Every Living Thing

Jason Roberts


Mimpi yang Mustahil 

Bayangkan Anda percaya bahwa Anda bisa memberi nama pada setiap makhluk hidup di bumi ini—setiap serangga di setiap hutan, setiap ikan di setiap samudra, setiap bunga di setiap lereng gunung. Bukan hanya memberi nama, tetapi mengaturnya, mengklasifikasikannya, menjinakkan seluruh kekacauan alam semesta yang liar menjadi sebuah daftar yang rapi dan bisa dipahami manusia. 

Dua orang di abad ke-18 benar-benar percaya mereka bisa melakukannya. 

Mereka hidup di zaman yang sama, mengejar tujuan yang sama, tetapi tidak pernah bertemu seumur hidup. Yang satu adalah dokter Swedia yang sombong, penuh percaya diri seperti seseorang yang merasa dipilih Tuhan. Yang lain adalah bangsawan Prancis yang kaya, tenang, dan lebih suka kebenaran daripada ketenaran. 

Keduanya salah besar tentang seberapa banyak yang perlu ditemukan. Keduanya tidak pernah menyelesaikan misi mereka. Tetapi dalam proses kegagalan mereka yang megah, keduanya mengubah cara manusia memahami alam, kehidupan, dan diri mereka sendiri—termasuk warisan berbahaya yang masih kita tanggung hingga hari ini. 

Inilah kisah Carl Linnaeus dan Georges-Louis de Buffon. Kisah tentang obsesi, persaingan, keberanian, dan kekeliruan yang membentuk fondasi ilmu biologi modern. 

Jason Roberts menulis Every Living Thing bukan hanya sebagai sejarah ilmu pengetahuan. Buku peraih Hadiah Pulitzer 2025 ini adalah cermin tentang bagaimana cara kita memandang dunia—dan betapa berbahayanya ketika cara pandang yang salah menang bukan karena kebenarannya, melainkan karena kesederhanaannya.

 


Bagian 1: Dua Pria, Dua Cara Memandang Dunia

Carl Linnaeus — Sang Penata yang Keras Kepala 

Carl Linnaeus lahir di Swedia pada 1707, anak seorang pendeta desa yang mencintai tanaman. Sejak muda, dia sudah percaya bahwa dia bukan manusia biasa. Dia menyebut dirinya sendiri "Pangeran Para Ahli Botani" sebelum namanya dikenal siapapun. Keyakinan diri ini bukan hanya kepercayaan diri biasa—ini adalah keyakinan religius. Linnaeus percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan keteraturan tersembunyi, dan tugas mulianya adalah mengungkap keteraturan itu. 

Cara berpikirnya sederhana namun revolusioner: setiap makhluk hidup butuh nama yang pasti. Bukan nama lokal yang berbeda di setiap negeri, tetapi nama Latin yang berlaku di seluruh dunia. Setiap makhluk akan diberi dua nama—genus dan spesies—seperti nama depan dan nama belakang manusia. Sistem ini kita sebut tata nama binomial, dan kita masih menggunakannya sampai sekarang. 

Kepada dunia, Linnaeus memberikan kata-kata yang kita pakai setiap hari: mamalia, primata, Homo sapiens. Dia membangun sistem klasifikasi berlapis—kerajaan, kelas, ordo, famili, genus, spesies—seperti laci-laci besar yang makin mengecil, masing-masing berisi makhluk yang semakin serupa. 

Namun ada sisi gelap dari cara berpikir Linnaeus yang tidak boleh kita abaikan. Bagi dia, alam adalah sebuah kata benda—sesuatu yang diam, tetap, tidak berubah. Spesies adalah ciptaan Tuhan yang permanen. Tidak ada yang berevolusi. Tidak ada yang punah. Tidak ada yang berubah sejak hari penciptaan. Keyakinan ini bukan hanya kekeliruan ilmiah—ini membuat dia menutup mata terhadap bukti yang ada di depannya. 

Dan yang lebih berbahaya lagi: ketika Linnaeus mengklasifikasikan manusia dalam karyanya Systema Naturae, dia menambahkan deskripsi penuh prasangka pada berbagai kelompok manusia berdasarkan ras dan benua asal mereka. Bukan deskripsi ilmiah—melainkan kumpulan stereotip yang dia jadikan "fakta ilmiah." Warisan ini, kata Roberts, bisa ditelusuri langsung sebagai akar dari apa yang kita kenal sebagai rasisme ilmiah. 

