Pertanyaan yang Memecah Belah Masyarakat
Bayangkan Anda sedang makan malam bersama keluarga besar saat Lebaran.
Tiba-tiba paman Anda—yang Anda tahu pendukung kandidat A—mulai membicarakan politik. "Kandidat B itu pembohong! Bagaimana orang bisa memilih dia?"
Sepupu Anda—pendukung kandidat B—langsung bereaksi. "Kandidat A yang berbohong! Kamu tidak lihat faktanya?"
Dalam hitungan menit, ruangan terpecah. Orang-orang yang baik, yang sama-sama peduli pada negara, yang sama-sama ingin yang terbaik untuk keluarga mereka—berteriak satu sama lain.
Dan Anda duduk di tengah, berpikir: "Bagaimana ini bisa terjadi? Kita semua orang baik. Mengapa kita tidak bisa sepakat tentang apa yang benar?"
Jonathan Haidt, psikolog dari University of Virginia (sekarang NYU), menghabiskan 25 tahun karirnya mengajukan pertanyaan ini. Dan jawaban yang dia temukan mengejutkan—bahkan mengubah cara kita memahami moralitas itu sendiri.
Inilah temuannya: Kita semua berpikir moralitas itu tentang finding the truth. Padahal, moralitas lebih tentang binding groups together.
Kita pikir perbedaan moral terjadi karena "mereka bodoh" atau "mereka jahat." Padahal, perbedaan terjadi karena kita menggunakan fondasi moral yang berbeda untuk menilai dunia.
Buku "The Righteous Mind" bukan hanya menjelaskan mengapa orang baik terpecah oleh politik dan agama. Buku ini memberikan Anda peta untuk memahami—dan akhirnya menjembatani—perpecahan itu.
Ini bukan buku politik. Ini buku tentang bagaimana pikiran manusia bekerja ketika kita berbicara tentang benar dan salah.
Dan pemahaman ini mungkin adalah hal terpenting yang Anda butuhkan untuk bertahan hidup di era polarisasi ini.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Gajah dan Penunggangnya—Siapa yang Benar-Benar Mengendalikan?
Eksperimen yang Mengubah Segalanya
Haidt melakukan eksperimen sederhana yang mengungkap kebenaran mengejutkan tentang bagaimana kita membuat penilaian moral.
Dia bercerita kepada peserta penelitian:
"Julie dan Mark adalah kakak-adik. Mereka sedang liburan bersama di Prancis. Suatu malam mereka memutuskan akan menarik untuk mencoba berhubungan seks. Julie sudah minum pil kontrasepsi, tapi Mark juga pakai kondom untuk jaga-jaga. Mereka berdua menikmatinya, tapi setuju untuk tidak mengulanginya lagi. Mereka menyimpan malam itu sebagai rahasia spesial yang membuat mereka lebih dekat. Apa pendapat Anda tentang ini?"
Hampir semua orang langsung bereaksi: "Salah! Itu salah!"
Lalu Haidt bertanya: "Mengapa salah?"
Orang mulai mencari alasan:
● "Karena bisa membuat anak cacat." → Tapi mereka pakai dua kontrasepsi.
● "Karena akan merusak hubungan mereka." → Tapi ceritanya mengatakan mereka jadi lebih dekat.
● "Karena traumatis." → Tapi mereka berdua menikmatinya.
Satu per satu, argumen rasional mereka runtuh. Tapi penilaian moral mereka tidak berubah.
Akhirnya banyak yang berkata: "Aku tidak tahu mengapa salah. Tapi aku yakin ini salah!"
Haidt menyebut ini "moral dumbfounding"—kita punya penilaian moral yang kuat tanpa bisa memberikan alasan rasional untuk itu.
Apa yang terjadi?
Metafora Gajah dan Penunggangnya
Haidt menggunakan metafora brilian untuk menjelaskan bagaimana pikiran moral kita bekerja:
Gajah = intuisi, emosi, gut feeling Besar, kuat, bereaksi cepat. Gajah adalah sistem otomatis yang langsung tahu "ini benar" atau "ini salah" tanpa berpikir.
Penunggang = reasoning, logika, argumen rasional Kecil, lemah, datang kemudian. Penunggang adalah sistem yang mencoba memberikan alasan untuk apa yang sudah diputuskan gajah.
