Senin Pagi yang Berbeda
Bayangkan dua orang yang bekerja di kantor yang sama, posisi yang sama, gaji yang sama.
Orang pertama memencet tombol snooze alarm lima kali. Bangun dengan berat hati. Mandi sambil mengeluh. Sarapan terburu-buru. Macet di jalan sambil mengumpat. Tiba di kantor dengan wajah masam. Sepanjang hari menghitung jam sampai pulang. Pulang dengan kelelahan yang luar biasa—bukan karena bekerja keras, tapi karena energi terkuras oleh sikap negatif.
Orang kedua bangun dengan segar. Sarapan sambil menikmati kopi. Macet di jalan tapi mendengarkan podcast favorit. Tiba di kantor dengan senyum. Menyapa rekan kerja dengan ramah. Bekerja dengan fokus tapi tetap santai. Pulang dengan lelah yang menyenangkan—lelah produktif, bukan lelah emosional.
Apa yang membedakan mereka?
Bukan pekerjaan. Bukan gaji. Bukan bahkan beban kerja.
Yang membedakan adalah sikap mental dan cara mereka berhubungan dengan orang lain.
Dale Carnegie—seorang pria yang lahir di peternakan miskin Missouri, tidak punya gelar perguruan tinggi, tapi menjadi salah satu guru hubungan manusia paling berpengaruh di dunia—menghabiskan puluhan tahun mengajarkan satu hal sederhana:
Kebahagiaan dalam hidup dan pekerjaan bukan soal apa yang terjadi pada Anda, tapi bagaimana Anda merespons dan bagaimana Anda memperlakukan orang lain.
Buku "How To Enjoy Your Life And Your Job" adalah destilasi dari kebijaksanaan Carnegie yang sudah mengubah jutaan kehidupan sejak 1936. Ini bukan teori abstrak. Ini adalah prinsip-prinsip praktis yang bisa Anda terapkan hari ini—dan melihat perubahan segera.
Mari kita mulai dari fondasi paling dasar.
Bagian 1: Prinsip Fundamental—Jangan Mengkritik, Mengutuk, atau Mengeluh
Kisah Al Capone dan "Dua Gelas"
Carnegie membuka dengan kisah mengejutkan tentang Al Capone—gangster paling ditakuti di Amerika.
Ketika ditangkap FBI, Capone—yang bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan orang—mengatakan sesuatu yang mengungkap kebenaran mendalam tentang sifat manusia:
"Saya telah menghabiskan tahun-tahun terbaik saya memberikan kesenangan ringan dan hiburan kepada orang-orang, dan yang saya dapat adalah penghinaan."
Tunggu—apa?
Pembunuh massal ini melihat dirinya sebagai dermawan? Ya. Dan inilah pelajarannya:
Bahkan penjahat terburuk tidak menganggap diri mereka jahat.
"Dua Gelas" Crowley—pembunuh polisi yang dihukum kursi listrik—menulis dalam surat terakhirnya: "Ini yang kudapat karena membela diri."
Jika penjahat saja tidak menyalahkan diri sendiri, bagaimana dengan orang biasa? Karyawan yang datang terlambat? Rekan kerja yang melakukan kesalahan? Atasan yang tidak adil?
Mereka semua punya pembenaran. Mereka semua merasa benar dari perspektif mereka.
Mengapa Kritik Tidak Bekerja
Carnegie menulis dengan tegas: "Kritik adalah sia-sia karena membuat orang defensif dan biasanya membuatnya berusaha membenarkan diri."
Kritik:
● Melukai harga diri seseorang
● Membangkitkan kebencian
● Tidak mengubah perilaku jangka panjang
● Sering kali memperburuk situasi
Benjamin Franklin—yang awalnya adalah orang yang blak-blakan dan suka berdebat—belajar pelajaran ini dengan keras. Dia menulis: "Saya tidak akan berbicara buruk tentang siapa pun, dan saya akan mengatakan semua hal baik yang saya tahu tentang semua orang."
