I Contain Multitudes

Ed Yong


Siapa "Anda" Sebenarnya? 

Coba lakukan ini: Hitung sel dalam tubuh Anda. 

Berapa? Mungkin Anda berpikir triliunan. Dan Anda benar—ada sekitar 37 triliun sel manusia di tubuh Anda. 

Tapi tunggu dulu. 

Sekarang hitung sel mikroba—bakteri, jamur, virus, arkea—yang hidup di kulit Anda, di mulut Anda, di usus Anda, di setiap permukaan dan celah tubuh Anda. 

Berapa? 

39 triliun. 

Baca lagi angka itu. 39 triliun mikroba. 

Artinya: Anda lebih banyak bakteri daripada manusia. 

Untuk setiap sel manusia di tubuh Anda, ada lebih dari satu sel mikroba. Mereka ada di mana-mana. Di kulit Anda sekarang. Di mulut Anda saat Anda membaca ini. Di usus Anda, mencerna makanan Anda, memproduksi vitamin, melatih sistem kekebalan Anda. 

Dan inilah yang paling mengejutkan: Anda tidak bisa hidup tanpa mereka. 

Bukan dalam artian metaforis. Secara literal. Jika semua mikroba di tubuh Anda tiba-tiba hilang, Anda akan mati—tidak dalam hitungan bulan atau minggu, tapi dalam hitungan hari. 

Jadi pertanyaan yang mengganggu: Siapa "Anda" sebenarnya? 

Apakah Anda hanya kumpulan sel manusia? Atau apakah Anda adalah ekosistem—koloni kompleks dari manusia dan mikroba yang bekerja bersama?

Ed Yong, jurnalis sains pemenang Pulitzer Prize, menghabiskan bertahun-tahun menyelami pertanyaan ini. Dan jawabannya mengubah cara kita memahami kehidupan itu sendiri. 

Buku "I Contain Multitudes" bukan hanya tentang mikroba. Ini tentang redefining apa artinya menjadi individu, menjadi sehat, dan menjadi manusia. 

Bersiaplah untuk melihat diri Anda—dan dunia—dengan cara yang sama sekali baru.

 


Bagian 1: Dunia yang Tidak Terlihat—Living Together

Cumi-Cumi Bobtail dan Cahaya Hidup 

Mari kita mulai dengan makhluk yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan Anda: cumi-cumi bobtail Hawaiian

Cumi-cumi kecil ini, seukuran bola golf, punya masalah: dia berburu di malam hari. Dan ketika dia berenang, bulan dan bintang menciptakan bayangan di dasar laut—membuat dia terlihat oleh predator di bawah. 

Solusinya? Organ cahaya khusus di perutnya yang memancarkan cahaya yang tepat untuk mencocokkan cahaya dari atas—membuat dia "menghilang" bagi predator. 

Tapi inilah yang luar biasa: Cumi-cumi itu tidak membuat cahaya sendiri. 

Cahaya datang dari bakteri yang hidup di organ khusus di tubuhnya—Vibrio fischeri. Triliunan bakteri ini bercahaya dengan intensitas yang tepat untuk kamuflase sempurna. 

Setiap malam, cumi-cumi "bertani" bakteri ini—membiarkan mereka berkembang biak. Setiap pagi, dia membuang 95% dari mereka dan mulai lagi. 

Ini bukan infeksi. Bukan parasit. Ini kemitraan

Cumi-cumi memberikan rumah dan nutrisi. Bakteri memberikan invisibilitas. Tidak ada yang bisa survive sendiri dalam pengaturan ini. 

Simbiosis di Mana-Mana 

Ed Yong membawa kita dalam perjalanan mengagumkan melalui alam: 

Terumbu karang yang indah? Mereka tidak bisa hidup tanpa alga mikroskopis yang berfotosintesis di dalam sel mereka—memberikan 90% energi yang mereka butuhkan. 

Rayap yang memakan kayu? Mereka tidak punya enzim untuk mencerna selulosa. Tapi usus mereka penuh dengan mikroba yang bisa—tanpa mikroba, rayap akan mati kelaparan meskipun perutnya penuh kayu. 

Sapi yang makan rumput? Sama. Mikroba di rumen mereka yang mencerna rumput menjadi nutrisi. 

