Pasien yang Mengubah Segalanya
Dr. Daniel Siegel duduk di ruang praktiknya, berhadapan dengan seorang pria berusia 32 tahun bernama John.
John datang dengan keluhan yang sama seperti banyak orang: cemas, depresi, hubungan yang berantakan, tidak bisa tidur. Dia sudah mencoba terapi selama bertahun-tahun. Sudah minum berbagai obat. Tidak ada yang bekerja dengan baik.
"Saya merasa seperti hidup di dalam kabut," kata John. "Saya tidak tahu siapa saya sebenarnya. Saya hanya bereaksi pada setiap hal tanpa kontrol."
Siegel bertanya pertanyaan sederhana: "John, ketika kamu merasa cemas, dapatkah kamu melihat kecemasan itu? Maksud saya, bisakah kamu mundur satu langkah dan mengamati kecemasan itu, alih-alih menjadi kecemasan itu?"
John terdiam. Bingung.
"Saya... tidak mengerti maksud Anda, Dok. Saya adalah cemas. Bagaimana saya bisa melihatnya?"
Dan di situlah Siegel menyadari sesuatu yang profound:
Kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka bisa mengamati pikiran mereka sendiri. Mereka pikir mereka adalah pikiran mereka.
Ini seperti menonton film tapi lupa bahwa Anda sedang di bioskop. Anda begitu tenggelam dalam cerita sampai Anda lupa ada layar, ada proyektor, ada Anda yang duduk di kursi. Anda pikir Anda adalah karakter di film itu.
Siegel mulai mengajarkan John sesuatu yang dia sebut "Mindsight"—kemampuan untuk melihat ke dalam pikiran sendiri, mengamati proses mental kita tanpa terjebak di dalamnya.
Dalam enam bulan, John berubah total. Tidak hanya berkurang kecemasannya—dia menjadi orang yang berbeda. Lebih tenang. Lebih hadir. Lebih mampu mengelola emosi dan hubungan.
Apa yang terjadi? Otaknya benar-benar berubah.
Dan yang paling menakjubkan: Perubahan itu bisa diukur dengan brain scan.
Buku "Mindsight" adalah tentang bagaimana kita bisa secara sengaja mengubah struktur otak kita—dan dengan itu, mengubah kehidupan kita.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Apa Itu Mindsight?
Tiga Cara Melihat
Siegel menjelaskan ada tiga jenis "sight" atau penglihatan:
1. Eyesight (Penglihatan Mata)
Anda melihat dunia di luar: orang, objek, pemandangan.
2. Insight (Wawasan)
Anda memahami diri sendiri: motivasi, pola perilaku, mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan.
3. Mindsight (Penglihatan Pikiran)
Anda mengamati proses pikiran Anda saat terjadi—seperti punya kamera di dalam kepala yang merekam bagaimana pikiran, emosi, dan sensasi muncul dan berlalu.
Mengapa Ini Penting?
Kebanyakan orang hidup dalam salah satu dari dua ekstrem:
Ekstrem 1: Chaos (Kekacauan)
Pikiran Anda seperti badai. Emosi meluap-luap. Satu momen Anda marah meledak, momen berikutnya Anda panik. Anda tidak punya kontrol. Anda reaktif.
Contoh: Seseorang mengatakan sesuatu yang menyinggung, dan Anda langsung berteriak tanpa berpikir.
Ekstrem 2: Rigidity (Kekakuan)
Pikiran Anda seperti es. Anda mati rasa. Tidak merasakan apa-apa. Anda disconnect dari emosi Anda sendiri. Anda seperti robot.
Contoh: Istri Anda menangis, tapi Anda tidak merasakan apa-apa. "Apa masalahnya? Ini tidak logis."
Zona Optimal: Window of Tolerance
Di tengah-tengah chaos dan rigidity ada Window of Tolerance—zona di mana Anda cukup tenang untuk berpikir jernih, tapi cukup connected untuk merasakan emosi.
Di zona ini:
● Anda bisa merasakan marah tanpa meledak
● Anda bisa sedih tanpa overwhelmed
● Anda bisa berpikir jernih bahkan dalam stress
Mindsight adalah keterampilan yang membawa Anda kembali ke Window of Tolerance ketika Anda keluar darinya.
