The Good Life

Robert Waldinger & Marc Schulz


Pertanyaan yang Mengubah 85 Tahun 

Tahun 1938. Dunia di ambang Perang Dunia II. Universitas Harvard memulai sebuah eksperimen ambisius yang belum pernah ada sebelumnya. 

Mereka merekrut 724 remaja laki-laki—268 dari Harvard (mahasiswa cemerlang dari keluarga mampu) dan 456 dari lingkungan miskin Boston—dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: 

"Apa yang membuat hidup menjadi baik?" 

Lalu mereka melakukan sesuatu yang luar biasa: mereka tidak hanya bertanya sekali. Mereka mengikuti orang-orang ini sepanjang hidup mereka. 

Setiap dua tahun, peneliti mewawancarai mereka. Memeriksa kesehatan mereka. Berbicara dengan keluarga mereka. Mengikuti karir mereka. Mencatat pernikahan, perceraian, kelahiran anak, kematian orang tua, kesuksesan, kegagalan, kegembiraan, dan penderitaan. 

85 tahun kemudian, studi ini masih berjalan—menjadi studi terpanjang tentang kehidupan manusia yang pernah dilakukan. 

Beberapa partisipan menjadi dokter. Pengacara. Pekerja pabrik. Salah satu menjadi presiden Amerika Serikat (John F. Kennedy). Beberapa menjadi alkoholik. Beberapa menikah bahagia selama 60 tahun. Beberapa bercerai berkali-kali. Beberapa hidup hingga 100 tahun. Beberapa meninggal muda. 

Dan dari semua data—wawancara, scan otak, tes darah, rekaman video—satu temuan menonjol lebih jelas dari yang lain: 

Bukan uang. Bukan kesuksesan. Bukan ketenaran. 

Yang membuat hidup baik adalah hubungan.

Hubungan yang berkualitas dengan orang lain—keluarga, teman, komunitas—adalah prediktor terkuat untuk kebahagiaan dan kesehatan sepanjang hidup. 

Robert Waldinger, direktur keempat dari studi ini, bersama Marc Schulz, menulis "The Good Life" untuk menjawab pertanyaan: Dalam dunia yang semakin terisolasi, sibuk, dan digital—bagaimana kita membangun hubungan yang membuat hidup benar-benar baik? 

Mari kita lihat apa yang 85 tahun data memberitahu kita.

 


Bagian 1: Mitos Kebahagiaan yang Kita Percaya

Leo—Kisah Dua Jalan 

Leo adalah salah satu partisipan dari Boston. Tumbuh di lingkungan miskin. Ayahnya alkoholik. Rumahnya tidak punya pemanas. Dia sering lapar. 

Pada usia 18, peneliti bertanya: "Apa yang kamu inginkan dari hidup?" 

Jawaban Leo sederhana: "Uang. Banyak uang." 

Dia berpikir uang akan menyelesaikan semua masalahnya. Dengan uang, dia bisa membeli rumah yang hangat. Makanan yang cukup. Keamanan. Dan akhirnya, kebahagiaan. 

Leo bekerja keras. Sangat keras. Dia membangun bisnis kecil. Berhasil. Menghasilkan uang yang baik—jauh lebih banyak dari yang pernah dia bayangkan sebagai anak miskin. 

Tapi ada yang salah. 

Di usia 50-an, ketika peneliti mewawancarainya lagi, Leo terlihat lelah. Dia punya uang. Rumah besar. Tapi dia juga kesepian. Pernikahannya hambar. Anak-anaknya tidak dekat dengannya. Dia tidak punya teman dekat. 

"Aku pikir kalau aku punya uang, semua akan baik," katanya. "Ternyata aku salah."

John—Jalan yang Berbeda 

John juga dari Boston. Latar belakang serupa—miskin, keras. 

