Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Anda?
Pagi ini, Anda bangun dan membuat keputusan.
Anda memutuskan untuk bangun (bukan tidur lagi). Anda memutuskan untuk mandi. Anda memutuskan untuk pakai baju biru, bukan merah. Anda memutuskan untuk sarapan roti, bukan nasi. Anda memutuskan untuk mengecek ponsel sebelum berangkat kerja.
Ini semua keputusan Anda, kan?
Sekarang coba jawab pertanyaan ini dengan jujur:
Mengapa Anda memilih baju biru hari ini? Berikan alasan lengkapnya.
Mungkin Anda akan bilang: "Karena biru cocok dengan celana saya." Atau "Karena kemarin saya pakai merah, jadi hari ini saya mau variasi."
Tapi inilah yang tidak Anda sadari:
Pilihan Anda untuk memilih baju biru sudah dibuat oleh otak Anda beberapa detik sebelum "Anda" merasa memutuskan. Keputusan itu dibuat di area otak yang tidak Anda akses secara sadar. Yang Anda rasakan sebagai "keputusan" adalah hanya pemberitahuan dari otak bawah sadar Anda tentang apa yang sudah dia putuskan.
Anda bukan pilot pesawat. Anda penumpang yang dikasih ilusi kontrol.
Ini bukan teori filosofis. Ini hasil dari puluhan tahun penelitian neuroscience yang mengubah cara kita memahami pikiran, kehendak bebas, dan siapa kita sebenarnya.
David Eagleman, neuroscientist dari Stanford, menulis "Incognito" untuk mengungkap kebenaran yang mengejutkan: mayoritas dari apa yang terjadi di kepala Anda terjadi tanpa "Anda" tahu.
Pikiran sadar Anda—suara di kepala yang Anda pikir adalah "Anda"—hanyalah CEO yang diberi laporan setelah semua keputusan penting sudah dibuat oleh bawahan yang tidak pernah Anda temui.
Siap untuk menyelam ke kehidupan rahasia otak Anda?
Mari kita mulai.
Bagian 1: Alien di Dalam Kepala Anda
Kisah yang Mengubah Segalanya
1966. Charles Whitman, 25 tahun, pria yang dikenal ramah dan cerdas, bangun suatu pagi dan menulis surat:
"Saya tidak benar-benar memahami diri saya akhir-akhir ini. Akhir-akhir ini (saya tidak ingat kapan tepatnya) saya menjadi korban dari banyak pikiran yang tidak biasa dan irasional."
Malam itu, dia membunuh istrinya dan ibunya.
Keesokan harinya, dia naik ke menara University of Texas dengan senapan dan menembaki orang-orang secara acak. Dia membunuh 13 orang dan melukai 32 lainnya sebelum ditembak mati polisi.
Mengapa dia melakukan ini? Tidak ada yang tahu—dia selalu digambarkan sebagai pria baik, mantan marinir yang taat agama.
Tapi Whitman meninggalkan satu permintaan dalam suratnya: "Tolong periksa otak saya setelah kematian saya. Ada yang salah."
Otopsi menemukan tumor sebesar kacang di otak Whitman—menekan amygdala, area yang mengontrol agresi dan respons emosional.
Pertanyaan yang mengerikan: Apakah Whitman bertanggung jawab atas pembunuhan massal itu?
Atau apakah tumor itu—sesuatu yang dia tidak pilih, tidak kontrol, tidak sadari—yang bertanggung jawab?
Lebih menakutkan lagi: Jika tumor bisa mengubah "siapa Whitman", lalu siapa sebenarnya Whitman tanpa tumor itu?
Anda Bukan Bos di Kepala Anda
Eagleman menggunakan kisah Whitman untuk membuka diskusi yang lebih besar:
Otak Anda terdiri dari triliunan neuron yang menembak secara elektrokimia. Tidak ada "jiwa" yang terpisah. Tidak ada "Anda" yang duduk di kursi kontrol. Yang ada hanya jaringan kompleks dari sistem biologis—dan sistem itu menciptakan ilusi adanya "Anda" yang sadar dan berkontrol.
Pikirkan otak Anda seperti negara dengan jutaan warga (neuron). Mereka semua bekerja, berkomunikasi, berdebat, dan membuat keputusan. Dan kadang, hasilnya dilaporkan ke "presiden"—kesadaran Anda—tapi hanya setelah keputusan sudah dibuat.