Bahkan Anda: Vitamin K yang membantu darah Anda membeku? Vitamin B12 yang esensial untuk otak? Sebagian besar diproduksi oleh bakteri di usus Anda, bukan tubuh Anda. 

Pola yang jelas: Kehidupan tidak terjadi dalam isolasi. Kehidupan adalah kolaborasi.

Mengapa Kita Baru Sadar Sekarang? 

Selama 150 tahun sejak Pasteur dan Koch membuktikan bahwa mikroba menyebabkan penyakit, kita melihat mikroba sebagai musuh

Kuman = penyakit. Bakteri = bahaya. Solusi = bunuh semuanya. 

Antibiotik. Hand sanitizer. Desinfektan di mana-mana. "Bunuh 99.9% kuman!"

Tapi kita lupa: Hanya sebagian kecil mikroba yang berbahaya. 

Dari triliunan spesies mikroba di Bumi, hanya sekitar 1,400 yang menyebabkan penyakit pada manusia. Sisanya? Netral atau esensial untuk kehidupan. 

Revolusi dalam genomics—kemampuan untuk membaca DNA dengan cepat dan murah—akhirnya membuka mata kita. Kita bisa melihat mikroba yang tidak bisa dikultivasi di lab. Kita bisa melihat ekosistem kompleks yang hidup di tubuh kita. 

Dan kita menyadari: Kita telah berperang dengan diri kita sendiri.

 


Bagian 2: Mikrobioma Manusia—Ekosistem di Dalam Diri

Peta Tubuh Mikroba 

Bayangkan tubuh Anda sebagai planet. Setiap bagian adalah habitat yang berbeda dengan penduduk yang berbeda: 

Kulit Anda: Gurun kering. Didominasi oleh Staphylococcus dan Corynebacterium. Mereka makan minyak dan sel kulit mati. Mereka memproduksi bau tubuh Anda (ya, bau ketiak Anda adalah hasil karya bakteri). 

Mulut Anda: Hutan hujan. Lebih dari 700 spesies bakteri hidup di sini. Beberapa membentuk plak di gigi. Yang lain melindungi dari patogen. Setiap gigi adalah pulau dengan ekosistem uniknya sendiri. 

Usus Anda: Savanna yang subur. Rumah bagi sekitar 1,000 spesies berbeda. Berat total mikroba di usus Anda? Sekitar 1-2 kilogram—hampir seberat otak Anda. 

Dan yang paling mengejutkan: Tidak ada dua orang yang punya mikrobioma identik. 

Bahkan kembar identik punya mikrobioma yang berbeda. Anda lebih mirip genetik dengan saudara Anda daripada Anda mirip secara mikroba. 

Mikrobioma Anda unik seperti sidik jari Anda. 

Apa yang Mikroba Lakukan untuk Kita? 

Selama ini kita pikir mikroba hanya "hidup" di kita. Ternyata mereka bekerja untuk kita:

1. Mencerna makanan yang tidak bisa kita cerna 

Anda makan sayuran penuh serat. Tubuh manusia tidak punya enzim untuk memecah serat itu. Tapi bakteri di usus Anda punya. Mereka memfermentasi serat dan memproduksi asam lemak rantai pendek yang: 

● Memberi energi ke sel usus 

● Mengurangi inflamasi 

● Bahkan mempengaruhi metabolisme Anda 

2. Melatih sistem kekebalan 

Bayi lahir dengan sistem kekebalan yang naif—tidak tahu perbedaan antara ancaman dan tidak. Mikroba melatih sistem ini. 

Studi menunjukkan: Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan terlalu steril (terlalu bersih, terlalu banyak antibiotik) punya risiko lebih tinggi untuk:

● Alergi 

● Asma 

● Penyakit autoimun seperti diabetes tipe 1 

Ini yang disebut "Hygiene Hypothesis": Kita terlalu bersih untuk kebaikan kita sendiri.

3. Memproduksi vitamin dan nutrisi 

Seperti disebutkan, bakteri memproduksi Vitamin K dan B12. Tanpa mereka, kita kekurangan nutrisi esensial. 

