Pertanyaan yang Tidak Berani Kita Tanyakan
Tahun 1976. Seorang profesor ekonomi Italia bernama Carlo M. Cipolla duduk di kantornya di University of California, Berkeley, mengamati kolega-koleganya.
Ini adalah universitas elite. Orang-orang brilian di sekitarnya—pemenang Nobel, profesor terkenal, peneliti cemerlang.
Tapi ada yang mengganggu pikirannya.
Bahkan di antara orang-orang jenius ini, bahkan di institusi paling bergengsi di dunia, dia melihat keputusan bodoh dibuat setiap hari.
Keputusan yang merugikan diri sendiri tanpa menguntungkan siapa pun. Tindakan yang merusak orang lain tanpa memberi keuntungan pada pelakunya. Perilaku yang tidak masuk akal bahkan dengan standar rasionalitas paling dasar.
Dan yang lebih menakutkan: Para pelaku tidak menyadari mereka bodoh.
Cipolla mulai menulis—bukan paper akademis yang kering, tapi esai satir yang tajam. Dia menyebutnya "The Basic Laws of Human Stupidity."
Awalnya, dia hanya bagikan pada teman-teman sebagai hiburan Natal. Tapi ketika esai itu bocor dan beredar, reaksinya luar biasa.
Orang tertawa. Lalu mereka berhenti tertawa. Karena mereka menyadari:
Ini bukan hanya satir. Ini adalah kebenaran yang menakutkan tentang mengapa peradaban runtuh.
Hari ini, hampir 50 tahun kemudian, buku kecil ini lebih relevan dari sebelumnya.
Di era media sosial, politik polarisasi, dan keputusan-keputusan yang tampak semakin absurd—Five Laws of Stupidity dari Cipolla memberikan lensa yang jernih (dan mengerikan) untuk memahami apa yang salah dengan dunia kita.
Mari kita mulai dengan peringatan Cipolla sendiri:
"Selalu dan tak terhindarkan, setiap orang meremehkan jumlah individu bodoh yang beredar."
Termasuk Anda.
Hukum Pertama: Selalu dan Pasti, Setiap Orang Meremehkan Jumlah Orang Bodoh di Dunia
Ilusi yang Mematikan
Ketika Cipolla mempresentasikan hukum pertama ini pada mahasiswanya, reaksi mereka selalu sama:
"Profesor, saya tidak meremehkan. Saya tahu ada banyak orang bodoh di luar sana."
Dan Cipolla tersenyum. "Itu yang semua orang pikirkan. Dan itu membuktikan hukum saya."
Inilah masalahnya:
Kita semua berpikir kita tahu ada orang bodoh. Tapi kita selalu terkejut ketika:
● Kolega yang kita percaya membuat keputusan bodoh
● Teman dekat tiba-tiba melakukan sesuatu yang menyabotase diri sendiri
● Pemimpin yang kita pilih ternyata incompetent
● Orang yang kita kira cerdas ternyata... bukan
Mengapa kita meremehkan?
1. Cognitive bias: Kita ingin percaya orang di sekitar kita rasional
2. Self-protection: Mengakui banyak orang bodoh berarti mengakui dunia lebih berbahaya
3. Social desirability: Tidak sopan untuk menuduh orang bodoh
4. The halo effect: Kita pikir orang sukses/berpendidikan/kaya otomatis tidak bodoh
Contoh dari Sejarah
Kasus 1: Invasi Teluk Babi (1961)
CIA merencanakan invasi ke Kuba. Orang-orang terpintar di pemerintahan AS—lulusan Ivy League, veteran berpengalaman, analis brilian—semua setuju ini ide bagus.
Hasilnya? Bencana total. 1.400 penyerang Cuba exile ditangkap atau dibunuh dalam 3 hari. AS malu secara internasional. Castro lebih kuat dari sebelumnya.
