Buy Yourself the F*cking Lilies

Tara Schuster


Breakdown di Lantai Kamar Mandi

Bayangkan ini: Anda berusia 25 tahun. Dari luar, hidup Anda terlihat sempurna. 

Anda bekerja di Comedy Central—pekerjaan impian yang orang akan bunuh untuk dapatkan. Anda tinggal di New York City. Apartemen bagus. Gaji yang layak. Dari Instagram, hidup Anda terlihat #blessed. 

Tapi di dalam? 

Anda sedang hancur. 

Tara Schuster menemukan dirinya menangis di lantai kamar mandi apartemennya—untuk kesekian kalinya minggu itu. Serangan panik. Insomnia kronis. Minum alkohol setiap malam untuk "bersantai." Hubungan romantis yang toxic satu demi satu. Dan suara di kepalanya yang terus berbisik: "Kamu tidak cukup baik. Kamu tidak layak dicintai." 

Ini bukan pertama kalinya dia di posisi ini. Dia sudah terbiasa dengan breakdown. Dia sudah terbiasa dengan perasaan bahwa ada yang salah dengan dirinya. 

Tapi malam itu, sesuatu berubah. 

Dia menatap cermin—mata merah, maskara luntur, tubuh gemetar—dan dia bertanya pada dirinya sendiri: "Berapa lama lagi aku akan hidup seperti ini?" 

Dan jawaban yang datang mengejutkannya: "Tidak lagi. Aku tidak akan hidup seperti ini lagi." 

Malam itu, Tara Schuster membuat keputusan yang akan mengubah hidupnya: Dia akan belajar mencintai dirinya sendiri. Dia akan menjadi orang tua yang dia tidak pernah punya—untuk dirinya sendiri.

Kedengarannya cheesy? Mungkin. Tapi inilah yang membuat buku ini berbeda: Tara tidak memberikanmu platitude atau affirmasi kosong. Dia memberikan strategi praktis, ritual konkret, dan kejujuran brutal tentang apa yang benar-benar diperlukan untuk memperbaiki hidup yang berantakan. 

Dan semuanya dimulai dengan satu tindakan sederhana namun revolusioner: Belikan dirimu sendiri bunga lily sialan itu. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Kenapa Kamu Berantakan—Dan Itu Bukan Salahmu 

Childhood yang Tidak Pernah Aman 

Tara tidak menulis buku ini dari posisi privilege. Dia menulis dari tempat yang gelap—tempat yang banyak dari kita kenal tapi jarang dibicarakan. 

Dia tumbuh di rumah yang kacau: 

● Ayah yang alkoholik dan abusive 

● Ibu yang mengalami mental illness dan sering hilang selama berhari-hari

● Tidak ada rutinitas. Tidak ada stabilitas. Tidak ada yang bilang "Kamu aman. Kamu dicintai." 

● Dia belajar sejak kecil bahwa rumah bukan tempat yang aman—rumah adalah tempat di mana kamu harus waspada setiap saat 

Pada usia 9 tahun, Tara menemukan ibunya setelah suicide attempt. Pada usia 12, orang tuanya bercerai dalam pertengkaran yang brutal. Dan sepanjang masa kecilnya, tidak ada satu orang dewasa pun yang bertanya: "Kamu baik-baik saja?" 

Jadi dia belajar coping mechanism yang akan mengikutinya hingga dewasa: 

Perfectionism: Jika aku sempurna, mungkin aku akan dicintai 

People-pleasing: Jika aku membuat semua orang senang, mereka tidak akan meninggalkanku 

Self-sabotage: Aku tidak layak bahagia, jadi aku akan menghancurkan hal-hal baik sebelum mereka menghancurkanku 

Kedengarannya familiar? 

Kamu Tidak "Terlalu Sensitif"—Kamu Terluka 

Salah satu hal paling powerful dalam buku ini adalah validasi Tara terhadap rasa sakit kita. Masyarakat sering bilang: 

● "Sudahlah, move on." 

● "Masa lalu ya masa lalu." 

● "Jangan terlalu sensitif." 

Tara bilang: "Bullshit."

Trauma masa kecil bukan sesuatu yang bisa kamu "snap out of it." Luka emosional sama nyatanya dengan luka fisik—dan mereka butuh waktu, perhatian, dan perawatan untuk sembuh. 

Jika kamu tumbuh tanpa merasa aman, tanpa merasa dicintai unconditionally, tanpa role model yang sehat—tentu saja kamu berjuang sebagai orang dewasa. Itu bukan kelemahanmu. Itu adalah konsekuensi normal dari situasi abnormal. 

