The Doctrine of the Mean

Confucius


Pertanyaan dari Seorang Kaisar 

Tahun 500 SM. Seorang kaisar muda China duduk di istananya yang megah, dikelilingi oleh penasihat, jenderal, dan filsuf terbaik di kerajaan. 

Dia baru saja memenangkan perang besar. Wilayahnya luas. Pasukannya kuat. Kekayaannya melimpah. 

Tapi ada yang mengganggu pikirannya. 

Dia memanggil Confucius—guru bijak yang terkenal karena kebijaksanaannya—dan bertanya: 

"Guru, saya telah menaklukkan musuh-musuh saya. Saya telah mengumpulkan kekayaan. Saya berkuasa atas jutaan orang. Tapi saya merasa... kosong. Saya tidak merasa damai. Apa yang saya lewatkan?" 

Confucius diam sejenak. Lalu dia berkata: 

"Yang Mulia telah menguasai dunia luar, tetapi belum menguasai dunia dalam. Anda telah mencari kemenangan di medan perang, tetapi belum menemukan keseimbangan di dalam diri Anda sendiri. Dan tanpa keseimbangan internal, tidak ada kekuasaan eksternal yang akan membuat Anda damai." 

Kaisar terkejut. "Keseimbangan? Maksud Anda apa?" 

Dan Confucius mulai mengajarkan tentang Zhongyong—Doktrin Jalan Tengah—sebuah filosofi yang akan mengubah tidak hanya kehidupan kaisar itu, tetapi peradaban China selama 2.500 tahun. 

Inti dari ajaran ini sederhana namun profound: 

Kebahagiaan, kedamaian, dan kesuksesan sejati tidak datang dari ekstrem—tidak dari kekuasaan maksimal atau penyangkalan total, tidak dari ambisi tanpa batas atau pasivitas lengkap. Mereka datang dari keseimbangan—jalan tengah antara dua ekstrem.

Dalam dunia modern yang penuh dengan tekanan untuk menjadi "lebih"—lebih kaya, lebih sukses, lebih produktif, lebih sempurna—ajaran ini terasa lebih relevan dari sebelumnya. 

Mari kita pelajari kebijaksanaan berusia 2.500 tahun ini yang ternyata menjawab dilema kehidupan modern kita.

 


Bagian 1: Zhongyong—Apa Itu Jalan Tengah?

Bukan Sekadar "Tengah-tengah" 

Ketika orang pertama kali mendengar "jalan tengah," mereka sering salah paham.

Mereka pikir ini berarti: 

● Mediocre (biasa-biasa saja) 

● Tidak punya pendirian 

● Selalu kompromi 

● Tidak berani mengambil posisi 

Salah total. 

Confucius tidak mengajarkan untuk menjadi rata-rata atau tidak punya prinsip. Dia mengajarkan tentang keseimbangan dinamis—seperti penari tali yang harus terus menyesuaikan posisi untuk tetap di atas tali. 

Cerita Pemanah 

Confucius bercerita tentang seorang pemanah ahli. 

Murid-murid bertanya: "Guru, apa rahasia untuk selalu mengenai target?"

Pemanah menjawab: "Keseimbangan." 

"Maksudnya?" 

"Jika anak panah terlalu berat, ia jatuh. Jika terlalu ringan, ia terbang ke atas. Jika busur terlalu kencang, anak panah akan melenceng ke kiri. Jika terlalu longgar, ke kanan." 

"Jadi bagaimana Anda selalu tepat?" 

"Saya tidak mencari 'lebih kuat' atau 'lebih lemah.' Saya mencari tepat—titik di mana semua kekuatan dalam harmoni sempurna. Itu adalah Zhongyong." 

Pelajaran: Jalan tengah bukan tentang kurang atau lebih. Ini tentang pas—keseimbangan yang tepat untuk situasi yang tepat. 

Dalam Kehidupan Sehari-hari 

Mari kita buat konkret. Zhongyong bukan tentang: 

Pekerjaan: Bukan bekerja sedikit atau terlalu banyak, tapi bekerja dengan intensitas yang berkelanjutan.

Ekstrem 1: Workaholic yang burnout 

Ekstrem 2: Malas yang tidak produktif 

Jalan Tengah: Fokus penuh saat bekerja, istirahat penuh saat istirahat 

Kepercayaan Diri: Bukan rendah diri atau arogan, tapi keyakinan yang realistis. 

