Think Like a Freak

Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner


Tendangan Penalti yang Mengubah Segalanya 

Bayangkan Anda adalah Takeru Kobayashi, kontestan makan hot dog profesional dari Jepang, berdiri di hadapan masalah besar: 

Kompetisi makan hot dog Nathan's Famous di Coney Island, New York. Event legendaris. Rekor dunia: 25 hot dog dalam 12 menit. 

Semua orang tahu cara makan hot dog: ambil hot dog, gigit, kunyah, telan. Ulangi. Lebih cepat lebih baik. 

Kobayashi mengajukan pertanyaan yang berbeda: "Bagaimana jika cara yang 'benar' untuk makan hot dog salah?" 

Dia mulai bereksperimen: 

● Bagaimana jika dia pisahkan roti dan sosis? 

● Bagaimana jika dia celupkan roti ke air dulu agar lebih mudah ditelan?

● Bagaimana jika dia goyang-goyangkan kepalanya saat menelan untuk membantu gravitasi? 

Semua orang berpikir dia gila. 

Tahun 2001, Kobayashi mengikuti kompetisi. Dia tidak makan 26 hot dog. Tidak 30.

Dia makan 50 hot dog dalam 12 menit. 

Dia memecahkan rekor dunia dengan margin GANDA. Sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah kompetisi olahraga apa pun.

Bagaimana dia melakukannya? Bukan karena dia lebih kuat atau perutnya lebih besar. Tapi karena dia berpikir secara berbeda tentang masalahnya. 

Inilah inti dari "Think Like a Freak": kebanyakan orang gagal memecahkan masalah bukan karena tidak cukup pintar, tapi karena mereka tidak mendefinisikan masalah dengan benar, tidak bertanya pertanyaan yang tepat, dan tidak berani berpikir di luar konvensi. 

Steven Levitt (ekonom dari University of Chicago) dan Stephen Dubner (jurnalis) menghabiskan bertahun-tahun mempelajari bagaimana "freaks"—orang-orang yang berpikir berbeda—memecahkan masalah yang tampaknya mustahil. 

Dan kabar baiknya: cara berpikir ini bisa dipelajari. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Apa Masalah Anda Sebenarnya? 

Kesalahan Pertama: Memecahkan Masalah yang Salah 

Tahun 2006, pemerintah Inggris punya masalah besar: remaja hamil. Inggris punya tingkat kehamilan remaja tertinggi di Eropa Barat. 

Pemerintah menghabiskan ratusan juta pounds untuk program: 

● Pendidikan seks yang lebih baik 

● Akses kontrasepsi gratis 

● Kampanye "tunggu sampai menikah" 

● Konseling untuk remaja 

Hasilnya? Hampir tidak ada penurunan. 

Levitt dan Dubner mengajukan pertanyaan yang berbeda: "Apa jika kita salah mendefinisikan masalah?" 

Mereka meneliti dan menemukan: remaja di Inggris tidak hamil karena mereka tidak tahu tentang kontrasepsi atau tidak punya akses. Mereka hamil karena mereka tidak punya harapan untuk masa depan. 

Di area dengan tingkat kehamilan remaja tinggi, anak-anak melihat tidak ada jalan keluar dari kemiskinan. Tidak ada prospek pendidikan bagus. Tidak ada pekerjaan yang menarik. Jadi mengapa menunda punya anak? 

Masalahnya bukan "pendidikan seks yang buruk." Masalahnya adalah kurangnya harapan dan peluang. 

Ini adalah kesalahan yang kita semua buat: kita mencoba memecahkan masalah yang kelihatan, bukan masalah yang sebenarnya. 

Reframe The Question 

Kobayashi tidak bertanya: "Bagaimana aku bisa makan hot dog lebih cepat?" 

Dia bertanya: "Bagaimana aku bisa memasukkan lebih banyak hot dog ke perutku dalam 12 menit?" 

Pertanyaan pertama membatasi Anda pada cara konvensional (gigit lebih cepat, kunyah lebih cepat). 

Pertanyaan kedua membuka semua kemungkinan (pisahkan roti dan sosis, celup roti, ubah teknik menelan).

