Jembatan yang Dibangun dalam 12 Hari
Juni 2023. Jembatan Interstate 95 di Philadelphia runtuh setelah truk tangki meledak di bawahnya.
I-95 adalah urat nadi ekonomi Pantai Timur Amerika—400.000 kendaraan melintas setiap hari. Jembatan ini menghubungkan New York, Philadelphia, dan Washington DC. Ketika runtuh, perdagangan terhenti. Kemacetan meledak. Kerugian ekonomi diperkirakan 20 juta dollar per hari.
Berapa lama biasanya butuh untuk membangun kembali jembatan seperti ini di Amerika? Dua tahun. Tiga tahun. Mungkin lebih.
Tapi Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, membuat keputusan radikal: Buang semua regulasi yang tidak penting. Fokus pada hasil.
Tidak ada tender bertele-tele. Tidak ada kajian lingkungan berbulan-bulan. Tidak ada rapat komite tanpa akhir. Hanya satu tujuan: Bangun jembatan ini secepat mungkin.
Hasilnya? 12 hari.
Dalam waktu kurang dari dua minggu, jembatan yang biasanya butuh dua tahun selesai dibangun. Dengan kualitas yang sama. Dengan keselamatan yang sama. Bahkan lebih cepat dari target awal.
Ketika jembatan dibuka kembali, Shapiro berkata: "Kita baru saja membuktikan sesuatu yang penting—ketika kita memutuskan untuk membangun, kita masih bisa melakukannya."
Pertanyaannya: Jika kita bisa membangun jembatan dalam 12 hari ketika darurat, mengapa butuh dua tahun dalam kondisi normal?
Inilah pertanyaan yang menjadi inti dari buku "Abundance"—sebuah buku yang mengubah percakapan politik di Amerika dan mulai mempengaruhi kebijakan di berbagai negara.
Ezra Klein dan Derek Thompson, dua jurnalis paling berpengaruh di Amerika, menghabiskan bertahun-tahun meneliti satu paradoks yang mengganggu:
Amerika adalah negara terkaya dalam sejarah manusia. Teknologi kita lebih maju dari sebelumnya. Kita tahu apa yang perlu dibangun. Tapi kita tidak bisa membangunnya.
Rumah terlalu mahal. Proyek infrastruktur terlambat dan melebihi anggaran. Energi terbarukan terlambat dibangun meskipun krisis iklim semakin parah. Obat-obatan baru terhambat regulasi yang tidak efisien.
Bukan karena kita tidak punya uang. Bukan karena kita tidak punya teknologi. Bukan karena kita tidak punya talent.
Kita tidak bisa membangun karena kita memilih untuk tidak membangun. Kita telah menciptakan sistem yang brilian dalam mengatakan "tidak," tapi sangat buruk dalam mengatakan "ya."
Dan pilihan ini—pilihan kelangkaan yang disengaja—menghancurkan kehidupan orang biasa.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Dari Negara Pembangun Menjadi Negara Penghambat
Era Keemasan Pembangunan
Tahun 1930-an sampai 1970-an, Amerika adalah mesin pembangunan terhebat yang pernah ada.
Hoover Dam: Selesai 2 tahun lebih cepat dari jadwal (1936), mempekerjakan 21.000 orang, mengubah gurun menjadi kota.
Interstate Highway System: 46.000 mil jalan raya dibangun dalam 35 tahun—sambil menghubungkan seluruh negara.
Empire State Building: 102 lantai, selesai dalam 410 hari. Hari ini, proses perizinan saja bisa memakan waktu lebih lama.
Apollo Program: Dari nol ke manusia di bulan dalam 8 tahun.
Apa yang berubah?
Ketika Perlindungan Menjadi Penghambatan
Pada 1970-an, gerakan lingkungan mencapai kemenangan penting: National Environmental Policy Act (NEPA), Clean Air Act, dan berbagai regulasi untuk melindungi lingkungan dari proyek-proyek pembangunan yang merusak.
Ini adalah hal yang baik. Sangat baik.
