Perusahaan yang Menutup di Hari Jumat
Bayangkan ini: Perusahaan Anda mengumumkan mulai bulan depan, kantor tutup setiap hari Jumat.
Tidak ada pekerjaan. Tidak ada email. Tidak ada meeting. Tiga hari libur setiap minggu—tanpa potong gaji.
Reaksi pertama Anda mungkin: "Mustahil! Pekerjaan tidak akan selesai! Kita akan ketinggalan kompetitor! Bisnis akan hancur!"
Tapi apa yang sebenarnya terjadi?
Tahun 2015, Tower Paddle Boards—perusahaan kecil di San Diego yang membuat papan selancar—melakukan eksperimen ini. Stephan Aarstol, CEO-nya, membaca tentang perusahaan di Swedia yang beralih ke 6 jam kerja sehari. Dia berpikir: "Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak bisa?"
Jadi dia mengumumkan: Mulai hari Senin, kita kerja 5 jam sehari—8 pagi sampai 1 siang. Tidak ada lembur. Pulang sebelum makan siang.
Karyawannya skeptis. "Bagaimana mungkin kita selesaikan semua pekerjaan dalam 5 jam?"
Aarstol menjawab: "Kita tidak akan melakukan semua yang kita lakukan sekarang. Kita akan fokus pada yang benar-benar penting."
Hasilnya dalam 6 bulan pertama?
● Produktivitas naik 40%
● Pendapatan meningkat
● Kepuasan karyawan melonjak
● Turnover turun drastis
● Aarstol masuk acara Shark Tank dan dapat investasi $150,000
Bagaimana mungkin?
Karena ketika Anda hanya punya 5 jam, Anda tidak punya waktu untuk:
● Meeting yang tidak produktif
● Email yang tidak penting
● Multitasking yang tidak efisien
● Gangguan media sosial
● Pekerjaan yang terlihat sibuk tapi tidak menghasilkan apa-apa
Anda terpaksa fokus pada yang benar-benar penting. Dan ternyata, itulah yang membuat perbedaan.
Tower Paddle Boards bukan anomali. Alex Soojung-Kim Pang menghabiskan bertahun-tahun meneliti puluhan perusahaan di berbagai negara—dari startup teknologi di Silicon Valley hingga panti jompo di Swedia, dari agensi konsultan di London hingga pabrik di Jepang—yang semua melakukan hal yang sama: mengurangi jam kerja tanpa mengurangi gaji.
Dan hampir semua mengalami hal yang sama: produktivitas naik, karyawan lebih bahagia, bisnis lebih menguntungkan.
Inilah yang Pang sebut "paradox produktivitas": Bekerja lebih sedikit bisa menghasilkan lebih banyak.
Mari kita pelajari bagaimana.
Bagian 1: Mengapa Kita Bekerja Terlalu Lama
Mitos 40 Jam Seminggu
Kita semua percaya bahwa 40 jam seminggu adalah "normal." Lima hari, delapan jam sehari. Tapi dari mana angka ini datang?
Henry Ford memperkenalkan 40 jam seminggu di tahun 1926—bukan karena itu optimal untuk produktivitas, tapi karena itu lebih baik dari 60-80 jam yang umum di era itu.
Dan itu untuk pekerjaan manufaktur—memasukkan baut, memutar roda, pekerjaan fisik repetitif di mana lebih banyak jam memang berarti lebih banyak output.
Tapi pekerjaan hari ini sangat berbeda. Kebanyakan dari kita tidak memutar baut. Kita:
● Memecahkan masalah kompleks
● Berkreasi
● Membuat keputusan strategis
● Berkolaborasi dengan tim
● Melayani pelanggan dengan empati
Untuk pekerjaan seperti ini, lebih banyak jam tidak sama dengan lebih banyak output. Malah, seringkali sebaliknya.
Hukum Diminishing Returns
Penelitian menunjukkan bahwa produktivitas rata-rata pekerja drop drastis setelah 50 jam per minggu. Di atas 55 jam, produktivitas praktis nol—bahkan negatif karena kelelahan menyebabkan kesalahan.