Pelajaran pertama: Sebelum mencari solusi, pastikan Anda memecahkan masalah yang tepat. Dan pertanyaan yang Anda ajukan menentukan jawaban yang mungkin.

 


Bagian 2: Berpikir Seperti Anak Kecil 

Bagaimana Kita Kehilangan Rasa Ingin Tahu 

Anak kecil bertanya rata-rata 300 pertanyaan sehari

● "Kenapa langit biru?" 

● "Kenapa kita harus tidur?" 

● "Kenapa burung bisa terbang tapi kita tidak?" 

Mereka tidak takut terlihat bodoh. Mereka tidak punya bias. Mereka benar-benar ingin tahu. Lalu kita tumbuh dewasa. Dan kita berhenti bertanya. 

Mengapa? Karena kita diajarkan bahwa bertanya pertanyaan "bodoh" itu memalukan. Kita seharusnya sudah tahu. Kita seharusnya punya jawaban, bukan pertanyaan. 

Tapi inilah ironi: orang paling sukses dalam memecahkan masalah adalah yang tidak takut bertanya pertanyaan yang tampak bodoh. 

Kisah Van Halen dan M&M Cokelat 

Tahun 1980-an, Van Halen adalah rock band terbesar di dunia. Mereka punya kontrak konser yang terkenal dengan satu klausul aneh: 

"Tidak boleh ada M&M cokelat di backstage. Semua M&M cokelat harus dikeluarkan dari mangkuk." 

Media mengejek: "Rock star manja! Mereka bahkan pilih-pilih warna M&M!"

Tapi ini bukan tentang manja. Ini tentang sistem deteksi kesalahan

Kontrak konser Van Halen panjangnya 53 halaman dengan spesifikasi teknis yang sangat detail—berapa berat panggung yang dibutuhkan, berapa voltase listrik, di mana kabel harus diletakkan. Jika satu detail diabaikan, seseorang bisa mati atau terluka serius. 

Bagaimana cara Van Halen tahu apakah promotor lokal benar-benar membaca semua 53 halaman dengan teliti? 

M&M cokelat. 

Jika mereka datang dan menemukan M&M cokelat di backstage, itu artinya promotor tidak membaca kontrak dengan teliti. Dan jika mereka tidak membaca tentang M&M, mereka mungkin juga tidak membaca tentang keamanan panggung.

Ini adalah cara berpikir seperti anak kecil: tidak menerima asumsi. Menguji segalanya. Mencari cara kreatif untuk memverifikasi. 

Pelajaran kedua: Ajukan pertanyaan yang tampak bodoh. Seringkali pertanyaan paling sederhana mengungkap kebenaran terdalam.

 


Bagian 3: Tiga Kata Tersulit: "Saya Tidak Tahu"

The Illusion of Knowledge 

Tahun 2002, ekonom Daniel Kahneman memenangkan Nobel Prize untuk penelitiannya tentang bias kognitif. 

Salah satu temuan terpentingnya: orang lebih percaya diri daripada yang seharusnya. 

Eksperimen sederhana: tanyakan pada orang, "Seberapa yakin Anda bahwa jawaban Anda benar?" untuk pertanyaan trivia. 

Ketika orang menjawab "100% yakin," mereka benar hanya sekitar 80% waktu.

Kita pikir kita tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya kita tahu. 

Dan ini berbahaya—karena jika Anda pikir Anda sudah tahu jawabannya, Anda berhenti mencari. 

Kekuatan "Saya Tidak Tahu" 

Levitt menceritakan pengalamannya sebagai profesor di University of Chicago.

Seorang mahasiswa bertanya pertanyaan sulit di kelas. Levitt tidak tahu jawabannya.

Dia punya dua pilihan: 

1. Berpura-pura tahu dan membuat jawaban yang terdengar masuk akal

2. Mengakui: "Saya tidak tahu." 

Dia memilih opsi 2. 

Mahasiswa terkejut. "Profesor terbaik di universitas ini mengakui tidak tahu?" 

