The Trial and Death of Socrates

Plato


Orang Tua yang Terlalu Banyak Bertanya

Athena, 399 SM. Pagi yang cerah. 

Seorang pria berusia 70 tahun berjalan ke gedung pengadilan. Rambutnya putih, tubuhnya tidak atletis, pakaiannya sederhana. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. 

Tapi semua orang di Athena mengenalnya. Sebagian menghormatinya. Sebagian membencinya. Tidak ada yang acuh. 

Namanya: Socrates

Tuduhannya: Merusak pemuda Athena dan tidak percaya kepada dewa-dewa kota.

Hukumannya jika terbukti bersalah: Kematian

Apa yang dilakukan Socrates untuk mendapat tuduhan seperti ini? Apa kejahatan mengerikan yang dia lakukan? 

Dia bertanya

Dia berjalan di pasar, di gimnasium, di tempat umum, dan mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang mengklaim punya kebijaksanaan: politisi, penyair, pengrajin, guru. 

"Apa itu keadilan?" "Apa itu keberanian?" "Apa yang membuat hidup layak dijalani?" 

Dan melalui pertanyaan-pertanyaannya yang tajam, dia mengungkap bahwa kebanyakan orang—terutama yang merasa paling bijaksana—sebenarnya tidak tahu apa yang mereka klaim tahu. 

Ini membuat dia populer di kalangan anak muda yang senang melihat orang dewasa yang sombong dipermalukan. 

Tapi ini juga membuat dia sangat dibenci oleh orang-orang berkuasa yang merasa dipermalukan.

Dan sekarang, mereka ingin balas dendam. 

Pengadilan ini seharusnya menjadi akhir dari Socrates. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya: ini adalah awal dari filsafat Barat seperti yang kita kenal

Karena apa yang Socrates katakan—dan yang paling penting, bagaimana dia mati—mengubah cara manusia berpikir tentang kebenaran, keadilan, dan kehidupan itu sendiri. 

Mari kita saksikan drama ini terungkap.

 


Bagian 1: Di Depan Pengadilan—Euthyphro

Percakapan yang Mengejutkan 

Sebelum pengadilan dimulai, Socrates bertemu dengan Euthyphro—seorang ahli agama yang sedang menuntut ayahnya sendiri atas tuduhan pembunuhan. 

Kebanyakan orang akan menghindari pembicaraan filosofis sebelum menghadapi pengadilan kematian. Tapi tidak Socrates. 

Dia bertanya pada Euthyphro: "Apa itu kesalehan?" 

Euthyphro, yang merasa dirinya ahli agama, dengan percaya diri menjawab: "Kesalehan adalah melakukan apa yang para dewa suka." 

Socrates bertanya lagi: "Tapi para dewa sering tidak setuju satu sama lain. Jadi apa yang disukai satu dewa mungkin dibenci dewa lain. Apakah tindakan itu saleh atau tidak?" 

Euthyphro mencoba jawaban lain. Dan lagi. Dan lagi. Setiap kali, pertanyaan Socrates mengungkap kontradiksi atau kelemahan. 

Akhirnya Euthyphro, frustrasi, membuat alasan dan pergi. 

Pelajaran Pertama: Metode Socratic 

Inilah yang membuat Socrates berbeda: Dia tidak mengklaim punya jawaban. Dia hanya bertanya. 

Metode Socratic bekerja seperti ini: 

1. Seseorang membuat klaim tentang sesuatu (keadilan, keberanian, kebijaksanaan) 2. Socrates bertanya untuk klarifikasi 

3. Melalui pertanyaan, kontradiksi terungkap 

4. Orang tersebut menyadari mereka sebenarnya tidak benar-benar mengerti apa yang mereka klaim tahu 

Tujuannya bukan untuk mempermalukan. Tujuannya adalah untuk mencari kebenaran bersama-sama. 

Tapi tentu saja, banyak orang merasa dipermalukan. Terutama orang yang sombong. Dan itulah mengapa Socrates sekarang berdiri di depan pengadilan.