Bayangkan grafik:
● Jam 1-40: Produktivitas tinggi
● Jam 41-50: Produktivitas turun
● Jam 51-60: Produktivitas sangat rendah
● Jam 60+: Produktivitas negatif (membuat kesalahan yang harus diperbaiki)
Tapi kita terus bekerja lama karena kita mengukur input (jam kerja), bukan output (hasil).
Boss melihat Anda di kantor sampai malam dan berpikir: "Dia pekerja keras." Tapi apakah Anda produktif? Tidak ada yang tanya.
Bagian 2: Perusahaan yang Membuktikan Shorter Works
Pang mengunjungi puluhan perusahaan. Berikut beberapa yang paling menarik:
1. Collins SBA (Edinburgh, Skotlandia)
Agensi konsultan strategi bisnis. 20 karyawan.
Transisi: Dari 5 hari seminggu menjadi 4 hari seminggu (32 jam total, gaji tetap penuh).
Proses: Mereka tidak hanya memotong satu hari. Mereka mendesain ulang seluruh cara kerja:
● Meeting maksimal 30 menit, harus punya agenda jelas
● Email dikurangi drastis—lebih banyak komunikasi langsung
● Eliminasi pekerjaan yang tidak menambah value untuk klien
● Fokus pada deliverables, bukan aktivitas
Hasil setelah 1 tahun:
● Revenue naik 30%
● Profit naik 24%
● Kepuasan karyawan 100% (semua ingin lanjut)
● Client retention meningkat
Karyawan menggunakan hari keempat untuk:
● Mengurus anak
● Volunteer
● Belajar skill baru
● Istirahat dan recharge
Hasilnya? Mereka datang ke kantor dengan energi lebih tinggi, fokus lebih baik, kreativitas lebih tinggi.
2. IIH Nordic (Stockholm, Swedia)
Panti jompo dengan 80 perawat.
Transisi: Dari 8 jam sehari menjadi 6 jam sehari (30 jam seminggu, gaji tetap).
Hasil:
● Turnover turun 50% (industri perawat punya turnover sangat tinggi karena burnout)
● Sick days turun drastis
● Kualitas perawatan meningkat (perawat lebih fokus, lebih sabar, lebih empati)
● Produktivitas per jam naik 20%
Mengapa ini penting? Karena pekerjaan perawat sangat demanding—fisik dan emosional. Perawat yang kelelahan membuat kesalahan yang bisa fatal.
Dengan 6 jam, mereka masih punya energi penuh dari awal sampai akhir shift. Tidak ada "jam-jam zombie" di mana mereka hanya "survive" sampai pulang.
3. Wildbit (Philadelphia, USA)
Perusahaan software dengan 25 karyawan, tersebar di seluruh dunia.
Transisi: 4 hari seminggu, dengan fokus pada asynchronous work (tidak semua orang harus online di waktu yang sama).
Filosofi mereka: "Kami tidak membayar orang untuk duduk di depan komputer 40 jam. Kami membayar mereka untuk menyelesaikan masalah. Kalau mereka bisa menyelesaikan masalah dalam 32 jam, kenapa memaksa mereka duduk 40 jam?"
Hasil:
● Attrition rate 0% (tidak ada yang resign dalam 3 tahun terakhir—luar biasa untuk industri tech)
● Kualitas kode lebih baik (lebih sedikit bugs)
● Kreativitas lebih tinggi
● Karyawan lebih sehat mental dan fisik
Pola yang Konsisten
Pang menemukan pola di semua perusahaan ini:
1. Produktivitas tidak turun—malah naik
2. Kepuasan karyawan melonjak
3. Turnover turun drastis (menghemat biaya recruitment dan training)
4. Kualitas kerja meningkat (lebih sedikit kesalahan)
5. Kreativitas dan inovasi meningkat
6. Bisnis lebih profitable, bukan kurang
Bagian 3: Lima Prinsip Mendesain Pekerjaan yang Lebih Pendek
Pang mengidentifikasi lima prinsip yang digunakan semua perusahaan sukses ini:
Prinsip 1: Produktivitas, Bukan Kesibukan
Masalah: Kita mengukur "sibuk" bukan "produktif."
