Surat dari Tahun 2100
Bayangkan Anda menerima surat dari cicit Anda yang belum lahir.
Surat itu bertanggal 2100. Dia menulis:
"Kakek/Nenek yang terkasih,
Kami hidup di dunia yang Anda tinggalkan untuk kami. Suhu naik 3 derajat Celsius. Setengah spesies di Bumi sudah punah. Air bersih langka. Jutaan orang menjadi pengungsi iklim. Perang memperebutkan sumber daya terjadi di mana-mana.
Kami tahu Anda punya waktu untuk mengubah ini. Kami tahu Anda punya pengetahuan. Kami tahu teknologinya sudah ada di tahun 2020-an.
Tapi Anda memilih untuk tidak bertindak. Anda memilih ekonomi jangka pendek daripada masa depan kami. Anda memilih kenyamanan Anda daripada hidup kami.
Mengapa Anda melakukan ini pada kami?"
Surat ini fiksi. Tapi pertanyaannya nyata.
Roman Krznaric, filsuf sosial dan penulis "The Good Ancestor," mengajukan pertanyaan fundamental yang mengganggu:
"Kenapa kita begitu buruk dalam berpikir tentang masa depan? Kenapa kita terus-menerus mengorbankan kepentingan generasi mendatang untuk kepentingan kita hari ini?"
Dan yang lebih penting: "Bagaimana kita bisa menjadi leluhur yang baik?"
Buku ini bukan tentang pesimisme. Ini tentang transformasi cara kita berpikir tentang waktu dan tanggung jawab kita kepada generasi yang belum lahir.
Bagian 1: Tirani dari "Sekarang"
Marshmallow Test untuk Peradaban
Ingat eksperimen marshmallow terkenal? Anak-anak diberi pilihan: satu marshmallow sekarang, atau dua marshmallow jika mereka bisa menunggu 15 menit.
Sebagian anak langsung makan. Sebagian bisa menunggu.
Krznaric berpendapat: Peradaban kita adalah anak yang tidak bisa menunggu.
Kita tahu bahwa membakar bahan bakar fosil merusak masa depan. Tapi kita tetap melakukannya karena kita ingin kenyamanan sekarang.
Kita tahu bahwa hutang pemerintah yang besar akan membebani anak cucu kita. Tapi kita tetap meminjam karena kita ingin belanja sekarang.
Kita tahu bahwa plastik akan mencemari laut selama ratusan tahun. Tapi kita tetap pakai karena praktis sekarang.
Mengapa Kita Dikuasai Jangka Pendek?
Krznaric mengidentifikasi lima alasan:
1. Bias Kognitif Kita
Otak manusia berevolusi untuk survival jangka pendek. Di zaman prasejarah, yang penting adalah: apakah ada makanan hari ini? Apakah ada predator yang akan memakan saya besok?
Tidak ada seleksi evolusioner untuk berpikir 100 tahun ke depan. Jadi otak kita tidak dirancang untuk long-term thinking.
2. Sistem Politik Jangka Pendek
Politisi berpikir dalam siklus pemilu—4-5 tahun. Mereka fokus pada popularitas jangka pendek, bukan kebijakan yang dampaknya akan terasa 50 tahun kemudian.
Mengapa? Karena orang yang akan merasakan manfaat kebijakan jangka panjang belum bisa memilih—mereka belum lahir.
3. Sistem Ekonomi Quarterly Capitalism
CEO perusahaan publik diukur dari laporan keuangan per kuartal. Jika profit turun satu kuartal, saham jatuh, CEO dipecat.
Hasilnya? Keputusan bisnis yang fokus pada profit jangka pendek, bukan sustainability jangka panjang.
4. Budaya Konsumerisme Instant Gratification
Amazon Prime: pesan hari ini, datang besok. Netflix: tonton sekarang, bisa marathon 10 episode. Fast food: lapar sekarang, makan dalam 5 menit.
Kita hidup di budaya yang melatih kita untuk tidak bisa menunggu.
5. Colonization of the Future
Istilah yang powerful dari Krznaric: generasi sekarang telah "menjajah" masa depan—kita mengambil sumber daya yang seharusnya untuk generasi mendatang tanpa meminta izin mereka.
Dan karena mereka belum lahir, mereka tidak punya suara untuk protes.
Bagian 2: Deep Time—Melihat Waktu dengan Cara Berbeda
Jam 10.000 Tahun
Di gunung Texas, sekelompok visioner membangun sesuatu yang luar biasa: jam yang dirancang untuk berdetak selama 10.000 tahun.