 


Bagian 2: Pidato Pembelaan—Apology 

Tuduhan 

Tiga orang menuduh Socrates: 

1. Meletus (mewakili para penyair) 

2. Anytus (mewakili para politisi) 

3. Lycon (mewakili para orator) 

Tuduhan formal: 

● Socrates tidak percaya pada dewa-dewa yang diakui kota 

● Socrates memperkenalkan dewa-dewa baru 

● Socrates merusak pemuda 

Hukuman yang diminta: Kematian

Pembelaan Socrates: "Saya Tahu Bahwa Saya Tidak Tahu" 

Di hadapan 501 juri (warga Athena biasa yang dipilih secara acak), Socrates memberikan pidato pembelaannya. 

Tapi ini bukan pembelaan biasa. Dia tidak memohon belas kasihan. Dia tidak memanipulasi emosi. Dia bahkan tidak mencoba membuat juri menyukainya. 

Sebagai gantinya, dia menceritakan kisah yang mengubah segalanya: 

Teman Socrates pernah pergi ke Oracle of Delphi (peramal paling terkenal di dunia kuno) dan bertanya: "Apakah ada orang yang lebih bijaksana dari Socrates?" 

Oracle menjawab: "Tidak ada yang lebih bijaksana." 

Socrates bingung. Dia tahu dia tidak bijaksana. Jadi dia mulai misi untuk membuktikan oracle salah—dengan mencari orang yang lebih bijaksana darinya. 

Dia pergi ke politisi yang terkenal bijaksana. Berbicara dengannya. Dan menyadari: orang ini pikir dia tahu banyak, padahal dia tidak tahu apa-apa. 

Dia pergi ke penyair terkenal. Sama. Mereka bisa menulis puisi indah, tapi ketika ditanya apa artinya, mereka tidak bisa menjelaskan. Mereka menciptakan tanpa benar-benar mengerti. 

Dia pergi ke pengrajin terampil. Mereka tahu kerajinan mereka dengan baik. Tapi kemudian mereka pikir karena mereka ahli di satu bidang, mereka juga bijaksana tentang segala hal. Mereka tidak.

Akhirnya Socrates mengerti apa yang dimaksud oracle: 

"Saya lebih bijaksana dari orang-orang ini karena saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa. Mereka pikir mereka tahu, padahal mereka tidak. Setidaknya saya jujur tentang ketidaktahuan saya." 

Inilah kebijaksanaan sejati: mengakui batas dari pengetahuan Anda. 

"The Unexamined Life is Not Worth Living" 

Kemudian Socrates mengucapkan salah satu kalimat paling terkenal dalam sejarah filsafat: "Hidup yang tidak dikritisi, tidak diperiksa, tidak layak untuk dijalani." Kebanyakan orang hidup dengan autopilot: 

● Menerima apa yang diberitahu tanpa bertanya "apakah ini benar?" 

● Mengikuti tradisi tanpa bertanya "apakah ini masuk akal?" 

● Mengejar tujuan yang diberikan masyarakat tanpa bertanya "apakah ini yang benar-benar saya inginkan?" 

Socrates berargumen bahwa kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang terus-menerus mempertanyakan, merefleksikan, mencari kebenaran

Bukan untuk menjadi sinis atau skeptis tanpa tujuan. Tapi untuk benar-benar hidup dengan sadar, bukan hanya ada. 

Vonis: Bersalah 

Setelah pembelaan, juri memberikan suara: 

280 suara untuk bersalah. 221 suara untuk tidak bersalah. 

Socrates dinyatakan bersalah dengan margin yang tidak besar. Jika hanya 30 orang mengubah suara mereka, dia akan bebas. 

Tapi sekarang datang bagian kedua: hukuman. 

Dalam sistem Athena, penuntut mengusulkan hukuman, terdakwa mengusulkan hukuman alternatif, dan juri memilih. 

Penuntut mengusulkan: Kematian

Socrates seharusnya mengusulkan pengasingan, atau denda besar—sesuatu yang membuat juri bisa "menyelamatkan muka" sambil membiarkannya hidup. 

Tapi Socrates tidak bermain game politik.

