Pencarian yang Tidak Terduga
Sam Harris adalah seorang neuroscientist. Seorang atheis terkenal. Salah satu dari "Four Horsemen" dari New Atheism bersama Richard Dawkins, Christopher Hitchens, dan Daniel Dennett.
Dia menulis buku-buku yang mengkritik organisasi agama dengan keras. Dia berdebat melawan fundamentalisme religius di panggung-panggung internasional. Dia adalah simbol dari rasionalitas saintifik melawan takhayul religius.
Jadi ketika dia menerbitkan buku berjudul "Waking Up: A Guide to Spirituality Without Religion," banyak orang terkejut.
"Tunggu—Sam Harris bicara tentang spiritualitas? Bukankah dia yang bilang agama adalah racun?"
Tapi bagi Harris, tidak ada kontradiksi di sini. Justru sebaliknya.
Dia menjelaskan perbedaan serius antara agama dengan spiritualitas: Anda bisa menolak agama sepenuhnya sambil tetap mengakui pentingnya spiritualitas.
Lebih jauh lagi: Anda bisa mengeksplorasi dimensi terdalam dari kesadaran manusia tanpa harus menerima klaim supernatural apapun.
Buku ini lahir dari pengalaman personal Harris. Pada usia 20 tahun, setelah lulus dari Stanford, dia tidak langsung ke sekolah lagi. Dia melakukan sesuatu yang tidak biasa untuk seorang calon ilmuwan:
Dia pergi ke India. Belajar meditasi Vipassana. Menghabiskan bulan-bulan dalam silent retreat. Mempelajari kesadaran bukan hanya melalui buku neurosains, tapi melalui pengalaman langsung.
Dan apa yang dia temukan mengubah seluruh pemahaman dia tentang pikiran, diri, dan realitas.
"Waking Up" adalah usaha Harris untuk menjelaskan pengalaman itu—dan mengapa setiap orang, terlepas dari kepercayaan religius mereka, harus peduli tentang kesadaran.
Bagian 1: Spiritualitas Itu Nyata (Tapi Bukan Agama)
Masalah dengan Agama
Harris tidak berubah pikiran tentang organisasi agama. Kritiknya tetap tajam:
Agama berbasis pada klaim-klaim yang tidak bisa diverifikasi:
● Surga dan neraka
● Tuhan yang mendengar doa
● Kehidupan setelah kematian
● Wahyu yang tidak bisa dipertanyakan
Masalahnya bukan hanya klaim-klaim ini tidak ada bukti. Masalahnya adalah agama mengharuskan kepercayaan tanpa bukti—dan menganggap keraguan sebagai dosa.
Ini berbahaya. Ini membuat orang percaya pada hal-hal yang absurd. Dan dalam kasus ekstrem, ini membuat orang bersedia membunuh atau mati untuk keyakinan yang tidak punya dasar rasional.
Tapi ada masalah lain: Dengan menolak agama, kita sering membuang bayi bersama air mandinya.
Kita membuang dogma—tapi kita juga membuang praktik-praktik kontemplatif yang benar-benar berharga. Meditasi. Kontemplasi. Eksplorasi kesadaran.
Harris berpendapat: Kita butuh spiritualitas tanpa omong kosong supernatural.
Apa Itu Spiritualitas Tanpa Agama?
Spiritualitas, dalam definisi Harris, adalah eksplorasi kesadaran itu sendiri.
Bukan tentang percaya pada Tuhan. Bukan tentang ritual atau doa. Tapi tentang memahami sifat sejati dari pengalaman subjektif kita.
Pertanyaan spiritual fundamental:
● Apa itu kesadaran?
● Siapa atau apa yang mengalami kehidupan ini?
● Apakah ada "aku" yang terpisah dari pengalaman?
● Bagaimana kita bisa hidup dengan lebih terbangun—lebih sadar—dari momen ke momen?
Ini adalah pertanyaan yang bisa dieksplorasi tanpa dogma. Tanpa kepercayaan buta. Dengan cara yang sepenuhnya kompatibel dengan sains modern.
Dan jawabannya—yang Harris temukan melalui meditasi—mengubah segalanya.
Bagian 2: Ilusi Diri—Tidak Ada "Aku" di Sini
Eksperimen Sederhana
Coba ini sekarang:
Tutup mata Anda sebentar. Perhatikan napas Anda. Rasakan udara masuk dan keluar.
Sekarang tanyakan pada diri Anda: "Siapa yang sedang bernapas?"
Pikiran pertama mungkin: "Aku yang bernapas."
Tapi kemudian tanya lagi: "Siapa 'aku' itu?"
Coba temukan "aku" itu. Di mana lokasinya? Apakah dia di kepala? Di dada? Di seluruh tubuh?
Ketika Anda benar-benar mencari—Anda tidak akan menemukannya.
Yang Anda temukan adalah: pikiran, sensasi, emosi, persepsi—semua muncul dalam kesadaran. Tapi tidak ada "pengamat" terpisah di belakang semua itu.
Ini adalah insight inti dari meditasi: Sense of self—perasaan bahwa ada "aku" yang terpisah di balik pengalaman—adalah ilusi.
Mengapa Ini Penting?
Ini bukan hanya permainan filosofis abstrak. Ini memiliki implikasi mendalam untuk bagaimana kita hidup.
