Peta yang Salah
Coba buka peta dunia di kepala Anda sekarang.
Eropa di sebelah kiri. Amerika di tengah. Asia di kanan. Kutub Utara di atas. Antartika di bawah.
Ini adalah peta yang kita semua kenal. Peta yang kita pelajari di sekolah. Peta yang membuat Eropa dan Amerika terlihat besar dan penting, sementara Asia Tengah—wilayah luas dari Turki hingga China—terlihat seperti ruang kosong di tengah.
Tapi bagaimana jika peta ini salah?
Bukan salah secara geografis. Tapi salah dalam menempatkan pusat dunia.
Peter Frankopan, sejarawan Oxford, mengajukan argumen radikal: selama ribuan tahun, pusat peradaban dunia bukan Eropa—tapi Asia Tengah. Jalur perdagangan yang menghubungkan Timur dan Barat—yang kita sebut Jalur Sutra—adalah tempat di mana agama lahir, kekaisaran bangkit dan runtuh, ide-ide baru menyebar, dan takdir dunia ditentukan.
Renaisans Italia? Terjadi karena perdagangan dengan Asia.
Penemuan Amerika? Kecelakaan dalam mencari jalur lebih cepat ke Asia.
Revolusi Industri? Didanai oleh perdagangan rempah-rempah dan teh dari Timur.
Perang Dunia I dan II? Dipicu oleh perebutan kontrol atas minyak di Timur Tengah.
Bahkan hari ini, dengan Belt and Road Initiative China, Jalur Sutra kembali menjadi pusat kekuatan global.
Frankopan menulis: "Selama berabad-abad, jalur-jalur yang menghubungkan Timur dan Barat telah menjadi urat nadi planet ini—di mana keputusan tentang perang dan perdamaian, tentang hubungan diplomatik, tentang perdagangan, dibuat."
Buku ini bukan sekadar sejarah. Ini adalah koreksi terhadap cara kita melihat dunia.
Mari kita mulai perjalanan — dari Roma kuno hingga China modern — melalui jantung peradaban: Jalur Sutra.
Bagian 1: Jalan Menuju Surga—Lahirnya Jalur Sutra
Mengapa Asia Tengah?
Lihat peta lagi. Kali ini, taruh Asia Tengah di tengah.
Dari sini, Anda bisa mencapai Eropa melalui Laut Hitam. Anda bisa mencapai India melalui Afghanistan. Anda bisa mencapai China melalui Pegunungan Pamir. Anda bisa mencapai Timur Tengah melalui Persia.
Asia Tengah adalah persimpangan dunia.
Dan sejak zaman kuno, siapa pun yang mengontrol persimpangan ini mengontrol perdagangan—dan siapa pun yang mengontrol perdagangan mengontrol kekayaan.
Pada abad ke-1 Masehi, Roma adalah kekaisaran terkaya di Barat. Tapi bahkan Roma bergantung pada barang-barang dari Timur: sutra dari China, rempah-rempah dari India, kemenyan dari Arabia.
Ironisnya, orang Roma tidak tahu dari mana barang-barang ini berasal. Mereka membeli dari pedagang Persia dan Arab, yang membeli dari pedagang India, yang membeli dari pedagang China. Setiap perantara menambah harga.
Sutra—kain mewah yang hanya bisa diproduksi di China—begitu mahal di Roma sehingga beratnya dihargai sama dengan emas.
Dan apa yang diberikan Roma sebagai imbalan? Emas dan perak. Begitu banyak emas mengalir ke Timur sehingga ekonomi Roma hampir runtuh.
Pelajaran pertama dari Jalur Sutra: Timur selalu lebih kaya dari Barat.
Penyebaran Agama—Perdagangan Bukan Hanya Barang
Tapi Jalur Sutra tidak hanya memindahkan sutra dan rempah-rempah. Ia memindahkan ide.
