Senin, 28 Oktober 1929—Hari Ketika Segalanya Berubah
Bayangkan Anda baru saja kehilangan 13% dari seluruh kekayaan Anda.
Dalam satu hari.
Bukan karena Anda membuat keputusan bodoh. Bukan karena Anda berjudi. Tapi karena pasar saham—yang semua orang bilang "tidak akan pernah turun"—tiba-tiba jatuh bebas.
Senin sore, 28 Oktober 1929. Charles Mitchell, presiden National City Bank (sekarang Citibank), berjalan naik tangga kantornya di 55 Wall Street. Setiap mata memperhatikannya. Trader di jalanan. Sekretaris di koridor. Semua mencoba membaca ekspresi wajahnya.
Apakah dia panik? Apakah dia punya rencana? Apakah bank akan selamat?
Mitchell memaksakan senyum. Bahu tegak. Langkah percaya diri. Tapi ketika pintu kantornya tertutup, dia runtuh di kursi mahogany-nya.
Pasar saham baru saja mengalami penurunan terbesar dalam sejarah. Dan ini baru hari Senin. Besok—yang akan dikenal sebagai "Black Tuesday"—akan jauh lebih buruk.
Dalam minggu itu, $30 miliar lenyap dari ekonomi Amerika—setara dengan $500 miliar hari ini. Jutaan orang kehilangan tabungan seumur hidup. Ribuan bank tutup. Dan negara yang paling makmur di dunia terjun ke dalam Great Depression—depresi ekonomi terburuk dalam sejarah modern.
Tapi inilah yang paling mengerikan: Ini semua bisa dicegah.
Tanda-tanda ada di mana-mana. Para ahli memperingatkan. Beberapa investor cerdas melihat bencana datang dan mencoba memperingatkan orang lain.
Tapi tidak ada yang mendengarkan.
Mengapa? Karena semua orang percaya pada ilusi paling berbahaya dalam investasi:
"This time is different." (Kali ini berbeda.)
Andrew Ross Sorkin—jurnalis keuangan New York Times dan penulis bestseller "Too Big to Fail" tentang krisis 2008—menghabiskan hampir satu dekade meneliti crash 1929. Dan apa yang dia temukan mengerikan karena begitu familiar.
Karena hari ini, di tahun 2020-an, kita melihat pola yang sama berulang: pasar saham yang meroket, spekulasi yang merajalela, hutang yang menumpuk, dan alarm bells yang diabaikan.
Apakah kita akan mengulangi kesalahan yang sama?
Mari kita pelajari apa yang terjadi pada tahun 1929—dan mengapa itu penting untuk hari ini.
Bagian 1: The Roaring Twenties—Dekade Euforia
Boom yang Tidak Pernah Berakhir (Atau Begitu Mereka Pikir)
Tahun 1920-an adalah dekade keajaiban.
Perang Dunia I sudah berakhir. Ekonomi Amerika berkembang pesat. Teknologi baru mengubah kehidupan: mobil, radio, listrik, telepon. Produksi meningkat. Upah naik. Konsumsi meledak.
Dan pasar saham? Melonjak seperti roket.
Dari 1922 hingga 1929, Dow Jones Industrial Average naik lebih dari 400%. Investasi yang tadinya $100 menjadi $500 dalam tujuh tahun.
Orang-orang biasa—tukang cukur, supir taksi, guru—mulai bermain saham. Mengapa tidak? Semua orang menghasilkan uang. Pasar hanya naik terus.
"Kemakmuran permanen," kata ekonom Irving Fisher—salah satu ekonom paling dihormati di Amerika—beberapa hari sebelum crash. "Saham belum mencapai plateau permanen yang tinggi."
Dia salah total. Tapi pada saat itu, hampir semua orang percaya padanya.
Margin Trading—Bom Waktu
Inilah yang membuat boom 1920-an begitu berbahaya: buying on margin—membeli saham dengan hutang.
Begini cara kerjanya:
Anda punya $1.000. Tapi Anda tidak membeli saham senilai $1.000. Anda meminjam $9.000 lagi dari broker dan membeli saham senilai $10.000.
Jika saham naik 10%, investasi Anda naik menjadi $11.000. Bayar hutang $9.000, Anda profit $1.000—return 100% dari uang Anda sendiri!
