Pizza Seharga 10.000 Bitcoin
22 Mei 2010. Seorang programmer bernama Laszlo Hanyecz lapar.
Dia ingin pizza. Tapi dia punya ide gila: dia ingin membayar dengan Bitcoin—mata uang digital yang baru berusia dua tahun, yang hampir tidak ada yang tahu atau peduli.
Dia posting di forum Bitcoin: "Saya akan bayar 10.000 Bitcoin untuk dua pizza besar."
Seseorang akhirnya menerima. Laszlo mendapat dua pizza Papa John's. Pembeli Bitcoin mendapat 10.000 Bitcoin.
Pada saat itu, 10.000 Bitcoin bernilai sekitar $41.
Cerita lucu, bukan? Programmer bodoh yang menukar Bitcoin untuk pizza?
Tunggu sampai Anda dengar bagian selanjutnya.
Pada puncak harga Bitcoin di tahun 2021, 10.000 Bitcoin itu bernilai lebih dari $690 JUTA.
Dua pizza Papa John's = $690 juta.
Ini adalah transaksi pizza paling mahal dalam sejarah manusia. Dan setiap 22 Mei, komunitas crypto merayakan "Bitcoin Pizza Day"—bukan untuk mengolok-olok Laszlo, tapi untuk mengenang momen bersejarah: pertama kalinya Bitcoin digunakan untuk membeli barang di dunia nyata.
Tapi cerita ini lebih dari sekadar anekdot lucu.
Ini adalah cerita tentang bagaimana sesuatu yang "tidak ada nilai"—angka-angka di komputer yang tidak dijamin oleh pemerintah mana pun, tidak didukung oleh emas atau apapun—bisa menjadi aset yang dihargai ratusan juta dolar.
Ini adalah cerita tentang bagaimana kepercayaan diciptakan.
Dan ini adalah cerita tentang revolusi yang sedang terjadi—perlahan, berantakan, kontroversial—yang bisa mengubah cara kita berpikir tentang uang, bank, dan kekuasaan ekonomi.
Selamat datang di era cryptocurrency.
Bagian 1: Masalah dengan Uang (Yang Tidak Kita Sadari)
Apa Sebenarnya Uang Itu?
Sebelum kita bicara tentang Bitcoin, kita perlu bicara tentang uang.
Coba periksa dompet Anda. Lihat uang kertas di sana. Selembar kertas dengan gambar orang penting, angka tercetak, dan kata-kata "dijamin oleh pemerintah."
Sekarang pertanyaan: Mengapa selembar kertas ini punya nilai?
Tidak bisa dimakan. Tidak bisa dipakai. Kalau Anda terdampar di pulau terpencil, uang kertas ini lebih berguna sebagai penyalaan api daripada sebagai uang.
Uang kertas punya nilai karena satu hal: kepercayaan kolektif.
Kita semua setuju—melalui konsensus sosial yang tidak terucap—bahwa selembar kertas ini bernilai. Saya percaya Anda akan menerima uang ini. Anda percaya orang lain akan menerima dari Anda. Dan seterusnya.
Inilah yang Vigna dan Casey sebut "leap of faith"—lompatan kepercayaan yang membuat uang bekerja.
Dari Emas ke Kertas: Sejarah Singkat Kepercayaan
Ribuan tahun lalu, uang adalah barang dengan nilai intrinsik: emas, perak, garam, kerang.
Lalu datanglah uang kertas—awalnya sebagai "IOU" (surat utang) untuk emas yang disimpan di bank. Anda simpan emas di bank, dapat kertas yang menjanjikan Anda bisa tukar kembali kapan saja.
Tapi perlahan, pemerintah menyadari: mengapa kita perlu emas sama sekali?
Pada tahun 1971, Presiden AS Richard Nixon mengakhiri konvertibilitas dolar ke emas. Inilah kelahiran "fiat currency"—uang yang nilainya berdasarkan dekrit pemerintah (fiat = "biarlah" dalam bahasa Latin), bukan backing fisik.
Sejak itu, uang adalah apa yang pemerintah katakan adalah uang.
Dan itu bekerja—sampai tidak.
Tiga Masalah Besar dengan Sistem Keuangan Tradisional
Masalah #1: Kepercayaan yang Rapuh
Krisis keuangan 2008 menghancurkan kepercayaan pada sistem perbankan.
