Tiga Pound yang Paling Misterius di Alam Semesta
Bayangkan Anda bisa membaca pikiran orang lain.
Bayangkan Anda bisa menggerakkan objek hanya dengan pikiran—tidak perlu menyentuh, tidak perlu bicara, hanya berpikir dan benda bergerak.
Bayangkan Anda bisa merekam mimpi Anda, menyimpannya seperti video, dan memutarnya kembali kapan pun Anda mau.
Bayangkan Anda bisa mengupload pikiran Anda ke komputer dan hidup selamanya—bahkan setelah tubuh fisik Anda mati.
Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, bukan?
Tapi menurut Michio Kaku—fisikawan teoretis dari City College of New York dan salah satu ilmuwan paling terkemuka di dunia—ini semua bukan lagi fiksi. Ini adalah sains.
Selama ribuan tahun, pikiran manusia adalah misteri terbesar. Filsuf berdebat. Agama memberikan jawaban spiritual. Tapi sains tidak punya alat untuk melihat ke dalam otak yang hidup dan bekerja.
Lalu dalam 15 tahun terakhir, terjadi revolusi.
Dengan MRI, PET scan, transcranial magnetic stimulation, dan teknologi brain-computer interface, kita sekarang bisa melihat pikiran saat terjadi. Kita bisa memetakan bagaimana otak menciptakan kesadaran, emosi, kenangan, dan mimpi.
Dan yang lebih menakjubkan: kita tidak hanya bisa memahami pikiran—kita mulai bisa mengubahnya.
"The Future of the Mind" adalah ekspedisi ilmiah ke frontier terakhir—pikiran manusia. Kaku membawa kita dari laboratorium neuroscience paling canggih di dunia hingga spekulasi tentang masa depan di mana pikiran tidak lagi terbatas pada tengkorak kita.
Inilah perjalanan ke dalam tiga pound materi paling kompleks yang pernah kita temukan di alam semesta: otak Anda sendiri.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Memahami Pikiran—Dari Misteri ke Sains
Revolusi yang Mengubah Segalanya
Tahun 2006, seorang wanita bernama Jan Scheuermann didiagnosa dengan penyakit degeneratif yang menghancurkan neuron motornya. Dalam beberapa tahun, dia lumpuh total—tidak bisa menggerakkan lengan, kaki, atau bahkan jari.
Tapi pikirannya sepenuhnya utuh. Dia bisa berpikir, merasakan, ingin bergerak—tapi tubuhnya tidak merespons.
Lalu pada 2012, tim dari University of Pittsburgh melakukan sesuatu yang revolusioner: mereka menanamkan dua chip kecil ke korteks motorik otaknya—bagian otak yang mengendalikan gerakan.
Chip ini membaca sinyal dari neuron—pikiran Jan untuk menggerakkan lengan.
Komputer menerjemahkan sinyal ini dan mengirimkannya ke lengan robot.
Hasilnya? Jan bisa menggerakkan lengan robot hanya dengan berpikir.
Dia bisa mengambil cokelat. Menyentuh tangan asistennya. Bahkan menggerakkan lengan robot untuk memberi high-five.
Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, dia "menggerakkan" lengan lagi. "Rasanya seperti aku punya lengan lagi," katanya, menangis.
Inilah yang Kaku maksud ketika dia bilang kita memasuki era baru dalam sejarah manusia—era di mana pikiran tidak lagi terbatas pada tubuh.
Bagaimana Kita Sampai di Sini?
Selama ribuan tahun, otak adalah kotak hitam. Kita tidak tahu bagaimana dia bekerja.
Filsuf Yunani berpikir pikiran ada di jantung. Orang Mesir kuno membuang otak ketika mumifikasi—mereka pikir organ yang penting adalah hati.
Bahkan pada abad ke-19, dokter hanya bisa mempelajari otak setelah pasien meninggal. Lalu datang dua revolusi:
Revolusi 1: Brain Imaging (Pencitraan Otak)
Pada 1970-an, CAT scan memungkinkan kita melihat struktur otak.
Pada 1990-an, fMRI (functional MRI) memungkinkan kita melihat otak saat bekerja—bagian mana yang aktif ketika seseorang berpikir, merasakan, atau mengingat.
Pada 2000-an, MEG (magnetoencephalography) bisa mendeteksi medan magnet yang dihasilkan neuron dengan resolusi waktu yang sangat cepat.