Buddhisme lahir di India, tapi menyebar ke China melalui pedagang di Jalur Sutra. Mereka membawa tidak hanya kain dan rempah-rempah, tetapi juga manuskrip, biksu, dan ajaran.
Pada abad ke-7, agama baru muncul di Arabia: Islam. Dan ia menyebar dengan kecepatan luar biasa—tidak melalui penaklukan saja, tetapi melalui perdagangan.
Pedagang Muslim berdagang dari Spanyol hingga Indonesia. Mereka membawa Quran, membangun masjid, dan mengonversi raja-raja lokal. Dalam beberapa abad, Islam menjadi agama dominan dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara.
Mengapa Islam menyebar begitu cepat? Karena pedagang Muslim adalah salah satu pedagang terbaik di dunia. Mereka jujur (karena ajaran agama), terpercaya (karena reputasi penting untuk bisnis), dan terorganisir (dengan jaringan dari Baghdad hingga Guangzhou).
Agama mengikuti perdagangan. Dan perdagangan mengikuti uang.
Bagian 2: Kekaisaran Mongol—Globalisasi Pertama Dunia
Genghis Khan—Penakluk yang Menghubungkan Dunia
Abad ke-13. Dari stepa Mongolia, muncul sosok yang akan mengubah dunia: Genghis Khan.
Dalam satu generasi, Mongol menaklukkan wilayah terbesar dalam sejarah manusia—dari Korea hingga Polandia, dari Siberia hingga Iran. Mereka membantai kota-kota yang melawan. Mereka membangun piramida dari tengkorak musuh.
Tapi inilah yang jarang diceritakan: Mongol juga menciptakan sistem perdagangan paling aman dan efisien dalam sejarah.
Di bawah Pax Mongolica (perdamaian Mongol), pedagang bisa berjalan dari Beijing hingga Baghdad tanpa takut dirampok. Mongol membangun jalan, stasiun pos, dan sistem keamanan. Mereka menjamin perlindungan bagi pedagang—apakah Muslim, Kristen, atau Buddha tidak masalah.
Untuk pertama kalinya, barang, ide, dan orang mengalir dengan bebas dari Timur ke Barat.
Marco Polo—pedagang Venesia yang terkenal—bisa melakukan perjalanannya ke China karena Mongol. Tanpa jalan aman yang mereka ciptakan, Polo tidak akan pernah mencapai istana Kublai Khan.
Tapi Mongol membawa satu hal lain yang tidak disengaja: wabah.
Kematian Hitam—Harga Koneksi
Abad ke-14. Wabah pes—yang dikenal sebagai Kematian Hitam—menyebar dari China melalui Jalur Sutra ke Eropa.
Dalam empat tahun, wabah membunuh sepertiga populasi Eropa. Kota-kota dikosongkan. Ekonomi runtuh. Kepercayaan pada Gereja hancur (karena doa tidak menghentikan kematian).
Tapi inilah ironinya: tanpa Kematian Hitam, mungkin tidak ada Renaisans.
Mengapa? Karena wabah menciptakan kelangkaan tenaga kerja. Kelangkaan meningkatkan upah. Upah yang lebih tinggi menciptakan kelas menengah. Kelas menengah memiliki uang untuk membeli buku, seni, dan pendidikan.
Dan dari mana uang untuk Renaisans berasal? Dari perdagangan dengan Asia.
Kota-kota Italia—Venesia, Genoa, Florence—menjadi kaya dengan menjual barang Asia ke Eropa dan barang Eropa ke Asia. Medici, keluarga paling kuat di Renaisans, membangun kekayaan mereka dari perbankan dan perdagangan Asia.
Eropa tidak menciptakan Renaisans sendirian. Asia membiayainya.
Bagian 3: Zaman Penjelajahan—Mencari Jalan ke Asia
Columbus Tidak Mencari Amerika
1492. Christopher Columbus berlayar melintasi Atlantik dan "menemukan" Amerika.
Sekolah mengajarkan ini sebagai momen keberanian dan keingintahuan Eropa. Tapi mereka melewatkan satu detail penting:
Columbus tidak mencari benua baru. Dia mencari jalan lebih cepat ke Asia.