Hasilnya? Franklin menjadi diplomat paling sukses di Amerika, dicintai oleh semua orang.
Prinsip Pengganti: Apresiasi yang Tulus
Jika kritik tidak bekerja, apa yang bekerja?
Apresiasi yang tulus dan jujur.
Bukan pujian palsu. Bukan flattery. Tapi pengakuan tulus atas hal baik yang orang lakukan.
Charles Schwab—presiden U.S. Steel Corporation yang pertama kali dibayar $1 juta per tahun—ditanya apa rahasianya. Dia menjawab:
"Saya menganggap kemampuan terbesar saya adalah kemampuan untuk membangkitkan antusiasme pada orang lain melalui apresiasi dan dorongan."
Schwab tidak mengkritik kesalahan. Dia memuji kemajuan. Dan orang-orangnya bekerja lebih keras untuk mendapat lebih banyak pujian.
Bagian 2: Enam Cara Membuat Orang Menyukai Anda
Cara 1: Tertarik pada Orang Lain secara Tulus
Ini terdengar simpel tapi revolusioner: Anda bisa membuat lebih banyak teman dalam dua bulan dengan tertarik pada orang lain daripada dua tahun mencoba membuat orang tertarik pada Anda.
Carnegie menceritakan kisah anjingnya—hewan yang tidak bisa berbicara, tidak bisa membaca, tapi punya lebih banyak teman daripada kebanyakan manusia.
Rahasianya? Anjing itu tulus tertarik pada setiap orang yang ditemuinya. Ekornya mengibaskan. Matanya berbinar. Seluruh tubuhnya mengatakan: "Aku senang melihatmu!"
Manusia? Kita lebih sibuk dengan diri sendiri. Kita ingin bicara tentang masalah kita, kesuksesan kita, kehidupan kita.
Carnegie menulis: "Anda bisa membuat lebih banyak teman dalam dua bulan dengan menjadi tertarik pada orang lain daripada yang bisa Anda buat dalam dua tahun dengan mencoba membuat orang tertarik pada Anda."
Cara 2: Tersenyum
Senyum adalah hal paling sederhana yang bisa Anda lakukan—dan paling kuat.
Tindakan tersenyum—bahkan jika Anda harus memaksakan diri—mengubah kimia otak Anda. Ini membuat Anda merasa lebih baik. Dan ketika Anda tersenyum pada orang lain, mereka tidak bisa tidak tersenyum kembali.
Carnegie menceritakan kisah William B. Steinhardt—seorang pialang saham di New York yang tertekan dan tidak bahagia. Istrinya menyarankan dia untuk tersenyum lebih banyak.
Steinhardt pikir ini konyol. Tapi dia mencoba. Setiap pagi, dia memaksa dirinya tersenyum pada cermin. Lalu dia tersenyum pada istrinya saat sarapan. Lalu pada orang asing di elevator. Lalu pada rekan kerja.
Dalam beberapa minggu, seluruh hidupnya berubah. Orang lebih ramah padanya. Bisnis membaik. Yang terpenting—dia merasa lebih bahagia.
Carnegie menekankan: "Orang jarang berhasil dalam hal apa pun kecuali mereka menikmatinya."
Tersenyum membuat Anda menikmati hidup. Dan ketika Anda menikmati hidup, Anda lebih berhasil.
Cara 3: Ingat Nama Orang
"Nama seseorang adalah suara paling manis dan paling penting dalam bahasa apa pun bagi orang itu."
Jim Farley—yang menjadi Ketua Komite Nasional Demokrat—mengatakan rahasianya sukses dalam politik adalah satu hal: mengingat nama orang.
Farley bisa mengingat 50.000 nama. Ketika dia bertemu seseorang, dia menanyakan nama lengkap, ukuran keluarga, bisnis, dan pandangan politik mereka. Dia mencatatnya. Dan tahun depan ketika bertemu lagi, dia akan bertanya: "Bagaimana kabar Sarah? Apakah dia sudah lulus dari perguruan tinggi?"
Orang itu akan terkejut dan tersanjung bahwa Farley ingat.