Tapi—dan ini penting—meskipun itu bukan salahmu, memperbaikinya adalah tanggung jawabmu. 

Tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu. Tidak ada magic pill. Tidak ada orang yang akan "memperbaiki" kamu. 

Hanya ada kamu—dan keputusanmu untuk mengambil tanggung jawab atas kebahagiaanmu sendiri.

 


Bagian 2: Re-Parenting Yourself—Menjadi Orang Tua untuk Diri Sendiri 

Konsep yang Mengubah Segalanya 

Inilah insight revolusioner Tara: Jika kamu tidak pernah di-parent dengan baik, kamu harus belajar untuk parent dirimu sendiri. 

Apa artinya? 

Orang tua yang baik: 

● Memberikan struktur dan rutinitas 

● Memberikan rasa aman dan stabilitas 

● Merayakan kesuksesanmu 

● Menghibur ketika kamu sedih 

● Menetapkan boundaries yang sehat 

● Mengajarimu bahwa kamu berharga 

Jika kamu tidak mendapat itu, kamu harus memberikannya pada dirimu sendiri. 

Bukan dengan cara narsistik atau egois. Tapi dengan cara yang nurturing, compassionate, dan—ya—parental. 

Ritual Pertama: Beli Dirimu Bunga 

Inilah dari mana judul buku berasal. 

Suatu hari, Tara berjalan melewati toko bunga. Dia melihat lily yang indah—bunga favoritnya. Dan dia berpikir: "Aku ingin itu." 

Tapi kemudian suara di kepalanya bilang: 

● "Terlalu mahal untuk dirimu sendiri." 

● "Tunggu sampai seseorang membelikanmu." 

● "Kamu tidak layak." 

Dan di momen itu, dia menyadari sesuatu: Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya menunggu orang lain untuk memberikan hal-hal yang dia butuhkan. 

Menunggu seseorang untuk mengatakan "Kamu cantik." 

Menunggu seseorang untuk merayakan kesuksesannya. 

Menunggu seseorang untuk memberikan bunga.

Jadi dia melakukan sesuatu yang radikal: Dia masuk dan membeli bunga itu untuk dirinya sendiri. 

Dan ketika dia menaruh lily itu di mejanya, sesuatu bergeser. Untuk pertama kalinya, dia memberikan pada dirinya sendiri sesuatu yang indah—tidak karena dia "layak," tidak karena dia "berprestasi," tapi hanya karena dia ada. 

Pelajaran: Berhenti menunggu orang lain untuk memberikan apa yang kamu butuhkan. Beli dirimu bunga sialan itu.

 


Bagian 3: Ritual Harian yang Benar-Benar Work 

Tara bukan penggemar self-help book yang samar. Dia memberikan instruksi spesifik, ritual konkret yang dia praktikkan sendiri. 

1. Morning Pages—Menulis untuk Kejernihan 

Setiap pagi, segera setelah bangun, Tara menulis tiga halaman—longhand, stream of consciousness, tanpa filter. 

Bukan journaling yang "indah." Bukan gratitude list yang dipaksakan. Hanya semua yang ada di kepalamu, dituangkan ke kertas tanpa editing. 

Kenapa ini work? 

Karena otak kita penuh dengan sampah—kekhawatiran, to-do list, kritik diri, anxiety. Morning pages adalah cara untuk mengosongkan sampah mental sehingga kamu bisa mulai hari dengan lebih clear. 

Tara bilang: "Ini seperti buang air besar untuk pikiranmu." 

Tidak glamor. Tapi efektif. 

2. Sunday Planning—Struktur untuk Minggu Depan 

Setiap Minggu malam, Tara duduk dengan kalender dan merencanakan minggu depannya—bukan hanya pekerjaan, tapi juga self-care. 

Dia schedule: 

● Kapan dia akan olahraga 

● Kapan dia akan masak makanan sehat 

● Kapan dia akan call teman 

● Kapan dia akan punya "me time" 

Kenapa ini penting? 

Karena jika kamu tidak schedule self-care, itu tidak akan terjadi. Hidup akan menyerap semua waktumu. Pekerjaan akan mengambil alih. Dan kamu akan kembali ke pola lama—mengabaikan dirimu sendiri sampai kamu breakdown. 

3. The Daily Hit List—Prioritas yang Jelas 

Setiap malam, Tara menulis "Daily Hit List"—tiga hal yang HARUS dia selesaikan besok.