Cerita Siegel Sendiri
Siegel jujur tentang bagaimana dia menemukan Mindsight—dari perjuangannya sendiri.
Sebagai mahasiswa kedokteran, dia sangat perfeksionis. Dia tidak bisa menerima kesalahan. Satu kesalahan kecil, dan dia bisa menyiksa dirinya sendiri berhari-hari.
Suatu hari, setelah insiden di rumah sakit yang membuatnya merasa sangat bersalah, dia hampir collapse. Dia mencari terapis yang mengajarkan dia sesuatu yang revolutionary:
"Kamu bukan pikiran kamu. Kamu adalah orang yang mengamati pikiran itu."
Pertama kali dia mendengar ini, seperti John, dia bingung. Tapi perlahan dia belajar untuk mundur dari pikiran-pikiran negatifnya dan hanya mengamatinya.
"Oh, ada pikiran 'Saya bodoh.' Menarik. Dari mana itu datang?"
Alih-alih melawan pikiran itu atau percaya sepenuhnya padanya, dia hanya... melihatnya. Seperti awan yang lewat di langit.
Dan dengan itu, power pikiran itu memudar.
Bagian 2: Triangle of Well-Being
Tiga Pilar Kesehatan Mental
Siegel menemukan bahwa kesehatan mental bergantung pada integrasi tiga elemen:
1. Mind (Pikiran)
Proses mental Anda: pikiran, emosi, persepsi, ingatan
2. Brain (Otak)
Organ fisik yang memproses informasi: neuron, neurotransmitter, struktur otak
3. Relationships (Hubungan)
Koneksi Anda dengan orang lain: keluarga, teman, pasangan, komunitas
Insight kunci: Ketiganya saling mempengaruhi.
● Pikiran mengubah otak: Ketika Anda bermeditasi, struktur otak berubah (neuroplasticity)
● Otak mempengaruhi pikiran: Ketika otak Anda tidak cukup tidur, pikiran Anda negatif
● Hubungan membentuk otak: Anak yang tumbuh dengan attachment yang aman punya otak yang lebih resilient
● Otak mempengaruhi hubungan: Trauma di masa lalu (di-encode di otak) membuat Anda sulit trust orang
Kasus Barbara: Trauma yang Tersimpan di Otak
Barbara datang ke Siegel dengan keluhan panic attacks yang tidak bisa dijelaskan. Tidak ada trigger jelas. Tiba-tiba saja jantung berdebar, tidak bisa bernapas, merasa seperti akan mati.
Melalui terapi, Siegel membantu Barbara menggunakan Mindsight untuk "melihat ke dalam" tubuhnya—mengamati sensasi tanpa judgment.
Perlahan, ingatan yang terlupakan muncul: Saat dia berusia 3 tahun, dia hampir tenggelam di kolam renang. Tidak ada yang mengingat kejadian ini dengan jelas—terlalu muda. Tapi otak tubuhnya mengingat.
Setiap kali ada trigger kecil—bau chlorine, suara percikan air, bahkan berada di ruangan lembab—otak reptilnya (amygdala) menyala dengan alarm: "BAHAYA! Kamu akan tenggelam!"
Tapi pikiran sadarnya tidak tahu mengapa. Jadi dia panic tanpa konteks.
Solusi: Melalui Mindsight, Barbara belajar untuk:
1. Name it to tame it: "Oh, ini adalah panic yang datang dari ingatan lama. Saya tidak benar-benar dalam bahaya sekarang."
2. SIFT: Mengamati Sensations (jantung berdebar), Images (air), Feelings (takut), Thoughts ("Saya akan mati") tanpa terjebak di dalamnya
3. Integration: Menghubungkan otak rasionalnya dengan otak emosionalnya untuk memproses trauma
Dalam beberapa bulan, panic attacks berkurang drastis. Tidak hilang 100%—tapi sekarang dia punya tools untuk mengelolanya.
Bagian 3: Integration—Kunci Kesehatan Mental
Apa Itu Integration?
Integration = Berbagai bagian otak bekerja sama secara harmonis.
