Between the World and Me

Ta-Nehisi Coates


Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab

Anakku, 

Kamu bertanya padaku: "Mengapa mereka selalu membunuh kita?" 

Kamu baru berusia 15 tahun ketika kamu menanyakan ini, setelah melihat berita bahwa polisi yang membunuh Michael Brown tidak akan diadili. Setelah melihat Eric Garner tercekik mati di jalanan New York, kata-kata terakhirnya—"I can't breathe"—direkam kamera, dan tetap tidak ada yang dihukum. 

Kamu melihat wajahku. Menunggu jawaban. 

Dan aku tidak bisa memberikannya. 

Bukan karena aku tidak tahu. Tapi karena jawaban sebenarnya terlalu berat untuk dijelaskan dengan kalimat sederhana. Karena jawaban sebenarnya membutuhkan pemahaman tentang berabad-abad sejarah, tentang sistem yang dibangun di atas tubuh orang-orang yang terlihat seperti kita, tentang negara yang menjanjikan kebebasan sambil membangun kekayaannya dari perbudakan. 

Jadi, alih-alih menjawab dalam satu kalimat, aku menulis surat ini. 

Surat ini adalah tentang ketakutan yang telah menghuni tubuhku sejak aku seusiamu. Tentang jalan-jalan di Baltimore di mana aku tumbuh besar, di mana kekerasan bisa datang dari polisi atau dari anak-anak lain yang sama terancamnya. Tentang bagaimana aku belajar bahwa tubuh kami—tubuh kulit hitam—tidak pernah benar-benar aman di negara ini. 

Tapi ini juga tentang keindahan yang aku temukan. Tentang Howard University, tempat di mana untuk pertama kalinya aku melihat orang kulit hitam dalam segala keragaman dan kejeniusan mereka. Tentang orang-orang yang mengajariku bahwa meskipun negara ini tidak mencintai kita, kita tetap bisa mencintai diri kita sendiri.

Ini bukan surat yang akan memberikanmu harapan palsu. Aku tidak akan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan menjanjikan bahwa Amerika akan "menjadi lebih baik." 

Tapi aku akan memberitahumu kebenaran. 

Dan kebenaran itu dimulai dengan pemahaman tentang apa yang mereka sebut "ras"—dan bagaimana konstruksi ini telah menghancurkan jutaan tubuh sambil membangun kekayaan dan kenyamanan jutaan lainnya. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Tubuh—Yang Paling Rentan 

Jalan-jalan Baltimore 

Aku tumbuh di West Baltimore pada tahun 1980-an dan 90-an. Setiap hari, ketakutan adalah pendamping konstan. 

Ketakutan bukan hanya tentang polisi—meskipun mereka selalu ada, siap menghentikanmu, menginterogasimu, mengancam tubuhmu dengan impunitas penuh. 

Ketakutan juga datang dari anak-anak lain. Di sekolahku, kekerasan adalah mata uang. Cara kamu berjalan, cara kamu melihat, cara kamu merespons ketika seseorang "menghina" kamu—semua ini bisa berarti perbedaan antara pulang dengan selamat atau dipukuli habis-habisan. 

Aku belajar aturan jalan dengan cepat: 

● Jangan terlihat lemah 

● Jangan terlihat terlalu pintar (itu juga bentuk kelemahan) 

● Selalu waspada 

● Jaga tubuhmu 

Tapi inilah yang tidak aku pahami saat itu: kekerasan antar kami bukan sifat alami kami. Ini adalah produk dari sistem yang menghancurkan tubuh kami selama berabad-abad. 

Ketika negara merampas pendidikan yang layak, pekerjaan yang bermartabat, perumahan yang aman—ketika negara secara konsisten mengatakan bahwa tubuh kami tidak bernilai—kita memutar kekerasan itu ke dalam. Kita saling menghancurkan karena dunia telah mengajarkan kita bahwa kita tidak bernilai. 

