Ketika Impian Amerika Menjadi Mimpi Buruk
Bayangkan Anda bekerja 40 jam seminggu, bahkan lebih.
Anda bangun pagi-pagi buta, berangkat ke kantor atau pabrik, pulang sore dengan kelelahan. Anda melakukan semua yang "seharusnya dilakukan"—bekerja keras, mengikuti aturan, bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik.
Tapi di akhir bulan, uang selalu kurang. Tagihan rumah sakit menumpuk. Biaya sekolah anak terus naik. Harga bensin melonjak. Sementara gaji Anda? Stagnan, bahkan turun jika dihitung inflasi.
Anda melihat CEO perusahaan tempat Anda bekerja mendapat bonus puluhan juta rupiah. Anda melihat perusahaan besar dapat keringanan pajak miliaran rupiah. Anda melihat politisi berjanji "ekonomi akan menetes ke bawah" untuk menguntungkan semua orang.
Tapi yang menetes ke Anda hanyalah tagihan yang lebih besar dan rasa frustrasi yang semakin dalam.
Selamat datang di Amerika abad ke-21.
Elizabeth Warren, Senator dari Massachusetts yang pernah menjadi kandidat presiden, telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari mengapa mimpi Amerika—bahwa kerja keras akan dihargai dengan kehidupan yang layak—berubah menjadi mimpi buruk bagi jutaan keluarga.
Dalam buku "This Fight Is Our Fight," Warren tidak hanya mendiagnosis penyakit yang menggerogoti kelas menengah Amerika. Dia juga memberikan obat: perjuangan politik untuk merebut kembali pemerintah dari tangan korporasi dan billionaire yang telah menguasainya selama 35 tahun terakhir.
Ini bukan buku tentang politik partisan. Ini tentang kelangsungan hidup kelas menengah—dan dengan itu, kelangsungan hidup demokrasi Amerika itu sendiri.
Mari kita mulai dari awal. Dari hari-hari ketika Amerika benar-benar bekerja untuk rakyatnya.
Bagian 1: Zaman Keemasan yang Terlupakan—New Deal dan Kelahiran Kelas Menengah
FDR dan Janji yang Ditepati
Tahun 1935. Amerika baru saja keluar dari Depresi Besar, krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modern.
Presiden Franklin Delano Roosevelt menghadapi pilihan: membiarkan pasar bebas yang sudah terbukti gagal, atau menggunakan pemerintah untuk membangun kembali ekonomi yang bekerja untuk semua orang.
FDR memilih yang kedua. Dan dimulailah era paling prosperous dalam sejarah Amerika.
New Deal bukan hanya program bantuan sosial. New Deal adalah investasi massal dalam infrastruktur, pendidikan, penelitian, dan regulasi yang melindungi rakyat dari keserakahan korporasi.
Pemerintah membangun jalan, jembatan, sekolah, universitas. Menciptakan Jaminan Sosial. Mengatur bank agar tidak bisa berjudi dengan uang nasabah. Memberikan hak pekerja untuk berserikat.
Hasilnya? Dari tahun 1935 hingga 1980—selama 45 tahun—Amerika membangun kelas menengah terkuat dalam sejarah dunia.
Cerita Ibu Warren—Dari Tragedi ke Harapan
Warren menceritakan kisah keluarganya sendiri sebagai contoh bagaimana sistem ini bekerja.
Tahun 1960-an di Oklahoma. Ayah Warren terkena serangan jantung dan tidak bisa bekerja lagi. Keluarga mereka berada di ambang kehancuran finansial.
Tapi ibu Warren—seorang perempuan berusia 50 tahun tanpa pengalaman kerja formal—berhasil mendapat pekerjaan dengan upah minimum di toko Sears.
Upah minimum saat itu cukup untuk membayar hipotek rumah.
Baca kalimat itu lagi: Upah minimum di tahun 1960-an cukup untuk membayar hipotek rumah.
Keluarga Warren tidak hanya selamat—mereka berkembang. Elizabeth bisa sekolah gratis di universitas negeri, menjadi guru, lalu profesor hukum di Harvard.
Dari tragedi serangan jantung ayahnya, lahir seorang Senator yang akan berjuang untuk jutaan keluarga Amerika.
Itulah kekuatan sistem yang bekerja untuk rakyat, bukan untuk korporasi.
Formula Ajaib: Investasi + Regulasi + Serikat Pekerja
Apa rahasia kesuksesan era 1935-1980?