Pada abad ke-15, Kekaisaran Ottoman mengontrol jalur darat ke Asia. Mereka mengenakan pajak tinggi pada perdagangan rempah-rempah dan sutra. Eropa frustrasi—mereka ingin akses langsung ke kekayaan Asia tanpa perantara Muslim.
Jadi mereka mencari rute alternatif. Portugal berlayar mengelilingi Afrika. Spanyol membiayai Columbus untuk berlayar ke barat, berharap mencapai China dari arah berlawanan.
Columbus mati percaya dia telah mencapai "Hindia" (India). Dia tidak pernah tahu dia menemukan benua baru.
Dan ketika Eropa akhirnya menyadari apa yang mereka temukan? Mereka tidak terlalu peduli—karena Amerika tidak punya sutra, tidak punya rempah-rempah, tidak punya apa-apa yang mereka cari.
Hanya ketika mereka menemukan emas dan perak di Mexico dan Peru, Amerika menjadi penting.
Dan apa yang dilakukan Eropa dengan semua emas itu? Mereka menggunakannya untuk membeli lebih banyak barang dari Asia.
Rempah-Rempah—Lebih Berharga dari Emas
Mengapa Eropa begitu terobsesi dengan rempah-rempah?
Pertama, untuk rasa. Makanan Eropa abad pertengahan hambar. Daging sering busuk. Rempah-rempah membuat makanan lebih enak dan menutupi bau daging yang mulai basi.
Kedua, untuk status. Hanya orang kaya yang bisa membeli lada, cengkeh, dan pala. Menyajikan makanan berbumbu adalah cara menunjukkan kekayaan.
Ketiga, untuk kesehatan. Orang percaya rempah-rempah punya kekuatan medis.
Lada dari India begitu berharga sehingga dibayar butir per butir. Pala dari Maluku (Indonesia) lebih mahal dari berat yang sama dalam emas.
Belanda dan Inggris berperang selama bertahun-tahun untuk mengontrol Maluku. Pada satu titik, Belanda menukar Manhattan (kota New York sekarang) dengan Inggris untuk mendapatkan satu pulau kecil penghasil pala di Indonesia.
Manhattan ditukar dengan pulau rempah-rempah. Itulah seberapa berharga Asia.
Bagian 4: Era Kolonial—Eksploitasi Jalur Sutra
Inggris dan Candu—Perdagangan Paling Memalukan
Abad ke-19. Inggris punya masalah: mereka kecanduan teh dari China.
Setiap orang Inggris minum teh. Permintaan sangat tinggi. Tapi China hanya mau dibayar dengan perak—mereka tidak butuh apa pun dari Inggris.
Perak Inggris mengalir ke China dalam jumlah besar. Ekonomi Inggris terancam.
Jadi Inggris menemukan solusi yang jahat: menjual candu ke China.
Inggris menanam opium di India, kemudian menyelundupkannya ke China. Jutaan orang China menjadi pecandu. Ekonomi China mulai runtuh.
Ketika pemerintah China mencoba menghentikannya dengan melarang candu, Inggris menyatakan perang—Perang Candu.
Inggris menang. Dan sebagai hukuman, mereka memaksa China untuk:
● Membayar ganti rugi perang
● Membuka lebih banyak pelabuhan untuk perdagangan
● Memberikan Hong Kong kepada Inggris selama 99 tahun
Ini adalah salah satu momen paling memalukan dalam sejarah kolonialisme: negara adidaya memaksa negara lain menerima narkoba dengan kekuatan militer.
Tapi bagi Inggris, ini bisnis. Dan Jalur Sutra selalu tentang bisnis.
Permainan Besar—Rusia vs Inggris
Abad ke-19. Dua kekuatan besar bersaing untuk mengontrol Asia Tengah: Inggris dan Rusia.
