Kontradiksi yang Mendefinisikan Hidup
"Saya ingin mati."
Baek Se-hee, 27 tahun, duduk di hadapan psikiaternya dan mengatakan kalimat itu dengan nada yang sangat tenang—terlalu tenang untuk kalimat seberat itu.
"Tapi saya juga ingin makan tteokpokki."
Psikiater menatapnya. Menunggu.
"Saya ingin mati, tapi saya juga ingin makan tteokpokki yang enak. Saya ingin menghilang dari dunia ini, tapi saya juga tidak ingin melewatkan episode drama favorit saya yang tayang Jumat nanti. Saya tidak melihat alasan untuk hidup, tapi saya juga tidak mau mati sebelum menyelesaikan novel yang sedang saya baca."
Inilah kontradiksi yang mendefinisikan hidupnya. Dan mungkin, hidup jutaan orang lainnya.
Se-hee bukan orang yang mencoba bunuh diri. Dia tidak terbaring di tempat tidur selama berhari-hari tidak bisa bangun. Dia pergi bekerja setiap hari sebagai copy editor. Dia bertemu teman-teman. Dia tertawa pada lelucon. Dari luar, dia terlihat... normal.
Tapi di dalam?
Di dalam, ada kekosongan yang tidak pernah hilang. Kesedihan yang tidak punya alasan jelas. Kelelahan emosional yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan bahwa hidup ini adalah beban yang harus dipikul setiap hari, bukan hadiah yang harus disyukuri.
Dokter mendiagnosanya dengan dysthymia—depresi persisten ringan. Bukan depresi mayor yang dramatis dan melumpuhkan. Tapi depresi kronis tingkat rendah yang seperti background noise dalam hidup. Selalu ada. Selalu samar. Selalu menguras.
"I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki" adalah memoir tentang 12 sesi terapi Se-hee dengan psikiaternya. Bukan kisah kesembuhan yang inspirasional. Bukan "saya dulu depresi, sekarang saya bahagia."
Ini adalah kisah tentang belajar hidup dengan depresi. Tentang menerima bahwa kadang "lebih baik" adalah pencapaian terbesar Anda hari itu. Tentang menemukan alasan untuk tetap hidup—bahkan jika alasan itu hanya tteokpokki.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Depresi yang Tidak Terlihat
"Aku Baik-Baik Saja"—Kebohongan Terbesar
Sesi pertama terapi. Psikiater bertanya: "Mengapa Anda datang ke sini?" Se-hee terdiam. Lalu berkata: "Saya tidak yakin. Mungkin saya salah datang."
Ini adalah masalah dengan dysthymia. Anda cukup berfungsi untuk terlihat normal, tapi tidak cukup baik untuk benar-benar hidup.
Se-hee pergi bekerja. Tapi dia tidak pernah benar-benar hadir. Dia menyelesaikan deadline. Tapi setiap tugas terasa seperti mendaki gunung. Dia tertawa dengan teman-teman. Tapi tawa itu adalah kostum yang dia pakai, bukan perasaan yang dia rasakan.
Yang paling melelahkan? Berpura-pura baik-baik saja setiap hari.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik! Kamu?"
Autopilot. Jawaban otomatis yang bahkan tidak memerlukan pemikiran.
Karena apa yang akan Anda katakan jika jujur? "Saya ingin menghilang tapi saya tidak punya energi untuk mati?" Itu akan membuat orang tidak nyaman. Jadi lebih mudah berbohong.
Generasi yang Lelah
Se-hee adalah bagian dari generasi Korea Selatan yang tumbuh dengan tekanan luar biasa:
Tekanan akademis sejak SD. Kompetisi brutal untuk masuk universitas bagus. Pasar kerja yang tidak pasti. Biaya hidup yang meledak sementara gaji stagnan. Ekspektasi untuk sukses secara finansial, menikah, punya anak, dan membeli rumah—sementara hampir tidak mungkin melakukan semua itu.
Dan di atas semua itu: ekspektasi untuk terlihat bahagia tentang semua ini.
"Kita adalah generasi yang diberitahu untuk bersyukur karena kita tidak kelaparan, tidak dalam perang, punya atap di atas kepala," tulis Se-hee. "Jadi ketika kita merasa tidak bahagia—kita merasa bersalah. Karena secara objektif, kita 'tidak punya alasan' untuk sedih."
