The Emperor of All Maladies

Siddhartha Mukherjee


Musuh Tertua Manusia 

Mei 2004. Ruang kemoterapi di Massachusetts General Hospital, Boston. 

Siddhartha Mukherjee, seorang dokter onkologi muda, duduk di samping tempat tidur pasiennya. Carla adalah seorang guru TK berusia 30 tahun. Tiga anak. Suami yang mencintainya. Seluruh hidup di depannya. 

Dia juga punya leukemia—kanker darah yang agresif. 

Mukherjee sedang menjelaskan rencana pengobatan: kemoterapi intensif selama berbulan-bulan. Efek samping yang brutal. Peluang survival yang tidak pasti. 

Di tengah penjelasan, Carla menginterupsi dengan pertanyaan sederhana:

"Dokter, apa sebenarnya kanker itu? Mengapa saya mendapatkannya?" 

Pertanyaan yang seharusnya mudah dijawab oleh seorang dokter kanker. Tapi Mukherjee terdiam. 

Karena di balik pertanyaan sederhana itu adalah misteri yang telah membingungkan manusia selama 4.000 tahun. Penyakit yang telah membunuh kaisar dan rakyat jelata. Penyakit yang telah mengalahkan dokter paling brilian di dunia. Penyakit yang terus beradaptasi, bermutasi, dan bertahan meskipun kita melemparkan segalanya untuk mengalahkannya. 

Kanker bukan hanya penyakit. Kanker adalah cermin yang paling jujur dari diri kita sendiri—sel kita sendiri yang tumbuh tak terkendali, versi terdistorsi dari kehidupan normal. 

"The Emperor of All Maladies" adalah upaya Mukherjee untuk menjawab pertanyaan Carla—dan dalam prosesnya, menceritakan salah satu kisah paling dramatis dalam sejarah kedokteran.

Ini bukan buku tentang kematian. Ini buku tentang perjuangan, kegagalan, breakthrough, dan harapan dalam menghadapi musuh yang paling tangguh yang pernah dihadapi manusia. 

Mari kita mulai dari awal.

 


Bagian 1: Penyakit Setua Peradaban 

Imhotep dan Benjolan yang Tidak Bisa Disembuhkan 

2625 SM. Mesir Kuno. 

Imhotep—arsitek piramida, dokter legendaris, orang yang kemudian dianggap sebagai dewa penyembuhan—menulis salah satu teks medis tertua di dunia. 

Di antara 48 kasus medis yang dia dokumentasikan, ada satu yang membuatnya bingung total: 

"Benjolan menonjol di payudara... dingin saat disentuh... menyebar ke seluruh tubuh... tidak ada pengobatan." 

Ini adalah deskripsi kanker payudara pertama yang tercatat dalam sejarah.

Dan kesimpulan Imhotep? "Tidak ada pengobatan." 

4.600 tahun kemudian, dalam banyak kasus, kita masih belum punya jawaban yang jauh lebih baik. 

Hippocrates dan "Karkinos" 

460 SM. Yunani Kuno. 

Hippocrates—bapak kedokteran modern—adalah orang pertama yang memberikan nama pada penyakit ini: karkinos—kata Yunani untuk kepiting. 

Mengapa kepiting? Karena ketika dia mengamati tumor payudara yang menyebar, pembuluh darah yang melebar di sekitarnya terlihat seperti kaki-kaki kepiting yang mencengkeram. 

Dari karkinos lahir kata "cancer." 

Hippocrates mencoba segala cara: mengeluarkan darah, membakar tumor, memberikan ramuan herbal. Tidak ada yang berhasil. 

Penyakit ini tetap menjadi misteri—dan teror. 

Mengapa Kanker Begitu Sulit Dikalahkan? 

Karena kanker bukan invasi dari luar seperti bakteri atau virus. Kanker adalah kita.

Ini adalah sel kita sendiri yang: 

● Lupa bagaimana berhenti tumbuh 

● Mengabaikan sinyal untuk mati

● Menyebar ke tempat yang tidak seharusnya 

● Beradaptasi dan bermutasi untuk bertahan 

Membunuh kanker berarti membunuh sebagian dari diri kita sendiri. Dan itulah dilema fundamental yang telah membuat kanker begitu sulit dikalahkan selama ribuan tahun.