Contoh sederhana:
Ketika Anda menyetir mobil di jalan yang familiar, apakah Anda sadar membuat setiap keputusan? "Sekarang saya akan injak gas. Sekarang saya akan belok kiri. Sekarang saya akan injak rem."
Tidak. Anda bahkan tidak ingat perjalanannya. Anda mungkin sampai di rumah dan berpikir: "Tunggu, bagaimana saya bisa sampai di sini?"
Otak bawah sadar Anda yang menyetir. "Anda" hanya duduk di kursi belakang, melamun.
Bagian 2: Otak Anda Memanipulasi Realitas Anda
Anda Tidak Melihat Apa yang Anda Pikir Anda Lihat
Eksperimen: Lihat sekitar ruangan Anda sekarang. Anda merasa melihat semua detail dengan jelas, kan? Warna, bentuk, tekstur—semuanya tajam dan fokus.
Tapi inilah kenyataannya: Anda hanya melihat detail tajam di area kecil di tengah pandangan Anda (fovea). Sisanya—mayoritas dari apa yang Anda "lihat"—adalah rekonstruksi yang otak Anda buat berdasarkan asumsi dan memori.
Otak Anda seperti editor video. Dia mengambil input fragmentaris dari mata Anda dan mengisi kekosongan dengan asumsi terbaik. Dan dia sangat bagus dalam hal ini sampai Anda tidak pernah menyadari bahwa mayoritas dari "penglihatan" Anda adalah ilusi.
Contoh dramatis: Blind spot experiment.
Setiap mata Anda punya blind spot—area di retina di mana saraf optik keluar, jadi tidak ada photoreceptor. Artinya, ada hole di tengah penglihatan Anda.
Tapi Anda tidak pernah melihat hole itu. Mengapa? Karena otak Anda mengisi kekosongan itu dengan informasi dari sekitar—tanpa bertanya izin, tanpa memberitahu Anda.
Anda tidak melihat realitas. Anda melihat versi rekonstruksi otak Anda tentang realitas.
Ilusi Waktu
Eksperimen Eagleman yang terkenal: Chronos experiment.
Subjek dijatuhkan dari ketinggian 150 kaki (sekitar 15 lantai) ke jaring pengaman sambil memakai alat di pergelangan tangan yang menampilkan angka berkedip sangat cepat—terlalu cepat untuk dilihat dalam kondisi normal.
Teori populer: ketika kita takut, waktu melambat. Orang yang mengalami kecelakaan sering bilang "semuanya terjadi dalam slow motion."
Jadi hipotesis: jika waktu benar-benar melambat ketika takut, subjek seharusnya bisa melihat angka yang biasanya terlalu cepat untuk dilihat.
Hasilnya? Mereka tidak bisa.
Waktu tidak benar-benar melambat. Yang terjadi adalah: ketika kita takut, otak mencatat lebih banyak detail. Ketika kita mengingat momen itu, karena ada lebih banyak detail, otak kita menginterpretasikan bahwa itu pasti lebih lama.
Seperti film yang direkam dengan frame rate tinggi—ketika diputar ulang, terlihat slow motion, meskipun durasi sebenarnya tidak berubah.
Persepsi waktu Anda adalah konstruksi. Otak Anda yang menentukan seberapa cepat atau lambat waktu "terasa"—dan dia sering berbohong.
Bagian 3: Konflik Internal—Perang di Dalam Kepala
Ulysses dan Siren
Dalam mitologi Yunani, Ulysses harus melewati pulau Siren—makhluk yang nyanyiannya begitu indah sehingga membuat pelaut melompat ke laut dan tenggelam.
Ulysses punya solusi cerdas: dia menyuruh awaknya memasukkan lilin ke telinga mereka (agar tidak mendengar), dan mengikat dirinya ke tiang kapal. Dia memberitahu awak: "Apa pun yang saya katakan nanti, jangan lepaskan saya sampai kita melewati pulau itu."
Ketika mereka melewati pulau Siren, Ulysses mendengar nyanyian dan mulai menjerit: "Lepaskan saya! Saya perintahkan Anda!" Tapi awaknya mengabaikan—mereka mengikuti instruksi dari "Ulysses masa lalu."
Ulysses sekarang menginginkan sesuatu. Tapi Ulysses masa lalu tahu bahwa keinginan itu akan menghancurkan dia.