Masalahnya: Alat yang diciptakan untuk menghentikan proyek buruk sekarang menghentikan proyek baik.
Contoh nyata:
Cape Wind Project (Massachusetts): Proposal untuk membangun farm angin lepas pantai. Energi bersih. Tidak ada emisi. Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Proyek ini di-fight selama 16 tahun. Tidak pernah dibangun. Mengapa? Karena penduduk kaya di Cape Cod tidak mau melihat turbin angin dari jendela rumah mereka. Mereka menggunakan setiap regulasi yang ada untuk menghambat.
California High-Speed Rail: Disetujui pemilih tahun 2008. Target selesai 2020. Budget awal: 33 miliar dollar.
Tahun 2025: Belum ada satu mil pun jalur yang beroperasi. Budget membengkak menjadi 100 miliar dollar lebih. Target selesai? Entah.
Bandingkan dengan China: Membangun 40.000 kilometer jalur kereta cepat dalam 15 tahun.
Atau Spanyol: Membangun sistem kereta cepat dengan biaya per mil sepuluh kali lebih murah daripada California.
Apa yang terjadi?
Klein dan Thompson mengidentifikasi masalah inti: Amerika telah berubah dari negara yang membangun menjadi negara yang menghalangi.
Bagian 2: Tiga Kelangkaan yang Kita Pilih Sendiri
Kelangkaan #1: Perumahan—Krisis yang Dibuat Sendiri
San Francisco. Kota teknologi paling kaya di dunia. Rata-rata harga rumah: 1,5 juta dollar.
New York. Kota finansial global. Studio apartment 40 meter persegi: 3.000 dollar per bulan.
Ini gila. Tapi bukan karena kurangnya lahan.
Klein dan Thompson menunjukkan fakta mengejutkan: San Francisco bisa menampung 3 kali lebih banyak orang jika mereka membangun dengan kepadatan yang sama dengan Paris.
Paris—kota yang penuh dengan bangunan bersejarah indah—lebih padat daripada San Francisco. Tapi San Francisco melarang pembangunan tinggi di sebagian besar wilayahnya karena zoning laws.
Mengapa?
Karena pemilik rumah yang sudah ada tidak mau nilai properti mereka turun. Dan mereka punya kekuatan politik untuk memblokir pembangunan baru.
Hasilnya:
● Anak muda tidak bisa membeli rumah di kota tempat mereka bekerja
● Talenta tidak bisa pindah ke kota-kota produktif karena terlalu mahal
● Tunawisma meledak—bukan karena kurang uang, tapi karena kurang rumah
● Produktivitas ekonomi turun karena orang-orang terpaksa tinggal jauh dari pusat ekonomi
Ironi paling menyakitkan: Kota-kota paling liberal di Amerika—yang paling vokal tentang kesetaraan dan keadilan sosial—adalah kota yang paling tidak terjangkau bagi orang biasa.
Kelangkaan #2: Energi Bersih—Berlomba Kalah Melawan Waktu
Klein dan Thompson mengutip proyeksi: Untuk mencegah pemanasan global di atas 2°C, Amerika perlu membangun 3 terawatt kapasitas energi solar dan angin dalam 15 tahun ke depan.
Ini setara dengan membangun satu proyek energi besar setiap hari selama 15 tahun.
Apakah kita sedang melakukan ini? Tidak.
Mengapa? Regulasi.
Contoh: Vineyard Wind Project (Massachusetts) adalah salah satu proyek farm angin offshore terbesar di Amerika. Proposal diajukan 2017. Proses persetujuan federal: 4 tahun. Dan itu dianggap "cepat."
Di Eropa, proyek serupa disetujui dalam 1-2 tahun.
Ironisnya, regulasi lingkungan—yang diciptakan untuk melindungi planet—sekarang menghambat solusi untuk krisis iklim.
Kajian dampak lingkungan untuk proyek solar sering memakan waktu 2-3 tahun. Dalam waktu itu, ribuan ton emisi karbon dilepaskan ke atmosfer.