Orang yang reply email dalam 2 menit terlihat produktif. Tapi apakah dia menyelesaikan pekerjaan penting? Tidak ada yang tahu.
Solusi: Ukur output, bukan input.
Tower Paddle Boards tidak peduli karyawan ada di meja berapa lama. Mereka peduli:
● Berapa papan selancar yang diproduksi?
● Berapa order yang dikirim?
● Berapa komplain pelanggan yang diselesaikan?
Ketika Anda fokus pada hasil, tiba-tiba semua aktivitas yang tidak menghasilkan jadi jelas terlihat—dan bisa dieliminasi.
Prinsip 2: Redesign, Bukan Hanya Potong
Kesalahan fatal: Perusahaan memotong jam kerja tapi tidak mengubah cara kerja.
Hasilnya? Karyawan bekerja 4 hari tapi harus selesaikan pekerjaan 5 hari. Mereka overwhelmed. Kualitas turun. Eksperimen gagal.
Cara yang benar: Redesign seluruh alur kerja.
Collins SBA melakukan audit: "Pekerjaan apa yang kita lakukan yang tidak benar-benar menambah value?"
Mereka menemukan:
● 30% meeting tidak perlu → Dihapus
● 50% email bisa diganti percakapan 5 menit → Lebih banyak komunikasi langsung
● Report mingguan yang tidak ada yang baca → Dihapus
● Multitasking yang membuat semua pekerjaan lebih lama → Fokus pada satu task sampai selesai
Hasilnya: Mereka tidak memotong jam kerja dan memaksa pekerjaan sama. Mereka menghilangkan pekerjaan yang tidak penting sehingga yang penting bisa selesai dalam waktu lebih pendek.
Prinsip 3: Batasan Menciptakan Fokus
Paradox: Ketika Anda punya waktu terbatas, Anda lebih fokus.
Parkinson's Law: "Pekerjaan akan mengembang untuk mengisi waktu yang tersedia."
Kalau Anda punya 8 jam untuk menulis laporan, Anda akan pakai 8 jam—dengan 2 jam cek media sosial, 1 jam meeting tidak penting, 1 jam ngobrol dengan rekan kerja.
Kalau Anda hanya punya 3 jam, Anda tidak punya waktu untuk distraksi. Anda terpaksa fokus.
Contoh dari Basecamp (perusahaan software terkenal):
Mereka punya aturan: Tidak ada meeting dari jam 8 pagi sampai 12 siang.
Empat jam uninterrupted work. Hasilnya? Programmer mereka bisa menyelesaikan dalam 4 jam apa yang biasanya butuh 8 jam—karena tidak ada context switching.
Prinsip 4: Eksperimen, Iterasi, Perbaiki
Tidak ada perusahaan yang langsung sempurna.
Collins SBA mencoba berbagai hari untuk libur:
● Pertama coba Jumat
● Lalu coba Monday
● Akhirnya settle di Jumat karena lebih baik untuk karyawan
Wildbit mencoba berbagai panjang hari kerja:
● 6 jam? Terlalu pendek untuk pekerjaan kompleks
● 7 jam? Kadang terlalu lama
● Akhirnya flexible: "Selesaikan task Anda, lalu pulang"
Pelajaran: Jangan takut eksperimen. Mulai kecil. Trial selama 3 bulan. Evaluasi. Adjust.
Prinsip 5: Kepemimpinan yang Mendukung
Semua perubahan ini dimulai dari top leadership.
CEO yang berkata: "Saya percaya ini akan berhasil. Mari kita coba."
Bukan HR yang memaksa. Bukan karyawan yang merengek. Tapi leader yang punya visi dan keberanian untuk eksperimen.
Dan yang penting: Leader harus ikut aturan yang sama.