Anda tidak perlu mengingat 50.000 nama. Tapi jika Anda bisa mengingat nama 10 rekan kerja, 5 klien, dan beberapa tetangga—hidup Anda akan jauh lebih menyenangkan.
Cara 4: Jadilah Pendengar yang Baik
Sebagian besar orang tidak mendengarkan untuk memahami—mereka mendengarkan untuk merespons.
Carnegie menulis: "Jika Anda ingin menjadi pembicara yang baik, jadilah pendengar yang penuh perhatian."
Orang lebih tertarik pada diri mereka sendiri daripada pada Anda. Mereka lebih peduli tentang sakit gigi mereka daripada kelaparan di China.
Jadi jika Anda ingin orang menyukai Anda—biarkan mereka bicara tentang diri mereka sendiri.
Ajukan pertanyaan. Tunjukkan ketertarikan tulus. Jangan interupsi. Jangan alihkan topik ke diri Anda.
Carnegie menceritakan kisah seorang wanita yang duduk di sebelahnya di pesta makan malam. Dia berbicara tentang perjalanannya ke Afrika selama 45 menit tanpa jeda. Di akhir malam, dia berkata pada tuan rumah: "Dale Carnegie adalah pembicara yang paling menarik!"
Carnegie hampir tidak mengatakan apa-apa—dia hanya mendengarkan.
Cara 5: Bicarakan Minat Orang Lain
Theodore Roosevelt—presiden yang sangat disukai—punya kebiasaan unik: Setiap kali dia akan bertemu seseorang, dia akan membaca tentang topik yang dia tahu orang itu minati.
Jika dia akan bertemu peternak sapi, dia membaca tentang ternak. Jika dia akan bertemu kolektor perangko, dia membaca tentang perangko.
Kenapa? Karena cara paling pasti ke hati seseorang adalah berbicara tentang hal yang paling mereka hargai.
Di tempat kerja: Jangan langsung bicara tentang proposal Anda. Tanyakan dulu tentang proyek yang sedang dikerjakan atasan Anda. Tentang hobinya. Tentang keluarganya.
Bangun koneksi dulu. Baru kemudian bicara bisnis.
Cara 6: Buat Orang Merasa Penting—dengan Tulus
Prinsip terdalam dalam sifat manusia adalah keinginan untuk dihargai.
William James menulis: "Prinsip paling dalam dalam sifat manusia adalah keinginan untuk diapresiasi."
Setiap orang yang Anda temui merasa dirinya superior dalam beberapa hal. Tugas Anda adalah menemukan superioritas itu dan mengakuinya dengan tulus.
Bukan dengan flattery palsu. Tapi dengan apresiasi tulus.
Seorang kasir supermarket yang lelah—katakan: "Terima kasih, Anda sangat cepat dan efisien."
Seorang cleaning service—katakan: "Kantor selalu bersih berkat Anda. Itu membuat kami bisa fokus bekerja."
Setiap orang ingin merasa penting. Berikan itu pada mereka—dengan tulus—dan mereka akan mencintai Anda.
Bagian 3: Cara Memengaruhi Orang Tanpa Menyinggung
Prinsip 1: Satu-Satunya Cara Memenangkan Argumen adalah Menghindarinya
Carnegie menulis dengan lugas: "Anda tidak bisa memenangkan argumen."
Mengapa? Karena jika Anda kalah, Anda kalah. Jika Anda menang, Anda tetap kalah—karena Anda membuat orang lain merasa inferior dan membenci Anda.
Benjamin Franklin belajar ini di usia muda. Dia suka berdebat dan membuktikan orang salah. Tapi dia menyadari ini membuatnya tidak punya teman.
Jadi dia mengubah pendekatan. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang jelas salah, dia tidak langsung membantah. Dia berkata: "Itu menarik. Saya dulu juga berpikir begitu. Tapi kemudian saya menemukan..."
Tidak ada argumen. Tidak ada ego yang terluka. Dan Franklin menjadi diplomat paling efektif di Amerika.