Jam ini bukan untuk memberitahu waktu. Ini adalah simbol—pengingat bahwa peradaban kita bisa (dan harus) berpikir dalam skala waktu yang jauh melampaui hidup kita.
Ketika Anda berdiri di depan jam yang akan tetap berdetak 100 abad setelah Anda mati, perspektif Anda berubah.
Anda menyadari betapa kecilnya hidup Anda dalam skala waktu peradaban.
Perspektif Geologi
Bumi berusia 4,5 miliar tahun. Jika Anda kompres sejarah Bumi menjadi 24 jam:
● Kehidupan pertama muncul jam 4 pagi
● Dinosaurus punah jam 11 malam
● Homo sapiens muncul jam 11:58:43 malam
● Seluruh sejarah tercatat manusia (5.000 tahun)? 6 detik terakhir
Dan revolusi industri—yang mulai merusak planet? Seperempat detik terakhir.
Dalam seperempat detik, kita telah mengubah komposisi atmosfer, membuat spesies punah dengan kecepatan 1.000x lebih cepat dari normal, dan memanaskan planet lebih cepat dari kapan pun dalam 10.000 tahun terakhir.
Perspektif ini seharusnya membuat kita rendah hati. Tapi juga memberdayakan.
Jika kita bisa membuat kerusakan begitu besar dalam waktu singkat, bayangkan apa yang bisa kita perbaiki dengan berpikir jangka panjang.
Bagian 3: Cathedral Thinking—Warisan dari Abad Pertengahan
Katedral yang Tidak Akan Mereka Lihat Selesai
Tahun 1248. Para pekerja mulai membangun Katedral Cologne di Jerman.
Mereka tahu mereka tidak akan pernah melihatnya selesai. Anak-anak mereka tidak akan melihatnya selesai. Cucu mereka tidak akan melihatnya selesai.
Katedral ini akhirnya selesai tahun 1880—632 tahun kemudian.
Enam ratus tiga puluh dua tahun. Lebih dari 20 generasi.
Pertanyaannya: Mengapa mereka melakukannya?
Karena mereka punya sesuatu yang kita hilangkan: visi yang melampaui hidup mereka sendiri.
Mereka membangun bukan untuk diri mereka sendiri, tapi untuk kemuliaan Tuhan, untuk komunitas mereka, untuk generasi yang belum lahir yang akan berdoa di sana ratusan tahun kemudian.
Ini yang Krznaric sebut Cathedral Thinking—kemampuan untuk memulai proyek yang manfaatnya baru akan terasa generasi kemudian.
Contoh Modern: Taman Nasional
Tahun 1872, Amerika Serikat menciptakan Taman Nasional Yellowstone—taman nasional pertama di dunia.
Keputusan ini radikal. Tanah yang bisa dijual untuk keuntungan jangka pendek—untuk tambang, untuk kayu, untuk peternakan—justru dilindungi selamanya untuk generasi mendatang.
Orang-orang yang membuat keputusan itu tidak akan hidup untuk melihat jutaan pengunjung yang menikmati Yellowstone 150 tahun kemudian. Tapi mereka membuatnya tetap untuk kita.
Itu adalah Cathedral Thinking.
Bagian 4: Enam Cara Berpikir Jangka Panjang
Krznaric memberikan enam prinsip praktis untuk menjadi good ancestor:
1. Deep-Time Humility (Kerendahan Hati dalam Waktu Mendalam)
Sadari bahwa Anda hanya satu titik kecil dalam garis waktu panjang peradaban.
Praktiknya:
● Kunjungi tempat yang sangat tua—situs arkeologi, museum sejarah alam
● Pelajari sejarah keluarga Anda 200 tahun ke belakang
● Bayangkan dunia 200 tahun ke depan
Ketika Anda merasakan skala waktu yang lebih besar, keputusan hari ini terasa berbeda.
2. Legacy Mindset (Pola Pikir Warisan)
Tanyakan: "Apa yang ingin saya tinggalkan untuk generasi mendatang?"
Bukan hanya warisan materi—tapi warisan nilai, warisan ekologi, warisan institusi yang lebih baik.
Kisah inspiratif: Kakek Tanam Pohon
Ada cerita tentang seorang kakek yang menanam pohon oak—pohon yang butuh 100 tahun untuk tumbuh penuh.
Cucunya bertanya: "Kakek, kenapa Kakek tanam pohon ini? Kakek tidak akan pernah lihat pohon ini besar."