Selama berabad-abad, filsuf berpikir penunggang yang mengendalikan gajah—kita berpikir dulu, lalu merasa.
Haidt membuktikan sebaliknya: Gajah mengendalikan penunggang.
Kita merasa dulu (intuisi moral), lalu baru mencari alasan untuk membenarkan apa yang kita rasakan.
Implikasi yang Mengubah Segalanya
Jika ini benar, maka:
1. Argumen rasional jarang mengubah pikiran orang
Ketika Anda berdebat politik dengan seseorang, Anda pikir Anda menyerang argumentnya. Padahal Anda menyerang intuisi moralnya—dan orang akan defensif.
Penunggang mereka (reasoning) hanya akan mencari alasan baru untuk mempertahankan apa yang gajah mereka (intuisi) sudah putuskan.
2. Kita adalah lawyer untuk gajah kita, bukan hakim yang objektif
Kita tidak mencari kebenaran. Kita mencari pembenaran untuk apa yang sudah kita yakini.
Lihat debat politik: tidak ada yang berkata "Hm, Anda benar. Saya salah." Semua orang mencari cara untuk mempertahankan posisi mereka.
3. Moralitas mengikat dan membutakan
Moralitas membuat kita terikat dengan kelompok (orang yang punya intuisi moral yang sama). Tapi juga membutakan kita terhadap perspektif kelompok lain.
Pelajaran pertama: Jika Anda ingin mengubah pikiran seseorang, jangan bicara pada penunggang mereka. Bicara pada gajah mereka—pada emosi dan intuisi mereka.
Bagian 2: Enam Fondasi Moral—Mengapa Kita Melihat Dunia Berbeda
Haidt menghabiskan bertahun-tahun meneliti budaya berbeda—dari India hingga Brasil, dari kampus liberal hingga gereja konservatif.
Dia menemukan bahwa moralitas dibangun di atas enam fondasi dasar—seperti enam "reseptor rasa" pada lidah moral kita.
Fondasi 1: Care/Harm (Kepedulian/Bahaya)
Intuisi inti: Penderitaan itu buruk. Kita harus peduli dan melindungi yang lemah.
Akar evolusioner: Mamalia yang merawat anak mereka survive lebih baik.
Contoh:
● Melihat anak menangis → impuls untuk menolong
● Melihat orang dipukuli → kemarahan terhadap pelaku
● Kampanye "save the children" yang powerful
Siapa yang paling sensitif: Liberal sangat tinggi di fondasi ini.
Fondasi 2: Fairness/Cheating (Keadilan/Kecurangan)
Intuisi inti: Orang harus mendapat apa yang mereka layak dapatkan. Curang itu salah.
Akar evolusioner: Kerjasama membutuhkan reciprocity. Kita benci free riders. Tapi ada dua versi fairness:
Fairness sebagai equality (kesetaraan) → Liberal "Semua orang harus dapat bagian yang sama. Gap ekonomi tidak adil."
Fairness sebagai proportionality (proporsionalitas) → Konservatif "Orang harus dapat sesuai usaha mereka. Malas tapi dapat banyak itu tidak adil."
Contoh perbedaan:
● Liberal melihat kesenjangan kekayaan → "Sistem tidak adil untuk orang miskin!"
● Konservatif melihat program bantuan sosial → "Tidak adil bagi yang kerja keras tapi pajaknya tinggi untuk orang malas!"
Keduanya bicara tentang "fairness" tapi maksudnya berbeda.
Fondasi 3: Loyalty/Betrayal (Loyalitas/Pengkhianatan)
Intuisi inti: Berdiri bersama kelompok Anda. Jangan berkhianat.
Akar evolusioner: Kelompok yang loyal survive lebih baik dalam konflik dengan kelompok lain.
Contoh:
● Patriotisme—mencintai negara Anda
● Loyalitas tim—"kita vs mereka"
● Kemarahan pada "pengkhianat" atau "pembelot"
Siapa yang paling sensitif: Konservatif sangat tinggi. Liberal lebih rendah.
Inilah mengapa:
● Konservatif marah ketika ada yang bakar bendera
● Liberal bingung: "Itu cuma kain. Freedom of speech."
