The Anarchy

William Dalrymple


Perampokan Terbesar dalam Sejarah 

Bayangkan ini: Sebuah perusahaan swasta—bukan negara, bukan kerajaan, bukan imperium—menguasai wilayah yang lebih besar dari Eropa Barat. 

Perusahaan ini memiliki tentara pribadi yang lebih besar dari tentara Inggris. Perusahaan ini mencetak uang sendiri. Perusahaan ini mendeklarasikan perang dan damai. Perusahaan ini menggulingkan raja-raja dan memasang boneka sebagai gantinya. 

Perusahaan ini menghasilkan keuntungan yang setara dengan separuh GDP Inggris—dengan cara merampok, memeras, dan menciptakan kelaparan yang membunuh jutaan orang. 

Ini bukan fiksi distopia. Ini adalah sejarah nyata. 

Nama perusahaan itu: East India Company. 

Pada puncak kekuasaannya di awal abad ke-19, East India Company menguasai hampir seluruh anak benua India—wilayah dengan populasi lebih besar dari seluruh Eropa—dengan tentara pribadi sejumlah 200.000 tentara. 

Bandingkan: Tentara keseluruhan Inggris saat itu hanya 95.000 orang. 

Perusahaan yang dimulai sebagai pedagang lada dan rempah-rempah berubah menjadi kekuatan militer paling mengerikan di Asia. Dan dalam prosesnya, mereka melakukan apa yang William Dalrymple sebut sebagai "perampokan korporat terbesar dan paling merusak dalam sejarah." 

Bagaimana sebuah perusahaan dagang bisa menjadi penguasa imperium? Bagaimana sekelompok pedagang Inggris mengalahkan kerajaan-kerajaan yang telah berdiri selama berabad-abad? 

Dan yang paling penting: Apa yang bisa kita pelajari dari kejatuhan India yang bisa mencegah sejarah berulang hari ini?

Mari kita masuki periode paling kelam dalam sejarah India — periode yang disebut "The Anarchy."

 


Bagian 1: India Sebelum Perusahaan—Kekayaan yang Tak Terbayangkan 

Kekaisaran Mughal di Puncak Kejayaan 

Tahun 1700. India di bawah Kekaisaran Mughal adalah ekonomi terbesar di dunia—menghasilkan 27% dari GDP global. 

Lebih besar dari Eropa. Lebih besar dari China. Lebih kaya dari apa pun yang bisa dibayangkan pedagang Eropa. 

Istana Mughal di Delhi adalah pusat kemewahan yang tak tertandingi. Peacock Throne—tahta Kaisar Mughal—dilapisi emas murni, dihiasi dengan berlian sebesar telur burung, permata safir dan zamrud. Nilainya setara dengan miliaran dolar hari ini. 

Tekstil India—muslin halus yang tembus pandang, sutra yang berkilau, kain katun yang sempurna—diinginkan di seluruh dunia. Bahkan kata "calico" dan "chintz" berasal dari nama kota-kota India. 

Tapi kekayaan ini bukan hanya di istana. India adalah pusat manufaktur global. Dari desa-desa Bengal hingga bengkel-bengkel Gujarat, jutaan pengrajin menghasilkan produk yang diekspor ke seluruh dunia. 

Seperti yang ditulis Dalrymple: "India adalah China abad ke-18—pabrik dunia."

East India Company—Pedagang Kecil dengan Ambisi Besar 

East India Company (EIC) tiba di India pada awal 1600-an—bukan sebagai penakluk, tetapi sebagai pengemis. 

Mereka meminta izin dari Kaisar Mughal untuk berdagang. Mereka membungkuk. Mereka membawa hadiah. Mereka berjanji setia. 

Dan pada awalnya, itulah yang mereka lakukan—berdagang. Membeli rempah-rempah, tekstil, dan teh. Menjualnya kembali di Eropa dengan keuntungan besar. 

Tapi ada masalah: India tidak membutuhkan apa pun dari Eropa. 

India memproduksi barang yang lebih baik dan lebih murah. Jadi EIC harus membayar dengan perak—perak yang harus mereka kapalkan dari Amerika Latin dalam jumlah raksasa. 

Ini adalah perdagangan yang menguras. Dan EIC mulai berpikir: Bagaimana jika kita tidak perlu membayar sama sekali? 

Bagaimana jika, alih-alih berdagang, kita mengambil?

 


Bagian 2: Kekacauan—Ketika Imperium Runtuh

Kematian Aurangzeb—Awal dari Kehancuran 

1707. Kaisar Aurangzeb—penguasa terakhir yang kuat dari Mughal—meninggal setelah memerintah selama hampir 50 tahun. 

Yang terjadi selanjutnya adalah chaos. 

