Who Cares Wins

Lily Cole


Dari Catwalk ke Perubahan Sistem 

Paris Fashion Week, 2007. Lily Cole berdiri di backstage, mengenakan gaun haute couture senilai ratusan juta rupiah. 

Di sekelilingnya: makeup artist, stylist, fotografer, model lain. Semua sibuk dalam mesin mode yang bergerak cepat—koleksi musim ini akan usang dalam enam bulan, digantikan koleksi baru. 

Tapi pikirannya melayang ke pertanyaan yang mengganggu: "Apakah ini yang ingin saya lakukan dengan hidup saya? Berjalan di catwalk sementara dunia terbakar?" 

Dia baru saja membaca laporan IPCC tentang perubahan iklim. Baru mengetahui bahwa industri fashion adalah penyumbang polusi terbesar kedua di dunia—setelah minyak. Bahwa setiap koleksi yang dia kenakan berkontribusi pada krisis yang mengancam masa depan planet. 

Tapi yang lebih mengganggu: semua orang di sekitarnya seolah tidak peduli. Atau peduli tapi merasa powerless untuk mengubah apa pun. 

"Sistem terlalu besar," kata rekan modelnya. "Apa yang bisa kita lakukan?" Cole tidak menerima jawaban itu. 

Dalam sepuluh tahun berikutnya, dia mengubah hidupnya secara radikal: Kuliah di Cambridge, belajar sejarah seni dan ilmu sosial. Mendirikan Impossible.com, platform sharing economy. Menjadi aktivis lingkungan. Dan akhirnya menulis buku ini—manifesto untuk dunia di mana peduli bukan hanya hal yang "baik dilakukan" tapi strategi yang menguntungkan. 

"Who Cares Wins" bukan buku tentang amal atau altruisme naif. Ini buku tentang evolusi kapitalisme—dari sistem yang ekstraktif dan merusak menjadi sistem yang regeneratif dan berkelanjutan. 

Dan argumen utamanya sederhana tapi revolusioner: Dalam jangka panjang, bisnis yang peduli pada manusia dan planet akan menang atas yang tidak peduli.

 


Bagian 1: Dikotomi Palsu—Profit vs Purpose

Mitos yang Membunuh Kita 

Selama puluhan tahun, kita diajarkan bahwa ada trade-off yang tidak terhindarkan: 

Profit atau Purpose

Pemegang saham atau Stakeholder

Pertumbuhan ekonomi atau Perlindungan lingkungan. 

Cole menyebutnya "dikotomi palsu"—false dichotomy yang membatasi imajinasi kita dan menghancurkan planet. 

Contoh yang dia berikan: 

Tahun 1970, ekonom Milton Friedman menulis esai terkenal: "The Social Responsibility of Business is to Increase Its Profits." 

Argumennya sederhana: Satu-satunya tanggung jawab perusahaan adalah menghasilkan uang untuk pemegang saham. Titik. Tidak ada tanggung jawab sosial. Tidak ada tanggung jawab lingkungan. 

Filosofi ini mendominasi dunia bisnis selama 50 tahun. Hasilnya? 

Ketimpangan ekstrem: 1% terkaya memiliki hampir setengah kekayaan dunia

Kerusakan lingkungan masif: krisis iklim, kepunahan spesies, polusi

Krisis kesehatan mental: burnout, anxiety, depression meningkat drastis 

Tapi inilah yang Cole tunjukkan: Dikotomi ini tidak berdasar pada realitas.

Studi Kasus: Patagonia—Peduli = Profit 

Patagonia, perusahaan outdoor gear, melakukan hal yang "gila" menurut standar bisnis konvensional: 

1. Black Friday 2011: Mereka memasang iklan full-page di New York Times: "Don't Buy This Jacket"—meminta konsumen untuk tidak membeli produk mereka kecuali benar-benar perlu. 

2. Mereka memperbaiki produk gratis: Anda bisa mengirim jaket Patagonia yang rusak, mereka repair gratis—mengurangi penjualan baru. 