Kelangkaan #3: Infrastruktur—Ketika Biaya Meledak dan Jadwal Meleset
Second Avenue Subway (New York): 3,8 mil jalur kereta bawah tanah. Biaya: 4,5 miliar dollar.
Itu 2,5 miliar dollar per mil—biaya tertinggi di dunia.
Bandingkan:
● Spanyol: 100-200 juta dollar per mil
● Italia: 200-300 juta dollar per mil
● Korea Selatan: 150-250 juta dollar per mil
Mengapa Amerika 10 kali lebih mahal?
Bukan karena upah pekerja lebih tinggi—Spanyol punya upah yang layak. Bukan karena standar keselamatan lebih ketat—Eropa punya standar ketat juga.
Karena birokrasi, regulasi berlapis, dan proses yang tidak efisien.
Klein dan Thompson menceritakan: Untuk membangun satu stasiun subway di New York, Anda butuh persetujuan dari 17 lembaga berbeda. Setiap lembaga punya veto power. Setiap lembaga punya checklist sendiri. Setiap lembaga bisa menambah persyaratan baru kapan saja.
Hasilnya: Proyek molor. Biaya membengkak. Dan pada akhirnya, proyek yang bisa selesai dalam 3 tahun butuh 10 tahun.
Bagian 3: Mengapa Kita Memilih Kelangkaan?
Klein dan Thompson bukan sekadar mengkritik—mereka menjelaskan mengapa sistem kita berakhir seperti ini.
Alasan #1: Solusi Kemarin Menjadi Masalah Hari Ini
Pada 1960-an, Amerika punya masalah nyata: Proyek-proyek pembangunan sering merusak lingkungan dan mengusir komunitas miskin tanpa kompensasi.
Contoh terburuk: Robert Moses, perencana kota New York yang kuat, membangun highway yang membelah komunitas kulit hitam dan Latino, menghancurkan ribuan rumah tanpa konsultasi.
Sebagai respons, masyarakat sipil berjuang untuk mendapat suara dalam proses pembangunan. Mereka menuntut kajian dampak lingkungan. Mereka menuntut proses public hearing. Mereka menuntut hak untuk challenge proyek di pengadilan.
Ini adalah kemenangan penting.
Tapi 50 tahun kemudian, alat-alat ini telah menjadi senjata penghambatan.
Sekarang, siapa pun bisa challenge proyek apa pun dengan alasan apa pun—bahkan jika challenge-nya tidak beralasan. Dan bahkan jika mereka kalah di pengadilan, mereka sudah berhasil menunda proyek selama bertahun-tahun dan menaikkan biaya jutaan dollar.
Alasan #2: Liberalisme yang Melindungi, Bukan Membangun
Klein dan Thompson menulis dengan jujur sebagai liberal:
"Sejak 1970-an, kaum liberal menjadi ahli dalam melindungi dan mencegah—melindungi lingkungan dari polusi, mencegah pengusiran, mencegah diskriminasi. Tapi kita lupa bagaimana membangun."
Mereka memberikan contoh dramatis:
California memiliki kebijakan iklim paling ambisius di Amerika. Tapi California juga paling lambat membangun energi terbarukan karena proses persetujuan yang rumit.
San Francisco paling vokal soal keterjangkauan perumahan. Tapi San Francisco melarang pembangunan di 80% wilayah kotanya.
New York bangga dengan transportasi publiknya. Tapi biaya membangun subway-nya 10 kali lebih mahal dari kota lain di dunia.
Ironi: Kota-kota yang paling peduli tentang masalah-masalah ini adalah kota yang paling sulit membangun solusinya.
Alasan #3: Politik Veto—Minoritas yang Bisa Memblokir Mayoritas
Sistem politik Amerika sekarang memberikan veto power kepada kelompok kecil untuk memblokir proyek yang menguntungkan mayoritas.
Contoh:
Anda ingin membangun 1.000 unit apartemen terjangkau di San Francisco. 90% warga setuju bahwa kota butuh lebih banyak perumahan.
Tapi 20 pemilik rumah di sekitar lokasi proyek tidak setuju. Mereka datang ke public hearing. Mereka menyewa lawyer. Mereka file lawsuit dengan alasan "merusak karakter lingkungan."
