Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Seorang pasien datang ke kantor Dr. Daniel Siegel. Sebut saja dia Amanda, 35 tahun, sukses dalam karir, cerdas, mandiri.
"Saya tidak mengerti," katanya. "Saya sudah punya segalanya—pekerjaan bagus, apartemen bagus, uang cukup. Tapi saya merasa... kosong. Seperti ada yang hilang."
Dr. Siegel bertanya, "Ceritakan tentang hubungan Anda."
Amanda terdiam. "Saya... tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Saya lebih suka sendiri. Saya tidak butuh orang lain."
"Tidak butuh? Atau takut?"
Pertanyaan itu menghantam seperti bom.
Amanda mulai menangis—untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. "Ketika saya kecil, ayah saya meninggal. Ibu saya... dia shutdown. Dia ada secara fisik, tapi tidak secara emosional. Saya belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun. Saya belajar untuk tidak membutuhkan."
Dr. Siegel mengangguk. "Dan sekarang otak Anda berpikir bahwa untuk bertahan, Anda harus sendirian. Tapi inilah yang ilmu saraf katakan: Otak kita dibangun untuk terhubung. Isolasi bukanlah kekuatan—itu adalah luka yang belum sembuh."
Selama lebih dari 30 tahun, Dr. Daniel Siegel—psikiater, profesor di UCLA, dan pendiri bidang interpersonal neurobiology—telah meneliti satu pertanyaan fundamental:
Bagaimana hubungan membentuk siapa kita?
Dan jawabannya mengubah cara kita memahami pikiran, otak, dan apa artinya menjadi manusia:
Kita tidak dilahirkan sebagai individu yang lengkap yang kemudian memilih untuk berhubungan. Kita dilahirkan melalui hubungan, dibentuk oleh hubungan, dan menjadi diri kita yang paling utuh dalam hubungan.
Atau dalam kata-kata Siegel: "Tidak ada 'aku' tanpa 'kita'."
Buku ini bukan hanya tentang hubungan romantis. Ini tentang bagaimana setiap interaksi—dengan orang tua, teman, rekan kerja, bahkan orang asing di kafe—secara harfiah membentuk struktur otak kita.
Mari kita masuki dunia yang luar biasa dari "neurobiologi kita."
Bagian 1: Segitiga Kesejahteraan—Pikiran, Otak, Hubungan
Tiga Sudut yang Saling Membentuk
Siegel memulai dengan framework yang mengubah cara kita memahami diri kita sendiri: Triangle of Well-being.
PIKIRAN (Mind)
/\
/ \
/ \
/ \
OTAK ------- HUBUNGAN
Tiga elemen ini tidak terpisah. Mereka saling membentuk dalam tarian yang konstan:
Otak adalah organ fisik—neuron, sinapsis, struktur.
Pikiran adalah proses—pikiran, perasaan, kesadaran, cara kita mengatur aliran energi dan informasi.
Hubungan adalah bagaimana kita berbagi aliran energi dan informasi itu dengan orang lain.
Inilah yang luar biasa: Setiap sudut mempengaruhi dua sudut lainnya.
Contoh: Bagaimana Ini Bekerja
Bayangkan Anda punya atasan yang selalu mengkritik dan tidak pernah mengapresiasi.
Hubungan yang toxic ini mengaktifkan otak Anda dalam mode ancaman—amygdala terus-menerus on alert, kortisol tinggi, sistem fight-or-flight aktif.
Ini kemudian membentuk pikiran Anda—Anda menjadi cemas, tidak percaya diri, sulit fokus, tegang.
Sekarang pikiran yang cemas ini mempengaruhi otak Anda lebih lanjut—struktur otak yang bertanggung jawab untuk ketenangan (prefrontal cortex) menjadi kurang aktif.
Dan ini mempengaruhi hubungan Anda—Anda menjadi lebih defensif, lebih sulit terhubung dengan orang lain, lebih isolated.
Spiral ke bawah.
Tapi ini juga bekerja sebaliknya.
Bayangkan Anda punya teman yang benar-benar mendengarkan Anda, membuat Anda merasa aman dan dihargai.
Hubungan yang aman ini menenangkan otak Anda—amygdala down-regulate, oxytocin meningkat, sistem saraf parasimpatik aktif.
Ini membentuk pikiran Anda—Anda merasa lebih tenang, lebih terbuka, lebih mampu berpikir jernih.