Ini bukan hanya cerita mitologi. Ini realitas otak Anda setiap hari.
Sistem yang Bersaing
Otak Anda bukan satu entitas. Dia terdiri dari banyak sistem dengan agenda berbeda, sering bertentangan.
Contoh klasik: Marshmallow vs. Diet
Bagian otak Anda yang primitif (sistem limbik) melihat marshmallow dan berteriak: "MAKAN! GULA! ENERGI! SEKARANG!"
Bagian otak yang lebih maju (prefrontal cortex) berkata: "Tunggu. Kita lagi diet. Kita punya goal jangka panjang. Jangan makan."
Kedua sistem ini berdebat. Dan kadang, sistem primitif menang—bukan karena dia benar, tapi karena dia lebih kuat di momen itu.
Kenapa lebih kuat? Karena dia sudah berkembang jutaan tahun untuk survival. Prefrontal cortex—bagian yang berpikir jangka panjang—adalah evolusi yang relatif baru. Dia seperti konsultan yang memberikan saran bijak, tapi tidak punya kekuatan untuk memaksa.
Ego Depletion—Mengapa Willpower Terbatas
Roy Baumeister menemukan sesuatu yang mengejutkan: Willpower adalah resource terbatas.
Eksperimen: Subjek diminta untuk tidak makan sebelum eksperimen. Ketika tiba, mereka dibawa ke ruangan dengan dua mangkuk:
● Mangkuk A: Cookies cokelat yang masih hangat, wangi lezat
● Mangkuk B: Radish (sayuran yang tidak enak)
Kelompok 1 diminta makan cookies. Kelompok 2 diminta makan radish (dan tidak boleh menyentuh cookies, meskipun cookies ada di depan mereka).
Lalu kedua kelompok diberi puzzle yang sangat sulit (sebenarnya tidak mungkin diselesaikan). Berapa lama mereka bertahan sebelum menyerah?
Kelompok cookies: rata-rata 19 menit. Kelompok radish: rata-rata 8 menit.
Mengapa? Karena kelompok radish sudah menghabiskan willpower mereka untuk tidak makan cookies. Ketika menghadapi tantangan berikutnya, mereka kehabisan energi mental.
Willpower seperti baterai. Setiap kali Anda menahan diri—dari makanan, dari marah, dari membeli sesuatu—baterai itu berkurang. Dan ketika habis, sistem primitif mengambil alih.
Inilah mengapa:
● Anda lebih mudah marah di akhir hari yang melelahkan
● Anda lebih mudah pecah diet di malam hari
● Anda membuat keputusan impulsif ketika lelah
Bukan karena Anda lemah. Tapi karena baterai willpower Anda habis.
Bagian 4: Keputusan Tanpa "Anda"
Eksperimen Libet yang Kontroversial
1983. Benjamin Libet melakukan eksperimen yang mengubah pemahaman kita tentang kehendak bebas.
Subjek diminta melakukan tindakan sederhana: gerakkan pergelangan tangan Anda kapan pun Anda mau. Tapi laporkan kapan tepatnya Anda merasa "memutuskan" untuk bergerak.
Sementara itu, Libet merekam aktivitas otak mereka dengan EEG.
Hasilnya mengejutkan:
Otak menunjukkan aktivitas persiapan untuk bergerak 300-500 milidetik SEBELUM subjek merasa "memutuskan" untuk bergerak.
Baca itu lagi: Keputusan untuk bergerak dibuat oleh otak Anda sebelum "Anda" merasa memutuskan.
Apa artinya ini?
Kehendak bebas mungkin adalah ilusi. Yang Anda rasakan sebagai "keputusan" adalah hanya kesadaran setelah-fakta tentang apa yang otak Anda sudah putuskan.
Tidak Semuanya Hilang
Sebelum Anda panik dan berpikir "Jadi saya tidak punya kontrol sama sekali?"—tunggu.
Libet juga menemukan: meskipun keputusan "dimulai" tanpa kesadaran, Anda punya veto power dalam 100-200 milidetik terakhir.
Artinya: Anda tidak memulai keputusan. Tapi Anda bisa menghentikannya.
Seperti Ulysses yang diikat—dia tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk melompat, tapi dia bisa membuat sistem yang mencegahnya bertindak berdasarkan keinginan itu.
Free will mungkin tidak tentang "memilih apa yang kita inginkan." Tapi tentang "memilih apakah kita akan bertindak berdasarkan apa yang kita inginkan."