Pertama: Investasi Publik Masif
● Interstate Highway System—sistem jalan raya antarnegara bagian terbesar dalam sejarah
● GI Bill—program pendidikan gratis untuk veteran perang
● Penelitian dasar yang melahirkan internet, GPS, dan teknologi modern
● Infrastruktur air bersih, listrik, telekomunikasi untuk seluruh negara
Kedua: Regulasi yang Melindungi Rakyat
● Glass-Steagall Act memisahkan bank komersial dan investment banking
● Antitrust laws mencegah monopoli korporasi
● Regulasi lingkungan melindungi air dan udara bersih
● Consumer protection mencegah penipuan dan produk berbahaya
Ketiga: Serikat Pekerja yang Kuat
● Di tahun 1950-an, 35% pekerja Amerika tergabung dalam serikat
● Collective bargaining memastikan upah naik seiring produktivitas
● Benefits seperti asuransi kesehatan dan pensiun menjadi standar
● Work-life balance dijaga dengan 40-hour work week
Hasilnya spektakuler: Dari 1935-1980, ketika GDP Amerika naik, kelas menengah ikut naik bersama-sama.
Tapi kemudian, semuanya berubah.
Bagian 2: Revolusi Reagan dan Lahirnya Trickle-Down Economics
"Government Is the Problem"
Tahun 1981. Ronald Reagan dilantik sebagai Presiden dengan slogan yang akan mengubah Amerika selamanya:
"Government is not the solution to our problem. Government is the problem."
Ini adalah revolusi ideologis. Selama 45 tahun, pemerintah dipandang sebagai kekuatan yang membangun kelas menengah. Sekarang, pemerintah adalah musuh.
Reagan dan konservatif menjual kepada Amerika sebuah teori baru: Trickle-Down Economics.
Idenya sederhana: Berikan tax cuts kepada orang kaya dan korporasi. Uang akan "menetes ke bawah" kepada rakyat biasa melalui investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Kedengarannya bagus. Sayangnya, ini tidak pernah bekerja.
Deregulasi: Melepas Rantai dari Beast
Tahap pertama revolusi Reagan: deregulasi masif.
Banking: Glass-Steagall Act yang melindungi Amerika dari krisis keuangan sejak 1933 mulai dikikis. Bank-bank besar diberi izin untuk berjudi dengan uang nasabah.
Hasilnya? Savings and Loan Crisis tahun 1980-an yang menghabiskan $132 miliar uang taxpayer.
Tapi deregulasi tidak berhenti. Tahun 1999, Glass-Steagall sepenuhnya dicabut. Bank-bank kecil bergabung menjadi bank besar. Bank besar menjadi bank raksasa. Bank raksasa menjadi "too big to fail."
Hasilnya? Krisis finansial 2008 yang menghabiskan $22 trillion—dua puluh dua ribu miliar dollar—dari ekonomi Amerika.
Antitrust: Penegakan hukum anti-monopoli dilonggarkan. Korporasi raksasa diizinkan untuk mengakuisisi kompetitor mereka.
Hasilnya? Konsentrasi kekuatan ekonomi di tangan segelintir perusahaan. Walmart menguasai retail. Facebook menguasai media sosial. Amazon menguasai e-commerce. Google menguasai pencarian.
Labor: Regulasi yang melindungi hak pekerja untuk berserikat dilemahkan. "Right to work" laws menyebar ke seluruh negara.
Hasilnya? Keanggotaan serikat pekerja turun dari 35% di tahun 1950-an menjadi kurang dari 7% hari ini untuk sektor swasta.
Tax Cuts for the Rich: Robin Hood in Reverse
Tahap kedua: potongan pajak masif untuk orang kaya.
Sejak 1981, top marginal tax rate turun dari 70% menjadi 37%. Corporate tax rate turun dari 35% menjadi 21%. Capital gains tax—pajak atas keuntungan investasi—dipotong berkali-kali.
Hasilnya? Government revenue turun drastis, memaksa pemotongan investasi publik yang membangun kelas menengah.
Infrastruktur Amerika mulai runtuh. Investasi penelitian dipotong. Program pendidikan dikurangi. Social safety net diperlemah.
Sementara itu, kekayaan mengalir ke atas dengan kecepatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika.
The Great Divergence: Ketika Produktivitas dan Upah Berpisah
Warren menunjukkan grafik yang paling mengerikan dalam buku ini:
Dari 1935-1980: Produktivitas pekerja Amerika naik, upah naik bersama-sama. Ketika ekonomi tumbuh, semua orang diuntungkan.
