How to be an Adult in Relationships

David Richo


Pola yang Terus Berulang 

Pernahkah Anda memperhatikan pola ini? 

Hubungan pertama berakhir karena pasangan Anda "terlalu dingin dan tidak perhatian."

Hubungan kedua hancur karena "dia tidak pernah benar-benar memahami saya."

Hubungan ketiga gagal karena "kami terlalu berbeda, tidak cocok." 

Dan di suatu malam yang sepi, Anda duduk sendirian dan bertanya: "Kenapa ini terus terjadi pada saya?" 

Inilah yang menyakitkan: setiap kali hubungan berakhir, Anda yakin masalahnya adalah mereka. Mereka yang salah pilih. Mereka yang tidak cukup baik. Mereka yang tidak siap. 

Sampai suatu hari Anda menyadari sesuatu yang menakutkan sekaligus membebaskan:

Satu-satunya kesamaan dari semua hubungan yang gagal adalah Anda. 

Bukan berarti Anda orang yang buruk. Bukan berarti Anda tidak layak dicintai. Tapi mungkin—hanya mungkin—ada sesuatu dalam cara Anda berhubungan yang perlu berubah. 

David Richo, psikolog dan terapis yang telah membantu ribuan orang dalam empat dekade kariernya, menulis "How To Be An Adult In Relationships" dengan premis sederhana namun profound: 

Kebanyakan dari kita memasuki hubungan dengan keterampilan emosional seorang anak, lalu heran mengapa hubungan kita penuh dengan drama, ketergantungan, dan kekecewaan. 

Kita mencari pasangan untuk "melengkapi" kita—padahal seharusnya kita datang sudah utuh. 

Kita ingin dicintai tanpa syarat—seperti anak kecil mencintai orangtua—padahal cinta dewasa adalah pilihan sadar, bukan kebutuhan desperate.

Kita takut ditinggalkan, jadi kita mengendalikan. Atau kita takut terjebak, jadi kita lari. 

Tapi ada jalan keluar. Dan itu dimulai dengan memahami apa yang benar-benar kita butuhkan—dan bagaimana memberikannya pada diri sendiri sebelum mencarinya dari orang lain. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Lima Kebutuhan Fundamental - The 5 A's

Apa yang Setiap Manusia Butuhkan 

Richo mengidentifikasi lima kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar seseorang bisa tumbuh menjadi dewasa yang sehat secara emosional. Dia menyebutnya The 5 A's: 

1. Attention (Perhatian) 2. Acceptance (Penerimaan) 3. Appreciation (Penghargaan) 4. Affection (Kasih Sayang) 5. Allowing (Membiarkan/Kebebasan) 

Jika Anda mendapat kelima ini dari orangtua Anda saat kecil—secara konsisten, tanpa syarat—selamat. Anda beruntung. Anda tumbuh dengan fondasi emosional yang kokoh. 

Tapi kebanyakan dari kita tidak seberuntung itu. 

Mungkin orangtua Anda sibuk bekerja—jadi Anda tidak mendapat Attention yang cukup. Anda tumbuh merasa tidak terlihat. 

Mungkin orangtua Anda punya ekspektasi tinggi—jadi Anda hanya mendapat Acceptance ketika Anda berprestasi. Anda tumbuh merasa harus "earn" cinta. 

Mungkin orangtua Anda kritis—jadi Anda jarang mendapat Appreciation. Anda tumbuh merasa tidak cukup baik. 

Mungkin orangtua Anda tidak ekspresif—jadi Anda kurang mendapat Affection. Anda tumbuh merasa tidak nyaman dengan kedekatan fisik atau emosional. 

Mungkin orangtua Anda terlalu protektif atau controlling—jadi Anda tidak mendapat Allowing. Anda tumbuh tidak tahu siapa Anda sebenarnya tanpa persetujuan orang lain. 

Dan inilah yang terjadi: Anda membawa kekurangan ini ke hubungan dewasa Anda.

Mencari 5 A's di Tempat yang Salah 

Bayangkan tangki bensin yang bocor. Anda terus mengisi, tapi selalu kosong lagi. 

Begitulah hubungan ketika Anda mencari 5 A's dari pasangan untuk mengisi kekosongan dari masa kecil. 

Anda butuh Attention terus-menerus. "Dia tidak balas chat saya dalam 10 menit—pasti dia tidak peduli lagi." 

Anda butuh Acceptance yang berlebihan. "Kalau dia benar-benar cinta, dia akan terima semua bagian saya tanpa komplain."

