Lord of the Flies

William Golding


Pulau Surga yang Menjadi Neraka 

Bayangkan ini: Sekelompok anak laki-laki berusia 6 hingga 12 tahun terdampar di pulau tropis yang sempurna. Tidak ada orang dewasa. Tidak ada aturan. Tidak ada sekolah. 

Pantai putih bersih. Air jernih. Buah-buahan di pohon. Laguna hangat untuk berenang. Hutan hijau untuk dijelajahi. 

Ini seperti liburan tanpa akhir. Seperti mimpi setiap anak. 

Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan di awal. 

Tapi dalam beberapa minggu, pulau surga ini akan berubah menjadi neraka. Anak-anak yang riang akan menjadi pemburu yang haus darah. Teman akan membunuh teman. Dan kepolosan akan hilang selamanya—dicuci oleh darah di pasir putih. 

William Golding menulis "Lord of the Flies" dengan satu pertanyaan mengerikan dalam pikiran: 

Apa yang terjadi ketika peradaban dilucuti? Apa yang tersisa ketika aturan hilang? Apakah manusia pada dasarnya baik—atau jahat? 

Jawabannya lebih gelap dari yang Anda bayangkan. 

Mari kita mulai dari momen ketika semuanya masih tampak seperti petualangan.

 


Bagian 1: Kerang Emas—Lahirnya Peradaban

Pertemuan Pertama 

Ralph—anak laki-laki tampan, atletis, sekitar 12 tahun—berjalan menyusuri pantai setelah pesawat mereka jatuh. Tidak ada jenazah pilot. Tidak ada orang dewasa yang selamat. Hanya anak-anak yang tersebar di pulau. 

Dia bertemu Piggy—anak gemuk berkacamata, tidak atletis, tapi sangat cerdas. Piggy menemukan sesuatu di laguna: kerang besar yang indah. 

"Kita bisa menggunakannya untuk memanggil yang lain," kata Piggy. "Seperti terompet."

Ralph meniup kerang. Suara rendah, panjang bergema melintasi pulau. 

Satu per satu, anak-anak keluar dari hutan. Bocah kecil dengan bercak lahir di wajah. Kembar yang selalu bersama. Anak-anak choir dalam jubah hitam, dipimpin oleh Jack Merridew—anak dengan rambut merah, mata biru tajam, dan aura kepemimpinan yang arogan. 

Mereka berkumpul. Sekitar 30 anak, dari usia 6 hingga 12 tahun. 

"Kita perlu pemimpin," kata Ralph. 

Mereka voting. Ralph menang—sebagian karena dia yang menemukan kerang, sebagian karena karisma alaminya. 

Jack tersinggung. Dia sudah pemimpin choir. Mengapa tidak dia? 

Tapi Ralph menawarkan perdamaian: "Jack, kau dan choirmu bisa jadi pemburu."

Jack tersenyum. Pemburu. Dia suka itu. 

Aturan Pertama 

Ralph menetapkan aturan sederhana: 

1. Siapa pun yang memegang kerang bisa berbicara. Tidak boleh ada interupsi. Ini adalah demokrasi. 

2. Mereka harus menjaga api tetap menyala sebagai sinyal untuk kapal yang lewat.

3. Mereka harus membangun shelter untuk perlindungan. 

Piggy mendukung sepenuhnya. "Kita harus bertindak seperti orang dewasa," katanya. "Sains. Akal sehat." 

Anak-anak setuju dengan antusias. Ini akan menyenangkan! Seperti bermain, tapi nyata!

Tapi ada sesuatu yang mengganggu. Bocah kecil dengan bercak lahir mengangkat tangan.

"Ada apa?" tanya Ralph. 

Dengan suara gemetar, bocah itu berbisik: "Aku melihat monster. Di hutan. Saat malam."

Anak-anak tertawa. Tidak ada monster. Ini hanya pulau. 

Tapi benih ketakutan sudah ditanam.

 


Bagian 2: Api dan Obsesi Pertama 

Api Harapan 

"Kita perlu api!" teriak Ralph. "Untuk sinyal. Agar kapal bisa melihat asapnya dan menyelamatkan kita!" 

Anak-anak bersemangat. Mereka mengumpulkan kayu. Piggy—dengan kacamatanya yang tebal—menjadi alat: mereka menggunakan lensa kacamatanya untuk memfokuskan sinar matahari dan menyalakan api. 