4. Melindungi dari patogen 

Mikroba baik di tubuh Anda adalah garis pertahanan pertama terhadap mikroba jahat. Mereka: 

● Bersaing untuk sumber daya (jadi patogen tidak punya tempat untuk tumbuh)

● Memproduksi senyawa antimikroba 

● Melatih sistem kekebalan untuk bereaksi cepat 

Ketika Anda minum antibiotik yang membunuh bakteri baik, Anda membuka pintu untuk infeksi oportunistik seperti C. difficile—bakteri yang menyebabkan diare parah dan bisa fatal. 

Mikroba dan Otak—Gut-Brain Axis 

Ini yang paling mengejutkan: Mikroba di usus mempengaruhi otak Anda.

Terdengar gila? Tapi buktinya menumpuk: 

Eksperimen dengan tikus: Tikus yang dibesarkan dalam kondisi steril (tanpa mikroba) menunjukkan perilaku yang berbeda—lebih cemas, lebih berani mengambil risiko, kurang sosial. 

Ketika tikus ini diberi mikroba dari tikus normal, perilaku mereka berubah. 

Lebih mengejutkan lagi: Ketika tikus diberi mikroba dari manusia dengan depresi, tikus itu menunjukkan gejala seperti depresi. 

Bagaimana ini mungkin? 

Mikroba di usus memproduksi neurotransmiter—zat kimia yang sama yang digunakan otak untuk komunikasi: 

Serotonin (pengatur mood): 90% serotonin dalam tubuh diproduksi di usus

GABA (menenangkan sistem saraf) 

Dopamine (motivasi dan reward)

Ada juga saraf vagus—jalan raya informasi antara usus dan otak. Mikroba mengirim sinyal melalui saraf ini yang mempengaruhi mood, stres, bahkan memory. 

Implikasi: Depresi, kecemasan, bahkan autisme mungkin—setidaknya sebagian—terkait dengan mikrobioma. 

Ini tidak berarti yogurt akan menyembuhkan depresi. Tapi ini membuka pintu untuk terapi baru yang menargetkan mikrobioma, bukan hanya otak.

 


Bagian 3: Bagaimana Kita Mendapat Mikrobioma—Dari Lahir hingga Mati 

Kelahiran: Momen Pertama 

Bayi dalam rahim hampir steril. Tidak ada mikroba. 

Lalu mereka lahir—dan dalam hitungan menit, tubuh mereka diserang oleh triliunan mikroba. 

Kelahiran normal (pervaginam): Bayi melewati jalan lahir dan terpapar mikroba ibu—terutama Lactobacillus dan Prevotella. Mikroba ini mengkolonisasi mulut, kulit, dan usus bayi. Ini adalah "starter pack" untuk mikrobioma. 

Kelahiran caesar: Bayi tidak melewati jalan lahir. Mikroba pertama yang mereka temui adalah mikroba kulit ibu dan lingkungan rumah sakit—lebih mirip Staphylococcus. 

Studi menunjukkan: Bayi caesar punya risiko sedikit lebih tinggi untuk asma, alergi, dan obesitas. Mengapa? Mungkin karena mikrobioma awal mereka berbeda. 

(Catatan: Ini bukan berarti caesar buruk—kadang medis diperlukan. Tapi ini menunjukkan pentingnya mikroba pertama.) 

ASI: Makanan untuk Mikroba 

ASI mengandung oligosakarida—gula kompleks yang bayi manusia tidak bisa mencerna.

Tunggu—kenapa ibu memproduksi gula yang bayinya tidak bisa cerna? 

Karena gula itu bukan untuk bayi. Gula itu untuk bakteri

Khususnya Bifidobacterium—bakteri yang mendominasi usus bayi yang minum ASI. Bakteri ini makan oligosakarida dan: 

● Memproduksi asam laktat (membuat lingkungan tidak ramah untuk patogen)

● Melatih sistem kekebalan bayi 

● Membantu pencernaan 

ASI adalah makanan untuk bayi DAN untuk mikroba bayi. 

Masa Kecil: Membangun Ekosistem 

Di tahun-tahun pertama kehidupan, mikrobioma anak sangat dinamis—berubah dengan cepat tergantung pada: 

● Makanan

● Antibiotik 

● Paparan lingkungan 

● Kontak dengan orang lain dan hewan 

Anak-anak yang: 

● Tumbuh dengan hewan peliharaan 

● Bermain di tanah 

● Punya saudara 

● Tinggal di peternakan 

...cenderung punya mikrobioma lebih beragam—dan risiko lebih rendah untuk alergi dan asma.