Tapi kemudian sesuatu yang luar biasa terjadi: mahasiswa lain mulai bertanya lebih banyak pertanyaan. Mereka tidak takut lagi terlihat bodoh. Jika profesor bisa mengatakan "Saya tidak tahu," mereka juga bisa. 

Dan diskusi kelas menjadi jauh lebih produktif. 

"Saya tidak tahu" bukan tanda kelemahan. Ini adalah awal dari pembelajaran sejati.

Zona Aman untuk Tidak Tahu 

Masalahnya: di dunia nyata, mengakui "Saya tidak tahu" bisa berbahaya. Anda bisa kehilangan kredibilitas. Anda bisa tidak dipromosikan. Anda bisa diejek.

Solusi Levitt dan Dubner: ciptakan "zona aman" di mana tidak tahu itu oke

Dalam tim mereka, mereka punya aturan: "Tidak ada pertanyaan bodoh. Tidak ada jawaban yang wajib. Jika Anda tidak tahu, katakan tidak tahu dan kita eksplorasi bersama." 

Hasilnya? Tim mereka memecahkan masalah yang tidak bisa dipecahkan tim lain—karena mereka tidak terjebak dalam ilusi pengetahuan. 

Pelajaran ketiga: Tiga kata tersulit untuk diucapkan adalah "Saya tidak tahu"—tapi juga tiga kata paling powerful untuk memulai pembelajaran sejati.

 


Bagian 4: Seni Menyerah (The Upside of Quitting)

Mitos "Never Give Up" 

Kita semua mendengar cerita inspiratif: 

● "Edison gagal 10.000 kali sebelum menemukan bola lampu!" 

● "Michael Jordan di-cut dari tim basket SMA tapi terus berusaha!" 

● "Never give up! Winners never quit!" 

Tapi Levitt dan Dubner bertanya: "Bagaimana dengan orang yang persist dan tetap gagal? Kita tidak mendengar cerita mereka karena mereka... gagal." 

Ini adalah survivorship bias—kita hanya mendengar cerita orang yang berhasil karena mereka persist. Kita tidak mendengar tentang jutaan orang yang persist dan kehilangan tahun hidup mereka pada sesuatu yang tidak akan pernah berhasil. 

Opportunity Cost dari Tidak Menyerah 

Setiap jam yang Anda habiskan untuk sesuatu adalah jam yang tidak Anda habiskan untuk sesuatu yang lain. 

Jika Anda menghabiskan 5 tahun mencoba menjadi penyanyi profesional tapi tidak berbakat, itu 5 tahun yang tidak Anda habiskan untuk mengembangkan keterampilan lain di mana Anda mungkin jenius. 

Ekonom menyebutnya opportunity cost—biaya dari pilihan yang tidak diambil. Dan kadang, opportunity cost dari terus mencoba jauh lebih besar daripada benefit-nya.

Kapan Harus Quit? 

Levitt dan Dubner memberikan framework sederhana: 

Tanyakan pada diri sendiri: 

1. Apakah saya membuat progress? Jika setelah usaha sungguh-sungguh Anda tidak melihat perbaikan, mungkin ini bukan untuk Anda. 

2. Apakah saya masih enjoy prosesnya? Jika setiap hari adalah siksaan, bahkan jika Anda akhirnya berhasil, apakah itu sepadan? 

3. Apa yang saya korbankan? Hubungan? Kesehatan? Peluang lain? Apakah pengorbanan ini worth it?

4. Apakah saya persist karena passion atau karena sunk cost? "Saya sudah investasi begitu banyak, saya tidak bisa berhenti sekarang!" adalah alasan terburuk untuk terus. 

Kisah Levitt Berhenti dari Musik 

Levitt menceritakan pengalaman pribadinya. 

Dia bermain golf semasa muda. Dia menghabiskan ribuan jam berlatih. Dia kompetitif. Tapi setelah 10 tahun, dia masih rata-rata. 

Dia sadar: "Saya tidak punya bakat alami untuk ini. Dan saya tidak enjoy cukup untuk terus berlatih 4 jam sehari." 

Jadi dia berhenti. 

Dan dia mengalihkan waktu itu untuk ekonomi—di mana dia punya bakat dan passion. 