Api menyala. Asap naik ke langit. 

Tapi mereka terlalu antusias. Api menyebar ke hutan. Terlalu besar. Tidak terkendali.

Ketika api akhirnya padam, mereka menghitung jumlah anak-anak. 

Bocah kecil dengan bercak lahir—yang berbicara tentang monster—hilang. 

Tidak ada yang mengakuinya dengan lantang. Tapi mereka semua tahu: dia terbakar dalam api. 

Kematian pertama. Tanpa upacara. Tanpa pengakuan. Mereka hanya melanjutkan seolah tidak ada yang terjadi. 

Ini adalah tanda pertama: peradaban mereka rapuh. 

Pecah Pertama 

Hari-hari berlalu. Ralph fokus pada tugas-tugas praktis: membangun shelter, menjaga api, mencari makanan. 

Tapi Jack terobsesi dengan berburu. Dia dan choirnya menghabiskan hari-hari mengejar babi hutan dengan tombak yang mereka buat. 

Pada awalnya, mereka gagal. Jack menemukan babi, mengangkat tombaknya, menatap mata binatang itu—dan tidak bisa membunuh. 

"Kenapa kau tidak tusuk?" tanya Ralph frustasi. 

Jack malu. "Lain kali. Lain kali aku akan." 

Tapi ada yang berubah dalam dirinya. Dia mulai mengecat wajahnya dengan tanah liat dan arang—kamuflase untuk berburu, katanya.

Tapi topeng itu melakukan sesuatu yang lain: membebaskan Jack dari malu. Di balik topeng, dia bisa menjadi orang yang berbeda. Orang yang lebih liar.

 


Bagian 3: Pemburu dan Pemikir—Jurang Terbuka

Shelter vs Daging 

Ralph frustrasi. Dia dan Simon (anak pemalu yang aneh tapi baik hati) adalah satu-satunya yang benar-benar membangun shelter. Anak-anak lain bermain atau berenang. 

Jack dan pemburunya tidak pernah membantu. Mereka hanya berburu. 

"Kita perlu daging!" kata Jack. 

"Kita perlu shelter!" balas Ralph. "Bagaimana kalau hujan? Bagaimana kalau malam dingin?" 

Tapi Jack tidak peduli. Obsesinya bukan lagi tentang makanan. Ini tentang membunuh. Tentang kekuatan. Tentang darah di tangannya. 

Malam Ketakutan 

Malam hari, anak-anak kecil (yang mereka sebut "littluns") sering terbangun menangis. Mereka bermimpi buruk. Mereka takut pada kegelapan. Mereka berbisik tentang "The Beast"—monster yang hidup di pulau. 

"Tidak ada monster," kata Ralph dengan tegas. "Ini hanya pulau. Hanya pohon dan babi."

Piggy setuju. "Secara ilmiah, tidak mungkin ada monster." 

Tapi Simon—anak yang pendiam dan sensitif—berbicara dengan suara pelan: "Mungkin monster itu ada. Tapi mungkin... mungkin monster itu adalah kita." 

Tidak ada yang mendengarkan Simon. Seperti biasa.

 


Bagian 4: Pembunuhan Pertama—Darah di Tangan

Kapal yang Lewat 

Suatu hari, Ralph melihat asap di cakrawala—kapal! 

Dia berlari ke puncak gunung tempat api sinyal seharusnya menyala. 

Tapi apinya mati. Padam. 

Dia menatap kapal berlayar melewati pulau, tidak melihat mereka, tidak menyelamatkan mereka. 

Ralph menangis dari frustrasi dan kemarahan. 

Lalu Jack dan para pemburu keluar dari hutan—wajah dicat, berteriak kemenangan. Mereka membawa babi yang sudah mati, ditusuk berkali-kali, darah mengalir. 

"Kami membunuhnya!" teriak Jack dengan euphoria. "Kami menusuknya! Darahnya menyembur!" 

"KAPAL LEWAT!" teriak Ralph. "Kapal lewat karena kalian membiarkan api mati!" 

Jack untuk sesaat terlihat bersalah. Tapi kemudian dia defensif. "Kami mendapat daging. Kami membunuh babi!" 

Piggy mencoba bicara. Jack menampar wajahnya—kacamata Piggy terbang dan salah satu lensa pecah. 

