Option B

Sheryl Sandberg & Adam Grant


Ketika Option A Menghilang 

1 Mei 2015. Sheryl Sandberg sedang berlibur di Meksiko bersama suaminya, Dave Goldberg, dan anak-anak mereka. 

Sore itu, Sheryl pergi ke gym. Dave memutuskan untuk olahraga di gym hotel. "Sampai jumpa nanti," kata mereka satu sama lain. Kata-kata terakhir yang tidak mereka tahu akan menjadi terakhir. 

Satu jam kemudian, Sheryl menemukan Dave tergeletak di lantai gym. Tidak bernapas. Tidak bergerak. 

Dalam sekejap, hidup yang dia kenal—hidup yang dia rencanakan, impikan, bangun—hancur

Dave Goldberg, CEO SurveyMonkey, suami yang dicintai, ayah dari dua anak, meninggal pada usia 47 tahun karena aritmia jantung mendadak. 

Sepuluh hari setelah pemakaman, Sheryl sedang merencanakan kegiatan untuk Hari Ayah bersama sahabatnya, Phil. Dia menangis: "Aku ingin Dave." 

Phil memeluknya dan berkata lembut: "Option A tidak tersedia. Jadi mari kita tendang pantat Option B." 

Dan di situlah istilah "Option B" lahir. 

Option A adalah rencana kita. Kehidupan yang kita bayangkan. Orang yang kita cintai masih di sini. Kesehatan yang kita anggap remeh. Pekerjaan yang kita pikir akan selalu ada. 

Option B adalah ketika Option A meledak di depan mata kita. Ketika orang yang kita cintai meninggal. Ketika kita didiagnosis penyakit serius. Ketika kita kehilangan pekerjaan. Ketika pernikahan berakhir. Ketika impian hancur.

Option B bukan yang kita inginkan. Tapi Option B adalah yang kita punya.

Dan pertanyaannya: Apa yang kita lakukan dengannya? 

Buku ini—yang ditulis Sheryl Sandberg bersama psikolog Adam Grant—adalah tentang bagaimana menghadapi kesedihan yang menghancurkan, membangun ketahanan yang tidak kita tahu kita punya, dan menemukan kembali kegembiraan yang kita pikir hilang selamanya. 

Ini bukan buku tentang "berpikir positif" atau "semuanya terjadi karena alasan." Ini adalah buku tentang menghadapi kenyataan yang mengerikan dan menemukan cara untuk terus hidup—benar-benar hidup, bukan hanya bertahan. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Tiga P yang Membuat Penderitaan Lebih Lama

Hari-Hari Pertama dalam Kegelapan 

Sheryl menggambarkan hari-hari setelah kematian Dave sebagai "The Void"—kehampaan yang mengerikan. 

Dia tidak bisa tidur. Ketika tidur, dia terbangun lalu melupakan selama satu detik bahwa Dave telah pergi—lalu ingatan itu menghantam seperti pukulan di dada. 

Dia tidak bisa makan. Makanan terasa seperti karton. 

Dia tidak bisa bekerja. Dia tidak bisa fokus. Bahkan membaca email terasa mustahil.

Dan yang terburuk: Dia merasa ini tidak akan pernah membaik. 

Di sinilah Adam Grant, sahabat dan kolega Sheryl, masuk dengan penelitian yang mengubah segalanya. 

Tiga P yang Memperpanjang Penderitaan 

Grant menjelaskan bahwa psikolog Martin Seligman menemukan bahwa ada tiga P yang membuat orang terjebak dalam penderitaan lebih lama: 

1. Personalization (Personalisasi) - "Ini salahku" 

Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita menyalahkan diri sendiri. 

Sheryl menyalahkan dirinya: "Kenapa aku tidak memaksa Dave untuk periksa jantung lebih sering? Kenapa aku membiarkan dia pergi ke gym sendirian? Kenapa aku tidak di sana?" 

Tapi Grant menunjukkan: Tragedi terjadi bukan karena kita gagal mencegahnya. Kita bukan Superman. Kita manusia. 

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal di luar kontrol mereka mengalami depresi lebih parah dan lebih lama. 

