Euthyphro

Plato


Pagi yang Menentukan Nasib 

Athena, 399 Sebelum Masehi. Pagi yang cerah di tangga Pengadilan Raja. 

Seorang pria tua berusia 70 tahun berjalan perlahan naik tangga. Rambutnya putih, tubuhnya kurus, pakaiannya sederhana. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang akan menghadapi persidangan yang bisa berakhir dengan hukuman mati. 

Namanya Sokrates. Dan hari ini, dia akan dituduh atas dua kejahatan serius: 

1. Tidak mengakui dewa-dewa negara dan memperkenalkan dewa-dewa baru

2. Merusak pemuda Athena dengan ajaran-ajarannya 

Di tangga yang sama, ada pria lain. Lebih muda. Berpakaian rapi. Tatapannya percaya diri—terlalu percaya diri. 

Namanya Euthyphro. Seorang ahli agama, peramal, dan orang yang mengklaim tahu segalanya tentang kesalehan dan kehendak para dewa. 

Dan dia sedang melakukan sesuatu yang sangat kontroversial di Athena kuno: dia sedang menuntut ayahnya sendiri atas pembunuhan. 

Dua orang ini bertemu. Dan percakapan yang terjadi di tangga itu—percakapan yang tampaknya sederhana tentang moralitas dan agama—akan menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat. 

Karena dalam 20 menit percakapan itu, Sokrates akan membongkar semua yang Euthyphro pikir dia tahu. Dan dalam prosesnya, dia akan mengajukan pertanyaan yang masih kita perdebatkan 2.400 tahun kemudian: 

Apakah sesuatu benar karena Tuhan mengatakannya? Atau Tuhan mengatakannya karena itu memang benar? 

Mari kita masuk ke percakapan yang luar biasa ini.

 


Bagian 1: Pertemuan Dua Orang dengan Masalah Hukum

Sokrates yang Terkejut 

Sokrates melihat Euthyphro dan bertanya dengan tulus: "Mengapa kamu di sini? Pasti ada alasan luar biasa yang membuat ahli agama sepertimu datang ke pengadilan." 

Euthyphro menjawab dengan bangga: "Aku sedang menuntut seseorang atas pembunuhan." "Oh," kata Sokrates, "siapa pembunuhnya?" 

"Ayahku." 

Silence. 

Di Athena kuno, ini adalah skandal. Keluarga adalah segalanya. Menuntut ayah sendiri? Ini hampir tidak terpikirkan. 

Sokrates—dengan cara khasnya yang penuh ironi—berkata: "Kamu pasti sangat yakin tentang apa yang benar dan salah, tentang apa yang saleh dan tidak saleh, untuk melakukan sesuatu yang sangat berani seperti ini. Pasti kamu tahu persis apa itu kesalehan." 

Euthyphro, tidak menangkap ironi, menjawab dengan percaya diri: "Tentu saja aku tahu! Kebanyakan orang tidak mengerti, tapi aku mengerti dengan sempurna." 

Dan di sinilah jebakan Sokrates mulai menutup. 

Cerita Ayah Euthyphro 

Euthyphro menjelaskan kasusnya: Ayahnya punya seorang pekerja yang dalam keadaan mabuk membunuh budak keluarga mereka. Ayahnya mengikat pekerja itu dan melemparkannya ke parit sambil mengirim pesan ke imam untuk bertanya apa yang harus dilakukan. 

Pekerja itu mati—mungkin kedinginan, kelaparan, atau karena luka-lukanya—sebelum balasan datang. 

Keluarga Euthyphro marah padanya. "Ini bahkan bukan pembunuhan!" kata mereka. "Dan meskipun itu pembunuhan, korbannya hanya pembunuh! Mengapa kamu menuntut ayahmu sendiri?" 

Tapi Euthyphro yakin: "Pembunuhan adalah pembunuhan. Dan dosa adalah dosa. Tidak peduli siapa yang melakukannya—bahkan jika itu ayahku sendiri. Aku harus melakukan apa yang saleh." 

Sokrates tampak terkesan: "Wah, kamu pasti benar-benar tahu apa itu kesalehan untuk bertindak dengan keyakinan seperti itu. Bisakah kamu mengajarkannya padaku? Karena aku

akan diadili karena dianggap tidak saleh. Jika aku bisa belajar darimu, mungkin aku bisa mempertahankan diriku." 

Euthyphro, dengan senang hati: "Tentu saja! Aku akan mengajarimu."

Spoiler: Dia tidak akan bisa.

 


Bagian 2: Definisi Pertama—dan Penghancurannya

"Yang Saleh Adalah Apa yang Aku Lakukan Sekarang" 

Sokrates bertanya: "Jadi, apa itu kesalehan?" 

