The Happiest Kids in the World

Rina Mae Acosta & Michele Hutchison


Ketika Dunia Bertanya "Apa Rahasia Kalian?"

Tahun 2013. UNICEF merilis laporan yang mengejutkan dunia. 

Dari 29 negara maju yang disurvei, anak-anak dari satu negara menonjol di atas semua yang lain dalam hal kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan: 

Belanda

Bukan Amerika dengan semua sumber dayanya. Bukan Skandinavia dengan sistem sosialnya yang canggih. Bukan Jepang dengan disiplinnya yang terkenal. 

Belanda—negara kecil dengan populasi 17 juta, setengahnya berada di bawah permukaan laut. Apa yang mereka lakukan berbeda? 

Rina Mae Acosta, seorang ibu Amerika yang pindah ke Amsterdam, merasakan perbedaan itu langsung. Di playground Belanda, dia melihat: 

Anak usia 6 tahun mengendarai sepeda sendirian ke sekolah. Orang tua Amerika akan panik. Orang tua Belanda? Santai saja. 

Anak-anak bermain di luar dalam hujan dan lumpur. Tanpa orang tua yang cemas meneriaki "Hati-hati! Jangan kotor!" 

Balita jatuh dari permainan panjat. Orang tua Belanda tidak langsung berlari panik. Mereka menunggu—membiarkan anak mencoba bangkit sendiri. 

Tidak ada orang tua yang terobsesi dengan flashcard, les tambahan, atau memaksimalkan potensi anak. 

Dan yang paling mengejutkan: Anak-anak terlihat... bahagia.

Michele Hutchison, seorang ibu Inggris yang juga tinggal di Belanda, memiliki pengalaman serupa. Dia shock dengan betapa santainya orang tua Belanda—tapi juga kagum dengan betapa seimbang dan bahagia anak-anak mereka. 

Jadi mereka memutuskan untuk menulis buku: Apa sebenarnya rahasia orang tua Belanda? 

Jawabannya ternyata bukan satu hal besar. Tapi banyak hal kecil—pendekatan berbeda yang secara kolektif menciptakan childhood yang lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih seimbang. 

Mari kita pelajari rahasianya.

 


Bagian 1: Tiga R yang Mengubah Segalanya

Di jantung parenting Belanda ada prinsip sederhana yang disebut "Drie R's":

Rust (Istirahat/Ketenangan) Reinheid (Kebersihan) Regelmaat (Keteraturan/Rutinitas) 

Ini bukan konsep baru—nenek moyang Belanda sudah mempraktikkannya sejak ratusan tahun lalu. Tapi dalam dunia modern yang kacau, prinsip-prinsip ini menjadi lebih relevan dari sebelumnya. 

Rust—Ketenangan yang Disengaja 

Rumah Belanda tipikal memiliki sesuatu yang langka di Amerika atau Inggris: ketenangan

Tidak ada TV yang menyala di background sepanjang hari. Tidak ada musik keras. Tidak ada jadwal yang gila-gilaan dengan anak dijemput dari sekolah langsung ke les musik, kemudian les matematika, kemudian les bahasa Mandarin. 

Sebaliknya: 

Sore hari adalah waktu untuk pulang, bermain bebas, dan relax. 

Ketika Rina pertama kali mengajak anaknya ke playdate dengan keluarga Belanda, dia kaget. Tidak ada aktivitas terstruktur. Tidak ada kerajinan tangan yang sudah dipersiapkan. Hanya... anak-anak bermain. Dan orang tua duduk, minum kopi, mengobrol. 

"Di Amerika," kata Rina, "aku merasa harus selalu melakukan sesuatu dengan anak-anak—menghibur mereka, mengajarkan sesuatu, memastikan mereka 'produktif.' Di sini, orang tua percaya bahwa anak-anak bisa menghibur diri mereka sendiri." 

Pelajaran: Anak-anak tidak butuh stimulasi konstan. Mereka butuh ruang untuk tenang, bosan, dan menemukan cara mereka sendiri untuk bermain. 

Reinheid—Kebersihan Tanpa Obsesi 

Belanda terkenal bersih. Tapi ini bukan kebersihan yang neurotik atau steril. 