Bagian 5: Otak dan Moralitas—Siapa yang Bertanggung Jawab?
Kasus Alex
Alex adalah guru SD yang dicintai semua orang. Suami yang baik. Ayah yang baik.
Pada usia 40 tahun, dia tiba-tiba mulai tertarik pada pornografi anak. Dia tahu ini salah. Dia merasa ngeri dengan dirinya sendiri. Tapi dia tidak bisa menghentikan keinginan itu.
Akhirnya dia tertangkap dengan koleksi pornografi anak. Dia dihukum dan dikirim ke program rehabilitasi seks offender.
Tapi malam sebelum program dimulai, Alex pergi ke rumah sakit dengan sakit kepala parah. Dia juga melakukan advance seksual yang tidak pantas terhadap staf rumah sakit.
Brain scan menunjukkan: tumor otak besar yang menekan orbital frontal cortex—area yang mengontrol impuls seksual.
Tumor diangkat. Keinginan abnormal hilang. Alex kembali normal.
Tapi setahun kemudian, keinginan itu kembali. Brain scan: tumor tumbuh lagi. Tumor diangkat lagi. Keinginan hilang lagi.
Pertanyaan mengerikan:
Apakah Alex bertanggung jawab atas tindakannya? Jika tumor menyebabkan keinginan itu, dan dia tidak bisa kontrol, apakah dia "jahat"?
Dan yang lebih mengerikan:
Jika tumor bisa menghilangkan tanggung jawab moral, lalu apa bedanya dengan ketidakseimbangan kimia otak lainnya yang tidak terlihat di scan?
Implikasi untuk Sistem Hukum
Sistem hukum kita didasarkan pada premis bahwa orang bertanggung jawab atas tindakan mereka—bahwa mereka punya free will dan bisa memilih antara benar dan salah.
Tapi neuroscience menunjukkan: banyak perilaku kriminal berkorelasi dengan abnormalitas otak.
Studi menunjukkan:
● Psychopaths punya aktivitas rendah di prefrontal cortex (area empati dan kontrol impuls)
● Kekerasan impulsif sering dikaitkan dengan disfungsi di frontal lobe
● Banyak kriminal memiliki riwayat trauma kepala atau penyalahgunaan masa kecil yang mengubah perkembangan otak
Jadi pertanyaannya bukan: "Apakah otak mempengaruhi perilaku?" (sudah jelas ya).
Pertanyaannya: "Jika perilaku seseorang hasil dari biologi otak yang tidak mereka pilih, apa artinya bagi tanggung jawab moral?"
Eagleman tidak memberikan jawaban mudah. Tapi dia menawarkan perspektif:
Mungkin pertanyaan yang salah adalah "Apakah dia bertanggung jawab?" Pertanyaan yang lebih baik adalah: "Apa yang sistem masyarakat bisa lakukan untuk melindungi publik DAN memberikan perawatan yang tepat untuk orang dengan disfungsi otak?"
Bagian 6: Plastisitas—Otak yang Bisa Berubah
Mike May—Buta yang Melihat Lagi
Mike May kehilangan penglihatannya pada usia 3 tahun karena kecelakaan.
Selama 40 tahun, dia buta total. Dia belajar hidup tanpa penglihatan. Dia menjadi atlet ski buta yang sukses. Dia menikah dan punya anak.
Pada usia 46 tahun, teknologi medis baru memungkinkan dia mendapat transplantasi kornea. Untuk pertama kali dalam 43 tahun, cahaya masuk ke matanya lagi.
Semua orang mengira ini miracle. Mike akan bisa "melihat" lagi.
Tapi kenyataannya berbeda.
Ya, cahaya masuk ke matanya. Ya, retinanya bekerja. Ya, sinyal visual sampai ke otaknya.
Tapi Mike tidak bisa "melihat" dalam cara yang kita pahami.
Dia tidak bisa mengenali wajah—bahkan wajah istrinya sendiri. Dia tidak bisa menilai jarak—melintasi jalan menjadi tugas mengerikan. Dia tidak bisa memahami perspektif 3D.
Mengapa? Karena visual cortex-nya tidak berkembang. Area otak yang seharusnya memproses penglihatan telah dialokasikan untuk fungsi lain selama 43 tahun.