Kalau CEO bilang "4 hari kerja" tapi dia sendiri kerja 7 hari, karyawan tidak akan percaya. Mereka akan berpikir ini "trap."
Tapi kalau CEO benar-benar pulang hari Jumat, tidak kirim email weekend, karyawan tahu: "Ini serius. Ini budaya baru."
Bagian 4: Manfaat untuk Semua Pihak
Untuk Karyawan
1. Kesehatan Mental dan Fisik Lebih Baik
Penelitian di IIH Nordic menunjukkan:
● Stress turun 20%
● Kualitas tidur meningkat
● Anxiety dan depresi turun
● Sick days turun 50%
Karyawan tidak lagi burnout. Mereka punya waktu untuk exercise, hobi, keluarga.
2. Work-Life Balance yang Nyata
Bukan "work-life balance" yang diomongkan tapi tidak pernah terjadi. Tapi betulan ada waktu untuk hidup di luar pekerjaan.
Karyawan Collins SBA menggunakan hari Jumat untuk:
● Mengurus anak (menghemat childcare)
● Kursus dan belajar skill baru
● Volunteer di komunitas
● Istirahat dan recharge
3. Engagement Lebih Tinggi
Ketika Anda tidak kelelahan, Anda peduli dengan pekerjaan Anda. Anda datang dengan ide. Anda lebih kreatif. Anda lebih antusias.
Untuk Perusahaan
1. Produktivitas Lebih Tinggi
Rata-rata perusahaan dalam studi Pang mengalami kenaikan produktivitas 20-40% per jam kerja.
Mengapa? Karena mereka menghilangkan waste dan fokus pada yang penting.
2. Talent Retention
Turnover sangat mahal—biaya recruitment, training, lost productivity.
Perusahaan dengan jam kerja pendek punya turnover jauh lebih rendah. Karyawan tidak mau resign karena mereka tidak akan dapat benefit ini di tempat lain.
3. Attraction untuk Top Talent
Wildbit bisa merekrut engineer top meskipun gaji mereka tidak yang paling tinggi. Mengapa? Karena mereka menawarkan 4 hari kerja.
Untuk banyak orang—terutama generasi muda—waktu lebih berharga daripada uang.
4. Inovasi Lebih Tinggi
Kreativitas tidak datang dari jam kerja panjang. Kreativitas datang dari otak yang segar dan punya waktu untuk berpikir.
Karyawan yang kelelahan tidak punya energi untuk ide baru. Mereka hanya survive. Karyawan yang well-rested datang dengan solusi inovatif.
Untuk Masyarakat
1. Kesehatan Publik Lebih Baik
Burnout adalah epidemi. WHO mengakui burnout sebagai sindrom medis resmi.
Jam kerja lebih pendek = populasi lebih sehat = biaya kesehatan publik lebih rendah.
2. Kesetaraan Gender
Salah satu hambatan terbesar kesetaraan gender adalah beban domestic yang tidak setara.
Dengan 4 hari kerja, laki-laki punya lebih banyak waktu untuk childcare dan pekerjaan rumah. Ini meningkatkan kesetaraan di rumah dan di tempat kerja.
3. Keberlanjutan Lingkungan
Lebih sedikit commuting = lebih sedikit emisi karbon.
Lebih sedikit hari di kantor = lebih sedikit konsumsi energi.
4. Ekonomi Lokal
Orang dengan lebih banyak waktu luang menghabiskan lebih banyak uang di restoran lokal, gym, kursus, hobi.
Ini boost ekonomi lokal.
Bagian 5: Memulai Transisi—Langkah Praktis
Untuk Perusahaan: Road Map 6 Bulan
Bulan 1-2: Audit dan Design
● Audit semua aktivitas: mana yang produktif, mana yang waste?
● Interview karyawan: apa yang menghalangi produktivitas mereka?