Bank-bank besar bermain spekulasi dengan uang orang. Ketika mereka rugi, pemerintah bailout mereka dengan uang pajak. Orang biasa kehilangan rumah, pekerjaan, tabungan—tapi tidak ada bankir yang masuk penjara.
Pesan yang dikirim: Sistem ini tidak adil. "Too big to fail" berarti bank bisa ambil risiko bodoh karena mereka tahu pemerintah akan selamatkan mereka.
Masalah #2: Biaya dan Gesekan yang Tinggi
Kirim uang ke keluarga di negara lain? Western Union atau bank akan charge Anda 5-15%.
Terima pembayaran dari klien internasional? PayPal ambil potongan. Bank ambil potongan. Currency exchange ambil potongan. Uang Anda terpotong berkali-kali sebelum sampai ke rekening Anda.
Dan proses ini bisa memakan waktu berhari-hari.
Masalah #3: 2 Miliar Orang Tanpa Akses Banking
Lebih dari seperempat populasi dunia tidak punya akses ke sistem perbankan dasar.
Bukan karena mereka tidak butuh. Tapi karena:
● Mereka terlalu miskin untuk memenuhi minimum deposit
● Mereka tinggal di daerah terpencil tanpa cabang bank
● Mereka tidak punya identitas formal yang diminta bank
● Biaya administrasi terlalu mahal untuk income mereka
Sistem keuangan global tidak dirancang untuk mereka. Mereka invisible.
Vigna dan Casey bertanya: Apakah ada cara yang lebih baik?
Jawabannya datang dari seseorang yang bahkan kita tidak tahu namanya.
Bagian 2: Satoshi Nakamoto dan Kelahiran Bitcoin
31 Oktober 2008: Whitepaper yang Mengubah Segalanya
Di tengah kehancuran krisis keuangan global, seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto mempublikasikan sebuah whitepaper berjudul:
"Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System"
Sembilan halaman. Bahasa teknis. Tidak ada hype. Tidak ada janji kekayaan.
Hanya sebuah proposal: Bagaimana jika kita bisa menciptakan uang digital yang tidak memerlukan bank atau pemerintah untuk beroperasi?
Ide ini bukan baru. Orang sudah mencoba menciptakan "digital cash" sejak tahun 1990-an. Semua gagal karena satu masalah fundamental: double-spending problem.
Bagaimana Anda mencegah seseorang menyalin digital money dan membelanjakannya dua kali? Dengan uang fisik, ini tidak mungkin—kalau Anda kasih uang ke saya, Anda tidak punya lagi. Tapi dengan file digital, copy-paste itu mudah.
Solusi tradisional: bank atau pihak ketiga terpercaya yang mencatat semua transaksi dan mencegah double-spending.
Tapi Satoshi punya solusi yang berbeda: blockchain.
Blockchain: Buku Besar yang Tidak Bisa Diubah
Bayangkan sebuah buku besar (ledger) yang mencatat setiap transaksi Bitcoin yang pernah terjadi.
Tapi alih-alih disimpan di satu bank, buku besar ini disalin ke ribuan komputer di seluruh dunia. Setiap komputer punya salinan yang identik.
Ketika seseorang ingin mengirim Bitcoin, transaksi itu disiarkan ke seluruh jaringan. Komputer-komputer di jaringan—disebut "miners"—memverifikasi transaksi itu sah (apakah pengirim benar-benar punya Bitcoin yang diklaim), lalu menambahkan transaksi ke "block" baru.
Block ini kemudian ditambahkan ke "chain" (rantai) block sebelumnya—maka namanya: blockchain.
Setiap block baru yang ditambahkan membuat semua block sebelumnya semakin sulit untuk diubah. Untuk mengubah sejarah transaksi, Anda harus mengubah mayoritas salinan di ribuan komputer—yang hampir mustahil.
Hasilnya: Sistem yang tidak memerlukan kepercayaan pada satu institusi, tapi pada matematika dan consensus jaringan.
3 Januari 2009: Genesis Block
Satoshi tidak hanya menulis teori. Dia meluncurkan network.
Block pertama Bitcoin—"Genesis Block"—ditambang pada 3 Januari 2009. Embedded dalam kode block itu adalah pesan:
"The Times 03/Jan/2009 Chancellor on brink of second bailout for banks"
Ini adalah headline koran The Times hari itu—tentang pemerintah Inggris yang akan bailout bank lagi.