Kasus 2: Lehman Brothers (2008)
Bank investasi paling bergengsi di dunia. CEO dengan MBA dari Harvard. Risk managers dengan PhD di matematika.
Mereka semua membuat taruhan besar pada sekuritas berbasis hipotek yang mereka tidak pahami sepenuhnya.
Hasilnya? Kebangkrutan. Krisis finansial global. Triliunan dollar menguap.
Pelajaran: Kredensial, posisi, dan reputasi TIDAK mengimunisasi seseorang dari kebodohan.
Implikasi Mengerikan
Jika kita selalu meremehkan jumlah orang bodoh, maka:
● Kita tidak membangun pengamanan yang cukup terhadap kebodohan
● Kita memberikan kekuasaan pada orang yang seharusnya tidak punya kekuasaan
● Kita terkejut ketika sistem runtuh karena tindakan bodoh
Cipolla memperingatkan: "Hukum Pertama mencegah atribusi nilai numerik. Saya akan berani menyarankan bahwa fraksi σ (orang bodoh) selalu lebih besar dari yang Anda perkirakan."
Berapa proporsinya? Kita tidak tahu. Tapi pasti lebih banyak dari yang kita kira.
Hukum Kedua: Probabilitas Seseorang Bodoh Tidak Tergantung pada Karakteristik Lain dari Orang Itu
Kebodohan Adalah Demokratis
Ini adalah hukum yang paling mengejutkan—dan paling menakutkan.
Cipolla menulis:
"Apakah orang-orang itu berpendidikan atau tidak terdidik, kaya atau miskin, jenis kelamin apa pun, ras apa pun, dari belahan dunia mana pun, proporsi orang bodoh adalah konstan."
Mari kita buka ini.
Mitos yang Kita Percayai
Mitos 1: "Orang berpendidikan tidak bodoh."
Salah. Cipolla menemukan proporsi orang bodoh di kalangan profesor universitas sama dengan proporsi di kalangan buruh pabrik.
PhD tidak membuat Anda kebal dari kebodohan. Bahkan mungkin membuat Anda lebih berbahaya karena orang mempercayai Anda.
Mitos 2: "Orang sukses/kaya pasti cerdas."
Salah lagi. Kekayaan dan kesuksesan bisa datang dari keberuntungan, koneksi, warisan, atau bahkan dari perilaku bandit (mengeksploitasi orang lain).
Mitos 3: "Kebodohan adalah masalah 'mereka' (kelompok lain), bukan 'kita'."
Ini yang paling berbahaya. Setiap kelompok—partai politik, agama, ras, kelas sosial—punya proporsi orang bodoh yang sama.
Mengapa Ini Mengerikan
Bayangkan implikasinya:
1. Anda tidak bisa screening kebodohan dengan kredensial
○ Tidak dengan melihat ijazah
○ Tidak dengan tes IQ
○ Tidak dengan melihat track record
2. Kebodohan bisa ada di posisi kekuasaan
○ CEO bisa bodoh
○ Presiden bisa bodoh
○ Hakim bisa bodoh
○ Dokter bisa bodoh
3. Anda sendiri bisa bodoh
○ Tidak peduli seberapa cerdas Anda pikir Anda
○ Tidak peduli seberapa berpendidikan Anda
○ Tidak peduli seberapa sukses Anda
Cerita Personal Cipolla
Cipolla menceritakan bahwa dia melakukan penelitian kecil di universitasnya.
Dia membagi staf administratif menjadi kategori berdasarkan perilaku mereka (lebih lanjut di Hukum Ketiga).
Yang mengejutkan dia: Proporsi orang bodoh di kalangan staf administrasi universitas sama dengan proporsi di kalangan mahasiswa, sama dengan proporsi di kalangan profesor.
Pendidikan tinggi, seleksi ketat, lingkungan intelektual—tidak ada yang mengubah proporsi fundamental ini.
Kesimpulan mengerikan: Kebodohan adalah konstanta universal. Kita tidak bisa menghindarinya. Kita hanya bisa bersiap menghadapinya.