Anak-anak Belanda bermain di luar. Mereka main lumpur. Mereka pegang cacing. Mereka jatuh dan tangannya kotor. 

Tapi ada struktur: Setelah bermain di luar, mereka cuci tangan. Sebelum makan, mereka bersih. Kamar tidur rapi sebelum tidur. 

Kebersihan bukan tentang melindungi anak dari semua kuman (yang justru melemahkan sistem imun). Tapi tentang rutinitas yang menciptakan rasa teratur dan hormat terhadap ruang bersama.

Regelmaat—Kekuatan Rutinitas 

Ini mungkin yang paling penting: rutinitas yang konsisten. 

Anak-anak Belanda punya jadwal yang predictable: 

● Bangun di waktu yang sama 

● Sarapan bersama 

● Sekolah 

● Pulang di waktu yang sama (sekolah berakhir jam 3 sore!) 

● Snack sore (biasanya roti dengan hagelslag—taburan cokelat) 

● Main bebas 

● Makan malam bersama keluarga di jam 6 

● Tidur di jam yang sama setiap malam 

Tidak ada variasi drastis antara hari biasa dan akhir pekan. 

"Pertama kali aku dengar ini," kata Michele, "aku pikir: membosankan! Di mana spontanitasnya? Di mana keseruannya?" 

Tapi kemudian dia melihat hasilnya: Anak-anak yang tenang, tidak cemas, tahu apa yang diharapkan. 

Ternyata, anak-anak tidak butuh kejutan setiap hari. Mereka butuh predictability—yang memberi mereka rasa aman untuk menjelajah dan mengambil risiko dalam batas yang aman.

 


Bagian 2: Gezelligheid—Kata yang Tidak Bisa Diterjemahkan 

Ada satu kata Belanda yang muncul lagi dan lagi ketika orang tua Belanda menjelaskan parenting mereka: gezelligheid

Tidak ada terjemahan langsung dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Tapi artinya kira-kira: kehangatan, kenyamanan, kebersamaan, rasa "rumah" yang nyaman. 

Bayangkan: 

● Lilin menyala di meja makan meskipun bukan acara spesial 

● Keluarga duduk bersama makan stroopwafel dan minum teh sore 

● Tidak ada yang terburu-buru 

● Tidak ada ponsel di meja 

● Hanya... hadir bersama 

Gezelligheid adalah lawan dari hustle culture. 

Di Amerika, kata Michele, "kami terobsesi dengan produktivitas. Bahkan waktu bersama anak dirancang untuk 'quality time' yang produktif—main board game edukatif, aktivitas yang mengembangkan keterampilan." 

Di Belanda? Cukup duduk bersama, tidak melakukan apa-apa, sudah cukup

Anak-anak tidak butuh setiap momen diisi dengan pembelajaran. Mereka butuh hadir sepenuhnya—dan merasakan bahwa orang tua juga hadir sepenuhnya, bukan setengah hati sambil cek email.

 


Bagian 3: Sekolah Tanpa Tekanan—Mengapa Anak Belanda Tidak Stress 

Inilah yang paling mengejutkan Rina dan Michele: sistem pendidikan Belanda yang super santai. 

Tidak Ada PR Sampai Usia 10 Tahun 

Anda baca dengan benar. Anak-anak di sekolah dasar Belanda tidak mendapat PR

"Aku shock," kata Rina. "Anakku pulang sekolah jam 3 sore, dan dia... selesai. Tidak ada tas penuh tugas. Tidak ada buku yang harus dibaca. Dia bebas bermain." 

Filosofinya sederhana: Anak usia 6-10 tahun butuh bermain, bukan duduk mengerjakan worksheet. 

Mereka akan belajar cukup di sekolah. Waktu di rumah adalah untuk keluarga, bermain, dan istirahat. 

Sekolah Berakhir Jam 3 Sore 

Di banyak negara, anak-anak di sekolah sampai jam 4 atau 5 sore, kemudian les tambahan sampai malam. 

Di Belanda? Sekolah berakhir jam 3. Dan banyak orang tua kerja paruh waktu sehingga mereka bisa menjemput anak. 