Tapi John mengambil jalan berbeda. Dia tidak mengejar uang. Dia mengejar koneksi

Dia menikah muda dengan gadis dari lingkungannya. Mereka tidak punya banyak, tapi mereka punya satu sama lain. John tetap dekat dengan keluarganya. Dia aktif di komunitasnya. Dia punya kelompok teman yang bertemu setiap minggu untuk makan malam. 

Di usia 70-an, John masih hidup sederhana. Tidak kaya. Tapi ketika peneliti bertanya: "Apakah kamu bahagia?" 

Dia menjawab tanpa ragu: "Sangat." 

Dia punya istri yang dia cintai. Anak-anak yang dekat dengannya. Cucu yang mengunjungi setiap minggu. Teman-teman yang peduli. 

Dan yang luar biasa: John juga lebih sehat dari Leo—meskipun Leo mampu membayar perawatan kesehatan terbaik.

Apa yang Data Katakan 

Studi Harvard menemukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita percaya: 

Mitos 1: Uang membuat kita bahagia Realitas: Uang penting sampai kebutuhan dasar terpenuhi. Setelah itu, penambahan uang tidak meningkatkan kebahagiaan secara signifikan. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakan uang—apakah untuk membangun pengalaman bersama orang lain atau hanya untuk akumulasi barang. 

Mitos 2: Kesuksesan karir adalah kunci Realitas: Orang yang fokus hanya pada karir dan mengabaikan hubungan sering berakhir kesepian dan tidak bahagia di usia tua—meskipun mereka "sukses" secara profesional. 

Mitos 3: Lebih banyak teman lebih baik Realitas: Bukan kuantitas tapi kualitas hubungan yang penting. Satu atau dua teman dekat lebih berharga daripada 100 kenalan superfisial. 

Mitos 4: Kebahagiaan adalah tentang menghindari masalah Realitas: Semua hubungan punya konflik. Yang membedakan adalah bagaimana kita menangani konflik—apakah kita memperbaiki atau membiarkan membusuk.

 


Bagian 2: Kesepian—Epidemi yang Tidak Terlihat

Henry—Sukses Tapi Sendiri 

Henry adalah dari Harvard. Brilian. Lulus dengan nilai sempurna. Menjadi profesor terkenal. Menulis buku-buku yang berpengaruh. Secara objektif, sukses luar biasa. 

Tapi ketika peneliti mewawancarainya di usia 60-an, Henry mengaku sesuatu yang mengejutkan: 

"Aku sangat kesepian. Aku punya ratusan mahasiswa yang mengagumiku. Kolega yang menghormati ku. Tapi aku tidak punya satu orang pun yang benar-benar mengenalku." 

Henry menghabiskan hidupnya membangun karir. Dia tidak punya waktu untuk "hal-hal kecil" seperti makan malam dengan teman atau menelepon keluarga. 

Dan sekarang, di puncak karirnya, dia menyadari: Sukses tanpa koneksi adalah sukses yang kosong. 

Data Menakutkan tentang Kesepian 

Studi Harvard menemukan bahwa kesepian tidak hanya membuat kita tidak bahagia—kesepian membunuh. 

Orang yang kesepian: 

● Mengalami penurunan kognitif lebih cepat (demensia, Alzheimer) 

● Memiliki risiko penyakit jantung lebih tinggi 

● Sistem imun lebih lemah 

● Meninggal lebih muda—efeknya setara dengan merokok 15 batang per hari Dan yang menakutkan: epidemi kesepian semakin parah. 

Survey menunjukkan: 

● 60% orang dewasa melaporkan merasa kesepian secara regular 

● 40% generasi muda merasa kesepian hampir sepanjang waktu 

● Jumlah orang yang mengatakan tidak punya "teman dekat" meningkat tiga kali lipat dalam 30 tahun terakhir 

Kita hidup di era paling "terkoneksi" dalam sejarah—media sosial, video call, messaging instant. Tapi kita lebih kesepian dari sebelumnya. 

Mengapa? 

Karena kita mengacaukan koneksi digital dengan koneksi nyata.