Kekerasan pertama antar mereka. 

Tidak ada yang menghukum Jack. Dan dia belajar: kekerasan bisa lolos tanpa konsekuensi.

 


Bagian 5: Rapat Terakhir—Kerang Kehilangan Kekuatannya 

"Kita Harus Bicara Tentang Ketakutan Ini" 

Ralph memanggil rapat dengan kerang. Dia frustrasi. Tidak ada yang mengikuti aturan. Api padam. Shelter tidak selesai. Anak-anak buang air besar sembarangan, tidak di tempat yang ditentukan. 

Tapi yang paling mengganggu adalah ketakutan—ketakutan akan The Beast. 

Seorang anak mengklaim melihat monster dari laut. Yang lain dari hutan. Littluns semua percaya ada monster. 

Jack berdiri. "Kalau ada monster, kami akan memburunya dan membunuhnya!"

Anak-anak bersorak. Jack menjanjikan solusi yang sederhana dan memuaskan: kekerasan.

Ralph mencoba akal sehat. "Tidak ada monster. Kita harus fokus pada api dan diselamatkan."

Tapi akal sehat tidak seseksi janji memburu dan membunuh. 

Piggy mencoba berbicara. "Apa yang harus kita takutkan, kecuali diri kita sendiri?" 

Tapi suaranya lemah. Kacamatanya yang pecah membuat dia setengah buta. Tidak ada yang mendengarkan orang gemuk berkacamata. 

Simon mencoba lagi: "Mungkin monster itu bagian dari kita. Mungkin kita yang menciptakannya." 

"Diam kau, Simon!" bentak Jack. "Kau selalu bicara aneh." 

Rapat berakhir dalam kekacauan. Kerang kehilangan kekuatannya. Anak-anak tidak lagi peduli siapa yang memegangnya. 

Demokrasi mereka mulai mati.

 


Bagian 6: Mayat di Gunung—Ketakutan Mengambil Bentuk 

Parasutis Mati 

Suatu malam, terjadi pertempuran udara di atas pulau. Seorang pilot parasut jatuh, sudah mati, tapi parasutnya tersangkut di pohon di puncak gunung—tepat di mana api sinyal berada. 

Angin membuat mayat itu bergoyang, seperti bergerak. 

Di malam hari, dua anak yang bertugas menjaga api melihatnya—siluet besar yang bergerak di kegelapan. 

Mereka berlari dengan panik. "MONSTER! Kami melihat monster!" 

Kini ketakutan punya wujud. The Beast nyata. Mereka melihatnya. 

Jack menggunakan ini. "Aku akan berburu The Beast. Siapa yang ikut aku?" 

Sebagian besar anak mengikuti Jack. Berburu monster lebih menarik daripada mendengarkan Ralph bicara tentang aturan dan tanggung jawab. 

Ralph kehilangan kendali. Dan Jack mengetahuinya.

 


Bagian 7: Perpecahan—Dua Suku 

"Aku Akan Punya Suku Sendiri" 

Jack akhirnya melakukan coup. 

"Siapa yang mau Ralph sebagai pemimpin?" teriaknya di rapat. 

Hening. Tidak ada yang mengangkat tangan—bukan karena mereka setia pada Ralph, tapi karena mereka takut membuat Jack marah. 

"Baik," kata Jack dengan dingin. "Aku tidak butuh kalian. Aku akan punya suku sendiri. Siapa pun boleh bergabung dan berburu denganku." 

Dia berjalan pergi. Dan perlahan, satu per satu, anak-anak mengikutinya—terutama para pemburu. 

Hanya Ralph, Piggy, Simon, dan littluns yang tersisa. 

"Kita masih punya kerang," kata Piggy dengan putus asa. "Kerang masih penting." 

Tapi di lubuk hati mereka tahu: kerang hanyalah benda. Tanpa orang yang menghormatinya, kerang tidak punya kekuatan. 

Persembahan untuk The Beast 

Jack dan sukunya memburu babi hutan. Mereka menemukan babi betina dengan anak-anaknya. Mereka membunuhnya dengan kejam, berkali-kali menusuk, bahkan setelah babi itu sudah mati. 

Jack mengambil kepala babi. Dia menancapkannya di tombak dan menaruhnya di hutan sebagai persembahan untuk The Beast. 