Antidote (penawarnya): Bedakan antara apa yang bisa Anda kontrol dan apa yang tidak. Maafkan diri Anda untuk hal-hal yang tidak pernah dalam kontrol Anda sejak awal. 

2. Pervasiveness (Pervasivitas) - "Ini menghancurkan segalanya" 

Ketika satu area hidup kita hancur, kita berpikir semua area hancur. 

Sheryl berpikir: "Dave meninggal. Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Aku tidak bisa memimpin Facebook. Aku tidak akan pernah bahagia lagi. Semuanya rusak."

Tapi Grant menunjukkan: Tragedi di satu area tidak harus menghancurkan semua area. 

Bahkan dalam kesedihan terdalam, ada hal-hal yang masih berjalan: anak-anak yang masih membutuhkan cinta, teman-teman yang mendukung, pekerjaan yang bisa memberikan distraksi dan makna. 

Antidote: Identifikasi area kehidupan yang masih baik-baik saja. Tuliskan. Ingatkan diri Anda bahwa tidak semuanya hilang. 

3. Permanence (Permanensi) - "Ini akan selamanya" 

Ini yang paling berbahaya. Kita percaya bahwa rasa sakit ini tidak akan pernah berkurang. 

Sheryl menulis: "Aku tidak bisa membayangkan tersenyum lagi. Tertawa lagi. Merasa lengkap lagi." 

Tapi Grant menunjukkan penelitian yang konsisten: Manusia jauh lebih tangguh daripada yang mereka kira. Rasa sakit tidak hilang, tapi intensitasnya berkurang. 

Dalam psikologi, ada fenomena yang disebut "affective forecasting error"—kita sangat buruk memprediksi berapa lama emosi akan bertahan. Kita pikir kesedihan akan selamanya. Tapi biasanya tidak. 

Antidote: Ingatkan diri Anda: "Aku merasa seperti ini hari ini. Bukan berarti aku akan merasa seperti ini selamanya." 

Melawan Tiga P 

Sheryl mulai menantang Tiga P dalam jurnalnya setiap malam: 

Personalization: "Ini bukan salahku. Aku mencintai Dave. Aku melakukan yang terbaik. Aku tidak bisa memprediksi ini." 

Pervasiveness: "Anak-anakku masih sehat. Aku masih punya pekerjaan yang aku cintai. Aku masih punya teman-teman yang mendukung." 

Permanence: "Hari ini sangat sulit. Tapi besok mungkin sedikit lebih mudah. Dan lusa mungkin lebih mudah lagi." 

Dan perlahan-lahan—sangat perlahan—kegelapan mulai retak. Cahaya kecil mulai masuk.

 


Bagian 2: Menulis untuk Sembuh 

Kekuatan Mengekspresikan Emosi 

Dua minggu setelah kematian Dave, Sheryl memposting di Facebook—untuk pertama kalinya sejak tragedi. 

Dia menulis tentang kesedihannya. Tentang kehampaan. Tentang bagaimana dia tidak tahu bagaimana menjadi "ibu tunggal." Tentang berterima kasih pada orang-orang yang mendukungnya. 

Postingan itu dibaca puluhan juta orang. Ribuan orang menulis kepadanya, berbagi kesedihan mereka sendiri, berterima kasih karena dia membuat mereka merasa tidak sendirian. 

Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi: Menulis tentang rasa sakitnya membuatnya merasa sedikit lebih ringan. 

Penelitian tentang Journaling 

Grant menjelaskan penelitian psikolog James Pennebaker: Orang yang menulis tentang trauma mereka selama 15-20 menit sehari selama 3-4 hari mengalami: 

● Sistem imun lebih kuat 

● Tekanan darah lebih rendah 

● Lebih sedikit kunjungan ke dokter 

● Mood yang lebih baik 

● Lebih banyak kemajuan dalam hidup mereka 

Mengapa menulis begitu powerful? 

Karena menulis memaksa kita untuk memberi struktur pada kekacauan emosi. Ketika kita menulis "Aku sedih karena...", kita mulai memahami kesedihan kita. Ketika kita menulis "Aku takut bahwa...", kita memberi nama pada ketakutan kita—dan hal yang diberi nama lebih mudah dihadapi. 