Pikiran yang tenang ini mempengaruhi otak Anda—prefrontal cortex lebih terintegrasi, area untuk empati dan resonansi lebih aktif.
Dan ini meningkatkan hubungan Anda—Anda lebih mampu hadir untuk orang lain, lebih empati, lebih terhubung.
Spiral ke atas.
Pelajaran kunci: Anda tidak bisa memisahkan "diri Anda" dari hubungan Anda. Secara literal, hubungan membentuk siapa Anda.
Bagian 2: Mindsight—Melihat yang Tidak Terlihat
Kemampuan yang Mengubah Segalanya
Siegel memperkenalkan konsep yang dia sebut mindsight—kemampuan untuk melihat ke dalam pikiran: pikiran kita sendiri dan pikiran orang lain.
Ini terdiri dari tiga komponen:
1. Insight (Pandangan ke Dalam) Kemampuan untuk melihat dan memahami pikiran kita sendiri—pikiran, perasaan, memori, intensi.
2. Empati Kemampuan untuk merasakan dan memahami pikiran orang lain—perspektif mereka, perasaan mereka.
3. Integration (Integrasi) Kemampuan untuk mengkoordinasikan dan menyeimbangkan berbagai bagian dari pikiran kita.
Mengapa Ini Penting?
Kebanyakan dari kita hidup dengan autopilot. Kita bereaksi tanpa menyadari mengapa. Kita merasa emosi tapi tidak memahaminya. Kita melihat orang lain tapi tidak benar-benar melihat mereka.
Mindsight adalah kemampuan untuk pause—untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam pikiran kita dan orang lain—dan memilih bagaimana merespons.
Contoh: Tanpa Mindsight vs Dengan Mindsight
Tanpa Mindsight:
Pasangan Anda pulang dan tidak menyapa Anda. Anda langsung berpikir: "Dia marah pada saya. Dia tidak peduli." Anda menjadi defensif atau menarik diri. Konflik dimulai.
Dengan Mindsight:
Pasangan Anda pulang dan tidak menyapa. Anda notice: "Saya merasa diabaikan. Saya merasa tidak penting." (Insight)
Lalu Anda bertanya pada diri sendiri: "Apa yang mungkin terjadi dengan dia?" (Empati)
Anda mendekati dengan rasa ingin tahu: "Kamu terlihat lelah. Ada apa?"
Dia menjawab: "Hari yang berat. Atasan aku... maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu."
Koneksi terjadi, bukan konflik.
Mindsight adalah jeda antara stimulus dan respons—ruang di mana kebebasan hidup.
Bagian 3: Integrasi—Sungai Kesejahteraan
Chaos vs Rigidity
Siegel memperkenalkan salah satu konsep paling powerful dalam bukunya: Integration.
Bayangkan sungai.
Di tengah sungai, air mengalir dengan lancar. Ini adalah integrasi—keseimbangan, fleksibilitas, harmoni.
Di satu sisi sungai, ada chaos—riam, turbulensi, tidak terprediksi. Dalam kehidupan mental, chaos terlihat seperti:
● Emosi yang overwhelm
● Pikiran yang racing
● Impulsivitas
● Kehilangan kontrol
Di sisi lain, ada rigidity—air yang beku, kaku, tidak bergerak. Dalam kehidupan mental, rigidity terlihat seperti:
● Tidak bisa merasakan emosi
● Pikiran yang stuck dalam pola yang sama
● Tidak fleksibel
● Shutdown
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk tetap di tengah
sungai—terintegrasi—bahkan ketika hidup mencoba mendorong kita ke chaos atau rigidity.
Sembilan Domain Integrasi
Siegel mengidentifikasi sembilan jenis integrasi yang penting untuk kesejahteraan. Berikut beberapa yang paling penting:
1. Integrasi Bilateral (Left-Right Brain)
Otak kiri: logika, bahasa, linear, analitis Otak kanan: emosi, intuisi, holistik, kreatif
Ketika terintegrasi: Anda bisa merasakan emosi DAN mengartikulasikannya. Anda bisa logis DAN intuitif.
Ketika tidak terintegrasi: Anda terlalu di kepala (semua logika, tidak ada perasaan) atau terlalu di hati (semua perasaan, tidak ada logika).
2. Integrasi Vertikal (Body-Brain)
Tubuh bagian bawah (sensasi, usus feeling) harus terhubung dengan otak bagian atas (berpikir, reasoning).