Anda butuh Appreciation yang konstan. "Kenapa dia tidak pernah bilang aku cantik/ganteng lagi seperti dulu?" 

Anda butuh Affection untuk merasa aman. "Kalau dia tidak peluk aku, berarti ada yang salah."

Anda merasa terancam oleh Allowing. "Kenapa dia butuh waktu sendiri? Aku tidak cukup?"

Tidak ada pasangan—tidak peduli seberapa mencintai—yang bisa mengisi tangki yang bocor. 

Solusinya bukan menemukan pasangan yang sempurna. Solusinya adalah memperbaiki tangki Anda.

 


Bagian 2: Memberikan 5 A's pada Diri Sendiri

Self-Parenting - Menjadi Orangtua bagi Diri Sendiri 

Richo mengajarkan konsep yang powerful: Anda bisa memberikan 5 A's pada diri sendiri. 

Ini bukan berarti Anda tidak butuh orang lain. Tapi artinya Anda tidak bergantung pada orang lain untuk merasa utuh. 

Attention untuk Diri Sendiri: 

● Dengarkan kebutuhan Anda. "Apa yang saya butuhkan sekarang?"

● Perhatikan emosi Anda tanpa menghakimi. "Saya merasa sedih. Itu valid."

● Luangkan waktu untuk diri sendiri—tanpa rasa bersalah. 

Acceptance untuk Diri Sendiri: 

● Terima semua bagian dari Anda—yang baik dan yang sulit. 

● Berhenti mengatakan "Aku seharusnya..." dan mulai katakan "Aku adalah..."

● Berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain. 

Appreciation untuk Diri Sendiri: 

● Rayakan pencapaian kecil Anda. 

● Akui usaha Anda, bukan hanya hasil. 

● Berikan gratitude pada diri sendiri. 

Affection untuk Diri Sendiri: 

● Berikan compassion ketika Anda gagal atau terluka. 

● Perlakukan diri Anda dengan kelembutan, bukan kritik kejam. 

● Lakukan self-care bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kasih sayang.

Allowing untuk Diri Sendiri: 

● Berikan izin pada diri sendiri untuk berubah dan tumbuh. 

● Jangan terjebak dalam "Aku harus jadi seperti ini karena aku selalu begini."

● Lepaskan ekspektasi orang lain tentang siapa Anda seharusnya. 

Ketika Anda memberikan 5 A's pada diri sendiri, sesuatu yang ajaib terjadi: Anda datang ke hubungan bukan dengan kekosongan yang desperate, tapi dengan kelimpahan yang ingin dibagikan.

 


Bagian 3: Cinta vs Ketakutan - Memilih Fondasi yang Benar 

Dua Motivasi dalam Hubungan 

Richo mengatakan setiap tindakan dalam hubungan didorong oleh salah satu dari dua hal: Cinta atau Ketakutan. 

Cinta mengatakan: "Aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya." "Aku mendukung pertumbuhanmu, bahkan jika itu berarti kamu tumbuh melampaui aku." "Aku memilihmu hari ini, dan aku akan memilih lagi besok." 

Ketakutan mengatakan: "Jangan berubah—aku takut kehilanganmu." "Jangan pergi—aku tidak bisa hidup tanpamu." "Buktikan kamu cinta aku—terus-menerus." 

Tanda-Tanda Hubungan Berbasis Ketakutan 

1. Kebutuhan Berlebihan akan Kepastian "Apakah kamu cinta aku?" ditanya berkali-kali sehari. Tidak peduli berapa kali pasangan menjawab ya, tidak pernah cukup—karena pertanyaannya bukan tentang mereka, tapi tentang ketakutan Anda sendiri. 

2. Jealousy yang Tidak Sehat Cemburu wajar ada. Tapi ketika Anda menginterogasi pasangan tentang setiap orang yang mereka ajak bicara, mengecek HP mereka, atau marah ketika mereka menghabiskan waktu dengan teman—itu bukan cinta. Itu ketakutan kehilangan kontrol. 

3. Mengorbankan Diri Secara Berlebihan "Aku rela melakukan apa saja untukmu." Kedengarannya romantis, tapi seringkali artinya: "Aku akan menghilangkan diriku sendiri agar kamu tidak meninggalkan aku." 

4. Drama Sebagai Pengganti Keintiman Pertengkaran besar, baikan dramatis, siklus putus-nyambung. Ini menciptakan intensitas yang dikira "cinta passionate"—padahal sebenarnya cara untuk menghindari keintiman yang nyata dan vulnerable. 