Euthyphro menjawab: "Yang saleh adalah apa yang aku lakukan sekarang—menuntut orang yang melakukan kesalahan, baik itu tentang pembunuhan, pencurian kuil, atau kejahatan lain, tidak peduli apakah itu ayahmu, ibumu, atau siapa pun." 

Dia bahkan memberikan preseden mitologis: "Lihatlah Zeus! Dia menghukum ayahnya sendiri, Kronos, karena menelan anak-anaknya. Dan Kronos mengebiri ayahnya, Uranus. Jika para dewa menghukum ayah mereka sendiri untuk keadilan, mengapa aku tidak bisa?" 

Sokrates tersenyum—senyum yang sangat berbahaya bagi siapa pun yang mengenalnya.

Contoh Bukan Definisi 

"Teman baikku," kata Sokrates dengan lembut, "aku tidak bertanya tentang contoh kesalehan. Aku bertanya tentang esensi dari kesalehan itu sendiri." 

"Pikirkan seperti ini: Jika aku bertanya, 'Apa itu bentuk?' dan kamu menjawab, 'Kotak, lingkaran, segitiga'—kamu memberi aku contoh, bukan definisi. Definisi adalah: 'Bentuk adalah ruang yang dibatasi oleh garis-garis.'" 

"Jadi jangan beritahu aku apa yang saleh lakukan. Beritahu aku apa itu kesalehan itu sendiri—esensi yang membuat semua tindakan saleh menjadi saleh." 

Euthyphro terdiam. Ini lebih sulit dari yang dia kira.

 


Bagian 3: Definisi Kedua—Yang Disukai Para Dewa

Mencoba Lagi 

Euthyphro berpikir keras. Lalu matanya berbinar: "Aku tahu! Yang saleh adalah apa yang disukai oleh semua dewa. Yang tidak saleh adalah apa yang mereka benci." 

Sokrates mengangguk: "Sekarang kita berbicara! Ini adalah definisi yang benar—kamu memberikan bentuk umum, bukan hanya contoh." 

Euthyphro tersenyum lega. 

"Tapi," kata Sokrates—dan kata "tapi" itu selalu datang—"mari kita periksa apakah ini benar."

Masalah Para Dewa yang Bertengkar 

"Bukankah para dewa sering berselisih?" tanya Sokrates. "Dalam mitologi, kita mendengar Zeus bertengkar dengan Hera, Athena berbeda pendapat dengan Poseidon, Apollo berselisih dengan Ares." 

"Tentu," jawab Euthyphro. 

"Dan tentang apa mereka berselisih?" 

Euthyphro mulai tidak nyaman: "Tentang... apa yang benar dan salah, apa yang adil dan tidak adil." 

"Persis!" kata Sokrates. "Jadi jika para dewa tidak setuju tentang apa yang benar dan salah, maka hal yang sama bisa disukai oleh beberapa dewa dan dibenci oleh yang lain." 

"Yang berarti," Sokrates melanjutkan dengan logika yang menghancurkan, "menurut definisimu, tindakan yang sama bisa sekaligus saleh DAN tidak saleh—karena disukai oleh beberapa dewa dan dibenci oleh yang lain." 

Euthyphro terpojok: "Ah, tapi... maksudku... apa yang disukai oleh semua dewa." 

Sokrates mengangguk: "Baiklah. Mari kita terima definisi yang direvisi itu. Tapi sekarang ada pertanyaan yang lebih dalam..."

 


Bagian 4: Dilema Euthyphro—Pertanyaan Abadi

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Sokrates bertanya dengan tenang: "Apakah sesuatu saleh karena para dewa menyukainya? Atau para dewa menyukainya karena itu saleh?" 

Baca lagi pertanyaan itu. Perlahan. 

Ini terdengar seperti permainan kata. Tapi ini adalah salah satu pertanyaan paling mendalam dalam sejarah filsafat. 

Mari kita bongkar: 

Opsi 1: Sesuatu saleh KARENA para dewa menyukainya 

Artinya, tidak ada standar moralitas di luar kehendak dewa. Jika besok para dewa memutuskan bahwa pembunuhan itu baik dan kebaikan itu jahat, maka itu yang akan benar. 

Implikasinya: 

● Moralitas adalah sewenang-wenang 

● Tidak ada alasan objektif untuk aturan moral 

● "Benar" hanya berarti "diperintahkan oleh kekuatan yang lebih tinggi"

Opsi 2: Para dewa menyukai sesuatu KARENA itu saleh 

Artinya, ada standar kesalehan yang ada secara independen dari dewa. Para dewa mengakui dan menyukai apa yang sudah saleh. 