Fondasi 4: Authority/Subversion (Otoritas/Pemberontakan)
Intuisi inti: Hormati tradisi, hierarki, dan otoritas yang legitimate. Jangan melawan tanpa alasan kuat.
Akar evolusioner: Hierarki sosial menciptakan order dan stabilitas.
Contoh:
● Menghormati orang tua, guru, pemimpin
● Menghargai tradisi dan cara lama
● Kemarahan pada yang "tidak sopan" atau "tidak tahu tempat"
Siapa yang paling sensitif: Konservatif tinggi. Liberal rendah.
Inilah mengapa:
● Konservatif menghargai "respect for elders" dan tradisi
● Liberal melihat tradisi dengan skeptis: "Hanya karena selalu begitu tidak berarti benar"
Fondasi 5: Sanctity/Degradation (Kesucian/Penghinaan)
Intuisi inti: Tubuh dan jiwa adalah suci. Ada hal-hal yang "kotor" atau "merendahkan" yang harus dijauhi.
Akar evolusioner: Menghindari patogen dan penyakit.
Tapi berkembang menjadi: Gagasan tentang kemurnian spiritual, kesucian moral.
Contoh:
● Makanan haram/halal
● Perasaan "jijik" pada tindakan tertentu (seperti cerita Julie-Mark tadi)
● Gagasan tentang "menjaga kesucian tubuh"
Siapa yang paling sensitif: Konservatif dan religius sangat tinggi. Liberal sekuler sangat rendah.
Inilah mengapa:
● Konservatif religius melihat seks bebas → "degrading, immoral"
● Liberal melihat seks antara orang dewasa yang consent → "bukan urusanmu"
Fondasi 6: Liberty/Oppression (Kebebasan/Penindasan)
Intuisi inti: Orang harus bebas dari dominasi dan kontrol yang berlebihan.
Akar evolusioner: Kita benci bullies dan alpha males yang terlalu dominan.
Tapi diekspresikan berbeda:
Liberal: Kebebasan dari penindasan oleh yang powerful (korporasi, mayoritas) "Protect the weak from bullies"
Konservatif (libertarian): Kebebasan dari pemerintah yang terlalu ikut campur "Don't tread on me"
Bagian 3: Mengapa Liberal dan Konservatif Tidak Bisa Saling Mengerti
Peta Moral yang Berbeda
Haidt melakukan survey besar-besaran. Hasilnya mengejutkan:
Liberal sangat tinggi di dua fondasi:
● Care/Harm
● Fairness (as equality)
Dan rendah di empat fondasi lainnya:
● Loyalty
● Authority
● Sanctity
● Liberty (dari pemerintah)
Konservatif moderately high di SEMUA enam fondasi.
Bayangkan moralitas seperti equalizer di stereo. Liberal memaksimalkan dua knob, konservatif menyebar di semua knob.
Implikasi yang Profound
1. Liberal melihat konservatif sebagai tidak bermoral
Dari perspektif liberal yang hanya pakai dua fondasi: "Konservatif tidak peduli pada penderitaan orang miskin (low Care). Mereka tidak peduli ketidakadilan (low Fairness). Mereka pasti heartless atau bodoh."
2. Konservatif melihat liberal sebagai naif dan berbahaya
Dari perspektif konservatif yang pakai semua fondasi: "Liberal tidak menghargai tradisi (low Authority). Tidak loyal pada negara (low Loyalty). Tidak punya nilai-nilai moral absolut (low Sanctity). Mereka akan menghancurkan struktur sosial."
3. Kedua sisi merasa self-righteous
Liberal: "Kami berjuang untuk keadilan dan kepedulian!" Konservatif: "Kami melindungi nilai-nilai dan institusi yang membuat masyarakat berfungsi!"
Keduanya benar—dari sistem moral mereka sendiri.
Kisah Kotak Musik
Haidt menggunakan metafora sempurna:
Bayangkan moralitas seperti kotak musik dengan enam tombol. Ketika Anda tekan tombol, melodi tertentu dimainkan.
Liberal punya 2 tombol yang sangat sensitif Tekan "Care" atau "Fairness" → reaksi moral kuat
Konservatif punya 6 tombol yang semua bekerja Tekan tombol manapun → reaksi moral
Sekarang bayangkan politisi konservatif memberikan pidato tentang patriotisme, menghormati tradisi, dan nilai-nilai keluarga tradisional.