Diversity is health. 

Dewasa: Stabilitas Relatif 

Sekitar usia 3 tahun, mikrobioma mulai stabil dan terlihat seperti mikrobioma orang dewasa. Sejak itu, relatif stabil—kecuali: 

● Antibiotik (menghancurkan komunitas) 

● Penyakit (mengubah lingkungan) 

● Diet drastis (mengubah sumber daya) 

● Stress (mempengaruhi melalui hormon) 

Tapi secara umum, mikrobioma dewasa Anda adalah ekosistem yang resilient—bisa pulih dari gangguan kecil.

 


Bagian 4: Ketika Keseimbangan Terganggu—Dysbiosis

Antibiotik: Pedang Bermata Dua 

Antibiotik adalah salah satu penemuan terbesar dalam kedokteran. Mereka menyelamatkan jutaan nyawa dari infeksi yang dulu fatal. 

Tapi masalahnya: Antibiotik tidak diskriminatif. 

Mereka membunuh bakteri—baik yang jahat maupun yang baik. Seperti bom nuklir yang membunuh musuh tapi juga menghancurkan kota. 

Setelah kursus antibiotik: 

● Diversity mikrobioma turun drastis 

● Spesies tertentu bisa hilang permanen 

● Risiko infeksi oportunistik naik (contoh: C. difficile) 

Beberapa studi menunjukkan bahwa setiap kursus antibiotik di masa kecil meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit inflamasi usus di kemudian hari. 

Bukan berarti antibiotik buruk—mereka essential ketika Anda punya infeksi bakteri serius. Tapi kita terlalu sering menggunakannya

● Untuk pilek (yang disebabkan virus, bukan bakteri) 

● Untuk "just in case" 

● Di peternakan (70% antibiotik di AS digunakan pada hewan ternak) 

Obesitas dan Mikrobioma 

Orang dengan obesitas punya mikrobioma yang berbeda dari orang kurus. Mikrobioma mereka lebih efisien dalam mengekstrak kalori dari makanan. 

Eksperimen mengejutkan: 

● Ambil mikroba dari tikus obesitas 

● Transplantasi ke tikus kurus yang steril 

● Tikus kurus itu menjadi gemuk—tanpa mengubah diet mereka 

Mikroba saja cukup untuk mengubah metabolisme. 

Pada manusia, lebih kompleks. Tapi jelas bahwa mikrobioma adalah salah satu faktor dalam epidemi obesitas—di samping diet, exercise, genetik, dll. 

Penyakit Inflamasi Usus (IBD)

Crohn's disease dan ulcerative colitis—kondisi di mana sistem kekebalan menyerang usus sendiri—terkait dengan dysbiosis parah: diversity mikrobioma sangat rendah dan komposisi sangat berbeda dari orang sehat. 

Apakah dysbiosis menyebabkan IBD, atau IBD menyebabkan dysbiosis? Pertanyaan ayam dan telur. 

Tapi yang jelas: memperbaiki mikrobioma bisa membantu mengobati IBD.

 


Bagian 5: Memanipulasi Mikrobioma—Terapi Masa Depan

Probiotik: Apakah Mereka Bekerja? 

Probiotik—suplemen yang mengandung bakteri "baik"—adalah industri miliaran dolar. Tapi apakah mereka bekerja? 

Jawaban pendek: Kadang-kadang, untuk kondisi tertentu. 

Jawaban panjang: 

● Untuk diare terkait antibiotik: ada bukti bahwa beberapa probiotik membantu

● Untuk kesehatan umum: bukti sangat lemah 

● Kebanyakan bakteri probiotik tidak bertahan lama di usus—mereka transit dan hilang 

Masalah utama: Mikrobioma setiap orang unik. Bakteri yang membantu satu orang mungkin tidak membantu yang lain. 

Probiotik bukan peluru ajaib. Tapi untuk kondisi tertentu, mereka bisa membantu.

Prebiotik: Makanan untuk Mikroba 

Alih-alih menambahkan bakteri (probiotik), mengapa tidak memberi makan bakteri baik yang sudah ada? 

Prebiotik adalah serat yang tidak dicerna yang menjadi makanan untuk mikroba menguntungkan. 