 


Bagian 2: Pisau Bedah—Era Operasi Radikal

William Halsted dan Mastektomi Radikal 

1890-an. Johns Hopkins Hospital, Baltimore. 

William Halsted adalah ahli bedah paling brilian di Amerika. Dia punya teori sederhana tentang kanker payudara: 

"Jika kanker menyebar, maka kita harus mengambil semuanya—payudara, otot dada, kelenjar getah bening, apapun yang mungkin terinfeksi." 

Lahirlah mastektomi radikal—operasi yang tidak hanya mengangkat payudara, tapi juga otot pectoralis di bawahnya, semua kelenjar getah bening di ketiak, dan kadang bahkan tulang rusuk. 

Hasil operasi? Brutal: 

● Wanita kehilangan seluruh dinding dada 

● Lengan bengkak permanen (lymphedema) 

● Deformitas yang mengerikan 

● Rasa sakit seumur hidup 

Tapi Halsted percaya ini satu-satunya cara untuk "menyembuhkan" kanker.

Dogma yang Bertahan 70 Tahun 

Yang mengerikan: mastektomi radikal menjadi standar pengobatan selama hampir 70 tahun—dari 1890-an hingga 1970-an. 

Ratusan ribu wanita menjalani operasi yang memutilasi ini. Banyak yang selamat dari kanker, tapi hidup dengan trauma fisik dan emosional selamanya. 

Dan yang lebih mengerikan: Tidak ada bukti bahwa operasi lebih radikal memberikan hasil lebih baik. 

Studi demi studi menunjukkan bahwa mengangkat lebih banyak jaringan tidak meningkatkan survival rate. Tapi dogma Halsted begitu kuat sehingga dokter enggan mengubahnya. 

Bernard Fisher—Pemberontak 

1970-an. Seorang ahli bedah bernama Bernard Fisher melakukan sesuatu yang radikal: dia melawan dogma.

Dia melakukan clinical trial besar membandingkan mastektomi radikal dengan lumpektomi (operasi yang hanya mengangkat tumor, bukan seluruh payudara). 

Hasil mengejutkan: Tidak ada perbedaan dalam survival rate. 

Wanita yang menjalani operasi minimal hidup sama lamanya dengan yang menjalani operasi radikal—tapi dengan kualitas hidup yang jauh lebih baik. 

Ini adalah pelajaran pertama dalam "biografi" kanker: 

Lebih banyak tidak selalu lebih baik. Kadang, agresi tanpa pemahaman hanya menciptakan penderitaan tanpa manfaat.

 


Bagian 3: Racun—Era Kemoterapi 

Sidney Farber dan Anak-Anak yang Tidak Punya Harapan

1947. Children's Hospital, Boston. 

Sidney Farber adalah seorang patolog—dokter yang mempelajari jaringan mati. Setiap hari, dia melakukan autopsi pada anak-anak yang meninggal karena leukemia. 

Leukemia pada waktu itu adalah hukuman mati. Rata-rata survival: 3 bulan sejak diagnosis.

Farber punya ide gila: Bagaimana jika kita meracuni sel kanker? 

Dia tahu bahwa sel kanker tumbuh cepat. Mereka butuh folat—vitamin B—untuk membelah diri. Jadi dia memberikan anak-anak aminopterin—obat yang menghentikan folat bekerja. 

Ini adalah racun. Anak-anak muntah, rambut rontok, sistem imun collapse.

Tapi sesuatu yang luar biasa terjadi: Tumor mereka menyusut. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kanker merespons pengobatan kimia.

Robert Sandler—Anak Pertama 

Robert Sandler adalah anak pertama yang diberi aminopterin. Dia berusia 2 tahun, tubuhnya penuh memar dari leukemia, hampir mati. 

Setelah beberapa minggu pengobatan, memar hilang. Dia mulai bermain lagi. Tersenyum lagi. Orang tuanya berpikir ini adalah keajaiban. 