Putra dan cucu Aurangzeb berkelahi untuk tahta. Gubernur provinsi mendeklarasikan kemerdekaan. Jenderal menjadi raja lokal. Aliansi terbentuk dan hancur dalam hitungan bulan. 

India terpecah menjadi puluhan kerajaan kecil yang saling berperang—Maratha, Mysore, Bengal, Awadh, Hyderabad, dan lusinan lainnya. 

Kekaisaran Mughal masih ada di atas kertas. Kaisar masih duduk di Delhi. Tapi mereka adalah boneka tanpa kekuasaan, dikontrol oleh siapa pun yang cukup kuat untuk menduduki istana. 

Dalrymple menyebutnya "The Anarchy"—periode kekacauan politik yang membuka pintu bagi East India Company. 

Dan EIC—yang selama ini menunggu di pinggiran—melihat kesempatan.

Robert Clive—Pria yang Mengubah Segalanya 

Di sinilah masuk salah satu karakter paling kontroversial dalam sejarah: Robert Clive. 

Clive tiba di India sebagai pegawai rendah EIC pada usia 18 tahun. Dia bukan aristokrat. Bukan jenderal terlatih. Bahkan bukan pedagang yang cakap. 

Tapi dia brilian dalam dua hal: kekerasan dan tipu daya. 

Pada 1757, Clive mendapat kesempatan untuk mengubah sejarah. Nawab Bengal—penguasa muda bernama Siraj ud-Daulah—melakukan kesalahan menyerang pos perdagangan EIC di Calcutta. 

Clive merespons dengan membentuk aliansi rahasia dengan bangsawan Bengali yang ingin menggulingkan Nawab mereka sendiri—khususnya Mir Jafar, komandan militer Siraj. 

Deal sederhana: Bantu kami mengalahkan Siraj, dan kami akan membuatmu menjadi Nawab.

Battle of Plassey—Kemenangan Melalui Pengkhianatan 

23 Juni 1757. Di dataran Plassey, Bengal, pasukan Clive—hanya 3.000 orang—menghadapi tentara Nawab Siraj yang berjumlah 50.000.

Secara matematis, ini adalah pembantaian yang pasti. EIC seharusnya hancur.

Tapi tidak ada pertempuran yang sebenarnya. 

Mir Jafar—yang telah disuap oleh Clive—memerintahkan pasukannya untuk tidak bertempur. Kebanyakan tentara Siraj hanya berdiri dan menonton sementara artileri EIC membombardir mereka. 

Siraj melarikan diri. Dia ditangkap beberapa hari kemudian dan dibunuh oleh putra Mir Jafar.

Mir Jafar dipasang sebagai Nawab baru—boneka EIC. 

Dan sebagai "hadiah" untuk kemenangannya, EIC mengklaim £2.5 juta dari perbendaharaan Bengal (setara dengan miliaran dolar hari ini) ditambah hak pajak atas seluruh wilayah. 

Dalrymple menulis: "Plassey bukan pertempuran. Ini adalah transaksi bisnis—dan India adalah yang dibeli."

 


Bagian 3: Penjarahan Bengal—Kelaparan yang Diciptakan 

Diwani—Hak untuk Memeras 

1765. EIC mendapat Diwani—hak untuk mengumpulkan pajak dari Bengal, Bihar, dan Orissa. 

Ini bukan sekadar kontrak perdagangan. Ini adalah transfer kekuasaan penuh atas salah satu wilayah terkaya di dunia—wilayah dengan 30 juta penduduk. 

Dan EIC menggunakannya untuk satu tujuan: mengekstrak kekayaan sebanyak mungkin, secepat mungkin. 

Mereka menaikkan pajak hingga level yang tidak berkelanjutan—petani harus memberikan hingga 50-60% dari hasil panen mereka. 

Mereka memaksa petani untuk menanam tanaman komersial (opium, indigo) alih-alih makanan. 

Mereka menghancurkan industri tekstil lokal dengan memotong jari-jari penenun agar mereka tidak bisa bersaing dengan tekstil buatan mesin dari Lancashire. 

The Great Bengal Famine—10 Juta Mati 

1770. Bengal—dulu lumbung pangan India—mengalami kelaparan terburuk dalam sejarah. 

Panen gagal karena kekeringan. Tapi kekeringan sendiri tidak cukup untuk menciptakan kelaparan massal. Yang menciptakan kelaparan adalah kebijakan EIC. 