"Awalnya aku berpikir: ini privilege orang kaya," kata Michele. "Tapi ternyata tidak. Bahkan keluarga working-class di Belanda prioritaskan waktu dengan anak di atas karir yang agresif." 

Tidak Ada Kompetisi atau Ranking 

Tidak ada "murid terbaik di kelas." Tidak ada award untuk nilai tertinggi. Tidak ada papan peringkat. 

Mengapa? Karena kompetisi menciptakan anxiety. 

Anak-anak Belanda dinilai berdasarkan progress mereka sendiri, bukan dibandingkan dengan teman sekelas. Jika mereka kesulitan di matematika tapi bagus di seni, itu oke. Semua orang punya kekuatan berbeda. 

Pelajaran: Tujuan sekolah bukan menciptakan mesin kompetisi. Tujuannya adalah menumbuhkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan cinta belajar. 

Bermain Adalah Bagian Kurikulum

Di sekolah Belanda, bahkan untuk anak yang lebih besar, ada waktu dedicated untuk vrij spelen (bermain bebas). 

Tidak terstruktur. Tidak ada tujuan pembelajaran. Hanya anak-anak dibiarkan... bermain. 

"Di Amerika," kata Rina, "kami paranoid tentang 'wasting time.' Setiap menit harus produktif. Bermain harus 'educational.'" 

Orang Belanda percaya kebalikannya: Bermain adalah bagaimana anak belajar yang paling penting—kreativitas, problem-solving, negosiasi sosial, resiliensi.

 


Bagian 4: Sepeda, Hujan, dan Risiko—Membesarkan Anak yang Tangguh 

Budaya Sepeda 

Salah satu simbol paling ikonik dari childhood Belanda: anak-anak bersepeda ke sekolah.

Anak usia 6-7 tahun sudah bersepeda sendiri atau dengan teman. Tanpa orang tua. 

"Pertama kali aku lihat ini," kata Michele, "aku pikir: ini gila! Bagaimana kalau mereka ditabrak? Bagaimana kalau ada orang jahat?" 

Tapi kemudian dia menyadari: Belanda membangun infrastruktur untuk anak-anak. 

Jalur sepeda terpisah dari jalan raya. Lampu merah khusus sepeda. Driver diajarkan untuk waspada terhadap sepeda. Dan yang paling penting: budaya saling percaya. 

Anak-anak belajar bersepeda sejak usia 2-3 tahun (dengan balance bike). Di usia 4-5, mereka sudah bisa naik sepeda dua roda. Di usia 6, mereka independen. 

Hasilnya? Anak-anak yang percaya diri, mandiri, dan punya sense of competence. 

"Ketika anakku pertama kali bersepeda sendiri ke sekolah," kata Rina, "aku cemas. Tapi dia pulang dengan senyum lebar dan berkata: 'Mom, I did it!' Kepercayaan dirinya meningkat drastis." 

Bermain di Luar—Dalam Segala Cuaca 

Ada pepatah Belanda: "Er is geen slecht weer, alleen slechte kleding." (Tidak ada cuaca buruk, hanya pakaian yang buruk.) 

Anak-anak Belanda bermain di luar bahkan saat hujan. Bahkan saat dingin. 

Orang tua tidak overprotective. Playground Belanda punya struktur tinggi, ayunan yang cepat, zipline yang menantang. 

Dan orang tua tidak hover. 

"Di playground Amerika," kata Rina, "orang tua berdiri tepat di bawah anak yang memanjat, siap menangkap kalau jatuh. Di Belanda, orang tua duduk di bangku, ngobrol, sambil anak-anak mengambil risiko." 

Anak jatuh? Orang tua menunggu melihat apakah anak bisa bangkit sendiri. Kalau anak menangis dan butuh bantuan, baru mereka datang—tapi tidak dengan panik.

Pelajaran: Anak butuh belajar mengambil risiko dalam lingkungan yang aman. Kalau kita selalu mencegah mereka jatuh, mereka tidak belajar bagaimana bangkit.

 


Bagian 5: Pola Makan yang Sehat—Tanpa Drama

Sarapan dan Makan Malam Bersama—Non-Negotiable 

Dalam keluarga Belanda, makan bersama adalah prioritas. 