Koneksi Palsu vs Koneksi Nyata 

Koneksi palsu: 

● Scroll Instagram melihat hidup "sempurna" orang lain 

● "Teman" 500 orang di Facebook yang tidak tahu hari ulang tahun Anda

● Chat grup dengan 50 orang tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan

● Video call yang interruptif dan melelahkan 

Koneksi nyata: 

● Makan malam bersama tanpa ponsel di meja 

● Percakapan tatap muka di mana Anda benar-benar mendengarkan

● Seseorang yang menelepon ketika Anda sedih dan bertanya: "Apa yang terjadi?"

● Diam yang nyaman bersama seseorang—tidak perlu mengisi keheningan 

Waldinger menulis: "Teknologi bisa memfasilitasi koneksi, tapi tidak bisa menggantikan kehadiran."

 


Bagian 3: Kebugaran Sosial—Melatih Otot

Hubungan Konsep Revolusioner 

Waldinger memperkenalkan konsep: Social Fitness—kebugaran sosial.

Seperti kebugaran fisik, hubungan membutuhkan latihan rutin. 

Anda tidak pergi ke gym sekali dan berharap tetap fit selamanya. Anda harus latihan secara konsisten. Hal yang sama berlaku untuk hubungan. 

Tiga Pilar Social Fitness 

1. Attention (Perhatian) 

Partisipan studi yang paling bahagia adalah yang benar-benar memberikan perhatian pada orang lain. 

Contoh sederhana: 

● Ketika pasangan Anda pulang kerja, berhenti melakukan apapun selama 5 menit. Tatap mata. Tanya: "Bagaimana harimu?" Dan dengarkan jawabannya. 

● Ketika anak Anda bicara, singkirkan ponsel. Berikan 100% perhatian.

● Ketika teman Anda bercerita tentang masalahnya, jangan langsung beri solusi. Dengarkan dulu. 

Masalahnya? Di era digital, attention kita terfragmentasi. Kita "hadir" secara fisik tapi pikiran kita di tempat lain. 

2. Responsiveness (Responsivitas) 

Ini tentang menunjukkan bahwa Anda peduli dengan cara yang terasa bermakna bagi orang lain. 

Contoh dari studi: Pasangan yang merespons dengan antusias ketika pasangannya berbagi kabar baik ("Aku dapat promosi!") dengan "Wow, itu luar biasa! Cerita dong gimana prosesnya!" memiliki pernikahan yang lebih bahagia daripada yang merespons dengan "Oh, oke. Kapan makan malam?" 

Responsivitas bukan tentang grand gesture. Tentang small moments of acknowledgment.

3. Quality Over Quantity (Kualitas di Atas Kuantitas) 

Anda tidak perlu ratusan teman. Anda butuh beberapa hubungan yang mendalam.

Studi menemukan: Orang dengan 3-5 hubungan dekat lebih bahagia daripada orang dengan 50 kenalan. 

Hubungan mendalam dicirikan oleh: 

● Kerentanan—Anda bisa jujur tentang kelemahan Anda 

● Kepercayaan—Anda tahu mereka tidak akan menggunakan informasi melawan Anda

● Reciprocity—Memberi dan menerima seimbang 

● Konsistensi—Hadir di saat baik dan buruk

 


Bagian 4: Hubungan di Tempat Kerja—Lebih Penting dari yang Kita Kira 

Mark dan Tom—Dua Pengalaman Kerja 

Mark bekerja di perusahaan di mana semua orang kompetitif. Tidak ada yang mau terlihat lemah. Meeting adalah arena pertempuran. Tidak ada yang berbagi kehidupan personal. Semua orang sendirian. 

Mark menghasilkan uang baik. Tapi dia membenci pergi kerja. Dia merasa terisolasi. 

Tom bekerja di perusahaan dengan kultur berbeda. Orang saling peduli. Ada waktu untuk ngobrol. Ketika seseorang struggle, yang lain membantu. Mereka merayakan birthday bersama. Mereka tahu tentang keluarga masing-masing. 

