Lives of the Stoics

Ryan Holiday & Stephen Hanselman


Kapal yang Tenggelam, Filosofi yang Lahir

Tahun 300 SM. Laut Mediterania bergolak. 

Seorang pedagang Phoenician bernama Zeno sedang membawa muatan pewarna ungu Tyrian—komoditas paling berharga di dunia kuno, lebih mahal dari emas. Ini perjalanan yang akan mengubah hidupnya menjadi kaya raya. 

Tapi badai datang. Kapalnya karam. Semua muatannya tenggelam ke dasar laut. Dalam sekejap, Zeno kehilangan segalanya. 

Dia terdampar di Athena—asing, bangkrut, tanpa tujuan. Saat berkeliaran di pasar buku, dia mendengar seseorang membaca karya filsuf Socrates. Sesuatu dalam dirinya tergerak. 

Dia bertanya pada penjual buku: "Di mana saya bisa menemukan orang seperti ini?" Penjual itu menunjuk ke seorang pria yang sedang lewat—Crates si Cynic, seorang filosof. 

Zeno mengikutinya. Dan di situ, di tengah reruntuhan keuangannya, dimulailah salah satu tradisi filosofi paling berpengaruh dalam sejarah manusia: Stoicisme

Ironi yang indah: kehilangan kapalnya adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada Zeno. Dia kehilangan kekayaan, tetapi menemukan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan itu akan membentuk kaisar, budak, jenderal, negarawan, dan jutaan orang biasa selama 2.300 tahun. 

Ini bukan buku tentang teori abstrak. Ini tentang kehidupan nyata—orang-orang yang hidup, berjuang, gagal, dan berhasil menerapkan filosofi Stoic. 

Dari Zeno yang bangkrut hingga Marcus Aurelius yang berkuasa atas Roma. Dari Epictetus yang lahir sebagai budak hingga Cato yang mati demi prinsipnya. Dari Seneca yang kaya raya hingga Agrippinus yang diasingkan karena integritas.

Mereka semua menghadapi satu pertanyaan yang sama—pertanyaan yang kita semua hadapi:

Bagaimana seharusnya saya hidup? 

Mari kita pelajari jawaban mereka.

 


Bagian 1: Empat Kebajikan—Fondasi Kehidupan Stoic

Sebelum kita masuk ke kehidupan para filsuf, kita perlu memahami fondasi Stoicisme. 

Zeno membagi kebajikan menjadi empat jenis—empat pilar yang menopang kehidupan yang baik: 

1. Kebijaksanaan (Wisdom) 

Bukan sekadar pengetahuan. Kebijaksanaan adalah kemampuan melihat kebenaran, memahami apa yang penting, dan bertindak sesuai dengan pemahaman itu. 

Orang bijaksana tahu perbedaan antara apa yang bisa mereka kontrol dan apa yang tidak. Mereka tidak membuang energi untuk hal-hal di luar kendali mereka. 

2. Keberanian (Courage) 

Bukan tidak takut. Keberanian adalah bertindak meskipun takut. Menghadapi kebenaran meskipun tidak nyaman. Melakukan yang benar meskipun ada konsekuensi. 

Stoic percaya keberanian bukan hanya fisik—tapi keberanian moral, keberanian untuk hidup sesuai prinsip. 

3. Keadilan (Justice) 

Ini tentang memperlakukan orang lain dengan benar. Memberi setiap orang apa yang layak mereka terima. Melayani kepentingan bersama, bukan hanya diri sendiri. 

Marcus Aurelius menulis: "Apa yang tidak baik untuk sarang lebah, tidak bisa baik untuk lebah." Kita bagian dari sesuatu yang lebih besar. 

4. Pengendalian Diri (Temperance) 

Moderasi. Disiplin. Kemampuan mengatakan "tidak" pada keinginan yang merusak. Ini tentang menguasai diri sendiri sebelum mencoba menguasai apa pun yang lain. 