Hasilnya? Dia menjadi profesor di universitas top dunia, penulis bestseller, dan salah satu ekonom paling berpengaruh. 

"Quitting golf adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat," tulisnya. 

Pelajaran keempat: Menyerah bukan selalu tanda kelemahan. Kadang itu adalah strategi paling cerdas—membebaskan waktu dan energi Anda untuk hal yang benar-benar penting.

 


Bagian 5: Insentif—Apa yang Benar-Benar Menggerakkan Orang 

Cerita Kebakaran yang Tidak Terbakar 

Tahun 1970-an, Meksiko punya masalah serius: kebakaran hutan. 

Mereka melatih pemadam kebakaran. Membeli peralatan canggih. Membuat kampanye kesadaran. 

Tapi kebakaran terus terjadi. 

Lalu seorang pejabat mengajukan pertanyaan sederhana: "Apa insentif orang-orang untuk membakar hutan?" 

Ternyata: petani lokal membakar hutan untuk membuka lahan pertanian baru. Ini illegal, tapi menguntungkan. 

Mereka tidak membakar karena mereka bodoh atau jahat. Mereka membakar karena insentif ekonomi mendorong mereka untuk melakukannya

Solusi? Bukan lebih banyak edukasi atau hukuman lebih berat. 

Solusinya: ubah insentif. Berikan petani alternatif ekonomi yang lebih menguntungkan daripada membakar hutan. 

Hasilnya: kebakaran turun drastis. 

The Cobra Effect 

Kisah terkenal dari India kolonial: 

Pemerintah Inggris khawatir dengan populasi ular kobra di Delhi. Jadi mereka membuat program: bayar reward untuk setiap kobra mati yang dibawa

Ide bagus, kan? Orang akan memburu kobra, populasi turun. 

Tapi apa yang terjadi? Orang mulai membiakkan kobra di rumah mereka untuk mendapat reward. 

Ketika pemerintah menyadari dan menghentikan program, peternak kobra melepaskan semua ular mereka. Hasilnya: populasi kobra meningkat dibanding sebelum program. 

Inilah cobra effect: insentif yang salah justru memperburuk masalah yang ingin dipecahkan.

Memahami Insentif yang Sebenarnya 

Levitt dan Dubner menjelaskan: ada tiga jenis insentif: 

1. Ekonomi (uang, reward material) 2. Sosial (reputasi, penerimaan, status) 3. Moral (melakukan yang benar karena itu benar) 

Dan seringkali, insentif sosial dan moral lebih kuat daripada ekonomi. 

Contoh: Penelitian di daycare di Israel. 

Masalah: orangtua sering terlambat menjemput anak, membuat guru harus lembur tanpa bayaran. 

Solusi: berikan denda untuk keterlambatan. 

Hasilnya? Keterlambatan meningkat

Mengapa? Karena sebelumnya, orangtua merasa bersalah (insentif moral). Tapi ketika ada denda, itu berubah jadi transaksi ekonomi: "Saya bayar, jadi saya berhak terlambat." 

Denda menghilangkan rasa bersalah. 

Pelajaran kelima: Sebelum mencoba mengubah perilaku, pahami insentif yang sebenarnya menggerakkan orang—dan hati-hati, insentif yang salah bisa memperburuk masalah.

 


Bagian 6: Seni Persuasi (Hint: Bukan dengan Argumen)

Kesalahan yang Kita Semua Buat 

Anda punya ide bagus. Anda yakin Anda benar. Anda ingin meyakinkan orang lain.

Jadi Anda lakukan apa? Anda berargumen

Anda jelaskan logikanya. Anda tunjukkan data. Anda buktikan bahwa mereka salah. 

Hasilnya? Mereka semakin defensive. Mereka menolak Anda. Mereka bahkan lebih yakin pada posisi mereka. 

Mengapa? Karena tidak ada yang suka diberitahu bahwa mereka salah.

The Story of King Solomon 

Levitt dan Dubner menceritakan kisah Raja Solomon dari Alkitab. 