Tom menghasilkan uang sedikit lebih rendah dari Mark. Tapi dia lebih bahagia. Dan research menunjukkan: dia juga lebih produktif. 

Data tentang Hubungan di Tempat Kerja 

Studi menemukan: 

● Orang dengan setidaknya satu "teman baik" di tempat kerja 7x lebih engaged dalam pekerjaan mereka 

● Karyawan yang merasa terisolasi 2x lebih mungkin mengalami burnout

● Tim dengan trust tinggi 50% lebih produktif 

Tapi banyak perusahaan—dan karyawan—mengabaikan aspek sosial kerja. Mereka pikir: "Kerja adalah kerja. Kehidupan sosial terpisah." 

Ini kesalahan. 

Kita menghabiskan sepertiga hidup kita di tempat kerja. Jika kita terisolasi di sana, itu menggerogoti kebahagiaan kita secara keseluruhan. 

Membangun Koneksi di Tempat Kerja 

Tidak perlu kompleks: 

● 15 menit ngobrol sebelum meeting dimulai 

● Lunch bersama seminggu sekali 

● Tanya tentang kehidupan personal—"Bagaimana anakmu?" "Bagaimana liburanmu?"

● Rayakan kemenangan kecil bersama 

● Tawarkan bantuan tanpa diminta

 


Bagian 5: Hubungan Romantis—Pelajaran dari 80 Tahun Pernikahan 

The Longest Marriages 

Beberapa partisipan studi menikah selama 60+ tahun. Peneliti bertanya: "Apa rahasianya?"

Jawabannya bukan "tidak pernah bertengkar" atau "selalu romantis." 

Jawabannya adalah: Repair

Seni Memperbaiki 

Semua pasangan bertengkar. Yang membedakan pasangan bahagia dari yang tidak bahagia adalah bagaimana mereka memperbaiki setelah konflik. 

Pasangan yang bertahan: 

● Mengatakan maaf—dan benar-benar merasakannya 

● Tidak membiarkan konflik berlarut-larut berhari-hari 

● Punya ritual untuk "reset"—jalan-jalan bersama, ngobrol tanpa distraksi

● Bisa tertawa tentang pertengkaran setelah mereda 

● Fokus pada solusi, bukan menyalahkan 

Pasangan yang gagal: 

● Menyimpan dendam 

● Membawa isu lama dalam setiap pertengkaran baru 

● Contempt—meremehkan pasangan 

● Stonewalling—menutup diri, tidak mau bicara 

● Defensive—selalu merasa diserang 

The Gottman Ratio 

Psikolog John Gottman menemukan: Untuk setiap interaksi negatif, pasangan bahagia punya 5 interaksi positif. 

Artinya: Anda tidak bisa hanya "tidak bertengkar." Anda perlu aktif membangun momen positif: 

● Pujian tulus 

● Sentuhan kasih sayang 

● Humor bersama 

● Mendengarkan dengan empati 

● Ungkapan apresiasi

Ini bukan terjadi otomatis. Ini butuh usaha. 

Investasi Waktu 

Partisipan dengan pernikahan terbaik secara sengaja mengalokasikan waktu untuk hubungan: 

● Date night seminggu sekali 

● 10 menit bicara tanpa distraksi setiap hari 

● Weekend getaway beberapa kali setahun—tanpa anak 

Mereka tidak menunggu "punya waktu luang." Mereka membuat waktu.

 


Bagian 6: Hubungan Lintas Generasi—Keluarga sebagai Jangkar 

Bill dan Sandra—Kesalahan yang Mahal 

Bill adalah salah satu partisipan Harvard. Sukses besar dalam karir. Tapi dia terlalu sibuk untuk keluarga. 

Anak-anaknya tumbuh. Dia sering tidak ada di pertandingan sepak bola mereka. Tidak ada di resital piano. "Terlalu banyak kerjaan." 

Sekarang anak-anaknya dewasa. Mereka jarang menghubungi. Ketika Bill pensiun dan punya banyak waktu, anak-anaknya tidak punya waktu untuknya. 