Sementara jutaan orang kelaparan, EIC tetap memaksa pembayaran pajak penuh. Tidak ada pengurangan. Tidak ada keringanan. 

Petani yang tidak bisa membayar? Tanah mereka disita. Mereka dijual sebagai budak. Keluarga mereka mati kelaparan. 

EIC bahkan memanfaatkan kelaparan—mereka membeli beras dengan harga murah dari daerah yang masih punya makanan, lalu menjualnya dengan harga tinggi di daerah yang kelaparan. 

Hasilnya? Sepertiga populasi Bengal mati—sekitar 10 juta orang. 

Tapi keuntungan EIC? Naik. 

Seperti yang ditulis Dalrymple dengan pahit: "East India Company tidak belajar mengelola wilayah. Mereka hanya belajar bagaimana memerasnya sampai kering."

 


Bagian 4: Perang Tanpa Akhir—Ekspansi Brutal

Mysore—Melawan Harimau 

Tidak semua kerajaan India menyerah tanpa perlawanan. Yang paling tangguh adalah Mysore, di bawah kepemimpinan Hyder Ali dan putranya, Tipu Sultan. 

Tipu Sultan—yang dikenal sebagai "Tiger of Mysore"—adalah pemimpin yang brilian dan visioner. Dia memodernisasi tentaranya dengan roket (yang kemudian menginspirasi roket Congreve Inggris). Dia membangun aliansi dengan Prancis. Dia menolak untuk tunduk pada EIC. 

Dan dia hampir menang. 

Dalam beberapa perang, pasukan Mysore menghancurkan tentara EIC. Mereka mengepung benteng-benteng Inggris. Mereka membuat EIC hampir bangkrut. 

Tapi pada akhirnya, superioritas finansial EIC menang. Mereka bisa menyewa lebih banyak tentara. Membeli lebih banyak pengkhianat. Bertempur lebih lama. 

1799. Dalam pengepungan terakhir di Seringapatam, Tipu Sultan terbunuh. Kerajaan Mysore hancur. Harta istana—termasuk tahta emas Tipu—dijarah. 

Warren Hastings, Gubernur Jenderal EIC, menulis dengan bangga: "Kami telah menghancurkan satu-satunya musuh yang berani melawan kami." 

Maratha—Perang yang Tidak Pernah Berakhir 

Konfederasi Maratha—yang pernah menjadi kekuatan dominan di India setelah runtuhnya Mughal—adalah musuh terakhir yang berdiri di jalan EIC. 

Tapi Maratha juga terpecah oleh konflik internal. Lima keluarga bangsawan yang berbeda—masing-masing dengan tentara sendiri—sering berperang satu sama lain. 

EIC mengeksploitasi perpecahan ini. Mereka membuat aliansi dengan satu faksi untuk melawan faksi lain. Mereka menyuap jenderal. Mereka memecah belah dan menaklukkan. 

Pada 1818, setelah puluhan tahun perang berdarah, Maratha akhirnya dikalahkan. 

India—dari Bengal di timur hingga Punjab di barat—sekarang sepenuhnya di bawah kontrol East India Company.

 


Bagian 5: Anatomi Perampokan Korporat 

Bagaimana Perusahaan Mengalahkan Kerajaan? 

Ini adalah pertanyaan yang membingungkan: Bagaimana sekelompok pedagang dari sebuah pulau kecil di Eropa bisa mengalahkan peradaban yang telah ada selama ribuan tahun? 

Dalrymple mengidentifikasi beberapa faktor kunci: 

1. Teknologi Militer yang Lebih Baik 

Tentara EIC—meskipun sebagian besar adalah prajurit India (sepoy)—dilatih dengan disiplin Eropa. Mereka punya artileri yang lebih akurat. Taktik yang lebih terkoordinasi. 

Tapi ini bukan perbedaan yang menentukan. Banyak kerajaan India juga punya teknologi serupa. 

2. Keuangan yang Tak Terbatas 

Inilah keuntungan sesungguhnya EIC: akses ke modal. 

Sebagai perusahaan publik dengan saham yang diperdagangkan di London Stock Exchange, EIC bisa mengumpulkan uang dalam jumlah yang tidak mungkin didapat oleh kerajaan tradisional. 

Mereka bisa meminjam untuk perang. Membayar tentara bayaran. Menyuap musuh. Dan ketika mereka menang, mereka menggunakan hasil jarahan untuk membayar hutang—lalu meminjam lagi untuk perang berikutnya. 

Ini adalah siklus kekerasan yang didanai oleh kapitalisme. 