"Ini untuk monster," kata Jack. "Agar dia tidak ganggu kita." 

Kepala babi itu tertancap di sana, darah mengalir, lalat berdengung di sekelilingnya. 

Ini menjadi simbol: Lord of the Flies—Tuhan Lalat—representasi dari kejahatan yang tumbuh di antara mereka.

 


Bagian 8: Simon dan Kebenaran—Profet yang Diabaikan

Percakapan dengan Lord of the Flies 

Simon—anak yang selalu sedikit berbeda, lebih sensitif, lebih memahami—pergi sendirian ke hutan. 

Dia menemukan kepala babi yang tertancap. Lalat menutupinya. Bau darah dan pembusukan. 

Dalam kondisi heat exhaustion dan mungkin epilepsi (dia punya "spells"), Simon mulai berhalusinasi. Kepala babi seolah berbicara padanya: 

"Kau pikir kau bisa mengusirku? Aku bagian dari kamu. Dekat. Sangat dekat. Aku alasan mengapa semuanya tidak berjalan seperti seharusnya. Mengapa hal-hal menjadi seperti ini." 

Simon mengerti kebenaran yang mengerikan: The Beast bukan monster eksternal. The Beast adalah bagian dari diri mereka—kejahatan bawaan dalam setiap manusia. 

Dia harus memberitahu yang lain. 

Menemukan Kebenaran di Gunung 

Simon mendaki gunung—tempat yang semua orang takuti. Dia menemukan "monster": hanya mayat pilot parasut, membusuk, digoyang angin. 

Tidak ada monster. Tidak pernah ada. 

Simon membebaskan parasut yang tersangkut, membebaskan mayat itu. Lalu dia berjalan turun dengan perlahan, letih, sakit, tapi dengan kebenaran yang harus dia bagikan. 

Tapi dia tidak tahu: anak-anak tidak siap menerima kebenaran. Mereka lebih nyaman dengan ketakutan.

 


Bagian 9: Pembunuhan Simon—Malam Kegelapan

Pesta dan Badai 

Malam itu, Jack mengadakan pesta besar. Daging babi panggang. Tarian. Nyanyian primitif.

Bahkan Ralph dan Piggy datang—tertarik oleh janji makanan dan takut pada isolasi.

Badai datang. Angin keras. Petir menyambar. Hujan deras. 

Jack memimpin tarian ritual: "Bunuh monster! Potong lehernya! Tumpahkan darahnya!"

Anak-anak menari dalam lingkaran, liar, hysteria, lebih seperti binatang daripada manusia.

"Bunuh Monster!" 

Simon keluar dari hutan—kotor, lelah, gemetar—mencoba memberitahu mereka tentang mayat parasut. 

Tapi di kegelapan, dalam hujan dan petir, dalam hysteria ritual mereka, anak-anak melihat sosok yang keluar dari hutan dan berpikir: "MONSTER!" 

"Bunuh monster! Bunuh! Bunuh!" 

Mereka menyerangnya. Semua orang. Bahkan Ralph dan Piggy terseret dalam kegilaan itu.

Mereka memukulinya dengan tangan dan tombak. Mencakar. Menendang. Menggigit.

Simon mencoba berbicara, tapi suaranya tertelan badai dan teriakan mereka.

Ketika badai reda dan mereka mundur, mereka melihat apa yang telah mereka lakukan:

Mereka membunuh Simon. 

Bukan monster. Bukan binatang. Teman mereka sendiri. 

Mayatnya terbawa ombak, keluar ke laut, dikelilingi cahaya fosfor yang berkilauan seperti halo. 

Tidak ada yang berbicara tentangnya keesokan harinya. Mereka berpura-pura itu tidak terjadi. Atau mereka meyakinkan diri sendiri itu kecelakaan. "Kami pikir dia monster." 

Tapi mereka semua tahu kebenaran: mereka membunuh, dan mereka menikmatinya.

 


Bagian 10: Kehancuran Terakhir—Kematian Piggy

Pencurian di Malam Hari 

Suku Jack sekarang mendominasi pulau. Mereka mengecat wajah, berburu, berpesta, dan hidup tanpa aturan. 

Ralph, Piggy, dan beberapa littluns yang tersisa mencoba mempertahankan api dan peradaban. Tapi mereka kalah jumlah, kalah kekuatan, kalah semangat. 