Dia berkata: "Saya pikir hukuman yang pantas untuk saya adalah diperlakukan seperti pahlawan olimpiade—diberi makan gratis seumur hidup di gedung kota karena saya telah melayani Athena dengan membangunkan Anda semua dari tidur intelektual." 

Ini adalah ejekan. Ini adalah penghinaan terhadap juri. 

Dan juri merespons dengan marah: Mereka memberikan suara kematian dengan margin yang lebih besar dari sebelumnya. 

Mengapa Socrates melakukan ini? Apakah dia ingin mati? 

Tidak. Tapi dia tidak mau mengkhianati prinsipnya untuk menyelamatkan hidupnya. Dia tidak percaya dia bersalah. Jadi dia tidak akan bertindak seolah dia bersalah. 

Integritas lebih penting dari kelangsungan hidup.

 


Bagian 3: Kesempatan untuk Melarikan Diri—Crito

Rencana Pelarian 

Beberapa hari setelah vonis, Socrates duduk di penjara menunggu eksekusi. 

Sahabatnya, Crito, datang dengan rencana: "Kami sudah menyuap penjaga. Kapal sudah siap. Kamu bisa melarikan diri ke Thessaly. Mereka akan menerima kamu di sana. Kamu bisa hidup dengan aman." 

Ini adalah pelarian yang sempurna. Semua sudah diatur. Tidak ada yang akan tahu. Bahkan juri mungkin lega—mereka tidak benar-benar ingin membunuh Socrates, mereka hanya ingin dia diam. 

Tapi Socrates bertanya: "Apakah ini tindakan yang benar?" 

Crito berargumen: 

● "Kematianmu akan membuat kami terlihat buruk—seolah kami tidak peduli menyelamatkanmu." 

● "Anak-anakmu butuh ayah." 

● "Kamu tidak bersalah. Tidak adil untuk menerima hukuman yang tidak adil." Semua argumen masuk akal. Emosional. Persuasif. 

Tapi Socrates merespons dengan logika yang dingin dan tajam: 

Dialog tentang Keadilan 

Socrates: "Apakah kita harus membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan?"

Crito: "Tentu tidak." 

Socrates: "Apakah kita harus melanggar hukum hanya karena hukum itu merugikan kita?"

Crito: "Tapi hukum ini tidak adil!" 

Socrates: "Mungkin. Tapi sepanjang hidupku, aku telah menikmati perlindungan hukum Athena. Aku lahir di bawah perlindungan hukum ini. Aku dibesarkan di bawahnya. Aku menikah di bawahnya. Aku memiliki hak-hak karena hukum ini. 

Sekarang, ketika hukum itu tidak menguntungkanku, apakah aku akan mengkhianatinya? Bukankah itu munafik? Bukankah itu sama dengan berkata: 'Hukum bagus ketika menguntungkanku, tapi tidak ada artinya ketika merugikanku'?" 

Kemudian Socrates membayangkan Hukum itu sendiri berbicara kepadanya:

"Socrates, kamu punya 70 tahun untuk meninggalkan Athena jika kamu tidak setuju dengan hukum kami. Kamu tidak pernah pergi. Kamu memilih tinggal. Dengan tinggal, kamu secara implisit setuju untuk mematuhi kami—baik atau buruk. 

Sekarang kamu akan lari ketika kami tidak menguntungkanmu? Apa bedanya itu dengan pengecut yang hanya setia ketika mudah?" 

Crito tidak bisa menjawab. 

Keputusan 

Socrates memutuskan: Dia akan tinggal. Dia akan menerima hukuman.

Bukan karena dia setuju dengan vonis. Bukan karena dia ingin mati. 

Tapi karena dia percaya pada prinsip supremasi hukum. Jika setiap orang melanggar hukum yang tidak mereka sukai, masyarakat akan runtuh menjadi chaos. 

Dan dia tidak akan menjadi orang yang hidup dengan satu standar tapi bertindak dengan standar lain ketika nyawanya dipertaruhkan. 

Integritas berarti konsisten bahkan ketika harganya adalah kematian.