3. Mereka transparan tentang supply chain: Mengakui masalah, berbagi kesalahan mereka, mengajak kompetitor untuk belajar bersama.

Apa hasilnya? Penjualan meningkat. Loyalitas pelanggan luar biasa tinggi. Karyawan sangat engaged. Dan mereka menjadi salah satu brand paling dihormati di dunia. 

Mengapa? Karena orang ingin berbisnis dengan perusahaan yang mereka percaya. 

Pelajaran pertama: Peduli pada manusia dan planet bukan penghalang profit—itu keunggulan kompetitif jangka panjang.

 


Bagian 2: Belajar dari Alam—Sistem yang Tidak Pernah Kehabisan 

Hutan Sebagai Model Bisnis 

Cole mengajak kita membayangkan hutan. 

Hutan tidak punya CEO. Tidak punya rapat strategi. Tidak punya target quarterly. Tapi hutan telah bertahan jutaan tahun dengan sistem yang brilian: 

1. Tidak ada limbah: "Sampah" satu organisme adalah makanan organisme lain. Daun gugur menjadi kompos. Kompos menjadi nutrisi tanah. Tanah menumbuhkan pohon baru. 

2. Kolaborasi, bukan hanya kompetisi: Pohon berbagi nutrisi melalui jaringan miselium fungi di bawah tanah. Pohon "induk" memberi makan pohon muda yang belum bisa fotosintesis maksimal. 

3. Regeneratif, bukan ekstraktif: Hutan tidak menghabiskan sumber daya—dia menciptakan lebih banyak. Semakin lama, tanah semakin subur. Biodiversitas semakin kaya. 

Sekarang bandingkan dengan ekonomi modern: 

1. Linear: Ambil-Buat-Buang: Kita ambil bahan mentah dari bumi, buat produk, pakai sebentar, lalu buang ke tempat sampah atau laut. 80% produk berakhir di tempat sampah dalam 6 bulan. 

2. Kompetisi brutal: Perusahaan menyembunyikan informasi. Zero-sum game. Jika kamu menang, aku kalah. 

3. Ekstraktif: Kita menguras sumber daya lebih cepat daripada bumi bisa regenerasi. Kita hidup dengan "ecological debt"—mengambil dari masa depan untuk konsumsi hari ini. 

Pertanyaan Cole: Mengapa kita tidak mendesain ekonomi seperti hutan?

Ekonomi Sirkular—Blueprint Masa Depan 

Ekonomi sirkular adalah konsep yang diinspirasi dari alam:

Prinsip 1: Desain tanpa limbah 

Produk dirancang dari awal untuk bisa didaur ulang atau terurai. Tidak ada yang namanya "sampah"—semua adalah sumber daya. 

Prinsip 2: Jaga produk dan material tetap digunakan 

Daripada buang, kita repair, refurbish, reuse, remanufacture. 

Prinsip 3: Regenerasi sistem alam 

Bisnis tidak hanya "less harmful"—tapi aktif memperbaiki ekosistem. 

Studi Kasus: Interface—Dari Poluter Menjadi Pioneer 

Interface, perusahaan karpet terbesar di dunia, dulu adalah poluter besar. CEO mereka, Ray Anderson, membaca buku tentang lingkungan dan mengalami "epiphany": 

"Suatu hari nanti, orang akan menjebloskan saya dan semua CEO seperti saya ke penjara karena merusak planet." 

Dia memutuskan mengubah seluruh model bisnis: 

Mission Zero: Zero waste, zero carbon emission pada 2020 

● Mereka membuat karpet dari jaring ikan bekas di laut 

Mereka tidak lagi "menjual" karpet—mereka "menyewakan": Ketika rusak, Interface ambil kembali dan recycle menjadi karpet baru 

Hasilnya? 