Dari 1980-sekarang: Produktivitas terus naik, tapi upah stagnan. Semua keuntungan pertumbuhan ekonomi mengalir ke atas.
Artinya? Pekerja Amerika hari ini 2.5 kali lebih produktif daripada tahun 1980, tapi mereka tidak dibayar lebih banyak.
Ke mana perginya uang itu? Ke CEO, shareholders, dan top 1%.
Tahun 1980, CEO rata-rata dibayar 42 kali lipat dari pekerja biasa. Hari ini? CEO dibayar lebih dari 300 kali lipat pekerja biasa.
Inilah hasil dari 40 tahun trickle-down economics: Wealth trickled up, not down.
Bagian 3: Wajah Manusiawi dari Krisis—Kisah Nyata Keluarga Amerika
Warren tidak hanya berbicara dalam angka. Dia menceritakan kisah nyata keluarga Amerika yang dia temui sebagai Senator:
Gina, Pekerja Walmart
Gina bekerja di Walmart selama bertahun-tahun. Full-time, 40 jam seminggu.
Tapi gajinya tidak cukup untuk hidup. Dia harus bergantung pada food stamps (bantuan makanan pemerintah), Medicaid (asuransi kesehatan untuk orang miskin), dan housing assistance untuk bertahan hidup.
Walmart—perusahaan terkaya di Amerika—membayar pekerjanya begitu sedikit sehingga taxpayer harus mensubsidi kehidupan mereka.
Berapa subsidi yang diberikan taxpayer untuk pekerja Walmart? $7.8 miliar per tahun.
Dan Walmart bukan satu-satunya. Fast food chains, retail chains, dan service companies membayar upah begitu rendah sehingga Amerika mengeluarkan $153 miliar per tahun untuk mensubsidi pekerja full-time yang tidak bisa hidup layak.
Ini adalah corporate welfare dalam bentuk paling perverse: perusahaan mendapat keuntungan besar, sementara taxpayer membiayai pekerja mereka.
Keluarga Hinton: Diskriminasi dan Kehilangan Rumah
Warren menceritakan kisah keluarga kulit hitam di Detroit yang menjadi korban predatory lending—pinjaman berbahaya—selama housing bubble.
Keluarga ini punya credit score yang baik dan income yang stabil. Tapi karena mereka kulit hitam, mereka diarahkan ke subprime mortgage dengan interest rate tinggi dan terms yang merugikan.
Ketika housing bubble pecah 2008, mereka kehilangan rumah yang sudah mereka bayar bertahun-tahun.
Ini bukan kisah individual. Ini adalah pattern sistematis. Bank-bank besar menargetkan komunitas minoritas untuk predatory loans, mengambil keuntungan dari diskriminasi rasial yang masih mengakar.
The Squeeze: Pendapatan Stagnan, Biaya Melonjak
Warren menunjukkan "the squeeze" yang dialami kelas menengah Amerika:
Housing: Harga rumah naik jauh lebih cepat daripada inflasi. Yang dulu bisa dibeli dengan single income, sekarang butuh dual income—dan masih susah.
Healthcare: Biaya kesehatan Amerika adalah yang termahal di dunia, tapi outcomes-nya tidak terbaik. Medical bankruptcy menjadi penyebab utama kebangkrutan personal.
Childcare: Biaya penitipan anak naik 2x, 3x, bahkan 4x lipat dalam satu generasi. Untuk banyak keluarga, biaya childcare lebih mahal dari college tuition.
Education: College tuition naik 10x lebih cepat daripada inflasi. Student debt total Amerika: $1.4 trillion. Rata-rata lulusan college punya hutang $30,000+ sebelum mulai karir.
Transportation: Car prices naik, insurance naik, gas prices volatile. Public transportation di kebanyakan kota Amerika tidak memadai.
Hasilnya? The middle-class squeeze: Meskipun keluarga modern sering punya dual income (berbeda dengan single income di era 1950-60an), mereka punya saving yang lebih sedikit dan debt yang lebih besar.
Bagian 4: Washington yang Dijual—Bagaimana Korporasi Membeli Pemerintah
The Swamp: Revolving Door Lobbyist
Warren memberi pembaca tour ke dalam "swamp"—rawa korupsi legal di Washington DC.