 


Bagian 4: Hari Terakhir—Phaedo 

Pagi Kematian 

Hari eksekusi. Teman-teman Socrates berkumpul di penjara untuk menghabiskan jam-jam terakhir bersamanya. 

Mereka mengharapkan kesedihan, air mata, ketakutan. Tapi yang mereka temukan adalah Socrates yang tenang, bahkan ceria, terlibat dalam diskusi filosofis seperti biasa. 

Topik diskusi? Kematian dan jiwa. 

Argumen tentang Keabadian Jiwa 

Socrates mengajukan beberapa argumen mengapa dia percaya jiwa tidak mati bersama tubuh:

Argumen 1: Siklus Berlawanan 

Segala sesuatu di alam datang dari lawannya: siang dari malam, terjaga dari tidur, hidup dari mati. Jika hidup datang dari kematian, maka kematian juga harus mengarah ke kehidupan—jika tidak, semua jiwa akan "terjebak" di kematian dan tidak ada yang tersisa untuk hidup. 

Argumen 2: Pengetahuan sebagai Ingatan 

Ketika kita "belajar" matematika atau konsep abstrak, kita sebenarnya mengingat sesuatu yang jiwa kita sudah tahu sebelum kita lahir. Ini menunjukkan jiwa ada sebelum tubuh—dan mungkin akan ada setelahnya. 

Argumen 3: Jiwa sebagai Sesuatu yang Sederhana 

Tubuh adalah komposit—terdiri dari bagian-bagian yang bisa hancur. Tapi jiwa adalah sesuatu yang sederhana, tidak terbagi. Dan yang sederhana tidak bisa hancur seperti yang komposit. 

Argumen 4: Jiwa adalah Sumber Kehidupan 

Api membawa panas. Salju membawa dingin. Jiwa membawa kehidupan. Jadi jiwa tidak bisa menerima lawannya (kematian) tanpa berhenti menjadi jiwa—yang berarti dia tidak mati, dia hanya pergi. 

Apakah Argumen Ini Meyakinkan? 

Para filsuf masih memperdebatkan validitas argumen-argumen ini 2.400 tahun kemudian. 

Tapi yang penting bukan apakah argumen ini benar. Yang penting adalah Socrates menghadapi kematian dengan cara yang rasional, tenang, dan bermartabat.

Dia tidak berpura-pura tidak takut. Tapi dia juga tidak panik. 

Dia memperlakukan kematian sebagai pertanyaan filosofis yang bisa dieksplorasi, bukan sebagai teror yang harus dihindari. 

"Jangan Bersedih untuk Saya, Tapi untuk Kebenaran" 

Teman-temannya mulai menangis. Hari semakin sore. Waktu semakin dekat. 

Socrates menenangkan mereka: "Saya tidak akan menyebut ini kematian saya. Saya akan menyebut ini kematian tubuh saya. Saya—jiwa saya, pikiran saya—tidak akan mati." 

Kemudian dia berkata sesuatu yang luar biasa: 

"Jangan bersedih untuk saya. Bersedihlah untuk kebohongan yang akan terus hidup setelah saya pergi. Bersedihlah untuk ketidakadilan yang akan terus berkuasa. Perjuangkan kebenaran—itu adalah cara terbaik untuk menghormati saya." 

Racun Hemlock 

Penjaga datang dengan cawan berisi racun hemlock—ekstrak dari tanaman yang melumpuhkan tubuh perlahan dari kaki ke atas sampai mencapai jantung dan paru-paru. 

Teman-temannya memohon: "Tunggu sedikit lagi! Matahari belum terbenam!" 

Socrates tersenyum: "Orang lain mungkin menunda-nunda karena mereka berharap mendapat sesuatu dengan hidup sedikit lebih lama. Tapi apa yang akan saya dapat? Saya hanya akan terlihat konyol di mata saya sendiri, menempel pada hidup ketika tidak ada lagi yang tersisa." 

Dia mengambil cawan. Meminumnya tanpa gemetar, tanpa ragu. 

Lalu dia berbaring. Tubuhnya perlahan menjadi dingin, dimulai dari kaki. 