Implikasinya: 

● Ada standar moral objektif di luar dewa 

● Bahkan dewa tunduk pada standar ini 

● Tapi jika demikian, mengapa kita memerlukan dewa untuk moralitas?

Euthyphro Mulai Bingung 

Sokrates tidak menunggu jawaban. Dia melanjutkan dengan analisis yang brilliant: 

"Ketika kamu mengatakan 'sesuatu dibawa' dan 'sesuatu memimpin,' mana yang datang lebih dulu—tindakan membawa atau keadaan dibawa?" 

Euthyphro: "Tentu saja tindakan membawa datang dulu."

"Persis! Sesuatu tidak dibawa sehingga kita membawanya. Kita membawanya sehingga itu dibawa." 

"Demikian pula, sesuatu tidak dicintai sehingga para dewa mencintainya. Para dewa mencintainya sehingga itu dicintai." 

"Jadi 'dicintai oleh dewa' adalah efek dari kesalehan, bukan esensi dari kesalehan." 

"Kamu tidak memberi tahu aku apa itu kesalehan. Kamu hanya memberi tahu aku sesuatu yang terjadi pada kesalehan—yaitu, dicintai oleh para dewa." 

Kembali ke Awal 

Sokrates, dengan lembut: "Jadi kita kembali ke pertanyaan awal. Apa itu kesalehan itu sendiri?" 

Euthyphro, frustrasi: "Sokrates, setiap kali aku mencoba mendefinisikannya, definisiku berputar-putar dan tidak pernah diam di satu tempat!" 

Sokrates tertawa: "Itu bukan salahku, teman baik. Itu adalah definisimu yang terus bergerak. Bukan aku yang membuatnya bergerak—itu bergerak sendiri karena tidak solid."

 


Bagian 5: Definisi Ketiga—Keadilan dan Kesalehan

Mencoba Pendekatan Baru 

Euthyphro tidak menyerah. Dia mencoba lagi: "Kesalehan adalah bagian dari keadilan."

Sokrates: "Menarik! Bagian mana dari keadilan?" 

Euthyphro: "Bagian yang berhubungan dengan pelayanan kepada para dewa. Sisanya—yang berhubungan dengan manusia—adalah bagian keadilan yang lain." 

Sokrates mengejar: "Pelayanan seperti apa? Seperti seorang pelayan melayani tuannya?" Euthyphro: "Semacam itu." 

Sokrates: "Dan pelayan membantu tuannya mencapai apa? Dokter membantu pasien mencapai kesehatan. Pembuat kapal membantu kapten mencapai kapal yang baik. Apa yang kita bantu para dewa capai?" 

Terjebak Lagi 

Euthyphro terdiam. Dia tidak bisa mengatakan "kita membantu dewa mencapai sesuatu" karena itu menyiratkan dewa tidak sempurna dan membutuhkan bantuan kita. Tapi dia juga tidak bisa menjelaskan pelayanan tanpa tujuan. 

Akhirnya dia menyerah pada definisi sebelumnya: "Baiklah, mungkin kesalehan adalah... apa yang menyenangkan para dewa dalam doa dan pengorbanan." 

Sokrates: "Jadi kita kembali lagi—kesalehan adalah apa yang disukai dewa. Dan kita sudah membahas masalah itu." 

Mereka berputar-putar kembali ke awal.

 


Bagian 6: Euthyphro Kabur—Dialog Tanpa Kesimpulan

Frustrasi dan Pelarian 

Euthyphro, sekarang benar-benar lelah dan bingung: "Sokrates, aku punya urusan mendesak. Aku harus pergi." 

Sokrates, dengan nada sedih (tapi mungkin setengah bercanda): "Oh, kamu pergi? Padahal kamu hampir membuat aku menjadi muridmu dan menyelamatkanku dari dakwaan ketidaksalehan!" 

"Kalau saja kamu bertahan sedikit lebih lama, aku bisa pergi ke pengadilan dan mengatakan: 'Euthyphro, ahli agama yang hebat, telah mengajariku tentang kesalehan. Sekarang aku tidak akan lagi menghina para dewa atau merusak pemuda!'" 

"Tapi sekarang kamu pergi, dan aku masih harus menghadapi pengadilanku dalam ketidaktahuan." 

Euthyphro menghilang di kerumunan, meninggalkan Sokrates di tangga pengadilan—sendirian, tidak tercerahkan, tapi mungkin lebih bijaksana dalam ketidaktahuannya daripada Euthyphro dalam kepercayaan dirinya yang salah.