Tapi depresi tidak peduli dengan logika. Depresi tidak peduli apakah hidup Anda secara objektif "baik." Depresi adalah penyakit, bukan sikap.
Bagian 2: Perfeksionisme Sebagai Penjara
Standar yang Tidak Mungkin Dicapai
Sesi terapi ketiga. Psikiater bertanya: "Apa yang Anda pikirkan tentang diri Anda?" Se-hee menjawab tanpa ragu: "Saya orang yang buruk."
"Mengapa?"
"Karena saya tidak melakukan apa pun dengan benar. Pekerjaan saya biasa-biasa saja. Hubungan saya dengan orang lain dangkal. Saya tidak punya hobi yang berarti. Saya tidak achieve apa pun yang signifikan. Saya... tidak spesial."
Psikiater diam. Lalu bertanya: "Apakah Anda menerapkan standar yang sama pada orang lain?"
Se-hee berpikir. "Tidak. Saya tidak expect teman-teman saya untuk 'spesial.' Saya menghargai mereka apa adanya."
"Lalu mengapa Anda tidak bisa menghargai diri sendiri apa adanya?"
Pertanyaan yang menghantui Se-hee—dan mungkin menghantui banyak dari kita.
Paradoks Perfeksionisme
Se-hee menyadari sesuatu yang menyakitkan: perfeksionisme bukan tentang standar tinggi. Perfeksionisme adalah rasa takut pada kegagalan yang begitu besar sehingga melumpuhkan.
Dia ingin menulis novel. Tapi dia tidak pernah mulai—karena apa jika tidak sempurna? Apa jika tidak bagus?
Dia ingin belajar bahasa baru. Tapi dia tidak pernah mendaftar kelas—karena bagaimana jika dia tidak bisa?
Dia ingin punya hubungan yang lebih dalam. Tapi dia menjaga jarak—karena bagaimana jika orang melihat "diri asli" dia dan tidak suka?
Perfeksionisme membuat Anda tidak melakukan apa-apa, lalu membuat Anda membenci diri sendiri karena tidak melakukan apa-apa.
Psikiater menjelaskan: "Perfeksionisme adalah bentuk dari self-protection. Jika Anda tidak pernah mencoba, Anda tidak akan pernah gagal. Tapi harganya adalah Anda juga tidak pernah hidup."
Bagian 3: Hubungan yang Menjaga Jarak
Takut Dekat, Takut Jauh
Se-hee punya teman-teman. Tapi tidak ada yang benar-benar "dekat."
Dia punya pacar. Tapi dia tidak pernah benar-benar vulnerable dengan dia.
Dia punya keluarga. Tapi mereka tidak tahu tentang terapinya, tentang depresinya, tentang pikiran-pikiran gelapnya.
"Saya takut jika orang benar-benar mengenal saya, mereka tidak akan suka apa yang mereka lihat," jelasnya pada psikiater.
"Jadi Anda lebih memilih untuk tidak dikenal?"
"Setidaknya dengan cara itu, mereka tidak akan mengecewakan saya dengan meninggalkan."
Inilah ironinya: Se-hee begitu takut ditinggalkan sehingga dia tidak pernah membiarkan siapa pun cukup dekat untuk meninggalkannya.
Beban Menjadi "Low Maintenance"
Se-hee selalu menjadi orang yang "tidak merepotkan":
● Teman mengubah rencana? "Tidak masalah."
● Pacar lupa anniversary? "Tidak apa-apa."
● Keluarga tidak menelepon selama berminggu-minggu? "Mereka sibuk." Dia bangga menjadi "easy-going," "tidak drama," "low maintenance."
Tapi di terapi, dia menyadari: "Low maintenance" adalah cara lain mengatakan "saya tidak pernah mengkomunikasikan kebutuhan saya karena saya tidak percaya orang akan peduli."
Psikiater bertanya: "Apa yang terjadi jika Anda benar-benar mengatakan apa yang Anda butuhkan?"
"Mereka mungkin akan bilang tidak. Atau mereka akan terganggu. Atau mereka akan pikir saya terlalu needy."
"Dan kemudian?"
"Dan kemudian saya akan tahu bahwa saya tidak cukup penting bagi mereka."
"Atau," psikiater berkata lembut, "Anda akan tahu siapa yang benar-benar peduli pada Anda. Dan Anda akan berhenti membuang energi pada orang yang tidak peduli."