Ekstrem 1: Insecure, selalu merasa tidak cukup 

Ekstrem 2: Arogan, merasa paling benar 

Jalan Tengah: Tahu kekuatan dan kelemahan Anda, tidak lebih tidak kurang

Emosi: Bukan menekan atau meledak, tapi merasakan dan mengekspresikan dengan tepat. 

Ekstrem 1: Menekan semua emosi sampai meledak 

Ekstrem 2: Reaktif pada setiap perasaan 

Jalan Tengah: Rasakan emosi, proses, ekspresikan dengan cara yang konstruktif

Kesimpulan Bagian Ini: 

Confucius menulis: 

"Sebelum perasaan kegembiraan, kemarahan, kesedihan, dan kesenangan muncul, itu disebut keadaan keseimbangan. Ketika perasaan-perasaan ini muncul dan semuanya dalam ukuran yang tepat, itu disebut harmoni." 

Ini bukan tentang tidak punya emosi. Ini tentang emosi yang proporsional dengan situasi.

 


Bagian 2: Cheng—Ketulusan sebagai Fondasi

Kisah Dua Pedagang 

Ada dua pedagang di pasar kuno China. 

Pedagang A sangat pandai berbicara. Dia memuji setiap pelanggan. Dia bilang setiap produk adalah "yang terbaik!" Dia tersenyum lebar. Tapi pelanggan merasa ada yang tidak autentik. Mereka membeli sekali, tidak kembali lagi. 

Pedagang B tidak banyak bicara. Tapi ketika ditanya tentang produk, dia jujur: "Kain ini bagus untuk musim panas, tapi tidak tahan lama untuk kerja berat. Untuk itu, ambil yang ini—lebih mahal, tapi akan bertahan bertahun-tahun." 

Pelanggan mempercayainya. Mereka kembali lagi dan lagi. Mereka merekomendasikan ke teman-teman mereka. 

Mengapa? Cheng—ketulusan, keaslian, kejujuran. 

Cheng: Menjadi Diri yang Sebenarnya 

Confucius mengajarkan bahwa Zhongyong (jalan tengah) tidak mungkin tanpa Cheng (ketulusan). 

Mengapa? Karena jalan tengah yang sejati harus datang dari pemahaman diri yang jujur, bukan dari manipulasi atau pencitraan. 

Banyak orang mencoba "terlihat seimbang" di luar, tapi dalam hati mereka penuh konflik. Itu bukan Zhongyong. Itu kepalsuan

Cheng berarti: 

1. Kejujuran pada diri sendiri 

Mengakui emosi Anda yang sebenarnya, bukan yang menurut Anda "seharusnya" Anda rasakan. 

2. Kesesuaian antara pikiran, ucapan, dan tindakan 

Apa yang Anda pikirkan = apa yang Anda katakan = apa yang Anda lakukan. 

3. Tidak berpura-pura 

Tidak memakai topeng. Tidak berakting. Menjadi diri yang sama di depan bos, teman, atau sendirian. 

Tes Sederhana dari Confucius

Confucius memberikan tes sederhana: 

"Ketika Anda sendirian di kamar, dan tidak ada yang melihat, apakah Anda berperilaku berbeda dari ketika ada orang lain?" 

Jika ya, Anda belum punya Cheng. 

Orang dengan Cheng tidak butuh audience untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka. Mereka adalah orang yang sama di depan umum dan di balik pintu tertutup. 

Mengapa Ini Sulit 

Di dunia modern, kita diajari untuk "menyesuaikan diri": 

● Di kantor, tunjukkan wajah profesional 

● Di media sosial, tunjukkan kehidupan sempurna 

● Dengan keluarga, tunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja 

Kita jadi expert dalam berpura-pura. Dan kita lelah. 

Confucius mengajarkan: Stop berakting. Mulai jadi. 

"Orang yang tulus tidak perlu berusaha. Jalan tengah datang secara alami bagi mereka karena mereka tahu siapa mereka sebenarnya."

 


Bagian 3: Ming dan Xing—Takdir dan Sifat Manusia

Pertanyaan Abadi 

Seorang murid bertanya pada Confucius: 

"Guru, jika saya lahir dengan temperamen yang pemarah, apakah saya ditakdirkan untuk marah sepanjang hidup? Atau bisakah saya berubah?" 

Confucius menjawab dengan mengajarkan tentang dua konsep: Ming (takdir) dan Xing (sifat dasar manusia). 