Inggris mengontrol India dan takut Rusia akan menginvasi. Rusia bergerak ke selatan, menaklukkan satu kota Asia Tengah demi satu kota.
Ini disebut "The Great Game"—permainan catur geopolitik di mana Asia Tengah adalah papannya dan penduduk lokal hanya pion.
Mata-mata Inggris dan Rusia menyusup ke kota-kota terpencil. Peta dibuat. Aliansi dibentuk dan dikhianati. Perang proksi terjadi di Afghanistan, Persia, dan Tibet.
Dan ini bukan hanya tentang kekuasaan—ini tentang rute perdagangan dan sumber daya.
Siapa pun yang mengontrol Asia Tengah mengontrol jalur antara Eropa dan Asia. Dan siapa pun yang mengontrol jalur itu mengontrol perdagangan dunia.
Hari ini, permainan yang sama dimainkan lagi—tapi pemainnya berbeda: Amerika, China, dan Rusia.
Bagian 5: Minyak—Emas Hitam yang Mengubah Segalanya
Timur Tengah—Dari Pinggiran ke Pusat
Selama ribuan tahun, Timur Tengah penting karena posisinya—di antara Eropa, Asia, dan Afrika.
Tapi pada awal abad ke-20, Timur Tengah menjadi penting karena alasan baru: minyak.
1908. Inggris menemukan minyak di Persia (Iran). Mereka menyadari bahwa masa depan—kapal perang, mobil, pabrik—bergantung pada minyak, bukan batubara.
Jadi dimulailah perebutan untuk mengontrol sumber minyak.
Inggris dan Prancis membagi Timur Tengah setelah Perang Dunia I—bukan berdasarkan budaya atau sejarah, tetapi berdasarkan di mana ada minyak. Mereka menggambar garis di peta dengan penggaris: Inilah asal Iraq, Syria, Jordan.
Garis-garis itu tidak masuk akal. Mereka memotong suku. Mereka memisahkan keluarga. Mereka menciptakan negara-negara yang tidak kohesif.
Dan hingga hari ini, Timur Tengah masih menderita akibat dari garis-garis yang digambar oleh kolonialis Eropa satu abad lalu.
Perang Dunia II—Diperebutkan untuk Minyak
Mengapa Hitler menyerang Uni Soviet? Bukan hanya untuk Lebensraum (ruang hidup). Tapi untuk minyak Kaukasus.
Jerman hampir tidak punya minyak. Tanpa minyak, tank, pesawat, dan truknya tidak bisa bergerak. Jadi Hitler menginvasi Uni Soviet dengan tujuan merebut ladang minyak di Baku.
Dia gagal. Dan kegagalan itu—sebagian besar karena tidak punya cukup bahan bakar—membantu mengakhiri Reich Ketiga.
Di Pasifik, Jepang menyerang Pearl Harbor bukan karena kebencian terhadap Amerika. Tapi karena Amerika memotong pasokan minyak mereka sebagai hukuman atas invasi ke China.
Tanpa minyak, Jepang akan kalah dalam perang dengan China. Jadi mereka harus merebut ladang minyak di Indonesia (yang dikontrol Belanda).
Untuk melakukannya, mereka harus menetralkan Angkatan Laut AS terlebih dahulu. Jadi mereka menyerang Pearl Harbor.
Perang Dunia II, dalam banyak hal, adalah perang untuk minyak. Dan minyak itu ada di Jalur Sutra.
Bagian 6: Perang Dingin—Jalur Sutra sebagai Medan Pertempuran
Afghanistan—Kuburan Kekaisaran
1979. Uni Soviet menginvasi Afghanistan.
Mengapa? Karena Afghanistan adalah bagian penting dari Jalur Sutra—dan Soviet tidak ingin kehilangannya kepada pengaruh Barat.