Seperti yang Marcus Aurelius katakan: "Kekaisaran terbesar adalah penguasaan diri." 

Empat kebajikan ini bukan konsep abstrak. Para Stoic menjalaninya dalam situasi paling ekstrem yang bisa dibayangkan—perang, kemiskinan, perbudakan, pengkhianatan, kematian. 

Dan mereka menemukan bahwa tidak ada tantangan, tidak ada masalah yang begitu besar sehingga tidak bisa ditangani dengan keberanian, moderasi, keadilan, dan kebijaksanaan.

 


Bagian 2: Zeno—Pendiri yang Bangkrut 

Kembali ke kapal yang tenggelam. 

Setelah kehilangan segalanya, Zeno bisa saja putus asa. Bisa saja dia mengutuk nasib buruknya. Tapi dia tidak. 

Dia malah berkata kemudian: "Saya mengalami perjalanan yang sejahtera ketika kapal saya karam." 

Kehilangan uangnya membebaskannya untuk mencari sesuatu yang lebih berharga—filosofi yang akan mengajarkan cara hidup dengan baik terlepas dari keadaan eksternal. 

Zeno belajar dari Crates dan filosof lain selama bertahun-tahun. Lalu dia mulai mengajar sendiri—tidak di ruang kelas mewah, tapi di Stoa Poikile, serambi berpilar di Athena. 

Dari situ nama "Stoic"—orang-orang dari serambi. 

Pelajaran dari Kehilangan 

Zeno mengajarkan sesuatu yang radikal untuk zamannya (dan masih radikal hari ini):

Kekayaan, status, dan keadaan eksternal bukan yang menentukan kebahagiaan. 

Apa yang menentukan kebahagiaan adalah karakter Anda—bagaimana Anda merespons apa yang terjadi pada Anda. 

Dia kehilangan kapalnya, tapi dia tidak kehilangan kemampuannya untuk berpikir jernih, bertindak dengan bijaksana, dan hidup dengan integritas. 

Dan pada akhirnya, itulah yang penting.

 


Bagian 3: Cleanthes—Filsuf Penggotong Air 

Setelah Zeno, kepemimpinan sekolah Stoic jatuh ke tangan Cleanthes—muridnya yang paling setia. 

Cleanthes miskin. Sangat miskin. Untuk membiayai studinya, dia bekerja sebagai penggotong air di malam hari—pekerjaan paling berat dan paling rendah di Athena. 

Seorang raja pernah bertanya: "Mengapa kamu masih menggotong air di malam hari, bahkan setelah menjadi filosof terkenal?" 

Cleanthes menjawab: "Bukankah baik untuk mendapatkan uang sambil belajar filosofi? Lagipula, kerja keras ini bagian dari praktik filosofi saya." 

Kerja Keras sebagai Praktik 

Cleanthes percaya bahwa kerja fisik yang berat adalah cara melatih disiplin mental. Menggotong air di malam hari setelah seharian belajar dan mengajar—itu membangunkan ketahanan. 

Dia juga menulis salah satu himne paling indah untuk Zeus yang pernah ditulis, yang berisi: "Tidak ada yang terjadi di bumi tanpa Engkau, ya Tuhan, atau di langit ilahi... kecuali perbuatan yang dilakukan orang jahat dalam kebodohan mereka." 

Cleanthes mengajarkan bahwa alam semesta memiliki tatanan rasional—dan tugas kita adalah menyelaraskan diri dengan tatanan itu.

 


Bagian 4: Cato—Kematian untuk Prinsip 

Lompat ke Roma, 200 tahun kemudian. 

Marcus Porcius Cato—dikenal sebagai Cato yang Muda—adalah senator Romawi dan Stoic yang paling tidak mau berkompromi. 

Ketika Julius Caesar mulai mengambil kekuasaan absolut dan menghancurkan Republik Romawi, Cato menentang dengan segala yang dia punya. 

Bukan karena ambisi pribadi. Cato tidak menginginkan kekuasaan untuk dirinya sendiri. Dia menginginkan kebebasan dan hukum. 