Xing—Sifat Dasar Anda 

Setiap orang lahir dengan sifat tertentu. Ini adalah Xing Anda. 

Beberapa orang lahir dengan temperamen tenang. Beberapa dengan energi tinggi. Beberapa lebih analitis, beberapa lebih emosional. 

Ini bukan sesuatu yang Anda pilih. Ini adalah "bahan baku" yang Anda terima.

Tapi—dan ini penting—Xing adalah titik awal, bukan titik akhir. 

Ming—Takdir yang Anda Bentuk 

Ming adalah bagaimana Anda bekerja dengan Xing Anda untuk membentuk kehidupan Anda.

Confucius tidak percaya pada determinisme total. Dia percaya pada co-creation: 

● Surga memberi Anda bahan baku (Xing) 

● Anda membentuk bahan itu menjadi kehidupan Anda (Ming) 

Analogi: 

Bayangkan Xing sebagai tanah di kebun Anda. Beberapa orang mendapat tanah subur. Beberapa mendapat tanah berbatu. Ini bukan pilihan Anda. 

Ming adalah apa yang Anda tanam dan bagaimana Anda merawat kebun itu. Ini adalah pilihan Anda. 

Seseorang dengan tanah berbatu bisa menghasilkan kebun yang indah jika mereka bekerja keras, memilih tanaman yang tepat, dan merawatnya dengan baik. 

Seseorang dengan tanah subur bisa punya kebun yang buruk jika mereka malas dan tidak peduli.

Aplikasi Praktis 

Jika Anda lahir dengan temperamen cemas: 

❌ Jangan berkata: "Saya ditakdirkan untuk cemas selamanya." 

✅ Berkata: "Saya punya kecenderungan cemas (Xing), jadi saya harus lebih aware dan mengembangkan praktik untuk mengelolanya (Ming)." 

Jika Anda lahir dengan temperamen impulsif: 

❌ Jangan berkata: "Saya ya orangnya memang begini." 

✅ Berkata: "Saya punya energi tinggi yang bisa menjadi kekuatan (Xing), tapi saya perlu melatih diri untuk pause sebelum bertindak (Ming)." 

Wisdom Confucius: 

"Orang bijak bekerja dengan sifat alami mereka, bukan melawannya atau menyerah padanya. Mereka menemukan jalan tengah antara menerima apa adanya dan berusaha menjadi lebih baik."

 


Bagian 4: Harmoni dengan Surga dan Bumi 

Konsep yang Sering Disalahpahami 

Confucius berbicara tentang "harmoni antara Surga, Bumi, dan Manusia." 

Bagi telinga modern, ini terdengar mistis atau religious. Tapi sebenarnya ini adalah filosofi yang sangat praktis dan observable. 

Apa Maksudnya? 

Surga (Tian) = Hukum alam, prinsip universal, hal-hal yang lebih besar dari kita

Bumi (Di) = Realitas material, tubuh kita, kebutuhan fisik, dunia nyata 

Manusia (Ren) = Kesadaran kita, pilihan kita, bagaimana kita hidup di antara keduanya

Cerita Petani 

Seorang petani muda ingin panen besar. Dia bekerja sangat keras—18 jam sehari, tidak istirahat, memaksakan tubuhnya. 

Hasil? Dia sakit. Panen gagal karena dia terlalu lelah untuk merawat tanaman dengan baik.

Petani tua di desa yang sama bekerja dengan ritme yang berbeda: 

● Dia bangun dengan matahari (harmoni dengan Surga—siklus alam) 

● Dia bekerja dengan intensitas fokus, lalu istirahat (harmoni dengan Bumi—kebutuhan tubuh) 

● Dia tidak terburu-buru tapi konsisten (harmoni dengan Manusia—kesadaran dan pilihan)

Hasil? Panen melimpah tahun demi tahun. 

Aplikasi Modern 

Di Pekerjaan: 

❌ Tidak harmonis: Kerja 16 jam/hari, tidur 4 jam, minum 6 cangkir kopi untuk "produktif"

✅ Harmonis: Kerja dengan fokus penuh saat energi tinggi, istirahat ketika tubuh butuh, respect ritme alami Anda 

Di Kesehatan: 

❌ Tidak harmonis: Diet ekstrem yang melawan kebutuhan alami tubuh

✅ Harmonis: Makan ketika lapar, berhenti ketika kenyang, pilih makanan yang membuat tubuh merasa baik

Di Ambisi: 

❌ Tidak harmonis: Mengejar target yang unrealistic karena ego atau tekanan sosial

✅ Harmonis: Punya tujuan yang menantang tapi aligned dengan nilai dan kapasitas Anda 

Wisdom Confucius: 

"Orang bijak adalah seperti bambu—kuat namun lentur. Mereka tumbuh tinggi tapi tidak melawan angin. Mereka mencapai tujuan mereka dengan bekerja bersama alam, bukan melawannya."