Dua wanita datang dengan satu bayi. Keduanya klaim sebagai ibu. Tidak ada bukti siapa ibu yang sebenarnya. 

Kebanyakan raja akan: interogasi, cari saksi, paksa pengakuan. 

Solomon melakukan sesuatu yang berbeda. Dia berkata: "Baiklah, kita potong bayi jadi dua, masing-masing dapat setengah." 

Satu wanita berkata: "Oke, adil." 

Wanita lain berteriak: "Tidak! Berikan bayi itu padanya! Jangan sakiti bayinya!" 

Solomon tahu: wanita kedua adalah ibu yang sebenarnya—karena ibu sejati akan mengorbankan kepentingannya untuk keselamatan anaknya. 

Dia tidak meyakinkan dengan argumen. Dia menciptakan situasi di mana kebenaran mengungkapkan dirinya sendiri. 

Cerita, Bukan Data 

Penelitian menunjukkan: orang 22 kali lebih mungkin mengingat fakta jika dibungkus dalam cerita. 

Contoh sederhana: 

Versi 1 (Data): "40% anak di negara berkembang mengalami malnutrisi. Donasi Anda bisa membantu."

Versi 2 (Cerita): "Ini adalah Maria. Dia 7 tahun. Dia berjalan 3 kilometer setiap hari untuk air bersih. Dengan donasi Anda, dia bisa punya air di desanya dan fokus pada sekolah." 

Versi mana yang lebih membuat Anda ingin donate? 

Data penting. Tapi cerita menggerakkan hati

Buat Mereka Berpikir Itu Ide Mereka 

Rahasia persuasi terbesar: buat orang berpikir ide Anda adalah ide mereka.

Caranya? Ajukan pertanyaan, jangan berikan jawaban. 

Daripada: "Kamu harus berhenti merokok karena tidak sehat." 

Coba: "Menurutmu apa yang akan terjadi pada kesehatanmu jika kamu terus merokok 20 tahun lagi?" 

Biarkan mereka sampai pada kesimpulan sendiri. 

Pelajaran keenam: Jangan meyakinkan dengan argumen. Meyakinkan dengan cerita, pertanyaan, dan menciptakan kondisi di mana orang menemukan kebenaran sendiri.

 


Bagian 7: Think Small—Kekuatan Hal-Hal Kecil

The $1 Million Toilet 

Pemerintah mencoba memecahkan masalah besar dengan solusi besar: 

"Kita akan akhiri kemiskinan dengan program $100 miliar!" "Kita akan perbaiki pendidikan dengan reformasi nasional!" "Kita akan selesaikan perubahan iklim dengan perjanjian global!" 

Hasilnya? Seringkali, tidak banyak. 

Mengapa? Karena masalah besar kompleks, dengan banyak variabel yang tidak terkontrol. 

Levitt dan Dubner mengusulkan pendekatan berbeda: think small. 

Contoh: Masalah diare di negara berkembang membunuh 1,5 juta anak setiap tahun. 

Solusi besar: bangun infrastruktur sanitasi modern, sistem air bersih, toilet untuk semua. Biaya: triliunan dollar. 

Solusi kecil: Ajari orang mencuci tangan dengan sabun. 

Biaya: beberapa juta dollar untuk kampanye edukasi dan distribusi sabun murah. Hasil: penurunan 40% dalam kematian terkait diare. 

Solusi kecil, dampak besar. 

The Ulcer Story 

Sampai tahun 1980-an, semua orang "tahu" bahwa ulcer (tukak lambung) disebabkan oleh stress dan makanan pedas. 

Dokter memberikan nasehat: "Kurangi stress. Jangan makan pedas. Minum obat antacid." Tapi ulcer tetap kambuh. 

Lalu dua dokter Australia, Barry Marshall dan Robin Warren, punya teori gila: bagaimana jika ulcer disebabkan oleh bakteri? 

Semua orang mengejek. "Bakteri tidak bisa hidup di lambung—terlalu asam!" 

Marshall begitu yakin, dia minum kultur bakteri sendiri untuk membuktikan teorinya. Dia kena ulcer. Lalu dia obati dengan antibiotik. Ulcer hilang.