Ketika perang saudara dimulai, Cato berperang di sisi Pompey melawan Caesar. Tapi Pompey kalah. Tentara Cato kalah. Republik hancur. 

Caesar menawarkan pengampunan kepada Cato. Dia bisa hidup, kembali ke Roma, dan menikmati hidup yang nyaman—asalkan dia mengakui kekuasaan Caesar. 

Mati dengan Prinsip 

Cato menolak. 

Dia tidak mau hidup di dunia di mana kebebasan Romawi hilang. Dia tidak mau legitimasi diberikan kepada tirani hanya dengan keberadaannya. 

Jadi di Utica, Afrika Utara, Cato bunuh diri. Dia membaca dialog Plato tentang keabadian jiwa. Lalu dia menusuk dirinya sendiri dengan pedang. 

Dokter menemukan dia dan menjahit lukanya. Tapi ketika mereka pergi, Cato merobek jahitannya sendiri dan membiarkan dirinya mati

Ini ekstrem. Mungkin bahkan mengerikan bagi kita hari ini. 

Tapi pelajarannya bukan tentang bunuh diri. Pelajarannya tentang integritas yang tidak mau berkompromi. 

Cato percaya ada hal-hal yang lebih penting dari hidup itu sendiri—kebebasan, prinsip, kehormatan. Dan dia bersedia mati untuk itu. 

Seperti yang Seneca tulis kemudian: "Cato tidak selamat dari kebebasan, dan kebebasan tidak selamat dari Cato."

 


Bagian 5: Seneca—Paradoks Kekayaan 

Seneca adalah Stoic yang paling kontroversial. 

Dia salah satu orang terkaya di Roma. Dia punya vila mewah, budak, dan kekayaan yang hampir tidak bisa dibayangkan. 

Tapi dia juga menulis esai tentang kesederhanaan, tentang bahaya kekayaan, tentang pentingnya kemiskinan sukarela. 

Bukankah ini munafik? 

Mungkin. Tapi kehidupan Seneca juga mengajarkan sesuatu yang penting: Stoicisme bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang perjuangan. 

Guru yang Gagal 

Seneca menjadi tutor Nero—kaisar yang kelak menjadi salah satu tiran paling kejam dalam sejarah. 

Selama bertahun-tahun, Seneca mencoba mengajarkan Nero tentang kebajikan, moderasi, dan keadilan. Dia menulis esai "On Clemency" untuk menunjukkan pada Nero bagaimana penguasa bijaksana seharusnya bertindak. 

Tapi Nero tidak mendengarkan. 

Dia membunuh ibunya. Dia membunuh istrinya. Dia membakar Roma dan menyalahkan orang Kristen. Dia menjadi monster. 

Dan Seneca? Dia terjebak. Dia tidak bisa meninggalkan—Nero tidak akan membiarkannya. Dia tidak bisa berbicara menentang—itu berarti kematian. 

Akhirnya, Nero menuduh Seneca terlibat dalam konspirasi dan memerintahkannya bunuh diri.

Kematian dengan Martabat 

Seneca menghadapi kematian dengan ketenangan Stoic. 

Dia memotong nadinya, tapi karena usianya yang tua, darahnya mengalir lambat. Dia meminta hemlock—racun yang sama yang membunuh Socrates. Ketika itu juga tidak bekerja cukup cepat, dia masuk ke pemandian uap panas, tempat dia akhirnya mati karena sesak napas. 

Kematiannya adalah pelajaran terakhirnya: Kita tidak bisa kontrol kapan kita mati, tapi kita bisa kontrol bagaimana kita mati.

Meskipun kontradiksi dalam hidupnya, tulisan Seneca tetap menjadi beberapa karya Stoic terbaik yang pernah ditulis. Surat-suratnya, esainya—penuh dengan kebijaksanaan praktis yang masih relevan 2.000 tahun kemudian. 