 


Bagian 5: Self-Cultivation—Perjalanan Menuju Junzi

Junzi—Manusia Mulia 

Confucius berbicara tentang Junzi—ideal dari manusia yang telah mencapai kesempurnaan karakter. 

Junzi bukan tentang status sosial. Bukan tentang kekayaan. Bukan tentang jabatan.

Junzi adalah tentang karakter. 

Seseorang bisa menjadi kaisar tapi bukan Junzi (jika karakternya buruk). Seseorang bisa menjadi petani tapi Junzi (jika karakternya mulia). 

Lima Tahap Menuju Junzi 

Tahap 1: Kesadaran (Awareness) 

Sebelum Anda bisa berubah, Anda harus aware—sadar akan pola, kebiasaan, reaksi, dan kecenderungan Anda. 

Praktik: Observasi diri tanpa judgment. "Saya perhatikan saya selalu reaktif ketika dikritik. Menarik." 

Tahap 2: Penerimaan (Acceptance) 

Terima sifat dasar Anda (Xing) tanpa melawan atau menyangkalnya. 

Praktik: "Oke, saya memang cenderung cemas. Ini bukan baik atau buruk. Ini hanya bagian dari saya." 

Tahap 3: Penyesuaian (Adjustment) 

Mulai membuat small adjustments—menggeser dari ekstrem menuju tengah. 

Praktik: Jika Anda terlalu reaktif, latih pause 3 detik sebelum merespons. Jika terlalu pasif, latih speak up sekali sehari. 

Tahap 4: Kebiasaan (Habituation) 

Adjustment kecil yang diulang menjadi kebiasaan. Ini di mana transformasi terjadi. 

Praktik: Konsistensi > intensitas. Lebih baik 10 menit meditasi setiap hari daripada 2 jam sekali seminggu. 

Tahap 5: Naturalness (Spontaneity)

Di tahap ini, jalan tengah bukan lagi usaha—itu menjadi natural. Anda tidak perlu berpikir. Anda bertindak dengan benar secara spontan. 

Ini adalah tujuan: Ketika kebajikan menjadi second nature. 

Tidak Ada Finish Line 

Confucius sendiri berkata di usia 70-an: 

"Bahkan di usia saya sekarang, saya masih belajar untuk mengikuti keinginan hati saya tanpa melanggar aturan." 

Jika Confucius sendiri masih dalam perjalanan, kita semua adalah work in progress.

Dan itu oke. Self-cultivation adalah perjalanan seumur hidup, bukan destinasi.

 


Bagian 6: Zhongyong dalam Kepemimpinan

Pemimpin yang Seimbang 

Confucius banyak berbicara tentang kepemimpinan karena banyak muridnya menjadi pejabat pemerintah. 

Prinsip inti: Pemimpin yang baik adalah yang telah belajar memimpin diri sendiri terlebih dahulu. 

Cerita Dua Raja 

Raja A (Ekstrem Keras): 

● Menggunakan hukuman keras untuk semua pelanggaran 

● Tidak toleran pada kesalahan 

● Menuntut hasil cepat 

● Hasil: Rakyat takut, tapi tidak loyal. Begitu ada kesempatan, mereka memberontak.

Raja B (Ekstrem Lembut): 

● Tidak pernah menghukum siapa pun 

● Membiarkan korupsi terjadi "demi kedamaian" 

● Tidak punya standar 

● Hasil: Kerajaan chaos. Tidak ada yang respect aturan. 

Raja C (Jalan Tengah): 

● Punya aturan yang jelas dan fair 

● Menghukum ketika perlu, tapi dengan keadilan 

● Menghargai merit tapi juga kasih kesempatan kedua 

● Peduli pada rakyat tapi tidak lemah 

● Hasil: Kerajaan stabil, makmur, rakyat hormat dan loyal 

Prinsip Kepemimpinan Zhongyong 

1. Lead by Example (Keteladanan) 

Jangan minta orang lain melakukan apa yang Anda sendiri tidak lakukan.