Sekarang kita bisa melihat pikiran terjadi.
Revolusi 2: Brain-Computer Interface
Tahun 1998, ilmuwan berhasil menanamkan elektroda ke otak tikus dan membuat mereka menggerakkan robot sederhana dengan pikiran.
Tahun 2004, Matthew Nagle—pria yang lumpuh dari leher ke bawah—menjadi manusia pertama yang mengendalikan komputer hanya dengan pikiran.
Tahun 2012, Jan Scheuermann mengendalikan lengan robot.
Sekarang kita tidak hanya bisa membaca pikiran—kita bisa menerjemahkannya menjadi tindakan.
Apa Itu Kesadaran?
Inilah pertanyaan paling fundamental: Apa itu kesadaran? Bagaimana sekumpulan neuron yang menembakkan sinyal listrik menciptakan pengalaman subjektif—perasaan menjadi "Anda"?
Kaku mengusulkan Space-Time Theory of Consciousness:
Kesadaran adalah proses di mana otak membuat simulasi dunia dan memposisikan diri kita di dalamnya dari waktu ke waktu.
Bayangkan otak sebagai simulator. Dia mengambil input dari mata, telinga, kulit—dan menciptakan model 3D dari realitas. Lalu dia memproyeksikan model ini ke masa depan: "Jika aku lakukan X, apa yang akan terjadi?"
Inilah yang membedakan manusia dari robot atau hewan sederhana:
● Level 0 Consciousness (Termostat): Hanya bereaksi pada satu variabel (panas/dingin)
● Level 1 Consciousness (Reptil): Membuat model spatial sederhana dari lingkungan
● Level 2 Consciousness (Mamalia): Menyadari emosi, hierarki sosial
● Level 3 Consciousness (Manusia): Mensimulasi masa depan, memahami diri sendiri, merencanakan, berpikir abstrak
Manusia tidak hanya mengalami dunia—kita mensimulasi dunia dan menempatkan diri kita dalam berbagai skenario masa depan.
Ini mengapa kita bisa merencanakan, berempati, menciptakan seni, dan bertanya pertanyaan filosofis seperti "Siapa aku?"
Bagian 2: Membaca Pikiran—Dari Telepati Fiksi ke Telepati Sains
Merekam Apa yang Anda Lihat
Tahun 2011, ilmuwan di UC Berkeley melakukan eksperimen yang terdengar mustahil:
Mereka memasang elektroda di otak subjek yang menonton video klip film. fMRI merekam aktivitas otak.
Lalu komputer menganalisis pola aktivitas ini dan merekonstruksi apa yang subjek lihat—bukan sempurna, tapi cukup jelas untuk mengenali wajah, objek, dan gerakan.
Mereka tidak membaca pikiran secara langsung. Tapi mereka membaca aktivitas visual cortex—dan menerjemahkannya kembali menjadi gambar.
Inilah yang luar biasa: Kita sekarang bisa melihat apa yang orang lain lihat, hanya dengan membaca otak mereka.
Merekam Mimpi
Jika kita bisa merekam apa yang Anda lihat saat terjaga, bisa kita merekam apa yang Anda "lihat" saat bermimpi?
Jawabannya: Ya.
Tim yang sama di Berkeley melakukan eksperimen di mana subjek tidur dalam mesin fMRI. Ketika mereka masuk fase REM (Rapid Eye Movement)—fase di mana mimpi terjadi—scanner merekam aktivitas otak.
Subjek dibangunkan dan ditanya apa yang mereka mimpi. Lalu komputer mencoba merekonstruksi gambar berdasarkan pola otak.
Hasilnya tidak sempurna—mimpi lebih abstrak dan simbolik daripada penglihatan normal. Tapi prinsipnya terbukti: Suatu hari kita mungkin bisa merekam mimpi kita seperti video dan menontonnya kembali di pagi hari.
Bayangkan implikasinya:
● Psikolog bisa benar-benar melihat mimpi pasien, bukan hanya mendengar deskripsi
● Seniman bisa merekam mimpi dan mengubahnya menjadi film atau seni visual
● Kita bisa "memutar ulang" mimpi indah yang ingin kita ingat
Membaca Kenangan
Kenangan tidak disimpan di satu tempat di otak. Mereka tersebar—visual di visual cortex, suara di auditory cortex, emosi di amygdala.
Tapi ilmuwan mulai bisa mengidentifikasi pola yang sesuai dengan kenangan tertentu.