Sumber prebiotik: 

● Bawang putih dan bawang bombay 

● Pisang (terutama yang sedikit hijau) 

● Asparagus 

● Oat 

● Apel 

Diet tinggi serat = mikrobioma yang lebih sehat dan beragam. 

Transplantasi Feses: Kedengarannya Menjijikkan, Tapi Menyelamatkan Nyawa 

Ini terdengar seperti lelucon: Ambil feses dari orang sehat, masukkan ke usus orang sakit.

Tapi Fecal Microbiota Transplantation (FMT) adalah terapi yang sangat efektif untuk infeksi C. difficile yang parah dan berulang—dengan tingkat kesembuhan 90%+, jauh lebih tinggi dari antibiotik. 

Bagaimana cara kerjanya? 

● Pasien dengan C. diff punya mikrobioma yang hancur (biasanya dari antibiotik)

● C. diff mengambil alih dan memproduksi toksin yang merusak usus 

● FMT mengembalikan mikrobioma sehat yang menendang keluar C. diff

FMT juga sedang diteliti untuk: 

● IBD (hasil mixed) 

● Obesitas (terlalu dini untuk tahu) 

● Autisme (sangat controversial) 

Catatan penting: FMT harus dilakukan di bawah pengawasan medis. Jangan coba di rumah—ada risiko menularkan patogen. 

Phage Therapy: Virus yang Membunuh Bakteri 

Bacteriophage (atau "phage") adalah virus yang hanya menginfeksi bakteri. Dan mereka sangat spesifik—phage yang membunuh E. coli tidak akan menyentuh Salmonella. 

Di era resistensi antibiotik, phage therapy adalah senjata presisi yang bisa membunuh bakteri target tanpa menyentuh bakteri baik. 

Ini sudah digunakan di Georgia dan Polandia selama puluhan tahun. Sekarang Barat mulai serius meneliti.

 


Bagian 6: Pandangan Baru tentang Kehidupan

Individu atau Ekosistem? 

Selama ini kita berpikir tentang diri kita sebagai individu—satu organism, satu genom, satu identitas. 

Tapi Ed Yong mengajukan perspektif baru: Kita adalah holobiont—organism plus semua mikroba yang hidup di/pada kita. 

Anda bukan satu organism. Anda adalah ekosistem. 

Dan seperti ekosistem lain (hutan, terumbu karang), kesehatan Anda tergantung pada keseimbangan dan diversity. 

Evolusi Bukan Hanya Genetik 

Evolusi tradisional bekerja melalui mutasi genetik yang diturunkan dari orang tua ke anak—proses yang memakan jutaan tahun. 

Tapi dengan mikrobioma, Anda bisa mengubah "genom" Anda dalam hitungan hari atau minggu dengan: 

● Mengubah diet 

● Bepergian ke tempat baru 

● Mengadopsi hewan peliharaan 

Anda mendapat akses ke kapabilitas baru tanpa mengubah DNA manusia Anda. 

Contoh: Orang Jepang punya bakteri di usus yang bisa mencerna rumput laut—bakteri yang mencuri gen dari bakteri laut. Orang Barat tidak punya bakteri ini. 

Apakah ini "evolusi"? Dalam pengertian tradisional, tidak. Tapi dalam pengertian fungsional, ya.

Kita Tidak Pernah Sendirian 

Mungkin pelajaran terbesar dari buku ini adalah: 

Kita tidak pernah sendirian. 

Bahkan ketika Anda sendirian di kamar, Anda ditemani triliunan makhluk hidup yang bekerja tanpa henti untuk menjaga Anda tetap hidup. 

Dan ini memaksa kita untuk merenungkan pertanyaan filosofis: 

Apa artinya menjadi individu jika kita adalah koloni?

Apa artinya menjadi "diri" jika sebagian besar sel kita bukan manusia?

Yong tidak memberikan jawaban definitif. Tapi dia menawarkan perspektif: 

"Mungkin pertanyaan yang salah adalah 'Di mana saya berakhir dan mikroba dimulai?' Pertanyaan yang lebih baik adalah: 'Bagaimana kita bekerja bersama?'"