Georges-Louis de Buffon — Sang Pemikir yang Jauh ke Depan 

Di seberang Laut Utara, di Paris, hidup pria yang sangat berbeda. 

Georges-Louis de Buffon adalah bangsawan kaya yang menjadi kepala Kebun Raya Kerajaan Prancis. Berbeda dari Linnaeus yang haus ketenaran, Buffon menandatangani surat-suratnya hanya dengan "Buffon"—satu kata, tanpa gelar panjang. Dia cukup kaya untuk mengabaikan mode intelektual, dan cukup kuat untuk mengabaikan para pengkritiknya. 

Buffon membenci sistem Linnaeus dengan segenap hati. Baginya, sistem kotak-kotak itu adalah cara berpikir yang dangkal, yang memotong-motong keindahan alam yang mengalir bebas

menjadi label kaku yang mati. "Ini yang paling tidak masuk akal dan paling menyeramkan," katanya tentang sistem Linnaeus. 

Bagi Buffon, alam bukan kata benda—alam adalah kata kerja. Sesuatu yang terus bergerak, berubah, berevolusi. Dia menulis tentang hewan bukan sebagai spesimen yang ditusuk jarum koleksi, tetapi sebagai makhluk hidup dengan perilaku, sejarah, dan hubungan dengan lingkungannya. 

Jauh sebelum Darwin, Buffon sudah menulis tentang kemungkinan bahwa spesies berubah seiring waktu. Dia memperingatkan tentang kerusakan lingkungan yang disebabkan manusia. Dia bahkan menulis tentang apa yang kita sebut hari ini sebagai zaman Antroposen—era di mana manusia menjadi kekuatan geologi yang mengubah planet. Darwin sendiri mengakui bahwa ide-ide Buffon "seperainan dengan milik saya sampai menggelikan." 

Buffon juga melakukan sesuatu yang luar biasa untuk zamannya: ketika wanita sama sekali tidak diakui di dunia ilmu pengetahuan, dia mengangkat Madeleine Françoise Basseporte sebagai pelukis residen di kebun kerajaannya.

 


Bagian 2: Perlombaan yang Mematikan 

Keduanya memulai pekerjaan besar mereka pada waktu yang hampir bersamaan, sekitar tahun 1749. Keduanya mengira tugas mereka mungkin sulit—tetapi tidak mustahil. Perkiraan mereka: bumi mungkin dihuni oleh tidak lebih dari sepuluh ribu spesies. Mungkin sedikit lebih, mungkin sedikit kurang. Setara dengan jumlah hewan yang muat di bahtera Nuh. 

Mereka berdua salah besar. 

Para Apostel yang Tidak Kembali 

Linnaeus memilih cara yang agresif: dia mengirim murid-muridnya ke seluruh penjuru dunia untuk mengumpulkan spesimen. Dia menyebut mereka "para apostel"—sebuah nama yang memadukan ambisi ilmiah dengan aura keagamaan. Para pemuda ini berlayar ke Suriname, Jepang, Afrika Selatan, Amerika Selatan, Arabia, dan tempat-tempat lain yang belum dipetakan dengan baik. 

Hasilnya: spesimen mengalir ke Uppsala. Tetapi korbannya sangat berat. Dari gelombang pertama para apostel Linnaeus, hampir separuhnya tidak kembali. Mereka mati karena penyakit tropis, tenggelam di laut, terbunuh dalam konflik lokal, atau sekadar menghilang tanpa kabar. Mereka pergi dengan sukarela, ya—tetapi Roberts tidak menyembunyikan fakta bahwa Linnaeus mengirim para pemuda itu ke bahaya yang dia sendiri tidak mau hadapi, demi koleksinya. 

Sementara para apostelnya mati demi sains, Linnaeus tetap nyaman di Uppsala, menerima kiriman, memberi nama, dan memperluas karyanya yang terus tumbuh. Systema Naturae yang pertama hanya 12 halaman. Edisi ke-12, terbit pada 1765, sudah mencapai 2.400 halaman. 

