernasi.
Kelelawar terbangun dari hibernasi lebih awal, kehabisan energi, dan mati kelaparan di tengah musim dingin.
Beberapa spesies kehilangan 99% populasinya.
Mengapa ini penting?
Kelelawar memakan serangga—satu kelelawar bisa makan ribuan nyamuk dan hama tanaman setiap malam. Tanpa kelelawar, populasi serangga meledak. Petani menggunakan lebih banyak pestisida. Ekosistem runtuh.
Kepunahan bukan hanya tentang kehilangan satu spesies. Ini tentang runtuhnya jaring kehidupan yang kompleks.
Badak Sumatera—Spesies Hidup yang Sudah Mati
Kolbert mengunjungi Sumatera untuk mencari badak Sumatera—salah satu mamalia paling langka di dunia.
Dulu, badak Sumatera ada di seluruh Asia Tenggara. Sekarang? Kurang dari 100 individu tersisa.
Mereka tersebar di hutan yang terfragmentasi, terlalu jauh untuk bertemu dan berkembang biak. Secara genetik, mereka sudah mati—tidak cukup keragaman genetik untuk populasi bertahan.
Ini adalah "extinction vortex": populasi terlalu kecil untuk recover, semakin sedikit, semakin rentan, sampai akhirnya hilang.
Dan ini bukan hanya badak Sumatera. Ini adalah cerita ribuan spesies di seluruh dunia.
Bagian 4: Terumbu Karang—Kota yang Tenggelam
Kolbert menyelam di Great Barrier Reef, Australia—salah satu keajaiban alam terakhir di Bumi.
Terumbu karang adalah ekosistem paling produktif di laut. 25% dari semua spesies laut bergantung pada terumbu karang untuk makanan atau tempat tinggal—meskipun terumbu karang hanya menutupi 0,1% dari laut.
Tapi terumbu karang sedang mati.
Bleaching—Pemutihan yang Mematikan
Ketika laut memanas, karang mengalami stress dan mengeluarkan zooxanthellae—alga yang hidup dalam jaringan mereka dan memberikan warna serta nutrisi.
Tanpa alga, karang berubah putih—bleaching. Jika suhu tidak turun, karang mati.
Tahun 1998, 2010, 2016, 2020—setiap beberapa tahun, pemutihan massal terjadi. Setiap kali, lebih banyak karang yang tidak pulih.
Ilmuwan memperkirakan pada tahun 2050, semua terumbu karang tropis bisa menghilang.
Bayangkan: ekosistem yang ada selama jutaan tahun, yang selamat dari lima kepunahan massal sebelumnya—musnah dalam satu abad karena aktivitas manusia.
Acidifikasi—Musuh Tak Terlihat
Selain pemanasan, laut juga menjadi lebih asam karena CO₂.
Karang membangun kerangka mereka dari kalsium karbonat. Ketika laut asam, proses ini menjadi sangat sulit—seperti mencoba membangun rumah pasir di bawah hujan.
Pada tingkat CO₂ yang kita proyeksikan untuk 2100, laut akan terlalu asam untuk karang bertahan.
Dan bukan hanya karang. Seluruh rantai makanan laut bergantung pada organisme berkalsium—dari plankton kecil hingga kerang besar.
Jika mereka hilang, samudra akan menjadi padang pasir bawah laut.
Bagian 5: Neanderthal—Kepunahan yang Kita Sebabkan Pertama Kali
Salah satu bab paling menarik adalah tentang Neanderthal—spesies manusia lain yang hidup bersama Homo sapiens selama puluhan ribu tahun.
Neanderthal bukan primitif. Mereka punya otak lebih besar dari kita. Mereka menggunakan alat canggih. Mereka mengubur kaum mereka yang mati dengan ritual. Mereka punya budaya.
Tapi 40.000 tahun lalu, mereka punah.
Mengapa?
Kolbert meneliti bukti: Dimana pun Homo sapiens tiba—Eropa, Asia, Australia—spesies lain menghilang.
Kemungkinan besar, kita tidak langsung membunuh Neanderthal. Tapi kita bersaing untuk sumber daya yang sama. Dan kita lebih efisien—dalam berburu, dalam berkomunikasi, dalam beradaptasi.
Neanderthal kalah dalam kompetisi. Dan perlahan, mereka hilang.
Pelajarannya: Manusia telah menyebabkan kepunahan sejak awal keberadaan kita.
Tapi sekarang, dengan teknologi modern, skala destruksi kita menjadi global dan eksponensial.