Tapi tiga bulan kemudian, leukemia kembali—lebih agresif dari sebelumnya. Robert meninggal. 

Farber menyadari sesuatu yang menghancurkan: Kemoterapi bisa membuat kanker remisi, tapi tidak menyembuhkan. 

Ini adalah pola yang akan berulang berkali-kali dalam sejarah kanker: kemajuan yang memberikan harapan, diikuti oleh kekambuhan yang menghancurkan. 

Kombinasi—Kunci Kesuksesan 

1960-an. Ahli onkologi menyadari bahwa satu obat tidak cukup. Kanker terlalu pintar—dia bermutasi dan menjadi resisten. 

Solusinya? Kombinasi kemoterapi—memberikan beberapa obat sekaligus, menyerang kanker dari berbagai sudut.

Protokol baru dicoba pada leukemia anak: VAMP—empat obat diberikan bersamaan dalam dosis intensif. 

Hasilnya mengejutkan: 70% anak-anak dengan leukemia mencapai remisi jangka panjang. 

Untuk pertama kalinya, kemoterapi tidak hanya memperpanjang hidup—tapi benar-benar menyembuhkan beberapa pasien. 

The Brutal Truth 

Tapi ada harga yang harus dibayar: 

● Mual dan muntah ekstrem 

● Rambut rontok total 

● Infeksi berbahaya karena sistem imun hancur 

● Organ rusak (jantung, ginjal, saraf) 

● Untuk beberapa anak, pengobatan membunuh mereka sebelum kanker sempat 

Dilema etika muncul: Seberapa banyak penderitaan yang bisa kita anggap 'benar' untuk kesempatan hidup? 

Ini adalah pertanyaan yang masih kita hadapi hari ini.

 


Bagian 4: The War on Cancer—Perang yang Tidak Pernah Dimenangkan 

Mary Lasker dan Impian Nasional 

1969. Mary Lasker—aktivis dan filantropis—punya misi: mengalahkan kanker dengan kekuatan penuh bangsa Amerika. 

Dia berargumen: "Jika kita bisa menaruh manusia di bulan, mengapa kita tidak bisa menyembuhkan kanker?" 

Dengan lobbying intensif, dia meyakinkan Kongres dan Presiden Nixon untuk mendeklarasikan "War on Cancer"—perang terhadap kanker. 

23 Desember 1971, Nixon menandatangani National Cancer Act: 

● Milyaran dollar untuk penelitian 

● Institusi baru dibentuk 

● Target: menyembuhkan kanker dalam 25 tahun 

Euforia nasional. Cover majalah Time: "Cancer: The $1 Billion Crusade."

Reality Check 

40 tahun kemudian, tahun 2011, Mukherjee menulis: 

"Kita tidak memenangkan perang ini." 

Ya, ada kemajuan luar biasa: 

● Survival rate untuk beberapa kanker meningkat drastis 

● Leukemia anak sekarang 80% bisa disembuhkan (dari hampir 0% di 1960-an)

● Testicular cancer hampir selalu bisa disembuhkan 

● Hodgkin's lymphoma punya survival rate lebih dari 80% 

Tapi untuk kanker paling mematikan—paru-paru, pankreas, hati—kemajuan minimal.

Mengapa "Perang" adalah Metafora yang Salah 

Mukherjee berargumen bahwa "perang" adalah cara berpikir yang salah tentang kanker: 

1. Kanker bukan musuh tunggal Kanker adalah ratusan penyakit berbeda. Kanker payudara berbeda dari kanker paru-paru. Bahkan dalam satu jenis kanker, setiap pasien punya mutasi unik.

2. Kita tidak bisa "mengalahkan" kanker dengan brute force Makin agresif pengobatan, makin banyak efek samping—kadang membunuh pasien sebelum kanker sempat. 

3. Survival adalah bentuk kemenangan Mungkin kita tidak bisa "menyembuhkan" semua kanker. Tapi mengubah kanker dari hukuman mati menjadi penyakit kronis yang bisa dikelola—itu juga kemenangan.