 


Bagian 7: Pelajaran Abadi dari Percakapan Kuno

Mengapa Dialog Ini Penting 2.400 Tahun Kemudian? 

"Euthyphro" bukan sekadar teks akademis yang kering. Ini adalah master class dalam berpikir kritis dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang masih sangat relevan hari ini. 

1. Metode Sokrates—Seni Bertanya 

Sokrates tidak pernah mengatakan, "Kamu salah!" Dia bertanya. 

Dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dia membuat Euthyphro sendiri menyadari bahwa definisi-definisinya tidak konsisten. 

Ini adalah pedagogi yang revolusioner: Tidak memberi tahu orang apa yang harus dipikir, tapi mengajarkan mereka bagaimana berpikir. 

Pelajaran untuk kita: 

● Jangan terima definisi atau klaim tanpa memeriksanya 

● Pertanyaan yang tepat lebih powerful daripada jawaban yang salah 

● Berpikir adalah proses aktif, bukan penerimaan pasif 

2. Definisi vs Contoh 

Euthyphro terus memberikan contoh kesalehan (menuntut ayahnya, apa yang Zeus lakukan) ketika Sokrates meminta definisi

Ini kesalahan yang kita semua buat setiap hari: 

● "Apa itu cinta?" → "Cinta adalah seperti ketika ibuku merawatku." (Itu contoh, bukan definisi) 

● "Apa itu keadilan?" → "Keadilan adalah ketika penjahat dipenjara." (Itu contoh, bukan esensi) 

Pelajaran untuk kita: Untuk benar-benar memahami sesuatu, kita harus bisa mendefinisikannya—tidak hanya memberikan contoh. 

3. Dilema Euthyphro dalam Hidup Modern 

Pertanyaan inti—"Apakah sesuatu baik karena Tuhan menyukainya, atau Tuhan menyukainya karena itu baik?"—masih diperdebatkan hari ini. 

Dalam agama:

● Apakah aturan moral Tuhan sewenang-wenang? Atau berdasarkan kebaikan objektif?

● Jika Tuhan bisa mengubah moralitas, apakah moralitas berarti? 

● Jika ada standar moral di luar Tuhan, apakah Tuhan masih diperlukan untuk moralitas?

Dalam hukum: 

● Apakah sesuatu ilegal karena jahat? Atau jahat karena ilegal? 

● Haruskah hukum mencerminkan moralitas objektif? Atau hukum menciptakan moralitas?

Dalam budaya: 

● Apakah norma sosial menentukan apa yang benar? Atau mereka mencerminkan kebenaran yang lebih dalam? 

Tidak ada jawaban mudah. Dan mungkin itu poinnya. 

4. Kebijaksanaan Adalah Mengetahui Bahwa Kita Tidak Tahu

Di akhir dialog, Sokrates tidak lebih tahu tentang kesalehan daripada di awal.

Tapi dia lebih bijaksana

Karena dia tahu apa yang dia tidak tahu. Sementara Euthyphro—yang mengklaim tahu segalanya—sebenarnya tidak tahu apa-apa tetapi tidak menyadarinya. 

Ini adalah tema sentral dari filosofi Sokrates: "Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa."

Bukan kerendahan hati palsu. Tapi pengakuan jujur bahwa pengetahuan sejati sangat jarang.

Pelajaran untuk kita: 

● Hati-hati dengan orang yang sangat yakin mereka benar 

● Hati-hati dengan diri sendiri ketika kita merasa terlalu yakin 

● Pertanyaan yang baik lebih berharga daripada jawaban yang buruk 

5. Keberanian Intelektual 

Sokrates akan dihukum mati beberapa minggu setelah percakapan ini. 

Tapi bahkan menghadapi kematian, dia tidak berhenti bertanya. Tidak berhenti menantang. Tidak berhenti mencari kebenaran. 

Euthyphro, di sisi lain, kabur begitu pertanyaan menjadi terlalu sulit. 

Pertanyaannya: Siapa yang lebih berani? Orang yang menghadapi kematian untuk kebenaran? Atau orang yang lari dari pertanyaan sulit?

Pelajaran untuk kita: Keberanian intelektual berarti bersedia menghadapi kemungkinan bahwa kita salah. Bahwa keyakinan kita mungkin tidak solid. Bahwa kita mungkin harus mengubah pikiran kita.

 


Bagian 8: Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana Menggunakan Metode Sokrates Hari Ini? 