Otak Mike sudah "rewire" sendiri untuk hidup tanpa penglihatan. Dan pada usia 46 tahun, sudah terlambat untuk "rewire" kembali.
Pelajaran: Use It or Lose It
Otak adalah organ yang paling plastis. Dia terus berubah sepanjang hidup berdasarkan pengalaman.
Setiap skill yang Anda latih memperkuat neural pathways untuk skill itu. Setiap skill yang Anda abaikan melemah.
Ini mengapa:
● Anak-anak belajar bahasa dengan mudah—otak mereka sangat plastis
● Dewasa kesulitan belajar bahasa baru—plastisitas berkurang
● Orang yang berhenti membaca selama bertahun-tahun kesulitan fokus membaca lagi
● Orang yang rutin exercise punya kontrol impuls lebih baik
Anda membentuk otak Anda setiap hari dengan pilihan apa yang Anda lakukan dan tidak lakukan.
Bagian 7: Hidup dengan Alien di Dalam
Jadi Apa yang Harus Kita Lakukan?
Setelah semua ini—setelah tahu bahwa kesadaran adalah ilusi, free will adalah pertanyaan terbuka, dan mayoritas keputusan dibuat tanpa "kita"—bagaimana kita hidup?
Eagleman menawarkan beberapa prinsip praktis:
1. Terima Bahwa Anda Bukan Sepenuhnya Berkontrol—Tapi Anda Punya Pengaruh
Anda tidak bisa mengontrol keinginan pertama yang muncul di kepala Anda. Tapi Anda bisa membentuk lingkungan yang membuat keinginan baik lebih mudah dan keinginan buruk lebih sulit.
Contoh:
● Jangan beli junk food. Jika tidak ada di rumah, sistem primitif Anda tidak bisa meraihnya.
● Taruh sepatu lari di samping tempat tidur. Semakin mudah untuk olahraga, semakin besar kemungkinan Anda melakukannya.
● Blokir media sosial selama jam kerja. Kurangi kesempatan untuk distraksi.
Anda mungkin bukan pilot—tapi Anda bisa mendesain runway.
2. Gunakan "Ulysses Contracts"
Seperti Ulysses yang mengikat dirinya ke tiang, buat komitmen di momen rasional yang memaksa Anda bertindak benar di momen emosional.
Contoh:
● Transfer otomatis ke tabungan (sebelum Anda bisa membelanjakan)
● Beritahu teman goal Anda (social pressure membantu)
● Hapus nomor kartu kredit dari situs shopping online (menambah friction untuk pembelian impulsif)
3. Latih Willpower seperti Otot
Willpower terbatas—tapi seperti otot, dia bisa diperkuat dengan latihan.
Mulai kecil:
● Meditasi 5 menit sehari (latihan fokus dan kontrol perhatian)
● Cold shower (latihan menahan ketidaknyamanan)
● Belajar skill baru yang sulit (latihan persistensi)
Semakin sering Anda melatih kontrol diri dalam situasi kecil, semakin kuat "otot" itu dalam situasi besar.
4. Berempati dengan "Alien" di Dalam Orang Lain
Ketika seseorang berperilaku buruk, mudah untuk judge: "Dia orang jahat."
Tapi ingat: perilaku mereka adalah hasil dari otak yang mungkin rusak, trauma masa lalu, atau ketidakseimbangan kimia yang tidak mereka pilih.
Ini tidak berarti membiarkan perilaku buruk. Tapi artinya merespons dengan pemahaman dan sistem yang membantu, bukan hanya punishment.
5. Kenali Batasan Kesadaran Anda
Jangan percaya 100% pada intuisi atau "gut feeling" Anda. Kadang mereka benar—tapi sering mereka bias dan salah.
Buat keputusan penting dalam cool state, bukan hot state. Tidur dulu. Diskusikan dengan orang lain. Cek asumsi Anda.
Penutup: Merangkul Misteri
Di akhir buku, Eagleman menulis dengan perspektif yang rendah hati:
"Kita adalah robot biologis yang tidak sepenuhnya memahami programming kita sendiri. Tapi kita adalah robot yang sangat canggih—yang bisa belajar, berubah, dan mencoba memahami diri sendiri."
Penemuan bahwa kesadaran adalah ilusi bisa terasa menakutkan. Jika "Anda" bukan yang berkontrol, lalu siapa Anda?