Pelajarannya: Jangan menunggu sampai sempurna untuk mulai hidup dengan bijaksana. Mulai sekarang, dengan segala ketidaksempurnaan Anda.

 


Bagian 6: Epictetus—Dari Budak ke Guru 

Nama aslinya bahkan bukan "Epictetus." Itu hanya bahasa Yunani untuk "yang diperoleh"—budak. 

Dia lahir sebagai budak. Dibesarkan sebagai budak. Dipukuli oleh tuannya sampai kakinya lumpuh permanen. 

Tapi dia punya akses pada sesuatu yang tidak bisa diambil tuannya: pikirannya sendiri.

Kebebasan Sejati 

Epictetus belajar Stoicisme dari Musonius Rufus, dan dia menyadari sesuatu yang radikal:

Meskipun tubuhnya diperbudak, pikirannya bebas. 

Tidak ada yang bisa memaksanya untuk berpikir sesuatu yang tidak dia percayai. Tidak ada yang bisa membuat dia membenci atau takut tanpa persetujuannya. Tidak ada yang bisa mengambil pilihan moralnya. 

Seperti yang dia ajarkan kemudian: "Ada hal-hal yang dalam kekuasaan kita, dan ada hal-hal yang tidak. Dalam kekuasaan kita adalah opini, gerakan, hasrat, keengganan—singkatnya, apa pun yang merupakan tindakan kita sendiri." 

Setelah dimerdekakan, Epictetus mendirikan sekolah filosofi sendiri dan menjadi salah satu guru Stoic paling dihormati. 

Pegangan Dua Sisi 

Epictetus sering menggunakan metafora "pegangan" untuk menjelaskan bagaimana kita menghadapi peristiwa. 

Setiap peristiwa punya dua pegangan—satu yang bisa membawa, satu yang tidak. 

Jika saudara Anda berbuat salah pada Anda, Anda bisa menggenggamnya dari sisi "dia jahat dan salah"—pegangan yang tidak bisa Anda angkat. Atau Anda bisa menggenggamnya dari sisi "dia saudara saya, kami tumbuh bersama"—pegangan yang bisa Anda angkat. 

Pilih pegangan yang tepat.

 


Bagian 7: Marcus Aurelius—Kaisar yang Tidak Menginginkan Kekuasaan 

Marcus Aurelius adalah bukti tertinggi bahwa Stoicisme bukan hanya filosofi untuk orang miskin atau tertindas. Ini filosofi untuk siapa saja—bahkan kaisar paling berkuasa di dunia. 

Marcus menjadi kaisar Roma pada usia 40 tahun. Dia tidak menginginkannya. Dia lebih suka belajar filosofi. 

Tapi tugas memanggilnya, dan dia menerimanya. 

Meditasi di Medan Perang 

Selama 19 tahun pemerintahannya, Marcus menghabiskan sebagian besar waktunya memimpin tentara melawan invasi barbar di perbatasan utara. 

Di malam hari, di tenda militernya, dia menulis catatan untuk dirinya sendiri—pengingat tentang bagaimana hidup dengan baik, bagaimana tetap fokus pada kebajikan meskipun dikelilingi oleh kematian dan kekacauan. 

Catatan-catatan ini tidak pernah dimaksudkan untuk dipublikasikan. Ini adalah jurnal pribadi—dialog dengan dirinya sendiri. 

Hari ini kita mengenalnya sebagai "Meditasi"—salah satu buku paling berpengaruh yang pernah ditulis. 

Pelajaran dari Kaisar 

Marcus menulis: 

"Kamu punya kekuasaan atas pikiran kamu—bukan peristiwa luar. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan." 

"Halangan terhadap tindakan memajukan tindakan. Apa yang menghalangi jalan menjadi jalan." 

"Orang yang terbaik membalas dendam adalah dengan tidak menjadi seperti itu." 

Marcus menghadapi perang, wabah penyakit, pengkhianatan, kematian anak-anaknya. Tapi dia tidak membiarkan penderitaan mengubahnya menjadi pahit atau kejam. 