Ketakutan sebagai Warisan 

Aku ingat ketika ibuku melarangku main di luar karena ada shooting di lingkungan kami. Aku ingat bagaimana ayahku—seorang pria yang lembut, yang mencintai buku—pernah hampir memukul seorang pria yang mengancamku di jalan. Bukan karena dia violent. Tapi karena dia tahu: dalam satu detik, tubuh anaknya bisa diambil. 

Setiap orang tua kulit hitam hidup dengan ketakutan ini. Dan mereka meneruskannya dengan berbagai cara: 

● "Jaga tanganmu tetap terlihat ketika polisi menghentikan kamu" 

● "Jangan lari di toko—mereka akan pikir kamu mencuri" 

● "Bicara dengan sopan kepada polisi, bahkan ketika mereka tidak sopan"

● "Pulang sebelum gelap"

Ini bukan hanya nasihat. Ini adalah protokol bertahan hidup. 

Karena kami tahu: sistem tidak akan melindungi tubuh kami. Bahkan, sistem dirancang untuk menghancurkannya.

 


Bagian 2: The Dream—Ilusi yang Dibangun di Atas Tubuh Kami 

Rumah Sempurna, Halaman Sempurna, Kehidupan Sempurna

Ada yang namanya "The Dream" di Amerika. 

Kamu mengenalinya: rumah di suburb dengan halaman luas, pagar putih, dua mobil di garasi, anak-anak bermain sepak bola di halaman, barbecue di akhir pekan. Keamanan. Kenyamanan. Innocence. 

Orang-orang yang hidup dalam The Dream—kebanyakan orang kulit putih—percaya bahwa mereka mendapatkannya karena kerja keras. Karena nilai-nilai mereka. Karena mereka "melakukan hal yang benar." 

Tapi inilah yang mereka tidak ingin akui: The Dream dibangun di atas plunder—penjarahan sistematis terhadap tubuh dan tenaga kami. 

Perbudakan selama 250 tahun—di mana tubuh kami adalah properti, di mana hasil kerja kami diambil, di mana anak-anak kami dijual seperti ternak. 

Jim Crow selama 100 tahun setelahnya—di mana kami secara legal dianggap inferior, di mana kami tidak boleh memilih, tidak boleh memiliki properti di area "putih," tidak boleh masuk ke sekolah dan rumah sakit yang sama. 

Redlining—praktik bank menolak pinjaman kepada orang kulit hitam, mencegah kami membangun kekayaan melalui kepemilikan rumah. 

Mass incarceration—sistem yang memasukkan jutaan orang kulit hitam ke penjara untuk kejahatan kecil, menghancurkan keluarga dan komunitas. 

Policing yang brutal—di mana tubuh kami diperlakukan sebagai ancaman yang harus dikontrol dengan kekerasan. 

Semua ini bukan kecelakaan sejarah. Ini adalah fondasi di mana The Dream dibangun.

Mereka yang Percaya Diri Putih 

Anakku, aku harus memberitahumu sesuatu yang mungkin sulit dipahami: "ras" adalah konstruksi sosial. "Orang kulit putih" sebenarnya tidak ada. 

Nenek moyangku dari Afrika tidak menyebut diri mereka "hitam." Mereka adalah Yoruba, Igbo, Akan—identitas spesifik dengan budaya, bahasa, dan sejarah sendiri.

Begitu pula dengan orang-orang yang sekarang disebut "putih." Nenek moyang mereka adalah Irlandia, Italia, Polandia, Yahudi—banyak dari mereka juga ditindas ketika pertama tiba di Amerika. 

Tapi sistem diciptakan kategori "putih" dan "hitam" untuk satu tujuan: pembenaran plunder. 

Jika kamu bisa mendefinisikan sekelompok orang sebagai "inferior," kamu bisa membenarkan perbudakan mereka. Kamu bisa membenarkan mengambil tanah mereka. Kamu bisa membenarkan membayar mereka lebih sedikit. Kamu bisa membenarkan membunuh mereka tanpa konsekuensi. 

Dan jika kamu bisa mendefinisikan kelompok lain sebagai "superior," kamu bisa memberikan mereka keistimewaan kecil—bahkan ketika mereka miskin—untuk membuat mereka merasa memiliki sesuatu untuk dipertahankan. 