Hukum Ketiga: Orang Bodoh Adalah Orang yang Menyebabkan Kerugian pada Orang Lain Tanpa Memperoleh Keuntungan bagi Dirinya Sendiri—Atau Bahkan Menderita Kerugian
Definisi yang Presisi
Inilah inti dari teori Cipolla: definisi operasional tentang kebodohan.
Untuk memahami ini, Cipolla menciptakan grafik 2x2 yang brilian:
Sumbu X: Keuntungan/Kerugian untuk diri sendiri
Sumbu Y: Keuntungan/Kerugian untuk orang lain
Ini menciptakan empat kuadran—empat tipe manusia:
Tipe 1: The Intelligent (Si Cerdas)
Definisi: Tindakan yang menguntungkan diri sendiri DAN menguntungkan orang lain.
Contoh:
● Entrepreneur yang menciptakan produk yang orang butuhkan dan mendapat profit
● Guru yang mengajar dengan baik—siswa belajar, guru dapat gaji dan kepuasan
● Petani yang menjual hasil panen berkualitas dengan harga yang adil
Karakteristik: Win-win. Ini adalah kontribusi positif bersih pada masyarakat.
Tipe 2: The Bandit (Si Bandit)
Definisi: Tindakan yang menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain.
Contoh:
● Koruptor yang mencuri uang publik
● Perusahaan yang merusak lingkungan untuk profit
● Penipu yang melakukan scam kepada orang lain untuk keuntungan pribadi
Karakteristik: Win-lose. Mereka tahu persis apa yang mereka lakukan. Mereka rasional—hanya amoral.
Catatan penting: Cipolla bilang bandit sebenarnya lebih dapat diprediksi dan di kelola daripada orang bodoh. Mengapa? Karena mereka punya motif rasional (kepentingan diri sendiri). Anda bisa melakukan antisipasi, bernegosiasi, atau melindungi diri dari mereka.
Tipe 3: The Helpless (Si Tak Berdaya)
Definisi: Tindakan yang merugikan diri sendiri tapi menguntungkan orang lain.
Contoh:
● Orang yang terlalu baik hati sampai dieksploitasi terus-menerus
● Karyawan yang bekerja lembur tanpa kompensasi yang adil
● Orang yang selalu mengalah demi "perdamaian"
Karakteristik: Lose-win. Mereka adalah korban sempurna untuk bandit.
Tipe 4: The Stupid (Si Bodoh)
Definisi: Tindakan yang merugikan diri sendiri DAN merugikan orang lain.
Contoh:
● Manager yang micromanage sampai tim stress dan produktivitas turun—termasuk hasil kerjanya sendiri
● Orang yang menyebarkan gosip yang akhirnya merusak reputasinya sendiri juga
● Pemimpin yang korup sedemikian bodohnya sampai ekonomi runtuh—termasuk kekayaannya sendiri menguap
Karakteristik: Lose-lose. Ini adalah tipe paling berbahaya.
Mengapa Orang Bodoh Paling Berbahaya?
Cipolla memberikan argumen mengerikan:
1. Tidak bisa diprediksi
Bandit bisa diprediksi karena dia mengikuti kepentingan dirinya. Orang bodoh? Mereka tidak ikuti logika apa pun. Mereka bisa menyerang kapan saja, dari arah mana pun, tanpa alasan yang jelas.
2. Tidak bisa dinegosiasikan
Dengan bandit, Anda bisa bernegosiasi—berikan sesuatu, dapat sesuatu. Dengan orang bodoh? Tidak ada yang bisa Anda tawarkan karena mereka juga menderita dari tindakan mereka sendiri.
3. Tidak bisa dihindari
Mereka ada di mana-mana (Hukum Kedua). Dan Anda tidak bisa deteksi mereka dari kredensial atau penampilan.