Revolving Door: Mantan anggota Congress menjadi lobbyist dengan gaji jutaan dollar untuk mempengaruhi mantan kolega mereka. Mantan regulator menjadi konsultan untuk industri yang dulu mereka regulate.
Campaign Contributions: Korporasi menyumbang ratusan juta dollar untuk kampanye politik, mengharapkan policy yang menguntungkan mereka sebagai balasan.
Super PACs: Setelah keputusan Supreme Court Citizens United (2010), korporasi bisa mengeluarkan unlimited money untuk mempengaruhi pemilu—tanpa disclosure siapa yang membayar.
Hasilnya? Policy dibuat untuk menguntungkan donor, bukan voter.
The Student Debt Scam: Trickle-Down pada yang Terburuk
Warren menggunakan student debt crisis sebagai contoh sempurna bagaimana trickle-down economics bekerja dalam praktik.
The Setup: Pemerintah memotong funding untuk public universities (tax cuts untuk kaya harus dibayar dengan spending cuts untuk rakyat).
The Squeeze: Universities menaikkan tuition untuk mengompensasi lost funding. Students terpaksa mengambil lebih banyak loan.
The Scam: Student loans tidak bisa di-discharge dalam bankruptcy. Berbeda dengan business loans, credit card debt, atau bahkan gambling debt—student debt mengikuti Anda sampai mati.
The Payoff: Banks dan loan servicers mendapat guaranteed profit dari government-backed loans yang tidak bisa di-default.
Warren bertarung di Senate untuk mengizinkan student loan refinancing—seperti mortgage refinancing yang biasa dilakukan. Republicans memblokir setiap upaya reform.
Mengapa? Karena donor mereka—financial industry—mendapat keuntungan besar dari status quo.
Corporate Subsidies: Welfare for the Rich
Sementara politicians berbicara tentang "welfare queens" dan "dependency," korporasi terbesar Amerika menerima ratusan miliar dollar subsidi government setiap tahun:
● Oil companies mendapat tax breaks miliaran dollar meskipun mendapat record profits
● Pharmaceutical companies melakukan research dengan taxpayer money, lalu charge premium prices untuk obat yang dikembangkan dengan public funds
● Tech giants mendapat massive tax breaks untuk relocate headquarters mereka
● Financial institutions mendapat implicit guarantee bahwa government akan bail them out jika mereka terlalu besar untuk gagal
Total corporate welfare per tahun: lebih dari $100 miliar. Ini lebih besar dari total food stamps program.
Bagian 5: Trump—Con Artist yang Menjual Trickle-Down dengan Populist Rhetoric
Warren menulis buku ini di tahun 2017, setahun setelah Trump terpilih. Analisisnya tentang fenomena Trump sangat tajam:
The Perfect Con
Trump menjual dirinya sebagai outsider yang akan "drain the swamp" dan melawan establishment.
Kenyataannya? Trump mengelilingi dirinya dengan Wall Street executives, corporate lobbyists, dan billionaires—orang-orang yang menjalankan swamp tersebut.
Campaign promise: "I will fight for forgotten Americans." Policy reality: Tax cuts terbesar dalam sejarah untuk korporasi dan orang terkaya.
Campaign promise: "I will bring back manufacturing jobs."
Policy reality: Deregulasi yang memudahkan perusahaan untuk move jobs overseas.
Campaign promise: "I will fix healthcare." Policy reality: Upaya menghapus Obamacare yang akan menghilangkan coverage untuk 24 juta orang.
The Oldest Trick in the Book
Warren menunjukkan bahwa Trump menggunakan strategi yang sudah berusia berabad-abad: blame the victim.
Unemployment tinggi? Bukan karena kebijakan ekonomi yang gagal—itu karena immigrants. Wages stagnan? Bukan karena union busting dan corporate greed—itu karena trade deals.
Healthcare tidak affordable? Bukan karena pharmaceutical companies dan insurance companies yang serakah—itu karena government regulation.
Divide and conquer. Pit working-class whites against working-class minorities. Pit workers against immigrants. Pit regions against each other.
Sementara itu, korporasi dan billionaire tertawa sepanjang jalan ke bank.
The Oligarchy Accelerates
Warren memperingatkan bahwa Trump tidak hanya melanjutkan trickle-down economics—dia mengakselerasinya ke tingkat yang belum pernah terjadi.
Financial deregulation: Rollback of Dodd-Frank protections yang diterapkan setelah krisis 2008.
Environmental deregulation: Keluar dari Paris Climate Agreement, buka national parks untuk mining dan drilling.