Bagian 6: Apakah Kita Bisa Selamat?
Ironi yang Mengerikan
Kolbert menunjukkan ironi yang pahit:
Manusia adalah spesies paling cerdas yang pernah ada. Dan kecerdasan kita mungkin yang akan membunuh kita.
Kita cukup pintar untuk mengubah planet—membelah atom, merekayasa genetik, mengendalikan iklim. Tapi kita tidak cukup bijaksana untuk melihat konsekuensi jangka panjang.
Seperti yang ditulis Kolbert:
"Jika Anda ingin membuat prediksi tentang nasib manusia, satu pertanyaan bagus untuk ditanyakan adalah: Apakah kita lebih pintar dari katak?"
Katak ada di Bumi selama 250 juta tahun—bertahan melalui tiga kepunahan massal. Tapi mereka tidak bisa bertahan dari manusia.
Apakah kita bisa bertahan dari diri kita sendiri?
Harapan yang Rumit
Kolbert tidak menawarkan optimisme palsu. Dia tidak mengatakan "semuanya akan baik-baik saja jika kita recycle lebih banyak."
Kerusakan sudah terjadi. Kepunahan sudah berlangsung. Planet ini berubah dengan cara yang tidak bisa kita undo.
Tapi dia juga tidak putus asa.
Dia menceritakan upaya konservasi yang heroik:
● Ilmuwan yang berjaga semalaman untuk melindungi telur penyu terakhir
● Ranger yang berjuang melawan pemburu untuk menyelamatkan badak
● Peneliti yang mencoba membiakkan spesies di ambang kepunahan
Mereka tahu mereka mungkin tidak menang. Tapi mereka mencoba.
Pertanyaan Moral
Di akhir buku, Kolbert mengajukan pertanyaan yang paling sulit:
"Apa kewajiban kita terhadap spesies lain?"
Kita tidak sengaja ingin menyebabkan kepunahan. Tidak ada yang bangun pagi dan berkata, "Hari ini aku akan memusnahkan katak emas."
Tapi tindakan kita—mengemudi mobil, menggunakan plastik, makan daging, membeli produk—secara kolektif menciptakan sistem yang membunuh planet.
Dan pertanyaannya: Apakah ketidaktahuan adalah pembenaran?
Kita tidak tahu ledakan bom atom akan menciptakan musim dingin nuklir—jadi kita bisa dimaafkan untuk mengembangkannya?
Kita tidak tahu membakar batu bara akan mengubah iklim—jadi kita tidak bertanggung jawab atas konsekuensinya?
Sekarang kita tahu. Dan sekarang kita memilih—apakah kita akan mengubah cara hidup kita, atau kita akan terus di jalur yang sama?
Bagian 7: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kolbert tidak memberikan daftar "10 cara menyelamatkan planet" yang mudah. Karena tidak ada solusi mudah.
Tapi ada beberapa kebenaran yang jelas:
1. Kesadaran adalah Langkah Pertama
Kebanyakan orang tidak tahu kepunahan massal sedang terjadi. Mereka tidak melihatnya karena terjadi terlalu lambat untuk kehidupan manusia—tapi terlalu cepat untuk evolusi.
Langkah pertama adalah menyadari.
2. Lindungi Habitat yang Tersisa
Setiap hektar hutan hujan yang dilindungi, setiap lahan basah yang diselamatkan, setiap kawasan laut yang dijaga—adalah rumah bagi ribuan spesies.
Kita tidak bisa menyelamatkan semua. Tapi kita bisa menyelamatkan beberapa.
3. Kurangi Emisi Karbon—Serius
Ini bukan tentang "melakukan bagian kita." Ini tentang transformasi sistemik.
Energi terbarukan. Transportasi publik. Pertanian berkelanjutan. Ekonomi yang tidak bergantung pada pertumbuhan tanpa batas.
Ini membutuhkan perubahan politik, ekonomi, dan sosial yang radikal.
4. Terima Bahwa Planet Akan Berubah
Kita tidak bisa kembali ke "alam yang murni." Alam yang murni sudah tidak ada.
Planet ini sekarang adalah "New Anthropocene"—era geologis baru yang didefinisikan oleh manusia.
Pertanyaannya: Apakah kita akan mengelola era ini dengan bijaksana, atau kita akan membiarkannya menjadi bencana?
5. Jangan Menyerah
Kolbert mengutip ahli biologi E.O. Wilson:
"Kita sedang berproses untuk kehilangan setengah dari spesies Bumi pada akhir abad ini. Tapi itu berarti kita bisa menyelamatkan setengah lainnya."