Sistem ini sangat brilian dalam kejahatannya.

 


Bagian 3: The Mecca—Menemukan Keindahan dalam Kita

Howard University—Tempat di mana Kami Ada 

Pada usia 18 tahun, aku tiba di Howard University di Washington DC. Tempat yang kami sebut "The Mecca." 

Ini bukan hanya karena Howard adalah universitas kulit hitam yang historis. Tapi karena di sinilah, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat kepenuhan dari siapa kami. 

Di jalanan Baltimore, aku hanya melihat satu versi kehidupan kulit hitam—perjuangan, kekerasan, bertahan hidup. 

Tapi di Howard, aku melihat: 

● Profesor brilian yang mengajar filsafat, fisika, literatur 

● Mahasiswa dari seluruh dunia—Karibia, Afrika, Amerika Latin—dengan aksen, gaya, dan cerita berbeda 

● Debat intelektual yang intens sampai larut malam 

● Seni, musik, puisi yang meluap-luap 

● Keindahan—kulit dalam setiap warna, rambut dalam setiap tekstur, tubuh dalam setiap bentuk 

Di Howard, hitam bukan satu hal. Hitam adalah spektrum tanpa batas. 

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak harus membawa ketakutan itu setiap saat. Tentu, polisi DC masih ada. Tapi di kampus Howard, di antara orang-orangku, aku bisa bernapas sedikit lebih bebas. 

The Yard—Ruang Belajar yang Sebenarnya 

Lebih dari kelas formal, pendidikan sesungguhnya terjadi di "The Yard"—area terbuka di kampus di mana mahasiswa berkumpul. 

Di sinilah aku belajar tentang sejarah yang tidak pernah diajarkan di sekolah: 

● Malcolm X dan filosofi self-defense 

● Upaya COINTELPRO untuk menghancurkan Black Panthers 

● Pembantaian di Tulsa 1921 di mana komunitas kulit hitam yang makmur dihancurkan

● Eksperimen Tuskegee di mana pemerintah membiarkan ratusan pria kulit hitam mati dari sifilis tanpa pengobatan—sebagai "penelitian" 

Di sinilah aku membaca:

● James Baldwin yang menulis tentang cinta dan kemarahan dengan keindahan yang menghancurkan 

● Toni Morrison yang mengungkapkan kedalaman pengalaman kulit hitam

● WEB Du Bois yang menganalisis sistem dengan ketajaman pisau bedah 

Di sinilah aku menemukan bahwa belajar adalah tindakan membebaskan diri. 

Setiap buku, setiap percakapan, setiap wawasan baru adalah cara untuk memahami sistem yang menindas kita—dan dengan memahami, kita mendapatkan kekuatan untuk tidak sepenuhnya dihancurkan olehnya.

 


Bagian 4: Prince Jones—Ketika The Dream Mengambil Tubuh 

Teman yang Sempurna untuk The Dream 

Di Howard, aku bertemu Prince Jones. Dia adalah segalanya yang The Dream katakan harus kita capai. 

Prince tumbuh dalam keluarga kulit hitam yang bekerja keras. Ibunya, Dr. Mable Jones, bangkit dari kemiskinan menjadi ahli radiologi yang sukses. Prince pintar, sopan, berambisi. Dia kuliah di Howard, berencana masuk sekolah kedokteran. 

Jika ada yang seharusnya "membuat sistem bekerja," itu adalah Prince.

Tapi pada tahun 2000, Prince ditembak mati oleh polisi. 

Bukan karena dia melakukan kejahatan. Polisi itu mengira dia adalah orang lain—seorang dealer narkoba. Ketika Prince pulang dari rumah tunangannya, polisi mengikutinya ke suburb Virginia, menghentikannya, dan menembaknya berkali-kali. 

Tidak ada senjata ditemukan. Prince tidak bersalah atas apapun. 

Polisi itu tidak pernah diadili. Tidak pernah dihukum. Bahkan tidak kehilangan pekerjaannya.