Ketika terintegrasi: Anda bisa merasakan sinyal tubuh ("Sesuatu tidak terasa benar tentang situasi ini") dan menggunakannya untuk membuat keputusan yang bijak.
Ketika tidak terintegrasi: Anda disconnect dari tubuh. Tidak bisa merasakan ketika Anda lapar, lelah, atau overwhelmed sampai sudah terlambat.
3. Integrasi Interpersonal
Kemampuan untuk membedakan antara "aku" dan "kamu" sambil tetap terhubung.
Ketika terintegrasi: Anda punya boundaries yang sehat. Anda bisa empati tanpa kehilangan diri Anda sendiri.
Ketika tidak terintegrasi:
● Terlalu merged: "Perasaanmu adalah perasaanku. Jika kamu tidak happy, aku tidak happy."
● Terlalu isolated: "Aku tidak butuh siapa-siapa. Perasaanmu bukan urusanku."
Integrasi adalah kunci untuk hampir semua masalah psikologis.
Depresi? Sering karena rigidity—stuck dalam pola pikiran negatif. Anxiety? Sering karena chaos—overwhelm dari pikiran dan sensasi. Trauma? Disrupted integration di multiple domains.
Bagian 4: Attachment—Blueprint dari Hubungan
Cerita yang Otak Percaya
Ketika kita bayi, kita tidak punya konsep diri yang terpisah. Kita adalah apa yang kita alami dengan pengasuh kita.
Jika pengasuh:
● Responsif ketika kita menangis → Otak belajar: "Kebutuhanku penting. Orang lain bisa diandalkan."
● Mengabaikan atau tidak konsisten → Otak belajar: "Aku tidak aman. Aku harus mengatasi sendiri atau berjuang keras untuk perhatian."
● Menakutkan atau kasar → Otak belajar: "Hubungan itu berbahaya. Aku harus melindungi diri."
Ini membentuk attachment style—template internal tentang bagaimana hubungan bekerja.
Empat Pola Attachment
1. Secure Attachment (Aman) "Aku berharga. Orang lain bisa diandalkan. Hubungan itu aman."
Orang dengan secure attachment:
● Comfortable dengan intimacy dan autonomy
● Bisa minta bantuan tanpa rasa malu
● Bisa memberikan support tanpa kehilangan diri sendiri
● Recover dengan baik dari konflik
2. Anxious Attachment (Cemas) "Aku tidak yakin apakah aku cukup. Aku takut ditinggalkan."
Orang dengan anxious attachment:
● Butuh reassurance konstan
● Takut rejection
● Kadang clingy atau demanding
● Overthinking dalam hubungan
3. Avoidant Attachment (Menghindar) "Aku tidak butuh siapa-siapa. Intimacy itu tidak nyaman."
Orang dengan avoidant attachment:
● Uncomfortable dengan kedekatan
● Menekan emosi
● "Aku bisa handle sendiri"
● Menarik diri ketika orang mendekat
4. Disorganized Attachment (Tidak Terorganisir) "Hubungan itu menakutkan tapi aku butuh hubungan."
Orang dengan disorganized attachment:
● Bingung tentang hubungan—ingin dekat tapi takut
● Perilaku yang tidak konsisten
● Sering dari latar belakang trauma
Kabar Baik: Attachment Bisa Berubah
Siegel menekankan sesuatu yang revolutionary:
Attachment style Anda bukan destini. Otak Anda tetap plastis—mampu berubah—sepanjang hidup.
Melalui hubungan yang aman di masa dewasa—terapi, pertemanan yang dalam, hubungan romantis yang sehat—otak bisa rewire.
Amanda, pasien di awal cerita? Melalui terapi dan akhirnya membiarkan orang masuk ke dalam hidupnya, dia perlahan mengubah attachment style-nya dari avoidant ke secure.
Prosesnya tidak cepat. Tapi mungkin.
Bagian 5: Mirror Neurons—Kita Merasakan Satu Sama Lain
Penemuan yang Mengubah Segalanya
Tahun 1990-an, peneliti Italia sedang mempelajari otak monyet. Mereka menemukan neuron yang aktif ketika monyet mengambil kacang.
Tidak mengejutkan.
Tapi kemudian mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan: Neuron yang sama juga aktif ketika monyet MELIHAT peneliti mengambil kacang.
Otak monyet "mensimulasikan" tindakan yang dia lihat seolah-olah dia yang melakukannya.