Ketika otak terintegrasi:
● Korteks prefrontal (otak rasional) dan amygdala (otak emosional) berkomunikasi dengan baik
● Otak kiri (logika) dan otak kanan (emosi) seimbang
● Anda bisa berpikir dan merasakan pada saat yang sama
Ketika otak tidak terintegrasi:
● Anda stuck di satu mode: semua emosi (chaos) atau semua logika (rigidity)
● Amygdala hijacking: otak emosional take over tanpa input dari otak rasional
● Anda tidak bisa akses memori atau pikiran rasional saat emosional
Sembilan Domain Integration
Siegel mengidentifikasi 9 area yang perlu diintegrasikan:
1. Integration of Consciousness
Awareness terhadap apa yang terjadi di pikiran Anda saat ini
2. Bilateral Integration
Otak kiri (logika, bahasa) dengan otak kanan (emosi, intuisi)
3. Vertical Integration
Otak reptil (survival) → otak mamalia (emosi) → neokorteks (reasoning)
4. Memory Integration
Menghubungkan ingatan masa lalu dengan present moment tanpa terjebak di masa lalu
5. Narrative Integration
Punya cerita hidup yang koheren—memahami bagaimana masa lalu membentuk Anda tanpa didefinisikan olehnya
6. State Integration
Bisa beradaptasi dengan berbagai state of mind (calm, excited, stressed) tanpa stuck di satu state
7. Interpersonal Integration
Punya boundaries yang sehat: tidak terlalu enmeshed atau terlalu isolated dari orang lain
8. Temporal Integration
Bisa hadir di present sambil belajar dari past dan planning untuk future
9. Transpirational Integration
Merasa connected dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri (bisa spiritual atau sekadar bagian dari komunitas/alam)
Poin kunci: Anda tidak perlu sempurna di semua 9 domain. Tapi semakin banyak area yang terintegrasi, semakin sehat mental Anda.
Bagian 4: Window of Tolerance—Zona Ajaib
Analogi Termometer
Bayangkan otak Anda seperti termometer:
Terlalu Panas (Hyperarousal - Chaos)
● Panic, rage, anxiety
● Detak jantung cepat, berkeringat
● Fight or flight mode
● Tidak bisa berpikir jernih
Terlalu Dingin (Hypoarousal - Rigidity)
● Mati rasa, dissociasi, depresi
● Shutdown, tidak bisa merasakan apa-apa
● Freeze mode
● Disconnect dari tubuh dan emosi
Suhu Optimal (Window of Tolerance)
● Calm but alert
● Bisa merasakan emosi tanpa overwhelmed
● Bisa berpikir jernih sambil tetap connected dengan feelings
● Optimal functioning
Apa yang Menentukan Ukuran Window Anda?
Faktor yang mempersempit Window:
● Trauma masa lalu yang tidak diproses
● Kurang tidur, nutrisi buruk
● Stress kronis
● Tidak ada support system
● Childhood dengan attachment yang tidak aman
Faktor yang memperlebar Window:
● Praktik mindfulness/meditasi
● Terapi yang baik
● Hubungan yang sehat dan supportive
● Self-care: tidur cukup, olahraga, nutrisi baik
● Belajar emotional regulation skills
Good news: Window of Tolerance bisa diperlebar melalui praktik.
Bagian 5: SIFT—Tool untuk Mindsight
Teknik Dasar
Ketika Anda merasa overwhelmed atau disconnected, gunakan SIFT:
S - Sensations (Sensasi)
Apa yang Anda rasakan di tubuh?
"Ada tekanan di dada saya. Napas saya pendek. Otot bahu saya tegang."
I - Images (Gambaran)
Apa gambar atau memori yang muncul?
"Saya melihat wajah bos saya yang marah. Ada flashback saat ayah saya berteriak."
F - Feelings (Perasaan)
Apa emosi yang hadir?
"Takut. Malu. Marah. Sedih."
T - Thoughts (Pikiran)
Apa yang pikiran Anda katakan?
"Saya tidak cukup baik. Saya akan dipecat. Saya bodoh."
Kunci: Anda tidak mencoba mengubah atau menghilangkan SIFT. Anda hanya mengamatinya.
Seperti ilmuwan yang mengamati eksperimen. Tidak ada yang perlu "diperbaiki." Hanya diamati dengan curiosity.
Mengapa Ini Bekerja?
Ketika Anda tenggelam dalam emosi:
"Saya adalah kegagalan!" → Anda identified dengan pikiran itu.
Ketika Anda mengamati dengan SIFT:
"Oh, ada pikiran 'Saya adalah kegagalan' yang muncul." → Anda memisahkan diri dari pikiran itu.