 


Bagian 5: Breakthrough—Memahami Musuh

Peyton Rous dan Virus Kanker 

1910. Peyton Rous menemukan sesuatu yang mengejutkan: Virus bisa menyebabkan kanker (pada ayam). 

Dunia medis skeptis. Tapi 50 tahun kemudian, dia terbukti benar dan memenangkan Nobel Prize. 

Penemuan ini membuka pintu: Kanker bukan hanya kecelakaan acak. Ada faktor eksternal yang memicu. 

DNA dan Mutasi—Kunci Misteri 

1953. Watson dan Crick menemukan struktur DNA. 

Ini mengubah segalanya. Karena sekarang kita bisa bertanya: Apa yang salah dalam DNA sel kanker? 

Jawaban datang perlahan, sepotong demi sepotong: 

Onkogen: Gen yang ketika aktif, mendorong pertumbuhan sel tak terkendali

Tumor suppressor genes: Gen yang seharusnya menghentikan pertumbuhan, tapi rusak dalam kanker 

Mutasi: Perubahan dalam DNA yang mengubah sel normal menjadi kanker

Gleevec—Peluru Ajaib Pertama 

2001. Salah satu momen paling dramatis dalam sejarah kanker. 

Gleevec—obat yang dirancang untuk target satu mutasi spesifik dalam leukemia myeloid kronis (CML). 

Cara kerjanya: Seperti kunci yang pas sempurna, Gleevec memblok protein abnormal (BCR-ABL) yang membuat sel kanker tumbuh. 

Hasil clinical trial mengejutkan: 

● 90%+ pasien mencapai remisi 

● Efek samping minimal 

● Pasien yang seharusnya mati dalam 5 tahun hidup 20+ tahun 

Ini adalah bukti konsep: Jika kita memahami biologi kanker dengan cukup detail, kita bisa merancang obat yang sangat spesifik dan efektif.

Era Terapi Targeted 

Gleevec membuka era baru: 

● Herceptin untuk kanker payudara HER2-positif 

● Tarceva untuk kanker paru dengan mutasi EGFR 

● Pembrolizumab (Keytruda) untuk imunoterapi 

Setiap obat dirancang untuk target mutasi atau mekanisme spesifik. 

Tapi ada tantangan lain: Kanker beradaptasi. 

Dalam 2-3 tahun, banyak pasien menjadi resisten terhadap terapi targeted. Kanker bermutasi lagi, menemukan cara baru untuk tumbuh. 

Ini adalah perlombaan yang tidak pernah berakhir.

 


Bagian 6: Pasien—Humanisasi Perjuangan

Carla—Guru TK dengan Leukemia 

Kembali ke Carla, pasien Mukherjee yang mengajukan pertanyaan di pembukaan buku. 

Setelah 8 bulan kemoterapi yang brutal—muntah, infeksi, rambut rontok, transfusi darah berkali-kali—Carla mencapai remisi. 

Tapi remisi bukan kesembuhan. Dia hidup dengan ketakutan setiap hari: Apakah kanker akan kembali? 

Setiap sakit kepala, setiap memar, setiap kelelahan—bisa jadi tanda kambuh. 

Ini adalah realitas yang jarang dibicarakan: Survivors kanker hidup dengan trauma psikologis seumur hidup. 

Germaine Berne—Wanita yang Menolak Pengobatan 

Germaine adalah wanita berusia 60-an dengan kanker ovarium stadium lanjut.

Dokter menawarkan kemoterapi agresif. Peluang remisi: 30%. Efek samping: mengerikan. 

Germaine berkata: "Tidak. Saya ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengan kualitas, bukan terikat di rumah sakit." 

Dia memilih hospice care—perawatan untuk kenyamanan, bukan pengobatan agresif.

Dia meninggal 6 bulan kemudian, di rumah, dikelilingi keluarga, tanpa rasa sakit.

Pelajaran—Tidak Ada Jawaban Universal 

Kisah Carla dan Germaine mengajarkan sesuatu yang penting: 

Tidak ada "jawaban benar" universal dalam pengobatan kanker. 