Sarapan bersama sebelum sekolah. Makan malam bersama di jam 6 sore. Tidak ada TV. Tidak ada ponsel. 

Dan menu? Sederhana. 

Sarapan tipikal Belanda: 

● Roti dengan mentega dan hagelslag (taburan cokelat) 

● Atau keju 

● Susu atau jus jeruk 

"Pertama kali aku lihat anak Belanda makan cokelat untuk sarapan setiap hari," kata Michele, "aku shock. Bukankah ini tidak sehat?" 

Tapi ternyata: Porsinya kecil. Terkontrol. Dan bagian dari rutinitas yang seimbang

Anak-anak Belanda tidak ngemil sepanjang hari. Mereka makan di waktu yang ditentukan—sarapan, snack pagi di sekolah, makan siang, snack sore, makan malam. 

Tidak ada grazing. Tidak ada makan sambil main. Tidak ada negosiasi.

Snack Time—Budaya yang Unik 

Jam 3 sore, setiap anak Belanda tahu: waktunya snack. 

Biasanya roti dengan keju atau hagelslag, plus susu atau jus. 

Sederhana. Konsisten. Tidak ada drama. 

"Di Amerika," kata Rina, "aku merasa harus memberikan snack 'sehat'—wortel, hummus, quinoa bites. Dan anak-anakku menolak. Lalu aku frustrasi." 

Di Belanda, ekspektasinya jelas: Ini snack-nya. Kamu bisa makan atau tidak. Tapi tidak ada pilihan lain sampai makan malam. 

Hasilnya? Anak-anak yang tidak picky. Mereka makan apa yang disediakan.

Makan Malam—Jam 6 Sore, Tanpa Kompromi 

Keluarga Belanda makan malam lebih awal dari kebanyakan budaya: jam 6 sore.

Dan menunya? Sering kali sederhana: kentang rebus, sayuran, daging atau ikan. 

Tidak ada ekspektasi bahwa orang tua harus memasak makanan gourmet. Tidak ada tekanan untuk membuat anak makan sayuran dengan trik atau permainan. 

Anak duduk di meja. Makanan disajikan. Mereka diharapkan makan. 

Kalau mereka tidak suka sesuatu? Oke. Mereka tidak harus makan semua. Tapi tidak ada alternatif. Dan tidak ada makanan lagi sampai besok pagi. 

Pelajaran: Ketika aturan jelas dan konsisten, anak-anak belajar menerima. Drama makan sering datang dari inkonsistensi dan negosiasi tanpa akhir.

 


Bagian 6: Orangtua yang Bahagia = Anak yang Bahagia

Bekerja Paruh Waktu Adalah Norma 

Di Belanda, hampir 75% ibu bekerja paruh waktu. Dan ini bukan karena mereka tidak ambisi—tapi karena budaya menghargai keseimbangan

Banyak perusahaan Belanda mendukung jadwal fleksibel. Ayah juga sering kerja 4 hari seminggu. 

"Ini yang paling aku kagumi," kata Michele. "Di Inggris, kalau kamu kerja paruh waktu, kamu dianggap tidak serius dengan karir. Di Belanda, itu dianggap... normal." 

Hasilnya? Orang tua yang tidak burnout. Yang punya energi untuk anak-anak di sore hari. Yang tidak resentful atau exhausted. 

Tidak Ada Guilt Culture 

Di Amerika dan Inggris, mom guilt adalah epidemi. 

"Aku tidak cukup baik." "Aku seharusnya main lebih banyak dengan anak." "Aku seharusnya masak makanan organik." "Aku seharusnya tidak pakai TV sebagai babysitter." 

Di Belanda? Jauh lebih sedikit guilt. 

Mengapa? Karena ekspektasinya lebih realistis. 

Tidak ada yang expect bahwa orang tua harus sempurna. Anak-anak nonton TV? Ya, oke—dalam batas wajar. Orang tua butuh waktu untuk diri sendiri? Tentu, itu sehat. 

Pelajaran: Anak-anak tidak butuh orang tua yang sempurna. Mereka butuh orang tua yang hadir, tenang, dan bahagia. 