3. Ketiadaan Moral 

Kerajaan-kerajaan India—meskipun sering brutal—memiliki kode etik tertentu. Ada aturan tentang perang. Ada batasan tentang bagaimana memperlakukan warga sipil. 

EIC tidak punya batasan seperti itu. Mereka adalah perusahaan swasta yang hanya peduli pada profit

Jika membakar desa meningkatkan keuntungan, mereka membakar desa. Jika menciptakan kelaparan menghasilkan pajak lebih banyak, mereka menciptakan kelaparan. 

Seperti yang ditulis Dalrymple: "EIC tidak punya jiwa untuk diselamatkan dan tidak punya tubuh untuk dipenjara." 

Direktur di London—Tidak Melihat Darah

Yang membuat ini lebih mengerikan adalah jarak

Para direktur EIC di London—pria-pria kaya yang makan malam mewah dan tidur di rumah nyaman—tidak pernah melihat kehancuran yang mereka ciptakan. 

Mereka hanya melihat angka di laporan keuangan. Keuntungan yang terus naik. Dividen yang terus bertambah. 

Jutaan yang mati di Bengal? Itu hanya "biaya operasional." 

Kerajaan yang dihancurkan? Itu "ekspansi pasar." 

Ini adalah banality of evil dalam bentuk korporat—kejahatan besar yang dilakukan oleh orang-orang biasa yang tidak pernah melihat korbannya.

 


Bagian 6: Akhir dari Perusahaan—Tapi Bukan Kolonialisme 

Pemberontakan 1857—Titik Balik 

Pada 1857, kekejaman EIC akhirnya memicu pemberontakan massal—yang disebut oleh Inggris "Indian Mutiny" dan oleh India "First War of Independence." 

Tentara sepoy (prajurit India yang bekerja untuk EIC) memberontak. Mereka membunuh perwira Inggris. Mereka mengepung kota-kota. Untuk sementara waktu, tampaknya EIC akan jatuh. 

Tapi pemberontakan dihancurkan dengan kekerasan yang mengerikan. Desa-desa dihukum kolektif—semua pria dewasa dibunuh. Pemimpin pemberontak ditembak dari meriam (diikat di depan mulut meriam dan diledakkan). 

Namun, pemberontakan mengubah satu hal penting: pemerintah Inggris menyadari bahwa EIC terlalu berbahaya untuk dibiarkan berkuasa. 

Pada 1858, Kerajaan Inggris mengambil alih India langsung dari East India Company. EIC dibubarkan. 

Tapi ini bukan kemenangan untuk India. Ini hanya pergantian tuan—dari perusahaan swasta ke imperium negara. 

Kolonialisme berlanjut selama 90 tahun lagi. 

Warisan yang Hancur 

Ketika Inggris akhirnya meninggalkan India pada 1947, mereka meninggalkan negara yang hancur total: 

Ekonomi: India yang pernah menghasilkan 27% GDP dunia sekarang hanya 3%. Dari ekonomi terbesar menjadi salah satu yang termiskin. 

Industri: Industri tekstil yang pernah menjadi kebanggaan dunia dihancurkan. India berubah dari eksportir menjadi importir. 

Infrastruktur: Rel kereta api dibangun—bukan untuk India, tetapi untuk mengangkut bahan mentah ke pelabuhan Inggris. 

Kelaparan: Puluhan juta orang mati dalam kelaparan yang diciptakan oleh kebijakan kolonial. 

Seperti yang ditulis ekonom India Angus Maddison: "Tidak ada contoh lain dalam sejarah ekonomi dari de-industrialisasi yang begitu dramatis."

 


Bagian 7: Pelajaran untuk Hari Ini 

1. Korporasi Tanpa Akuntabilitas Adalah Bahaya 

East India Company adalah contoh ekstrem dari apa yang terjadi ketika korporasi mendapat kekuasaan tanpa pengawasan. 

Mereka punya tentara pribadi. Mereka membuat hukum sendiri. Mereka tidak bertanggung jawab kepada siapa pun kecuali pemegang saham. 

Pelajaran: Korporasi—tidak peduli seberapa kuat—harus tetap akuntabel kepada masyarakat. Profit tidak boleh menjadi satu-satunya nilai. 

2. Divide and Conquer Selalu Bekerja 

EIC tidak pernah cukup kuat untuk mengalahkan India yang bersatu. Tapi India tidak pernah bersatu. 

Mereka mengeksploitasi perpecahan—antara Hindu dan Muslim, antara kerajaan yang bersaing, antara kasta yang berbeda. 

Pelajaran: Perpecahan membuat kita rentan. Persatuan adalah kekuatan—bukan hanya slogan, tetapi kebutuhan survival. 