"Aku menyesal," kata Bill di usia 75. "Aku pikir aku akan punya waktu 'nanti.' Ternyata 'nanti' itu tidak pernah datang." 

Kontras dengan Sandra. Dia juga kerja keras. Tapi dia konsisten hadir untuk anak-anaknya. Tidak sempurna. Tapi hadir

Sekarang di usia tua, anak-anaknya adalah support system terbesar Sandra. Mereka mengunjungi teratur. Membantu ketika dia sakit. Berbagi hidup mereka dengannya. 

"Aku tidak kaya," kata Sandra. "Tapi aku kaya dalam cinta." 

Hubungan dengan Orang Tua yang Menua 

Studi menemukan: Hubungan dengan orang tua yang menua bisa menjadi sumber kebahagiaan atau stress yang signifikan. 

Yang membuat perbedaan: 

● Komunikasi terbuka tentang harapan 

Menerima bahwa orang tua tidak sempurna 

Memaafkan masa lalu—fokus pada sekarang 

Hadir dengan cara yang berarti—bukan hanya kewajiban 

Grandparenting—Hubungan Istimewa 

Partisipan yang punya hubungan dekat dengan cucu melaporkan tingkat kebahagiaan lebih tinggi di usia tua. 

Cucu memberikan: 

● Sense of purpose

● Koneksi dengan generasi muda 

● Joy yang sederhana 

● Legacy 

Dan untuk cucu, hubungan dengan kakek-nenek memberikan: 

● Perspektif hidup 

● Unconditional love 

● Cerita keluarga dan identitas 

● Role model

 


Bagian 7: Praktik Harian untuk Kehidupan yang Baik

1. The 10-Minute Check-In 

Setiap hari, 10 menit tanpa distraksi dengan orang yang penting bagi Anda.

Tidak perlu topik berat. Hanya hadir. Dengarkan. Koneksi. 

2. The Gratitude Practice 

Sebelum tidur, katakan atau tuliskan tiga hal yang Anda syukuri tentang orang lain.

Contoh: 

● "Aku bersyukur istriku masak makan malam hari ini" 

● "Aku bersyukur temanku mendengarkan keluhan ku" 

● "Aku bersyukur anakku memelukku sebelum tidur" 

Ini melatih otak untuk melihat yang baik dalam hubungan. 

3. The Reach-Out Rule 

Sekali seminggu, hubungi satu orang yang sudah lama tidak Anda kontak.

Tidak perlu lama. 5 menit telepon. Atau pesan singkat: "Hai, aku ingat kamu. Apa kabar?"

4. The Repair Ritual 

Ketika ada konflik dengan orang penting, jangan biarkan berlarut lebih dari 24 jam.

Tidak perlu panjang lebar. Kadang cukup: "Aku minta maaf tadi aku kasar. Aku menyayangimu."

5. The Tech-Free Zones 

Buat area atau waktu tanpa teknologi: 

● Meja makan—no phones 

● 1 jam sebelum tidur—no screens 

● Weekend morning—no email 

Ini menciptakan ruang untuk koneksi nyata. 

6. The Curiosity Question 

Dalam setiap percakapan, tanya satu hal yang Anda belum tahu tentang orang itu.

"Apa yang membuatmu excited akhir-akhir ini?" "Apa yang lagi kamu pelajari?" "Apa mimpi terbesar mu saat ini?" 

Ini menunjukkan Anda benar-benar tertarik pada mereka sebagai manusia.

 


Penutup: Tidak Pernah Terlambat 

George—Mengubah Hidup di Usia 70 

George adalah partisipan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya terisolasi. Dia fokus pada karir. Pernikahannya gagal. Anak-anaknya distant. Di usia 65, dia pensiun—dan menyadari dia sangat kesepian. 

Peneliti pikir cerita George akan berakhir tragis. Tapi George melakukan sesuatu yang luar biasa: 

Dia memutuskan untuk berubah. 