Cinta yang Dewasa 

Cinta dewasa terlihat seperti ini: 

"Aku mencintaimu, tapi aku tidak butuh kamu untuk bertahan hidup. Aku memilihmu karena aku ingin, bukan karena aku desperate." 

"Aku ingin hubungan ini bertahan, tapi aku akan baik-baik saja jika berakhir—karena aku sudah utuh sendiri." 

"Aku mendukung pertumbuhanmu, bahkan jika itu membuat kamu berbeda dari yang aku bayangkan."

Ini bukan dingin. Ini kebebasan—fondasi dari cinta sejati.

 


Bagian 4: Shadow Work - Menghadapi Sisi Gelap

Apa yang Kita Tolak dalam Diri, Kita Proyeksikan pada Pasangan 

Carl Jung punya konsep "shadow"—bagian dari diri kita yang kita tolak, sembunyikan, atau malu akui. 

Dan Richo menjelaskan: apa yang kita tolak dalam diri kita sendiri, sering menjadi apa yang paling kita benci—atau paling kita cintai—pada orang lain. 

Contoh: 

Anda tumbuh dengan pesan "jangan egois." Jadi Anda menekan semua kebutuhan Anda, selalu mengalah, selalu mengorbankan diri. 

Lalu Anda menikah dengan seseorang yang sangat asertif—bahkan terkesan egois. Di awal, Anda terpesona: "Dia begitu percaya diri! Dia tahu apa yang dia mau!" 

Tapi lama-lama, Anda mulai benci: "Dia selalu mementingkan dirinya sendiri! Kenapa aku yang harus selalu mengalah?" 

Apa yang terjadi? Anda memproyeksikan shadow Anda—bagian "egois" yang Anda tolak dalam diri Anda—pada pasangan. 

Mengintegrasikan Shadow 

Richo mengajarkan: Alih-alih menyalahkan pasangan, tanyakan: "Apa yang orang ini ajarkan tentang bagian diriku yang perlu saya terima?" 

Jika pasangan Anda "terlalu egois," mungkin Anda perlu belajar menegaskan kebutuhan Anda sendiri. 

Jika pasangan Anda "terlalu emosional," mungkin Anda perlu mengakui emosi Anda yang Anda tekan. 

Jika pasangan Anda "terlalu dingin," mungkin Anda perlu menghadapi ketakutan Anda sendiri akan kedekatan. 

Setiap hubungan adalah cermin. Yang Anda lihat pada orang lain sering adalah apa yang perlu Anda integrasikan dalam diri sendiri.

 


Bagian 5: Batasan yang Sehat - Saying No with Love

"Aku Takut Dia Akan Pergi Kalau Aku Bilang Tidak" 

Salah satu tanda ketidakdewasaan emosional terbesar adalah ketidakmampuan mengatakan tidak. 

"Mau nonton film ini?" (Padahal Anda benci genre itu) → "Oke..." "Bisa kerja lembur hari ini?" (Padahal Anda sudah lelah) → "Bisa..." "Aku perlu pinjam uang." (Untuk kesekian kali) → "Berapa?" 

Mengapa kita tidak bisa bilang tidak? 

Karena kita percaya: Kalau saya bilang tidak, mereka akan berhenti mencintai saya. 

Ini adalah logika anak kecil. Anak percaya cinta bersyarat: "Aku hanya dicintai kalau aku baik/patuh/tidak merepotkan." 

Tapi cinta dewasa berbeda: Cinta dewasa menghormati batasan. 

Batasan Bukan Tembok 

Richo membedakan: 

Tembok: "Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun dekat denganku." Batasan: "Aku membiarkanmu dekat, tapi ada bagian dari diriku yang aku jaga untuk diriku sendiri." 

Tembok: "Semua permintaanmu adalah serangan terhadapku." Batasan: "Aku mau membantu, tapi tidak dengan cara yang merusak diriku." 

Batasan yang sehat terdengar seperti: 

"Aku cinta kamu, tapi aku tidak bisa selalu tersedia 24/7. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri." 

"Aku mendukungmu, tapi aku tidak akan menyelamatkanmu dari konsekuensi pilihanmu sendiri." 

"Aku ingin mendengarkanmu, tapi tolong jangan berteriak padaku. Aku akan mendengar lebih baik ketika kamu bicara dengan tenang." 

Reaksi terhadap Batasan Mengungkap Karakter 

Inilah tes yang powerful: Perhatikan bagaimana seseorang merespons ketika Anda menetapkan batasan. 