Untuk konservatif: Tiga tombol dimainkan (Loyalty, Authority, Sanctity) → powerful, resonant Untuk liberal: Tidak ada tombol yang dimainkan → "Apa yang dia bicarakan? Ini tidak ada hubungannya dengan keadilan atau penderitaan!"
Sekarang bayangkan politisi liberal memberikan pidato tentang ketidakadilan sistemik dan perlunya melindungi minoritas.
Untuk liberal: Dua tombol dimainkan dengan kuat (Care, Fairness) → inspiring, moral Untuk konservatif: Hanya dua dari enam tombol → "Terlalu simplistic. Dia mengabaikan banyak hal penting!"
Inilah mengapa mereka tidak bisa saling mengerti: Mereka mendengar melodi yang berbeda.
Bagian 4: Kita Adalah Makhluk Kelompok—Groupish, Bukan Selfish
Lebah dalam Sarang vs Simpanse
Haidt mengajukan pertanyaan: Apakah manusia pada dasarnya selfish atau altruistic?
Jawabannya: Keduanya. Tergantung konteks.
Manusia adalah 90% simpanse, 10% lebah.
Sebagai simpanse: Kita individualistik, kompetitif, self-interested Sebagai lebah: Kita bisa kehilangan diri kita dalam kelompok, berkorban untuk kelompok
Kapan Mode Lebah Diaktifkan?
1. Dalam ritual bersama
● Konser musik
● Upacara keagamaan
● Demo politik
● Pertandingan olahraga
Ketika ribuan orang bernyanyi bersama, bergerak bersama—ego individual menghilang. Anda merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar.
2. Dalam menghadapi ancaman eksternal Serangan teroris → bangsa bersatu Pandemi → "we're in this together" Perang → patriotisme meledak
3. Dalam kompetisi antar kelompok Tim olahraga. Perang. Politik.
Moralitas Mengikat dan Membutakan
Haidt menulis salah satu insight paling profound:
"Morality binds and blinds."
Mengikat: Moralitas membuat kita terikat dengan kelompok. Shared values menciptakan trust, kerjasama, sense of belonging.
Membutakan: Moralitas membuat kita buta terhadap perspektif kelompok lain. Kita melihat kelompok kita sebagai yang benar, kelompok lain sebagai yang salah atau bahkan jahat.
Inilah mengapa:
● Fans klub sepak bola bisa berkelahi mati-matian
● Orang membunuh atas nama agama
● Politik bisa merusak persahabatan dan keluarga
Kita tidak bertarung karena kita jahat. Kita bertarung karena kita sangat committed pada kelompok kita.
Bagian 5: Mengapa Keberagaman Moral Itu Penting
Konservatif Memahami Liberal Lebih Baik dari Sebaliknya
Haidt melakukan eksperimen: Dia meminta liberal dan konservatif untuk menjawab kuesioner moral seolah-olah mereka adalah lawan politik mereka.
Hasilnya:
● Konservatif bisa memprediksi jawaban liberal dengan cukup akurat
● Liberal sangat buruk memprediksi jawaban konservatif
Mengapa?
Karena konservatif memahami semua enam fondasi moral—mereka mengerti fondasi Care dan Fairness yang liberal prioritaskan, meskipun mereka juga menilai fondasi lain.
Liberal, yang hanya fokus pada dua fondasi, buta terhadap empat fondasi lainnya. Mereka tidak mengerti mengapa seseorang bisa peduli pada Loyalty, Authority, atau Sanctity.
Akibatnya:
● Liberal sering salah paham motivasi konservatif
● Liberal menganggap konservatif as either stupid atau evil—padahal konservatif hanya punya prioritas moral yang berbeda
Masyarakat Butuh Keduanya
Haidt membuat argumen controversial:
Liberal dan konservatif seperti yin dan yang—keduanya dibutuhkan.