Hasil: Proyek terhenti. 1.000 keluarga yang bisa punya rumah terjangkau—yang bahkan tidak punya suara dalam proses karena belum tinggal di sana—kalah dari 20 orang yang sudah punya rumah mahal.
Ini bukan demokrasi. Ini vetocracy—pemerintahan oleh veto.
Bagian 4: Agenda Kelimpahan—Jalan Keluar
Klein dan Thompson tidak hanya mengkritik—mereka menawarkan solusi konkret yang mereka sebut "Abundance Agenda."
Prinsip #1: Hasil, Bukan Proses
Sistem sekarang fokus pada proses yang benar—apakah semua kotak sudah dicentang? Apakah semua formulir sudah diisi? Apakah semua meeting sudah dilakukan?
Abundance Agenda fokus pada hasil yang baik—apakah kita membangun rumah yang cukup? Apakah energi bersih cukup cepat dibangun? Apakah orang bisa naik transportasi publik yang layak?
Contoh praktis:
Daripada: "Proyek ini harus melalui 17 lembaga persetujuan."
Lakukan: "Proyek ini harus selesai dalam 2 tahun. Satu lembaga koordinasi bertanggung jawab. Jika ada hambatan, lembaga ini punya wewenang untuk menyelesaikannya."
Prinsip #2: Reformasi Regulasi Cerdas, Bukan Deregulasi Buta
Klein dan Thompson sangat jelas: Ini bukan tentang menghapus semua regulasi.
Regulasi lingkungan penting. Standar keselamatan penting. Perlindungan pekerja penting.
Tapi regulasi harus proporsional dengan masalah yang diselesaikan.
Contoh:
Regulasi bagus: Proyek pembangunan harus membuktikan tidak akan mencemari air minum. (Ini masuk akal dan bisa diverifikasi dalam beberapa bulan.)
Regulasi buruk: Proyek pembangunan harus membuktikan tidak akan "mengubah karakter visual lingkungan." (Ini subjektif, tidak terukur, dan membuka pintu untuk lawsuit tanpa batas.)
Prinsip #3: Buat "Yes" Menjadi Default
Sekarang, default dalam sistem kita adalah "tidak, kecuali kamu bisa membuktikan ya."
Abundance Agenda membalik ini: "Ya, kecuali ada alasan konkret untuk mengatakan tidak."
Contoh:
Jepang punya sistem zoning nasional yang simple:
● Jika kamu punya lahan dan desain yang aman, kamu bisa membangun
● Tidak perlu approval dari tetangga
● Tidak perlu public hearing bertele-tele
● Hasilnya: Tokyo—kota terbesar di dunia—punya harga sewa lebih murah dari San Francisco
Prinsip #4: Investasi Masif dalam Kapasitas Pemerintah
Ironi terbesar: Kita punya regulasi yang banyak tapi staf pemerintah yang sedikit untuk memproses semuanya.
Hasil: Bottleneck.
Klein dan Thompson berargumen: Jika kita serius ingin membangun, kita perlu investasi besar-besaran dalam mempekerjakan orang-orang berkualitas di lembaga pemerintah.
Bayar mereka dengan layak. Latih mereka dengan baik. Beri mereka tools untuk bekerja efisien.
Paradoks: Konservatif bilang "pemerintah tidak efisien." Lalu mereka memotong budget pemerintah, yang membuat pemerintah semakin tidak efisien. Dan kemudian mereka berkata, "Lihat? Kita benar!"
Klein dan Thompson bilang: Investasi dalam kapasitas pemerintah adalah investasi dalam kemampuan membangun.
Prinsip #5: Subsidi Besar-Besaran untuk Yang Penting
Abundance bukan anti-subsidi. Abundance bukan "biarkan pasar menyelesaikan semuanya."
Sebaliknya: Pemerintah harus berinvestasi besar-besaran dalam hal-hal yang pasar tidak akan bangun sendiri.