Orang yang sehat akan menghormati: "Oke, aku mengerti. Terima kasih sudah jujur."

Orang yang tidak sehat akan: 

● Memanipulasi: "Kalau kamu benar-benar cinta aku, kamu akan..."

● Mengintimidasi: "Kamu egois!" atau "Kamu tidak pernah ada buat aku!"

● Menghukum: Silent treatment, ancaman putus, guilt-tripping. 

Jika seseorang tidak bisa menghormati batasan Anda, mereka tidak mencintai Anda—mereka mencintai kontrol atas Anda.

 


Bagian 6: Melepaskan - The Art of Letting Go

Tiga Hal yang Harus Dilepaskan 

Richo mengidentifikasi tiga hal yang paling sulit—tapi paling penting—untuk dilepaskan dalam hubungan: 

1. Melepaskan Kontrol 

Anda tidak bisa mengontrol bagaimana pasangan merasa, apa yang mereka pikirkan, atau apa yang mereka putuskan. 

Semakin Anda coba kontrol, semakin Anda kehilangan koneksi. 

Praktik: Tanyakan diri sendiri, "Apakah saya mencoba mengontrol karena cinta, atau karena ketakutan?" 

2. Melepaskan Ekspektasi 

"Kalau dia benar-benar cinta, dia seharusnya tahu apa yang aku butuhkan tanpa aku harus bilang." 

Ini fantasi. Bukan kenyataan. 

Pasangan Anda bukan mind reader. Mereka datang dengan sejarah, trauma, dan perspektif mereka sendiri. 

Praktik: Komunikasikan kebutuhan Anda dengan jelas. Lepaskan ekspektasi bahwa mereka "seharusnya tahu." 

3. Melepaskan Hasil 

"Kalau saya melakukan A, B, dan C, pasti dia akan berubah." 

Tidak. Orang hanya berubah ketika mereka siap—bukan karena Anda mencoba cukup keras. 

Praktik: Fokus pada apa yang bisa Anda kontrol (diri Anda sendiri), lepaskan apa yang tidak bisa (orang lain). 

Paradoks Kemelekatan 

Inilah paradoks yang indah: 

Semakin sedikit Anda bergantung pada hubungan untuk kebahagiaan Anda, semakin sehat hubungan itu.

Ketika Anda melepaskan kebutuhan desperate untuk divalidasi, dicintai, atau diselamatkan—Anda bisa hadir dalam hubungan dengan kehadiran penuh, bukan kekosongan yang meminta diisi.

 


Bagian 7: Komitmen Dewasa - Beyond Romance

Komitmen Bukan Jebakan 

Banyak orang takut komitmen karena mereka melihatnya sebagai kehilangan kebebasan.

"Kalau saya commit, saya terjebak." "Kalau saya commit, saya tidak bisa jadi diri sendiri lagi."

Tapi Richo mengatakan: Komitmen sejati justru membebaskan. 

Mengapa? 

Karena komitmen menghilangkan drama "apakah kita akan bertahan?" dan membebaskan energi untuk tumbuh bersama. 

Tiga Jenis Komitmen 

1. Komitmen pada Hubungan "Aku memilih untuk tetap di sini, bahkan ketika sulit. Aku tidak akan lari pada masalah pertama." 

2. Komitmen pada Pertumbuhan "Aku berkomitmen untuk terus tumbuh sebagai individu—dan mendukung pertumbuhanmu juga." 

3. Komitmen pada Kejujuran "Aku akan jujur tentang perasaanku, kebutuhanku, dan ketakutanku—bahkan ketika itu tidak nyaman." 

Kapan Harus Pergi? 

Richo juga jujur: Tidak semua hubungan seharusnya bertahan. 

Anda harus pergi ketika: 

● Ada kekerasan (fisik, emosional, atau verbal) 

● Ada pengkhianatan berulang tanpa pertanggungjawaban 

● Ada kecanduan yang tidak mau ditangani 

● Anda sudah berubah fundamental dan tidak lagi kompatibel 

● Anda sudah mencoba semua yang bisa—dan hubungan tetap toxic 

Komitmen bukan berarti bertahan dalam hubungan yang merusak. Kadang melepaskan adalah tindakan cinta yang paling dewasa.

 


Bagian 8: Praktik Harian - Menjadi Dewasa Setiap Hari

Morning Check-In 

Setiap pagi, sebelum memulai hari, tanyakan pada diri sendiri: 

"Apa yang aku butuhkan hari ini dari 5 A's?" "Bagaimana aku bisa memberikannya pada diriku sendiri?" "Jika aku bertindak dari cinta hari ini (bukan ketakutan), apa yang akan aku lakukan berbeda?" 