 


Penutup: Hidup dengan Mikroba, Bukan Melawan Mereka

Pelajaran Praktis 

Ed Yong tidak menulis buku self-help. Tapi ada pelajaran praktis yang bisa kita ambil: 

1. Hargai diversity Mikrobioma yang sehat adalah mikrobioma yang beragam. Cara meningkatkan diversity: 

● Makan berbagai jenis makanan (terutama serat) 

● Kurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu 

● Paparan lingkungan yang beragam (hewan, tanah, orang lain) 

2. Jangan terlalu bersih Cuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet—itu penting. Tapi: 

● Tidak perlu hand sanitizer setiap 5 menit 

● Tidak perlu desinfektan di setiap permukaan rumah 

● Biarkan anak-anak main kotor 

3. Antibiotik hanya ketika benar-benar perlu Jika dokter meresepkan antibiotik untuk flu atau pilek (yang disebabkan virus), tanyakan: "Apakah ini benar-benar perlu?" 

4. Makan untuk mikroba Anda 

● Serat adalah makanan terbaik untuk mikroba baik 

● Makanan fermentasi (yogurt, kimchi, kombucha) membawa mikroba hidup

● Diet beragam = mikrobioma beragam 

Perspektif Baru tentang Kesehatan 

Kesehatan bukan hanya tentang tidak sakit. Kesehatan adalah tentang ekosistem internal yang seimbang. 

Dan kadang "mengobati" penyakit bukan tentang membunuh sesuatu, tapi tentang memulihkan keseimbangan. 

Wonder dan Kekaguman 

Yang paling berharga dari buku ini mungkin bukan fakta-fakta ilmiah, tapi perspektif baru yang dia tawarkan. 

Ketika Anda menyadari bahwa tubuh Anda adalah rumah bagi triliunan makhluk hidup—bahwa Anda adalah ekosistem yang berjalan—dunia menjadi lebih mengagumkan.

Setiap napas, setiap gigitan makanan, setiap sentuhan—semua ini adalah interaksi antara Anda dan dunia mikroba yang hidup di dan di sekitar Anda. 

Seperti Ed Yong tulis: 

"Kita adalah hasil kolaborasi. Kita adalah simfoni, bukan solo. Kita mengandung multitudes—dan dalam multitudes itu, kita menemukan diri kita." 

Jadi lain kali Anda melihat di cermin, ingatlah: 

Anda melihat satu manusia. Tapi Anda sebenarnya melihat 39 triliun kehidupan yang bekerja dalam harmoni untuk membuat "Anda" ada. 

Dan dalam perspektif itu, pertanyaan "Siapa saya?" menjadi jauh lebih kompleks—dan jauh lebih indah.

 


Tentang Buku Asli 

"I Contain Multitudes: The Microbes Within Us and a Grander View of Life" pertama kali diterbitkan pada 2016 dan langsung menjadi bestseller serta memenangkan berbagai penghargaan sains populer. 

Ed Yong adalah jurnalis sains pemenang Pulitzer Prize yang menulis untuk The Atlantic. Dia terkenal dengan kemampuannya menjelaskan sains kompleks dengan cara yang accessible dan engaging tanpa menyederhanakan secara berlebihan. 

Buku ini adalah hasil dari penelitian mendalam terhadap ratusan paper ilmiah dan wawancara dengan puluhan peneliti terkemuka di bidang mikrobiologi, imunologi, dan mikrobioma. 

Sejak publikasi, bidang penelitian mikrobioma telah berkembang pesat dengan penemuan-penemuan baru hampir setiap bulan. Tapi prinsip-prinsip inti dari buku ini tetap relevan dan fundamental. 

Untuk pengalaman lengkap dari keajaiban dunia mikroba dan implikasi mendalam dari penelitian ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Yong menulis dengan prose yang indah, penuh wonder, dan dipenuhi dengan cerita-cerita mengagumkan dari alam yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Ringkasan ini memberikan overview dari ide-ide utama, tetapi buku asli menawarkan kedalaman, nuansa, dan sense of awe yang akan mengubah cara Anda melihat diri sendiri dan dunia. 

Sekarang pergilah dan hargai triliunan teman kecil yang membuat hidup Anda mungkin.

Karena seperti Walt Whitman menulis (dari mana judul buku ini berasal):

"I am large, I contain multitudes." 

Dan sekarang Anda tahu—Whitman benar secara literal.