Kunjungan ke Dr. Mable Jones 

Bertahun-tahun setelah Prince terbunuh, aku mengunjungi ibunya. 

Dr. Mable Jones hidup dalam rumah besar dengan halaman sempurna—dia telah mencapai The Dream. Tapi anaknya hilang. 

Dalam percakapan kami, aku melihat sesuatu yang menghantui: Tidak ada jumlah pencapaian, tidak ada jumlah kekayaan, tidak ada jumlah pendidikan yang bisa melindungi tubuh kita. 

Prince melakukan segalanya dengan "benar." Dan tetap, tubuhnya diambil. 

Ini adalah pelajaran yang brutal: Sistem tidak peduli tentang kebajikan individualmu. Sistem peduli tentang pemeliharaan hierarki rasial.

 


Bagian 5: Ketakutan—Yang Tidak Pernah Hilang

"I Can't Breathe" 

Anakku, ketika kamu melihat video Eric Garner—seorang pria yang tercekik mati di jalanan Staten Island oleh polisi yang menaruhnya dalam chokehold—aku melihat sesuatu berubah dalam dirimu. 

Kamu melihat Garner mengatakan "I can't breathe" sebelas kali. Kamu melihat dia mati di video. Dan kamu melihat tidak ada yang dihukum. 

Kamu bertanya padaku: "Mengapa?" 

Dan aku harus memberitahumu: Karena sistem tidak dirancang untuk melindungi tubuh kita. Sistem dirancang untuk mengontrol tubuh kita. 

Polisi bukan "apel busuk" individu. Polisi adalah penegak sistem—sistem yang didirikan untuk mengembalikan orang yang melarikan diri dari perbudakan, yang mempertahankan segregasi, yang sekarang mengisi penjara dengan tubuh kita. 

Ketika polisi membunuh kita tanpa konsekuensi, ini bukan kegagalan sistem. Ini adalah sistem yang bekerja persis seperti yang dirancang. 

Tapi Jangan Biarkan Ketakutan Melumpuhkan 

Anakku, aku memberitahumu semua ini bukan untuk melumpuhkanmu dengan ketakutan. Tapi untuk mempersiapkanmu dengan kebenaran. 

Ketakutan itu real. Ancaman terhadap tubuhmu itu real. 

Tapi kamu juga harus tahu: 

Kita telah bertahan selama ini bukan dengan menunggu sistem mencintai kita, tapi dengan mencintai diri kita sendiri. 

Kita bertahan dengan membangun komunitas. Dengan menciptakan budaya yang luar biasa dari musik, seni, literatur. Dengan merayakan keindahan tubuh kita—kulit kita, rambut kita, cara kita bergerak dan berbicara. 

Kita bertahan dengan belajar dan bertumbuh. Dengan memahami sejarah sehingga kita tidak tertipu oleh narasi palsu. 

Kita bertahan dengan berjuang—bukan dengan ilusi bahwa kita akan "mengatasi" rasisme, tapi dengan komitmen untuk melawan setiap hari, untuk menjaga ruang di mana kita bisa hidup dengan martabat.

 


Bagian 6: Paris—Melihat dari Luar 

Melihat Amerika dari Jauh 

Aku pernah membawamu ke Paris ketika kamu masih kecil. Di sana, untuk sesaat, aku merasakan sesuatu yang aneh: tidak membawa beban "ras" dengan cara yang sama. 

Tentu, rasisme ada di Prancis. Tapi tubuhku tidak membawa sejarah yang sama. Aku bisa berjalan di jalan tanpa perhitungan konstan yang aku lakukan di Amerika. 

Dan dari jarak itu, aku bisa melihat Amerika dengan lebih jelas. 

Aku melihat bahwa Dream Amerika dibangun bukan hanya di atas perbudakan kulit hitam, tapi juga di atas pengambilan tanah dari penduduk asli, eksploitasi pekerja imigran, penghancuran lingkungan. 