Kata-kata terakhirnya—mengejutkan dalam kebiasaannya: 

"Crito, kami berhutang ayam jantan kepada Asclepius (dewa penyembuhan). Jangan lupa bayar hutang itu." 

Bahkan di detik-detik terakhir, Socrates peduli tentang memenuhi kewajiban. Hutang kecil, tapi hutang tetap hutang. 

Dan kemudian dia pergi.

 


Bagian 5: Warisan yang Hidup 2.400 Tahun

Apa yang Athena Bunuh? 

Athena pikir mereka membunuh troublemaker tua yang mengganggu. 

Tapi yang sebenarnya mereka lakukan adalah menciptakan martir untuk filsafat. 

Jika Socrates mati di tempat tidurnya di usia tua, dia akan diingat sebagai guru yang menarik. Tapi karena dia mati untuk prinsipnya—karena dia memilih kematian daripada mengkhianati kebenarannya—dia menjadi simbol abadi untuk: 

● Keberanian intelektual 

● Integritas di hadapan kekuasaan 

● Mencari kebenaran bahkan ketika tidak populer 

● Bertanya ketika semua orang menerima 

Pelajaran untuk Kita Hari Ini 

1. Ketidaktahuan yang Bijaksana 

Dunia kita penuh dengan orang yang "tahu" segalanya. Politik. Ekonomi. Kesehatan. Moralitas.

Tapi seperti yang Socrates tunjukkan: Kebanyakan kita tidak tahu sebanyak yang kita pikir. 

Kebijaksanaan dimulai dengan mengakui: "Saya mungkin salah. Saya mungkin tidak punya gambaran penuh." 

2. Pertanyaan Lebih Penting dari Jawaban 

Socrates tidak pernah menulis buku. Dia tidak membangun sistem filosofis. Dia tidak memberikan jawaban final. 

Dia bertanya

Dan pertanyaan-pertanyaan itu—"Apa itu keadilan?" "Apa yang membuat hidup baik?" "Bagaimana kita harus hidup?"—masih kita tanyakan hari ini. 

Karena pertanyaan yang baik hidup lebih lama dari jawaban yang mudah.

3. Hidup yang Diperiksa 

Berapa banyak dari kita benar-benar berhenti dan bertanya: 

● Mengapa saya percaya apa yang saya percaya? 

● Apakah nilai-nilai saya benar-benar nilai saya, atau hanya yang diberikan kepada saya?

● Apakah cara saya hidup konsisten dengan apa yang saya klaim penting?

Kebanyakan kita hidup dengan autopilot. Socrates menantang kita untuk bangun.

4. Integritas di Atas Kenyamanan 

Socrates punya banyak kesempatan untuk menyelamatkan hidupnya: 

● Bisa memohon belas kasihan di pengadilan 

● Bisa mengusulkan pengasingan sebagai hukuman alternatif 

● Bisa melarikan diri dari penjara 

Tapi setiap opsi itu memerlukan dia mengkhianati apa yang dia yakini benar.

Dan dia memilih kematian. 

Berapa banyak dari kita yang akan melakukan hal yang sama? Berapa banyak dari kita yang mengkhianati prinsip kita untuk kenyamanan, keamanan, atau popularitas? 

5. Keadilan di Atas Popularitas 

Vonis terhadap Socrates hampir fifty-fifty. Jika dia sedikit lebih charming, sedikit lebih politis, dia mungkin akan bebas. 

Tapi dia tidak mau bermain game untuk menyelamatkan hidupnya. 

Dalam dunia kita yang penuh dengan politik identitas, cancel culture, dan trial by social media, Socrates mengingatkan kita: 

Kebenaran bukan voting. Keadilan bukan popularitas.

 


Penutup: Pertanyaan yang Masih Menggema 

Lebih dari 2.000 tahun sejak Socrates meminum hemlock, pertanyaan-pertanyaannya masih hidup: 

Untuk Anda Hari Ini 

1. Apakah Anda hidup dengan prinsip atau hanya dengan kenyamanan? 

Mudah untuk punya nilai ketika tidak ada harganya. Tapi apa yang terjadi ketika nilai itu tidak populer? Ketika membela kebenaran berarti kehilangan teman, pekerjaan, atau reputasi? 