Suatu malam, suku Jack menyerang. Mereka mencuri kacamata Piggy—satu-satunya cara menyalakan api. 

Tanpa kacamata, Piggy hampir buta sepenuhnya. Tanpa kacamata, Ralph tidak bisa membuat api sinyal. Tidak ada harapan penyelamatan. 

Konfrontasi di Castle Rock 

Ralph, Piggy, dan Sam-Eric (kembar yang masih setia) pergi ke Castle Rock—benteng Jack—untuk meminta kacamata kembali. 

Piggy membawa kerang—simbol terakhir dari peradaban mereka. 

"Kalian harus dengarkan aku!" teriak Piggy, memegang kerang tinggi-tinggi. "Kerang masih berarti sesuatu!" 

Jack dan sukunya mengejek. "Kerang tidak berarti apa-apa di sini! Ini wilayah kami!" 

Ralph mencoba beralasan. "Jack, kembalikan kacamata. Kita bisa berbagi api. Kita tidak harus musuhan." 

Tapi Jack sudah jauh melewati akal sehat. "Kalian bukan bagian dari suku kami. Kalian bukan siapa-siapa!" 

Piggy berteriak dengan frustasi: "Mana yang lebih baik—punya aturan dan setuju, atau berburu dan membunuh?" 

Pada saat itu, Roger—anak yang selalu punya kekerasan tersembunyi—mendorong batu besar dari tebing. 

Batu itu menghantam Piggy. 

Kerang di tangannya hancur berkeping-keping. 

Tubuhnya jatuh dari tebing, menghantam batu di bawah, kepala pecah.

Piggy mati. Kerang hancur. Peradaban berakhir.

 


Bagian 11: Perburuan Ralph—Prey Terakhir

Satu-Satunya Target 

Sekarang hanya Ralph yang tersisa. Sam dan Eric ditangkap, dipaksa bergabung dengan suku Jack. 

Jack mengumumkan: "Besok kita berburu Ralph. Seperti babi." 

Ini bukan permainan lagi. Ini pembunuhan yang direncanakan. 

Ralph bersembunyi di hutan, sendirian, takut, putus asa. Dia tidak mengerti bagaimana semuanya sampai begini. Beberapa minggu lalu mereka adalah anak sekolah yang sopan. Sekarang mereka pemburu darah. 

Api Kehancuran 

Keesokan harinya, mereka berburu Ralph dengan tombak, anjing-hutan, dan api. 

Jack memerintahkan untuk membakar seluruh pulau—untuk memaksa Ralph keluar dari persembunyiannya. 

Api menyebar. Hutan yang indah terbakar. Asap hitam tebal naik ke langit. 

Ralph berlari, jatuh, bangkit lagi, berlari. Mereka hampir menangkapnya berkali-kali. Dia bisa mendengar teriakan mereka: "Bunuh babi! Potong lehernya! Tumpahkan darahnya!" 

Tapi kali ini, Ralph adalah babinya. 

Dia berlari ke pantai, tidak punya tempat lagi untuk lari, bersiap untuk mati—

Dan dia melihat sepatu bot. 

Dia mendongak. 

Seorang perwira angkatan laut Inggris berdiri di sana, seragam putih sempurna, wajah bingung.

Kapal perang melihat asap api dan datang menyelidiki.

 


Bagian 12: Penyelamatan—Terlambat untuk Kepolosan

"Kami Hanya Bermain" 

Perwira itu melihat anak-anak—wajah dicat, tombak di tangan, Ralph yang berdarah dan kotor.

"Demi Tuhan, apa yang terjadi di sini?" tanya perwira dengan shock. 

Jack dan para pemburu berdiri di sana, topeng cat mereka tiba-tiba tampak konyol di hadapan orang dewasa. Tombak mereka seperti mainan. 

"Tidak ada orang dewasa di pulau ini?" tanya perwira. 

"Tidak, pak," jawab Ralph pelan. 

"Kalian anak-anak Inggris, kan? Saya harap kalian bertindak lebih baik dari ini. Seperti dalam buku... 'Swiss Family Robinson' atau semacamnya. Permainan yang menyenangkan, membangun shelter, bekerja sama..." 

Ralph menatapnya. Permainan? Ini bukan permainan. 

"Kami mencoba," bisik Ralph. "Pada awalnya, kami mencoba. Tapi kemudian..." 

Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Karena bagaimana Anda menjelaskan pada orang dewasa bahwa peradaban sangat rapuh? Bahwa dalam beberapa minggu, anak-anak sopan bisa menjadi pembunuh? 

Menangis untuk Kehilangan 

Ralph mulai menangis. Tidak bisa berhenti. 

Dia menangis untuk Piggy—orang cerdas yang tidak ada yang dengarkan.

Dia menangis untuk Simon—satu-satunya orang yang melihat kebenaran. 

Dia menangis untuk kepolosan yang hilang—pengetahuan bahwa mereka mampu membunuh, bahwa ada kegelapan dalam diri mereka semua. 

Anak-anak lain mulai menangis juga. Bahkan Jack dan para pemburu—tanpa topeng cat mereka, mereka hanya anak-anak kecil yang ketakutan, menyadari apa yang telah mereka lakukan. 

Perwira itu berbalik, merasa tidak nyaman dengan tangisan mereka. 

Di kejauhan, kapal perang menunggu—instrumen perang dan kematian dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan anak-anak ini.

Karena itulah ironi terakhir: mereka diselamatkan oleh perang yang lebih besar. Peradaban dewasa yang menyelamatkan mereka sama barbar dan kejamnya—hanya dengan teknologi yang lebih canggih.

 


Penutup: Beast yang Kita Bawa 

William Golding menulis buku ini dengan satu tesis yang brutal: 

Peradaban adalah lapisan tipis. Di bawahnya adalah kebiadaban. Dan kita semua membawa "Beast" dalam diri kita. 

Mengapa Anak-anak? 

Golding menggunakan anak-anak bukan karena mereka secara alami jahat, tetapi untuk menunjukkan bahwa bahkan yang paling polos pun bisa terkorupsi. 

Jika anak-anak—tanpa prasangka sejarah, tanpa dendam politik, tanpa keserakahan material yang kompleks—bisa menjadi pembunuh dalam beberapa minggu, apa yang bisa kita harapkan dari orang dewasa? 

Simbol yang Mengerikan 

Kerang = Demokrasi, aturan, peradaban. Ketika hancur, peradaban berakhir. 

Api = Harapan penyelamatan, tapi juga kehancuran. Api yang menyelamatkan mereka adalah api yang membakar pulau. 

Kacamata Piggy = Ilmu pengetahuan, akal sehat. Dicuri oleh kebiadaban. 

Lord of the Flies (Kepala Babi) = Iblis, kejahatan, Beast yang sebenarnya—bagian gelap dari jiwa manusia. 

Cat Wajah = Topeng yang membebaskan kita dari malu, memungkinkan kita melakukan hal-hal yang tidak akan kita lakukan dengan wajah terbuka. 

Simon = Profet, kebenaran, pengorbanan. Selalu diabaikan, selalu dibunuh.

Piggy = Intelektual, rasionalitas yang tidak populer. Dikucilkan, diejek, akhirnya dibunuh.

Jack = Otoritarianisme, kekuatan brute, karisma yang berbahaya. 

Ralph = Demokrasi yang berusaha baik tapi lemah tanpa dukungan.

 


Pelajaran yang Masih Menghantui 

1. Peradaban Adalah Pilihan yang Harus Dijaga Setiap Hari 

Peradaban bukan keadaan alami. Itu adalah pencapaian yang rapuh, yang harus dipelihara dengan usaha konstan. 

Ketika anak-anak berhenti menjaga api, berhenti membangun shelter, berhenti menghormati kerang—peradaban runtuh. 

Pelajaran: Institusi demokratis, aturan hukum, hak asasi manusia—semua ini harus dijaga aktif. Complacency membunuh peradaban. 

2. Ketakutan Menciptakan Monster 

The Beast tidak pernah ada. Tapi ketakutan mereka terhadapnya nyata—dan ketakutan itu menciptakan kekacauan. 

Ketakutan membuat mereka berkelompok di sekitar Jack, yang menjanjikan perlindungan melalui kekerasan. 

Pelajaran: Pemimpin otoritarian berkuasa dengan mengeksploitasi ketakutan. Mereka menciptakan musuh (nyata atau imajiner) dan menjanjikan keamanan dalam pertukaran untuk kebebasan. 