Bukan 20 hal. Bukan to-do list yang tidak realistis. Hanya tiga hal paling penting.

Ini mengajarkan dua hal: 

1. Tidak semua hal sama pentingnya. Belajar prioritas. 

2. Menyelesaikan tiga hal lebih baik daripada setengah jadi 20 hal.

4. Bedtime Ritual—Mengakhiri Hari dengan Lembut 

Untuk seseorang dengan insomnia kronis, bedtime ritual Tara adalah penyelamat: 

● Matikan semua layar 1 jam sebelum tidur 

● Mandi air hangat dengan bath salt 

● Skincare dengan perhatian penuh—bukan buru-buru, tapi sebagai ritual self-love

● Membaca buku (bukan phone) 

● Meditasi atau breathing exercise 

Poin penting: Ini bukan tentang sempurna. Ini tentang konsistensi. Bahkan ketika Tara tidak sempurna melakukannya, ritual ini memberikan struktur—dan struktur memberikan rasa aman.

 


Bagian 4: Boundaries—Belajar Mengatakan "Tidak"

Kenapa Kamu Tidak Pernah Bilang Tidak 

Tara menghabiskan 25 tahun pertama hidupnya tidak pernah mengatakan tidak: 

● Tidak pada pekerjaan tambahan yang menguras energi 

● Tidak pada teman yang toxic 

● Tidak pada kencan yang red flag-nya jelas 

● Tidak pada keluarga yang terus menyakiti 

Kenapa? Karena dia takut: 

● Jika aku bilang tidak, mereka akan marah 

● Jika aku bilang tidak, mereka akan meninggalkanku 

● Jika aku bilang tidak, aku akan sendirian 

Tapi inilah kebenaran yang dia pelajari: Mengatakan ya ketika kamu ingin mengatakan tidak adalah bentuk pengkhianatan terhadap dirimu sendiri. 

Setiap kali kamu mengatakan ya padahal kamu ingin tidak, kamu mengirim pesan ke dirimu sendiri: "Kebutuhanku tidak penting. Perasaanku tidak valid." 

Dan setelah ribuan "ya" yang palsu, kamu lupa siapa dirimu sebenarnya.

Cara Mulai Mengatakan Tidak 

Tara memberikan script praktis: 

Jangan bilang: "Maaf banget, aku mungkin tidak bisa, tapi aku akan coba, mungkin aku bisa reschedule sesuatu, atau..." 

Bilang: "Terima kasih sudah berpikir tentangku. Aku tidak bisa kali ini." 

Titik. Tidak perlu penjelasan panjang. Tidak perlu alasan detail. Tidak adalah kalimat lengkap

Dan ya, orang akan kecewa. Tapi orang yang benar-benar peduli padamu akan menghormati boundaries-mu. 

Orang yang marah ketika kamu set boundaries? Mereka marah karena mereka kehilangan kemampuan untuk memanfaatkanmu. Dan itu bukan temanmu.

 


Bagian 5: Berhenti Mencari Validasi—Kamu Sudah Cukup

The Approval Addiction 

Tara mengakui dia adalah "approval junkie"—kecanduan validasi eksternal: 

● Mengecek likes di Instagram setiap 5 menit 

● Merasa hancur jika seseorang tidak membalas text 

● Mengubah diri untuk membuat orang lain senang 

● Mengukur nilai dirinya berdasarkan apa yang orang lain pikirkan 

Dan ini menguras energi. Karena kamu tidak pernah bisa mendapat cukup validasi dari luar untuk mengisi kekosongan di dalam. 

Seperti kata Tara: "Mencari validasi dari orang lain seperti mencoba mengisi bathtub yang bocor. Kamu bisa terus menuangkan air, tapi tidak akan pernah penuh." 

Belajar Validasi Diri Sendiri 

Tara mulai dengan latihan sederhana: Setiap kali dia menyelesaikan sesuatu, dia merayakan sendiri—tanpa menunggu orang lain

Menyelesaikan project? Dia memberikan standing ovation pada dirinya sendiri (secara literal, berdiri dan bertepuk tangan). 

Melalui hari yang sulit tanpa breakdown? Dia bilang pada dirinya: "I'm proud of you." Kedengarannya konyol? Mungkin. Tapi inilah yang terjadi: 

Ketika kamu mulai memberikan pada dirimu sendiri pengakuan yang kamu cari dari orang lain, kamu menjadi kurang bergantung pada opini mereka. Dan itu adalah kebebasan.