Kakek menjawab: "Justru karena itu aku menanamnya. Aku menikmati pohon yang ditanam kakek-kakekku. Sekarang giliran aku menanam untuk cucu-cucuku."
3. Intergenerational Justice (Keadilan Antargenerasi)
Akui bahwa generasi mendatang punya hak yang sama dengan kita.
Pertanyaan moral fundamental: Apakah adil jika kita mengambil semua sumber daya dan meninggalkan sampah untuk anak cucu kita?
Beberapa negara mulai menerapkan ini:
Wales menciptakan posisi "Future Generations Commissioner"—seseorang yang tugasnya adalah mewakili kepentingan generasi yang belum lahir dalam keputusan pemerintah.
Setiap kebijakan harus lolos tes: "Apakah ini adil untuk generasi mendatang?"
Bayangkan jika setiap negara punya ini.
4. Cathedral Thinking (Pemikiran Katedral)
Mulai proyek yang manfaatnya baru terasa generasi kemudian.
Contoh modern yang brilian: Hutan di Jepang
Kuil Ise Jingu di Jepang dibangun dari kayu cypress. Setiap 20 tahun, kuil dibongkar total dan dibangun kembali—tradisi yang sudah berlangsung 1.300 tahun.
Tapi dari mana kayunya? Dari hutan yang khusus ditanam untuk kuil ini.
200 tahun lalu, nenek moyang mereka menanam hutan. Hari ini, mereka memanen kayunya. Dan hari ini, mereka menanam hutan baru untuk generasi 200 tahun kemudian.
Siklus yang tidak pernah putus.
5. Holistic Forecasting (Peramalan Holistik)
Berpikir tentang masa depan dengan cara yang luas—tidak hanya ekonomi, tapi juga ekologi, sosial, budaya.
Masalah dengan peramalan ekonomi tradisional: mereka hanya melihat GDP, profit, pertumbuhan ekonomi.
Mereka tidak menghitung:
● Hilangnya keanekaragaman hayati
● Polusi udara dan air
● Kesehatan mental populasi
● Tingkat keterhubungan sosial
Holistic forecasting melihat semua ini.
Contoh: Bhutan mengukur "Gross National Happiness"—kebahagiaan nasional bruto—bukan hanya GDP.
6. Transcendent Goal (Tujuan yang Melampaui Diri)
Temukan tujuan yang lebih besar dari kepentingan pribadi Anda.
Penelitian menunjukkan: orang yang punya tujuan melampaui diri (melayani komunitas, melindungi planet, mewariskan sesuatu) lebih bahagia dan lebih termotivasi daripada orang yang hanya fokus pada kepentingan pribadi.
Mengapa? Karena kita pada dasarnya makhluk sosial yang butuh makna.
Bagian 5: Suara dari Masa Depan
Native American: Seven Generation Principle
Suku Iroquois punya prinsip yang indah: Seven Generation Principle.
Setiap keputusan besar harus dipertimbangkan dampaknya pada tujuh generasi ke depan. Tujuh generasi = sekitar 140 tahun.
Bayangkan jika kita menerapkan ini:
● Sebelum membangun pabrik batu bara: "Apakah ini baik untuk cicit saya 140 tahun kemudian?"
● Sebelum memotong hutan: "Apakah generasi ketujuh dari saya akan memaafkan keputusan ini?"
Perspektif berubah total.
Konstitusi untuk Generasi Mendatang
Beberapa negara mulai memberikan hak legal kepada generasi mendatang:
Finlandia mengubah konstitusi mereka untuk memasukkan: "Tanggung jawab lingkungan harus diberikan kepada generasi mendatang."
Prancis menambahkan "Charter for the Environment" ke konstitusi yang mengakui hak generasi mendatang untuk lingkungan yang sehat.
Bolivia memberikan hak legal kepada alam itu sendiri—sungai, gunung, hutan punya hak untuk tidak dirusak.
Ini radikal. Tapi juga logis: Jika korporasi bisa punya hak legal, mengapa alam dan generasi mendatang tidak?
Bagian 6: Menerapkan dalam Hidup Kita
Untuk Individu: Lima Langkah Praktis
1. Time Rebel—Lawan Tirani "Sekarang"
Buat satu keputusan per hari yang mengutamakan jangka panjang daripada jangka pendek:
● Masak makanan sehat daripada fast food (investasi kesehatan jangka panjang)
● Belajar skill baru daripada nonton TV (investasi masa depan)
● Bersepeda atau naik transportasi umum daripada mobil (investasi lingkungan)
2. The Future Self Journaling
Setiap minggu, tulis surat kepada diri Anda 10 tahun kemudian. Tanyakan:
● Apa yang diri saya di masa depan harapkan dari saya hari ini?