Contoh:
● Energi bersih: Subsidi besar untuk solar, angin, baterai, dan grid modernization
● Perumahan terjangkau: Dana publik untuk membangun ratusan ribu unit
● Riset dasar: Investasi dalam NIH, NSF, DARPA untuk terobosan teknologi
Tapi—dan ini penting—subsidi harus disertai dengan reformasi regulasi agar yang disubsidi benar-benar dibangun.
Tidak ada gunanya memberi 10 miliar dollar untuk energi solar jika proses approval butuh 5 tahun.
Bagian 5: Kisah Sukses—Ketika Abundance Bekerja
Klein dan Thompson tidak hanya berbicara teori. Mereka menunjukkan contoh nyata di mana Abundance Agenda berhasil.
Minneapolis—Menghapus Single-Family Zoning
Tahun 2018, Minneapolis melakukan sesuatu yang radikal: menghapus single-family zoning di seluruh kota.
Artinya: Di setiap area di kota, Anda bisa membangun duplex atau triplex—tidak hanya rumah tunggal.
Reaksi awal: Histeria. "Ini akan menghancurkan karakter lingkungan!" "Nilai properti akan jatuh!" "Kemacetan akan meledak!"
Hasil setelah 5 tahun:
● Konstruksi perumahan naik 40%
● Harga sewa lebih stabil dibanding kota lain
● Karakter lingkungan tidak hancur—justru lebih beragam
● Nilai properti tetap naik (tapi tidak se-ekstrem kota lain)
California—Mempermudah Accessory Dwelling Units (ADU)
California menghadapi krisis perumahan terparah di Amerika. Tahun 2019, mereka meloloskan undang-undang yang mempermudah homeowner membangun ADU (unit tambahan di properti mereka—seperti kamar di belakang rumah atau unit di atas garasi).
Sebelumnya: Prosesnya rumit. Butuh approval dari banyak lembaga. Banyak kota melarang sama sekali.
Setelah reformasi: Jika memenuhi standar dasar, approval otomatis dalam 60 hari.
Hasil: Puluhan ribu ADU dibangun dalam beberapa tahun—menambah supply perumahan tanpa mengubah karakter lingkungan secara drastis.
CHIPS Act—Industrial Policy yang Berhasil
Tahun 2022, Amerika menyadari ketergantungan berbahaya pada Taiwan untuk chip komputer (yang penting untuk semua, dari ponsel sampai jet tempur).
CHIPS Act memberikan 52 miliar dollar subsidi untuk membangun pabrik chip di Amerika.
Tapi—krusial—subsidi ini disertai streamlining regulasi. Proyek-proyek ini di-fast-track melalui proses persetujuan.
Hasil awal menjanjikan: Beberapa pabrik sudah mulai dibangun. Intel, TSMC, Samsung semua mengumumkan investasi besar.
Ini adalah contoh industrial policy modern—pemerintah berinvestasi besar dalam sesuatu yang strategis penting, sambil memastikan investasi itu benar-benar terealisasi.
Bagian 6: Tantangan dan Kritik
Klein dan Thompson jujur tentang trade-offs dan kritik terhadap Abundance Agenda.
Kritik #1: "Ini Hanya Menguntungkan Developer Kaya"
Beberapa kritikus kiri bilang: "Kelimpahan perumahan hanya membuat developer kaya. Kita butuh kontrol sewa dan perumahan publik."
Respons Klein dan Thompson: Kita butuh keduanya.
Tanpa menambah supply, kontrol sewa tidak akan menyelesaikan krisis. Malah bisa memperburuk—landlord tidak mau invest dalam maintenance, dan pembangunan baru terhenti.
Solusi terbaik: Build a lot (bangun banyak) + subsidize the poor (subsidi yang miskin).
Kritik #2: "Ini Akan Merusak Lingkungan"
Kritikus lingkungan bilang: "Streamlining regulasi = lebih banyak polusi dan kerusakan."
Respons: Tergantung apa yang dibangun.
Jika yang di-streamline adalah energi solar, angin, kereta, dan perumahan padat—ini baik untuk lingkungan.