Biaya operasional turun $450 juta (karena efisiensi material) 

● Penjualan naik 

Karyawan lebih engaged (bangga bekerja di perusahaan yang peduli)

● Mereka mengurangi emisi karbon 96% 

Pelajaran kedua: Sistem sirkular bukan hanya baik untuk planet—itu baik untuk bottom line.

 


Bagian 3: Kekuatan Berbagi—Collaboration Over Competition 

Impossible.com—Eksperimen Cole 

Setelah keluar dari dunia modeling, Cole mendirikan Impossible.com—platform di mana orang bisa berbagi apa yang mereka punya dan menawarkan apa yang mereka butuhkan. 

Konsepnya sederhana: "Sharing economy berbasis kepercayaan dan reciprocity."

Contoh: 

● Kamu punya mobil tapi tidak pakai setiap hari? Bagikan ke tetangga yang butuh.

● Kamu jago memasak tapi butuh bantuan belajar coding? Tukar skill dengan programmer yang suka makan enak. 

● Kamu punya ruangan kosong? Bagikan ke traveler yang butuh tempat tinggal.

Mengapa ini penting? 

Rata-rata mobil hanya digunakan 4% dari waktunya. 96% waktu, mobil hanya parkir. Drill di rumah Anda rata-rata digunakan 13 menit dalam seumur hidupnya. Kamar tamu Anda kosong 90% waktu. 

Kita hidup dalam ekonomi yang sangat tidak efisien. 

Cole percaya bahwa dengan teknologi dan budaya berbagi, kita bisa: 

● Mengurangi konsumsi drastis (tidak perlu semua orang punya semua barang)

● Membangun komunitas yang lebih kuat (berbagi menciptakan koneksi)

● Mengurangi dampak lingkungan (produksi lebih sedikit = emisi lebih sedikit) 

Dari "Tragedy of the Commons" ke "Magic of the Commons" 

Ekonom konvensional bicara tentang "Tragedy of the Commons"—ide bahwa sumber daya bersama akan dieksploitasi dan hancur karena self-interest. 

Tapi Elinor Ostrom, ekonom peraih Nobel, membuktikan ini salah. Dia menunjukkan ratusan contoh komunitas yang berhasil mengelola sumber daya bersama secara berkelanjutan selama ratusan tahun—hutan, sistem irigasi, perikanan—dengan aturan yang dibuat bersama dan kepercayaan mutual. 

Cole menyebutnya "Magic of the Commons": Ketika orang peduli pada yang lebih besar dari diri mereka sendiri, mereka bisa menciptakan sistem yang lebih resilient dan berkelanjutan daripada kompetisi murni.

Pelajaran ketiga: Kerja sama dan berbagi bukan kelemahan—itu kekuatan evolusioner yang membuat manusia dominan.

 


Bagian 4: Long-Term Thinking—Keluar dari Quarterly Capitalism 

Tirani Quarterly Report 

Sebagian besar perusahaan publik hidup dalam "quarterly capitalism": Setiap tiga bulan, mereka harus lapor hasil keuangan. Jika tidak naik, saham turun. CEO dipecat. 

Hasilnya? Short-termism yang ekstrem

Perusahaan: 

● Memotong investasi R&D untuk boost profit jangka pendek 

● Mengabaikan dampak lingkungan jangka panjang 

● Memperlakukan karyawan sebagai biaya yang harus diminimalkan 

● Mengorbankan masa depan untuk hasil hari ini 

Cole menceritakan kisah Kodak

Kodak menciptakan kamera digital pertama di dunia pada 1975. Tapi mereka tidak mau mengomersialkannya—karena akan mengkanibalisasi bisnis film mereka yang sangat profitable. 

Mereka memilih profit jangka pendek. Hasilnya? 30 tahun kemudian, Kodak bangkrut. Perusahaan yang lahir dari digital photography (yang Kodak ciptakan!) mengambil alih pasar. 

Short-term thinking membunuh Kodak. 