Ayah yang Terlibat 

Budaya Belanda juga mendorong keterlibatan ayah yang sangat tinggi. 

Ayah di Belanda menjemput anak, mengganti popok, pergi ke playground, menghadiri acara sekolah—tanpa dianggap "membantu." Ini bukan "membantu ibu"—ini parenting

"Suamiku," kata Rina, "mengambil parental leave yang sama dengan aku. Dia mengatur jadwal dokter anak. Dia tahu semua guru mereka. Ini bukan 'unusual'—ini standar."

 


Bagian 7: Pendekatan Santai—Bukan Berarti Tidak Peduli

Boundaries yang Jelas Tapi Tidak Kaku 

Orang tua Belanda punya aturan. Tapi mereka tidak authoritarian. 

Contoh: 

● Tidur jam 7 malam untuk balita, jam 8 untuk anak yang lebih besar. Konsisten. Tapi kalau ada acara spesial, bisa fleksibel. 

Tidak ada snack setelah jam tertentu. Tapi kalau anak benar-benar lapar, mereka bisa dapat buah. 

Aturan ada untuk struktur, bukan untuk control. 

Tidak Ada Obsesi dengan Milestone 

"Di grup ibu Amerika," kata Rina, "semua orang membandingkan: Anakmu sudah bisa apa? Sudah bisa baca? Sudah bisa ini dan itu?" 

Di Belanda? Jauh lebih santai. 

Anak belum bisa baca di usia 6? Oke. Mereka akan bisa nanti. Anak belum bisa sepeda tanpa training wheels di usia 5? Tidak masalah. Semua anak berkembang dengan kecepatan berbeda. 

Tidak ada perlombaan. 

Screen Time—Moderation, Bukan Zero 

Orang tua Belanda tidak anti-technology. Tapi mereka punya batasan jelas: 

● Tidak ada screen di pagi hari 

● Tidak ada TV/tablet saat makan 

● Screen time dibatasi (biasanya 30-60 menit per hari untuk anak kecil)

● Tapi tidak ada guilt kalau kadang anak nonton lebih lama—misalnya saat orang tua perlu masak atau istirahat 

Pelajaran: Perfect parenting tidak exist. Yang penting adalah konsistensi secara keseluruhan, bukan perfeksi setiap saat.

 


Bagian 8: Pelajaran untuk Kita Semua 

Rina dan Michele menutup buku dengan refleksi: Kita tidak harus pindah ke Belanda untuk menerapkan prinsip-prinsip ini. 

Yang bisa kita pelajari: 

1. Slow Down (Perlambat) 

Anak-anak tidak butuh jadwal yang penuh. Mereka butuh waktu untuk bermain bebas, bosan, dan menemukan minat mereka sendiri. 

Aksi konkret: Pilih hanya 1-2 aktivitas ekstrakurikuler. Sisanya? Free play.

2. Prioritaskan Rutinitas 

Anak-anak berkembang dengan predictability. Bangun, makan, tidur di waktu yang konsisten membuat mereka merasa aman. 

Aksi konkret: Buat rutinitas tidur yang konsisten. Tidak ada negosiasi. 

3. Biarkan Anak Mengambil Risiko (yang Wajar) 

Overprotection menciptakan anak yang cemas dan tidak percaya diri. 

Aksi konkret: Di playground, duduk di bangku. Jangan hover. Biarkan mereka mencoba—dan jatuh. 

4. Makan Bersama—Tanpa Distraksi 

Family meals menciptakan koneksi. Tidak perlu makanan fancy. Yang penting: hadir sepenuhnya. 

Aksi konkret: Matikan TV dan ponsel saat makan malam. Ngobrol tentang hari mereka.

5. Jaga Kebahagiaan Anda Sendiri 

Anak-anak menyerap emosi orang tua. Orang tua yang burnout menciptakan rumah yang stress. 

Aksi konkret: Ambil waktu untuk diri sendiri—tanpa guilt. Baca buku. Olahraga. Bertemu teman. 

6. Lower Your Expectations (Turunkan Ekspektasi)

Anak-anak tidak perlu sempurna. Rumah tidak perlu sempurna. Anda tidak perlu sempurna. 