Dalam eksperimen, subjek ditunjukkan serangkaian gambar—rumah, wajah, pemandangan. Komputer mempelajari pola otak yang sesuai dengan setiap gambar.
Lalu subjek diminta hanya membayangkan salah satu gambar—tidak melihatnya, hanya mengingat.
Komputer bisa menebak gambar mana yang mereka bayangkan dengan akurasi 80%+.
Kita mulai bisa membaca kenangan orang lain.
Implikasi menakutkan dan menakjubkan:
● Menakjubkan: Kita bisa membantu penderita Alzheimer mengakses kenangan yang hilang
● Menakutkan: Privasi pikiran—konsep yang selalu kita anggap absolut—mungkin tidak lagi ada
Bagian 3: Telekinesis—Menggerakkan Dunia dengan Pikiran
Dari Superman ke Sains
Tahun 2013, seorang pilot F-35 "menerbangkan" jet tempur simulator—tanpa menyentuh apa pun.
Dia mengenakan topi EEG yang membaca gelombang otak. Pikiran untuk berbelok, naik, turun diterjemahkan komputer menjadi perintah ke pesawat.
Ini masih awal dan tidak sempurna. Tapi prinsipnya terbukti: Kita bisa mengendalikan mesin kompleks hanya dengan pikiran.
Exoskeleton untuk Paralisis
Piala Dunia 2014 di Brasil dibuka dengan cara yang tidak biasa:
Seorang remaja Brasil yang lumpuh dari pinggang ke bawah menendang bola—mengenakan exoskeleton robot yang dikendalikan oleh pikirannya.
Chip di otaknya membaca sinyal untuk "gerakkan kaki." Komputer menerjemahkan ini ke motor di exoskeleton. Dan dia berjalan ke tengah lapangan dan menendang bola.
Ribuan orang menonton. Banyak yang menangis.
Ini bukan hanya teknologi—ini adalah harapan bagi jutaan orang yang lumpuh di seluruh dunia.
Masa Depan: Avatar dan Surrogate
Kaku membayangkan masa depan di mana orang bisa mengendalikan "avatar"—tubuh robot yang bisa pergi ke tempat berbahaya.
Tentara bisa mengendalikan robot di zona perang dari jarak ribuan kilometer—merasakan apa yang robot rasakan, melihat apa yang robot lihat, tapi tanpa risiko fisik.
Pekerja konstruksi bisa mengendalikan robot untuk bekerja di lingkungan berbahaya—luar angkasa, dasar laut, reaktor nuklir.
Atau bayangkan ini: Anda mengendalikan robot yang pergi berlibur untuk Anda.
Robot berjalan di Paris. Anda duduk di rumah dengan headset, melihat Menara Eiffel melalui mata robot, merasakan angin Paris di sensor robot, bahkan "mencicipi" croissant melalui sensor kimia.
Kedengarannya gila? Prototipe teknologi ini sudah ada sekarang.
Bagian 4: Telepati—Mengirim Pikiran dari Otak ke Otak
Eksperimen yang Mengubah Segalanya
Tahun 2013, ilmuwan di University of Washington melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi:
Mereka mengirim pikiran dari satu otak manusia ke otak manusia lain—langsung, tanpa kata-kata, tanpa gerakan tubuh.
Begini caranya:
Dr. Rajesh Rao duduk di satu lab, bermain video game sederhana. Dia berpikir untuk menggerakkan tangan kanannya (tapi tidak benar-benar menggerakkannya).
EEG cap membaca sinyal otaknya.
Sinyal ini dikirim melalui internet ke lab lain, di mana Dr. Andrea Stocco duduk.
TMS (Transcranial Magnetic Stimulation) coil di kepala Stocco menerima sinyal dan merangsang motor cortex-nya.
Hasilnya? Tangan kanan Stocco bergerak—tanpa dia putuskan untuk menggerakkannya.
Dia merasakan impuls tiba-tiba untuk menggerakkan tangan, dan tangannya bergerak.
Pikiran dari satu otak mengendalikan otot di otak lain.
Brain-to-Brain Communication
Dalam eksperimen lain di Duke University, dua tikus ditempatkan di kandang terpisah.
Tikus pertama belajar menekan tuas kiri atau kanan untuk mendapat makanan—tergantung lampu mana yang menyala.
Elektroda di otaknya merekam sinyal keputusan: "tekan kiri" atau "tekan kanan."