Buffon dan Cara yang Berbeda 

Buffon bekerja dengan cara yang berbeda sepenuhnya. Alih-alih mengirim orang mati ke sudut dunia yang berbahaya, dia menulis dengan pena yang lebih seperti sastrawan daripada ilmuwan. Histoire Naturelle (Sejarah Alam)-nya pada akhirnya mengisi 44 jilid, setengah juta halaman—karya tulis terbesar yang pernah diselesaikan oleh satu orang dalam sejarah. 

Buffon tidak hanya memberi nama. Dia mendeskripsikan. Dia bercerita. Tulisannya tentang seekor anjing bukan hanya daftar ciri-ciri fisik, melainkan portrait makhluk hidup dengan kebiasaan, hubungan, dan tempatnya dalam jaringan kehidupan. 

Histoire Naturelle menjadi buku paling laris di Eropa pada zamannya—nomor dua setelah Alkitab. Ketika Buffon meninggal pada 1788, empat puluh ribu orang mengikuti iring-iringan pemakamannya di Paris.

 


Bagian 3: Kemenangan yang Salah 

Di sinilah kisah ini menjadi tragis sekaligus mencerahkan. 

Setelah kematian keduanya—Linnaeus pada 1778, Buffon sepuluh tahun kemudian—terjadi sesuatu yang ironis. Revolusi Prancis meluluhlantakkan ketenaran Buffon hampir dalam sekejap. Kebun kerajaannya diambil alih. Nama kebangsawanannya menjadi liabilitas. Dalam kekacauan revolusi, reputasinya terkubur. 

Sementara itu, sistem Linnaeus justru menyebar. Bukan terutama karena kebenarannya yang lebih besar—tetapi karena kesederhanaannya. Di era ilmu pengetahuan yang sedang berkembang pesat, orang butuh bahasa bersama yang mudah dipelajari. Sistem kotak-kotak Linnaeus, dengan semua keterbatasannya, mudah diajarkan dan mudah digunakan. 

Hasilnya adalah salah satu kecelakaan sejarah terbesar dalam ilmu pengetahuan: ide-ide yang lebih benar, lebih kaya, dan lebih jauh ke depan milik Buffon terkubur—sementara sistem yang lebih terbatas milik Linnaeus, beserta seluruh prasangka rasialnya, menjadi fondasi resmi ilmu biologi selama berabad-abad. 

Murid-murid dan penerus Linnaeus memperkuat klasifikasi rasial yang dia ciptakan. George Cuvier, ilmuwan berpengaruh di abad ke-19, mengamplifikasi hierarki rasial dalam karyanya. Louis Agassiz membawanya ke Amerika. Roberts tidak segan-segan menelusuri garis lurus ini: ilmu ras modern memiliki silsilah yang bisa dilacak langsung ke halaman-halaman Systema Naturae.

 


Bagian 4: Kebangkitan Buffon—Melalui Darwin dan Seterusnya 

Tetapi cerita tidak berakhir di sana. 

Sementara nama Buffon terkubur, ide-idenya tetap hidup—melalui Darwin, melalui keluarga Huxley, melalui ribuan ilmuwan yang secara perlahan menemukan kembali kebenaran yang Buffon sudah tulis jauh sebelum mereka. 

Charles Darwin mengakui secara langsung bahwa pemikiran Buffon sangat mirip dengan teorinya sendiri. Thomas Henry Huxley, yang dikenal sebagai "Anjing Herder Darwin," juga terpengaruh oleh jalur pemikiran yang bermula dari Buffon. Cucunya, Julian Huxley, menjadi salah satu arsitek teori evolusi modern di abad ke-20. 

Perlahan tapi pasti, cara pandang Buffon—bahwa alam adalah sesuatu yang berubah, berkembang, dan jauh lebih kompleks dari kotak-kotak manapun—mendapat kembali tempatnya di pusat ilmu pengetahuan. Darwin memberikan mekanismenya. Mendel memberikan genetikanya. Dan abad ke-20 memberikan bukti yang berlimpah-limpah. 

Buffon bahkan lebih jauh ke depan dari yang kita sangka. Kelompok kerja yang mengusulkan nama "Antroposen" untuk era geologi baru akibat dampak manusia pada bumi—menemukan kesamaan yang begitu mencolok dengan esai Buffon dari tahun 1774, The Epochs of Nature, sehingga mereka memesan terjemahan baru ke bahasa Inggris.