Teori terbukti benar. Marshall dan Warren memenangkan Nobel Prize di 2005. 

Solusinya bukan mengelola stress atau diet ketat. Solusinya adalah antibiotik 2 minggu. Sederhana. Murah. Efektif. 

Pelajaran ketujuh: Jangan selalu cari solusi besar dan rumit. Kadang solusi paling efektif adalah yang paling sederhana—jika Anda mengajukan pertanyaan yang tepat.

 


Bagian 8: Eksperimen, Jangan Hanya Prediksi

Mengapa Prediksi Hampir Selalu Salah 

Tahun 1960-an, para ahli memprediksi masa depan: 

"Tahun 2000, kita akan punya mobil terbang, liburan ke bulan, dan robot yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga." 

Tahun 2000 tiba. Tidak ada mobil terbang (kecuali di film). Tidak ada liburan ke bulan. Robot vacuum baru mulai ada. 

Tapi apa yang mereka tidak prediksi? Internet. Smartphone. Media sosial.

Hal-hal yang benar-benar mengubah dunia tidak diprediksi oleh para ahli.

Mengapa? Karena dunia terlalu kompleks untuk diprediksi. 

The Garden Approach 

Levitt dan Dubner mengusulkan: jangan mencoba memprediksi masa depan. Eksperimen dan lihat apa yang tumbuh. 

Seperti tukang kebun: 

Anda tidak tahu pasti tanaman mana yang akan tumbuh baik di kebun Anda. Tanah berbeda. Iklim berbeda. Hama berbeda. 

Jadi apa yang Anda lakukan? Tanam banyak benih. Lihat mana yang tumbuh. Beri pupuk pada yang tumbuh baik. Buang yang tidak. 

Sama dengan pemecahan masalah: 

Jangan habiskan 2 tahun merencanakan "solusi sempurna." Coba 10 solusi kecil. Lihat mana yang berhasil. Kembangkan yang berhasil. Buang yang tidak. 

Kisah Google 

Google tidak merencanakan Gmail akan menjadi produk terbesar mereka. 

Gmail dimulai sebagai proyek sampingan seorang engineer bernama Paul Buchheit. Dia tidak meminta izin manajemen. Dia hanya... membuatnya. 

Ketika dia demo ke tim, responsnya mixed. Beberapa orang suka. Beberapa skeptis.

Tapi daripada debat berkepanjangan, mereka launch sebagai beta test. Biarkan pengguna memutuskan. 

Hasilnya? Gmail sekarang punya 1,5 miliar pengguna. 

Jika Google hanya mengandalkan prediksi dan planning komite, Gmail mungkin tidak pernah ada. 

Pelajaran kedelapan: Jangan overthink. Jangan overplan. Eksperimen. Coba. Lihat hasilnya. Iterasi.

 


Penutup: Menjadi Freak di Dunia yang Normal

Levitt dan Dubner menutup buku dengan observasi ini: 

"Sebagian besar orang berpikir dengan cara yang sama. Mereka menerima asumsi tanpa mempertanyakan. Mereka mengikuti konvensi. Mereka takut terlihat bodoh. 

Dan itu mengapa sebagian besar orang mendapat hasil yang sama—hasil yang biasa-biasa saja. 

Jika Anda ingin hasil yang luar biasa, Anda harus berpikir secara luar biasa. 

Dan itu berarti berpikir seperti 'freak'—orang yang tidak takut bertanya pertanyaan bodoh, yang tidak takut mengakui tidak tahu, yang berani mencoba hal yang belum pernah dicoba, yang berani berhenti ketika sesuatu tidak berhasil." 

Delapan Prinsip "Think Like a Freak" 

1. Definisikan Masalah yang Benar Sebelum mencari solusi, pastikan Anda memecahkan masalah yang sebenarnya, bukan yang tampak di permukaan. 

2. Berpikir Seperti Anak Ajukan pertanyaan yang tampak bodoh. Pertanyaan paling sederhana sering mengungkap kebenaran terdalam. 