● Keputusan apa yang akan saya syukuri 10 tahun kemudian?
● Keputusan apa yang akan saya sesali?
3. Tanam Sesuatu yang Tumbuh Lambat
Secara literal: tanam pohon yang butuh puluhan tahun untuk tumbuh.
Secara metaforis: mulai proyek yang dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian—menulis buku, membangun organisasi, mentoring anak muda.
4. Adopt a Future Generation
Tidak harus literal. Tapi pilih satu kelompok generasi mendatang untuk Anda advokasi.
Mungkin anak-anak di komunitas Anda. Mungkin generasi yang akan hidup 100 tahun kemudian.
Ketika membuat keputusan besar—pekerjaan, investasi, gaya hidup—tanyakan: "Apakah ini baik untuk generasi yang saya adopsi?"
5. Join atau Bangun Gerakan
Bergabung dengan organisasi yang berpikir jangka panjang:
● Gerakan lingkungan
● Organisasi pendidikan
● Komunitas lokal yang membangun infrastruktur berkelanjutan
Untuk Organisasi dan Pemerintah
1. Future Impact Assessment
Sebelum kebijakan atau proyek disetujui, lakukan penilaian: "Apa dampaknya 25, 50, 100 tahun kemudian?"
2. Long-Term Incentive Structure
Ubah sistem insentif:
● CEO tidak hanya dinilai dari profit kuartalan, tapi dari sustainability jangka panjang
● Politisi dinilai dari kebijakan yang dampaknya bertahan setelah mereka tidak menjabat
3. Create Future Councils
Seperti Wales, ciptakan badan yang tugasnya adalah mewakili generasi mendatang.
Setiap keputusan besar harus mendapat approval dari Future Council.
Bagian 7: Kisah yang Memberi Harapan
Kota yang Berpikir 100 Tahun
Amsterdam membuat rencana kota untuk 100 tahun ke depan—bukan 5 atau 10 tahun seperti kota lain.
Mereka bertanya: "Kota seperti apa yang kita ingin wariskan untuk cicit kita?"
Hasilnya: investasi besar-besaran di infrastruktur sepeda, taman kota, perumahan berkelanjutan, sistem air yang bisa beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut.
Stockholm berkomitmen menjadi kota bebas bahan bakar fosil pada 2040—dan mereka on track.
Perusahaan yang Berpikir Generasi
Patagonia—perusahaan outdoor gear—punya misi: "We're in business to save our home planet."
Mereka membuat keputusan yang merusak profit jangka pendek tapi baik untuk planet jangka panjang:
● Kampanye "Don't Buy This Jacket"—mendorong konsumen untuk tidak membeli produk baru jika belum perlu
● Invest 1% revenue untuk gerakan lingkungan
● Menggunakan material daur ulang meskipun lebih mahal
Hasilnya? Loyalitas pelanggan yang luar biasa. Brand value yang tinggi. Dan planet yang sedikit lebih baik.
Ini bukan hanya idealis. Ini adalah bisnis yang smart untuk jangka panjang.
Penutup: Pertanyaan dari Generasi Mendatang
Roman Krznaric menutup bukunya dengan mengajak kita membayangkan sekali lagi:
Tahun 2100. Cicit Anda yang sudah dewasa sedang membaca tentang era kita—era 2020-an.
Mereka membaca tentang bagaimana kita tahu tentang perubahan iklim tapi tidak bertindak cukup cepat.
Mereka membaca tentang bagaimana kita punya teknologi untuk transisi ke energi terbarukan tapi memilih untuk tetap membakar bahan bakar fosil.
Mereka membaca tentang bagaimana kita lebih peduli pada ekonomi kuartalan daripada ekologi generasi mereka.
Apa yang akan mereka pikirkan tentang kita?
Akankah mereka melihat kita sebagai good ancestors—leluhur yang baik?
Atau akankah mereka mengutuk kita karena mementingkan diri sendiri?
Pilihan Ada di Tangan Kita
Krznaric optimis. Dia percaya kita bisa berubah. Dia percaya kita bisa menjadi generasi yang berbalik arah.
Tapi itu membutuhkan transformasi radikal dalam cara kita berpikir tentang waktu.