Pemisahan ini menciptakan space. Dan di space itu, Anda punya pilihan untuk merespons alih-alih bereaksi.
Bagian 6: Name It to Tame It
Kekuatan Memberi Nama
Siegel menemukan penelitian neurologis yang menakjubkan:
Ketika Anda memberi nama pada emosi ("Saya merasa cemas"), aktivitas amygdala (pusat ketakutan di otak) menurun secara signifikan.
Hanya dengan memberi label verbal pada apa yang Anda rasakan, otak rasional (prefrontal cortex) mulai menenangkan otak emosional.
Cara Melakukannya
Buruk: Judgment
"Saya bodoh karena merasa cemas. Ini tidak masuk akal. Saya harus berhenti."
Baik: Observasi
"Saya notice ada kecemasan di sini. Menarik. Dari mana ini datang?"
Lebih baik: Spesifik
"Ini bukan hanya 'cemas.' Ini adalah campuran dari takut, khawatir tentang masa depan, dan ada sedikit rasa malu di situ juga."
Semakin spesifik label Anda, semakin efektif.
Praktik dengan Anak
Siegel memberikan contoh powerful bagaimana parents bisa mengajarkan ini:
Anak tantrum, menangis, melempar mainan.
Respons buruk:
"Berhenti menangis! Kamu tidak boleh marah seperti ini!"
Respons dengan Mindsight:
"Kamu terlihat sangat marah dan frustrasi. Sepertinya adik mengambil mainanmu dan kamu merasa itu tidak adil. Wajar kalau kamu marah."
Anak mungkin masih menangis. Tapi ada yang berbeda: Dia merasa didengar dan dipahami. Dan dengan itu, intensitas emosi mulai menurun.
Bonus: Anda mengajarkan dia emotional vocabulary yang akan dia gunakan seumur hidup.
Bagian 7: Neuroplasticity—Otak Bisa Berubah
Dogma Lama vs Realitas Baru
Dogma lama:
"Otak tidak berubah setelah childhood. Anda stuck dengan otak yang Anda punya."
Realitas baru (dari neuroscience):
"Otak terus berubah sepanjang hidup berdasarkan apa yang Anda lakukan dan pikirkan. Ini disebut neuroplasticity."
Bukti Nyata
Penelitian pada Taxi Drivers London:
Hippocampus mereka (area otak untuk navigasi spasial) jauh lebih besar daripada orang biasa. Mengapa? Karena mereka menghabiskan ribuan jam menghapal peta London.
Penelitian pada Meditators:
Orang yang meditasi 30 menit/hari selama 8 minggu menunjukkan:
● Penebalan cortex di area terkait attention dan emotional regulation
● Pengurangan ukuran amygdala (area ketakutan)
● Peningkatan koneksi antara prefrontal cortex dan amygdala
Artinya: Anda bisa literaly mengubah struktur otak Anda dengan praktik.
Apa yang Perlu Anda Lakukan?
1. Attention
Ke mana attention Anda pergi, di situ neuron akan tumbuh. Jika Anda fokus pada hal negatif sepanjang hari, otak Anda akan wire untuk negativity. Jika Anda fokus pada gratitude, otak Anda wire untuk positivity.
2. Repetition
Sekali dua kali tidak cukup. Neurons that fire together, wire together. Butuh repetisi konsisten.
3. Time
Perubahan tidak instan. Tapi 8-12 minggu praktik konsisten bisa menghasilkan perubahan struktural yang terukur.
Bagian 8: Praktik Mindsight Harian
1. Wheel of Awareness (Roda Kesadaran)
Bayangkan pikiran Anda seperti roda sepeda:
Hub (pusat roda) = Kesadaran Anda—yang mengamati
Spokes (jari-jari) = Attention Anda yang bisa diarahkan
Rim (tepi roda) = Semua yang bisa Anda amati (sensasi, pikiran, emosi, dll.)
Praktik:
● Duduk tenang 10 menit
● Mulai dari hub: "Saya adalah kesadaran yang mengamati"
● Arahkan attention ke berbagai bagian rim:
○ 5 indera (apa yang Anda lihat, dengar, cium, rasa, sentuh)
○ Sensasi internal tubuh
○ Pikiran yang datang dan pergi
○ Emosi yang hadir
○ Sense of connection dengan orang lain
Tujuan: Melatih kemampuan untuk memindahkan attention dengan sengaja, alih-alih attention Anda terjebak pada satu hal (anxiety, worry, rumination).