Ini adalah mirror neurons—neuron yang memantulkan apa yang kita lihat di otak kita sendiri.
Mengapa Ini Penting untuk Hubungan
Mirror neurons adalah basis biologis dari empati.
Ketika Anda melihat seseorang tersenyum, mirror neurons Anda aktif seolah-olah ANDA yang tersenyum—dan Anda merasakan sedikit kebahagiaan.
Ketika Anda melihat seseorang menangis, mirror neurons Anda aktif seolah-olah ANDA yang menangis—dan Anda merasakan kesedihan mereka.
Kita secara literal merasakan satu sama lain.
Ini mengapa:
● Menguap itu menular
● Bayi menangis ketika mendengar bayi lain menangis
● Kita merasa tidak nyaman ketika melihat seseorang terluka
● Kita bisa "merasakan vibes" seseorang ketika masuk ruangan
Resonance—Ketika Dua Sistem Saraf Terhubung
Siegel menjelaskan konsep resonance—ketika sistem saraf kita "tune in" ke sistem saraf orang lain.
Bayangkan dua garpu tala. Ketika satu berbunyi, yang lain ikut bergetar dengan frekuensi yang sama.
Sistem saraf manusia bekerja sama.
Ketika Anda benar-benar hadir dengan seseorang—mendengarkan dengan sepenuh hati, membuat kontak mata, membuka diri—sistem saraf Anda dan sistem saraf mereka mulai resonate.
Mereka merasakan: "Aku dilihat. Aku didengar. Aku tidak sendirian."
Ini adalah gift terbesar yang bisa Anda berikan kepada seseorang: felt sense of being felt—perasaan dirasakan oleh orang lain.
Inilah mengapa terapi bekerja. Inilah mengapa pertemanan yang dalam menyembuhkan. Inilah mengapa cinta mengubah kita.
Bukan karena kata-kata yang diucapkan. Tapi karena resonance—dua sistem saraf yang terhubung dan saling menenangkan.
Bagian 6: Storytelling—Narasi yang Menyembuhkan
Koheren vs Inkoheren
Siegel melakukan penelitian tentang adult attachment. Dia tidak hanya bertanya tentang masa lalu orang—dia melihat BAGAIMANA mereka menceritakan masa lalu mereka.
Dia menemukan sesuatu yang mengejutkan:
Bukan apa yang terjadi pada Anda yang menentukan attachment style Anda sebagai dewasa. Tapi bagaimana Anda membuat sense dari apa yang terjadi.
Dua orang bisa punya masa lalu yang sama traumatis. Satu menjadi secure, yang lain tidak. Perbedaannya? Narasi koheren.
Narasi koheren berarti:
● Anda bisa menceritakan kisah hidup Anda dengan cara yang make sense
● Anda mengakui bagian yang sulit tanpa overwhelmed atau dismissive
● Anda bisa melihat bagaimana masa lalu membentuk Anda tanpa defined oleh masa lalu
● Anda punya insight: "Ini yang terjadi. Ini bagaimana itu mempengaruhi saya. Ini siapa saya sekarang."
Narasi inkoheren terlihat seperti:
● "Masa lalu saya? Saya tidak ingat. Tidak penting." (Dismissive)
● "Masa lalu saya masih sangat menyakitkan saya tidak bisa membicarakannya." (Overwhelmed)
● Cerita yang tidak konsisten, bingung, tidak jelas
Bagaimana Narasi Koheren Terbentuk
Melalui reflective dialogue—percakapan di mana seseorang benar-benar mendengarkan kita, membantu kita make sense dari pengalaman kita.
Ini bisa terjadi dengan:
● Terapis yang terampil
● Teman yang empati
● Pasangan yang supportif
● Atau bahkan melalui journaling yang reflektif
Ketika Anda menceritakan kisah Anda dan seseorang resonate dengan Anda—mendengar tanpa judgment, memvalidasi tanpa fixing—otak Anda mulai mengintegrasikan pengalaman itu.
Memori yang tadinya fragmented, terisolasi, overwhelming mulai menjadi bagian dari narasi yang koheren.
Dan ketika narasi Anda koheren, Anda lebih bisa memberikan secure attachment kepada anak-anak Anda atau orang yang Anda cintai.
Bukan karena Anda punya masa lalu yang sempurna. Tapi karena Anda sudah make sense dari masa lalu Anda.
