Hope

Pope Francis


Tiket yang Menyelamatkan Hidup 

Bayangkan ini: Tahun 1929, sebuah keluarga Italia sederhana bersiap untuk perjalanan yang akan mengubah hidup mereka—dan tanpa mereka sadari, mengubah dunia. 

Giovanni Bergoglio, sang kakek, bersama istri dan anaknya Mario (yang kelak menjadi ayah Pope Francis) sudah membeli tiket kapal dari Italia ke Argentina. Mereka sudah mengemas semua harta benda. Sudah pamit dengan sanak saudara. Sudah bermimpi tentang kehidupan baru di negeri yang jauh. 

Tapi kemudian, dalam momen terakhir yang tak terduga, mereka memutuskan untuk menukar tiket mereka dengan kapal lain. 

Kapal yang semula mereka tumpangi tenggelam dalam perjalanan. Semua penumpang tewas. 

Giovanni, Rosa, dan Mario selamat karena keputusan menit terakhir yang tampaknya sepele itu. 

"Jika mereka tidak menukar tiket," tulis Pope Francis dalam otobiografinya yang mengharukan, "saya tidak akan pernah ada." 

Inilah cara Pope Francis—Jorge Mario Bergoglio—memulai kisah hidupnya: dengan mengakui bahwa keberadaannya sendiri adalah mujizat kecil, anugerah yang tidak pernah dianggap remeh. 

"Hope: The Autobiography" adalah buku yang seharusnya terbit setelah kematiannya. Tapi melihat keadaan dunia yang semakin kelam—perang di Ukraina dan Timur Tengah, krisis migrasi global, perpecahan sosial—Pope Francis memutuskan untuk memberikan warisannya lebih awal. 

Ini bukan hanya cerita hidup seorang Paus. Ini adalah wasiat spiritual untuk dunia yang kehilangan arah. Pesan harapan untuk generasi yang tersesat dalam keputusasaan.

Mari kita mulai perjalanan ini—dari barrio miskin Buenos Aires hingga balkon Basilika Santo Petrus, dari seorang anak imigran menjadi suara moral dunia.

 


Bagian 1: Akar—Barrio Flores dan Keluarga Imigran

Tumbuh di Antara Dua Dunia 

Jorge Mario Bergoglio lahir 17 Desember 1936 di Flores—barrio kelas pekerja Buenos Aires yang berwarna-warni, keras, tapi penuh kehangatan. 

Dia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya Mario bekerja sebagai akuntan di rel kereta api. Ibunya Regina adalah ibu rumah tangga yang kuat—tipikal matriark Italia yang memelihara tradisi sambil beradaptasi dengan tanah baru. 

Di rumah kecil mereka, hidup dua budaya sekaligus: Italia yang nostalgic dan Argentina yang dinamis. 

Dari neneknya Rosa—yang tinggal bersama mereka—Jorge belajar bahasa Italia, mendengar cerita tentang Piedmont yang jauh, dan memahami apa artinya kehilangan tanah air. Dari jalanan Buenos Aires, dia belajar tango, sepak bola, dan solidaritas kelas pekerja yang akan membentuk teologinya. 

"Nonna Rosa tidak hanya mengajarkan saya bahasa Italia," kenang Pope Francis. "Dia mengajarkan saya tentang akar. Bahwa meskipun kita menanam diri di tanah baru, kita tidak boleh melupakan dari mana kita berasal." 

Pelajaran Pertama tentang Keadilan Sosial 

Pada usia 13 tahun, Jorge mengalami momen yang mengubah hidupnya. 

Dia bekerja paruh waktu di laboratorium untuk membantu keluarga. Gajinya kecil, tapi dia bangga bisa berkontribusi. Suatu hari, dia melihat seorang pekerja tua—sudah bekerja di perusahaan itu selama puluhan tahun—dipecat tanpa alasan yang jelas. 

"Itu tidak adil," kata Jorge kepada bosnya. 

"Hidup tidak adil, nak," jawab pria itu dengan dingin. "Lebih baik kamu belajar itu dari sekarang." 

Tapi Jorge tidak bisa menerima jawaban itu. Jika hidup tidak adil, bukankah tugas kita untuk membuatnya lebih adil? 

Pertanyaan itu akan mengikutinya seumur hidup—dari laboratorium kimia di Buenos Aires hingga koridor Vatican.