Bagian 4: Self-Awareness Tanpa Self-Compassion
Ironi yang Menyakitkan
Se-hee sangat sadar diri. Dia bisa menganalisis pikiran dan perilakunya dengan akurasi yang menakjubkan.
"Saya tahu saya melakukan ini karena childhood trauma."
"Saya tahu saya overthinking."
"Saya tahu ini irasional."
Tapi awareness ini tidak membantunya merasa lebih baik. Malah membuatnya lebih buruk.
"Mengetahui mengapa Anda melakukan sesuatu yang self-destructive tidak otomatis membuat Anda berhenti melakukannya," tulis Se-hee. "Malah membuat Anda frustrasi karena Anda tahu lebih baik tapi tetap tidak bisa berhenti."
Psikiater menjelaskan fenomena ini: "Self-awareness tanpa self-compassion adalah self-torture."
Awareness mengatakan: "Saya tahu saya tidak seharusnya merasa seperti ini."
Compassion mengatakan: "Saya merasa seperti ini, dan itu okay. Saya manusia."
Se-hee punya banyak awareness. Tapi nol compassion.
Voice of the Inner Critic
Di kepala Se-hee ada suara yang tidak pernah berhenti:
"Kamu payah."
"Kamu membosankan."
"Tidak ada yang benar-benar peduli padamu."
"Kamu tidak spesial. Kamu hanya rata-rata. Dan rata-rata itu tidak cukup." Dia tahu suara ini irasional. Tapi dia tidak bisa menghentikannya.
Psikiater memberikan analogi: "Bayangkan ada teman yang berbicara pada Anda seperti inner critic Anda berbicara pada diri sendiri. Apakah Anda akan tetap berteman dengan orang itu?"
"Tentu tidak. Itu toxic."
"Lalu mengapa Anda mentolerir itu dari diri sendiri?"
Pertanyaan yang mengubah segalanya.
Bagian 5: Ingin Mati, Tapi Juga Ingin Hidup
Suicidal Ideation vs Suicide Attempt
Se-hee sering berpikir tentang kematian. Bukan dalam cara yang aktif merencanakan bunuh diri. Tapi dalam cara pasif berharap dia tidak bangun besok.
"Jika ada tombol yang bisa saya tekan dan saya hilang tanpa rasa sakit, tanpa menyakiti siapa pun—saya mungkin akan tekan," katanya jujur.
Ini yang disebut suicidal ideation—pikiran tentang kematian tanpa niat aktif untuk mati. Tapi pada saat yang sama, dia juga ingin:
● Makan tteokpokki yang enak
● Menonton episode baru drama favoritnya
● Menyelesaikan buku yang sedang dibaca
● Melihat musim semi tahun depan
Kontradiksi ini bukan kelemahan. Ini adalah bukti bahwa bagian darinya masih ingin hidup.
Psikiater menjelaskan: "Orang yang benar-benar ingin mati biasanya tidak datang ke terapi. Fakta bahwa Anda di sini berarti ada bagian dari Anda—mungkin kecil—yang masih mencari alasan untuk tetap hidup."
Alasan-Alasan Kecil
Se-hee mulai membuat list "alasan untuk tidak mati hari ini":
● Tteokpokki yang enak
● Drama baru tayang Jumat
● Buku bagus yang belum selesai
● Kucing tetangga yang lucu
● Kopi pagi yang sempurna
● Hujan yang menenangkan
● Lagu baru dari artis favorit
Bukan alasan-alasan besar dan mulia seperti "untuk keluarga" atau "untuk meninggalkan legacy."
Hanya alasan-alasan kecil, sederhana, yang membuat hari itu sedikit lebih dapat ditoleransi.
Dan kadang, itu cukup.
"Saya tidak perlu menemukan meaning of life," tulis Se-hee. "Saya hanya perlu menemukan alasan untuk hidup hari ini. Dan besok, saya akan cari alasan baru."
Bagian 6: Terapi Bukan Perbaikan, Tapi Penerimaan
Ekspektasi vs Realita
Di awal terapi, Se-hee berharap psikiater akan "memperbaikinya."
Dia berharap setelah 12 sesi, dia akan:
● Tidak lagi depresi
● Punya kepercayaan diri tinggi
● Punya hubungan yang sehat
● Tahu tujuan hidupnya
● Bahagia
Tapi itu bukan yang terjadi.
Setelah 12 sesi, Se-hee masih punya dysthymia. Dia masih overthink. Dia masih kadang ingin menghilang.
Tapi ada yang berubah.
Dia belajar untuk tidak membenci dirinya karena merasa seperti ini.
"Terapi tidak 'menyembuhkan' saya dari depresi," tulis Se-hee. "Terapi mengajarkan saya untuk hidup dengan depresi tanpa membiarkannya mendefinisikan seluruh eksistensi saya."
Embracing "Good Enough"
Salah satu breakthrough terbesar Se-hee adalah konsep "good enough."
Dia tidak harus sempurna. Dia tidak harus extraordinary. Dia tidak harus achieve hal-hal besar. Dia hanya harus cukup baik hari ini.
Hari ini, cukup baik adalah:
● Bangun dari tempat tidur
● Mandi
● Makan sesuatu
● Menyelesaikan satu tugas kecil
Itu cukup. Itu valid. Itu achievement.
"Standar saya untuk hari yang baik turun drastis," katanya. "Dan anehnya, itu membuat saya lebih bahagia. Karena sekarang saya bisa achieve 'hari yang baik' lebih sering."
Bagian 7: Normalisasi Kesehatan Mental
Stigma dalam Budaya Korea
Di Korea Selatan—dan banyak budaya Asia—ada stigma besar seputar kesehatan mental:
● Depresi dilihat sebagai kelemahan karakter
● Terapi dianggap untuk "orang gila"
● Anda seharusnya bisa "overcome" masalah sendiri
● Berbicara tentang perasaan dianggap "berat" dan tidak sopan
Se-hee tidak memberitahu keluarganya tentang terapi. Tidak memberitahu sebagian besar temannya. Dia hidup dengan rahasia ini karena takut judgment.
Tapi kemudian dia menulis buku ini.
Dan buku ini menjadi fenomena di Korea Selatan—menjual ratusan ribu eksemplar. Bukan karena Se-hee menawarkan solusi ajaib. Tapi karena dia menormalisasi struggle.
Dia mengatakan dengan jujur: "Saya tidak okay. Dan itu okay untuk tidak okay."
You Are Not Alone
Ribuan pembaca menulis ke Se-hee: "Saya pikir hanya saya yang merasa seperti ini."
Itulah kekuatan dari kejujuran. Ketika satu orang berani berkata, "Saya struggle," tiba-tiba ribuan orang lain merasa divalidasi untuk berkata hal yang sama.
"Saya tidak menulis buku ini untuk memberi jawaban," tulis Se-hee. "Saya menulis untuk mengatakan: jika Anda merasa seperti ini, Anda tidak sendiri. Dan itu tidak membuat Anda rusak atau lemah."
Bagian 8: Small Steps, Not Giant Leaps
Myth of the Big Breakthrough
Film dan buku sering menunjukkan recovery sebagai momen dramatis—epifani besar, breakthrough emosional, dan tiba-tiba semuanya berubah.
Realita jauh lebih membosankan.
Recovery adalah:
● Hari Senin: Anda bangun dan mandi. Small win.
● Hari Selasa: Anda makan tiga kali. Small win.
● Hari Rabu: Anda menelepon teman kembali. Small win.
● Hari Kamis: Anda menangis di kamar mandi tapi tetap pergi bekerja. Small win.
Bukan transformasi dramatis. Hanya hari-hari yang sedikit lebih dapat ditoleransi, sedikit demi sedikit.
Celebrate Tiny Victories
Se-hee belajar untuk merayakan hal-hal yang orang lain anggap remeh:
● Keluar dari tempat tidur sebelum siang
● Mengirim satu email
● Tidak overthinking satu percakapan
● Makan sesuatu yang bukan instant noodles
● Tidak scroll social media selama satu jam
Untuk orang dengan depresi, ini adalah victories yang legitimate.
"Standar orang untuk 'produktif' tidak apply untuk saya," tulis Se-hee. "Dan itu harus okay. Saya tidak berlomba dengan siapa pun kecuali versi saya kemarin."
Penutup: Hidup adalah Tteokpokki, Bukan Destinasi
Di akhir buku, Se-hee menulis sesuatu yang beautiful dan heartbreaking sekaligus:
"Saya masih kadang ingin mati. Tapi saya juga masih ingin makan tteokpokki. Dan untuk hari ini, tteokpokki menang."