Bagian 7: Membangun "We" yang Sehat—Praktik Integrasi
1. Presence—Kehadiran Penuh
Kemampuan untuk benar-benar ada dengan orang lain—tanpa agenda, tanpa distraksi, tanpa judgment.
Praktik:
● Ketika dengan seseorang, matikan ponsel
● Buat kontak mata
● Dengarkan untuk memahami, bukan untuk menjawab
● Notice sensasi tubuh Anda sendiri—ini membantu Anda tetap grounded
2. Attunement—Resonansi
Kemampuan untuk "tune in" ke state internal orang lain.
Praktik:
● Perhatikan bahasa tubuh mereka
● Notice nada suara
● Rasakan energi mereka
● Reflect back apa yang Anda sense: "Kamu terlihat sedih" atau "Sepertinya kamu excited"
3. Mindsight Maps—Peta Pikiran
Membuat "peta" internal dari pikiran Anda sendiri dan orang lain.
Praktik:
● Check-in dengan diri sendiri: "Apa yang aku rasakan sekarang? Apa yang aku butuhkan?"
● Check-in dengan orang lain: "Apa yang mungkin mereka rasakan? Apa yang mereka butuhkan?"
4. Name It to Tame It—Beri Nama untuk Menjinakkan
Ketika Anda bisa memberi nama emosi, prefrontal cortex (otak rasional) menjadi lebih aktif dan amygdala (alarm) menjadi kurang aktif.
Praktik:
● Ketika overwhelmed: "Aku merasa cemas"
● Ketika dengan orang lain: "Kamu terlihat frustrasi"
Memberi nama menciptakan jarak antara Anda dan emosi—Anda tidak ADALAH emosi itu, Anda MERASAKAN emosi itu.
5. Time-In—Waktu Refleksi
Seperti time-out tapi sebaliknya—waktu untuk "masuk" ke dalam pikiran Anda sendiri.
Praktik:
● 5-10 menit sehari duduk diam
● Notice napas Anda
● Notice sensasi tubuh
● Notice pikiran dan perasaan—tanpa judgment, hanya notice
Ini adalah meditasi mindfulness—tapi Siegel menjelaskan WHY ini bekerja: karena melatih prefrontal cortex dan memperkuat integrasi.
6. Repair—Memperbaiki Rupture
Hubungan akan selalu punya rupture—momen disconnect, konflik, kesalahpahaman.
Yang penting bukan menghindari rupture, tapi kemampuan untuk repair.
Praktik:
● Acknowledge: "Aku lihat tadi kita disconnect"
● Take responsibility: "Aku minta maaf aku tidak mendengarkan"
● Reconnect: "Bisakah kita coba lagi?"
Repair adalah salah satu hal paling penting untuk hubungan yang sehat.
Bagian 8: We-ness—Melampaui "Aku"
Dari "Me" ke "We"
Siegel mengakhiri dengan konsep yang profound:
Kita terlalu lama berpikir tentang diri sebagai individu terpisah yang kemudian membentuk hubungan.
Tapi neuroscience menunjukkan sebaliknya: Kita adalah "we" sejak awal.
Otak bayi tidak berkembang dalam isolasi. Dia berkembang dalam konteks hubungan dengan pengasuh. Setiap interaksi secara literal membentuk wiring otak.
Dan ini tidak berhenti setelah masa kanak-kanak. Sepanjang hidup, otak kita terus dibentuk oleh hubungan kita.
Loneliness Kills—Isolasi Membunuh
Studi menunjukkan bahwa isolasi sosial adalah faktor risiko kesehatan yang sama kuatnya dengan merokok atau obesitas.
Orang yang terisolasi:
● Lebih tinggi risiko penyakit jantung
● Sistem imun lebih lemah
● Cognitive decline lebih cepat
● Hidup lebih pendek
Ini bukan metafora. Ini adalah biologi.
Kita membutuhkan "we" untuk survive—bukan hanya untuk thrive.
Collective Well-being
Siegel mengajak kita berpikir lebih luas dari sekadar "kesejahteraan pribadi."
Ketika satu orang terluka dan tidak terintegrasi, itu mempengaruhi semua orang di sekitarnya—keluarga, komunitas, masyarakat.
Ketika satu orang sembuh dan terintegrasi, itu juga mempengaruhi semua orang di sekitarnya.
Kita tidak bisa sepenuhnya sehat dalam isolasi. Kesejahteraan adalah fenomena kolektif.