Sinyal ini dikirim via internet ke tikus kedua di lab lain—bahkan di Brasil, ribuan kilometer jauhnya.
Elektroda di otak tikus kedua menerima sinyal.
Tikus kedua tidak melihat lampu. Tapi dia menekan tuas yang benar—karena dia menerima keputusan dari tikus pertama.
Informasi ditransfer langsung dari otak ke otak.
Implikasi untuk Manusia
Bayangkan masa depan di mana:
1. Komunikasi Instan Tanpa Bahasa
Anda berpikir "Saya mencintaimu"—dan orang yang Anda cintai merasakan emosi itu langsung, tanpa kata-kata. Tidak ada salah tafsir. Tidak ada hambatan bahasa.
2. Collective Intelligence
Sekelompok ilmuwan terhubung brain-to-brain, berbagi pikiran secara real-time untuk memecahkan masalah kompleks—seperti komputer paralel, tapi dengan otak manusia.
3. Pendidikan Langsung
Alih-alih belajar matematika selama bertahun-tahun, pengetahuan matematika "diupload" langsung ke otak Anda—seperti dalam film "The Matrix."
Kaku bilang teknologi ini masih puluhan tahun lagi. Tapi prinsip dasarnya sudah terbukti.
Bagian 5: Meningkatkan Kecerdasan—Dari Manusia ke Superhuman
Smart Pills—Pil Kecerdasan
Saat ini sudah ada obat yang meningkatkan kognisi:
● Modafinil: Meningkatkan fokus dan mengurangi kebutuhan tidur
● Ritalin & Adderall: Meningkatkan konsentrasi (digunakan untuk ADHD)
● Piracetam: Meningkatkan memori dan pembelajaran
Mahasiswa di universitas top menggunakan ini untuk ujian. Profesional menggunakannya untuk deadline penting.
Tapi obat ini punya efek samping dan tidak benar-benar meningkatkan kecerdasan—hanya meningkatkan fokus dan energi mental.
Pertanyaannya: Bisa kita membuat obat yang benar-benar meningkatkan kecerdasan?
Kaku percaya jawabannya adalah ya—tapi kita perlu memahami biologi kecerdasan lebih dalam dulu.
TMS—Merangsang Kejeniusan
Dalam eksperimen di Sydney, Australia, subjek dikenakan TMS (Transcranial Magnetic Stimulation)—alat yang menggunakan medan magnet untuk merangsang atau menekan bagian otak tertentu.
Ketika TMS menekan bagian tertentu dari temporal lobe, subjek tiba-tiba menunjukkan peningkatan dramatis dalam kemampuan tertentu:
● Menggambar dengan detail fotografi
● Menghitung dengan kecepatan luar biasa
● Mengingat detail yang biasanya mereka abaikan
Mengapa? Teorinya: Otak kita sebenarnya memproses lebih banyak informasi daripada yang kita sadari. Tapi otak "memfilter" sebagian besar untuk menghindari overload.
TMS mematikan filter ini—mengakses kemampuan tersembunyi yang sudah ada tapi biasanya ditekan.
Beberapa penderita autism atau savant syndrome menunjukkan kemampuan luar biasa karena bagian otak mereka yang "memfilter" tidak berfungsi normal.
Pertanyaannya: Bisa kita mengakses kemampuan savant ini tanpa trade-off kognitif lainnya?
Brain-Computer Hybrid
Kaku membayangkan masa depan di mana otak manusia terhubung langsung dengan komputer—bukan hanya membaca atau mengirim sinyal, tapi benar-benar menjadi hybrid.
Bayangkan chip di otak Anda yang memberi Anda akses instan ke seluruh internet—tidak perlu Google, Anda hanya "tahu" informasi apa pun.
Atau bayangkan chip yang memberi Anda kemampuan matematika komputer—Anda bisa menghitung integral kalkulus di kepala seperti menghitung 2+2.
Kedengarannya menakutkan? Mungkin. Tapi Kaku berargumen: Kita sudah cyborg.
Ponsel Anda adalah ekstensi dari otak Anda. Anda tidak mengingat nomor telepon lagi—Anda outsource ke ponsel. Anda tidak mengingat jalan—Anda pakai GPS.
Brain-computer interface hanya langkah berikutnya dalam evolusi kita.