Consumer protection dismantling: Weakening Consumer Financial Protection Bureau yang Warren dirikan.
Tax cuts: $1.9 trillion tax cuts yang 80% menguntungkan top 1%.
Warren menyebut ini "oligarchy in the making"—sistem di mana segelintir orang kaya mengendalikan pemerintah untuk kepentingan mereka sendiri.
Bagian 6: The Fightback—Bagaimana Merebut Kembali Amerika
This Fight Is Our Fight
Warren tidak berakhir dengan despair. Dia berakhir dengan call to action.
Judul bukunya bukan kebetulan: "This Fight Is Our Fight."
Bukan fight Warren. Bukan fight Democrats. Fight semua orang Amerika yang percaya bahwa government harus bekerja untuk rakyat, bukan untuk donor.
Warren menunjukkan bahwa mayoritas Amerika—Republicans dan Democrats—sebenarnya setuju tentang policy solutions:
● 75% amerikans mendukung debt-free college
● 73% americans mendukung Social Security expansion
● 67% americans mendukung minimum wage increase
● 75% americans mendukung infrastructure investment
Masalahnya bukan lack of popular support. Masalahnya adalah money in politics.
The Policy Agenda
Warren meletakkan agenda policy yang komprehensif:
Economic:
● Raise minimum wage to $15/hour
● Strengthen collective bargaining rights
● Break up big banks dan big tech monopolies
● Student loan forgiveness dan debt-free college
● Universal childcare
● Medicare for All
Political:
● Overturn Citizens United
● Public financing of campaigns
● Lobbying reform
● Ethics enforcement
● Voting rights protection
Structural:
● Progressive taxation—make rich pay fair share
● Close corporate tax loopholes
● Financial transaction tax
● Estate tax on massive inheritances
Grassroots Organizing
Tapi Warren menekankan: Policy tanpa power adalah wishful thinking.
Satu-satunya cara mengimplementasikan agenda ini adalah dengan grassroots organizing yang masif.
Warren menceritakan pengalamannya dalam fights di Senate—melawan Wall Street, melawan pharmaceutical companies, melawan predatory lenders. Setiap kali, dia kalah sampai rakyat mulai organize dan pressure.
The lesson: Politicians akan melakukan apa yang benar hanya ketika cost of doing wrong lebih besar daripada cost of doing right.
Hope in Action
Warren mengakhiri buku dengan hope.
Dia menceritakan momen-momen ketika rakyat Amerika bangkit dan fight back:
● Airport protests melawan Muslim ban
● Town halls yang memaksa Republicans mundur dari Obamacare repeal
● Teachers strikes yang memenangkan better funding untuk schools
● Minimum wage campaigns yang menang di red states dan blue states
"We stood up in different places and we spoke out in different ways, but we made it clear that we believe in basic human dignity."
Bagian 7: Pelajaran untuk Indonesia dan Dunia
Meskipun Warren menulis tentang Amerika, pelajaran dari "This Fight Is Our Fight" universal:
1. Trickle-Down Economics Adalah Penipuan Global
Indonesia juga mengalami tekanan untuk mengurangi pajak korporasi, deregulasi, dan privatisasi dengan janji bahwa manfaatnya akan "menetes ke bawah."
Kenyataannya: Inequality di Indonesia terus meningkat. Kekayaan mengalir ke atas, bukan ke bawah.
Pelajaran: Jangan percaya janji bahwa memberikan keuntungan kepada yang kaya akan menguntungkan yang miskin.
2. Government Bukan Musuh—Government Adalah Tool
Narrative bahwa "government is the problem" juga menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Tapi Warren menunjukkan: Government yang bekerja untuk rakyat adalah satu-satunya counterbalance terhadap kekuatan korporasi.
Pelajaran: Fight untuk government yang accountable dan responsif, jangan hancurkan government itu sendiri.
3. Money in Politics Adalah Kanker Demokrasi
Korupsi tidak hanya tentang suap langsung. Korupsi modern adalah tentang kekuatan uang untuk membeli pengaruh politik secara legal.
Di Indonesia: Dari funding kampanye hingga revolving door antara regulator dan industri, pattern yang sama terjadi.
Pelajaran: Campaign finance reform dan ethics enforcement adalah essential untuk demokrasi yang sehat.
4. Organize atau Kalah
Warren menunjukkan bahwa individual action tidak cukup. Voting sekali setiap 4-5 tahun tidak cukup.