Dalam Diskusi: 

Ketika seseorang membuat klaim—apakah tentang politik, agama, atau apa pun: 

1. Minta definisi: "Apa yang kamu maksud dengan 'adil' / 'baik' / 'benar'?"

2. Minta konsistensi: "Apakah definisi itu berlaku untuk semua kasus?"

3. Cari kontradiksi: "Bagaimana dengan situasi X? Apakah definisimu masih berlaku?"

4. Jangan menyerang orang—serang ide: Seperti Sokrates, tetap hormat bahkan saat membongkar argumen 

Dalam Refleksi Diri: 

● "Apa yang aku yakini? Mengapa aku yakini itu?" 

● "Apakah aku punya alasan bagus? Atau aku hanya mengikuti apa yang diajarkan padaku?" 

● "Jika seseorang menantang keyakinanku, bisakah aku mempertahankannya? Atau aku hanya akan marah?" 

Dalam Mengajar: 

Jangan hanya memberikan jawaban kepada anak atau murid. Ajari mereka bertanya: 

● "Menurutmu apa jawabannya? Mengapa?" 

● "Bagaimana kamu tahu itu benar?" 

● "Apa yang terjadi jika...?"

 


Penutup: Warisan dari Tangga Pengadilan 

Percakapan yang terjadi di tangga pengadilan Athena pagi itu tidak menyelesaikan apa pun—setidaknya tidak secara langsung. 

Euthyphro tidak menemukan definisi kesalehan. Sokrates tidak diselamatkan dari dakwaan. Dan beberapa minggu kemudian, Sokrates akan meminum racun hemlock dan mati. 

Tapi percakapan itu mengubah sejarah pemikiran manusia. 

Karena Plato—murid Sokrates yang mencatat percakapan ini—memulai tradisi yang akan menjadi fondasi filsafat Barat: tradisi bertanya, menantang, dan tidak pernah puas dengan jawaban mudah. 

Dari Aristoteles sampai Descartes. Dari Kant sampai Wittgenstein. Dari laboratorium sains sampai ruang kuliah hukum. Metode Sokrates hidup terus. 

Pertanyaan untuk Anda 

2.400 tahun setelah Sokrates berdiri di tangga itu, pertanyaan-pertanyaan itu masih menunggu:

Apa yang Anda yakini? Dan mengapa? 

● Apakah keyakinan Anda solid—atau mereka akan runtuh di bawah pertanyaan Sokrates? 

● Apakah Anda, seperti Euthyphro, sangat yakin tapi sebenarnya tidak tahu?

● Atau apakah Anda, seperti Sokrates, cukup rendah hati untuk mengakui ketika Anda tidak tahu? 

Dan yang paling penting: Apakah Anda berani untuk terus bertanya? 

Karena seperti yang Sokrates tunjukkan: kehidupan yang tidak diperiksa tidak layak dijalani.

Jadi periksalah. Pertanyakan. Tantang—diri Anda sendiri dan orang lain. 

Dan jangan pernah, pernah berhenti mencari kebenaran—bahkan jika pencarian itu tidak pernah berakhir. 

Karena pencarian itu sendiri adalah yang membuat kita manusia.

 


Tentang Teks Asli 

"Euthyphro" adalah salah satu dialog awal Plato, ditulis sekitar 399-395 SM, tak lama setelah kematian Sokrates. 

Plato (428-348 SM) adalah murid Sokrates dan menjadi salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah. Dia mendirikan Akademi di Athena—institusi pendidikan tinggi pertama di dunia Barat. 

Dialog ini adalah bagian dari "tetralogi" tentang persidangan dan kematian Sokrates: 

1. Euthyphro - sebelum persidangan 

2. Apology - pidato pembelaan Sokrates 

3. Crito - Sokrates di penjara menolak melarikan diri 

4. Phaedo - hari kematian Sokrates 

"Euthyphro" sangat penting karena memperkenalkan "Dilema Euthyphro"—salah satu argumen paling berpengaruh dalam filsafat agama dan etika. 

Untuk pemahaman lengkap tentang metode Sokrates dan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang ia ajukan, sangat disarankan membaca teks aslinya. Dialog Plato ditulis dengan brilliant—seperti drama, penuh karakter, ketegangan, dan insight mendalam. 

Ringkasan ini menangkap argumen inti, tetapi pengalaman membaca Sokrates "beraksi"—bagaimana dia bertanya, bagaimana dia mendengarkan, bagaimana dia membongkar argumen dengan lembut tapi tanpa ampun—hanya bisa didapat dari teks lengkapnya. 

Sekarang pergilah dan tanyakan pertanyaan-pertanyaan sulit. 

Karena seperti Sokrates membuktikan dengan hidupnya: lebih baik mati mencari kebenaran daripada hidup dalam ilusi kenyamanan.