Dari: "Apa yang terbaik untuk saya hari ini?"
Ke: "Apa yang terbaik untuk generasi ketujuh setelah saya?"
Lima Pertanyaan untuk Anda Renungkan
1. Jika Anda mati hari ini, apa yang ingin Anda tinggalkan untuk generasi mendatang?
Tidak harus hal yang luar biasa. Mungkin pohon yang Anda tanam. Mungkin anak yang Anda didik dengan nilai-nilai baik. Mungkin komunitas yang Anda bantu bangun.
2. Keputusan apa yang Anda buat hari ini yang dampaknya akan dirasakan 50 tahun kemudian?
Apa yang Anda konsumsi? Bagaimana Anda menghabiskan uang? Bagaimana Anda memilih dalam pemilu?
3. Jika generasi mendatang bisa berbicara kepada Anda hari ini, apa yang mereka minta?
Mungkin: "Tolong jaga hutan." "Tolong kurangi emisi." "Tolong bangun sistem yang lebih adil."
4. Apa Cathedral project Anda—proyek yang manfaatnya baru terasa generasi kemudian?
Mungkin menanam hutan. Mungkin menulis buku. Mungkin membangun organisasi nirlaba. Mungkin mentoring generasi muda.
5. Seberapa sering Anda berpikir tentang generasi yang belum lahir?
Jujur saja—kebanyakan kita jarang. Tapi awareness adalah langkah pertama.
Warisan Kita Dimulai Hari Ini
"The Good Ancestor" bukan buku tentang pesimisme atau rasa bersalah. Ini tentang pemberdayaan dan tanggung jawab.
Kita adalah generasi pertama yang benar-benar memahami dampak jangka panjang dari tindakan kita. Dan mungkin generasi terakhir yang bisa mengubah trajektori sebelum terlambat.
Itu adalah tanggung jawab yang berat. Tapi juga kehormatan yang luar biasa. Seperti yang Krznaric tulis:
"Menjadi good ancestor berarti menyadari bahwa hidup Anda bukan hanya tentang Anda. Hidup Anda adalah bagian dari cerita yang lebih besar—cerita yang dimulai jauh sebelum Anda lahir dan akan berlanjut jauh setelah Anda mati. Pertanyaannya adalah: Peran apa yang akan Anda mainkan dalam cerita itu?"
Jadi mari kita mulai.
Tanam pohon hari ini—meskipun Anda tidak akan pernah duduk di bawah naungannya. Buat keputusan hari ini yang akan dikenang dengan baik 200 tahun kemudian.
Jadilah leluhur yang baik.
Karena suatu hari nanti, generasi mendatang akan melihat kembali ke era kita dan bertanya: "Apa yang mereka lakukan untuk kami?"
Apa jawaban Anda?
Tentang Buku Asli
"The Good Ancestor: How to Think Long Term in a Short-Term World" diterbitkan pada tahun 2020 dan langsung menjadi salah satu buku pemikiran sosial paling berpengaruh tahun itu.
Roman Krznaric adalah filsuf publik dan pendiri Empathy Museum. Sebelumnya, dia menulis "The Art of Living" dan "Empathy"—keduanya bestseller internasional.
Buku ini lahir dari frustrasi Krznaric melihat bagaimana institusi modern—pemerintah, korporasi, bahkan individu—terus membuat keputusan yang mengorbankan masa depan untuk kepentingan jangka pendek.
Buku ini telah dipuji oleh pemikir global termasuk Yuval Noah Harari, Kate Raworth, dan Brian Eno, dan telah diterjemahkan ke 20+ bahasa.
Untuk pemahaman lengkap tentang filosofi long-term thinking dan ratusan contoh praktis dari berbagai budaya dan era, sangat disarankan membaca buku aslinya. Krznaric menulis dengan gaya yang engaging, penuh storytelling sejarah yang menarik, dan dilengkapi dengan ilustrasi visual yang membantu memahami konsep deep time.
Ringkasan ini menangkap esensi dari argumen dan prinsip utama, tetapi buku asli menawarkan kedalaman, nuansa, dan inspirasi yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Sekarang pergilah dan mulai berpikir seperti leluhur yang baik—bukan dengan mengorbankan hari ini, tapi dengan membuat hari ini bermakna untuk generasi mendatang.
Karena seperti yang Krznaric buktikan: Masa depan dimulai dengan pilihan kita hari ini.
Pilihan Anda hari ini adalah warisan Anda untuk besok.