4. Damage berlipat ganda
Setiap tindakan bodoh merusak setidaknya DUA orang: korban DAN pelaku sendiri. Jadi kerusakan yang mereka ciptakan menjadi eksponensial.
Cipolla menulis:
"Orang cerdas tahu mereka cerdas. Bandit tahu mereka bandit. Tapi orang bodoh tidak tahu mereka bodoh. Dan itu membuat mereka jauh lebih berbahaya."
Hukum Keempat: Orang yang Tidak Bodoh Selalu Meremehkan Potensi Kerusakan dari Orang Bodoh
Kesalahan Fatal
Bahkan ketika kita tahu seseorang bodoh, kita tetap tidak siap dengan level kerusakan yang mereka bisa buat.
Mengapa?
Alasan 1: Kita Pikir Rasionalitas Punya Batas
Kita pikir: "Oke, dia bodoh. Tapi dia tidak akan SEDEMIKIAN bodohnya sampai menghancurkan dirinya sendiri, kan?"
Salah.
Orang bodoh tidak punya mekanisme keselamatan dari kerusakannya sendiri. Mereka bisa—dan akan—menghancurkan diri mereka sendiri jika itu juga menghancurkan Anda.
Alasan 2: Kita Terlalu Sibuk Waspada pada Bandit
Kita punya radar untuk bandit. Kita waspada pada orang yang mau mengeksploitasi kita.
Tapi orang bodoh? Mereka datang dari blind spot kita. Mereka tidak terlihat seperti ancaman karena mereka juga merusak diri mereka sendiri.
Tapi itu justru yang membuat mereka berbahaya.
Alasan 3: Kita Pikir Kita Bisa "Membantu" Mereka
Ini adalah kesalahan yang sering dilakukan orang baik hati.
Mereka pikir: "Orang ini hanya butuh bimbingan dan arahan. Dia hanya butuh edukasi. Jika saya ajari, dia akan berhenti melakukan hal bodoh."
Tidak.
Cipolla tegas: Anda tidak bisa "memperbaiki" orang bodoh dengan reasoning atau edukasi. Kebodohan bukan karena kurang informasi. Ini adalah mode operasi fundamental.
Contoh Klasik: Perang Dunia I
Jenderal-jenderal dari semua pihak membuat keputusan yang merugikan semua orang:
● Mengirim jutaan pria berbaris ke pawai kematian yang sia-sia
● Menggunakan strategi yang sudah terbukti tidak efektif berkali-kali
● Memperpanjang perang bertahun-tahun tanpa tujuan jelas
Hasilnya:
● 17 juta orang mati
● Ekonomi Eropa hancur
● Tidak ada pihak yang benar-benar "menang"
● Bahkan para jenderal banyak yang kehilangan anak atau kehormatan mereka
Lose-lose klasik.
Dan yang mengerikan: Banyak orang tahu ini bodoh saat itu terjadi. Tapi mereka meremehkan seberapa jauh kebodohan ini akan berlanjut.
Pelajaran Penting
Cipolla memperingatkan:
"Ketika Anda berurusan dengan orang bodoh, jangan pernah berpikir Anda bisa 'mengakali' mereka atau 'mengelola' mereka. Satu-satunya strategi yang aman adalah: Hindari mereka. Jangan memberi mereka kekuasaan. Dan jika mereka sudah punya kekuasaan—lari."
Hukum Kelima: Orang Bodoh Adalah Tipe Orang Paling Berbahaya yang Ada
Perbandingan Ancaman
Cipolla membuat ranking tipe orang dari yang paling tidak berbahaya sampai paling berbahaya:
#4 (Paling Tidak Berbahaya): The Helpless
Mereka merusak diri sendiri tapi menguntungkan Anda. Menjengkelkan? Ya. Merusak bagi masyarakat? Tidak terlalu.
#3: The Intelligent
Mereka berkontribusi positif. Win-win. Ini adalah orang yang kita butuhkan lebih banyak.