Penutup: Membentuk "We" yang Lebih Baik
Amanda—pasien yang kita temui di awal—akhirnya belajar sesuatu yang mengubah hidupnya:
"Selama ini aku berpikir kemandirian adalah kekuatan. Aku berpikir tidak membutuhkan siapa-siapa membuat aku aman. Tapi sebenarnya, itu membuat aku sendirian. Dan loneliness adalah penjara yang aku bangun sendiri."
Setelah bertahun-tahun terapi dan akhirnya membuka diri untuk hubungan yang dalam, dia berkata:
"Untuk pertama kalinya, aku merasa utuh. Bukan karena aku menemukan diri sendiri. Tapi karena aku menemukan 'kita.'"
Pertanyaan untuk Anda
Daniel Siegel mengundang kita untuk merefleksikan:
"Apa narasi attachment Anda?"
● Bagaimana masa lalu membentuk cara Anda berhubungan hari ini?
● Apakah narasi Anda koheren—atau masih fragmented?
● Apa yang perlu disembuhkan?
"Seberapa terintegrasi Anda?"
● Apakah Anda terlalu di kepala (semua logika) atau terlalu di hati (semua emosi)?
● Apakah Anda terhubung dengan tubuh Anda?
● Di mana Anda cenderung—chaos atau rigidity?
"Bagaimana Anda menunjukkan presence?"
● Kapan terakhir kali Anda benar-benar hadir—tanpa distraksi—dengan seseorang?
● Bagaimana rasanya ketika seseorang benar-benar hadir untuk Anda?
"Siapa 'we' Anda?"
● Siapa orang yang membuat Anda merasa dilihat, didengar, dirasakan?
● Bagaimana Anda bisa mengundang lebih banyak koneksi yang dalam?
Satu Hal yang Bisa Anda Lakukan Hari Ini
Pilih satu orang. Berikan mereka gift dari presence selama 10 menit.
Tidak perlu percakapan yang dalam. Tidak perlu solve masalah mereka.
Hanya: Matikan ponsel. Buat kontak mata. Dengarkan. Resonate.
Karena seperti yang Siegel tunjukkan:
"Hubungan bukan hanya nice to have. Hubungan adalah necessitas biologis. Dan kualitas hubungan kita menentukan kualitas hidup kita."
"Kita tidak dilahirkan sebagai 'aku' yang kemudian mencari 'kamu.' Kita dilahirkan sebagai 'kita'—dan tugas seumur hidup kita adalah untuk tetap terhubung sambil menjadi utuh."
Jadi mulailah hari ini. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu dramatic.
Hanya: Lihat seseorang—benar-benar lihat mereka. Dan biarkan mereka melihat Anda.
Karena di sanalah "we" terjadi.
Dan di sanalah kita menjadi paling hidup.
Tentang Buku Asli
"The Neurobiology of 'We': How Relationships, the Mind, and the Brain Interact to Shape Who We Are" adalah bagian dari karya komprehensif Daniel J. Siegel tentang interpersonal neurobiology.
Daniel J. Siegel, M.D. adalah professor psikiatri klinis di UCLA School of Medicine, pendiri Mindsight Institute, dan co-director UCLA Mindful Awareness Research Center. Dia telah menulis lebih dari selusin buku termasuk "Mindsight," "The Developing Mind," dan "Brainstorm."
Konsep-konsep dalam buku ini merupakan kulminasi dari lebih dari 30 tahun penelitian dan praktik klinis, menggabungkan neuroscience, attachment theory, developmental psychology, dan contemplative practices.
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana hubungan membentuk otak dan pikiran kita, sangat disarankan membaca karya lengkap Siegel. Dia menulis dengan kedalaman ilmiah sambil tetap accessible, dan memberikan praktik-praktik konkret untuk menerapkan konsep-konsep ini.
Buku-bukunya telah diterjemahkan ke puluhan bahasa dan mengubah cara terapis, pendidik, orang tua, dan siapa pun yang peduli tentang hubungan memahami dan meningkatkan koneksi mereka.
Sekarang pergilah dan bangun "we" yang lebih sehat—untuk diri Anda, untuk orang yang Anda cintai, dan untuk dunia.
Karena seperti yang Siegel buktikan: Ketika kita sembuh, kita menyembuhkan. Ketika kita terhubung, kita mengubah.
Satu hubungan yang terintegrasi pada satu waktu.