Kedengarannya brilian, bukan?
Tapi ada sisi gelapnya.
Jika saham turun 10%, investasi Anda jatuh menjadi $9.000. Anda harus bayar hutang $9.000, tapi nilai saham Anda hanya $9.000. Anda kehilangan seluruh $1.000 Anda.
Pada tahun 1929, 80-90% investasi di Wall Street dilakukan dengan margin—dengan hutang.
Seluruh pasar saham dibangun di atas utang yang sangat rapuh.
"This Time Is Different"
Setiap kali ada yang memperingatkan bahwa harga saham terlalu tinggi, jawaban yang sama:
"Ekonomi kita berbeda sekarang." "Teknologi baru mengubah segalanya." "Produktivitas meningkat—saham mencerminkan realitas baru." "Aturan lama tidak berlaku lagi."
Terdengar familiar?
Ganti "radio dan mobil" dengan "AI dan crypto," dan Anda punya tahun 2020-an.
Andrew Ross Sorkin menulis: "Sejarah tidak berulang, tapi ia berima."
Bagian 2: Karakter-Karakter di Balik Drama
Charles Mitchell—Bankir yang Terlalu Percaya Diri
Charles Mitchell adalah superstar Wall Street tahun 1920-an.
Sebagai presiden National City Bank, dia mempopulerkan idea bahwa orang biasa bisa dan harus berinvestasi di saham.
Sebelumnya, Wall Street adalah permainan orang kaya. Mitchell mendemokratisasinya—atau begitu dia klaim.
Dia melatih sales force untuk menjual saham dan obligasi kepada massa. Dia membuka cabang bank di mana-mana. Dia menggunakan iklan untuk meyakinkan orang bahwa pasar saham adalah jalan menuju kekayaan.
Dan orang-orang percaya.
Tapi ada masalah: Mitchell dan banknya sering menjual produk investasi buruk kepada orang-orang yang tidak memahaminya. Mereka menjanjikan keuntungan yang tidak realistis. Mereka menyembunyikan risiko.
Ketika crash datang, jutaan orang Amerika yang percaya pada Mitchell kehilangan segalanya.
Mitchell sendiri? Dia dipaksa mengundurkan diri dan diadili (meskipun akhirnya dibebaskan). Tapi reputasinya hancur.
Jesse Livermore—Trader yang Melihat Bencana Datang
Jesse Livermore adalah salah satu trader paling legendaris dalam sejarah—"The Boy Plunger" yang membuat dan kehilangan beberapa fortune.
Berbeda dengan kebanyakan orang, Livermore melihat crash datang.
Di tengah euforia 1929, dia melakukan short selling—bertaruh bahwa pasar akan turun. Dan ketika crash terjadi, dia menghasilkan $100 juta (setara dengan miliaran dolar hari ini).
Tapi ada ironi tragis: Uang tidak menyelamatkannya dari dirinya sendiri.
Livermore terus trading, terus mengambil risiko besar. Pada tahun 1934, dia bangkrut lagi. Pada 1940, dia bunuh diri di hotel Manhattan.
Pelajarannya: Bahkan jika Anda benar tentang pasar, psikologi dan disiplin adalah segalanya.
Herbert Hoover—Presiden yang Salah Waktu
Herbert Hoover menjadi Presiden Amerika pada Maret 1929—tujuh bulan sebelum crash.
Dia adalah self-made millionaire, insinyur sukses, humanitarian yang mengorganisir bantuan makanan untuk Eropa setelah Perang Dunia I. Dia dianggap jenius.
Tapi ketika crash datang, dia salah membaca situasi berkali-kali.
Dia percaya pasar akan pulih sendiri tanpa intervensi pemerintah. Dia percaya bahwa confidence adalah kunci—jadi terus memberikan pernyataan optimis bahkan ketika situasi memburuk.
"Kemakmuran sudah di tikungan," katanya—sementara pengangguran melonjak dan orang-orang kelaparan di jalanan.
Keputusan terburuknya: Mendukung Smoot-Hawley Tariff Act—tarif perdagangan yang memicu perang dagang global dan memperburuk Great Depression.
Hoover kalah telak dalam pemilu 1932 kepada Franklin D. Roosevelt. Namanya selamanya dikaitkan dengan kegagalan.