#2: The Bandit
Mereka merugikan Anda tapi mereka untung. Buruk, tapi setidaknya bisa diprediksi dan bisa dilawan.
#1 (PALING BERBAHAYA): The Stupid
Mereka merugikan Anda DAN merugikan diri mereka sendiri. Tidak ada yang menang. Semua kalah.
Mengapa Peradaban Runtuh
Cipolla memberikan teori yang menakutkan tentang bangkit dan runtuhnya peradaban:
Masyarakat yang Naik:
● Proporsi tinggi orang cerdas di posisi kekuasaan
● Proporsi rendah orang bodoh di posisi pengambilan keputusan
● Bandit ada, tapi segera diperiksa oleh sistem
Masyarakat yang Runtuh:
● Proporsi tinggi orang bodoh di posisi kekuasaan
● Orang cerdas frustrasi dan mundur
● Bandit dan orang bodoh berkolaborasi tanpa sadar
Aliansi Paling Mengerikan: Bandit + Bodoh
Yang paling merusak adalah ketika bandit memanfaatkan orang bodoh:
Contoh:
● Politisi korup (bandit) memanipulasi pemilih yang tidak berpikir kritis (bodoh)
● CEO serakah (bandit) membuat keputusan yang didukung dewan yang incompetent (bodoh)
● Bandit memobilisasi massa yang fanatik (bodoh)
Dalam kombinasi ini:
● Bandit mendapat apa yang dia mau
● Orang bodoh pikir mereka menang (tapi sebenarnya rugi)
● Masyarakat secara keseluruhan hancur
Dan ini adalah resep untuk runtuhnya peradaban.
Pertanyaan Mengerikan untuk Anda
Cipolla menutup dengan pertanyaan yang menohok:
"Apakah masyarakat Anda saat ini lebih banyak menempatkan orang cerdas atau orang bodoh di posisi kekuasaan?"
Jika Anda tidak bisa menjawab dengan yakin "orang cerdas," maka masyarakat Anda dalam bahaya.
Cara Hidup di Dunia yang Penuh dengan Orang Bodoh
Realitas yang Tidak Bisa Dihindari
Cipolla tidak memberikan solusi ajaib. Tidak ada cara untuk "menghilangkan" kebodohan dari dunia.
Ingat Hukum Kedua: Proporsi orang bodoh adalah konstanta. Mereka ada di mana-mana, dan tidak ada sistem yang bisa menyaring mereka sepenuhnya.
Tapi ada strategi untuk bertahan—dan mungkin malah membuat kita melaju—di dunia yang penuh dengan orang bodoh.
Strategi 1: Kenali Tipenya—Jangan Salah Kategori
Kesalahan umum: Mengira orang bodoh adalah bandit.
Jika Anda pikir seseorang adalah bandit, Anda akan mencoba bernegosiasi atau mengalahkan mereka. Ini tidak akan bekerja dengan orang bodoh.
Cara membedakan:
Bandit: Ada motif rasional. Ada kalkulasi untung rugi. Bisa diprediksi.
Bodoh: Tidak ada motif jelas. Merusak diri sendiri juga. Tidak bisa diprediksi.
Strategi 2: Minimal Engagement
Prinsip emas: Semakin sedikit Anda berurusan dengan orang bodoh, semakin baik. Jangan mencoba untuk:
● "Menyelamatkan" mereka
● "Mengajari" mereka
● "Mengubah" mereka
Anda tidak bisa. Dan usaha Anda akan sia-sia dan menguras energi.
Strategi 3: Bangun Sistem Defense
Di level personal:
● Jangan beri orang bodoh kekuasaan atas hidup Anda
● Jangan bergantung pada mereka untuk hal-hal penting
● Punya rencana cadangan
Di level organisasi:
● Checks and balances untuk mencegah satu orang bodoh menghancurkan semuanya
● Sistem review dari tim selevel
● Mekanisme akuntabilitas
Strategi 4: Aliansi dengan Orang Cerdas
Ini adalah strategi paling penting.