Amerika adalah negara yang dibangun di atas plunder. Dan mereka yang hidup dalam The Dream tidak ingin menghadapi kebenaran ini karena akan menghancurkan narasi tentang "kerja keras" dan "kesempatan yang sama." 

Warisan yang Tidak Bisa Diubah 

Tapi anakku, bahkan dengan semua ini, ada satu hal yang tidak akan pernah aku katakan:

Aku tidak akan mengatakan "everything will be okay." 

Mungkin tidak. Mungkin Amerika tidak akan pernah benar-benar menghadapi sejarahnya. Mungkin sistem akan terus menghancurkan tubuh kita. Mungkin The Dream tidak akan pernah runtuh. 

Tapi itu bukan titik akhir dari cerita kita. 

Titik akhir adalah ini: Kita tetap di sini. Kita tetap mencintai diri kita sendiri. Kita tetap berjuang. Kita tetap menciptakan keindahan. 

Bukan karena kita percaya ada akhir yang bahagia. Tapi karena perjuangan itu sendiri adalah kehormatan.

 


Bagian 7: Pesan untuk Putraku 

Apa yang Aku Ingin Kamu Ketahui 

Samori, anakku, 

Kamu akan hidup dalam dunia yang tidak mencintai tubuhmu seperti yang aku cintai. Dunia yang akan mencoba memberitahumu bahwa kamu kurang. Dunia yang akan melihatmu sebagai ancaman sebelum melihatmu sebagai manusia. 

Tapi inilah yang aku ingin kamu ingat: 

1. Tubuhmu Berharga 

Tidak peduli apa yang sistem katakan. Tidak peduli bagaimana polisi memperlakukanmu. Tidak peduli stereotip apa yang mereka proyeksikan padamu. 

Tubuhmu—kulit coklatmu, rambutmu, cara kamu bergerak—adalah milikmu. Dan itu indah.

2. Belajar Adalah Senjatamu 

Sistem akan mencoba membatasimu secara fisik. Tapi mereka tidak bisa membatasi pikiranmu—kecuali kamu membiarkan mereka. 

Baca segala yang kamu bisa. Pelajari sejarah yang tidak mereka ajarkan di sekolah. Pahami bagaimana sistem bekerja sehingga kamu tidak tertipu oleh propaganda mereka. 

3. Jangan Percaya pada The Dream 

Jangan percaya bahwa jika kamu "bekerja keras" dan "bermain sesuai aturan," kamu akan aman. Prince Jones melakukan semua itu, dan tubuhnya tetap diambil. 

Pencapaian individu itu baik. Tapi itu tidak akan melindungimu dari sistem.

4. Bangun Komunitas 

Kamu tidak bisa bertahan sendirian. Tidak ada dari kita yang bisa. 

Temukan orang-orangmu—mereka yang memahami perjuangan ini, yang akan mendukungmu, yang akan berjuang bersamamu. 

5. Cintai Tanpa Syarat, Tapi Juga Tanpa Ilusi 

Cintai keluargamu. Cintai komunitasmu. Cintai budayamu. 

Tapi jangan cintai Amerika dengan cara yang buta. Amerika tidak mencintai kita. Dan kita tidak perlu berpura-pura bahwa itu akan berubah.

6. Perjuangan Adalah Kehormatan 

Kamu mungkin tidak akan melihat akhir dari rasisme dalam hidupmu. Mungkin anakmu juga tidak. 

Tapi perjuangan itu sendiri bermakna. Melawan ketidakadilan—bahkan ketika kamu tahu kamu mungkin tidak menang—adalah cara untuk hidup dengan martabat. 

7. Jaga Tubuhmu 

Yang paling penting: Jaga tubuhmu. Karena dalam dunia yang mencoba menghancurkannya, bertahan hidup adalah tindakan perlawanan.

 


Penutup: Kebenaran Tanpa Sentimentalitas

Anakku, 

Aku tahu surat ini tidak memberikan kenyamanan yang kamu mungkin inginkan. Tidak ada happy ending yang mudah. Tidak ada janji bahwa "everything will be okay." 