Prinsip Seven Generations—Wisdom Indigenous People 

Cole mengutip filosofi dari suku Iroquois: "Dalam setiap keputusan, pertimbangkan dampaknya pada tujuh generasi ke depan." 

Bayangkan jika perusahaan berpikir seperti ini: 

● "Apakah keputusan ini baik untuk cucu-cucu kita?" 

● "Apakah kita meninggalkan dunia yang lebih baik atau lebih buruk?"

Beberapa perusahaan mulai melakukan ini: 

Unilever di bawah CEO Paul Polman menghapus quarterly guidance. Mereka fokus pada Sustainable Living Plan—target jangka panjang untuk mengurangi dampak lingkungan sambil meningkatkan dampak sosial. 

Hasilnya dalam 10 tahun:

● Brand sustainable mereka tumbuh 69% lebih cepat dari brand lain

● Total penjualan naik 

● Nilai saham naik (meskipun fokus bukan pada quarterly results) 

Pelajaran keempat: Long-term thinking bukan pengorbanan profit—itu strategi untuk profit yang sustainable.

 


Bagian 5: Mengukur Ulang Kesuksesan—Beyond GDP

Masalah dengan GDP 

Selama puluhan tahun, GDP (Gross Domestic Product) adalah ukuran kesuksesan suatu negara. 

Tapi GDP punya masalah mendasar: Dia mengukur aktivitas ekonomi, bukan kesejahteraan. 

Contoh absurd: 

Kecelakaan mobil meningkatkan GDP (biaya rumah sakit, perbaikan mobil, pembelian mobil baru) 

Polusi meningkatkan GDP (biaya cleanup, biaya kesehatan) 

Perceraian meningkatkan GDP (dua rumah, dua kulkas, biaya lawyer)

Apakah ini yang kita inginkan? Ekonomi yang tumbuh karena kecelakaan dan penyakit?

Alternatif: Kesejahteraan Sejati 

Cole menunjukkan contoh Bhutan: Negara kecil di Himalaya yang menggunakan Gross National Happiness alih-alih GDP. 

Mereka mengukur: 

● Kesehatan mental dan fisik 

● Kualitas lingkungan 

● Kekuatan komunitas 

● Akses terhadap pendidikan dan budaya 

Hasilnya? Bhutan adalah salah satu negara paling bahagia di dunia—meskipun GDP per kapita rendah. 

New Zealand juga mulai menggunakan "Wellbeing Budget"—mengalokasikan anggaran berdasarkan dampak terhadap kesejahteraan warga, bukan hanya pertumbuhan ekonomi. 

Pelajaran kelima: Kita perlu mengukur ulang kesuksesan—dari sekadar "lebih banyak" menjadi "lebih baik".

 


Bagian 6: Individual Power—Setiap Orang Punya Peran

"Tapi Saya Hanya Satu Orang..." 

Cole sering mendengar: "Saya cuma satu orang. Apa yang bisa saya lakukan?"

Jawabannya: Lebih dari yang Anda kira. 

Dia membagi kekuatan individual menjadi empat kategori: 

1. Sebagai Konsumen—Voting dengan Uang Anda 

Setiap kali Anda membeli sesuatu, Anda voting untuk dunia seperti apa yang Anda inginkan.

Pertanyaan sebelum membeli: 

● Apakah saya benar-benar butuh ini? 

● Bagaimana ini dibuat? Siapa yang membuatnya? 

● Bisakah saya beli bekas atau pinjam alih-alih beli baru? 

● Apakah perusahaan ini peduli pada manusia dan planet? 