● Design ulang workflow
● Eliminasi meeting yang tidak perlu
● Tentukan metrik sukses (bukan jam kerja, tapi output)
Bulan 3-4: Pilot
● Pilih satu tim atau departemen untuk trial
● 3 bulan trial 4-day week atau 6-hour day
● Kumpulkan data: produktivitas, kepuasan karyawan, kualitas kerja
● Identify masalah dan adjust
Bulan 5-6: Evaluasi dan Scale
● Evaluasi hasil pilot
● Jika sukses, expand ke tim lain
● Jika ada masalah, adjust dan coba lagi
● Communicate clearly dengan seluruh perusahaan
Untuk Individu: Apa yang Bisa Anda Lakukan Hari Ini
1. Time Audit
Catat satu minggu penuh: Anda menghabiskan waktu untuk apa? Kategorikan:
● Deep work (fokus pada task penting)
● Shallow work (email, admin, meeting)
● Waste (media sosial, distraksi)
Kebanyakan orang shock: hanya 2-3 jam sehari untuk deep work. Sisanya waste.
2. Protect Deep Work Time
Block 2-3 jam setiap hari untuk deep work:
● No email
● No meeting
● No interruptions
● Fokus pada satu task sampai selesai
3. Eliminate, Delegate, Automate
Untuk setiap task, tanya:
● Apakah ini benar-benar perlu? Jika tidak, eliminate.
● Apakah orang lain bisa melakukan ini? Jika ya, delegate.
● Apakah ini bisa diotomasi? Jika ya, automate.
4. Eksperimen dengan Batasan Waktu
Coba: "Hari ini saya akan selesaikan pekerjaan dalam 6 jam, lalu pulang."
Apa yang terjadi? Anda fokus lebih baik. Anda tidak waste waktu. Dan Anda mungkin selesai.
5. Propose ke Manager
Jika Anda punya data (saya lebih produktif dalam 6 jam fokus daripada 8 jam terdistraksi), propose trial:
"Bisa saya coba 4 minggu bekerja 6 jam sehari tapi dengan deliverables yang sama? Kalau produktivitas saya turun, kita kembali ke sistem lama."
Manager yang smart akan bilang yes—karena tidak ada risk. Kalau berhasil, mereka dapat karyawan lebih produktif. Kalau gagal, kembali normal.
Bagian 6: Mengatasi Keberatan
"Kita tidak seperti perusahaan dalam buku. Kita punya deadline ketat."
Jawaban: Semua perusahaan dalam studi Pang punya deadline. Collins SBA melayani klien dengan ekspektasi tinggi. Wildbit punya release schedule ketat.
Bedanya: mereka fokus pada efisiensi, bukan jam kerja.
"Client kita mengharapkan kita available 24/7."
Jawaban: Apakah mereka benar-benar mengharapkan itu? Atau kita yang berasumsi?
Collins SBA set ekspektasi jelas: "Kami tidak bekerja hari Jumat. Untuk emergency, hubungi nomor ini."
Ternyata? Tidak ada client yang komplain. Malah, beberapa client mengatakan: "Kami respect itu. Kami juga ingin work-life balance."
"Industri kami berbeda. Ini tidak akan berhasil di sini."
Jawaban: Pang menemukan perusahaan sukses di:
● Tech startups
● Konsultan profesional
● Manufaktur
● Healthcare
● Layanan pelanggan
● Kreative agencies
Prinsipnya universal: Fokus pada output, eliminasi waste, design ulang workflow.
"Karyawan akan abuse sistem ini."
Jawaban: Data menunjukkan sebaliknya. Ketika Anda treat karyawan sebagai adults dan percaya mereka, mereka naik ke ekspektasi itu.
Wildbit: zero abuse. Semua karyawan justru bekerja lebih keras karena mereka appreciate benefit ini.
Penutup: Revolusi yang Dimulai dengan Anda
Pang menutup bukunya dengan observasi powerful:
"Selama seratus tahun terakhir, kita berasumsi bahwa lebih banyak jam kerja = lebih banyak output. Asumsi ini mungkin benar untuk pekerjaan fisik di era industri. Tapi untuk pekerjaan pengetahuan di abad 21, asumsi ini salah dan destruktif."