Bagian 3: Crash—Minggu yang Mengubah Dunia
Kamis, 24 Oktober 1929—Black Thursday
Pasar sudah goyah selama beberapa minggu. Tapi pada Kamis, 24 Oktober, panic selling dimulai.
Dalam hitungan jam, 12,9 juta saham diperdagangkan—rekor yang belum pernah terjadi. Harga jatuh begitu cepat sampai ticker tapes (mesin yang menampilkan harga saham) tidak bisa mengikuti.
Trader di lantai bursa panik. Telepon berdering tanpa henti—investor meneriaki broker untuk menjual. Semuanya.
Pada tengah hari, sekelompok bankir terkemuka—termasuk Charles Mitchell—berkumpul di kantor J.P. Morgan untuk merencanakan penyelamatan.
Mereka mengumpulkan dana dan mulai membeli saham untuk menghentikan penurunan. Ini bekerja—untuk sementara. Pasar stabil pada akhir hari.
Koran-koran menulis bahwa "yang terburuk sudah lewat."
Mereka salah.
Senin, 28 Oktober 1929—Kejatuhan Dimulai
Setelah weekend yang gelisah, pasar dibuka Senin dengan penjualan massal.
Tidak ada yang bisa menghentikannya. Pasar turun 13% dalam satu hari—penurunan terbesar yang pernah tercatat pada waktu itu.
Investor yang membeli dengan margin menerima "margin calls"—permintaan untuk menambah uang atau saham mereka akan dijual paksa.
Tapi banyak yang tidak punya uang lagi. Jadi saham mereka dijual. Yang memicu lebih banyak penurunan. Yang memicu lebih banyak margin calls. Spiral kematian.
Selasa, 29 Oktober 1929—Black Tuesday
Jika Senin buruk, Selasa adalah bencana apokaliptik.
16,4 juta saham diperdagangkan—rekor yang tidak akan dipecahkan selama hampir 40 tahun.
Harga saham jatuh bebas. Orang-orang menjual pada harga berapa pun—mereka hanya ingin keluar.
Pada akhir hari, Dow Jones turun 12% lagi.
Dalam dua hari, pasar kehilangan $30 miliar—hampir 40% dari nilai puncaknya.
Untuk perspektif: Ini setara dengan kehilangan $12 triliun hari ini. Bayangkan ekonomi Amerika kehilangan $12 triliun dalam dua hari.
Setelah Crash—Penurunan yang Panjang
Beberapa orang berharap pasar akan bounce back. Tapi tidak.
Pasar terus turun selama hampir tiga tahun.
Pada Juli 1932, Dow Jones turun 89% dari puncaknya. Saham yang tadinya $100 sekarang hanya $11.
Dan yang terburuk: Ini bukan hanya angka di kertas. Ini adalah kehidupan nyata yang hancur.
Bagian 4: Great Depression—Konsekuensi yang Mengerikan
Bank Runs dan Kehancuran Sistem Keuangan
Dalam tahun-tahun setelah crash, lebih dari 9.000 bank tutup.
Mengapa? Bank run—orang berlomba menarik uang mereka karena takut bank akan bangkrut.
Tapi bank tidak menyimpan semua uang nasabah dalam brankas. Mereka meminjamkannya. Jadi ketika semua orang menarik uang sekaligus, bank kehabisan uang tunai dan kolaps.
Orang-orang yang tidak sempat menarik uang mereka? Kehilangan segalanya. Tidak ada asuransi deposito pada waktu itu.
Tabungan seumur hidup—hilang dalam semalam.
Pengangguran Massal
Pada tahun 1933, 25% dari tenaga kerja Amerika menganggur.
Satu dari empat orang tidak punya pekerjaan.
Keluarga kehilangan rumah mereka. Orang tidur di jalanan. Soup kitchens—dapur umum—melayani antrian yang membentang berblok-blok.
Anak-anak putus sekolah karena keluarga tidak mampu membeli sepatu atau buku.
"Hoovervilles"—perkampungan gubuk kardboard—muncul di kota-kota besar, dinamai sinis untuk menghina Presiden Hoover.
Spiral Global
Depresi tidak terbatas di Amerika. Ia menyebar ke seluruh dunia.
Perdagangan global kolaps. Negara-negara memberlakukan tarif untuk melindungi industri mereka—yang hanya membuat semuanya lebih buruk.