Amerika merespons dengan mendanai mujahidin Afghanistan—pejuang gerilya yang melawan Soviet dengan senjata dan uang Amerika.
Perang berlangsung sepuluh tahun. Uni Soviet kehilangan ribuan tentara dan miliaran rubel. Perang ini menguras ekonomi Soviet dan berkontribusi pada keruntuhan USSR pada 1991.
Tapi ada konsekuensi yang tidak diinginkan: mujahidin yang didanai Amerika kemudian menjadi Taliban dan Al-Qaeda.
Pada 2001, Amerika menginvasi Afghanistan—melawan kelompok yang dulu mereka dukung.
Dan seperti Soviet, Amerika terjebak dalam perang yang tidak bisa mereka menangkan. Dua puluh tahun kemudian, pada 2021, Amerika akhirnya menarik pasukan—meninggalkan Afghanistan di tangan Taliban.
Afghanistan disebut "kuburan kekaisaran." Inggris mencobanya pada abad ke-19 dan gagal. Soviet pada abad ke-20 dan gagal. Amerika pada abad ke-21 dan gagal.
Mengapa? Karena siapa pun yang mencoba mengontrol Jalur Sutra dengan kekuatan akan kalah. Jalur Sutra terlalu luas, terlalu kompleks, terlalu tangguh.
Bagian 7: Abad ke-21—Kebangkitan Kembali Jalur Sutra
Belt and Road Initiative—China Membangun Kembali Jalur Sutra
2013. Presiden China Xi Jinping mengumumkan proyek paling ambisius di dunia: Belt and Road Initiative (BRI).
Idenya sederhana tapi brilian: membangun kembali Jalur Sutra—dengan jalan, rel kereta, pelabuhan, pipa gas—menghubungkan China ke Eropa melalui Asia Tengah.
China menginvestasikan triliunan dolar untuk:
● Membangun pelabuhan di Pakistan, Sri Lanka, dan Afrika
● Membangun kereta cepat dari China ke Eropa
● Membangun jalan raya melintasi Kazakhstan, Uzbekistan, dan Iran
● Memberikan pinjaman besar kepada negara-negara berkembang untuk infrastruktur
Mengapa? Karena China belajar dari sejarah: Siapa pun yang mengontrol jalur perdagangan mengontrol masa depan.
Dengan BRI, China menciptakan ketergantungan ekonomi. Negara-negara yang berutang kepada China akan kesulitan menentangnya. Jalur perdagangan yang melewati China membuat Eropa bergantung pada hubungan baik dengan Beijing.
Ini bukan kolonialisme gaya lama dengan tentara dan senjata. Ini kolonialisme baru: melalui utang dan infrastruktur.
Amerika, Rusia, dan Permainan Besar Baru
Amerika menyadari ancaman ini. Jadi mereka merespons dengan:
● Memperkuat aliansi dengan India, Jepang, dan Australia
● Meningkatkan kehadiran militer di Timur Tengah
● Menerapkan sanksi terhadap Iran, Rusia, dan China
Rusia juga ingin relevan. Mereka membangun pipa gas ke Eropa dan China. Mereka terlibat di Syria untuk mempertahankan akses ke Mediterania.
Dan sekali lagi—seperti pada abad ke-19, seperti pada Perang Dingin—Asia Tengah menjadi medan pertempuran untuk pengaruh global.
Bedanya: kali ini China adalah pemain dominan, bukan hanya peserta.
Minyak Masih Penting—Tapi Tidak Selamanya
Hari ini, Timur Tengah masih menghasilkan sepertiga minyak dunia. Tapi dunia sedang berubah.
Energi terbarukan—tenaga surya, angin, baterai—berkembang pesat. Mobil listrik menggantikan mobil bensin. Negara-negara berjanji mencapai net-zero emissions.
Jika dunia berhenti membutuhkan minyak, apa yang terjadi dengan Timur Tengah?