 


Bagian 5: Pelajaran dari Perlombaan yang Tak Pernah Selesai 

1. Cara yang Mudah Tidak Selalu Cara yang Benar 

Sistem Linnaeus menang bukan karena lebih benar—tetapi karena lebih mudah. Kotak-kotak yang rapi lebih mudah diajarkan, lebih mudah dicetak, lebih mudah dimengerti orang awam. Buffon yang menulis dengan kekayaan dan nuansa justru kalah dalam perang popularitas. 

Ini pelajaran yang relevan sampai hari ini: kita selalu tergoda oleh penjelasan yang sederhana dan rapi, meskipun kenyataan jauh lebih kompleks. Ketika seseorang menawarkan jawaban yang terlalu mudah untuk masalah yang rumit, pertanyaannya adalah: apakah kesederhanaan itu kejujuran, atau penyederhanaan yang berbahaya? 

2. Ide yang Salah Bisa Berkuasa Sangat Lama 

Roberts menunjukkan bagaimana klasifikasi rasial Linnaeus—yang bukan sains, melainkan prasangka yang dipakaikan baju sains—menjadi fondasi resmi cara dunia Barat memandang manusia selama berabad-abad. Hanya karena sesuatu ditulis dalam bahasa Latin dan diterbitkan dengan nama besar tidak menjadikannya kebenaran. 

Penerus Linnaeus seperti Johann Friedrich Blumenbach dan kemudian Georges Cuvier bahkan memperluas hierarki rasial ini, menambahkan "ras Kaukasia" di puncak piramida dan menyebarkannya ke seluruh dunia akademis. Ketika ilmu pengetahuan memberi legitimasi pada prasangka, prasangka itu menjadi jauh lebih berbahaya daripada kebencian biasa—karena dia berpakaian objektivitas. 

Ini bukan tentang menyalahkan orang yang sudah meninggal ratusan tahun lalu. Ini tentang menyadari bahwa kita semua mewarisi sistem-sistem yang mungkin mengandung kesalahan fundamental—dan pertanyaannya adalah apakah kita cukup berani untuk mempertanyakannya. 

3. Obsesi Bisa Menjadi Kegelapan 

Linnaeus memiliki obsesi yang membuatnya menghasilkan karya luar biasa. Tetapi obsesi yang sama membuatnya mengirim murid-muridnya mati di hutan-hutan yang belum dipetakan, sementara dia sendiri tetap aman di Uppsala. Obsesi yang sama membuatnya menutup mata terhadap bukti bahwa spesies berubah—karena mengakuinya berarti mengakui bahwa sistemnya tidak sesempurna yang dia klaim. 

Dedikasi pada visi adalah kekuatan. Tetapi ketika visi itu menjadi lebih penting dari kebenaran dan dari manusia-manusia yang dikorbankan untuknya, dedikasi itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. 

4. Kebenaran Tidak Pernah Benar-benar Terkubur

Ide-ide Buffon terkubur selama hampir satu abad. Tetapi mereka tidak mati. Mereka muncul kembali melalui Darwin, melalui Huxley, melalui setiap ilmuwan yang cukup jujur untuk melihat bahwa alam jauh terlalu kaya untuk masuk dalam kotak manapun. 

Ini adalah pelajaran yang menghibur sekaligus menuntut kesabaran: kebenaran mungkin butuh waktu lama untuk menang, tetapi dia tidak bisa selamanya ditekan. 

5. Kita Belum Selesai 

Bayangkan ini: diperkirakan bahwa jumlah spesies yang sudah kita temukan dan beri nama hanyalah seperseribu persen dari semua spesies yang mungkin ada di bumi. Jerapah yang diberi nama Linnaeus sendiri pada 1758 ternyata bukan satu spesies—analisis genomik pada 2021 mengungkap bahwa ada empat spesies jerapah yang berbeda, tidak bisa saling kawin, dan sudah terpisah secara genetik selama jutaan tahun. Kita baru menyadarinya sekarang. 

Perlombaan Linnaeus dan Buffon tidak pernah selesai. Kita masih dalam perlombaan itu.

 


Penutup: Alam Adalah Kata Kerja 

Jason Roberts menutup kisah ini dengan pertanyaan yang menggantung di udara: bagaimana kita akan memandang alam semesta setelah ini? 