3. Intelektual Sering Diabaikan Sampai Terlambat 

Piggy selalu benar. Dia memahami apa yang perlu dilakukan. Tapi tidak ada yang mendengarkan karena dia gemuk, berkacamata, tidak keren, tidak karismatik. 

Simon melihat kebenaran—bahwa monster adalah dalam diri mereka—tapi dibunuh karena kebenaran itu tidak nyaman. 

Pelajaran: Kita sering mengabaikan kebijaksanaan yang tidak populer demi karisma yang menyenangkan. Dan kita membayar harganya. 

4. Kekerasan Adalah Jalur Paling Mudah 

Lebih mudah berburu daripada membangun shelter. Lebih mudah membunuh daripada berpikir. Lebih mudah mengikuti pemimpin kuat daripada membuat keputusan sendiri. 

Pelajaran: Kebiadaban selalu lebih mudah dari peradaban. Itulah mengapa peradaban membutuhkan disiplin, aturan, dan pengorbanan. 

5. Kita Semua Mampu Melakukan Kejahatan

Bahkan Ralph—pemimpin yang baik, anak yang rasional—terlibat dalam pembunuhan Simon.

Bahkan Sam dan Eric—anak-anak yang setia—akhirnya bergabung dengan Jack.

Dalam kondisi yang tepat, kita semua bisa menjadi pemburu. Kita semua bisa membunuh. 

Pelajaran: Jangan pernah berpikir "Aku tidak akan melakukan itu." Dalam kondisi yang tepat—kelompok tekanan, ketakutan, kelaparan, kekuasaan—kita semua mampu melakukan hal yang mengerikan.

 


Pertanyaan untuk Anda 

William Golding bukan pesimis tanpa harapan. Dia hanya realis yang brutal. 

Dia tidak mengatakan peradaban mustahil. Dia mengatakan peradaban membutuhkan kerja keras, kewaspadaan, dan keberanian untuk melawan sifat terburuk kita. 

Jadi pertanyaannya untuk Anda: 

Apa "kerang" dalam hidup Anda yang Anda hormati? Aturan, nilai, prinsip apa yang menjaga Anda tetap beradab? 

Siapa "Piggy" dalam hidup Anda yang Anda abaikan? Suara akal sehat yang tidak populer tapi benar? 

Apa "Beast" dalam diri Anda? Ketakutan, kebencian, keinginan untuk kekuasaan apa yang Anda bawa? 

Apakah Anda menjaga "api"? Atau Anda membiarkannya padam karena berburu lebih menyenangkan daripada tanggung jawab? 

Pulau dalam buku ini adalah metafora untuk dunia kita. Dan pertanyaan Golding masih bergema: 

Ketika peradaban diuji, akankah kita berdiri untuk aturan dan kemanusiaan—atau apakah kita akan mengambil tombak dan cat wajah kita?

 


Tentang Buku Asli 

"Lord of the Flies" diterbitkan pada tahun 1954, kurang dari 10 tahun setelah Perang Dunia II dan Holocaust. 

William Golding adalah veteran perang yang melihat langsung kekejaman yang bisa dilakukan manusia "beradab." Pengalamannya di perang membentuk pandangannya yang gelap tentang sifat manusia. 

Buku ini ditolak oleh 21 penerbit sebelum akhirnya diterbitkan. Sekarang dianggap sebagai salah satu novel paling penting abad ke-20, diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. 

Golding memenangkan Nobel Prize untuk Sastra tahun 1983, sebagian besar karena buku ini. 

Novel ini pendek—sekitar 200 halaman—tapi setiap halaman penuh dengan simbol, tema, dan kebenaran yang tidak nyaman. 

Ringkasan ini menangkap plot dan pelajaran utama, tetapi untuk benar-benar merasakan kekuatan penulisan Golding—cara dia membangun ketegangan, menciptakan simbol yang menghantui, dan mengungkap kegelapan bertahap—Anda harus membaca buku aslinya. 

Sekarang pergilah dan bacalah. Bukan karena mudah. Tapi karena penting.

Karena seperti yang ditulis Golding: 

"Mungkin ada Beast... mungkin itu hanya kita." 

Dan satu-satunya cara melawan Beast adalah dengan mengenalinya—dalam diri kita sendiri dan dalam masyarakat kita—dan memilih, setiap hari, untuk menjaga api peradaban tetap menyala. 

Bahkan ketika berburu tampak lebih mudah.