Pesan Satoshi jelas: Bitcoin adalah respons terhadap kegagalan sistem keuangan tradisional.
Dan kemudian, Satoshi menghilang.
Tidak ada yang tahu siapa dia (atau mereka). Apakah satu orang atau grup? Pria atau wanita? Amerika atau Jepang atau yang lain?
Satoshi meninggalkan sekitar 1 juta Bitcoin (sekarang bernilai puluhan miliar dolar) tidak tersentuh. Dan menghilang tanpa jejak.
Tapi warisan Satoshi tetap hidup: sebuah sistem uang digital yang tidak dimiliki atau dikontrol siapa pun.
Bagian 3: Bagaimana Bitcoin Bekerja (Tanpa Jargon Teknis)
Mari kita sederhanakan.
Bitcoin sebagai Uang Digital
Bitcoin adalah file digital yang Anda simpan di "wallet" (dompet digital). Setiap Bitcoin dapat dibagi sampai 8 desimal—unit terkecil disebut "satoshi" (0.00000001 BTC).
Anda bisa mengirim Bitcoin ke siapa pun di dunia dengan:
1. Mengetahui alamat Bitcoin mereka (seperti nomor rekening)
2. Membuat transaksi dari wallet Anda
3. Menunggu konfirmasi dari network (biasanya 10-60 menit)
Tidak perlu bank. Tidak perlu izin. Tidak perlu hari kerja atau jam operasional.
Mining: Bagaimana Bitcoin Baru Diciptakan
Ingat miner yang memverifikasi transaksi? Mereka tidak melakukan ini gratis.
Setiap kali miner berhasil menambahkan block baru ke blockchain, mereka mendapat reward: Bitcoin baru yang baru diciptakan, plus transaction fees dari transaksi di block itu.
Proses mining melibatkan komputer menyelesaikan puzzle matematika yang sangat sulit. Siapa pun bisa mining—Anda hanya perlu komputer dan listrik. Tapi competitionnya sangat ketat.
Aspek jenius: Supply Bitcoin terbatas.
Hanya akan ada maksimal 21 juta Bitcoin. Tidak lebih. Tidak bisa dicetak sesuka hati seperti uang fiat.
Setiap 4 tahun, reward untuk mining dipotong setengah (event yang disebut "halving"). Ini membuat Bitcoin semakin langka seiring waktu.
Bitcoin terakhir diperkirakan akan ditambang sekitar tahun 2140.
Keamanan: Private Keys adalah Segalanya
Untuk mengontrol Bitcoin Anda, Anda perlu "private key"—serangkaian angka dan huruf yang seperti password ultimate.
Siapa yang punya private key, dia yang punya Bitcoin.
Tidak ada "forgot password" atau "reset account." Kalau Anda hilangkan private key Anda, Bitcoin Anda hilang selamanya.
Ini adalah fitur, bukan bug. Tidak ada pihak ketiga yang bisa freeze account Anda atau confiscate Bitcoin Anda—tapi Anda juga sepenuhnya bertanggung jawab atas keamanan Anda sendiri.
Bagian 4: Kasus Penggunaan—Mengapa Bitcoin Penting
1. Remittance: Mengirim Uang Lintas Negara
Ini adalah killer app pertama Bitcoin.
Bayangkan Anda pekerja migran dari Filipina yang bekerja di Dubai. Setiap bulan Anda kirim $500 ke keluarga di kampung.
Jalur tradisional: Western Union ambil $35 (7%). Bank lokal di Filipina ambil lagi $10. Total: $45 hilang hanya untuk kirim uang Anda sendiri.
Dengan Bitcoin: kirim Bitcoin ke wallet keluarga Anda. Mereka convert ke peso lokal. Total fee: $2-5.
Untuk 250 juta pekerja migran di dunia yang mengirim total $700 miliar per tahun ke kampung halaman mereka, ini adalah game changer.
2. Banking the Unbanked
Di negara berkembang, banyak orang punya smartphone tapi tidak punya rekening bank.
Dengan Bitcoin, Anda tidak perlu bank untuk:
● Menyimpan uang
● Mengirim dan menerima pembayaran
● Berpartisipasi dalam ekonomi global
Vigna dan Casey menceritakan kisah di Kenya di mana Bitcoin (dan cryptocurrency lain) membantu orang bypass sistem perbankan yang ekslusif dan korup.