Cipolla menulis: "Dalam masyarakat yang mundur, orang cerdas menjadi lebih dan lebih terisolasi. Dalam masyarakat yang maju, orang cerdas bekerja sama."
Cari dan berkolaborasi dengan orang-orang yang:
● Membuat situasi win-win
● Berkontribusi positif
● Rasional dan bisa diprediksi
Dalam bentuk kelompok, orang cerdas bisa mengimbangi daya rusak dari orang bodoh.
Strategi 5: Jangan Menjadi Orang Bodoh Sendiri
Ini adalah yang paling sulit—dan paling penting.
Pertanyaan reflektif:
1. Apakah tindakan saya merugikan orang lain tanpa menguntungkan saya?
○ Contoh: Gosip yang tidak ada gunanya
2. Apakah saya membuat keputusan yang merugikan saya sendiri DAN orang lain?
○ Contoh: Resign dari pekerjaan tanpa rencana karena emosi sesaat
3. Apakah saya bertindak tanpa berpikir konsekuensi untuk semua pihak?
○ Contoh: Balas dendam yang akhirnya merugikan semua orang
Red flags bahwa Anda mungkin sedang bodoh:
● Anda bertindak dari emosi murni tanpa jeda waktu untuk berpikir logis
● Anda tidak peduli siapa yang terluka—termasuk diri Anda sendiri
● Anda tidak bisa menjelaskan mengapa Anda melakukan sesuatu selain "rasanya benar"
Strategi 6: Vote dan Hire dengan Hati-hati
Ini adalah level tertinggi dari tanggung jawab.
Ketika Anda punya kekuasaan untuk memilih atau mempekerjakan orang:
Jangan pilih berdasarkan:
● Karisma
● Popularitas
● Janji-janji manis
● Kredensial saja
Pilih berdasarkan:
● Track record dari keputusan win-win
● Bukti mereka tidak merusak orang untuk kepentingan diri sendiri
● Kemampuan berpikir jangka panjang
● Pola dari tindakan masa lalu mereka
Ingat: Kredensial tidak melindungi orang dari kebodohan (Hukum Kedua).
Penutup: Ancaman yang Tidak Terlihat
Carlo Cipolla menutup esainya dengan peringatan yang mengerikan:
"Alasan utama mengapa kehidupan manusia di Bumi tidak bisa mencapai potensi penuhnya dan tidak bisa mencapai kebahagiaan yang semestinya adalah karena ada terlalu banyak orang bodoh di dunia, dan mereka tidak terdistribusi secara geografis, etnis, atau sosial-ekonomis—mereka ada DI MANA-MANA."
Mengapa Ini Bukan Hanya Satir
Ketika Cipolla menulis ini tahun 1976, dia pikir dia menulis satir.
Tapi selama 50 tahun terakhir, kita telah melihat:
● Krisis finansial 2008 (keputusan bodoh dari orang-orang "terpintar" di Wall Street)
● Invasi Iraq 2003 (strategi yang merugikan semua pihak)
● Perubahan iklim yang diabaikan (merusak planet DAN ekonomi masa depan)
● Polarisasi politik yang merusak semua pihak
● Pandemi di mana keputusan bodoh membuat semua orang rugi
Pola yang konsisten: Orang dengan kekuasaan membuat keputusan yang merugikan semua orang—termasuk diri mereka sendiri
Pertanyaan Terakhir untuk Anda
1. Di area hidup Anda, siapa yang sedang bertindak bodoh?
● Apakah Anda memberi mereka terlalu banyak kekuasaan?
● Apakah Anda meremehkan daya rusak yang bisa mereka buat?
2. Apakah Anda sendiri pernah bodoh?
● Kapan terakhir kali Anda membuat keputusan yang merugikan Anda DAN orang lain?
● Apa polanya?