Yang benar:
● Fokus > Jam kerja
● Kualitas > Kuantitas waktu
● Energy management > Time management
● Output > Input
Transisi ke jam kerja lebih pendek bukan tentang "bekerja lebih sedikit dan berharap yang terbaik." Ini tentang mendesain ulang pekerjaan untuk efisiensi maksimal, menghilangkan waste, dan fokus pada yang benar-benar penting.
Pertanyaan untuk Anda
Jika Anda leader:
● Apakah Anda mengukur kesuksesan berdasarkan jam kerja atau hasil?
● Berapa banyak meeting di perusahaan Anda yang sebenarnya tidak produktif?
● Apakah Anda percaya karyawan Anda untuk mengatur pekerjaan mereka?
● Apakah Anda berani eksperimen?
Jika Anda karyawan:
● Berapa jam per hari Anda benar-benar produktif? (Jujur)
● Aktivitas apa yang membuang waktu Anda?
● Apa yang bisa Anda eliminasi atau automate?
● Apakah Anda berani propose sistem baru?
Untuk semua:
● Apakah Anda ingin hidup untuk bekerja, atau bekerja untuk hidup?
● Apakah Anda percaya bahwa life adalah lebih dari sekedar pekerjaan?
Mulai Kecil, Pikirkan Besar
Anda tidak harus langsung beralih ke 4-day week besok. Mulai dengan:
Minggu ini: Time audit. Lihat kemana waktu Anda hilang.
Minggu depan: Eliminasi satu aktivitas yang tidak produktif (meeting yang bisa jadi email, multitasking yang tidak efisien).
Bulan depan: Eksperimen dengan satu hari "fokus penuh"—no email, no meeting, hanya deep work.
3 bulan lagi: Evaluasi. Apakah Anda lebih produktif? Jika ya, scale up.
Seperti yang Pang tulis:
"Kita tidak akan mengubah dunia kerja dalam satu hari. Tapi kita bisa mulai hari ini. Satu perusahaan. Satu tim. Satu individu. Dan ketika cukup banyak orang membuktikan bahwa shorter works, sistem akan berubah."
Revolusi dimulai dengan keberanian untuk bertanya: "Apa yang akan terjadi jika kita mencoba?"
Jadi, apa yang akan Anda coba?
Tentang Buku Asli
"Shorter: Work Better, Smarter, and Less—Here's How" diterbitkan pada tahun 2020 oleh PublicAffairs.
Alex Soojung-Kim Pang adalah futurist, konsultan, dan peneliti yang menghabiskan puluhan tahun mempelajari hubungan antara pekerjaan, kreativitas, dan well-being. Dia juga penulis buku "Rest: Why You Get More Done When You Work Less" (2016) yang mengeksplorasi sains di balik istirahat dan produktivitas.
Untuk "Shorter," Pang mengunjungi puluhan perusahaan di berbagai negara, mewawancarai CEO, karyawan, dan consultant, serta menganalisis data produktivitas, kesehatan, dan profitabilitas.
Buku ini adalah hasil riset yang sangat thorough—bukan hanya teori, tapi bukti nyata dari perusahaan-perusahaan yang berhasil.
Untuk pemahaman lengkap tentang case studies detail, step-by-step implementation guide, dan data komprehensif, sangat disarankan membaca buku aslinya. Pang memberikan blueprint praktis yang bisa langsung diterapkan oleh perusahaan mana pun—dari startup 5 orang hingga korporasi besar.
Ringkasan ini menangkap esensi filosofi dan prinsip utama, tetapi buku asli menawarkan kedalaman, nuansa, dan tools konkret yang akan membantu Anda mengimplementasikan transisi ke jam kerja lebih pendek.
Sekarang pergilah dan mulai shorter revolution—bukan karena Anda malas, tapi karena Anda percaya bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan di kantor.
Karena seperti yang data buktikan: Shorter doesn't mean less. Shorter means better.
Saatnya bekerja lebih cerdas, bukan lebih lama.