3. Store of Value: Emas Digital
Banyak orang membeli Bitcoin bukan untuk belanja, tapi sebagai investasi—mirip emas.
Alasan:
● Kelangkaan: Hanya 21 juta akan pernah ada
● Portabel: Anda bisa bawa $1 miliar Bitcoin di flash drive
● Tidak bisa disita: Selama Anda jaga private key
● Tidak terpengaruh inflasi: Tidak ada yang bisa "cetak" Bitcoin lebih banyak
Kritikus bilang: Bitcoin terlalu volatile untuk jadi store of value. Pendukung bilang: Dalam jangka panjang, trend-nya naik meskipun volatile.
4. Perlindungan dari Pemerintah yang Korup
Di negara dengan hyperinflation (Venezuela, Zimbabwe), mata uang lokal kehilangan value setiap hari.
Bitcoin menawarkan cara untuk melindungi kekayaan dari kebijakan ekonomi yang buruk atau pemerintah yang korup.
Ini kontroversial—pemerintah tidak suka ketika warga bisa bypass kontrol mereka. Tapi bagi orang yang hidup di bawah rezim otoriter, ini adalah lifeline.
Bagian 5: Sisi Gelap—Silk Road dan Kontroversi
Silk Road: Pasar Gelap di Internet
Tidak semua aplikasi Bitcoin mulia.
Pada tahun 2011, seorang libertarian bernama Ross Ulbricht (alias "Dread Pirate Roberts") meluncurkan Silk Road—marketplace online di dark web tempat orang bisa beli dan jual apapun secara anonim.
Termasuk narkoba, senjata, identitas palsu, dan hal-hal ilegal lainnya.
Pembayaran? Bitcoin.
Mengapa? Karena transaksi Bitcoin relatif anonim (meskipun tidak sepenuhnya—semua transaksi tercatat di blockchain, tapi tidak ada nama terpasang).
Silk Road menjadi berita besar. Media melabeli Bitcoin sebagai "mata uang kriminal."
FBI akhirnya menutup Silk Road pada 2013 dan menangkap Ulbricht, yang kini menjalani hukuman seumur hidup.
Apakah Bitcoin adalah Alat Kriminal?
Vigna dan Casey sangat jelas: Bitcoin adalah tool. Seperti internet, pisau, atau uang tunai—bisa digunakan untuk baik atau buruk.
Ya, kriminal menggunakan Bitcoin. Tapi kriminal juga menggunakan dolar AS—dalam jumlah jauh lebih besar.
Faktanya, transparansi blockchain membuat Bitcoin lebih mudah dilacak daripada uang tunai untuk aktivitas kriminal.
Tapi stigma ini melekat. Dan ini menjadi tantangan besar untuk adopsi mainstream.
Bagian 6: Volatilitas—Roller Coaster yang Gila
Salah satu kritik terbesar terhadap Bitcoin: harganya naik-turun seperti roller coaster.
Contoh:
● 2011: Bitcoin naik dari $1 ke $32, lalu crash ke $2
● 2013: Naik ke $1,200, crash ke $200
● 2017: Naik ke $20,000, crash ke $3,000
● 2021: Naik ke $69,000, turun ke $16,000
Untuk orang yang beli di puncak, ini adalah nightmare. Untuk orang yang beli di bawah, ini adalah mimpi yang jadi kenyataan.
Mengapa Bitcoin Begitu Volatile?
1. Pasar kecil (relatif): Market cap Bitcoin masih kecil dibanding aset tradisional. Whale (pemegang besar) bisa menggerakkan harga signifikan.
2. Spekulasi: Banyak orang beli Bitcoin untuk "get rich quick," bukan untuk use case fundamental.
3. Tidak ada fundamental yang jelas: Bagaimana Anda valuasi Bitcoin? Tidak ada cash flow, tidak ada earnings. Valuasi murni berdasarkan supply-demand.
4. Sentimen dan hype: Elon Musk tweet, harga bergerak. Negara banned Bitcoin, harga turun. Negara adopsi Bitcoin, harga naik.
Volatilitas membuat Bitcoin sulit digunakan sebagai mata uang sehari-hari. Siapa mau bayar untuk kopi dengan aset yang bisa naik 20% besok (Anda akan menyesal bayar terlalu banyak) atau turun 20% (merchant akan rugi)?