Gerakan kecil dari jutaan orang menciptakan perubahan besar: 

Organic food dulu niche, sekarang mainstream—karena permintaan konsumen

Perusahaan menghapus plastic straws—karena konsumen memprotes

● Fast fashion mulai ditinggalkan—karena kesadaran konsumen meningkat 

2. Sebagai Pekerja—Mengubah dari Dalam 

Jika Anda bekerja di perusahaan, Anda punya kekuatan untuk mendorong perubahan: 

● Ajukan pertanyaan tentang sustainability dalam meeting 

● Usulkan inisiatif lingkungan 

● Bentuk kelompok karyawan yang peduli 

● Jika perusahaan tidak responsif, pertimbangkan pindah ke perusahaan yang aligned dengan nilai Anda 

Cole menceritakan kisah karyawan Google yang berhasil mendorong perusahaan untuk menghapus kontrak dengan militer melalui protes internal. 

3. Sebagai Investor—Memindahkan Uang 

Jika Anda punya tabungan atau investasi, pertimbangkan: 

● Divest from fossil fuels: Pindahkan uang dari perusahaan yang merusak planet

● Invest in sustainable funds: Investasi yang peduli pada ESG (Environmental, Social, Governance) 

$1 yang diinvestasikan di renewable energy menciptakan lebih banyak pekerjaan dan lebih sedikit polusi daripada $1 di fossil fuels. 

4. Sebagai Warga Negara—Suara Anda Penting 

● Vote untuk politisi yang peduli iklim dan keadilan sosial 

● Tanda tangani petisi 

● Hubungi wakil rakyat Anda 

● Bergabung dengan gerakan sosial 

● Bicara tentang isu ini dengan keluarga dan teman 

Perubahan sistemik membutuhkan tekanan politik. Dan politisi mendengarkan ketika cukup banyak orang bicara. 

Pelajaran keenam: Anda lebih powerful dari yang Anda kira. Gunakan kekuatan itu.

 


Bagian 7: Hope dan Agency—Optimisme Berbasis Tindakan 

Bahaya dari Doomism 

Cole mengakui: Berita tentang krisis iklim dan ketidakadilan sosial bisa sangat overwhelming. 

Mudah untuk jatuh ke dalam "doomism"—perasaan bahwa semuanya sudah terlambat, tidak ada harapan, tidak ada yang bisa kita lakukan. 

Tapi Cole berpendapat: Doomism sama berbahayanya dengan denial. 

Mengapa? Karena jika kita percaya tidak ada harapan, kita tidak akan bertindak. Dan jika kita tidak bertindak, ramalan kita akan jadi kenyataan—self-fulfilling prophecy. 

Active Hope—Harapan Bukan Perasaan, Tapi Praktik 

Cole mengutip konsep dari Joanna Macy: "Active Hope"—harapan bukan tentang merasa optimis, tapi tentang bertindak seolah-olah harapan itu mungkin. 

Seperti Vaclav Havel, presiden Republik Ceko, berkata: 

"Harapan bukan keyakinan bahwa sesuatu akan berjalan baik, tapi kepastian bahwa sesuatu masuk akal, terlepas dari bagaimana hasilnya." 

Cole menunjukkan contoh-contoh yang memberi harapan: 

Lubang ozon dulu krisis besar. Tapi karena tindakan global (Montreal Protocol), lubang ozon sedang menutup

Renewable energy dulu mahal dan niche. Sekarang solar dan wind lebih murah daripada fossil fuels di banyak tempat. 

Perbudakan dulu dianggap "ekonomi yang necessary". Sekarang ilegal di seluruh dunia—karena orang berjuang untuk mengubahnya. 

Perubahan adalah mungkin. Tapi hanya jika kita bertindak.

 


Penutup: Who Cares Wins—Dalam Setiap Arti

Cole menutup bukunya dengan observasi powerful: 

"Judul buku ini—Who Cares Wins—punya double meaning: 

Meaning 1: Siapa yang peduli yang menang. 

Dalam jangka panjang, perusahaan yang peduli pada karyawan, konsumen, komunitas, dan planet akan mengalahkan yang tidak peduli. Karena trust, loyalitas, dan resilience adalah keunggulan kompetitif terbesar. 

Meaning 2: Siapa yang peduli, menang. 