Jika yang di-streamline adalah pabrik batu bara dan highway baru—ini buruk.
Abundance Agenda bukan tentang membangun apapun. Tapi tentang membangun hal yang tepat dengan cara yang lebih cepat dan murah.
Kritik #3: "Ini Tidak Akan Lolos secara Politik"
Kritikus pragmatis bilang: "Tidak ada konstituensi politik untuk ini. Pemilik rumah tidak mau perumahan baru. NIMBY terlalu kuat."
Klein dan Thompson mengakui ini adalah tantangan terbesar. Tapi mereka berargumen:
Ada konstituensi besar yang tidak terlihat—orang muda yang tidak bisa beli rumah, pekerja yang tidak bisa pindah ke kota dengan pekerjaan lebih baik, keluarga yang terjebak di daerah dengan peluang terbatas.
Mereka tidak terorganisir karena mereka tidak tinggal di tempat yang butuh perubahan. Tapi mereka ada, dan mereka banyak.
Tugas politik adalah membuat suara mereka didengar.
Bagian 7: Pelajaran untuk Indonesia dan Dunia
Meskipun "Abundance" fokus pada Amerika, pelajarannya universal.
Indonesia dan Kelangkaan yang Dipilih
Indonesia menghadapi krisis serupa:
Perumahan: Jakarta punya harga properti yang tidak terjangkau untuk mayoritas warga—padahal masih banyak lahan yang bisa dibangun.
Transportasi: MRT Jakarta akhirnya selesai—30 tahun setelah pertama kali diusulkan. Bandingkan dengan Singapura atau China yang bisa membangun dalam 5-7 tahun.
Energi: Indonesia punya potensi solar dan angin luar biasa. Tapi investasi terhambat oleh regulasi yang rumit dan ketidakpastian kebijakan.
Pertanyaan untuk kita: Apakah kita mau menjadi negara yang membangun, atau negara yang selamanya "berencana" tapi tidak pernah melaksanakan?
Prinsip Universal dari Abundance
1. Fokus pada hasil, bukan hanya proses Proses penting untuk akuntabilitas. Tapi jangan sampai proses mengalahkan hasil.
2. Reformasi cerdas, bukan deregulasi buta Lindungi yang perlu dilindungi (lingkungan, pekerja, publik). Tapi hapus hambatan yang tidak perlu.
3. Investasi dalam kapasitas negara Pemerintah yang efektif butuh orang berkualitas dengan tools yang baik.
4. Buat "ya" menjadi default untuk hal yang penting Jika kita sepakat perlu lebih banyak perumahan terjangkau dan energi bersih, jangan buat prosesnya seperti mendaki gunung.
5. Berikan suara pada mereka yang belum ada Dalam keputusan pembangunan, orang yang akan diuntungkan di masa depan tidak punya suara. Sistem harus memperhitungkan mereka.
Penutup: Memilih Kelimpahan
Klein dan Thompson menutup buku dengan catatan yang penuh harapan tapi realistis:
"Kita hidup di era paradoks. Kita punya teknologi untuk membangun kehidupan yang luar biasa—energi bersih tanpa batas, rumah yang terjangkau untuk semua, transportasi publik yang cepat dan nyaman, obat-obatan yang menyelamatkan jutaan nyawa.
Tapi kita tidak membangunnya. Bukan karena tidak mampu. Karena kita memilih untuk tidak mampu."
Mereka menulis:
"Kelangkaan adalah pilihan politik. Dan kelimpahan juga bisa menjadi pilihan politik."
Pertanyaan untuk Anda
Sekarang, pertanyaan untuk kita semua—sebagai warga negara, pemilih, aktivis, atau pembuat kebijakan:
1. Apa yang tidak dibangun di kota Anda yang seharusnya dibangun? Perumahan terjangkau? Transportasi publik? Ruang terbuka hijau? Infrastruktur banjir?
2. Siapa yang diuntungkan dari kelangkaan ini? Biasanya: yang sudah punya. Yang sudah kaya. Yang sudah punya rumah. Yang sudah punya akses.