2. Safe Place Visualization
Langkah:
1. Tutup mata
2. Bayangkan tempat di mana Anda merasa benar-benar aman dan tenang (bisa nyata atau imajiner)
3. Gunakan semua indera: Apa yang Anda lihat? Dengar? Cium? Rasakan di kulit?
4. Rasakan sensasi keamanan di tubuh Anda
5. Anchor sensasi ini: "Ini adalah feeling aman."
Kapan digunakan:
Ketika Anda merasa triggered atau mulai keluar dari Window of Tolerance, kembali ke visualisasi ini untuk me-regulate nervous system.
3. SIFT Journal
Setiap malam, tulis:
● Sensations: "Hari ini saya notice ada tension di bahu saya sepanjang hari."
● Images: "Saya terus melihat gambaran deadline yang mendekat."
● Feelings: "Cemas, sedikit kewalahan, tapi juga ada excitement."
● Thoughts: "Pikiran bahwa 'saya tidak akan selesai tepat waktu' terus muncul."
Jangan analyze atau fix. Hanya observe.
4. Name It to Tame It Practice
Ketika emosi kuat muncul:
1. Pause (jangan langsung react)
2. Take 3 deep breaths
3. Name the emotion dengan spesifik: "Ini adalah frustrasi yang dicampur dengan rasa tidak dihargai."
4. Notice di mana di tubuh Anda merasakan ini
5. Allow it to be there tanpa fight atau suppress
6. Watch it shift (emosi selalu berubah jika diberi space)
Bagian 9: Mindsight dalam Hubungan
Attunement—Menyelaraskan Diri dengan Orang Lain
Attunement = Kemampuan untuk "merasakan" apa yang orang lain rasakan dan merespons dengan tepat.
Ini bukan mind reading. Ini adalah:
● Listening dengan presence penuh
● Observing bahasa tubuh, tone, ekspresi
● Feeling tanpa judgment
● Responding dengan empathy
Cerita Pasangan yang Putus Sambung
Mark dan Sarah datang untuk terapi pasangan. Masalah mereka klise: "Dia tidak pernah mendengarkan saya!"
Siegel mengamati mereka berdiskusi:
Sarah: "Saya merasa kesepian dalam pernikahan ini."
Mark: "Tapi saya sudah bekerja keras untuk keluarga! Apa lagi yang kamu mau?" Sarah tidak merasa didengar. Mark defensif.
Apa yang terjadi?
Mark tidak punya Mindsight untuk dirinya sendiri (dia disconnect dari emosinya sendiri), jadi dia tidak bisa attune dengan Sarah.
Praktik yang Siegel ajarkan:
Step 1: Mark belajar SIFT untuk dirinya sendiri
"Oh, ketika Sarah bilang dia kesepian, saya merasakan tightness di dada saya. Ada pikiran 'Saya gagal sebagai suami.' Itu membuat saya defensif."
Step 2: Mark belajar attune dengan Sarah
Alih-alih langsung defend, dia pause dan coba merasakan apa yang Sarah rasakan. "Kesepian... kalau saya di posisi dia, saya akan merasa diabaikan meskipun dia tahu saya care."
Step 3: Respons dengan attunement
"Sarah, saya dengar kamu merasa kesepian. Itu pasti sakit. Saya minta maaf kalau aku tidak hadir meskipun aku ada di rumah. Ceritakan lebih banyak tentang apa yang kamu butuhkan."
Result: Sarah merasa didengar. Dan hanya itu—feeling didengar—sudah mengubah dinamika.
Integration dalam relationships = Menghormati perbedaan sambil tetap connected.
Penutup: Mindsight Adalah Perjalanan
Siegel menutup buku dengan refleksi personal:
"Mindsight bukan tentang menjadi sempurna. Saya masih kadang keluar dari Window of Tolerance saya. Saya masih kadang reaktif dengan anak-anak saya. Saya masih kadang lupa untuk SIFT ketika stress."
"Tapi sekarang saya punya awareness ketika itu terjadi. Dan awareness itu memberi saya pilihan untuk kembali."