Ini bukan kisah kesembuhan yang sempurna. Ini bukan "saya dulu depresi, sekarang saya sembuh total dan hidup saya amazing."
Ini adalah kisah tentang belajar untuk tetap hidup di hari-hari ketika Anda tidak yakin mengapa Anda harus tetap hidup.
Pelajaran yang Kita Ambil
1. Depresi tidak selalu terlihat Seseorang bisa terlihat berfungsi normal dan masih berjuang setiap hari. "Aku baik-baik saja" sering adalah kebohongan yang kita semua katakan.
2. Perfeksionisme adalah musuh Standar yang tidak realistis membuat Anda paralyzed, bukan motivated. "Good enough" adalah pencapaian yang legitimate.
3. Vulnerability adalah kekuatan Menjaga jarak dari semua orang membuat Anda aman tapi juga kesepian. Kadang, risiko untuk dekat adalah risiko yang worth it.
4. Self-awareness butuh self-compassion Tahu bahwa Anda irasional tidak cukup. Anda juga harus memaafkan diri sendiri karena irasional.
5. Small reasons to live are enough Anda tidak perlu menemukan grand purpose. Tteokpokki, drama favorit, buku bagus—alasan kecil ini valid dan cukup.
6. Recovery bukan linear Ada hari baik dan hari buruk. Progress bukan garis lurus ke atas tapi zigzag dengan overall trend yang lebih baik.
7. You are not alone Jutaan orang merasa seperti Anda. Dan mereka juga berjuang untuk tetap hidup, satu hari pada satu waktu.
Pertanyaan untuk Anda
Jika Anda sedang struggle hari ini, tanyakan pada diri sendiri:
"Apa tteokpokki saya hari ini?"
Apa yang membuat hari ini sedikit lebih worth it? Apa yang membuat Anda ingin melihat besok?
Tidak harus besar. Tidak harus profound. Hanya sesuatu yang kecil, sederhana, yang membuat Anda bertahan satu hari lagi.
Karena seperti yang Se-hee buktikan: kadang, hidup bukan tentang menemukan alasan besar untuk hidup. Kadang, hidup hanya tentang menemukan alasan kecil untuk tidak mati hari ini.
Dan besok? Besok adalah pertempuran yang berbeda. Dengan alasan yang mungkin berbeda.
Tapi untuk hari ini—hari ini Anda di sini. Anda membaca ini. Anda bernafas.
Dan itu sudah cukup.
Tentang Buku Asli
"I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki" (제가 죽고 싶단 말은 거짓말이에요) pertama kali diterbitkan di Korea Selatan pada 2018 dan menjadi fenomena instant.
Baek Se-hee adalah penulis muda Korea Selatan yang bekerja sebagai copy editor. Buku ini adalah memoir tentang 12 sesi terapinya dengan psikiater untuk dysthymia (depresi persisten ringan).
Buku ini beresonansi sangat kuat dengan generasi muda Korea—dan kemudian dunia—karena kejujurannya yang brutal tentang kesehatan mental, pressure generasi millennial, dan struggle untuk menemukan meaning dalam kehidupan yang "secara objektif baik tapi emosional kosong."
Buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi salah satu buku paling penting dalam normalisasi percakapan tentang kesehatan mental di Asia.
Untuk pemahaman lengkap tentang perjalanan emosional Se-hee dan nuansa dari setiap sesi terapi, sangat disarankan membaca buku aslinya. Format percakapan antara Se-hee dan psikiaternya memberikan insight yang sangat personal dan powerful yang sulit ditangkap dalam ringkasan.
Buku ini bukan untuk orang yang mencari motivasi "rah-rah" atau solusi cepat. Ini untuk orang yang butuh tahu bahwa mereka tidak sendiri—bahwa struggle mereka valid, bahwa "good enough" adalah cukup, dan bahwa alasan kecil untuk hidup adalah alasan yang sama legitimnya dengan alasan besar.
Jika hari ini Anda struggle, ingat:
Tidak apa-apa untuk tidak okay. Tidak apa-apa untuk hanya survive hari ini. Tidak apa-apa jika alasan Anda untuk tetap hidup hari ini adalah tteokpokki.
Besok adalah hari yang baru. Dengan battle yang baru. Dan alasan yang mungkin baru.
Tapi untuk hari ini—Anda di sini. Dan itu sudah lebih dari cukup.