Journaling untuk Ketahanan 

Sheryl mulai praktik journaling yang dia sebut "Three Good Things"—setiap malam, menulis tiga hal baik yang terjadi hari itu. 

Di hari-hari awal, ini sangat sulit. Apa yang baik ketika duniamu hancur? 

Tapi dia memaksa dirinya: 

● "Anak-anakku tersenyum hari ini"

● "Temanku membawa makan siang" 

● "Aku berhasil melalui meeting tanpa menangis" 

Hal-hal kecil. Tapi dalam kegelapan total, bahkan cahaya lilin berharga. 

Penelitian menunjukkan: Orang yang melakukan "Three Good Things" selama seminggu mengalami peningkatan kebahagiaan yang bertahan hingga enam bulan. 

Mengapa ini bekerja? Karena otak kita cenderung fokus pada negatif (negativity bias). Praktik ini melatih kita untuk juga melihat positif—bukan mengabaikan rasa sakit, tapi tidak membiarkannya menjadi satu-satunya hal yang kita lihat.

 


Bagian 3: Belas Kasih pada Diri Sendiri 

Kritik Diri yang Kejam 

Sheryl mengakui bahwa dalam kesedihannya, dia sangat kejam pada dirinya sendiri:

"Kamu ibu yang buruk. Anak-anakmu menderita dan kamu tidak bisa memperbaikinya."

"Kamu leader yang payah. Kamu tidak bisa fokus di pekerjaan." 

"Kamu merepotkan semua orang. Mereka pasti lelah dengan kesedihanmu." 

Kritik diri ini membuat segalanya lebih buruk. Dia tidak hanya kehilangan Dave—dia juga kehilangan belas kasihan pada dirinya sendiri. 

Self-Compassion: Memperlakukan Diri Sendiri Seperti Teman

Grant memperkenalkan Sheryl pada konsep self-compassion dari peneliti Kristin Neff. 

Pertanyaan sederhana: "Apa yang akan kamu katakan kepada teman terbaikmu jika dia mengalami ini?" 

Sheryl menyadari: Dia akan memeluk temannya. Mengatakan "Ini tidak salahmu. Kamu melakukan yang terbaik. Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja." 

Tapi pada dirinya sendiri? Dia kejam. Tidak sabaran. Menghakimi. 

Mengapa kita begitu jahat pada diri sendiri? 

Karena kita percaya kritik diri akan memotivasi kita. Tapi penelitian menunjukkan sebaliknya: Self-compassion membuat kita lebih tangguh, lebih termotivasi, dan lebih mampu pulih dari kegagalan. 

Orang yang penuh belas kasihan pada diri sendiri: 

● Lebih mungkin mencoba lagi setelah gagal 

● Lebih sedikit kecemasan dan depresi 

● Lebih banyak inisiatif untuk memperbaiki kesalahan 

Praktik Self-Compassion 

Sheryl mulai berbicara pada dirinya sendiri seperti dia akan berbicara pada teman: Dari: "Kamu gagal sebagai ibu karena kamu tidak bisa menghilangkan rasa sakit mereka."

Ke: "Kamu ibu yang luar biasa yang sedang melakukan hal tersulit dalam hidupmu. Kamu muncul setiap hari untuk anak-anakmu meskipun hatimu hancur. Itu bukan kegagalan. Itu kepahlawanan." 

Perubahan kecil dalam bahasa. Perbedaan besar dalam dampak.

 


Bagian 4: Post-Traumatic Growth—Tumbuh dari Tragedi

Bukan Hanya Bertahan, Tapi Tumbuh 

Grant berbagi konsep yang mengejutkan Sheryl: post-traumatic growth. 

Kita semua tahu tentang PTSD (post-traumatic stress disorder). Tapi penelitian menunjukkan bahwa banyak orang yang mengalami trauma juga mengalami pertumbuhan

Tidak menggantikan rasa sakit. Bukan "semuanya terjadi karena alasan." Tapi menemukan makna dan kekuatan dalam puing-puing. 