Prinsip 2: Hormati Pendapat Orang Lain—Jangan Pernah Katakan "Kamu Salah"
Galileo berkata: "Anda tidak bisa mengajar orang apa pun; Anda hanya bisa membantu mereka menemukan sendiri."
Ketika Anda mengatakan "Kamu salah," yang didengar orang adalah: "Saya lebih pintar dari kamu. Kamu bodoh."
Dan tidak ada yang suka diperlakukan seperti itu.
Sebagai gantinya, Carnegie menyarankan:
● "Saya mungkin salah. Saya sering salah. Mari kita lihat fakta-faktanya bersama."
● "Menarik. Bisakah Anda ceritakan lebih banyak tentang pemikiran Anda?"
● "Saya mengerti kenapa Anda berpikir seperti itu..."
Ini membuat orang terbuka untuk mendengarkan Anda—karena Anda tidak menyerang mereka.
Prinsip 3: Jika Anda Salah, Akui dengan Cepat dan Tegas
Carnegie menceritakan pengalamannya berjalan dengan anjingnya di taman tanpa tali—melanggar aturan.
Seorang petugas mendekatinya dengan marah, siap memberinya denda.
Tapi sebelum petugas bicara, Carnegie berkata dengan cepat: "Pak, Anda benar sekali dan saya salah. Tidak ada alasan untuk ini. Saya tahu aturannya."
Petugas terdiam. Kemarahannya menguap. Dia berkata dengan lembut: "Yah, saya tahu kadang sulit untuk menolak anjing Anda. Tapi tolong jangan lagi, oke?"
Tidak ada denda. Tidak ada ceramah. Karena Carnegie mengakui kesalahannya terlebih dahulu—dengan tegas dan tulus.
Ketika Anda mengakui kesalahan, orang tidak perlu menyerang Anda lagi. Ego mereka sudah terpuaskan.
Prinsip 4: Mulai dengan Cara yang Ramah
Lincoln berkata: "Setetes madu menangkap lebih banyak lalat daripada satu galon empedu."
Ketika Anda ingin meyakinkan seseorang, jangan mulai dengan perbedaan—mulai dengan hal yang Anda setujui.
"Kita berdua ingin proyek ini berhasil, kan?" "Kita berdua peduli dengan kualitas, benar?" "Kita sama-sama ingin pelanggan puas, setuju?"
Mulai dengan "ya." Buat orang mengangguk. Bangun momentum persetujuan. Lalu dengan lembut arahkan ke ide Anda.
Jauh lebih efektif daripada: "Ide Anda tidak akan berhasil karena..."
Prinsip 5: Buat Orang Lain Merasa Ide Itu Adalah Milik Mereka
"Orang lebih percaya pada ide mereka sendiri daripada yang dipaksakan oleh orang lain."
Carnegie menceritakan kisah seorang eksekutif yang ingin karyawannya bekerja lebih lama tanpa mengeluh.
Dia tidak mengatakan: "Kalian harus kerja overtime."
Dia mengumpulkan tim dan berkata: "Kita punya masalah. Klien butuh proyek selesai minggu depan. Menurut kalian apa solusi terbaik?"
Tim berdiskusi. Salah satu karyawan berkata: "Mungkin kita bisa kerja beberapa jam ekstra beberapa hari ini minggu?"
Yang lain setuju. Mereka merancang jadwal sendiri.
Hasilnya? Mereka bekerja lebih keras daripada jika bos memaksa—karena itu ide mereka.
Bagian 4: Mengatasi Kekhawatiran dan Menemukan Kebahagiaan
Hidup dalam "Kompartemen Kedap Air"
Carnegie mengutip Sir William Osler—salah satu dokter terbesar: "Jalani hidup Anda dalam kompartemen kedap air hari ini."
Maksudnya?
Jangan khawatir tentang kemarin—sudah berlalu. Jangan khawatir tentang besok—belum tiba.
Fokus hanya pada hari ini.
Kapal besar punya kompartemen kedap air. Jika satu bocor, yang lain tetap kering dan kapal tetap mengapung.