Tapi aku memberitahumu kebenaran karena kamu layak mendapatkannya. 

Kamu layak tahu bahwa ketakutan yang kamu rasakan ketika polisi menghentikan mobilmu—itu bukan paranoia. Itu adalah respons rasional terhadap sistem yang telah membunuh ribuan orang yang terlihat seperti kita tanpa konsekuensi. 

Kamu layak tahu bahwa kesuksesan individualmu, seberapa tinggi pun kamu naik, tidak akan mengubah fakta fundamental bahwa tubuhmu dilihat sebagai ancaman oleh negara ini. 

Kamu layak tahu bahwa The Dream—narasi Amerika tentang kesempatan yang sama dan keadilan untuk semua—adalah ilusi yang dibangun di atas penjarahan tubuh kita. 

Tapi kamu juga layak tahu ini: 

Kita telah membuat keindahan yang luar biasa dalam kondisi yang tidak mungkin. Dari blues yang lahir dari perbudakan, hingga jazz yang meledak dari segregasi, hingga hip-hop yang tercipta di reruntuhan kota yang ditinggalkan—kita telah mengubah penderitaan menjadi seni. 

Kita telah membangun institusi seperti Howard di mana kita bisa berkembang. Kita telah menulis literatur yang mengubah dunia. Kita telah berjuang dan mati untuk setiap inci kemajuan. 

Dan kita masih di sini. 

Itu adalah kemenangannya sendiri. 

Jadi jalani hidupmu, anakku. Jaga tubuhmu. Cari keindahan di mana kamu menemukannya. Berjuang ketika kamu harus berjuang. Dan tahu bahwa aku mencintaimu—bukan meskipun dunia ini kejam terhadapmu, tapi karena kamu telah bertahan di dalamnya. 

Dengan semua cintaku, Ayahmu

 


Tentang Buku Asli 

"Between The World And Me" diterbitkan pada tahun 2015 oleh Spiegel & Grau. Buku ini memenangkan National Book Award for Nonfiction dan menjadi New York Times bestseller. 

Ta-Nehisi Coates adalah jurnalis, penulis, dan pendidik. Dia adalah correspondent untuk The Atlantic, di mana artikelnya "The Case for Reparations" (2014) memicu diskusi nasional tentang warisan perbudakan. Dia juga menulis serial Black Panther untuk Marvel Comics dan novel pertamanya, "The Water Dancer" (2019). 

Buku ini ditulis dalam bentuk surat kepada putranya, Samori, yang dinamai menurut Samori Touré, pemimpin perlawanan Afrika Barat melawan kolonialisme Prancis. Format surat ini terinspirasi oleh "The Fire Next Time" karya James Baldwin, yang juga ditulis sebagai surat kepada keponakannya. 

"Between The World And Me" adalah buku yang menolak memberikan kenyamanan. Coates tidak menawarkan narasi harapan mudah atau janji bahwa rasisme akan berakhir. Sebaliknya, dia menghadapi realitas brutal dengan kejujuran yang menusuk. 

Bagi banyak pembaca kulit putih, buku ini adalah cermin yang tidak nyaman—memaksa mereka menghadapi bagaimana "The Dream" mereka dibangun. Bagi banyak pembaca kulit hitam, ini adalah validasi pengalaman yang jarang diakui secara publik. 

Untuk pemahaman lengkap tentang pengalaman hidup sebagai orang kulit hitam di Amerika—dengan semua ketakutan, keindahan, dan kompleksitasnya—sangat disarankan membaca buku aslinya. Coates menulis dengan prosa yang powerful, dengan referensi sejarah yang kaya, dan dengan kejujuran yang jarang ditemukan. 

Ringkasan ini hanya menangkap esensi—buku lengkapnya memberikan kedalaman emosional dan intelektual yang akan mengubah bagaimana Anda melihat ras, sejarah, dan Amerika. 

Sekarang, apakah Anda siap menghadapi kebenaran yang tidak nyaman? Atau Anda akan kembali ke kenyamanan The Dream? 

Pilihan ada pada Anda.