Di Jerman, kondisi ekonomi yang mengerikan membantu kebangkitan Nazi. Adolf Hitler berkuasa dengan menjanjikan solusi untuk krisis ekonomi.
Dengan cara yang tragis, Great Depression berkontribusi pada Perang Dunia II.
Bagian 5: Mengapa Ini Terjadi?—Anatomi Bencana
1. Spekulasi Berlebihan
Orang-orang membeli saham bukan karena percaya pada perusahaan, tapi karena berharap orang lain akan membeli dengan harga lebih tinggi besok.
Ini bukan investasi. Ini perjudian kolektif.
2. Hutang yang Berlebihan
80-90% dari investasi dilakukan dengan margin—dengan hutang.
Ketika pasar naik, leverage ini memperbesar keuntungan. Tapi ketika pasar turun, leverage memperbesar kerugian dan menciptakan spiral kematian.
3. Alarm Bells yang Diabaikan
Beberapa orang melihat masalah datang:
● Roger Babson, ekonom, memperingatkan pada September 1929: "Sooner or later a crash is coming."
● Paul Warburg, bankir, memperingatkan tentang "orgy of speculation" pada 1929
Tapi mereka diejek. Disebut "prophet of doom." Diabaikan karena "pessimist."
Tidak ada yang ingin mendengar peringatan ketika semua orang menghasilkan uang.
4. Regulasi yang Lemah
Pada tahun 1929, hampir tidak ada regulasi pasar saham.
Tidak ada SEC (Securities and Exchange Commission). Tidak ada disclosure requirements—perusahaan tidak perlu transparan tentang keuangan mereka. Tidak ada batasan leverage. Tidak ada asuransi deposito.
Wall Street adalah wild west—dan investor biasa adalah korban.
5. Psychology: Greed dan Fear
Akhirnya, crash terjadi karena sifat manusia.
Ketika pasar naik, greed mengambil alih. "Saya tidak ingin ketinggalan!" Semua orang melompat masuk—bahkan pada harga yang tidak masuk akal.
Ketika pasar turun, fear mengambil alih. "Saya harus keluar sekarang!" Semua orang menjual—bahkan dengan kerugian besar.
Greed mendorong bubble. Fear menghancurkannya.
Bagian 6: Pelajaran untuk Hari Ini—Apakah Kita Mengulangi Sejarah?
Paralel yang Menakutkan
Andrew Ross Sorkin menulis buku ini bukan hanya sebagai sejarah—tapi sebagai peringatan.
Karena hari ini, di tahun 2020-an, kita melihat pola yang sama:
1. Pasar saham yang meroket Dari 2020 hingga 2024, pasar saham Amerika naik drastis—didorong oleh teknologi, AI, crypto.
Terdengar familiar? Tahun 1920-an juga didorong oleh "teknologi baru"—radio, mobil, listrik.
2. "This time is different" "AI akan mengubah segalanya." "Cryptocurrency adalah masa depan uang." "Valuasi tinggi justified karena ekonomi baru."
Kata-kata yang sama dengan tahun 1929, hanya dengan teknologi yang berbeda.
3. Leverage dan hutang Orang membeli crypto dengan leverage. Perusahaan mengambil hutang untuk buyback saham. Margin debt di pasar saham tinggi.
4. Spekulasi liar Meme stocks. NFT. Cryptocurrency yang tidak jelas. "Sorkin coin" yang tiba-tiba worth $170 juta dalam sehari—hanya karena lelucon di TV.
Ini bukan investasi. Ini spekulasi kasino.
5. Regulasi yang dilonggarkan SEC menjadi kurang ketat. Consumer Protection Bureau hampir tidak berfungsi. Guardrails—pengaman—sedang dilepas.
Seperti yang Sorkin katakan: "Ini yang mengkhawatirkan saya. Bukan bahwa kita akan jatuh dari tebing besok. Tapi bahwa ada spekulasi di pasar hari ini, ada peningkatan hutang, dan semua itu terjadi dengan latar belakang guardrails yang dilepas."
Apakah Crash Akan Terjadi Lagi?
Sorkin ditanya: "Apakah kita akan punya crash lagi?"