Hidup Anda juga begitu. Tutup pintu masa lalu. Tutup pintu masa depan. Fokus pada kompartemen hari ini.
Carnegie menulis: "Siapa pun bisa membawa beban mereka, betapapun beratnya, sampai malam. Siapa pun bisa melakukan pekerjaan mereka, betapapun sulitnya, untuk satu hari."
Masalahnya bukan hari ini—masalahnya ketika Anda mencoba membawa beban kemarin dan besok juga.
Teknik Ajaib: Analisis Kekhawatiran
Ketika kekhawatiran muncul, Carnegie menyarankan tiga langkah:
Langkah 1: Tanyakan "Apa yang terburuk yang bisa terjadi?" Kehilangan pekerjaan? Kehilangan uang? Ditolak? Gagal?
Langkah 2: Siapkan Diri untuk Menerima yang Terburuk "Oke, jika saya dipecat, saya akan bertahan hidup. Saya bisa cari pekerjaan lain. Saya tidak akan mati."
Langkah 3: Lalu Coba dengan Tenang untuk Memperbaiki yang Terburuk Sekarang Anda sudah tidak panik (karena sudah menerima skenario terburuk), Anda bisa berpikir jernih untuk menemukan solusi.
Sibukkan Diri—Tidak Ada Waktu untuk Khawatir
Carnegie menulis: "Rahasia untuk menghindari kekhawatiran adalah tetap sibuk."
Bukan sibuk tanpa tujuan—tapi sibuk dengan pekerjaan yang bermakna.
Ketika Anda fokus pada tugas yang ada di depan Anda—benar-benar fokus, dengan seluruh perhatian Anda—tidak ada ruang di otak untuk kekhawatiran.
Jenderal yang mengalahkan Napoleon ditanya bagaimana dia tidak stres di medan perang. Dia menjawab: "Saya terlalu sibuk untuk khawatir."
Bagian 5: Menemukan Kebahagiaan dalam Pekerjaan Anda
Ubah Pekerjaan Anda atau Ubah Sikap Anda
Carnegie menceritakan kisah seorang petugas kebersihan di rumah sakit yang selalu ceria.
Seseorang bertanya: "Bagaimana Anda bisa selalu senang melakukan pekerjaan ini?"
Dia menjawab: "Saya tidak membersihkan lantai. Saya membantu menyembuhkan orang-orang sakit."
Dua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama dengan sikap yang sangat berbeda.
Anda bisa melihat pekerjaan Anda sebagai:
● Beban yang harus ditanggung, atau
● Kesempatan untuk berkontribusi
Pilihan ada di tangan Anda. Dan pilihan itu menentukan kebahagiaan Anda.
Jangan Menunda—Mulai Sekarang
Carnegie mengutip sebuah syair lama:
"Dia melambat-lambat sampai dia dibayar, Dan dia mempercepat ketika dia dibayar. Dan dia melambat lagi sampai hari gajian, Dan dia pikir dia sangat pintar."
Tapi orang yang paling pintar adalah yang memberikan lebih dari yang diminta—sebelum diminta.
Mengapa? Karena promosi, kenaikan gaji, dan peluang tidak datang kepada orang yang melakukan minimum. Mereka datang kepada orang yang over-deliver.
Carnegie menekankan: "Lakukan hal yang Anda takut lakukan, dan ketakutan akan mati."
Takut presentasi? Volunteer untuk presentasi berikutnya. Takut tanggung jawab? Minta proyek yang lebih besar.
Satu-satunya cara keluar dari ketakutan adalah melaluinya.
Hitung Berkat Anda, Bukan Masalah Anda
Setiap malam sebelum tidur, Carnegie menyarankan latihan sederhana:
Tulis 5 hal yang Anda syukuri hari ini.
Tidak perlu besar. Bisa sesederhana:
● "Saya punya atap di atas kepala."
● "Saya punya makanan di meja."
● "Saya sehat."
● "Rekan kerja saya ramah."
● "Saya belajar sesuatu yang baru."