Tapi Eagleman menawarkan perspektif berbeda:
"Anda" adalah seluruh sistem. Bukan hanya suara di kepala yang Anda pikir adalah "Anda." Tapi semua triliunan neuron, semua sistem yang bersaing, semua memori dan pengalaman yang membentuk bagaimana otak Anda merespons dunia.
Dan meskipun Anda tidak berkontrol penuh—Anda masih bisa influence.
Seperti mengubah aliran sungai. Anda tidak bisa mengontrol setiap tetes air. Tapi dengan mengubah landscape, Anda bisa mengubah arah keseluruhan.
Anda membentuk siapa Anda dengan pilihan kecil setiap hari—apa yang Anda baca, dengan siapa Anda habiskan waktu, bagaimana Anda merespons tantangan.
Dan seiring waktu, pilihan kecil itu mengubah struktur otak Anda—yang mengubah siapa Anda.
Pertanyaan untuk Anda
1. Kapan terakhir kali Anda membuat keputusan "impulsif" dan kemudian bertanya: "Mengapa aku melakukan itu?"
Mungkin itu bukan "Anda" yang memutuskan. Mungkin itu sistem lain di otak Anda.
2. Bagaimana Anda mendesain lingkungan Anda untuk membuat pilihan baik lebih mudah?
Ingat: Anda bukan pilot, tapi Anda bisa mendesain runway.
3. Ketika Anda judge orang lain atas perilaku mereka, apakah Anda mempertimbangkan "alien di dalam kepala mereka"?
Mereka mungkin berjuang melawan sistem otak yang tidak Anda lihat.
Seperti yang Eagleman katakan:
"Otak adalah organ yang paling kompleks di alam semesta yang diketahui. Dan sebagian besar dari apa yang dia lakukan, dia lakukan tanpa berkonsultasi dengan Anda."
Tapi dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak bekerja—tentang sistem bawah sadar, tentang konflik internal, tentang plastisitas—kita bisa hidup dengan lebih bijaksana.
Tidak dengan kontrol penuh. Tapi dengan awareness dan strategi yang lebih baik.
Karena meskipun kita tidak sepenuhnya berkontrol, kita tidak sepenuhnya tanpa kekuatan.
Dan perbedaan antara membiarkan alien di dalam mengendalikan Anda versus bekerja dengan dia—adalah perbedaan antara hidup reaktif dan hidup dengan tujuan.
Pilihan—atau setidaknya, pengaruh—ada di tangan Anda.
Atau lebih tepatnya: di neural networks yang sedang memproses kata-kata ini, di mana pun "Anda" berada dalam sistem yang kompleks itu.
Tentang Buku Asli
"Incognito: The Secret Lives of the Brain" pertama kali diterbitkan pada tahun 2011 dan menjadi New York Times bestseller.
David Eagleman adalah neuroscientist dan penulis yang mengajar di Stanford University. Dia dikenal karena kemampuannya menjelaskan konsep neuroscience yang kompleks dengan cara yang accessible dan engaging.
Eagleman juga menulis buku lain termasuk "Sum: Forty Tales from the Afterlives" dan "The Brain: The Story of You," serta menjadi host serial TV PBS "The Brain."
"Incognito" unik karena memadukan:
● Riset neuroscience terkini
● Kasus-kasus medis yang mengejutkan
● Pertanyaan filosofis tentang identitas dan kehendak bebas
● Implikasi praktis untuk kehidupan sehari-hari dan sistem hukum
Buku ini telah diterjemahkan ke 28 bahasa dan digunakan di berbagai universitas sebagai teks untuk course tentang neuroscience dan filsafat pikiran.
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana otak bekerja di balik layar dan implikasinya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Eagleman menulis dengan gaya yang entertaining, penuh dengan anekdot mengejutkan dan eksperimen yang membuat Anda memikirkan ulang asumsi dasar tentang siapa Anda.
Ringkasan ini menangkap ide-ide inti, tetapi buku lengkap memberikan detail neuroscience, lebih banyak case studies, dan diskusi mendalam tentang implikasi etis dan legal.
Sekarang pergilah dan kenali "alien" di dalam kepala Anda.
Karena seperti yang Eagleman buktikan: Anda tidak bisa mengontrol sepenuhnya apa yang otak Anda lakukan. Tapi dengan memahami bagaimana dia bekerja, Anda bisa bekerja dengan dia—bukan melawannya.
Dan itu membuat semua perbedaan.