Untuk beberapa pasien, berjuang dengan kemoterapi agresif adalah pilihan yang tepat. Untuk yang lain, kualitas hidup lebih penting dari kuantitas. 

Tugas dokter bukan memutuskan untuk pasien. Tapi memberikan informasi jujur dan mendukung pilihan mereka.

 


Bagian 7: Pencegahan—Perang yang Bisa Dimenangkan

Rokok—Pembunuh Terbesar 

1950-an. Epidemiolog Richard Doll membuktikan link antara rokok dan kanker paru-paru. 

Industrialisasi telah mengubah kanker paru dari penyakit langka menjadi pembunuh nomor satu di dunia. 

Fakta brutal: 

● 90% kanker paru-paru disebabkan oleh rokok 

● Kanker paru-paru membunuh lebih banyak orang daripada kanker payudara, prostat, dan kolon digabungkan 

Jika kita bisa menghilangkan rokok, kita bisa menghilangkan 30% dari semua kematian kanker. 

Tapi industri tembakau melawan balik dengan propaganda, lobbying, dan menciptakan keraguan ilmiah. 

HPV dan Kanker Serviks—Vaksin sebagai Pencegahan 

2006. Gardasil—vaksin pertama yang mencegah kanker. 

HPV (human papilloma virus) menyebabkan hampir semua kanker serviks. Vaksinasi bisa mencegah infeksi. 

Hasil di negara dengan program vaksinasi universal: Penurunan 90% dalam kanker serviks pada generasi yang divaksinasi

Ini adalah kemenangan luar biasa: Kita bisa benar-benar mencegah kanker sebelum dimulai. 

Gaya Hidup—Kontrol yang Kita Miliki 

Faktor risiko yang bisa kita kontrol: 

Rokok: Penyebab 30% kematian kanker 

Obesitas: Meningkatkan risiko beberapa kanker 

Alkohol: Terkait dengan kanker hati, mulut, kerongkongan 

Diet: Makanan olahan, daging merah berlebihan 

Kurang olahraga: Meningkatkan risiko kanker kolon

Paradox: Kita menghabiskan milyaran untuk pengobatan, tapi investasi minimal untuk pencegahan.

 


Bagian 8: Masa Depan—Living with Cancer

Dari "Cure" ke "Control" 

Mukherjee berargumen bahwa kita perlu mengubah paradigma: 

Dari mencoba "menyembuhkan" semua kanker → Mengubah kanker menjadi penyakit kronis yang bisa dikelola. 

Seperti diabetes atau HIV. Tidak disembuhkan, tapi dikontrol dengan obat—memungkinkan pasien hidup bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. 

Genomic Medicine—Personalisasi Pengobatan 

Masa depan adalah precision medicine: 

● Setiap tumor di-sequence DNA-nya 

● Pengobatan disesuaikan dengan mutasi spesifik 

● Obat berubah saat kanker bermutasi 

Ini sudah terjadi hari ini, tapi masih terbatas pada pasien dengan akses dan insurance yang baik. 

Imunoterapi—Melatih Tubuh Melawan Kanker 

Terobosan paling menjanjikan dalam dekade terakhir: 

Menggunakan sistem imun tubuh sendiri untuk melawan kanker. 

Obat seperti Keytruda "melepaskan rem" pada sel T (sel imun) sehingga mereka bisa menyerang kanker. 

Untuk beberapa pasien dengan kanker stadium lanjut yang seharusnya mati dalam bulan, imunoterapi memberikan remisi jangka panjang—bahkan kesembuhan. 

Tapi hanya bekerja pada 20-30% pasien. Kita belum tahu mengapa.

 


Penutup: Kaisar dari Semua Penyakit 

Di akhir buku, Mukherjee kembali ke pertanyaan Carla: "Apa sebenarnya kanker itu?"

Jawabannya kompleks: 

Kanker adalah harga yang kita bayar karena menjadi organisme multiseluler yang kompleks. 

Setiap kali sel membelah—yang terjadi triliunan kali dalam hidup kita—ada peluang kesalahan. Mutasi. Dan jika mutasi itu terjadi di gen yang salah, sel bisa menjadi kanker. 