"Jika Anda ingin meluruskan dunia, mulai dengan meluruskan diri Anda sendiri."

2. Keadilan Tanpa Kekakuan 

Punya prinsip yang kuat, tapi fleksibel dalam aplikasi tergantung konteks.

3. Tegas Tapi Tidak Kejam 

Ada saatnya untuk keras (ketika ada pelanggaran serius), tapi default-nya adalah kebaikan.

4. Dengarkan Lebih Banyak, Bicara Lebih Sedikit 

Pemimpin bijak mengumpulkan perspektif sebelum memutuskan. 

5. Jangka Panjang > Jangka Pendek 

Keputusan berdasarkan apa yang berkelanjutan, bukan apa yang populer hari ini.

 


Bagian 7: Zhongyong dalam Hubungan 

Lima Hubungan Fundamental 

Confucius mengidentifikasi lima hubungan inti dalam kehidupan manusia: 

1. Penguasa - Rakyat (atau Atasan - Bawahan) 

2. Orang Tua - Anak 

3. Suami - Istri 

4. Kakak - Adik 

5. Teman - Teman 

Dalam setiap hubungan, Zhongyong mengajarkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Contoh: Orang Tua - Anak 

Ekstrem 1: Authoritarian (Otoriter) 

● Anak harus menurut tanpa pertanyaan 

● Tidak ada dialog 

● Kontrol total 

● Hasil: Anak tumbuh takut atau memberontak 

Ekstrem 2: Permissive (Terlalu Longgar) 

● Anak tidak punya batasan 

● Tidak ada konsekuensi 

● "Bebas" tanpa panduan 

● Hasil: Anak tidak punya struktur, sulit self-regulate 

Jalan Tengah: Authoritative (Berwibawa) 

● Punya aturan yang jelas dengan penjelasan 

● Dengarkan perspektif anak 

● Beri konsekuensi yang fair 

● Ajarkan, bukan hanya hukum 

● Hasil: Anak tumbuh dengan self-discipline dan rasa hormat 

Keseimbangan Memberi dan Menerima 

Dalam setiap hubungan, ada saling memberi. 

Tidak seimbang: 

● Satu pihak terus memberi, satu pihak terus menerima → Resentment

● Kedua pihak hanya menerima, tidak ada yang memberi → Konflik

● Kedua pihak memberi tanpa mau menerima → Pride merusak intimacy 

Seimbang: 

● Kedua pihak memberi dan menerima dengan proporsional 

● Ada reciprocity—timbal balik yang sehat 

● Ego tidak menghalangi pemberian atau penerimaan 

Wisdom Confucius: 

"Dalam hubungan yang sehat, masing-masing pihak memenuhi peran mereka tanpa merasa superior atau inferior. Keharmonisan datang ketika setiap orang tahu tempat mereka—bukan dalam hierarki kaku, tapi dalam dance yang saling melengkapi."

 


Bagian 8: Menerapkan Zhongyong Hari Ini 

Praktik Harian 

Pagi: 

● Check-in: "Bagaimana state emosional saya pagi ini? Cenderung ke ekstrem mana?"

● Set intention: "Hari ini saya akan berusaha menemukan keseimbangan dalam [area spesifik]" 

Siang: 

● Pause di tengah hari: "Apakah saya terlalu keras atau terlalu longgar pada diri sendiri/orang lain?" 

● Adjust: Koreksi dengan lembut jika perlu 

Malam: 

● Refleksi: "Di mana saya menemukan keseimbangan hari ini? Di mana saya jatuh ke ekstrem?" 

● Tanpa judgment: Ini observasi, bukan kritik diri 

Area Aplikasi 

1. Emosi 

● Rasakan tanpa tenggelam 

● Ekspresikan tanpa meledak 

● Proses tanpa menekan 

2. Ambisi 

● Punya goals tanpa driven by anxiety 

● Berusaha tanpa burnout 

● Achieve tanpa menginjak orang lain 

3. Hubungan 

● Peduli tanpa kehilangan diri 

● Boundaries tanpa dinding 

● Dekat tanpa codependent 

4. Konsumsi (makanan, media, belanja) 

● Nikmati tanpa excess 

● Moderat tanpa deprivasi

● Aware tanpa obsessive 

5. Pekerjaan 

● Fokus tanpa workaholism

● Excellence tanpa perfectionism

● Produktif tanpa mechanical

 


Penutup: Jalan yang Selalu Terbuka 

Confucius menulis sesuatu yang profound di akhir Doctrine of the Mean: 

"Jalan yang benar tidak jauh dari manusia. Ketika seseorang mengejar jalan yang jauh dari pengalaman manusia biasa, itu bukan Jalan yang sejati." 