Sebagai individu, ketika Anda peduli pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri—ketika Anda berkontribusi pada perubahan positif—Anda hidup dengan lebih bermakna. Anda merasa bahwa hidup Anda penting. Dan itu adalah bentuk kemenangan yang paling dalam." 

Pertanyaan untuk Anda 

Jika Anda pebisnis atau entrepreneur: 

● Apakah model bisnis Anda ekstraktif atau regeneratif? 

● Apakah Anda mengoptimalkan untuk quarterly results atau long-term sustainability?

● Bagaimana Anda mengukur kesuksesan—hanya profit atau juga dampak? 

Jika Anda karyawan: 

● Apakah perusahaan Anda aligned dengan nilai Anda? 

● Apakah Anda menggunakan suara Anda untuk mendorong perubahan positif?

● Jika tidak, apakah Anda di tempat yang tepat? 

Jika Anda konsumen: 

● Apakah keputusan pembelian Anda reflecting nilai-nilai Anda? 

● Bisakah Anda mengurangi, reuse, atau repair sebelum membeli baru?

● Apakah Anda mendukung bisnis yang peduli? 

Untuk semua orang: 

● Apa yang Anda pedulikan? 

● Apa satu tindakan kecil yang bisa Anda ambil hari ini? 

● Siapa yang bisa Anda ajak untuk peduli bersama?

Lima Prinsip untuk Mulai Peduli—dan Menang 

1. Think Long-Term 

Dalam setiap keputusan, tanyakan: "Apakah ini baik untuk jangka panjang?" Jangan korbankan masa depan untuk kenyamanan hari ini. 

2. Embrace Circularity 

Reduce, Reuse, Repair, Recycle. Lihat "limbah" sebagai sumber daya. Desain untuk regenerasi. 

3. Collaborate Generously 

Berbagi pengetahuan. Berbagi resources. Lihat orang lain bukan sebagai kompetitor tapi sebagai collaborator potensial. 

4. Measure What Matters 

Beyond profit, ukur dampak Anda pada manusia dan planet. Apa yang Anda ukur adalah apa yang Anda optimalkan. 

5. Use Your Power 

Sebagai konsumen, pekerja, investor, warga negara—Anda punya kekuatan. Gunakan untuk mendorong perubahan.

 


Tentang Buku Asli 

"Who Cares Wins: Reasons for Optimism in Our Changing World" diterbitkan pada tahun 2020, tepat saat dunia menghadapi pandemi COVID-19—momen yang memaksa kita memikirkan ulang prioritas kita. 

Lily Cole adalah sosok yang unik: mantan supermodel yang berubah menjadi aktivis dan entrepreneur sosial. Dia belajar di Cambridge, mendirikan Impossible.com, dan menjadi suara untuk ekonomi yang lebih manusiawi. 

Buku ini adalah kombinasi yang jarang: riset akademis yang solid, studi kasus bisnis yang konkret, filosofi yang mendalam, dan narasi personal yang vulnerable. Cole menulis dengan kejujuran tentang ketakutan dan harapannya—membuat buku ini terasa sangat manusiawi. 

Untuk pemahaman lengkap tentang visi ekonomi regeneratif dan ratusan contoh konkret dari perusahaan dan individu yang sudah melakukannya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Cole memberikan detail, data, dan inspirasi yang tidak bisa sepenuhnya diringkas. 

Ringkasan ini menangkap argumen inti dan prinsip utama, tetapi buku asli menawarkan kedalaman, nuansa, dan tools praktis yang akan mengubah cara Anda melihat bisnis, ekonomi, dan peran Anda dalam menciptakan masa depan yang lebih baik. 

Sekarang pergilah dan mulai peduli—bukan karena Anda "harus" tapi karena peduli adalah strategi terbaik untuk bisnis yang sustainable, hidup yang bermakna, dan masa depan yang layak diwariskan. 

Seperti yang Cole buktikan: Who Cares Wins. Dalam setiap arti. 

Saatnya kita semua menjadi pemenang—dengan peduli.