3. Siapa orang cerdas dalam hidup Anda?
● Apakah Anda cukup berkolaborasi dengan mereka?
● Apakah Anda membantu mereka untuk punya lebih banyak pengaruh?
4. Dalam sistem yang Anda ikuti—pekerjaan, politik, komunitas—apakah orang cerdas atau orang bodoh yang punya lebih banyak kekuasaan?
Jika jawaban Anda adalah orang bodoh, maka:
● Sistem itu dalam bahaya
● Anda perlu strategi exit atau strategi untuk mengubah sistemnya
Pesan Akhir: Harapan yang Realistis
Cipolla tidak optimis. Tapi dia juga tidak sepenuhnya pesimis.
Dia menulis:
"Keberadaan orang bodoh tidak bisa kita kendalikan. Tapi apa yang bisa kita kendalikan adalah seberapa banyak kekuasaan yang kita beri pada mereka. Di situ lah kita punya peran"
Kita tidak bisa menghilangkan orang bodoh dari dunia.
Tapi kita bisa:
● Tidak memilih mereka
● Tidak mempromosikan mereka
● Tidak membiarkan mereka mengambil keputusan yang berdampak bagi banyak orang
● Melindungi diri kita dari daya rusak mereka
● Berkolaborasi dengan orang cerdas untuk menyeimbangkan daya rusak mereka
Dan—yang paling penting—kita bisa berusaha untuk tidak menjadi orang bodoh sendiri.
Seperti Cipolla katakan di paragraf terakhir:
"Pertempuran melawan kebodohan adalah pertempuran yang tidak akan pernah selesai. Tapi itu bukan alasan untuk tidak bertarung."
Jadi:
Pilih dengan bijak siapa yang Anda beri kepercayaan.
Bangun sistem yang meminimalisir daya rusak dari kebodohan.
Aliansi dengan orang cerdas.
Dan—yang paling penting—cek diri Anda sendiri.
Karena seperti yang Cipolla ingatkan: Setiap orang bisa menjadi bodoh pada momen tertentu.
Yang membedakan orang cerdas dari orang bodoh bukanlah tidak pernah salah.
Yang membedakan adalah kesadaran, tanggung jawab, dan kemauan untuk belajar dan menyesuaikan diri.
Selamat bertarung melawan kebodohan—dimulai dari dalam diri Anda sendiri.
Tentang Buku Asli
"The Basic Laws of Human Stupidity" pertama kali ditulis pada tahun 1976 oleh Carlo M. Cipolla, seorang ekonom Italia yang mengajar di University of California, Berkeley.
Awalnya ditulis dalam bahasa Inggris sebagai esai pendek untuk dibagikan pada teman-teman sebagai hadiah Natal. Cipolla mencetak hanya beberapa ratus eksemplar dan tidak pernah berniat menerbitkannya secara komersial.
Tapi esai itu bocor, beredar, dan menjadi kultus. Setelah kematian Cipolla tahun 2000, keluarganya akhirnya setuju untuk publikasi komersial.
Buku ini sangat pendek—hanya sekitar 60 halaman dalam edisi cetak. Tapi setiap halaman penuh dengan insight yang tajam, lucu, dan menakutkan.
Untuk pemahaman lengkap tentang logika matematika di balik teori Cipolla dan contoh-contoh sejarah yang dia gunakan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Buku ini bisa dibaca dalam satu kali duduk—tapi ide-idenya akan tinggal di kepala Anda selamanya.
Ringkasan ini menangkap Five Laws dan aplikasinya, tetapi humor dan ide brilian Cipolla dalam menulis hanya bisa dirasakan dari teks aslinya.
Sekarang pergilah dan amati dunia dengan lensa Cipolla.
Anda akan tertawa. Lalu Anda akan menangis. Lalu Anda akan bertindak lebih bijak.
Karena seperti Cipolla katakan: "Kesadaran adalah langkah pertama dari pertahanan akan kebodohan."
Dan sekarang Anda sadar.