3. Siapa yang dirugikan? Biasanya: yang muda. Yang miskin. Yang baru datang. Yang belum punya.
4. Apakah Anda akan berjuang untuk kelimpahan—bahkan jika itu berarti sedikit ketidaknyamanan bagi Anda yang sudah punya?
Ini adalah pertanyaan moral dan politik yang mendefinisikan generasi kita.
Pilihan Ada di Tangan Kita
Klein dan Thompson mengakhiri dengan pengingat powerful:
"Nenek moyang kita membangun Hoover Dam dalam 5 tahun di tengah Depresi Besar. Mereka membangun sistem highway interstate yang menghubungkan seluruh negara. Mereka mengirim manusia ke bulan.
Kita punya lebih banyak uang. Lebih banyak teknologi. Lebih banyak pengetahuan.
Yang kita butuhkan adalah tekad untuk memilih kelimpahan."
Jembatan di Philadelphia dibangun dalam 12 hari ketika kita memutuskan itu prioritas.
Bayangkan apa yang bisa kita bangun jika kita memperlakukan semua yang penting dengan urgensi yang sama.
Rumah yang cukup untuk semua. Energi bersih untuk menyelamatkan planet. Transportasi yang membuat kota layak huni. Obat-obatan yang menyelamatkan nyawa.
Ini semua dalam jangkauan kita.
Yang kita butuhkan adalah memilih untuk membangunnya.
Seperti Klein dan Thompson tulis di halaman terakhir:
"Masa depan kelimpahan menunggu. Tapi ia tidak akan datang sendiri. Ia akan datang karena kita membangunnya—bersama-sama, dengan sengaja, dan dengan tekad yang tidak tergoyahkan."
Jadi, apa yang akan Anda bangun?
Tentang Buku Asli
"Abundance" diterbitkan Maret 2025 oleh Avid Reader Press dan langsung menjadi #1 New York Times Bestseller.
Ezra Klein adalah kolumnis opini dan host podcast pemenang penghargaan "The Ezra Klein Show" di New York Times. Sebelumnya, ia adalah co-founder Vox. Buku pertamanya, "Why We're Polarized" (2020), menjadi instant bestseller dan dipilih Barack Obama sebagai salah satu buku terbaik tahun 2022.
Derek Thompson adalah staff writer di The Atlantic dan host podcast "Plain English". Ia menulis tentang ekonomi, teknologi, dan budaya. Buku sebelumnya "Hit Makers: The Science of Popularity" (2017) mengeksplorasi mengapa beberapa ide menjadi viral sementara yang lain tidak.
Buku ini lahir dari essay Thompson di The Atlantic (Januari 2022) berjudul "A Simple Plan to Solve All of America's Problems"—yang menjadi viral dan memicu gerakan politik yang disebut "Abundance Movement."
Sejak publikasi, buku ini telah mempengaruhi kebijakan di berbagai negara. Di Australia, Menteri Keuangan Jim Chalmers menyebutnya "an absolute ripper" dan mengatakan buku ini sedang dibaca oleh banyak kolega partai Labor-nya. Di AS, puluhan politisi dari partai Demokrat telah mengadopsi "Abundance Agenda" sebagai platform mereka.
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana kita bisa membangun masa depan yang lebih baik, sangat disarankan membaca buku aslinya. Klein dan Thompson memberikan ratusan contoh konkret, data detail, dan nuansa argumen yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Ringkasan ini menangkap ide-ide inti, tetapi buku asli menawarkan kedalaman analisis dan roadmap praktis yang akan mengubah cara Anda melihat kebijakan publik dan kemungkinan masa depan.
Sekarang pergilah dan bangun sesuatu. Dunia membutuhkan para pembangun—bukan hanya pemrotes, bukan hanya pelindung, tetapi orang-orang yang berani mengatakan "ya" pada masa depan yang lebih baik.
Karena seperti yang Klein dan Thompson buktikan: Kita tidak kekurangan sumber daya. Kita kekurangan keberanian untuk menggunakannya.
Saatnya memilih kelimpahan.