Apa artinya? 

Zhongyong bukan sesuatu yang mistis atau tidak bisa dicapai. Ini ada di sini. Sekarang. Dalam pilihan-pilihan kecil Anda setiap hari. 

Ini bukan tentang: 

● Menjadi sempurna 

● Tidak pernah salah 

● Selalu seimbang 

Ini tentang: 

Aware ketika Anda jatuh ke ekstrem 

Willing untuk adjust kembali ke tengah 

Patient dengan diri sendiri dalam prosesnya 

Pertanyaan Reflektif 

1. Di area mana dalam hidup Anda saat ini Anda cenderung ke ekstrem? 

● Terlalu keras atau terlalu longgar pada diri sendiri? 

● Terlalu reaktif atau terlalu pasif dalam hubungan? 

● Terlalu ambisius atau terlalu complacent dalam karir? 

2. Apa yang terjadi ketika Anda di ekstrem itu? 

● Bagaimana rasanya dalam tubuh? 

● Apa konsekuensi dalam hidup Anda? 

● Siapa yang terdampak selain Anda? 

3. Seperti apa "jalan tengah" untuk Anda dalam area itu? 

● Bukan teoretis, tapi praktis 

● Apa satu small step yang bisa Anda ambil hari ini? 

Pesan Terakhir 

Kita hidup di dunia yang mendorong ekstrem:

● Bekerja lebih keras atau "FOMO" 

● Sukses besar atau gagal total 

● Selalu happy atau depresi 

● Perfect atau not good enough 

Zhongyong menawarkan alternatif: 

Bagaimana jika Anda tidak perlu menjadi yang paling sukses, paling produktif, paling sempurna? 

Bagaimana jika cukup baik adalah cukup? 

Bagaimana jika keseimbangan, bukan ekstrem, adalah jalan menuju kehidupan yang memuaskan? 

Seperti yang Confucius katakan: 

"Orang superior menemukan jalan tengah dan tidak pernah kehilangan kesadaran akan itu, bahkan untuk sesaat. Orang biasa menemukan jalan tengah tetapi segera kehilangan kesadaran dan jatuh kembali ke ekstrem." 

Perbedaannya bukan perfection. Perbedaannya adalah awareness dan return.

Anda akan jatuh ke ekstrem. Kita semua akan. 

Yang penting adalah: Apakah Anda sadar? Dan apakah Anda return ke tengah?

Itulah perjalanan. Itulah praktik. Itulah Zhongyong. 

Mulai hari ini. Mulai dengan satu area. Satu pilihan. Satu moment kesadaran.

Jalan tengah menunggu Anda—tidak jauh, tidak sulit, tidak mistis. 

Hanya di sini. Di breath berikutnya. Di pilihan berikutnya. 

Selamat berjalan.

 


Tentang Teks Asli 

"The Doctrine of the Mean" (中庸, Zhongyong) adalah salah satu dari "Four Books" dalam tradisi Konfusianisme, bersama dengan Analects, Mencius, dan The Great Learning. 

Teks ini ditulis sekitar abad ke-5 SM, kemungkinan oleh Zisi (cucu Confucius), berdasarkan ajaran Confucius. Teks ini kemudian diedit dan dikompilasi oleh scholar Neo-Confucian seperti Zhu Xi di abad ke-12. 

Selama lebih dari 2.000 tahun, teks ini menjadi required reading untuk calon pejabat pemerintah China dan merupakan salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah filosofi Timur. 

Untuk pemahaman lengkap tentang nuansa filosofis dan aplikasi mendalam dari Zhongyong, sangat disarankan membaca teks aslinya (tersedia dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris dan Indonesia). Teks asli penuh dengan metafora, contoh, dan subtleties yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Ringkasan ini menangkap prinsip-prinsip inti, tetapi perjalanan sejati dengan teks ini adalah meditasi berulang pada kata-katanya yang sederhana namun profound. 

Sekarang pergilah dan temukan jalan tengah Anda—dalam napas, dalam langkah, dalam pilihan. 

Seperti Confucius berkata: "Jalan mungkin tidak bisa ditinggalkan bahkan untuk sesaat."

Jalan selalu ada. Tinggal Anda yang memilih untuk berjalan di atasnya.