Dibutuhkan: Organizing berkelanjutan, pressure berkelanjutan, mobilisasi berkelanjutan.
Pelajaran: Demokrasi adalah participatory sport. Jika kita tidak participate, yang lain akan mengendalikan game.
5. Economic Justice Adalah Social Justice
Warren menunjukkan bahwa economic inequality dan social inequality saling menguat.
Racial discrimination membuat predatory lending lebih mudah. Gender discrimination membuat wage theft lebih mudah. Class discrimination membuat semua bentuk exploitation lebih mudah.
Pelajaran: Fight untuk economic justice dan fight untuk social justice adalah fight yang sama.
Penutup: The Fight Continues
Elizabeth Warren mengakhiri bukunya dengan kalimat yang powerful:
"Our country's future is not determined by some law of physics. It is not determined by the whims of fate. Our future will be decided by the choices we make and the actions we take."
Tiga tahun setelah buku ini diterbitkan, banyak prediksi Warren terbukti benar:
● COVID-19 pandemic mengekspos betapa rapuhnya social safety net Amerika
● Economic inequality mencapai level yang belum pernah terjadi
● Political polarization meningkat karena economic desperation
● Democracy itself berada di bawah ancaman
Tapi Warren juga benar tentang power of organizing:
● Minimum wage naik di puluhan kota dan negara bagian
● Student debt relief menjadi mainstream political issue
● Medicare for All didukung mayoritas Americans
● Green New Deal mengubah conversation tentang climate change
● Wealth tax dan corporate tax reform mendapat support luas
"This Fight Is Our Fight" bukan hanya diagnosis—ini adalah roadmap.
Pertanyaan untuk Anda
Warren mengakhiri dengan pertanyaan yang harus dijawab setiap pembaca:
● Apakah Anda akan accept status quo di mana segelintir orang kaya mengendalikan ekonomi dan politik?
● Atau Anda akan fight untuk sistem yang bekerja untuk semua orang?
Di Indonesia, pertanyaan serupa relevan:
● Apakah kita akan terima sistem di mana kekayaan semakin terkonsentrasi di tangan segelintir orang?
● Apakah kita akan terima politik yang dikuasai oleh money dan connections?
● Atau kita akan organize untuk economic democracy dan political democracy?
Warren menunjukkan jawabannya: Fight ini bukan fight satu orang. Fight ini bukan fight satu partai. This fight is our fight.
Semua orang yang percaya pada basic human dignity. Semua orang yang percaya bahwa hard work harus dihargai. Semua orang yang percaya bahwa generation berikutnya harus punya opportunities yang lebih baik.
Fight dimulai dengan understanding. Berlanjut dengan organizing. Dan menang dengan persistence.
Seperti yang Warren tulis: "The rich and powerful will keep taking from everyone else until we make them stop."
Pertanyaannya bukan apakah kita akan fight. Pertanyaannya adalah kapan kita akan mulai fighting back.
Tentang Buku Asli
"This Fight Is Our Fight: The Battle to Save America's Middle Class" diterbitkan oleh Metropolitan Books pada April 2017 dan langsung menjadi #1 New York Times Bestseller.
Elizabeth Warren adalah Senator Amerika Serikat dari Massachusetts sejak 2013 dan mantan profesor hukum di Harvard Law School. Sebelum terjun ke politik, dia adalah ahli hukum kepailitan yang mempelajari financial distress keluarga Amerika selama puluhan tahun.
Warren adalah kandidat presiden dari Partai Demokrat dalam primary 2020 dan dikenal sebagai salah satu progressive voice paling kuat di Amerika. Dia mendirikan Consumer Financial Protection Bureau dan menjadi advocate utama untuk financial reform.
Buku ini mendapat pujian luas dari economists seperti Paul Krugman yang menyebutnya "smart, tough-minded book" dan "important contribution." Kirkus Reviews memberikan starred review dan menyebut Warren's urgency "palpable and necessary."
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana economic inequality merusak demokrasi dan apa yang bisa dilakukan untuk melawan balik, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap argumen utama—tapi buku lengkapnya memberikan data detail, lebih banyak personal stories, dan policy prescriptions yang spesifik.
Sekarang pergilah dan putuskan: Apakah Anda akan menerima sistem yang rigged, atau Anda akan fight back?
Karena seperti yang ditunjukkan Elizabeth Warren—this fight is our fight, dan fight ini bisa dimenangkan jika kita willing to fight.