Ketika Konflik Muncul 

Alih-alih reaktif, gunakan formula ini: 

PAUSE Tarik napas. Hitung sampai 10. Jangan bicara ketika emosi memuncak. 

IDENTIFY "Apa yang sebenarnya aku rasakan? (Di balik amarah, ada apa? Takut? Sakit hati? Merasa diabaikan?)" 

COMMUNICATE Gunakan "I" statements, bukan "You" accusations. Bukan: "Kamu selalu egois!" Tapi: "Aku merasa diabaikan ketika kamu membuat keputusan besar tanpa diskusi denganku." 

LISTEN Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membela diri atau menyerang balik.

Evening Reflection 

Sebelum tidur: 

"Di mana hari ini aku bertindak dari cinta? Di mana aku bertindak dari ketakutan?" "Apa yang bisa aku lakukan berbeda besok?" "Apa satu hal yang aku hargai dari pasanganku hari ini?"

 


Penutup: Perjalanan, Bukan Destinasi 

David Richo menutup bukunya dengan pengingat yang lembut namun jujur: 

"Menjadi dewasa dalam hubungan adalah perjalanan seumur hidup, bukan destinasi yang dicapai sekali lalu selesai." 

Anda akan gagal. Anda akan reaktif. Anda akan jatuh kembali ke pola lama.

Tapi setiap kali Anda menyadari dan memilih berbeda—bahkan hanya sedikit—Anda tumbuh.

Pelajaran Inti 

1. Anda Tidak Bisa Menemukan Kelengkapan dalam Orang Lain Hubungan yang sehat adalah dua orang yang sudah utuh, memilih untuk berbagi kehidupan—bukan dua setengah yang desperate mencari kelengkapan. 

2. Cinta Sejati Membebaskan, Bukan Memenjarakan Jika Anda atau pasangan merasa terjebak, dikontrol, atau kehilangan diri sendiri—itu bukan cinta. Itu ketergantungan. 

3. Pertumbuhan Lebih Penting dari Kenyamanan Hubungan terbaik bukan yang paling mudah, tapi yang paling menantang Anda untuk tumbuh menjadi versi terbaik diri Anda. 

4. Anda Bertanggung Jawab atas Kebahagiaan Anda Sendiri Pasangan bisa menambah kebahagiaan, tapi tidak bisa menciptakannya. Hanya Anda yang bisa. 

Pertanyaan untuk Refleksi 

● Dari 5 A's, mana yang paling kurang Anda terima di masa kecil? Bagaimana ini mempengaruhi hubungan Anda sekarang? 

● Apakah tindakan Anda dalam hubungan lebih sering didorong oleh cinta atau ketakutan? 

● Apa satu batasan yang perlu Anda tetapkan tapi belum berani? 

● Jika Anda sudah 100% bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda sendiri, apa yang akan berubah dalam hubungan Anda?

 


Tentang Buku Asli 

"How To Be An Adult In Relationships: The Five Keys to Mindful Loving" pertama kali diterbitkan pada tahun 2002. 

David Richo adalah psikolog, terapis, dan guru dengan lebih dari 40 tahun pengalaman. Dia menggabungkan psikologi Jung, Buddhism, dan terapi humanistik dalam pendekatannya. 

Buku ini telah membantu ribuan orang memahami mengapa hubungan mereka berulang dalam pola yang sama—dan bagaimana mengubahnya. 

Yang membuat buku ini unik adalah pendekatan yang tidak menyalahkan. Richo tidak mengatakan "pasangan Anda toxic" atau "Anda adalah korban." Dia mengatakan: "Anda punya kekuatan untuk mengubah pola Anda—terlepas dari apa yang orang lain lakukan." 

Untuk pemahaman lengkap dengan latihan mendalam dan contoh kasus spesifik, sangat disarankan membaca buku aslinya. Buku ini penuh dengan wisdom yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Sekarang, ambil napas dalam. 

Anda tidak perlu sempurna. Anda tidak perlu memiliki semua jawaban. 

Anda hanya perlu bersedia untuk tumbuh—sedikit demi sedikit, hari demi hari. 

Dan dalam kesediaan itu, Anda akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari hubungan yang "sempurna": 

Anda akan menemukan hubungan yang nyata—dengan orang lain, dan dengan diri Anda sendiri. 

Karena pada akhirnya, menjadi dewasa dalam hubungan dimulai dengan menjadi dewasa untuk diri sendiri.