 


Bagian 2: Panggilan—Dari Laboratorium ke Seminari

Momen Penyerahan Diri 

21 September 1953. Hari yang mengubah segalanya. 

Jorge, berusia 17 tahun, sedang dalam perjalanan bertemu teman-temannya. Tapi ketika melewati gereja San José de Flores, sesuatu memanggilnya untuk masuk. 

Di dalam, dia bertemu dengan Padre Duarte—seorang imam tua yang sedang mendengar pengakuan dosa. 

"Saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya saat itu," tulis Pope Francis. "Tapi saya merasa... ditatap. Bukan oleh imam itu, tapi oleh Seseorang yang lain. Saya merasa dicintai meskipun saya penuh dengan kekurangan." 

Setelah pengakuan dosa itu, Jorge tahu: dia dipanggil untuk menjadi imam. 

Bukan panggilan yang dramatis dengan suara dari langit. Bukan visi mistik. Hanya perasaan mendalam bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri—bahwa dia dipercayakan untuk sesuatu yang lebih besar. 

Memilih Jesuit—Jalan yang Tidak Mudah 

Ketika Jorge mengumumkan keinginannya menjadi imam, keluarganya shock.

"Kenapa tidak jadi imam biasa saja?" tanya ibunya. "Kenapa harus Jesuit?" 

Jesuit—Societat Yesus—adalah ordo yang terkenal keras, intelektual, dan berisiko. Para misionaris yang pergi ke ujung dunia. Para ilmuwan dan filosof. Para pemberontak rohani yang sering berseberangan dengan hierarki Gereja. 

Tapi itulah yang menarik Jorge. Dia ingin iman yang tidak hanya dirasakan, tapi juga dihidupi. Iman yang turun ke jalanan, masuk ke penderitaan, berani menghadapi tantangan zaman. 

Pada 11 Maret 1958, Jorge memasuki novisiat Jesuit. Dia meninggalkan karir sebagai teknisi kimia yang menjanjikan untuk hidup dengan sumpah kemiskinan, kesucian, dan ketaatan. 

"Ibu saya menangis," kenang Pope Francis. "Dia pikir dia kehilangan anak laki-lakinya. Dia tidak tahu bahwa justru di situlah saya menemukan diri saya yang sesungguhnya."

 


Bagian 3: Pembentukan—Belajar Melayani dalam Ketidakpastian 

Studi dan Kontemplasi 

Pembentukan Jesuit memakan waktu bertahun-tahun—filsafat, teologi, praktik pastoral, meditasi Ignasian. 

Jorge belajar tidak hanya dari buku, tapi dari kehidupan. Dia mengajar di sekolah-sekolah miskin. Dia bekerja dengan kaum muda. Dia belajar bahwa teologi tanpa praksis adalah steril, dan praksis tanpa refleksi adalah buta. 

Tapi yang paling penting, dia belajar Spiritual Latihan Santo Ignasius—metode doa dan discernment yang akan membentuk seluruh hidupnya. 

"Ignasius mengajarkan saya untuk mencari Tuhan dalam segala hal," tulis Pope Francis. "Bukan hanya di gereja atau dalam doa, tapi dalam penderitaan orang miskin, dalam kegembiraan anak-anak, dalam keheningan malam, dalam hiruk pikuk kota besar." 

Ditahbiskan di Tengah Perubahan 

13 Desember 1969, Jorge Mario Bergoglio ditahbiskan menjadi imam. 

Dunia sedang bergolak. Vatican II baru saja berakhir, membawa angin segar ke Gereja Katolik. Di Amerika Latin, Teologi Pembebasan mulai berkembang. Di Argentina, ketegangan politik dan sosial meningkat. 

Para imam muda dihadapkan pada pilihan: Gereja yang aman tapi tidak relevan, atau Gereja yang relevan tapi berisiko? 

Jorge memilih yang kedua.

 


Bagian 4: Kepemimpinan—Masa Kelam dan Pembelajaran Pahit 

Provincial Jesuit di Masa Sulit 

Pada usia 36 tahun—sangat muda untuk standar Jesuit—Jorge diangkat menjadi Provincial Superior of the Society of Jesus di Argentina. 

Ini adalah periode tergelap sejarah Argentina: Dirty War (1976-1983), ketika junta militer membunuh dan "menghilangkan" puluhan ribu orang yang dianggap subversif. 

Sebagai pemimpin Jesuit, Jorge harus melindungi para imam dan seminarian yang bekerja dengan kaum miskin—yang otomatis dicurigai pemerintah militer. 