Liberal adalah moral inovators:
● Mereka mempertanyakan tradisi yang tidak adil
● Mereka memperjuangkan kelompok yang ter-marginalized
● Mereka mendorong perubahan sosial
Tanpa liberal: masyarakat stagnan, ketidakadilan berlanjut, minoritas tertindas
Konservatif adalah moral guardians:
● Mereka menjaga institusi yang sudah berfungsi
● Mereka melindungi tradisi yang membawa wisdom
● Mereka mencegah perubahan yang terlalu cepat dan destructive
Tanpa konservatif: masyarakat kacau, institusi runtuh, perubahan terlalu cepat
Masyarakat terbaik adalah yang memiliki dialog sehat antara liberal dan konservatif—seperti mobil dengan gas pedal (liberal) dan brake (konservatif).
Anda butuh keduanya untuk melaju dengan aman.
Bagian 6: Bagaimana Menjembatani Perpecahan
1. Kenali Gajah Anda Sendiri
Sebelum Anda bisa memahami orang lain, kenali bias Anda sendiri.
Tanyakan:
● Fondasi moral mana yang paling kuat bagi saya?
● Ketika saya marah pada lawan politik, tombol moral mana yang sedang dimainkan?
● Apakah saya benar-benar mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran?
Remember: Penunggang Anda (reasoning) adalah lawyer untuk gajah Anda (intuisi). Jangan terlalu percaya pada argumen "rasional" Anda sendiri.
2. Pahami Bahasa Moral Lawan Anda
Jika Anda ingin persuade seseorang, jangan bicara dalam bahasa moral Anda. Bicara dalam bahasa moral mereka.
Contoh:
❌ Argumen liberal yang gagal persuade konservatif: "Kita harus buka perbatasan untuk pengungsi karena mereka menderita (Care). Menutup perbatasan itu tidak adil (Fairness)."
Konservatif mendengar ini tapi tidak resonan karena tidak menyentuh fondasi Loyalty, Authority, atau Sanctity mereka.
✅ Argumen yang lebih persuasif untuk konservatif: "Amerika selalu menjadi bangsa yang murah hati dan kuat (Loyalty). Nenek moyang kita datang sebagai imigran dan membangun negara ini (Authority/tradisi). Menutup pintu pada yang menderita akan mengkhianati nilai-nilai yang membuat Amerika hebat (Sanctity nilai Amerika)."
Sekarang Anda bicara dalam bahasa mereka.
3. Temukan Common Ground
Meskipun kita punya prioritas moral berbeda, kita semua peduli pada enam fondasi yang sama—hanya dengan intensitas berbeda.
Alih-alih: "Kamu tidak peduli pada keadilan!" (Attack)
Coba: "Aku tahu kamu juga peduli keadilan. Aku ingin tahu bagaimana kamu mendefinisikan keadilan dalam isu ini?" (Understanding)
4. Kurangi Ketegangan Tim
Banyak polarisasi diperkuat oleh tribal psychology: kita vs mereka.
Cara mengurangi:
● Temui orang dari "sisi lain" secara personal Sulit membenci seseorang yang sudah Anda kenal sebagai manusia, bukan stereotip.
● Fokus pada musuh bersama atau tujuan bersama Alih-alih Democrats vs Republicans, bagaimana tentang "warga negara vs korupsi"?
● Konsumsi media yang lebih balance Jika Anda hanya baca media yang confirm bias Anda, gajah Anda semakin tebal dan penunggang Anda semakin defensif.
5. Intellectual Humility
Haidt menutup dengan saran paling penting:
"Saya mungkin salah."
Jika moralitas adalah tentang binding dan blinding, maka kita semua buta pada satu cara atau lain cara.
Yang paling bijaksana bukan yang paling yakin mereka benar. Yang paling bijaksana adalah yang paling aware akan keterbatasan mereka.
Penutup: Kita Semua Righteous—Dan Itu Masalahnya
Judul buku ini adalah The Righteous Mind—bukan "The Right Mind."
Righteous = merasa benar secara moral, merasa justified
Dan Haidt mengatakan: Kita semua righteous. Kita semua merasa kita yang bermoral, kita yang peduli, kita yang benar.
Inilah masalah utama dalam dialog politik dan agama: Bukan bahwa kita tidak bermoral. Tapi bahwa kita semua sangat bermoral—dari perspektif kita sendiri.
● Liberal melihat dunia dan melihat ketidakadilan dan penderitaan yang harus diperbaiki
● Konservatif melihat dunia dan melihat institusi dan tradisi yang harus dilindungi
Keduanya benar. Keduanya peduli. Keduanya bermoral.