3. Teknologi Bukan Jaminan Keunggulan 

India punya teknologi militer yang canggih. Mereka punya kekayaan. Mereka punya populasi besar. 

Tapi mereka kalah karena organisasi yang lebih baik dan akses ke modal yang lebih besar. 

Pelajaran: Kekuatan sejati bukan hanya teknologi, tetapi sistem—sistem keuangan, sistem organisasi, sistem yang memungkinkan mobilisasi sumber daya dengan cepat. 

4. Sejarah Ditulis oleh Pemenang—Tapi Kebenaran Tetap Penting 

Selama berabad-abad, sejarah kolonialisme ditulis dari perspektif Inggris. EIC digambarkan sebagai pembawa peradaban. Pemberontakan digambarkan sebagai "mutiny." 

Tapi kebenaran—seperti yang diungkapkan Dalrymple—jauh lebih gelap. 

Pelajaran: Kita harus terus menggali dan menceritakan ulang sejarah dari perspektif yang benar—terutama perspektif korban. 

5. Kapitalisme Tanpa Etika Adalah Perampokan

EIC beroperasi dengan logika kapitalisme yang paling murni: maksimalkan profit, tidak peduli biayanya. 

Hasilnya? Jutaan mati. Peradaban hancur. Kekayaan ditransfer dari yang miskin ke yang kaya. 

Pelajaran: Ekonomi pasar perlu dibatasi oleh etika, hukum, dan komitmen pada kemanusiaan. Tanpa itu, kapitalisme menjadi perampokan yang terlegitimasi.

 


Penutup: Hantu Perusahaan yang Masih Berkeliaran

William Dalrymple menutup "The Anarchy" dengan peringatan: 

"East India Company mungkin telah mati, tapi model yang mereka ciptakan—perusahaan swasta yang lebih kuat dari negara—masih hidup." 

Hari ini, kita melihat korporasi dengan kapitalisasi pasar lebih besar dari GDP banyak negara. Kita melihat perusahaan teknologi yang mengontrol informasi miliaran orang. Kita melihat perusahaan yang membayar pajak lebih sedikit daripada guru sekolah sambil menghasilkan miliaran. 

Sejarah tidak berulang persis. Tapi ia berima. 

Dan jika kita tidak mempelajari pelajaran dari The Anarchy, kita mungkin menemukan diri kita hidup di dunia di mana—sekali lagi—korporasi lebih kuat daripada pemerintah, profit lebih penting daripada manusia, dan keserakahan tidak terbatas. 

Pertanyaan untuk Anda: 

● Siapa yang benar-benar berkuasa di dunia hari ini—pemerintah atau korporasi?

● Apakah kita rela mengorbankan kedaulatan demi kenyamanan? 

● Ketika perusahaan teknologi tahu lebih banyak tentang Anda daripada negara Anda, apakah itu bukan bentuk baru dari kolonialisme? 

East India Company dimulai dengan meminta izin untuk berdagang. 

Mereka berakhir dengan menguasai sebuah benua. 

Jangan biarkan sejarah berulang.

 


Tentang Buku Asli 

"The Anarchy: The Relentless Rise of the East India Company" diterbitkan pada 2019 oleh William Dalrymple, sejarawan dan penulis yang tinggal di India selama lebih dari 30 tahun. 

Dalrymple dikenal karena penulisannya yang hidup, riset yang mendalam, dan kemampuan untuk membuat sejarah terasa seperti thriller. Bukunya yang lain termasuk "White Mughals," "The Last Mughal," dan "Return of a King." 

"The Anarchy" didasarkan pada riset ekstensif dari arsip EIC, surat-surat pribadi, dan catatan India yang sebelumnya diabaikan oleh sejarawan Barat. Dalrymple menggunakan perspektif India untuk menceritakan ulang sejarah yang terlalu lama didominasi oleh narasi kolonial. 

Buku ini memenangkan Duff Cooper Prize 2020 dan masuk shortlist berbagai penghargaan literatur. 

Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas sejarah kolonialisme, detail pertempuran, karakter yang lebih nuansa, dan analisis ekonomi yang mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Dalrymple menulis dengan cara yang membuat Anda tidak bisa berhenti membaca—sejarah yang terasa seperti Game of Thrones, tapi nyata. 

Sekarang pergilah dan pertanyakan siapa yang benar-benar berkuasa—dan apa yang bisa Anda lakukan untuk memastikan kekuasaan itu tetap akuntabel. 

Karena seperti yang dibuktikan The Anarchy: Ketika kita tidak memperhatikan, kekuasaan tanpa batas akan mengambil segalanya.