Pertanyaan ini membuat negara-negara seperti Arab Saudi panik. Jadi mereka berinvestasi besar-besaran dalam diversifikasi ekonomi—pariwisata, teknologi, keuangan.
Tapi transisi tidak akan mudah. Dan sementara itu berlangsung, minyak—dan kontrol atas jalur di mana minyak mengalir—masih menentukan takdir dunia.
Bagian 8: Pelajaran dari Jalur Sutra
1. Sejarah Bukan Milik Barat
Kita diajari bahwa peradaban dimulai di Yunani dan Roma. Bahwa Eropa membawa pencerahan ke dunia. Bahwa kemajuan selalu datang dari Barat.
Ini salah.
Sebagian besar sejarah, pusat kekuatan, kekayaan, dan inovasi adalah Asia—khususnya wilayah yang kita sebut Jalur Sutra.
Matematika (aljabar) dikembangkan di Baghdad. Kertas ditemukan di China. Sistem angka yang kita gunakan berasal dari India. Filosofi dan sains berkembang di Persia.
Eropa hanya menjadi dominan dalam beberapa abad terakhir—dan itu karena mereka belajar dari, berdagang dengan, dan akhirnya mengeksploitasi Asia.
Pelajaran: Jangan percaya narasi tunggal tentang sejarah. Selalu ada perspektif lain.
2. Perdagangan Lebih Kuat dari Perang
Kekaisaran dibangun dengan pedang. Tapi mereka bertahan dengan perdagangan.
Mongol menaklukkan setengah dunia—tapi kekaisaran mereka hanya bertahan karena mereka melindungi perdagangan. Ketika perdagangan berhenti, kekaisaran runtuh.
Inggris menguasai India dengan kekuatan militer—tapi mereka mempertahankannya dengan mengontrol perdagangan teh, kapas, dan opium.
Hari ini, China tidak membangun kekaisaran dengan tentara. Mereka membangunnya dengan jalur perdagangan, investasi, dan utang.
Pelajaran: Dalam jangka panjang, kekuatan ekonomi mengalahkan kekuatan militer.
3. Geografi Adalah Takdir
Mengapa Eropa Barat kaya dan Asia Tengah miskin hari ini?
Bukan karena orang Eropa lebih pintar atau bekerja lebih keras. Tapi karena jalur perdagangan berubah.
Ketika perdagangan global bergeser dari darat (Jalur Sutra) ke laut (pelayaran Atlantik dan Pasifik), negara dengan akses ke laut menjadi kaya. Negara yang terkunci di daratan—Kazakhstan, Uzbekistan, Afghanistan—menjadi terpinggirkan.
Tapi dengan Belt and Road Initiative China, jalur darat mungkin menjadi penting lagi. Dan negara-negara Asia Tengah bisa kembali ke posisi mereka sebagai jantung perdagangan dunia.
Pelajaran: Geografi tidak berubah. Tapi nilai geografi berubah tergantung teknologi dan politik.
4. Sumber Daya Adalah Kutukan dan Berkah
Negara dengan minyak—Iran, Iraq, Libya, Venezuela—seharusnya kaya. Tapi kebanyakan dari mereka miskin, korup, dan terjebak dalam konflik.
Mengapa? Karena sumber daya alam mengundang campur tangan asing, korupsi internal, dan ketergantungan pada satu komoditas.
Ini disebut "kutukan sumber daya": negara dengan minyak atau mineral berharga sering lebih buruk daripada negara tanpa apa-apa.
Pelajaran: Kekayaan sejati bukan dari apa yang ada di tanah, tapi dari institusi, pendidikan, dan inovasi.
5. Masa Depan Bukan Milik Barat—Lagi
Selama 500 tahun, Eropa dan kemudian Amerika mendominasi dunia. Tapi itu adalah anomali historis.
Jika Anda melihat 2000 tahun terakhir, Asia—khususnya China dan India—adalah ekonomi terbesar di dunia untuk sebagian besar waktu itu.