Dia mulai volunteer di komunitas lokal. Bergabung dengan club buku. Menghubungi anak-anaknya dan meminta maaf atas kelalaiannya. Menghadiri terapi. 

Lima tahun kemudian, di usia 70, George berkata pada peneliti: "Ini adalah tahun-tahun terbaik dalam hidupku. Aku akhirnya punya teman. Aku punya koneksi dengan anak-anakku. Aku merasa... alive." 

George membuktikan: Tidak pernah terlambat untuk membangun hubungan.

Pelajaran dari 85 Tahun 

Setelah mengikuti ratusan orang sepanjang hidup mereka—dari remaja hingga kematian—studi Harvard sampai pada kesimpulan sederhana namun profound: 

"The good life is built with good relationships." 

Bukan uang. Bukan ketenaran. Bukan kesuksesan. Hubungan

Tapi—dan ini penting—bukan hubungan yang pasif. Hubungan yang kita investasikan waktu, energi, dan perhatian. 

Pertanyaan untuk Anda 

Waldinger menutup dengan pertanyaan powerful: 

"Jika Anda tahu Anda akan hidup 50 tahun lagi, apa yang akan Anda lakukan berbeda hari ini?" 

Kebanyakan orang akan menjawab: "Aku akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang yang aku cintai." 

Jadi mengapa tidak mulai hari ini?

Anda tidak perlu perubahan dramatis. Mulai kecil: 

● Telepon teman lama hari ini—5 menit 

● Makan malam dengan keluarga tanpa ponsel—30 menit 

● Tanya pasangan Anda: "Bagaimana perasaanmu hari ini?"—dan benar-benar dengarkan 

Karena pada akhirnya, ketika Anda berbaring di tempat tidur untuk terakhir kalinya, yang akan Anda ingat bukan berapa banyak uang yang Anda hasilkan atau berapa pencapaian yang Anda raih. 

Yang akan Anda ingat adalah orang-orang yang Anda cintai dan yang mencintai Anda.

Seperti yang Waldinger tulis: 

"Kehidupan yang baik tidak dibangun dengan sesuatu yang spektakuler. Tapi dengan momen-momen kecil dari perhatian, kehadiran, dan cinta yang terakumulasi selama bertahun-tahun." 

Jadi mulailah membangun kehidupan yang baik hari ini. 

Satu koneksi dalam satu waktu.

 


Tentang Buku dan Studi Asli 

"The Good Life: Lessons from the World's Longest Scientific Study of Happiness" diterbitkan pada Januari 2023. 

Robert Waldinger, MD adalah direktur keempat dari Harvard Study of Adult Development dan profesor psikiatri di Harvard Medical School. Dia juga adalah Zen priest. 

Marc Schulz, PhD adalah associate director dari studi dan profesor psikologi di Bryn Mawr College. 

Harvard Study of Adult Development dimulai pada 1938 dan masih berjalan hingga hari ini—menjadikannya studi longitudinal terpanjang tentang kehidupan dewasa dalam sejarah. Studi ini telah menghasilkan ratusan paper ilmiah dan mengubah cara kita memahami kebahagiaan manusia. 

Untuk memahami kedalaman temuan dari 85 tahun penelitian dan cerita-cerita lengkap dari partisipan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Waldinger dan Schulz menulis dengan sangat accessible—mengkombinasikan data ilmiah dengan cerita manusia yang mengharukan. 

TED Talk Waldinger tentang studi ini ("What makes a good life?") telah ditonton lebih dari 40 juta kali dan menjadi salah satu TED Talk paling populer sepanjang masa. 

Ringkasan ini menangkap konsep-konsep inti, tetapi buku asli memberikan nuansa, data, dan cerita-cerita yang akan mengubah cara Anda melihat hubungan dan kehidupan. 

Sekarang pergilah dan hubungi seseorang yang penting bagi Anda. 

Karena kehidupan yang baik menunggu untuk dibangun—satu hubungan dalam satu waktu.