 


Bagian 6: Dating Yourself—Sebelum Kamu Bisa Cintai Orang Lain 

The Worst Date Ever 

Tara menceritakan kencan terburuknya: pria yang habis bicara tentang dirinya sendiri selama 2 jam, tidak pernah bertanya satu pertanyaan tentang Tara, dan kemudian shocked ketika Tara tidak mau kencan kedua. 

"Red flag yang jelas," kata semua temannya. 

Tapi kemudian Tara menyadari sesuatu: Dia memperlakukan dirinya sendiri persis seperti pria itu memperlakukannya. 

Dia tidak pernah bertanya pada dirinya: "Apa yang kamu butuhkan?" 

Dia tidak pernah mendengarkan tubuhnya ketika bilang "Aku lelah." 

Dia tidak pernah memberikan waktu untuk hal-hal yang dia cintai. 

Dia adalah kencan terburuk untuk dirinya sendiri. 

Mulai Dating Yourself 

Tara mulai "dating" dirinya sendiri—secara literal. Dia schedule "dates" dengan dirinya sendiri: 

● Pergi ke museum sendirian 

● Makan di restoran bagus—sendirian, dengan buku 

● Menonton film yang dia ingin tonton (bukan yang pacarnya ingin tonton)

● Weekend trip sendirian 

Dan dalam proses ini, dia menemukan sesuatu yang powerful: Dia sebenarnya menyukai dirinya sendiri. 

Dia menemukan bahwa dia suka berjalan di pagi hari. Dia menemukan bahwa dia suka musik jazz. Dia menemukan bahwa dia tidak seburuk yang dia kira. 

Pelajaran: Kamu tidak bisa benar-benar mencintai orang lain sampai kamu belajar mencintai dirimu sendiri. Dan kamu tidak bisa mencintai dirimu sendiri jika kamu tidak pernah menghabiskan waktu dengannya.

 


Bagian 7: Terapi—Bukan Tanda Kelemahan, Tapi Keberanian 

Stigma yang Harus Dihancurkan 

Tara sangat vokal tentang terapi. Dan dia tidak malu mengakui: "Terapi menyelamatkan hidupku." 

Di budaya banyak tempat, terapi masih dianggap: 

● Untuk orang "gila" 

● Tanda kelemahan 

● Sesuatu yang memalukan 

Tara bilang: "Pergi ke terapi adalah salah satu hal paling berani yang pernah aku lakukan." 

Kenapa? 

Karena terapi berarti menghadapi hal-hal yang paling kamu takuti tentang dirimu sendiri. Mengangkat batu dan melihat apa yang ada di bawahnya. Duduk dengan rasa sakit yang sudah kamu hindari selama bertahun-tahun. 

Apa yang Terapi Ajarkan Padanya 

1. Trauma is real—Dan itu mempengaruhi bagaimana kamu melihat dunia, berhubungan dengan orang, dan memperlakukan dirimu sendiri. 

2. Patterns bisa diubah—Hanya karena kamu selalu bereaksi dengan cara tertentu tidak berarti kamu harus terus begitu. 

3. Kamu bukan pikiranmu—Suara di kepalamu yang bilang "Kamu tidak cukup baik" bukanlah kebenaran. Itu adalah echoes dari masa lalu. 

4. Healing bukan linear—Ada hari di mana kamu merasa amazing. Ada hari di mana kamu kembali ke square one. Dan itu semua bagian dari proses. 

Pesan Tara: Jika kamu bisa afford terapi, pergilah. Jika tidak, ada alternatif—support groups, buku self-help, journaling, meditasi. Tapi jangan biarkan stigma menghentikanmu dari mendapat bantuan yang kamu butuhkan.

 


Bagian 8: Gratitude—Bukan Toxic Positivity

Perbedaan Penting 

Tara membenci toxic positivity—"good vibes only," "just be positive," "everything happens for a reason." 

Itu bullshit. 

Tapi dia percaya pada gratitude—dengan nuance. 

Toxic positivity bilang: "Lupakan hal buruk. Fokus pada hal baik." 

Gratitude bilang: "Aku mengakui bahwa ini sulit. DAN aku juga bisa menemukan sesuatu untuk disyukuri." 

Perbedaannya adalah "dan" bukan "tapi." 

Gratitude List yang Honest 

Tara menulis gratitude list setiap malam—tapi dia jujur: 

Contoh entrynya: 

● "Hari ini berantakan. Aku menangis di toilet kantor. TAPI aku bersyukur temanku mengirim text yang lucu yang membuat aku tertawa." 