Sebaliknya, dia menggunakan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk mempraktikkan kebajikan.

Ketika dia mati pada tahun 180 M, dia meninggalkan warisan sebagai salah satu "Lima Kaisar Baik" Roma—dan sebagai contoh tertinggi dari apa yang Plato sebut "raja-filosof."

 


Bagian 8: Pelajaran untuk Kita Semua 

Apa yang bisa kita pelajari dari kehidupan para Stoic ini—orang-orang yang hidup 2.000 tahun yang lalu? 

Ternyata, hampir semuanya. 

1. Karakter adalah Nasib 

Stoic percaya bahwa karakter menentukan nasib, bukan keadaan eksternal. 

Zeno kehilangan kapalnya tapi menemukan tujuan hidupnya. Epictetus lahir sebagai budak tapi mati sebagai guru yang dihormati. Marcus Aurelius lahir di puncak kekuasaan tapi tetap rendah hati. 

Bukan apa yang terjadi pada Anda yang penting. Yang penting adalah bagaimana Anda merespons. 

2. Penguasaan Diri adalah Kekuasaan Sejati 

Marcus Aurelius memerintah atas sejuta orang, tapi dia tahu bahwa kekuasaan sejati adalah penguasaan diri. 

Anda tidak bisa kontrol apa yang orang lain katakan atau lakukan. Anda tidak bisa kontrol ekonomi, cuaca, atau politik. 

Tapi Anda bisa kontrol pikiran, tindakan, dan karakter Anda. Dan itu cukup.

3. Persiapkan untuk Kegagalan, Bukan Hanya Sukses 

Stoic tidak hanya mempersiapkan diri untuk kesuksesan. Mereka mempersiapkan diri untuk kegagalan, kerugian, dan penderitaan. 

Mereka mempraktikkan visualisasi negatif—membayangkan kehilangan segala yang mereka cintai—bukan untuk menjadi pesimis, tapi untuk menghargai apa yang mereka punya dan bersiap untuk kehilangan itu. 

Ketika hal buruk terjadi (dan akan terjadi), mereka tidak hancur. Mereka sudah siap.

4. Cintai Apa yang Tidak Bisa Anda Kontrol 

Stoic mengajarkan amor fati—cinta terhadap nasib. 

Bukan hanya menerima apa yang terjadi, tapi mencintainya. Melihat setiap peristiwa—baik atau buruk—sebagai kesempatan untuk mempraktikkan kebajikan.

Marcus menulis: "Sebuah api besar menjadi lebih kuat dengan apa pun yang dilemparkan ke dalamnya." 

Tantangan tidak menghancurkan Anda. Tantangan memperkuat Anda—jika Anda menggunakannya dengan benar. 

5. Layani Sesuatu yang Lebih Besar dari Diri Sendiri 

Stoicisme bukan tentang kepentingan diri. Ini tentang keadilan dan layanan. 

Cato mati untuk Republik. Marcus memimpin Roma melalui perang dan wabah. Epictetus mengajar gratis kepada siapa pun yang mau belajar. 

Mereka semua percaya bahwa kita bagian dari komunitas yang lebih besar—dan bahwa tugas kita adalah berkontribusi pada kebaikan bersama.

 


Bagian 9: Kehidupan yang Dijalani dengan Baik

Di akhir hidupnya, Marcus Aurelius menulis: 

"Tidak ada yang hilang ketika Anda mengubah satu bentuk kehidupan menjadi yang lain. Kematian hanyalah transformasi." 

Dia tidak takut mati karena dia tahu dia sudah hidup dengan baik. Dia mempraktikkan kebajikan sebaik yang dia bisa. Dia melayani kebaikan yang lebih besar. Dia tidak sempurna, tapi dia mencoba. 

Dan pada akhirnya, itulah yang penting. 

Bukan kesempurnaan. Bukan pencapaian luar biasa. Tapi usaha yang jujur dan konsisten untuk hidup dengan kebajikan. 