Bagian 7: Regulasi—Pertempuran untuk Kontrol
Dilema Pemerintah
Pemerintah di seluruh dunia menghadapi dilema dengan Bitcoin:
Terlalu ketat: Anda hambat inovasi dan dorong aktivitas ke underground. Terlalu longgar: Anda buka pintu untuk pencucian uang, penipuan, dan destabilisasi sistem keuangan.
Respons global sangat beragam:
El Salvador: Menjadikan Bitcoin sebagai legal tender (2021)—satu-satunya negara yang melakukan ini.
China: Banned mining dan trading Bitcoin berkali-kali (tapi orang tetap trade via VPN).
Amerika Serikat: Pendekatan mixed—SEC ketat, tapi tidak ban total. Fokus pada regulasi exchange dan anti money laundering.
Eropa: Lebih pro-regulasi dengan framework MiCA (Markets in Crypto Assets).
Pertanyaan Fundamental: Apakah Bitcoin adalah Mata Uang atau Komoditas?
Ini bukan pertanyaan teknis—ini pertanyaan hukum dengan konsekuensi besar.
Jika mata uang: diregulasi oleh otoritas moneter, transaksi mungkin bebas pajak. Jika komoditas/aset: diregulasi seperti saham, capital gains tax berlaku.
Berbagai negara punya jawaban berbeda.
Bagian 8: Masa Depan—Lebih Dari Sekadar Bitcoin
Blockchain Beyond Bitcoin
Vigna dan Casey menekankan: Bitcoin adalah aplikasi pertama blockchain, bukan satu-satunya.
Blockchain bisa digunakan untuk:
● Smart contracts (kontrak yang self-executing tanpa perlu lawyer)
● Supply chain tracking (lacak produk dari manufaktur sampai konsumen)
● Digital identity (identitas yang Anda kontrol, bukan pemerintah atau perusahaan)
● Voting systems (pemilu yang transparan dan tidak bisa dimanipulasi)
Ethereum, cryptocurrency kedua terbesar, dibuat untuk mengaktifkan aplikasi-aplikasi ini.
Tiga Skenario Masa Depan
Skenario 1: Bitcoin Menang Total Bitcoin menjadi reserve currency global. Bank tradisional punah atau berevolusi jadi Bitcoin custodian. Pemerintah kehilangan kontrol moneter.
Kemungkinan: Rendah. Pemerintah tidak akan menyerahkan kontrol tanpa perlawanan besar.
Skenario 2: Bitcoin Mati Regulasi ketat membunuh Bitcoin. Teknologi yang lebih baik menggantinya. Atau Bitcoin terbukti tidak scalable/sustainable.
Kemungkinan: Rendah. Bitcoin telah bertahan 15+ tahun dan terus tumbuh meski menghadapi banyak tantangan.
Skenario 3: Koeksistensi Bitcoin dan crypto lain tetap ada sebagai aset alternatif. Sistem keuangan tradisional adopsi beberapa inovasi blockchain. Hybrid system terbentuk.
Kemungkinan: Paling tinggi.
Bagian 9: Pelajaran untuk Kita Semua
1. Uang adalah Konsensus Sosial
Hal paling profound dari buku ini: Uang tidak punya nilai intrinsik. Uang adalah apa yang kita semua setujui sebagai uang.
Emas, kertas, atau Bitcoin—semuanya sama. Nilai mereka datang dari kepercayaan kolektif.
Bitcoin membuktikan: Anda tidak perlu pemerintah untuk menciptakan konsensus. Teknologi dan community bisa melakukannya.
2. Desentralisasi ≠ Chaos
Skeptis bilang: "Tanpa otoritas sentral, sistem akan jadi kacau."
Bitcoin membuktikan sebaliknya. Desentralisasi bisa menciptakan order—melalui incentive yang dirancang dengan baik dan aturan yang dikode dalam software.
3. Inovasi Finansial Tidak Bisa Dihentikan
Anda bisa ban Bitcoin di satu negara. Tapi ide-nya sudah keluar.
Sekarang ada ribuan cryptocurrency. Jutaan orang yang paham teknologi blockchain. Ratusan perusahaan yang membangun di atasnya.
Genie sudah keluar dari botol.
4. Dengan Kebebasan Datang Tanggung Jawab
Bitcoin memberikan kebebasan finansial: tidak ada yang bisa freeze account Anda, sensor transaksi Anda, atau ambil uang Anda.