Ini adalah masa yang akan menghantuinya sepanjang hidup. 

Kontroversi yang Tidak Terhindarkan 

Dalam bukunya, Pope Francis mengakui dengan jujur: dia membuat kesalahan selama periode ini. 

Ketika dua imam Jesuit—Francisco Jalics dan Orlando Yorio—ditangkap dan disiksa karena kerja mereka di villa miseria (slum), beberapa orang menuduh Jorge tidak melakukan cukup untuk melindungi mereka. 

"Apakah saya bisa melakukan lebih banyak? Ya," tulis Pope Francis dengan menyakitkan. "Apakah saya takut? Ya. Apakah saya melakukan yang terbaik yang saya bisa dalam situasi yang mustahil? Saya percaya begitu. Tapi apakah itu cukup? Saya tidak tahu." 

Ini adalah pengakuan yang luar biasa dari seorang Paus—mengakui keterbatasan, ketakutan, dan kemungkinan kegagalan moral di masa lalu. 

Belajar dari Kegagalan 

Pengalaman sebagai Provincial mengajarkan Jorge pelajaran berharga: kepemimpinan bukan tentang memiliki semua jawaban, tapi tentang menemani orang lain dalam pencarian jawaban. 

Dia belajar bahwa Gereja tidak bisa netral dalam menghadapi ketidakadilan. Tapi dia juga belajar bahwa perlawanan tidak selalu harus berupa konfrontasi langsung—kadang yang dibutuhkan adalah kehadiran, penyertaan, dan kesaksian hidup. 

"Saya belajar bahwa menjadi imam bukan tentang menjadi pahlawan," tulis Pope Francis. "Tapi tentang menjadi gembala—yang tahu bahwa dia juga domba yang membutuhkan belas kasihan."

 


Bagian 5: Pertobatan—Menemukan Gereja yang Miskin

Uskup di Pinggiran Kota 

Tahun 1992, Jorge diangkat menjadi uskup auxilliary Buenos Aires. Tahun 1998, dia menjadi Archbishop—pemimpin rohani lima juta jiwa. 

Tapi alih-alih tinggal di istana episcopal yang mewah, Jorge memilih apartemen sederhana. Alih-alih mobil mewah, dia naik bus dan subway. Alih-alih makan malam dengan para elite, dia menghabiskan waktu di villa miseria. 

"Kristus lahir di kandang, bukan di istana," kata Jorge kepada para imam yang mengkritik gaya hidupnya. "Jika kita ingin mengikuti-Nya, kita harus tahu di mana Dia berada." 

Teologi dari Bawah 

Di villa miseria Buenos Aires, Jorge menemukan teologi yang otentik—bukan yang ditulis di buku, tapi yang dihidupi setiap hari oleh orang-orang yang berjuang untuk bertahan hidup. 

Dia belajar dari Maria, seorang ibu tunggal dengan empat anak, tentang arti kepercayaan pada Tuhan di tengah kemiskinan. 

Dia belajar dari Carlos, seorang pria tua yang menjadi volunteer di dapur umum meskipun dia sendiri hampir tidak punya apa-apa, tentang kemurahan hati yang sejati. 

Dia belajar dari Ana, seorang anak berusia 12 tahun yang merawat neneknya yang sakit, tentang tanggung jawab dan cinta tanpa syarat. 

"Di sinilah Injil hidup," tulis Pope Francis. "Bukan di katedral yang megah, tapi di rumah-rumah kecil di mana orang berbagi sedikit yang mereka miliki dengan yang lebih membutuhkan." 

Cardinal yang Berbeda 

Tahun 2001, Jorge diangkat menjadi Cardinal oleh Pope John Paul II. 

Tapi dia tetap Cardinal yang aneh—naik bus untuk pergi ke Vatican, menolak jubah kardinal yang mahal, tinggal di apartemen yang sama. 

Ketika ditanya kenapa dia tidak pindah ke rumah yang lebih layak untuk seorang Cardinal, Jorge menjawab: "Yesus tidak pernah meminta para murid-Nya untuk naik level. Dia meminta mereka untuk turun level."

 


Bagian 6: Conclave—Terpilih untuk Mengubah Gereja

Renunsiasi Benedict XVI 

11 Februari 2013, dunia terkejut: Pope Benedict XVI mengumumkan pengunduran diri—hal yang tidak terjadi dalam 600 tahun. 

Gereja dalam krisis. Skandal pelecehan seksual. Korupsi di Vatican. Perpecahan internal. Umat yang kehilangan kepercayaan. 