Pertanyaan untuk Anda 

Ryan Holiday dan Stephen Hanselman menutup buku dengan pengingat: 

Ini bukan tentang apa yang Anda katakan yang hidup setelah waktu Anda. Bukan tentang apa yang Anda tulis atau bahkan apa yang Anda bangun. Ini tentang contoh yang Anda berikan. Tentang hal-hal yang Anda jalani. 

Jadi sekarang pertanyaannya untuk Anda: 

● Bagaimana Anda akan hidup hari ini—dengan kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan moderasi? 

● Apa yang bisa Anda kontrol dalam situasi Anda sekarang—dan apa yang perlu Anda lepaskan? 

● Karakter seperti apa yang Anda bangun dengan pilihan-pilihan kecil Anda setiap hari?

Para Stoic tidak percaya pada keberuntungan atau nasib buta. Mereka percaya pada pilihan

Setiap hari, setiap momen, Anda punya pilihan: untuk bertindak dengan kebajikan atau tidak. Untuk menjadi lebih baik atau membiarkan diri Anda menjadi lebih buruk. 

Zeno membuat pilihannya ketika kapalnya tenggelam. Cleanthes membuat pilihannya setiap malam ketika dia menggotong air. Cato membuat pilihannya di Utica. Epictetus membuat pilihannya dalam perbudakan. Marcus membuat pilihannya di medan perang. 

Sekarang giliran Anda untuk memilih. 

Hidup Anda adalah satu-satunya proyek filosofi yang benar-benar penting. Bukan teori yang Anda pelajari. Bukan buku yang Anda baca. Tapi bagaimana Anda menjalani setiap hari.

Stoicisme bukan filosofi untuk sekolah. Ini filosofi untuk kehidupan.

Dan kehidupan menunggu.

 


Tentang Buku Asli 

"Lives of the Stoics: The Art of Living from Zeno to Marcus Aurelius" diterbitkan pada tahun 2020 oleh Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. 

Ryan Holiday adalah salah satu penulis filosofi terlaris hidup saat ini. Buku-bukunya termasuk "The Obstacle Is the Way," "Ego Is the Enemy," "The Daily Stoic," dan "Stillness Is the Key" telah terjual lebih dari 10 juta eksemplar dalam lebih dari 40 bahasa. Dia juga pemilik toko buku The Painted Porch di Bastrop, Texas, dan host podcast Daily Stoic. 

Stephen Hanselman adalah penerbit dan agen sastra yang telah bekerja lebih dari tiga dekade di industri penerbitan. Dia lulusan Harvard Divinity School dengan gelar master, di mana dia juga belajar ekstensif di departemen filosofi Harvard. 

Buku ini berbeda dari buku Stoicisme lainnya karena tidak hanya berbicara tentang ide, tapi tentang orang-orang yang menjalani ide itu. 

Melalui mini-biografi 26 filsuf Stoic—dari yang terkenal seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus hingga yang kurang dikenal seperti Cleanthes, Agrippinus, dan Porcia Cato—Holiday dan Hanselman menunjukkan bagaimana Stoicisme dipraktikkan dalam situasi nyata. 

Buku ini mengorganisir para Stoic secara kronologis dari Zeno (pendiri sekolah sekitar 300 SM) hingga Marcus Aurelius (yang memerintah hingga 180 M), memberikan tidak hanya filosofi mereka tapi juga konteks historis, tantangan pribadi, dan bagaimana mereka berhasil atau gagal dalam menjalani prinsip mereka. 

Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana para filsuf besar ini menjalani filosofi mereka—dengan semua kesuksesan dan kegagalan mereka—sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi, tapi buku lengkap memberikan detail, cerita, dan nuansa yang membuat para Stoic ini menjadi manusia nyata, bukan sekadar nama dalam buku sejarah. 

Sekarang pergilah dan jalani filosofi Anda. 

Karena seperti yang para Stoic tahu: yang penting bukan apa yang Anda katakan, tapi bagaimana Anda hidup.