2. Apakah Anda benar-benar memeriksa hidup Anda? 

Kapan terakhir kali Anda berhenti dan bertanya: 

● Mengapa saya melakukan apa yang saya lakukan? 

● Apakah ini yang benar-benar saya inginkan, atau hanya yang diharapkan orang lain dari saya? 

● Apakah cara saya menghabiskan waktu konsisten dengan apa yang saya klaim penting? 

3. Apakah Anda berani bertanya? 

Dalam dunia di mana semua orang punya jawaban—di media sosial, di politik, di agama—apakah Anda berani berkata: "Saya tidak tahu. Mari kita cari tahu bersama." 

4. Apakah Anda lebih takut pada kematian atau kehidupan yang tidak bermakna?

Socrates tidak takut mati. Dia takut hidup tanpa menjalani prinsipnya. 

Bagaimana dengan Anda? Apa yang lebih menakutkan: kehilangan hidup Anda, atau kehilangan diri Anda? 

Pesan Terakhir Socrates 

Jika Socrates bisa berbicara dengan kita hari ini, saya percaya dia akan mengatakan sesuatu seperti ini: 

"Jangan terima apa yang saya katakan sebagai kebenaran hanya karena itu dari saya. Pertanyakan itu. Periksa itu. Uji itu terhadap pengalaman dan akalmu sendiri. 

Satu-satunya otoritas yang saya klaim adalah otoritas untuk mengatakan: Saya tidak tahu banyak. Tapi saya tahu bahwa mencari kebenaran lebih penting daripada berpura-pura sudah menemukannya.

Dan saya tahu bahwa hidup yang tidak diperiksa—hidup yang hanya bereaksi, yang hanya mengikuti, yang tidak pernah berhenti untuk bertanya 'mengapa?'—adalah hidup yang sia-sia. 

Jadi bertanyalah. Periksalah. Hiduplah dengan sadar. 

Dan ketika saatnya Anda menghadapi kematian Anda sendiri—semoga itu masih jauh—semoga Anda bisa melihat ke belakang dan berkata: 

'Saya hidup dengan integritas. Saya tidak sempurna, tapi saya jujur. Saya mencari kebenaran, bahkan ketika tidak nyaman. Dan saya tidak mengkhianati jiwa saya untuk kepuasan dunia.' 

Itu adalah kehidupan yang layak dijalani. 

Itu adalah kematian yang layak untuk diterima dengan tenang."

 


Tentang Teks Asli 

"The Trial and Death of Socrates" adalah kumpulan dari empat dialog yang ditulis oleh Plato, murid Socrates yang paling terkenal, sekitar tahun 399-387 SM. 

Plato tidak menulis biografi objektif. Dia menulis dialog filosofis yang menangkap metode dan karakter guru yang dia cintai. 

Apakah Socrates benar-benar mengatakan kata-kata yang Plato tulis? Kita tidak tahu pasti. Socrates sendiri tidak pernah menulis apa pun. 

Tapi yang kita tahu: Socrates adalah orang nyata yang benar-benar diadili dan dieksekusi di Athena tahun 399 SM. 

Dan kematiannya—dan cara dia menghadapinya—mengubah jalannya pemikiran Barat. 

Tanpa Socrates, tidak ada Plato. Tanpa Plato, tidak ada Aristoteles. Tanpa mereka, peradaban Barat akan sangat berbeda. 

Untuk pemahaman lengkap tentang metode Socratic dan argumen filosofisnya, sangat disarankan membaca teks aslinya. Dialog-dialog Plato adalah karya seni—dramatis, lucu, mendalam, dan masih sangat relevan 2.400 tahun kemudian. 

Sekarang pergilah dan bertanya. Periksa. Hiduplah dengan sadar. 

Karena seperti yang Socrates buktikan dengan hidupnya—dan kematiannya:

"The unexamined life is not worth living." 

Dan kehidupan yang diperiksa, bahkan jika pendek, adalah kehidupan yang penuh makna.