Para Cardinal dari seluruh dunia berkumpul untuk memilih pemimpin baru. Jorge tidak pernah bermimpi dia akan terpilih. 

13 Maret 2013—Malam yang Mengubah Hidup 

"Saya ingat setiap detik dari malam itu," tulis Pope Francis. 

Dalam voting keempat, suara untuk Jorge Mario Bergoglio mencapai mayoritas yang dibutuhkan. 

Cardinal Hummes, yang duduk di sampingnya, berbisik: "Jangan lupa orang miskin." 

Dalam momen itu, Jorge tahu nama kepausannya: Francis—untuk pertama kali dalam sejarah, seorang Paus mengambil nama Santo Fransiskus dari Assisi, santo kemiskinan dan rekonsiliasi. 

Balkon yang Mengubah Persepsi 

Ketika Jorge—sekarang Pope Francis—pertama kali muncul di balkon Basilika Santo Petrus, dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Paus mana pun: 

Dia meminta umat untuk mendoakan dia sebelum dia memberikan berkat. 

"Biasanya Paus memberikan berkat kepada umat," tulis Pope Francis. "Tapi saya merasa saya yang membutuhkan berkat. Saya yang perlu didoakan." 

Gerakan sederhana itu mengubah segalanya. Ini bukan Paus yang berbicara dari atas, tapi Paus yang berdiri bersama umat sebagai sesama peziarah.

 


Bagian 7: Revolusi Lembut—Mengubah Gereja dari Dalam 

Gereja Rumah Sakit Lapangan 

"Saya bermimpi tentang Gereja sebagai rumah sakit lapangan setelah pertempuran," kata Pope Francis dalam wawancara yang mendunia. 

Bukan Gereja yang sibuk menghakimi siapa yang benar dan siapa yang salah. Bukan Gereja yang obsesif dengan aturan dan doktrin. Tapi Gereja yang pertama-tama menyembuhkan luka, menghangatkan hati, dan menemani perjalanan. 

Laudato Si'—Merawat Rumah Bersama 

2015, Pope Francis menerbitkan ensiklik yang revolusioner: Laudato Si' (Terpujilah Engkau)—tentang krisis ekologi. 

Untuk pertama kali dalam sejarah, seorang Paus menyatakan dengan tegas: krisis lingkungan adalah krisis moral dan spiritual. 

"Bumi, rumah bersama kita, seperti saudari yang berbagi hidup dengan kita dan seperti ibu yang cantik yang merangkul kita," tulis Pope Francis. 

Ensiklik ini mengubah percakapan global tentang lingkungan—bukan lagi isu politik atau ekonomi semata, tapi panggilan moral untuk seluruh umat manusia. 

Amoris Laetitia—Kegembiraan Cinta 

Dalam dokumen tentang keluarga ini, Pope Francis mengambil posisi yang kontroversial: Gereja harus lebih berbelaskasih kepada mereka yang perceraian, pasangan yang hidup bersama tanpa nikah, dan situasi keluarga yang "tidak sempurna". 

"Keluarga sejati bukan yang sempurna, tapi yang berjuang dengan cinta," tulis Pope Francis. "Tugas Gereja bukan menghakimi, tapi menemani."

 


Bagian 8: Tantangan Zaman—Harapan di Tengah Keputusasaan 

Pandemi dan Solidaritas Global 

Ketika COVID-19 melanda dunia, Pope Francis melihat bukan hanya krisis kesehatan, tapi krisis kemanusiaan. 

"Pandemi mengajarkan kita bahwa kita semua dalam bahtera yang sama," tulis Pope Francis. "Tidak ada yang selamat sendirian." 

Dia menggunakan momen ini untuk menyerukan ekonomi yang lebih adil, sistem kesehatan universal, dan solidaritas global yang melampaui batas negara dan agama. 

Perang dan Jalan Damai 

Dalam menghadapi konflik di Ukraina dan Timur Tengah, Pope Francis memilih jalan yang tidak populer: menolak memihak, tapi menyerukan perdamaian. 

"Perang selalu adalah kekalahan kemanusiaan," tulis Pope Francis. "Tidak ada perang yang adil. Yang ada adalah perdamaian yang adil dan perdamaian yang tidak adil." 