Abad ke-21 mungkin adalah kembalinya norma: Asia kembali ke posisinya sebagai pusat ekonomi dan politik dunia.
Dan jalur yang menghubungkan Asia ke Eropa—Jalur Sutra—sekali lagi menjadi tempat di mana masa depan ditentukan.
Pelajaran: Sejarah tidak bergerak dalam garis lurus. Apa yang naik bisa turun. Dan apa yang turun bisa naik kembali.
Penutup: Jalan yang Tidak Pernah Berakhir
Peter Frankopan menulis "The Silk Roads" untuk mengingatkan kita bahwa cerita yang kita dengar tentang sejarah sering kali cerita pemenang—dan pemenang menulis sejarah dari perspektif mereka sendiri.
Tapi ada cerita lain. Cerita yang lebih kompleks. Cerita di mana Eropa bukan pahlawan yang membawa peradaban ke dunia, tetapi salah satu pemain di panggung yang jauh lebih besar.
Jalur Sutra mengajarkan kita bahwa:
● Koneksi lebih kuat dari isolasi
● Perdagangan menciptakan perdamaian (dan kadang perang)
● Ide menyebar lebih cepat daripada tentara
● Pusat kekuasaan selalu bergerak—tidak ada yang permanen
Hari ini, kita hidup di dunia yang lebih terhubung daripada sebelumnya. Internet adalah Jalur Sutra digital. Barang, uang, ide, dan orang mengalir melintasi batas dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tapi pertanyaan yang sama tetap relevan:
● Siapa yang mengontrol jalur?
● Siapa yang mendapat manfaat dari perdagangan?
● Bagaimana kita memastikan koneksi menciptakan kemakmuran, bukan eksploitasi?
Seperti yang Frankopan tulis:
"Untuk memahami masa depan, kita harus memahami masa lalu. Dan untuk memahami masa lalu, kita harus melihat ke Timur."
Jadi lihatlah peta lagi. Tapi kali ini, taruh Asia Tengah di tengah.
Dan Anda akan melihat dunia dengan cara yang berbeda—cara yang lebih akurat, lebih adil, dan lebih lengkap.
Perjalanan panjang melalui Jalur Sutra mengajarkan kita satu hal: Jalan yang menghubungkan Timur dan Barat tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berubah bentuk.
Dan di abad ke-21, jalan itu sedang dibangun kembali.
Pertanyaannya adalah: Siapa yang akan mengendalikannya kali ini?
Tentang Buku Asli
"The Silk Roads: A New History of the World" diterbitkan pada 2015 dan langsung menjadi bestseller internasional, diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa.
Peter Frankopan adalah Direktur Oxford Centre for Byzantine Research dan Senior Research Fellow di Worcester College, Oxford. Dia adalah salah satu sejarawan paling berpengaruh di dunia, dengan keahlian khusus dalam sejarah Timur Tengah dan Asia Tengah.
Buku ini mengubah cara banyak orang melihat sejarah—dari narasi Eurocentric tradisional ke perspektif global yang lebih seimbang. Frankopan memberikan suara kepada wilayah dan peradaban yang sering diabaikan dalam buku sejarah Barat.
Pada 2018, Frankopan menerbitkan sekuel: "The New Silk Roads: The Present and Future of the World"—yang membahas bagaimana Jalur Sutra kembali menjadi pusat geopolitik di abad ke-21.
Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas sejarah global, detail perdagangan, dan analisis geopolitik yang mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. "The Silk Roads" adalah salah satu karya sejarah terpenting abad ini—karya yang mengubah perspektif tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita menuju.
Sekarang pergilah dan lihat dunia dengan mata baru—mata yang melihat Timur bukan sebagai pinggiran, tetapi sebagai pusat dari mana segalanya dimulai.
Karena seperti yang dibuktikan oleh ribuan tahun sejarah: Jalur yang menghubungkan Timur dan Barat adalah jalur yang membentuk dunia.