Jawabannya jelas: "Ya. Saya tidak bisa memberitahu Anda kapan, dan tidak bisa memberitahu Anda seberapa dalam. Tapi saya bisa meyakinkan Anda—sayangnya, saya berharap saya tidak mengatakan ini—kita akan mengalami crash."
Karena crashes adalah bagian dari siklus ekonomi. Boom selalu diikuti bust.
Pertanyaannya bukan apakah, tapi kapan dan seberapa buruk.
Tapi Ada Perbedaan Penting
Kabar baiknya: Kita punya perlindungan yang tidak ada pada tahun 1929:
● FDIC: Asuransi deposito—uang Anda di bank dijamin sampai $250.000
● SEC: Mengatur pasar saham, memerlukan transparansi
● Federal Reserve: Bisa bertindak sebagai lender of last resort
● Unemployment insurance: Safety net untuk yang kehilangan pekerjaan
● Social Security: Jaring pengaman untuk lansia
Ini tidak berarti crash tidak akan terjadi. Tapi artinya kita tidak akan jatuh sedalam 1929.
Bagian 7: Apa yang Bisa Anda Lakukan?—Pelajaran Praktis
1. Jangan Percaya "This Time Is Different"
Setiap generasi berpikir mereka berbeda. Bahwa aturan lama tidak berlaku.
Tapi sifat manusia tidak berubah. Greed dan fear tetap sama.
Ketika semua orang mengatakan "kali ini berbeda," itulah saat Anda harus paling waspada.
2. Hindari Leverage Berlebihan
Membeli dengan margin—dengan hutang—adalah pisau bermata dua.
Ya, bisa memperbesar keuntungan. Tapi juga memperbesar kerugian dan menciptakan risiko kehilangan segalanya.
Jangan investasi dengan uang yang bukan milik Anda.
3. Diversifikasi
"Don't put all your eggs in one basket."
Jika seluruh uang Anda di satu saham atau satu jenis aset, Anda mengambil risiko besar.
Diversifikasi tidak menjamin profit, tapi mengurangi risiko kehancuran total.
4. Investasi untuk Jangka Panjang, Bukan Spekulasi
Ada perbedaan antara investasi dan spekulasi:
Investasi: Membeli aset yang Anda percaya akan bernilai jangka panjang karena fundamental yang kuat.
Spekulasi: Membeli sesuatu hanya karena Anda harap harga akan naik besok—tanpa peduli nilai fundamental.
Meme coins, NFT tanpa utility, saham perusahaan tanpa revenue—ini spekulasi, bukan investasi.
5. Dengarkan Warning Signs
Ketika valuasi terlihat gila, percayai insting Anda.
Jika sesuatu terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, biasanya memang begitu.
Jika Anda tidak memahami bagaimana sesuatu menghasilkan uang, jangan investasi di situ.
6. Simpan Cash Reserve
Salah satu tragedi 1929: Orang yang terpaksa menjual saham di bottom karena butuh uang tunai.
Jika Anda punya cash reserve—dana darurat—Anda tidak terpaksa menjual investasi di saat terburuk.
Cash bukan trash. Cash adalah opsi.
7. Pelajari Sejarah
Seperti yang George Santayana katakan: "Mereka yang tidak belajar dari sejarah dikutuk untuk mengulanginya."
Baca tentang crash 1929. Pelajari bubble dot-com tahun 2000. Pahami krisis 2008.
Pola berulang. Jika Anda tahu polanya, Anda bisa melindungi diri.
Penutup: Kerendahan Hati di Hadapan Pasar
Di akhir buku, Andrew Ross Sorkin tidak memberikan prediksi pasti tentang kapan crash berikutnya akan terjadi.
Karena tidak ada yang tahu. Siapa pun yang mengklaim tahu pasti adalah penipu atau bodoh.
Tapi dia memberikan kita sesuatu yang lebih berharga: kesadaran.
Kesadaran bahwa pasar bergerak dalam siklus. Bahwa apa yang naik akan turun. Bahwa euforia selalu berakhir dengan reckoning.
Dan yang paling penting: Kesadaran bahwa kita tidak sehebat yang kita kira.
Keangkuhan vs Kerendahan Hati
Karakter yang jatuh paling keras pada tahun 1929 adalah mereka yang paling arogan—yang percaya mereka sudah "mengatasi" aturan lama ekonomi.