Bagian 6: Digital Immortality—Hidup Selamanya di Mesin
Mengupload Pikiran
Inilah pertanyaan paling radikal: Bisa kita mengupload seluruh pikiran—semua kenangan, kepribadian, kesadaran—ke komputer?
Jika bisa, maka bahkan setelah tubuh Anda mati, "Anda" bisa terus hidup dalam mesin.
Kaku mengatakan ini secara teoritis mungkin—tapi sangat, sangat sulit.
Tantangan 1: Connectome
Otak punya sekitar 100 miliar neuron, masing-masing terhubung ke ribuan neuron lain—total sekitar 100 triliun koneksi.
Untuk mengupload pikiran, kita perlu memetakan semua koneksi ini—apa yang disebut "connectome."
Ini seperti mencoba memetakan setiap jalan, gang, dan jalan setapak di seluruh planet—tapi dengan resolusi atom.
Saat ini, kita baru bisa memetakan connectome dari C. elegans—cacing kecil dengan 302 neuron. Masih jauh dari 100 miliar.
Tantangan 2: Menjalankan Simulasi
Bahkan jika kita punya peta lengkap, kita perlu komputer yang cukup powerful untuk mensimulasikan otak secara real-time.
Otak memproses sekitar 10 quadrillion (10^16) operasi per detik. Superkomputer tercepat saat ini baru mulai mendekati angka ini.
Tantangan 3: Kesadaran
Bahkan jika kita bisa mensimulasi otak secara sempurna, apakah simulasi itu sadar?
Apakah copy digital dari Anda benar-benar "Anda"? Atau hanya program komputer yang bertindak seperti Anda?
Ini pertanyaan filosofis yang tidak ada jawaban jelas.
Skenario yang Lebih Realistis
Kaku percaya full mind upload masih puluhan (mungkin ratusan) tahun lagi.
Tapi ada skenario yang lebih realistis dalam 50-100 tahun:
1. Partial Upload
Upload kenangan spesifik—misalnya semua kenangan masa kecil Anda—dan simpan di database yang bisa diakses keluarga setelah Anda meninggal.
Bukan "Anda" yang hidup, tapi kenangan Anda yang tidak hilang.
2. Brain Enhancement
Chip di otak yang menambah kapasitas memori atau processing speed—bukan mengganti otak, tapi mengaugmentasi.
3. Surrogate Bodies
Otak biologis Anda tetap hidup, tapi terhubung ke tubuh robot yang bisa Anda ganti—lebih muda, lebih kuat, atau bahkan berbeda spesies.
Bagian 7: Pertanyaan Etis dan Filosofis
Siapa yang Mengontrol Teknologi Ini?
Teknologi untuk membaca pikiran, mengendalikan otak, atau mengupload kesadaran adalah teknologi paling powerful yang pernah ada.
Pertanyaannya: Siapa yang akan mengontrolnya?
Skenario Menakutkan:
● Pemerintah totaliter menggunakan brain scanning untuk mendeteksi "pikiran kriminal" sebelum kejahatan terjadi (seperti "Minority Report")
● Perusahaan menggunakan brain data untuk manipulasi konsumen yang sempurna
● Kesenjangan antara "enhanced humans" (manusia yang diaugmentasi) dan "natural humans" menciptakan kelas sosial baru
Skenario Optimis:
● Teknologi membaca pikiran membantu pasien locked-in syndrome berkomunikasi
● Brain-computer interface mengembalikan mobilitas pada jutaan orang lumpuh
● Collective intelligence memecahkan masalah global seperti climate change
Kaku berargumen: Teknologi sendiri netral. Yang menentukan adalah bagaimana kita memilih menggunakannya.
Apakah Kita Masih "Manusia"?
Jika kita menambah chip ke otak, mengganti tubuh dengan robot, atau mengupload pikiran ke komputer—apakah kita masih manusia?
Kaku percaya pertanyaan ini salah.
Manusia selalu berevolusi. Kita sudah tidak sama dengan Homo sapiens 100,000 tahun lalu. Kita punya bahasa, budaya, teknologi yang mengubah fundamental cara kita berpikir.
Teknologi adalah kelanjutan natural dari evolusi manusia.
Yang penting bukan apakah kita tetap "manusia" dalam definisi biologis tradisional, tapi apakah kita tetap memiliki nilai-nilai kemanusiaan—empati, kasih sayang, kreativitas, pencarian makna.