Psikolog Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun mengidentifikasi lima area pertumbuhan setelah trauma: 

1. Kekuatan personal: "Aku tidak tahu aku sekuat ini sampai aku harus menghadapi ini." 

2. Hubungan yang lebih dalam: "Aku tahu siapa teman sejatiku. Aku lebih menghargai orang-orang yang aku cintai." 

3. Apresiasi yang lebih besar untuk hidup: "Aku tidak lagi mengambil remeh hal-hal kecil." 

4. Prioritas baru: "Aku berhenti membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting."

5. Kehidupan spiritual yang lebih kaya: "Aku menemukan makna yang lebih dalam." 

Sheryl Menemukan Pertumbuhan 

Sheryl tidak mencari pertumbuhan. Dia tidak mau ini terjadi. Tapi seiring waktu, dia mulai melihat perubahan: 

Kekuatan: "Aku pikir kehilangan Dave akan menghancurkanku. Tapi aku masih di sini. Aku masih berjalan. Aku lebih kuat dari yang aku kira." 

Hubungan: "Aku melihat kebaikan manusia dengan cara yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Orang-orang muncul untukku dengan cara yang menakjubkan." 

Apresiasi: "Aku tidak lagi menunda mengatakan 'Aku cinta kamu.' Aku tidak lagi menunda menghabiskan waktu dengan anak-anakku." 

Prioritas: "Aku berhenti khawatir tentang hal-hal kecil. Aku lebih fokus pada apa yang benar-benar penting."

Ini tidak menghilangkan rasa sakit. Dave masih pergi. Tapi rasa sakit itu membentuknya menjadi versi dirinya yang lebih dalam, lebih bijak, lebih penuh kasih.

 


Bagian 5: Membangun Ketahanan pada Anak-Anak

Rasa Takut Terbesar Sheryl 

Sheryl menulis: "Ketakutan terbesarku bukan tentang diriku. Tapi tentang anak-anakku. Bagaimana jika kehilangan ayah mereka menghancurkan mereka selamanya?" 

Dia bertemu dengan ahli kesedihan anak-anak dan belajar beberapa prinsip penting:

1. Jujur, Tapi Sesuai Usia 

Jangan bohong pada anak-anak. Mereka tahu sesuatu yang buruk terjadi. Kebohongan menghancurkan kepercayaan dan membuat mereka merasa lebih tidak aman. 

Tapi sesuaikan kebenaran dengan usia mereka. Anak 7 tahun tidak perlu detail medis yang sama dengan remaja. 

Sheryl memberitahu anak-anaknya: "Ayah meninggal karena jantungnya berhenti. Ini tidak ada yang salah. Ini tidak bisa dicegah. Dan ini bukan salah kalian." 

2. Biarkan Mereka Merasakan Emosi Mereka 

Jangan katakan "Jangan sedih" atau "Kamu harus kuat." 

Katakan: "Tidak apa-apa untuk sedih. Ayah akan ingin kamu merasakan apa yang kamu rasakan." 

Sheryl membuat "feeling thermometer"—anak-anaknya bisa menunjuk angka 1-10 untuk menunjukkan seberapa sedih mereka. Ini memberi mereka cara untuk mengekspresikan emosi tanpa harus menemukan kata-kata. 

3. Ciptakan Rutinitas dan Keamanan 

Ketika dunia terasa kacau, anak-anak butuh prediktabilitas. 

Sheryl mempertahankan rutinitas: waktu tidur yang sama, ritual pagi yang sama, kegiatan ekstrakurikuler yang sama. 

Ini memberi pesan: "Banyak hal berubah. Tapi beberapa hal masih sama. Kamu masih aman."

4. Ceritakan Kisah 

Sheryl dan anak-anaknya mulai ritual "Dave stories" setiap malam—menceritakan kenangan tentang Dave.

Lucu. Menyedihkan. Biasa. Semua cerita diterima. 

Ini membuat Dave tetap hidup dalam memori mereka. Dan memberi pesan: "Kita bisa berbicara tentang Ayah. Kita tidak harus berpura-pura dia tidak pernah ada." 

5. Model Ketahanan 

Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan apa yang kita katakan. 