Charles Mitchell percaya dia bisa menjual saham selamanya tanpa konsekuensi. Irving Fisher percaya ekonomi telah mencapai "plateau permanen." Presiden Hoover percaya pasar akan memperbaiki dirinya sendiri.
Mereka semua salah. Dan keangkuhan mereka menghancurkan jutaan kehidupan.
Kerendahan hati di hadapan pasar adalah kebijaksanaan.
Mengakui bahwa Anda tidak tahu masa depan. Bahwa Anda bisa salah. Bahwa Anda butuh perlindungan terhadap ketidakpastian.
Pertanyaan untuk Anda
Sorkin mengakhiri buku dengan undangan untuk refleksi:
● Apakah investasi Anda berdasarkan fundamental atau hanya harapan?
● Berapa banyak dari portofolio Anda yang Anda benar-benar pahami?
● Jika pasar turun 50% besok, apakah Anda akan survive?
● Apakah Anda siap untuk kemungkinan terburuk?
Ini bukan pertanyaan yang menyenangkan. Tapi pertanyaan yang bisa menyelamatkan Anda dari kehancuran.
Akhir yang Belum Tertulis
Crash 1929 menghancurkan kehidupan jutaan orang. Tapi dari reruntuhan itu, Amerika membangun sistem yang lebih kuat—dengan regulasi, safety nets, dan pelajaran yang dipelajari dengan keras.
Crash berikutnya—dan akan ada crash berikutnya—akan menghancurkan banyak hal lagi.
Tapi jika kita belajar dari sejarah, jika kita tidak terlalu arogan untuk mendengarkan warning signs, jika kita mempersiapkan diri dengan bijaksana—
Kita bisa survive. Dan mungkin bahkan berkembang.
Sejarah tidak harus berulang persis. Tapi hanya jika kita belajar darinya.
Jadi pelajari. Persiapkan. Dan jangan pernah lupa:
Pasar bisa tetap irasional lebih lama daripada Anda bisa tetap solvent. Tapi cepat atau lambat, gravitasi menang.
Pertanyaannya adalah: Ketika itu terjadi, apakah Anda akan jatuh bersama pasar—atau berdiri di tanah yang kokoh?
Tentang Buku Asli
"1929: Inside the Greatest Crash in Wall Street History—and How It Shattered a Nation" diterbitkan pada Oktober 2024 dan langsung menjadi #1 New York Times Bestseller.
Andrew Ross Sorkin adalah jurnalis keuangan pemenang penghargaan untuk The New York Times dan co-anchor program CNBC "Squawk Box." Dia juga pendiri DealBook, laporan keuangan harian online, dan penulis bestseller "Too Big to Fail" tentang krisis keuangan 2008—yang diadaptasi menjadi film HBO yang dinominasikan untuk 11 Emmy Awards.
Sorkin menghabiskan hampir satu dekade meneliti buku ini, mengakses arsip historis, dokumen-dokumen yang baru ditemukan, dan ratusan sumber untuk merekonstruksi minggu-minggu menjelang dan setelah crash 1929.
Bukunya dipuji oleh para sejarawan, ekonom, dan penulis terkemuka termasuk Doris Kearns Goodwin, Walter Isaacson, dan Ron Chernow sebagai "definitive" dan "masterclass in narrative nonfiction."
Yang membuat buku ini powerful bukan hanya sejarah—tapi relevansinya dengan hari ini. Sorkin menunjukkan bagaimana pola yang sama—spekulasi, leverage, "this time is different"—berulang kembali.
Untuk pemahaman lengkap tentang crash 1929 dan pelajarannya untuk hari ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Sorkin menulis dengan detail yang mendebarkan, karakter yang hidup, dan analisis yang tajam tentang psikologi pasar dan sifat manusia.
Ringkasan ini menangkap esensi tema-tema utama, tapi buku lengkapnya memberikan drama, nuansa, dan insight mendalam yang tidak bisa diringkas.
Sekarang pergilah dan evaluasi investasi Anda dengan jujur.
Tanyakan pertanyaan sulit. Akui apa yang tidak Anda pahami. Persiapkan untuk kemungkinan terburuk.
Karena seperti yang ditunjukkan Sorkin:
Mereka yang tidak belajar dari 1929 dikutuk untuk mengalaminya lagi.
Dan kali ini, Anda sudah diperingatkan.