Itulah inti dari Mindsight: Bukan perfection, tapi awareness dan return.
Pertanyaan Reflektif
1. Seberapa sering Anda "menjadi" emosi Anda vs "mengamati" emosi Anda?
Ketika Anda marah, apakah Anda berpikir "Saya ADALAH marah" atau "Saya merasakan kemarahan hadir"?
2. Seberapa lebar Window of Tolerance Anda?
Butuh sedikit stress untuk membuat Anda panic? Atau Anda bisa stay calm dalam pressure tinggi?
3. Bagian mana dari Triangle Anda yang terabaikan?
● Mind: Apakah Anda aware terhadap pola pikiran Anda?
● Brain: Apakah Anda care terhadap kesehatan otak (tidur, nutrisi, olahraga)?
● Relationships: Apakah Anda punya koneksi yang authentic dan supportive?
Starting Point
Mulai dari yang kecil:
Minggu 1: Name It Practice
Setiap kali emosi kuat muncul, pause dan katakan: "Ini adalah [nama emosi]."
Minggu 2: SIFT Journal
Setiap malam, 5 menit menulis Sensations, Images, Feelings, Thoughts dari hari itu.
Minggu 3: Wheel of Awareness
10 menit setiap pagi, praktik menggerakkan attention Anda ke berbagai "rim."
Minggu 4: Integration Check
Reflect: "Di mana saya merasa terintegrasi (calm, connected, clear)? Di mana saya merasa tidak terintegrasi (chaos atau rigid)?"
Dalam 8-12 minggu praktik konsisten, Anda akan mulai notice perubahan—tidak hanya dalam bagaimana Anda merasa, tapi dalam bagaimana otak Anda bekerja.
Pesan Terakhir
Siegel menulis:
"Kita semua memiliki kemampuan untuk Mindsight. Ini bukan hadiah khusus untuk beberapa orang. Ini adalah birthright manusia. Tapi seperti otot, jika tidak dilatih, kemampuan ini melemah."
"The good news: Tidak pernah terlambat untuk mulai. Otak Anda mampu berubah sampai Anda mati. Setiap moment adalah kesempatan untuk membuat pilihan yang berbeda."
Jadi mulailah hari ini. Tidak perlu perfect. Tidak perlu dramatic.
Hanya mulai dengan satu napas. Satu observasi. Satu moment awareness.
Karena di situlah transformasi dimulai—bukan dalam resolusi besar atau goals ambisius, tapi dalam kesediaan untuk melihat apa yang ada.
Dan ketika Anda mulai melihat dengan jelas—melihat pikiran Anda, pola Anda, emosi Anda—Anda baru menyadari:
Anda bukan badai. Anda adalah langit di mana badai terjadi.
Dan langit itu selalu tenang, selalu luas, selalu ada—tidak peduli seberapa kacau badainya.
Selamat melatih Mindsight Anda.
Tentang Buku Asli
"Mindsight: The New Science of Personal Transformation" diterbitkan pada tahun 2010 dan menjadi New York Times bestseller.
Dr. Daniel J. Siegel adalah Clinical Professor of Psychiatry di UCLA School of Medicine, pendiri Mindsight Institute, dan salah satu pelopor interpersonal neurobiology—bidang yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk memahami pikiran dan hubungan manusia.
Siegel telah menulis lebih dari 15 buku termasuk "The Whole-Brain Child," "Brainstorm," dan "The Developing Mind." Karyanya telah mengubah cara kita memahami otak, trauma, parenting, dan kesehatan mental.
Untuk pemahaman mendalam tentang neuroscience di balik Mindsight, berbagai case studies, dan praktik-praktik lengkap, sangat disarankan membaca buku aslinya. Buku ini penuh dengan penelitian ilmiah, brain diagrams, dan detailed exercises yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Ringkasan ini memberikan esensi dari konsep-konsep utama, tetapi perjalanan sejati dengan Mindsight memerlukan praktik—dan buku asli adalah panduan terbaik untuk perjalanan itu.
Sekarang pergilah dan mulai melihat—benar-benar melihat—apa yang terjadi di dalam pikiran Anda.
Karena seperti yang Siegel katakan: "Sight gives us the world. Insight gives us ourselves. Mindsight gives us each other—and the chance to transform our lives from the inside out."