Pesimisme adalah alasan untuk tidak mencoba. Tapi tidak mencoba menjamin kegagalan.
Penutup: Warisan Kita
Elizabeth Kolbert menutup buku dengan refleksi yang powerful:
"Mungkin terlihat tidak adil bahwa satu spesies—Homo sapiens—memiliki kekuatan untuk menentukan nasib jutaan spesies lain. Tapi keadilan adalah konsep manusia. Alam tidak peduli tentang keadilan."
Kenyataannya adalah: Kita punya kekuatan ini. Dan dengan kekuatan ini datang tanggung jawab.
Setiap generasi sebelum kita meninggalkan warisan—piramida, katedral, karya seni, teknologi. Apa yang akan jadi warisan generasi kita?
Apakah kita akan dikenang sebagai generasi yang:
● Sadar akan kepunahan massal tapi tidak melakukan apa-apa?
● Tahu planet sedang sekarat tapi memilih kenyamanan jangka pendek?
Atau sebagai generasi yang:
● Mengubah arah sejarah?
● Membuat pengorbanan untuk kehidupan yang belum lahir?
● Menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan?
Untuk Anda
Coba bayangkan ini:
100 tahun dari sekarang, seorang anak menemukan buku tentang katak emas Panama. Dia melihat foto warna oranye yang indah. Dan dia bertanya:
"Mengapa tidak ada lagi? Dimana mereka pergi?"
Apa jawaban yang akan diberikan?
"Mereka hilang karena nenek moyang kita tidak peduli"?
Atau:
"Mereka hilang meskipun nenek moyang kita berjuang habis-habisan untuk menyelamatkan mereka"?
Mana yang akan jadi cerita kita?
Kolbert menulis di halaman terakhir:
"Manusia telah mengubah dunia dengan cara yang tidak akan pernah bisa dibalikkan. Tapi kita masih punya pilihan tentang seberapa buruk kerusakannya."
Pilihan itu ada di tangan kita. Setiap hari. Setiap keputusan kecil yang kita buat.
Pertanyaannya sederhana tapi mendalam:
Apakah kita akan menjadi spesies yang menyebabkan kepunahan keenam? Atau spesies yang mencegah kepunahan ketujuh?
Waktu kita untuk menjawab sangat terbatas.
Karena tidak seperti lima kepunahan massal sebelumnya yang disebabkan oleh asteroid atau gunung berapi—kali ini, kita adalah asteroid. Dan kita bisa memilih untuk berhenti menabrak.
Tentang Buku Asli
"The Sixth Extinction: An Unnatural History" diterbitkan pada Februari 2014 dan memenangkan Pulitzer Prize for General Non-Fiction pada 2015.
Elizabeth Kolbert adalah staff writer untuk The New Yorker sejak 1999 dan salah satu jurnalis sains paling dihormati di dunia. Sebelum "The Sixth Extinction," dia menulis "Field Notes from a Catastrophe" (2006) tentang perubahan iklim.
Buku ini adalah hasil dari perjalanan selama bertahun-tahun ke lokasi-lokasi di seluruh dunia—dari hutan Panama hingga Great Barrier Reef, dari gunung Andes hingga pulau-pulau Pasifik—untuk menyaksikan secara langsung kepunahan yang sedang terjadi.
Buku ini bukan apokaliptik. Ini jurnalisme investigatif yang ketat, berdasarkan ratusan wawancara dengan ilmuwan dan riset peer-reviewed. Kolbert menulis dengan clarity, empati, dan kadang humor gelap yang membuat topik yang berat menjadi accessible.
Untuk pemahaman lengkap tentang krisis kepunahan dan bukti ilmiah di baliknya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Kolbert memberikan detail tentang penelitian terkini, kisah-kisah personal dari ilmuwan di garis depan, dan analisis mendalam tentang setiap faktor yang menyebabkan kepunahan.
Ringkasan ini menangkap argumen inti dan cerita-cerita utama, tetapi buku asli menawarkan kedalaman ilmiah dan emotional yang akan mengubah cara Anda melihat hubungan manusia dengan alam.
Sekarang pergilah dan buat pilihan.
Karena seperti Kolbert tunjukkan: Kita tidak bisa mengatakan kita tidak tahu. Kita tahu. Dan sekarang kita harus memilih apa yang akan kita lakukan dengan pengetahuan itu.
Masa depan kehidupan di Bumi—termasuk spesies kita sendiri—bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini.