Hippie

Paulo Coelho


Dam Square, 1970 

Amsterdam, musim panas 1970. 

Seorang pemuda Brazil berusia 23 tahun duduk di tepi Dam Square, menonton arus manusia yang datang dan pergi. Rambut panjang. Pakaian compang-camping. Kantong hampir kosong. 

Namanya Paulo. Dan dia tersesat. 

Bukan tersesat secara geografis—dia tahu dia di Amsterdam. Tapi tersesat dalam arti yang lebih dalam. Dia tidak tahu siapa dia. Tidak tahu apa yang dia cari. Hanya tahu satu hal: dia tidak ingin kembali ke kehidupan yang dia tinggalkan. 

Kehidupan di Brazil yang penuh ekspektasi. Keluarga yang menginginkannya menjadi insinyur atau pengacara. Masyarakat yang menuntutnya "normal." Sebuah masa depan yang sudah ditentukan—aman, terprediksi, mati rasa. 

Jadi dia melarikan diri. Seperti ribuan anak muda lainnya di tahun 1970-an, dia bergabung dengan gerakan yang disebut hippies—anak-anak muda yang menolak materialisme, yang mencari makna hidup di luar uang dan status, yang percaya pada cinta, kebebasan, dan perdamaian. 

Tapi setelah berbulan-bulan berkelana—dari Brazil ke Bolivia, Chile, Peru, dan akhirnya Eropa—Paulo mulai menyadari sesuatu yang meresahkan: 

Melarikan diri dari sesuatu itu mudah. Tapi lari menuju apa? 

Dia duduk di Dam Square, merokok, menonton matahari terbenam di atas canal, dan bertanya-tanya apakah dia akan selamanya menjadi pengembara tanpa tujuan. 

Lalu dia melihatnya.

Seorang wanita duduk sendirian di seberang square. Rambut panjang bergelombang. Mata yang tampak seperti melihat sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Ada aura tenang di sekitarnya—seperti mata badai. 

Mata mereka bertemu. Dan dalam sekejap, Paulo tahu: Pertemuan ini akan mengubah segalanya. 

Namanya Karla. Wanita Belanda yang juga sedang mencari sesuatu. Dan tanpa mereka sadari, pertemuan di Dam Square itu adalah awal dari perjalanan yang akan membawa mereka melintasi benua, melewati pegunungan dan gurun, menuju Nepal—dan lebih jauh lagi, menuju jawaban yang mereka cari. 

Ini adalah kisah "Hippie"—novel semi-otobiografi Paulo Coelho tentang perjalanan yang mengubah hidupnya. Tentang pencarian, cinta, kebebasan, dan pertanyaan yang kita semua hadapi: Siapa saya? Dan apa yang benar-benar saya inginkan dari hidup ini? 

Mari kita mulai perjalanan.

 


Bagian 1: Melarikan Diri dari Penjara yang Aman

Kehidupan yang Seharusnya 

Sebelum Amsterdam, sebelum Dam Square, ada Paulo di Brazil—seorang pemuda dari keluarga kelas menengah dengan masa depan yang "terjamin." 

Dia seharusnya kuliah. Seharusnya punya pekerjaan yang stabil. Seharusnya menikah dengan gadis baik-baik dari keluarga baik. Seharusnya membeli rumah, mobil, punya anak, dan pensiun dengan nyaman. 

Seharusnya. 

Tapi setiap kali Paulo membayangkan kehidupan itu, dia merasa seperti tenggelam. Seperti perlahan-lahan mati. 

"Apakah ini benar-benar hidup?" dia bertanya pada dirinya sendiri. "Mengikuti jalur yang sudah ditentukan? Melakukan apa yang 'seharusnya' dilakukan? Menjadi aman tapi tidak pernah benar-benar hidup?" 

Dia mencoba memberontak dengan cara kecil-kecilan. Menulis. Bermain musik. Bergabung dengan kelompok teater underground. Tapi keluarganya tidak mengerti. Mereka mengirimnya ke psikiater. Bahkan memasukkannya ke rumah sakit jiwa—dua kali. 

Pesan mereka jelas: "Kamu gila karena kamu tidak mau normal." 

Tapi Paulo tahu dia tidak gila. Dia hanya tidak bisa menerima definisi "normal" yang ditawarkan masyarakat kepadanya. 

Jadi dia membuat keputusan yang paling menakutkan dan paling membebaskan dalam hidupnya: Dia pergi

Tanpa rencana. Tanpa tujuan yang jelas. Hanya dengan satu keyakinan: Ada sesuatu yang lebih dari ini. Dan dia harus menemukannya. 

Gerakan Hippie—Generasi yang Menolak 

Tahun 1960-an dan awal 1970-an adalah era di mana jutaan anak muda di seluruh dunia mengajukan pertanyaan yang sama dengan Paulo: 

"Mengapa kita harus hidup dengan cara yang mereka tentukan?" 

Mereka melihat orang tua mereka—bekerja di pekerjaan yang mereka benci, hidup untuk akhir pekan, menunggu pensiun. Mereka melihat perang (Vietnam), rasisme, materialisme yang kosong. Dan mereka berkata: "Tidak. Pasti ada cara lain."

Gerakan hippie lahir dari penolakan ini. Tapi bukan hanya penolakan—ini adalah pencarian aktif untuk alternatif: 

● Cinta bebas vs pernikahan konvensional 

● Komunitas vs individualisme 

● Spiritualitas Timur vs materialisme Barat 

● Perdamaian vs perang 

● Pengalaman vs kepemilikan 

Ribuan anak muda mengambil jalan yang disebut "Hippie Trail"—rute overland dari Eropa ke India dan Nepal, mencari pencerahan, kebebasan, dan makna. 

Paulo adalah salah satu dari mereka. Dan di Amsterdam, dia menemukan komunitas orang-orang seperti dia—pencari, pengembara, penolak konvensi. 

Tapi bahkan di antara mereka, dia merasa belum menemukan jawabannya.

Sampai dia bertemu Karla.

 


Bagian 2: Karla—Wanita yang Melihat Lebih Dalam

Pertemuan Pertama 

"Kamu sedang mencari sesuatu," kata Karla tanpa basa-basi ketika Paulo akhirnya memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya. 

Bukan pertanyaan. Pernyataan. 

Paulo tertawa kecil. "Bagaimana kamu tahu?" 

"Karena aku juga," jawab Karla. "Dan orang yang mencari bisa mengenali orang lain yang juga mencari." 

Karla berbeda dari wanita lain yang Paulo temui. Dia tidak mencoba mengesankan. Tidak berpura-pura. Ada kejujuran telanjang dalam cara dia berbicara—seperti dia sudah melewati kebutuhan untuk memakai topeng. 

Dia cerita tentang kehidupannya di Rotterdam. Keluarga yang kaya tapi dingin. Ekspektasi untuk menikah dengan pria kaya, punya anak, menjalani kehidupan yang "sempurna." 

"Sempurna untuk siapa?" dia bertanya. "Bukan untuk aku." 

Jadi seperti Paulo, dia pergi. Meninggalkan apartemen yang nyaman. Meninggalkan pacar yang "sempurna." Meninggalkan masa depan yang "aman." 

"Tapi kamu mencari apa?" tanya Paulo. 

Karla diam sejenak, melihat langit yang mulai gelap. 

"Aku tidak tahu," jawabnya dengan jujur. "Tapi aku akan tahu ketika aku menemukannya."

Koneksi yang Langka 

Dalam beberapa hari, Paulo dan Karla menjadi tak terpisahkan. 

Mereka menghabiskan berjam-jam berbicara di kafe, berjalan di sepanjang canal, berbagi cerita tentang mimpi dan ketakutan mereka. 

Ada koneksi di antara mereka yang jarang ditemukan—bukan hanya ketertarikan fisik (meskipun itu ada), tapi sesuatu yang lebih dalam. Recognition. Seperti jiwa mereka saling mengenali. 

Karla tertarik pada mistisisme Timur. Dia sudah membaca buku-buku tentang Buddha, meditasi, pencarian pencerahan. Dia percaya bahwa jawaban yang mereka cari tidak ada di Barat—dengan semua materialisme dan rasionalitasnya—tapi di Timur.

"Di Nepal," katanya suatu malam, "ada monasteri di pegunungan. Tempat di mana orang-orang mencari pencerahan sejati. Aku ingin pergi ke sana." 

Paulo merasakan sesuatu menggelitik di dalam dadanya. Nepal. Kata itu terdengar seperti janji. "Bagaimana kita akan ke sana?" tanyanya. 

Karla tersenyum—senyum pertama yang Paulo lihat darinya, dan itu menerangi seluruh wajahnya. 

"Magic Bus," jawabnya. "Ada bus yang berangkat dari Amsterdam setiap minggu, membawa travelers ke Istanbul, Tehran, Kabul, dan akhirnya Kathmandu. Perjalanan enam minggu. Kamu berani?" 

Paulo tidak ragu. 

"Aku berani."

 


Bagian 3: Magic Bus—Perjalanan Melintasi Dunia

Bus Penuh Pencari 

Magic Bus bukan bus biasa. Ini adalah microcosm dari gerakan hippie itu sendiri—24 orang dari berbagai negara, berbagai latar belakang, tapi semua dengan satu kesamaan: Mereka mencari sesuatu. 

Ada: 

Rahul, seorang pemuda India yang ironisnya melarikan diri dari India ke Eropa, dan sekarang kembali—tapi bukan ke kehidupan lama, melainkan ke Nepal untuk menemukan "India sejati" yang dia rasa hilang 

Mirthe, gadis Norwegia yang percaya pada cinta bebas dan menolak konsep kepemilikan dalam hubungan 

Ryan, mantan tentara Amerika yang traumatized dari Vietnam dan mencari penebusan

Jacques dan Marie, pasangan Prancis yang menikah tapi sedang menguji apakah cinta mereka bisa survive tanpa aturan konvensional 

Dan tentu saja, Paulo dan Karla. 

Perjalanan dimulai dengan excitement. Amsterdam ke Munich. Munich ke Yugoslavia. Yugoslavia ke Istanbul. 

Pelajaran di Sepanjang Jalan 

Setiap kota membawa pelajaran baru. Setiap pertemuan membuka perspektif baru. 

Di Istanbul, Paulo bertemu dengan seorang sufi yang mengajarkannya tentang konsep "mati sebelum mati"—melepaskan ego, identitas palsu, semua yang kita pikir kita adalah, untuk menemukan siapa kita sebenarnya. 

"Kamu takut kehilangan dirimu," kata sufi itu. "Tapi kamu tidak bisa kehilangan apa yang tidak pernah kamu miliki. Yang kamu pikir sebagai 'dirimu' adalah koleksi dari apa yang orang lain katakan tentangmu. Lepaskan itu, dan kamu akan menemukan kebenaran." 

Di Tehran, Karla berbicara dengan seorang wanita Persia yang sudah menikah muda, punya anak, hidup dalam aturan ketat—tapi dia bilang dia bahagia. 

"Kebebasan," kata wanita itu, "bukan tentang tidak punya aturan. Kebebasan adalah ketika kamu memilih aturanmu sendiri dan hidup sesuai dengan itu. Aku memilih kehidupan ini. Jadi aku bebas."

Ini mengejutkan Karla. Dia selama ini berpikir kebebasan adalah menolak semua aturan. Tapi mungkin kebebasan sejati adalah tentang memilih dengan sadar—apakah itu memilih untuk menikah atau tidak menikah, punya anak atau tidak, hidup konvensional atau tidak. 

Yang penting adalah: Apakah ini pilihanmu atau pilihan orang lain? 

Di Afghanistan, bus mereka berhenti di desa kecil. Malam itu, Paulo duduk dengan para tetua desa yang merokok hashish dan berbagi cerita. 

Seorang tetua berkata: "Kalian orang Barat datang ke sini mencari kebijaksanaan Timur. Tapi kalian membawa begitu banyak kekacauan dalam pikiran kalian. Kebijaksanaan sejati adalah kesederhanaan. Bukan kompleksitas." 

Paulo menyadari: Mungkin dia overthinking semuanya. Mungkin jawaban yang dia cari lebih sederhana dari yang dia kira. 

Konflik dalam Bus 

Tapi tidak semua pelajaran indah. Ada juga konflik. 

Mirthe dan Ryan mulai berhubungan—tapi Mirthe juga tidur dengan orang lain karena prinsip "cinta bebas"-nya. Ryan, meskipun secara intelektual setuju, merasakan jealousy yang menghancurkannya. 

"Aku pikir aku bisa hidup tanpa kepemilikan," katanya pada Paulo suatu malam. "Tapi ternyata aku tidak selepas yang aku kira. Perasaan ini—cemburu, sakit hati—apa artinya aku tidak cukup enlightened?" 

Paulo tidak punya jawaban. Tapi dia belajar sesuatu: Filosofi yang indah di atas kertas kadang sulit dipraktikkan dalam realitas emosi manusia

Jacques dan Marie juga mulai bertengkar. Eksperimen "pernikahan terbuka" mereka menciptakan luka yang tidak mereka antisipasi. 

"Kami pikir aturan adalah masalahnya," kata Marie dengan air mata. "Tapi sekarang aku menyadari—aturan melindungi kita dari menyakiti orang yang kita cintai." 

Kebebasan tanpa batas ternyata bukan jawaban. Tapi aturan tanpa makna juga bukan jawaban. 

Jadi apa jawabannya?

 


Bagian 4: Kathmandu—Destinasi yang Bukan Akhir

Tiba di Tanah yang Dijanjikan 

Setelah enam minggu—melewati pegunungan, gurun, perbatasan berbahaya, breakdown mekanis, dan tak terhitung malam tidur di lantai bus—mereka tiba di Kathmandu. 

Tanah yang dijanjikan. Tempat di mana pencerahan menunggu. 

Atau begitulah mereka pikir. 

Kathmandu tahun 1970 adalah surga bagi hippies. Ribuan pencari dari seluruh dunia berkumpul di sana. Hashish legal. Monasteri terbuka untuk pengunjung. Guru spiritual di mana-mana. 

Paulo dan Karla mengunjungi monasteri. Mereka duduk dengan biksu. Mereka meditasi. Mereka membaca teks-teks kuno. 

Tapi sesuatu terasa... kosong. 

Pencerahan yang Tidak Datang 

Suatu malam, setelah berhari-hari mencoba meditasi dan gagal mencapai "enlightenment" yang dijanjikan, Paulo frustrasi. 

"Aku sudah datang sejauh ini," katanya pada Karla. "Aku sudah meninggalkan segalanya. Aku sudah melakukan perjalanan ribuan kilometer. Dan untuk apa? Aku masih belum tahu siapa aku. Aku masih belum menemukan jawabanku." 

Karla melihatnya dengan lembut. 

"Mungkin," katanya pelan, "karena kamu mencari di tempat yang salah." "Apa maksudmu?" 

"Kamu mencari jawaban dari biksu, dari buku, dari guru. Tapi mungkin jawaban tidak ada di luar. Mungkin selama ini ada di dalam dirimu—dan kamu hanya perlu berhenti berlari cukup lama untuk mendengarnya." 

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Malam itu, Paulo berjalan sendirian di pinggiran Kathmandu. Langit penuh bintang. Udara dingin tapi jernih. 

Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan—mungkin bertahun-tahun—dia berhenti. Berhenti berlari. Berhenti mencari. Berhenti berpikir.

Hanya duduk. Dan diam. 

Dan dalam keheningan itu, pertanyaan datang—bukan dari guru atau buku, tapi dari dalam dirinya sendiri: 

"Paulo, apa yang benar-benar kamu inginkan?" 

Bukan apa yang orang tuanya inginkan. Bukan apa yang masyarakat harapkan. Bukan bahkan apa yang gerakan hippie katakan "seharusnya" dia inginkan. 

Apa yang DIA inginkan? 

Dan jawaban datang dengan jelas, mengejutkannya: 

"Aku ingin menulis. Aku ingin bercerita. Aku ingin menggunakan kata-kata untuk menyentuh jiwa orang lain seperti kata-kata telah menyentuh jiwaku." 

Sesederhana itu. Tidak mystical. Tidak revolutionary. Hanya jujur. 

Dan dengan kejujuran itu, sesuatu shift dalam dirinya. 

Dia tidak perlu menjadi biksu. Tidak perlu mencapai enlightenment kosmik. Tidak perlu menolak seluruh dunia untuk menemukan makna. 

Dia hanya perlu jujur dengan dirinya sendiri dan menjalani kebenaran itu.

 


Bagian 5: Karla dan Paulo—Cinta dan Kebebasan

Percakapan Terakhir 

Karla dan Paulo duduk di rooftop sebuah guesthouse murah di Kathmandu. Matahari terbit di atas Himalaya, mewarnai langit dengan warna pink dan orange. 

"Aku akan pergi," kata Karla tiba-tiba. 

Paulo merasa perutnya jatuh. "Ke mana?" 

"Ke utara. Ke monasteri yang lebih terpencil. Aku masih merasa ada sesuatu yang aku perlu temukan." 

"Dan aku?" tanya Paulo, meskipun dia sudah tahu jawabannya. 

Karla mengambil tangannya. "Kamu akan kembali. Ke Brazil. Untuk menulis." "Bagaimana kamu tahu?" 

"Karena aku melihatmu kemarin malam. Ketika kamu kembali dari jalan-jalanmu. Ada sesuatu yang berbeda. Kamu sudah menemukannya—apa yang kamu cari." 

Paulo tidak bisa menyangkal. 

"Tapi bagaimana dengan kita?" tanyanya dengan suara yang hampir berbisik. Karla tersenyum—sedih tapi juga penuh cinta. 

"Kita adalah pertemuan yang supposed to happen. Kita berdua butuh satu sama lain untuk perjalanan ini. Tapi kita tidak meant to stay together. Setidaknya tidak sekarang. Tidak dengan cara ini." 

"Tapi aku mencintaimu," kata Paulo, dan dia menyadari itu benar. 

"Aku juga mencintaimu," jawab Karla. "Tapi kadang cinta bukan tentang bersama. Kadang cinta adalah tentang membiarkan pergi sehingga masing-masing bisa menjadi siapa mereka seharusnya." 

Melepaskan dengan Cinta 

Tiga hari kemudian, mereka berpisah. 

Karla naik bus ke utara, menuju pegunungan, menuju pencarian yang belum selesai.

Paulo naik bus ke selatan, menuju Delhi, kemudian kembali ke Brazil, menuju kehidupan yang akhirnya dia pilih sendiri. 

Tidak ada drama. Tidak ada pertengkaran. Hanya pelukan panjang dan doa dalam hati bahwa suatu hari, entah di mana, mereka akan bertemu lagi. 

Paulo belajar pelajaran paling berharga dari perjalanannya: Kamu bisa mencintai seseorang dan tetap membiarkan mereka pergi. Kamu bisa berterima kasih untuk apa yang mereka berikan tanpa berharap mereka tetap selamanya. 

Karla mengajarinya bahwa cinta sejati memberi kebebasan, tidak mengambilnya.

 

 


Bagian 6: Pulang—Membawa Pelajaran 

Brazil yang Sama Tapi Mata yang Berbeda 

Ketika Paulo tiba kembali di Brazil, di permukaan tidak ada yang berubah. 

Keluarganya masih menginginkannya "normal." Teman-temannya masih menjalani kehidupan yang sama. Brazil masih di bawah rezim militer yang keras. 

Tapi semuanya berbeda. 

Karena dia yang berubah. 

Dia tidak lagi pemuda yang melarikan diri dari penjara. Dia adalah seorang pria yang sudah menemukan kebebasan—bukan di Nepal, tapi dalam dirinya sendiri. 

Menulis Sebagai Jalan 

Paulo mulai menulis. Tidak dengan harapan terkenal. Tidak dengan jaminan sukses. Hanya karena itu yang dia harus lakukan

Tahun-tahun pertama sulit. Tulisannya ditolak. Dia harus kerja sambilan untuk bertahan. Orang mengolok-ngolok mimpinya. 

Tapi dia tetap menulis. 

Karena dia belajar di Kathmandu: Kebermaknaan bukan tentang hasil. Kebermaknaan adalah tentang menjalani kebenaran dirimu, regardless of outcome. 

Perjalanan yang Belum Berakhir 

Puluhan tahun kemudian, setelah menjadi penulis terkenal dunia dengan buku-buku seperti "The Alchemist," Coelho refleksi pada perjalanan hippie-nya. 

Dia menyadari: 

Perjalanan ke Nepal bukan tentang mencapai destinasi. Perjalanan itu adalah tentang siapa dia menjadi di sepanjang jalan. 

Biksu di monasteri tidak memberikan pencerahan. Tapi percakapan di bus memberikan kebijaksanaan. Karla tidak menjadi istrinya. Tapi dia memberikan pelajaran tentang cinta yang dia bawa selamanya. 

Coelho menulis di akhir novel:

"Kita semua pencari. Kita semua dalam perjalanan. Dan kadang hal terpenting dari perjalanan bukan sampai di tujuan—tapi menemukan siapa kita di sepanjang jalan."

 


Penutup: Pelajaran dari Hippie Trail 

Untuk Kamu yang Juga Mencari 

Novel "Hippie" ditulis hampir 50 tahun setelah perjalanan itu terjadi. Tapi Coelho menulis bukan untuk nostalgia. Dia menulis karena pertanyaan yang dia hadapi di tahun 1970 masih sama relevannya hari ini: 

"Siapa saya? Apa yang benar-benar saya inginkan? Bagaimana saya menemukan makna dalam hidup ini?" 

Mungkin kamu tidak akan naik Magic Bus ke Nepal. Mungkin perjalananmu tidak melintasi benua. 

Tapi kita semua dalam perjalanan yang sama—perjalanan menemukan diri sendiri.

Lima Pelajaran dari Perjalanan 

1. Kamu Tidak Akan Menemukan Dirimu dengan Berlari dari Sesuatu 

Paulo melarikan diri dari Brazil. Tapi dia baru menemukan dirinya ketika dia berhenti berlari dan mulai mencari dengan sadar. 

Lesson: Kamu harus tahu apa yang kamu lari menuju, bukan hanya apa yang kamu lari dari.

2. Guru Terbaik Adalah Pengalaman, Bukan Buku 

Paulo membaca banyak buku tentang spiritualitas. Tapi yang benar-benar mengubahnya adalah percakapan dengan orang-orang di perjalanan, kesulitan yang dia hadapi, pilihan yang dia buat. 

Lesson: Pengetahuan ada di buku. Kebijaksanaan ada di kehidupan. 

3. Kebebasan Sejati Adalah Memilih dengan Sadar 

Gerakan hippie tentang menolak aturan. Tapi Coelho belajar bahwa kebebasan bukan absence of rules—tapi choosing your own rules consciously

Lesson: Kamu bebas bukan ketika kamu tidak punya komitmen, tapi ketika komitmenmu adalah pilihanmu sendiri. 

4. Cinta Sejati Memberi Kebebasan 

Paulo dan Karla mencintai satu sama lain. Tapi mereka membiarkan satu sama lain pergi karena mereka tahu cinta yang mengikat adalah penjara, bukan rumah.