Tapi karena mereka menggunakan fondasi moral yang berbeda, mereka sampai pada kesimpulan yang berbeda.
Pertanyaan untuk Anda
Sebelum diskusi politik berikutnya dengan orang yang berbeda pandangan, tanyakan pada diri Anda:
1. Apakah saya benar-benar mencoba memahami, atau hanya ingin menang?
Penunggang Anda akan selalu mencari cara untuk mempertahankan gajah Anda.
2. Fondasi moral mana yang sedang saya gunakan?
Care? Fairness? Loyalty? Apakah saya sadar?
3. Fondasi moral apa yang lawan bicara saya gunakan?
Jika Anda tidak tahu, Anda tidak akan bisa persuade atau bahkan memahami mereka.
4. Apakah saya willing to say "I might be wrong"?
Jika tidak, Anda tidak sedang berdialog—Anda sedang berperang.
Harapan di Tengah Polarisasi
Haidt menulis dengan optimisme hati-hati:
"Pemahaman tidak menjamin agreement. Tapi tanpa pemahaman, agreement tidak mungkin."
Kita tidak harus setuju. Tapi kita harus mengerti bahwa orang yang tidak setuju dengan kita bukan monster atau idiot—mereka hanya melihat dunia melalui lensa moral yang berbeda.
Dan mungkin—hanya mungkin—kita bisa belajar sesuatu dari lensa mereka.
Seperti yang Haidt katakan:
"Jika Anda benar-benar ingin mengubah pikiran seseorang tentang isu moral atau politik, Anda harus melihat melewati reasoning mereka dan mencoba see the intuitions dan motivasi yang mendorong reasoning mereka."
"Dan untuk melakukan itu, Anda harus talk to the elephant first."
Jadi lain kali Anda berhadapan dengan seseorang yang berpendapat sangat berbeda dari Anda, ingatlah:
Mereka punya gajah, seperti Anda. Gajah mereka tidak lebih bodoh atau jahat dari gajah Anda—hanya dilatih berbeda, dengan tombol moral yang berbeda.
Dan jika Anda benar-benar ingin dialog—bukan hanya debat—Anda harus belajar bicara bahasa gajah mereka.
Karena di akhir hari, kita semua lebih serupa daripada yang kita kira. Kita semua righteous. Kita semua peduli.
Kita hanya peduli pada hal-hal yang sedikit berbeda.
Dan itu oke.
Tentang Buku Asli
"The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion" diterbitkan pada tahun 2012 dan langsung menjadi New York Times bestseller.
Jonathan Haidt adalah psikolog sosial dan profesor di NYU Stern School of Business. Penelitiannya tentang psikologi moral telah dipresentasikan di TED Talks yang ditonton jutaan kali dan menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh tentang polarisasi politik.
Buku ini adalah hasil dari 25 tahun penelitian—termasuk studi lintas budaya di India, Brasil, dan Amerika, eksperimen psikologi, dan analisis mendalam tentang perbedaan moral antara liberal dan konservatif.
Sejak publikasi, Haidt mendirikan Heterodox Academy—organisasi yang mempromosikan viewpoint diversity dan open inquiry di universitas—dan terus menulis tentang polarisasi dan moral psychology.
Untuk pemahaman lengkap tentang psikologi moral dan bagaimana menjembatani perpecahan politik, sangat disarankan membaca buku aslinya. Haidt memberikan puluhan eksperimen, studi kasus lintas budaya, dan analisis mendalam yang tidak bisa sepenuhnya diringkas.
Ringkasan ini menangkap framework inti dari Moral Foundations Theory, tetapi buku asli menawarkan kedalaman, nuance, dan aplikasi praktis yang akan mengubah cara Anda melihat setiap diskusi moral dan politik.
Sekarang pergilah dan cobalah memahami—benar-benar memahami—seseorang yang sangat berbeda dari Anda.
Karena seperti yang Haidt buktikan: Pemahaman adalah langkah pertama menuju dialog. Dan dialog adalah satu-satunya jalan keluar dari polarisasi yang kita hadapi.
Bicara pada gajahnya. Pahami fondasi moralnya. Dan mungkin—hanya mungkin—kita bisa mulai menyembuhkan perpecahan.