● "Aku masih takut tentang masa depan. TAPI aku bersyukur aku punya tempat tinggal yang aman malam ini." 

Ini bukan tentang berpura-pura semuanya baik. Ini tentang melatih otakmu untuk melihat cahaya bahkan di kegelapan—tanpa menolak kegelapan itu.

 


Penutup: Kamu Layak—Tanpa Harus Membuktikan Apapun 

Tara menutup bukunya dengan pengingat yang powerful: 

"Kamu tidak perlu 'fix' dirimu. Kamu tidak rusak. Kamu hanya perlu belajar memperlakukan dirimu dengan kebaikan yang sama yang kamu berikan pada orang yang kamu cintai." 

Lima Pelajaran Terbesar 

1. Berhenti Menunggu 

Berhenti menunggu orang lain untuk memberikan apa yang kamu butuhkan. Berhenti menunggu "waktu yang tepat." Beli dirimu bunga. Rayakan dirimu. Cintai dirimu—sekarang. 

2. Ritual Menciptakan Stabilitas 

Ketika childhood-mu kacau, kamu harus menciptakan struktur untuk dirimu sendiri. Ritual sederhana—morning pages, bedtime routine, Sunday planning—bisa menjadi fondasi yang kamu tidak pernah punya. 

3. Boundaries Adalah Self-Love 

Mengatakan tidak kepada hal-hal yang menguras energimu adalah mengatakan ya pada dirimu sendiri. Kamu tidak egois. Kamu sedang survive. 

4. Validasi Datang dari Dalam 

Kamu tidak akan pernah mendapat cukup validasi dari luar untuk merasa "cukup." Belajar memberikan pada dirimu sendiri pengakuan yang kamu cari. 

5. Healing Adalah Perjalanan, Bukan Destinasi 

Akan ada setback. Akan ada hari buruk. Dan itu tidak berarti kamu gagal. Itu berarti kamu manusia. 

Pertanyaan untuk Anda 

Sekarang giliran Anda. Tanyakan pada diri sendiri: 

● Apa "bunga lily" dalam hidupmu—hal kecil yang kamu inginkan tapi tidak pernah berikan pada dirimu sendiri?

● Ritual apa yang bisa memberikan struktur dan rasa aman yang kamu butuhkan? 

● Kepada siapa kamu perlu mengatakan tidak—untuk mengatakan ya pada dirimu sendiri? 

Jangan tunggu sampai breakdown di lantai kamar mandi seperti Tara. Mulai sekarang. Mulai hari ini. 

Seperti Tara tulis: 

"Kamu adalah satu-satunya orang yang akan bersamamu setiap hari dalam hidupmu. Jadi kamu lebih baik mulai memperlakukan dirimu dengan baik." 

Sekarang pergilah. 

Belikan dirimu bunga lily sialan itu. 

Dan mulai hidup seperti seseorang yang kamu cintai. 

Karena kamu layak.

 


Tentang Buku Asli 

"Buy Yourself the F*cking Lilies: And Other Rituals to Fix Your Life, from Someone Who's Been There" diterbitkan pada tahun 2020 dan langsung menjadi bestseller. 

Tara Schuster adalah executive di Comedy Central dan telah bekerja dengan beberapa comedian terbesar di dunia. Tapi buku ini bukan tentang karir suksesnya—ini tentang perjalanan pribadinya dari trauma masa kecil menuju self-love. 

Yang membuat buku ini berbeda dari self-help book lain adalah kejujuran brutal dan humor-nya. Tara tidak berpura-pura punya semua jawaban. Dia menulis dari tempat vulnerability yang dalam—dan itu membuat bukunya relatable dan powerful. 

Untuk pemahaman lengkap dan semua ritual praktis yang bisa langsung kamu terapkan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Tara memberikan puluhan latihan, journaling prompts, dan strategi konkret yang tidak bisa sepenuhnya diringkas. 

Buku ini perfect untuk siapa saja yang: 

● Merasa "rusak" dan tidak tahu cara memperbaiki diri 

● Tumbuh tanpa role model yang sehat 

● Berjuang dengan self-worth 

● Lelah dengan self-help yang kaku dan tidak praktis 

Sekarang pergilah dan lakukan satu hal baik untuk dirimu hari ini. 

Satu hal kecil. 

Mulai dari situ. 

Karena seperti Tara buktikan: Perubahan besar dimulai dari ritual sederhana.