3. Katakan "Saya Tidak Tahu" Tidak tahu adalah awal pembelajaran sejati. Jangan berpura-pura tahu. 

4. Ketahui Kapan Harus Quit Persistence penting, tapi kadang menyerah adalah strategi tercerdas. 

5. Pahami Insentif Orang merespons insentif—tapi tidak selalu yang Anda kira. Pahami apa yang benar-benar memotivasi. 

6. Cerita > Argumen Jangan meyakinkan dengan data. Ceritakan kisah yang membuat orang merasakan kebenaran. 

7. Think Small Solusi terbaik sering yang paling sederhana. Jangan selalu cari jawaban besar untuk masalah besar. 

8. Eksperimen, Jangan Hanya Plan Dunia terlalu kompleks untuk diprediksi. Coba banyak hal kecil. Lihat apa yang berhasil. 

Pertanyaan untuk Anda 

Sekarang giliran Anda:

Masalah apa yang Anda coba pecahkan? 

Sebelum lanjut membaca atau mencari solusi, tanyakan: 

1. Apakah ini masalah yang sebenarnya, atau hanya gejala dari masalah yang lebih dalam? 

2. Pertanyaan apa yang belum saya tanyakan? 

3. Apa asumsi yang saya terima tanpa bukti? 

4. Apa yang akan dipikirkan anak 5 tahun tentang masalah ini? 

Apa yang Anda "tahu" tapi sebenarnya mungkin salah? 

Buat list: "Hal-hal yang saya pikir saya tahu tapi mungkin tidak." 

Kemudian cari bukti. Tes asumsi Anda. Anda mungkin terkejut. 

Apa yang sudah waktunya untuk Anda quit? 

Proyek? Pekerjaan? Hubungan? Hobi? 

Jika satu-satunya alasan Anda masih melakukannya adalah "Saya sudah investasi begitu banyak," itu bukan alasan yang baik. 

Eksperimen kecil apa yang bisa Anda coba minggu ini? 

Jangan rencanakan selama sebulan. Coba sesuatu hari ini. Lihat hasilnya besok. Iterasi.

 


Tentang Buku Asli 

"Think Like a Freak" diterbitkan pada tahun 2014 sebagai buku ketiga dalam seri Freakonomics (setelah "Freakonomics" 2005 dan "SuperFreakonomics" 2009). 

Steven D. Levitt adalah profesor ekonomi di University of Chicago dan penerima Clark Medal (penghargaan untuk ekonom terbaik di bawah usia 40). Stephen J. Dubner adalah jurnalis dan penulis yang menulis untuk New York Times. 

Berbeda dari dua buku pertama yang fokus pada apa yang mereka temukan, buku ini fokus pada bagaimana cara berpikir mereka—mengajarkan pembaca untuk mengadopsi mindset yang sama. 

Buku ini penuh dengan cerita menghibur, data yang mengejutkan, dan insight yang mengubah cara Anda melihat dunia. Dari kompetisi makan hot dog sampai kebakaran hutan di Meksiko, dari ulcer sampai program daycare di Israel—setiap cerita mengajarkan prinsip berpikir yang bisa diterapkan di kehidupan Anda. 

Untuk mendapat full experience dari eksperimen, cerita, dan insight yang mengejutkan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Levitt dan Dubner menulis dengan humor, kejernihan, dan storytelling yang membuat ekonomi dan statistik terasa seperti petualangan detektif. 

Ringkasan ini menangkap prinsip inti dan cerita utama, tetapi buku asli menawarkan detail, nuansa, dan puluhan contoh tambahan yang akan mengubah cara Anda memecahkan masalah. 

Sekarang pergilah dan berpikirlah seperti freak. 

Ajukan pertanyaan bodoh. Akui ketika tidak tahu. Eksperimen dengan berani. Quit ketika perlu. Pikirkan kecil. Ceritakan kisah. 

Dan siapa tahu—mungkin Anda akan memecahkan rekor dunia makan hot dog. Atau lebih baik lagi, memecahkan masalah yang mengubah hidup Anda. 

Karena seperti yang Levitt dan Dubner buktikan: Anda tidak harus jenius untuk berpikir seperti jenius. Anda hanya harus bersedia berpikir secara berbeda.