Aksi konkret: Setiap kali Anda merasa guilty, tanyakan: "Apakah ini benar-benar penting, atau hanya standar yang tidak realistis?"

 


Penutup: Kebahagiaan Adalah Pilihan Budaya

Rina dan Michele menulis: 

"Setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, kami menyadari: anak-anak Belanda tidak lebih bahagia karena genetik. Bukan karena cuaca (cuacanya sering hujan!). Bukan karena uang (banyak negara lebih kaya). 

Mereka lebih bahagia karena budaya yang memprioritaskan kebahagiaan anak—bukan prestasi, bukan kesuksesan, bukan status." 

Budaya ini dimulai dengan pilihan kecil setiap hari: 

● Membiarkan anak bersepeda sendiri ke sekolah 

● Tidak mengisi setiap menit dengan aktivitas 

● Duduk bersama makan malam tanpa ponsel 

● Membiarkan anak bermain di hujan 

● Tidak membandingkan anak dengan yang lain 

● Percaya bahwa anak mampu 

Pertanyaan untuk Anda: 

1. Apa yang lebih penting: anak yang berprestasi tinggi, atau anak yang bahagia dan seimbang? 

2. Seberapa banyak aktivitas anak Anda yang sebenarnya untuk mereka—vs untuk memenuhi ekspektasi sosial atau ambisi Anda? 

3. Kapan terakhir kali Anda benar-benar hadir dengan anak—tanpa ponsel, tanpa distraksi, tanpa agenda? 

4. Apa yang bisa Anda lepaskan untuk memberikan lebih banyak ruang untuk ketenangan dan koneksi? 

Anda tidak harus sempurna. Anda tidak harus menerapkan semua prinsip Belanda. 

Tapi bahkan perubahan kecil—lebih banyak bermain bebas, lebih sedikit jadwal, lebih banyak makan bersama, lebih sedikit tekanan—bisa membuat perbedaan besar. 

Seperti yang orang Belanda katakan: "Doe maar gewoon, dan doe je al gek genoeg." (Berperilaku normal saja, itu sudah cukup gila.) 

Dalam dunia yang terobsesi dengan lebih banyak, lebih cepat, lebih baik—mungkin rahasia kebahagiaan sejati adalah:

Lebih sedikit. Lebih lambat. Lebih sederhana.

Dan percaya bahwa itu sudah cukup.

 


Tentang Buku Asli 

"The Happiest Kids in the World: How Dutch Parents Help Their Kids (and Themselves) by Doing Less" pertama kali diterbitkan pada tahun 2017. 

Rina Mae Acosta adalah seorang penulis Amerika yang pindah ke Amsterdam dan terpesona dengan perbedaan gaya parenting. Michele Hutchison adalah editor buku Inggris yang juga berbasis di Amsterdam dan menikah dengan pria Belanda. 

Buku ini lahir dari pengalaman pribadi mereka sebagai orang asing yang membesarkan anak di Belanda—dan terkejut dengan betapa berbedanya (dan lebih santainya) pendekatan Belanda. 

Buku ini dipenuhi dengan anekdot lucu, riset tentang kebahagiaan anak, dan tips praktis yang bisa diterapkan di mana pun Anda tinggal. 

Untuk pemahaman lengkap tentang filosofi parenting Belanda dan bagaimana menerapkannya dalam konteks Anda sendiri, sangat disarankan membaca buku aslinya. Acosta dan Hutchison menulis dengan humor, kejujuran, dan tanpa menghakimi—mengakui bahwa tidak ada cara parenting yang "sempurna" untuk semua budaya. 

Ringkasan ini menangkap prinsip-prinsip inti, tetapi buku asli menawarkan lebih banyak cerita, lebih banyak nuansa, dan lebih banyak wisdom dari orang tua Belanda sendiri. 

Sekarang pergilah dan ciptakan sedikit gezelligheid dalam hidup Anda. 

Karena di akhir, anak-anak tidak akan ingat berapa banyak aktivitas yang Anda daftarkan untuk mereka. 

Mereka akan ingat bagaimana rasanya berada di rumah bersama Anda—tenang, aman, dan bahagia.