Otak yang terbiasa mencari hal untuk disyukuri akan menemukan lebih banyak hal untuk disyukuri. Dan kebahagiaan akan mengikuti.
Bagian 6: Prinsip Emas untuk Kehidupan Kerja
Prinsip 1: Jangan Coba Ubah Orang Lain—Ubah Diri Anda Sendiri
Carnegie menulis: "Satu-satunya orang yang perilakunya dapat Anda ubah adalah Anda sendiri."
Berhenti mengeluh tentang bos yang tidak adil. Berhenti frustrasi dengan rekan kerja yang lambat. Berhenti berharap pelanggan akan lebih wajar.
Anda tidak bisa mengubah mereka.
Tapi Anda bisa mengubah bagaimana Anda merespons mereka. Dan ketika Anda berubah, sering kali—secara ajaib—orang lain juga berubah.
Prinsip 2: Bayar Harga untuk Kebahagiaan
Kebahagiaan bukan gratis. Anda harus membayar harga:
● Harga untuk berhenti mengeluh dan mulai bersyukur
● Harga untuk tersenyum bahkan ketika Anda tidak ingin
● Harga untuk mendengarkan ketika Anda ingin bicara
● Harga untuk memaafkan ketika Anda ingin dendam
Carnegie menulis: "Siapa pun bisa mengkritik, mengutuk, dan mengeluh—dan sebagian besar orang bodoh melakukannya. Tetapi diperlukan karakter dan pengendalian diri untuk memahami dan memaafkan."
Prinsip 3: Jangan Harapkan Rasa Terima Kasih
Ini terdengar sinis, tapi sebenarnya membebaskan: "Jangan harapkan rasa terima kasih. Lakukan hal-hal baik karena itu memberi Anda kebahagiaan."
Jika Anda melakukan sesuatu sambil mengharapkan terima kasih, Anda akan sering kecewa.
Tapi jika Anda melakukan sesuatu karena itu hal yang benar dan itu membuat Anda merasa baik—terlepas dari respons orang lain—Anda akan selalu bahagia.
Penutup: Resep Sederhana untuk Hidup Bahagia
Di akhir buku, Carnegie memberikan resep yang begitu sederhana sehingga Anda mungkin menganggapnya terlalu mudah. Tapi jangan tertipu—kesederhanaan ini powerful.
Resep untuk Kebahagiaan di Tempat Kerja:
1. Temukan pekerjaan yang Anda cintai—atau cintai pekerjaan yang Anda punya. Anda punya dua pilihan. Salah satu harus Anda pilih. Jangan dalam limbo.
2. Jangan kritik, jangan kutuk, jangan mengeluh. Tiga racun untuk kebahagiaan. Eliminasi sepenuhnya.
3. Berikan apresiasi yang tulus kepada orang lain. Setiap hari. Kepada setidaknya satu orang. Lihat transformasi yang terjadi.
4. Tertarik secara tulus pada orang lain. Dengarkan lebih banyak. Bicara lebih sedikit. Tanyakan lebih banyak.
5. Tersenyum. Bahkan ketika Anda tidak ingin. Terutama ketika Anda tidak ingin.
6. Ingat nama orang. Tulis jika perlu. Tapi ingat.
7. Buat orang merasa penting—dengan tulus. Karena mereka memang penting. Setiap orang penting dalam cara mereka sendiri.
8. Hindari argumen. Tidak ada yang menang. Semua orang kalah.
9. Hormati pendapat orang lain. Bahkan ketika Anda tahu mereka salah.
10. Jika Anda salah, akui segera dan dengan tegas. Ini membebaskan. Tidak ada ego yang harus dipertahankan.
11. Buat orang lain merasa ide itu milik mereka. Mereka akan melaksanakannya dengan antusias.
12. Hidup dalam kompartemen hari ini. Kemarin sudah lewat. Besok belum tiba. Hari ini adalah yang Anda punya.
Pertanyaan Terakhir untuk Anda
Carnegie menutup dengan pertanyaan sederhana namun profound:
"Jika Anda hanya punya 24 jam lagi untuk hidup, apa yang akan Anda lakukan berbeda?"