Tapi dengan itu datang tanggung jawab total: jaga private key Anda. Verifikasi alamat sebelum kirim. Tidak ada customer service untuk menyelamatkan Anda jika Anda salah.
Banyak orang tidak siap untuk level tanggung jawab ini.
5. Pertanyaan Bukan "Apakah" Tapi "Bagaimana"
Vigna dan Casey menulis di akhir buku:
"Pertanyaan bukan lagi apakah mata uang digital akan menjadi bagian dari masa depan kita. Pertanyaannya adalah bagaimana kita—sebagai individu, perusahaan, dan masyarakat—akan menavigasi transformasi ini."
Masa depan uang sedang ditulis sekarang. Dan kita semua adalah bagian dari cerita itu.
Penutup: Pizza, Kepercayaan, dan Revolusi
Kembali ke pizza Laszlo.
Apakah dia bodoh menukar 10.000 Bitcoin untuk dua pizza?
Tidak.
Dia adalah pioneer. Dia membuktikan bahwa Bitcoin bukan hanya angka di komputer—ini adalah uang yang bisa membeli barang nyata.
Tanpa transaksi itu, mungkin Bitcoin tetap jadi eksperimen akademis. Laszlo memberikan Bitcoin utilitas—dan dengan utilitas datang nilai.
Hari ini, kita berdiri di persimpangan.
Sistem keuangan tradisional tidak sempurna. Bank gagal. Inflasi menggerus tabungan. 2 miliar orang tidak punya akses banking. Transaksi internasional lambat dan mahal.
Bitcoin dan cryptocurrency menawarkan alternatif. Bukan solusi sempurna—masih banyak masalah: volatilitas, skalabilitas, regulasi, environmental impact dari mining.
Tapi untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita punya pilihan.
Anda tidak harus percaya pada bank. Anda bisa percaya pada matematika. Anda tidak harus percaya pada pemerintah. Anda bisa percaya pada kode. Anda tidak harus percaya pada sistem yang dibuat untuk Anda. Anda bisa membangun sistem baru.
Ini adalah esensi dari The Age of Cryptocurrency: era di mana kepercayaan tidak lagi monopoli institusi, tapi didistribusikan kepada kita semua.
Apakah Bitcoin akan menjadi masa depan uang? Tidak ada yang tahu.
Tapi revolusi telah dimulai. Dan seperti semua revolusi, ini berantakan, tidak pasti, dan penuh dengan peluang.
Selamat datang di era baru.
Tentang Buku Asli
"The Age of Cryptocurrency" diterbitkan pertama kali pada tahun 2015 oleh Paul Vigna dan Michael J. Casey, keduanya jurnalis senior di Wall Street Journal.
Buku ini ditulis pada saat Bitcoin masih relatif niche—sebelum boom 2017, sebelum NFT, sebelum El Salvador adopsi Bitcoin. Tapi analisis mereka tetap relevan karena fokus pada fundamental: teknologi, ekonomi, dan implikasi sosial.
Vigna dan Casey kemudian menulis buku sequel: "The Truth Machine: The Blockchain and the Future of Everything" (2018) yang fokus pada aplikasi blockchain beyond cryptocurrency.
Untuk pemahaman mendalam tentang:
● Sejarah lengkap Bitcoin dan cryptocurrency
● Detail teknis blockchain (dengan bahasa yang accessible)
● Case studies dari berbagai negara
● Analisis ekonomi yang mendalam
● Perdebatan filosofis tentang uang dan kepercayaan
Sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap ide-ide utama, tapi buku lengkap memberikan nuansa, contoh, dan argumen yang jauh lebih kaya.
Catatan penting: Buku ini ditulis tahun 2015. Banyak yang berubah sejak saat itu—harga Bitcoin naik drastis, ribuan cryptocurrency baru lahir, regulasi berkembang, teknologi mature. Tapi prinsip-prinsip fundamental yang dijelaskan Vigna dan Casey tetap solid.
Sekarang pertanyaannya untuk Anda:
Apakah Anda akan menjadi penonton dalam revolusi finansial ini? Atau peserta?
Anda tidak perlu invest di Bitcoin untuk peduli. Tapi Anda perlu memahami apa yang terjadi—karena ini akan mempengaruhi masa depan uang, dan masa depan uang adalah masa depan kita semua.
Welcome to the age of cryptocurrency.