Kanker adalah cermin terdistorsi dari diri kita sendiri—pertumbuhan yang seharusnya teratur, tapi jadi kacau. Sel yang seharusnya berkolaborasi, tapi jadi individualis ganas. 

Kanker adalah musuh yang paling tangguh karena dia adalah kita. Membunuhnya berarti membunuh bagian dari diri kita. 

Harapan—Bukan Kemenangan Mutlak, Tapi Progress 

Mukherjee tidak menawarkan kesimpulan yang memuaskan atau janji kesembuhan universal.

Tapi dia menawarkan sesuatu yang lebih jujur: Progress

Dalam 4.000 tahun sejak Imhotep menulis "tidak ada pengobatan": 

● Kita telah mengubah beberapa kanker dari hukuman mati menjadi penyakit yang bisa disembuhkan 

● Kita telah meningkatkan survival rate untuk banyak kanker 

● Kita telah mengurangi penderitaan melalui pengobatan yang lebih targeted

● Kita mulai memahami biologi fundamental kanker 

Kita belum memenangkan perang. Tapi kita memenangkan banyak pertempuran.

Pertanyaan untuk Anda 

Buku ini bukan hanya untuk dokter atau pasien kanker. Ini untuk semua orang. 

Karena pada suatu titik, kanker akan menyentuh hidup Anda—entah secara pribadi atau melalui orang yang Anda cintai. 

Pertanyaannya: 

● Apakah Anda akan mengambil kontrol atas faktor risiko yang bisa Anda kontrol? (Berhenti merokok, jaga berat badan, olahraga) 

● Apakah Anda akan mendukung penelitian dan pencegahan?

● Ketika saatnya datang untuk membuat keputusan sulit tentang pengobatan—untuk diri sendiri atau orang yang dicintai—apakah Anda akan memilih dengan informasi dan keberanian? 

Seperti Mukherjee tulis: 

"Kanker tidak menentukan kita. Tapi bagaimana kita merespons kanker—sebagai masyarakat, sebagai dokter, sebagai pasien—itu menentukan kita." 

Dan dalam perjuangan melawan "emperor of all maladies" ini, setiap hari kita belajar sedikit lebih banyak, melangkah sedikit lebih maju. 

Mungkin suatu hari, anak cucu kita akan melihat ke belakang dan bertanya-tanya mengapa kanker pernah begitu menakutkan. 

Sampai hari itu datang, kita terus berjuang. Satu pasien, satu penemuan, satu hari pada satu waktu.

 


Tentang Buku Asli 

"The Emperor of All Maladies: A Biography of Cancer" pertama kali diterbitkan pada 2010 dan memenangkan Pulitzer Prize untuk Nonfiction pada 2011. 

Siddhartha Mukherjee adalah seorang onkolog, peneliti kanker, dan profesor kedokteran di Columbia University. Dia juga penulis berbakat yang mampu menerjemahkan sains kompleks menjadi narasi yang compelling. 

Buku ini adalah hasil dari 6 tahun penelitian, ratusan wawancara dengan pasien, dokter, dan peneliti, dan pengalaman langsung Mukherjee sebagai dokter kanker. 

Buku ini telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan diadaptasi menjadi dokumenter PBS pada 2015 oleh Ken Burns. 

Untuk pemahaman penuh tentang sejarah, sains, dan humanisme dalam perjuangan melawan kanker, sangat disarankan membaca buku aslinya. Mukherjee menulis dengan keanggunan seorang novelis sambil mempertahankan akurasi seorang ilmuwan. 

Ringkasan ini menangkap tema-tema utama, tetapi buku asli menawarkan ratusan cerita pasien, detail ilmiah, dan nuansa yang akan mengubah cara Anda memahami penyakit ini. 

Sekarang pergilah—dan jika Anda merokok, berhentilah. Jika Anda punya keluarga dengan riwayat kanker, lakukan screening. Jika Anda sehat, jaga kesehatan Anda. 

Karena dalam perang melawan kanker, pencegahan adalah kemenangan terbesar.