Apakah Anda akan marah-marah pada rekan kerja tentang hal kecil? Apakah Anda akan mengeluh tentang pekerjaan Anda? Apakah Anda akan menyimpan dendam?
Tentu tidak.
Anda akan menghargai setiap momen. Anda akan memaafkan semua orang. Anda akan mengatakan "terima kasih" dan "aku cinta kamu." Anda akan tersenyum lebih banyak. Anda akan fokus pada hal yang benar-benar penting.
Lalu mengapa menunggu sampai 24 jam terakhir?
Jalani setiap hari seolah itu adalah 24 jam terakhir Anda. Tidak dalam panik, tapi dalam penghargaan. Dalam kehadiran penuh. Dalam cinta.
Dan Anda akan menemukan bahwa pekerjaan yang membosankan tiba-tiba menjadi bermakna. Orang yang menjengkelkan tiba-tiba menjadi manusia dengan cerita mereka sendiri. Hidup yang biasa-biasa saja tiba-tiba menjadi luar biasa.
Seperti yang Carnegie tulis:
"Dua hal paling penting dalam hidup kita adalah hari kita dilahirkan dan hari kita menemukan mengapa."
Anda sudah melewati yang pertama. Sekarang waktunya untuk yang kedua.
Dan mungkin—hanya mungkin—tujuan Anda adalah sederhana: membuat setiap orang yang Anda temui merasa sedikit lebih baik tentang diri mereka sendiri.
Jika Anda bisa melakukan itu, Anda tidak hanya akan menikmati pekerjaan Anda.
Anda akan menikmati hidup Anda.
Dan di akhir hari, bukankah itu yang kita semua inginkan?
Tentang Buku Asli
"How To Enjoy Your Life And Your Job" pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 sebagai kompilasi dari bagian terpilih dari dua karya klasik Dale Carnegie: "How to Win Friends and Influence People" (1936) dan "How to Stop Worrying and Start Living" (1948).
Dale Carnegie lahir pada tahun 1888 di peternakan miskin di Missouri. Dia tidak punya gelar perguruan tinggi yang bergengsi. Dia memulai karir sebagai salesman dan kemudian sebagai guru kursus public speaking di YMCA New York.
Pengalamannya mengajar ribuan orang—dari semua lapisan kehidupan—tentang bagaimana berkomunikasi lebih baik dan mengatasi kekhawatiran, menginspirasinya untuk menulis buku yang akan mengubah jutaan kehidupan.
"How to Win Friends and Influence People" telah terjual lebih dari 30 juta eksemplar di seluruh dunia dan diterjemahkan ke hampir setiap bahasa. Buku ini tetap relevan hampir 90 tahun setelah publikasi karena prinsip-prinsipnya bukan trik atau gimmick—mereka adalah kebenaran fundamental tentang sifat manusia.
Buku "How To Enjoy Your Life And Your Job" mengambil prinsip-prinsip paling praktis dan aplikatif dari dua karya masterpiece Carnegie dan mengemas mereka dalam format yang fokus pada kehidupan kerja modern.
Untuk transformasi mendalam dalam cara Anda berhubungan dengan orang lain dan diri sendiri, sangat disarankan membaca karya asli Carnegie. Cerita-cerita lengkapnya, contoh-contoh detail, dan kebijaksanaan yang halus tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Tapi jika Anda menerapkan bahkan satu prinsip dari ringkasan ini hari ini—hanya satu—Anda akan melihat perubahan.
Tersenyum pada orang asing. Ingat nama rekan kerja. Dengarkan tanpa interupsi. Berikan apresiasi tulus.
Pilih satu. Lakukan hari ini. Lihat apa yang terjadi.
Dale Carnegie berjanji: Hidup Anda akan berubah.
Dan 90 tahun serta jutaan pembaca membuktikan—janjinya benar.
Sekarang giliran Anda.
Mulai dari tersenyum. Sekarang.