Penutup: Tiga Pound yang Mengubah Alam Semesta
Michio Kaku menutup bukunya dengan refleksi yang powerful:
Selama miliaran tahun, alam semesta berkembang tanpa kesadaran. Bintang lahir dan mati. Planet terbentuk. Tapi tidak ada yang "tahu" ini terjadi.
Lalu, di satu planet kecil di pinggiran galaksi, muncul sesuatu yang luar biasa: pikiran.
Makhluk yang tidak hanya bereaksi pada lingkungan, tapi memahami lingkungan. Makhluk yang bisa bertanya "Dari mana kita datang?" dan "Ke mana kita akan pergi?"
Otak manusia—tiga pound materi yang bisa muat di telapak tangan—adalah struktur paling kompleks yang kita tahu di alam semesta.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, otak ini bisa mempelajari dirinya sendiri. Pikiran bisa memahami pikiran.
Ini adalah era paling menakjubkan dalam sejarah manusia.
Pertanyaan untuk Anda
Coba bayangkan:
1. Jika Anda bisa mengupload satu skill langsung ke otak Anda, apa itu?
2. Jika Anda bisa merekam dan menyimpan satu kenangan untuk selamanya, kenangan mana?
3. Jika Anda bisa terhubung telepati dengan satu orang, siapa itu dan mengapa?
4. Jika Anda punya pilihan untuk hidup selamanya dalam tubuh digital, apakah Anda akan melakukannya?
Jawaban Anda akan mengungkapkan bukan hanya apa yang Anda inginkan dari masa depan—tapi nilai-nilai apa yang paling penting bagi Anda.
Pesan Terakhir
Kaku meninggalkan kita dengan pengingat yang penting:
"Kita adalah spesies pertama di Bumi yang bisa menentukan masa depan evolusi kita sendiri. Dengan teknologi pikiran, kita tidak hanya menemukan siapa kita—kita memutuskan siapa kita akan menjadi."
Masa depan pikiran bukan sesuatu yang terjadi pada kita. Masa depan pikiran adalah sesuatu yang kita ciptakan—dengan pilihan yang kita buat hari ini.
Teknologi akan terus berkembang. Pertanyaannya bukan "apakah" tapi "bagaimana" dan "untuk tujuan apa."
Apakah kita akan menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan kemanusiaan kita—empati, kreativitas, kasih sayang?
Atau apakah kita akan tergoda oleh kekuatan tanpa kebijaksanaan—kontrol tanpa etika?
Jawabannya ada di tangan generasi ini. Di tangan Anda.
Karena seperti yang Kaku buktikan: Masa depan pikiran sudah dimulai. Dan Anda adalah bagian darinya.
Tentang Buku Asli
"The Future of the Mind: The Scientific Quest to Understand, Enhance, and Empower the Mind" diterbitkan pada Februari 2014 dan menjadi New York Times bestseller.
Michio Kaku adalah profesor fisika teoretis di City College of New York dan salah satu pendiri string field theory. Dia adalah salah satu popularizer sains paling terkenal di dunia, sering muncul di TV dan radio untuk menjelaskan konsep ilmiah kompleks dengan cara yang accessible.
Buku ini adalah hasil dari wawancara dengan 300+ ilmuwan terkemuka di bidang neuroscience, artificial intelligence, dan brain-computer interfaces. Kaku mengunjungi laboratorium di seluruh dunia untuk melihat langsung penelitian cutting-edge tentang pikiran.
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar:
1. The Mind and Consciousness - Bagaimana kita memahami pikiran
2. Mind Over Matter - Telekinesis, telepati, dan kontrol pikiran atas materi
3. Altered Consciousness - Mimpi, penyakit mental, AI, dan digital immortality
Untuk pemahaman lengkap tentang ilmu pikiran dan kemungkinan masa depannya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Kaku memberikan ratusan contoh penelitian spesifik, eksperimen detail, dan spekulasi yang didukung sains yang tidak bisa sepenuhnya diringkas.
Ringkasan ini menangkap ide-ide utama dan contoh paling striking, tetapi buku asli menawarkan kedalaman ilmiah, nuansa filosofis, dan sense of wonder yang akan mengubah cara Anda melihat pikiran Anda sendiri.
Sekarang pergilah dan gunakan tiga pound paling luar biasa di alam semesta—otak Anda—untuk membayangkan masa depan yang ingin Anda ciptakan.
Karena seperti Kaku tunjukkan: Pikiran kita adalah frontier terakhir. Dan petualangan baru saja dimulai.