Posisi ini dikritik oleh banyak pihak—yang menginginkan Gereja mengambil sikap politik yang jelas. Tapi Pope Francis tetap konsisten: Gereja harus menjadi jembatan, bukan memperdalam jurang. 

Migrasi dan Hospitalitas 

Bagi Pope Francis, krisis migrasi adalah ujian moral peradaban kita. 

"Migran adalah Yesus hari ini," kata Pope Francis dalam kunjungan ke Lampedusa—pulau yang menjadi pintu masuk pengungsi ke Eropa. 

Dia tidak hanya berbicara tentang kebijakan imigrasi. Dia berbicara tentang mengapa orang meninggalkan rumah mereka, bagaimana kita bisa mengatasi akar masalah kemiskinan dan konflik, dan apa arti hospitalitas dalam dunia yang semakin tertutup.

 


Bagian 9: Warisan Harapan—Pesan untuk Masa Depan

Gereja Synodal 

Salah satu reformasi terpenting Pope Francis adalah mengubah cara Gereja mengambil keputusan: dari hierarkis menjadi synodal—berjalan bersama. 

"Gereja bukan pyramid dengan Paus di puncak," tulis Pope Francis. "Gereja adalah lingkaran dengan Kristus di tengah, dan kita semua berjalan bersama mengelilingi-Nya." 

Ini berarti mendengarkan suara kaum awam—termasuk perempuan, anak muda, dan mereka yang selama ini terpinggirkan dalam Gereja. 

Fratelli Tutti—Persaudaraan Universal 

Ensiklik terakhir Pope Francis adalah tentang persaudaraan universal—visi dunia di mana semua manusia adalah saudara, terlepas dari agama, ras, atau kewarganegaraan. 

"Tidak ada yang asing dalam keluarga manusia," tulis Pope Francis. "Kita semua bersaudara." 

Ini bukan hanya idealis religius. Ini adalah program konkret untuk mengatasi populisme, nasionalisme, dan tribalisme yang mengancam peradaban. 

Pesan untuk Generasi Muda 

Sepanjang kepausannya, Pope Francis punya perhatian khusus pada anak muda—generasi yang mewarisi planet yang rusak dan masyarakat yang terpecah. 

"Jangan biarkan mereka mencuri harapan kalian," kata Pope Francis kepada jutaan anak muda dalam World Youth Day. "Kalian tidak masa depan Gereja. Kalian adalah Gereja hari ini." 

Dia mengajak anak muda untuk menjadi "revolutionaries of tenderness"—revolusioner kelembutan—yang mengubah dunia bukan dengan kekerasan, tapi dengan kasih.

 


Penutup: Harapan yang Tidak Pernah Mengecewakan 

Di akhir otobiografinya, Pope Francis menulis dengan suara yang penuh kedamaian tapi juga urgensi: 

"Dan jika mimpi memudar, kita perlu kembali dan bermimpi lagi, dalam bentuk baru, menggali harapan dari bara kenangan. Kita orang Kristen harus tahu bahwa harapan tidak menipu dan tidak mengecewakan: Semuanya lahir untuk mekar dalam musim semi abadi." 

Pelajaran dari Hidup Seorang Paus 

Apa yang bisa kita pelajari dari perjalanan Jorge Mario Bergoglio dari barrio Flores hingga Vatican? 

1. Akar Memberi Kekuatan Meskipun dia menjadi pemimpin global, Pope Francis tidak pernah melupakan akarnya. Dia tetap berbicara bahasa Spanish ketika marah. Dia tetap suka tango. Dia tetap tahu bagaimana naik bus. 

Pelajaran: Kekuatan sejati datang dari mengingat dari mana kita berasal, bukan dari melupakan masa lalu. 

2. Kegagalan Adalah Guru Terbaik Pope Francis jujur tentang kesalahan-kesalahannya—sebagai Provincial, sebagai uskup, bahkan sebagai Paus. 

Pelajaran: Yang membedakan pemimpin sejati adalah bukan tidak pernah gagal, tapi belajar dari kegagalan dan tidak takut mengakui kesalahan. 

3. Kekuasaan Adalah Pelayanan Semakin tinggi posisi Pope Francis, semakin sederhana gaya hidupnya. Semakin besar kekuasaannya, semakin dia menolak untuk menggunakannya untuk kepentingan pribadi. 