Kita mewarisi dua cara berpikir yang bertarung sejak abad ke-18. Yang satu ingin mengotak-kotakkan, memberi label, menjinakkan kekacauan menjadi daftar yang rapi. Yang lain ingin memahami, melihat aliran, menerima bahwa kehidupan terlalu kaya untuk masuk dalam satu sistem manapun. 

Keduanya ada dalam diri kita. Kita butuh kemampuan untuk mengklasifikasi dan memberi nama—tanpa itu, ilmu pengetahuan tidak mungkin ada. Tetapi kita juga butuh kerendahan hati Buffon yang tahu bahwa setiap sistem yang kita buat hanyalah peta—bukan wilayah itu sendiri. Peta yang berguna, tetapi bukan kenyataan itu sendiri. 

Ada keindahan dalam pelajaran ini. Dua orang yang tidak pernah bertemu seumur hidup, yang saling membenci karya masing-masing, yang berjuang di dua negeri berbeda dengan cara yang bertolak belakang—keduanya dibutuhkan. Bukan salah satu dari mereka. Keduanya. 

Setiap kali Anda menyebut nama ilmiah seekor hewan, Anda sedang menggunakan warisan Linnaeus. Setiap kali Anda berbicara tentang perubahan iklim, tentang kepunahan spesies, tentang evolusi—Anda sedang hidup dalam dunia yang Buffon pertama kali bayangkan, jauh sebelum orang lain mau mendengarnya. 

Dan setiap kali Anda bertanya bukan hanya "apa namanya?" tetapi "bagaimana dia hidup, berubah, dan terhubung dengan semua yang lain di sekitarnya?"—Anda sedang melanjutkan pekerjaan yang belum selesai dari dua orang yang bermimpi mengenal semua kehidupan. 

Pekerjaan itu belum selesai. Dan mungkin tidak akan pernah selesai. 

Tetapi itulah yang membuatnya layak untuk diteruskan.

 


Pertanyaan untuk Anda 

Every Living Thing mengajak kita bertanya: 

● Sistem apa yang Anda percaya begitu saja sebagai "kebenaran"—padahal mungkin hanya penyederhanaan yang nyaman? 

● Berapa banyak kebenaran yang Anda abaikan karena terlalu rumit untuk diakui?

● Apakah Anda mau berkorban untuk obsesi Anda—dan apakah orang lain yang menanggung harganya? 

● Di dunia yang terus ingin memberi label pada segalanya, bisakah Anda cukup tenang untuk duduk bersama kompleksitas tanpa harus segera memasukkannya ke dalam kotak? 

Seperti yang Roberts tunjukkan: kadang kemenangan jangka pendek datang pada ide yang lebih sederhana. Tetapi kemenangan jangka panjang—yang bertahan berabad-abad—selalu datang pada mereka yang cukup jujur untuk melihat dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang mereka inginkan.

 


Tentang Buku Asli 

Every Living Thing: The Great and Deadly Race to Know All Life diterbitkan pada 2024 dan meraih Hadiah Pulitzer 2025 untuk kategori Biografi, serta penghargaan PEN/E.O. Wilson Literary Science Writing Award. 

Jason Roberts sebelumnya menulis A Sense of the World: How a Blind Man Became History's Greatest Traveler, yang menjadi bestseller nasional dan masuk daftar finalis National Book Critics Circle Award. 

Buku ini mendapat pujian karena narasi yang memukau dari materi sejarah yang kompleks, kemampuan Roberts menghadirkan tokoh-tokoh abad ke-18 dengan sangat hidup dan manusiawi, serta keberanian untuk tidak menghindari sisi gelap dari sejarah ilmu pengetahuan—termasuk bagaimana prasangka bisa bersembunyi di balik bahasa ilmiah. 

Untuk pengalaman penuh dari seluruh kisah para apostel yang mati di hutan-hutan jauh, perdebatan intelektual yang hidup antara kedua kubu, dan narasi lengkap bagaimana ide-ide Buffon akhirnya menemukan jalannya kembali ke panggung utama ilmu pengetahuan—sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi dan nilai-nilai utama, tetapi kedalaman riset dan keindahan penulisan Roberts hanya bisa dirasakan sepenuhnya dari halaman-halaman aslinya.