Sheryl menyadari: "Aku tidak bisa berpura-pura tidak sedih. Tapi aku bisa menunjukkan bahwa bahkan ketika sedih, kita masih bisa bangun, masih bisa pergi ke sekolah, masih bisa menemukan momen kegembiraan." 

Ketika dia menangis, dia berkata pada anak-anaknya: "Ibu sedang sedih sekarang. Tapi tidak apa-apa. Emosi itu seperti ombak—mereka datang dan pergi."

 


Bagian 6: Mendukung Orang yang Berduka

Apa yang TIDAK Mengatakan 

Sheryl menulis tentang hal-hal yang orang katakan dengan niat baik—tapi sebenarnya menyakitkan: 

❌ "Aku tahu bagaimana rasanya" (Tidak, kamu tidak tahu. Setiap kesedihan unik.)

❌ "Semuanya terjadi karena alasan" (Ini menghina rasa sakit mereka.)

❌ "Setidaknya dia tidak menderita lama" (Ini bukan lotere kesedihan. Tidak ada "setidaknya.") 

❌ "Kamu kuat, kamu akan baik-baik saja" (Ini memberi tekanan untuk "baik-baik saja" padahal mereka tidak.) 

❌ "Waktu akan menyembuhkan" (Mungkin benar, tapi saat ini tidak membantu.)

Apa yang HARUS Dilakukan 

Hadir secara fisik: Jangan tunggu diminta. Datang. Bawa makanan. Duduk di sebelah mereka. Diam juga tidak apa-apa. 

Tawarkan bantuan spesifik: Jangan "Beri tahu aku jika kamu butuh sesuatu." Katakan: "Aku akan bawa makan malam Rabu. Kamu suka lasagna atau ayam?" 

Dengarkan tanpa memperbaiki: Mereka tidak butuh solusi. Mereka butuh didengar. Katakan: "Aku di sini. Aku mendengarkan." 

Sebut nama orang yang meninggal: Jangan takut membicarakan orang yang hilang. Katakan: "Aku ingat ketika Dave..." Ini menunjukkan dia tidak terlupakan. 

Check in jangka panjang: Semua orang hadir minggu pertama. Tapi bulan ke-3, ke-6, ke-12—ketika yang lain sudah lanjut—mereka masih butuh dukungan. 

Elephant in the Room 

Sheryl menciptakan praktik di Facebook: mengangkat tangan dan berkata "Elephant in the room" ketika orang menghindari topik Dave. 

Contoh: Meeting dimulai, semua orang awkward, tidak ada yang menyebut Dave. 

Sheryl: "Elephant in the room: Dave meninggal. Aku sedang berduka. Tapi aku di sini untuk bekerja. Mari kita mulai." 

Ini memberi izin pada orang lain untuk mengakui kenyataan tanpa berpura-pura.

 


Bagian 7: Menemukan Kembali Kegembiraan

Apakah Boleh Bahagia? 

Enam bulan setelah Dave meninggal, Sheryl tertawa di dinner bersama teman.

Lalu dia merasa bersalah. "Bagaimana aku bisa tertawa ketika Dave tidak ada?" 

Ini adalah guilt yang banyak orang rasakan setelah kehilangan: Survivor guilt. Merasa tidak berhak bahagia ketika orang yang dicintai tidak bisa. 

Grant menjelaskan: "Dave tidak akan ingin kamu menderita selamanya. Dia akan ingin kamu hidup. Benar-benar hidup." 

Izin untuk Joy 

Sheryl menulis surat pada dirinya sendiri—seolah dari Dave: 

"Sheryl, cintailah anak-anak kita. Tertawalah dengan mereka. Temukan kegembiraan. Jangan habiskan hidupmu berduka untukku. Aku mencintaimu. Aku ingin kamu bahagia." 

Ini memberinya izin. Bukan melupakan Dave. Tapi menghormati dia dengan terus hidup penuh.

Building Joy Again 

Kegembiraan tidak kembali sekaligus. Tapi perlahan: 

● Momen pertama dia tertawa tanpa guilt 

● Hari pertama dia tidak menangis 

● Malam pertama dia tidur nyenyak 

● Liburan pertama yang menyenangkan 

Setiap momen kecil adalah kemenangan.