Pelajaran: Kekuasaan sejati adalah kekuasaan yang digunakan untuk melayani, bukan untuk dilayani. 

4. Harapan Bukan Optimisme Naif Pope Francis tidak menyangkal realitas kegelapan dunia—perang, kemiskinan, korupsi, krisis ekologi. 

Tapi dia tetap berharap—bukan karena dia tidak melihat masalahnya, tapi karena dia percaya pada kemampuan manusia untuk berubah. 

Pelajaran: Harapan sejati bukan berdasarkan pada keadaan eksternal, tapi pada keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin.

5. Revolusi Dimulai dari Hati Pope Francis mengubah Gereja bukan dengan revolusi dramatis, tapi dengan revolusi kelembutan—mengubah hati, mengubah cara pandang, mengubah prioritas. 

Pelajaran: Perubahan paling mendalam dimulai dari dalam—dari transformasi cara kita melihat diri sendiri dan sesama. 

Pertanyaan untuk Hidup Kita 

Pope Francis mengakhiri bukunya dengan pertanyaan yang menantang: 

● Apakah kita hidup untuk diri sendiri atau untuk orang lain? 

● Apakah kita membangun jembatan atau tembok? 

● Apakah kita mencari yang menyatukan atau yang memisahkan?

● Apakah kita punya keberanian untuk bermimpi tentang dunia yang lebih baik? 

Harapan untuk Zaman Ini 

Di dunia yang semakin terpolarisasi, Pope Francis menawarkan jalan ketiga: bukan kompromi yang lemah, tapi sintesis yang kreatif. 

Tidak harus memilih antara tradisi dan pembaruan. Antara spiritual dan sosial. Antara lokal dan global. 

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bermimpi dan kesabaran untuk membangun. 

Seperti neneknya Rosa yang mengajarkan Jorge tentang akar sambil mendorongnya tumbuh. Seperti Santo Fransiskus yang meninggalkan kekayaan untuk menemukan kebebasan sejati. Seperti Yesus yang mati untuk memberi hidup. 

Harapan bukan tentang menyelamatkan diri sendiri. Harapan adalah tentang mempertaruhkan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita. 

Dan seperti yang ditulis Pope Francis di paragraf terakhir bukunya: 

"Pada akhirnya, kita akan mengatakan hanya: Saya tidak ingat apa pun di mana Engkau tidak ada di sana."

 


Tentang Buku Asli 

"Hope: The Autobiography" diterbitkan oleh Random House pada 14 Januari 2025, tiga bulan sebelum Pope Francis meninggal pada 21 April 2025. Ini adalah otobiografi pertama yang pernah diterbitkan oleh Paus yang masih menjabat. 

Pope Francis (Jorge Mario Bergoglio) adalah Paus ke-266 Gereja Katolik, menjabat dari 2013 hingga 2025. Dia adalah Paus pertama dari Amerika Latin, pertama dari Hemisfer Selatan, dan pertama yang memilih nama Francis. Sepanjang kepausannya, dia dikenal karena kerendahan hatinya, perhatiannya kepada kaum miskin, dan komitmennya pada dialog lintas agama dan budaya. 

Buku ini ditulis berdasarkan wawancara selama enam tahun dengan jurnalis Italia Carlo Musso dan diterjemahkan ke lebih dari 80 bahasa di seluruh dunia. 

Buku ini mendapat pujian dari The New York Times sebagai karya yang "dengan hidup menciptakan kembali dunia berwarna-warni tempat Jorge Mario Bergoglio muda tumbuh" dan dari The New Statesman sebagai "powerful and moving." 

Untuk pemahaman lengkap tentang perjalanan spiritual seorang Paus, visi reformasi Gereja, dan pesan harapannya untuk dunia, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi buku lengkapnya menawarkan kedalaman refleksi spiritual, kekayaan anekdot pribadi, dan nuansa teologis yang hanya bisa dirasakan dalam karya aslinya. 

Sekarang pergilah dan renungkan: Harapan apa yang akan Anda bawa untuk dunia? Dan dari bara kenangan apa Anda akan menghidupkan api perubahan? 

Karena seperti yang ditunjukkan Pope Francis—harapan bukan kata benda yang pasif. Harapan adalah kata kerja yang menuntut tindakan. 

Dan tindakan itu dimulai hari ini, dari tempat Anda berada, dengan orang-orang di sekitar Anda.

Karena semuanya lahir untuk mekar dalam musim semi abadi.