Lesson: Jika kamu benar-benar mencintai seseorang, kamu ingin mereka menjadi versi terbaik dari diri mereka—bahkan jika itu berarti tanpa kamu. 

5. Jawaban Ada di Dalam, Bukan di Luar 

Paulo pergi ke Nepal mencari pencerahan dari biksu. Tapi dia menemukannya dalam keheningan, dalam kejujuran dengan dirinya sendiri. 

Lesson: Berhenti mencari jawaban di luar. Duduk diam. Dengarkan suara terdalam dirimu. Jawaban sudah ada di sana—kamu hanya perlu cukup berani untuk mendengarnya. 

Pertanyaan untuk Perjalananmu 

Sekarang, untuk kamu yang membaca ini: 

Siapa kamu tanpa semua ekspektasi orang lain? 

Tanpa apa yang orang tuamu inginkan. Tanpa apa yang masyarakat katakan kamu "seharusnya" lakukan. Tanpa semua suara eksternal. 

Jika kamu benar-benar jujur—apa yang kamu inginkan? 

Jangan buru-buru menjawab. Duduk dengan pertanyaan itu. Biarkan dia mengganggu kamu. 

Karena seperti Paulo belajar: Kadang pertanyaan yang tepat lebih berharga daripada jawaban yang salah. 

Mengakhiri di Awal 

Coelho mengakhiri novel dengan Paulo kembali ke Dam Square, Amsterdam—tempat semuanya dimulai. 

Tapi dia bukan orang yang sama yang duduk di sana tahun lalu. Dia sudah melakukan perjalanan. Dia sudah menemukan—dan kehilangan—cinta. Dia sudah menghadapi ketakutannya dan menemukan kebenarannya. 

Dan sekarang, dia siap untuk perjalanan berikutnya: Menjalani kebenaran itu.

Dia duduk di bangku yang sama. Melihat orang-orang yang berlalu lalang. Dan dia tersenyum.

Karena dia tahu sekarang: 

Perjalanan tidak pernah benar-benar berakhir. Tapi setiap langkah membawa kita lebih dekat ke rumah—rumah di dalam diri kita sendiri.

 


Tentang Buku Asli 

"Hippie" diterbitkan pada tahun 2018, hampir 50 tahun setelah perjalanan yang menginspirasi novel ini terjadi. 

Paulo Coelho, yang kini dikenal sebagai salah satu penulis paling banyak dibaca di dunia (dengan "The Alchemist" terjual lebih dari 150 juta kopi), menulis "Hippie" sebagai tribute pada masa mudanya—masa ketika dia masih mencari, masih tersesat, masih belum tahu bahwa dia akan menjadi penulis. 

Novel ini adalah semi-otobiografi. Karakter Paulo adalah Coelho muda. Perjalanan dengan Magic Bus benar-benar terjadi. Tapi beberapa detail dan karakter—termasuk Karla—adalah campuran dari berbagai pengalaman dan orang. 

Yang paling menarik: Coelho tidak menulis buku ini lebih awal karena dia merasa dia belum siap. Baru di usia 71 tahun, dengan perspektif puluhan tahun, dia merasa bisa menulis tentang masa itu dengan kejujuran dan kebijaksanaan yang dibutuhkan. 

Untuk merasakan sepenuhnya kebebasan, pencarian, dan romansa spiritual dari era itu, sangat disarankan membaca buku aslinya. Coelho menulis dengan prosa yang indah, penuh puisi, dan sangat personal—sesuatu yang sulit ditangkap sepenuhnya dalam ringkasan. 

Buku asli juga mencakup banyak karakter lain, percakapan filosofis yang mendalam, dan detail perjalanan yang memperkaya pengalaman membaca. 

Sekarang pergilah dan temukan perjalananmu sendiri. 

Karena seperti Coelho tulis: "Ketika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta berkonspirasi untuk membantumu mencapainya." 

Pertanyaannya: Apa yang benar-benar kamu inginkan? 


Untuk Paulo muda yang masih mencari di dalam diri kita semua.