 


Penutup: Menendang Pantat Option B 

Sheryl menutup buku dengan refleksi powerful: 

"Aku tidak akan pernah memilih Option B. Aku akan memberikan apa saja—segalanya—untuk mendapat Option A kembali. Tapi Option A hilang. Dan aku harus memilih: Tenggelam dalam kesedihan selamanya, atau menemukan cara untuk hidup lagi." 

Dia memilih hidup. Benar-benar hidup. 

Lima Pelajaran dari Option B 

1. Kamu Lebih Kuat dari yang Kamu Kira 

Kamu tidak tahu seberapa tangguh kamu sampai tangguh adalah satu-satunya pilihan. Dan ketika saat itu datang, kamu akan menemukan kekuatan yang tidak kamu tahu kamu punya. 

2. Kesedihan dan Kegembiraan Bisa Ada Bersamaan 

Ini bukan atau-atau. Kamu bisa sedih karena kehilangan DAN bersyukur untuk apa yang masih ada. Kamu bisa merindukan masa lalu DAN berharap untuk masa depan. 

3. Tulislah Kesedihanmu 

Jangan pendam. Ekspresikan. Tulis. Bicara. Biarkan keluar. Emosi yang ditekan tidak hilang—mereka tumbuh. 

4. Belas Kasih pada Dirimu 

Kamu tidak sempurna. Kamu akan membuat kesalahan. Kamu akan punya hari buruk. Itu oke. Perlakukan dirimu seperti kamu akan memperlakukan teman terbaik. 

5. Bantulah Orang Lain—Itu Juga Menyembuhkanmu 

Ketika kamu membantu orang lain melalui kesulitan mereka, kamu juga menyembuhkan dirimu sendiri. Ada kekuatan dalam melayani. 

Pertanyaan untuk Anda 

Hidup akan memberimu Option B—mungkin sudah, mungkin belum. Kehilangan, kegagalan, kekecewaan, patah hati. 

Pertanyaannya bukan apakah kamu akan menghadapi kesulitan. Tapi bagaimana kamu akan menghadapinya.

Apakah kamu akan membiarkan Tiga P—personalization, pervasiveness, permanence—memperpanjang penderitaanmu? 

Atau apakah kamu akan menantang mereka, menemukan kekuatan yang tidak kamu tahu kamu punya, dan menendang pantat Option B? 

Seperti Sheryl tulis: 

"Option B bisa membuat kita lebih kuat dan lebih berterima kasih untuk apa yang kita punya. Kita masih berduka atas yang hilang. Tapi kita juga bisa berterima kasih atas yang tersisa." 

Jadi ketika Option A menghilang—dan suatu hari itu akan terjadi dalam beberapa bentuk—ingatlah: 

Kamu lebih tangguh dari yang kamu kira. Kamu tidak sendirian. Dan kamu bisa melakukan ini. 

Option B menunggu untuk ditendang.

 


Tentang Buku Asli 

"Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy" diterbitkan pada April 2017. 

Sheryl Sandberg adalah COO Facebook (sekarang Meta) dan penulis bestseller "Lean In." Adam Grant adalah profesor psikologi organisasi di Wharton School dan penulis "Give and Take," "Originals," dan "Think Again." 

Buku ini lahir dari tragedi personal Sheryl—kematian mendadak suaminya Dave Goldberg pada Mei 2015—dan penelitian puluhan tahun Adam Grant tentang ketahanan dan kesuksesan. 

Semua royalti penulis dari buku ini disumbangkan ke OptionB.org, organisasi nonprofit yang membantu orang membangun ketahanan menghadapi kesulitan. 

Untuk pemahaman lengkap tentang membangun ketahanan dan menemukan kembali kegembiraan setelah kehilangan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Sheryl dan Adam memberikan lebih banyak penelitian, cerita personal, dan latihan praktis yang akan membantu Anda menghadapi kesulitan hidup. 

Ringkasan ini menangkap ide-ide inti, tetapi pengalaman membaca narasi personal Sheryl yang jujur dan powerful tidak bisa sepenuhnya direplikasi. 

Sekarang pergilah dan ingatlah: Kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Dan ketika Option A tidak tersedia, kamu bisa menendang pantat Option B.