Kebanyakan penderitaan kita berasal dari identifikasi dengan self ini:
● "Aku" yang tersinggung ketika dikritik
● "Aku" yang cemas tentang masa depan
● "Aku" yang menyesali masa lalu
● "Aku" yang merasa tidak cukup baik
Ketika Anda melihat melalui ilusi self ini—ketika Anda melihat bahwa pikiran dan emosi hanya muncul dalam kesadaran, bukan dimiliki oleh "aku"—penderitaan berkurang secara dramatis.
Ini bukan teori. Harris mengalaminya sendiri. Dan ini adalah apa yang telah diajarkan oleh tradisi kontemplatif selama ribuan tahun—sekarang dengan konfirmasi dari neurosains modern.
Bukti dari Neurosains
Otak kita memang menciptakan sense of self. Tapi self ini adalah konstruksi, bukan entitas yang benar-benar ada.
Penelitian menunjukkan:
Split-brain patients: Ketika corpus callosum (jembatan antara dua hemisfer otak) dipotong untuk mengobati epilepsi, sesuatu yang aneh terjadi. Pasien ini kadang bertindak seolah mereka punya dua self terpisah—satu di setiap hemisfer.
Tangan kiri mereka kadang melakukan sesuatu yang tangan kanan tidak setujui. Mereka kadang memberikan jawaban berbeda untuk pertanyaan yang sama, tergantung hemisfer mana yang ditanya.
Ini mengungkap: Self bukan satu entitas yang solid. Dia adalah produk dari proses neurologis yang bisa dipecah.
Meditators' brains: Studi brain imaging pada meditator berpengalaman menunjukkan aktivitas berkurang di "default mode network"—jaringan otak yang aktif ketika kita mind-wandering, berpikir tentang diri sendiri, merencanakan masa depan.
Dengan kata lain: Ketika sense of self berkurang, suffering berkurang juga.
Bagian 3: Kesadaran—Misteri Terbesar
Hard Problem of Consciousness
Ini adalah pertanyaan yang bahkan neurosains belum bisa jawab sepenuhnya:
Mengapa ada pengalaman subjektif?
Kita bisa menjelaskan bagaimana otak memproses informasi. Bagaimana neuron firing. Bagaimana sinyal berjalan dari mata ke korteks visual.
Tapi kita tidak bisa menjelaskan mengapa memproses informasi ini terasa seperti sesuatu. Mengapa ada pengalaman melihat warna merah? Mengapa ada sensasi rasa sakit? Mengapa tidak semuanya terjadi "dalam gelap"—tanpa kesadaran?
Filsuf David Chalmers menyebutnya "the hard problem of consciousness."
Harris berpendapat: Kesadaran adalah misteri—tapi bukan misteri yang harus kita pecahkan dengan teori supernatural.
Kita tidak perlu Tuhan atau jiwa untuk menjelaskan kesadaran. Tapi kita juga harus rendah hati mengakui: Kesadaran adalah hal paling misterius di alam semesta.
Kesadaran Sebagai Fondasi
Inilah yang brilian dari perspektif Harris:
Segala sesuatu yang Anda tahu tentang dunia—sains, fakta, logika—datang melalui kesadaran Anda.
Anda tidak pernah mengalami dunia secara langsung. Anda mengalami model mental dari dunia yang dibangun oleh otak Anda dalam kesadaran.
Jadi dalam arti tertentu, kesadaran adalah hal yang paling fundamental yang ada bagi Anda.
Lebih fundamental dari tubuh Anda (karena Anda hanya tahu tentang tubuh melalui kesadaran).
Lebih fundamental dari otak Anda (karena Anda hanya tahu tentang otak melalui kesadaran).
Bahkan lebih fundamental dari dunia fisik (karena Anda hanya tahu tentang dunia melalui kesadaran).
Anda tidak bisa keluar dari kesadaran untuk melihat realitas "yang sebenarnya." Kesadaran adalah lensa yang tidak bisa Anda lepas.
Jadi jika kita ingin memahami realitas—dan jika kita ingin mengurangi suffering—kita harus memahami kesadaran.
Dan cara terbaik untuk memahami kesadaran adalah melalui introspeksi yang terlatih: meditasi.
Bagian 4: Meditasi—Eksplorasi Langsung
Apa yang Bukan Meditasi
Meditasi bukan:
● Teknik relaksasi (meskipun kadang membuat rileks)
● Cara menghentikan pikiran (itu mustahil)
● Pelarian dari dunia (justru sebaliknya—menjadi lebih present)
● Latihan menjadi lebih baik dalam sesuatu (ini bukan tentang achievement)
Apa yang Meditasi Sebenarnya
Meditasi, dalam tradisi yang Harris pelajari (Vipassana, Dzogchen), adalah latihan untuk melihat sifat sejati dari pengalaman.
Instruksi paling dasar:
1. Duduk dengan nyaman
2. Perhatikan sensasi napas
3. Ketika pikiran mengembara (dan itu akan terjadi), sadari bahwa pikiran mengembara
4. Kembalikan perhatian ke napas
5. Ulangi ribuan kali
Kedengarannya sederhana. Tapi coba lakukan selama 10 menit.
Pikiran Anda akan kemana-mana: Merencanakan makan malam. Mengingat percakapan kemarin. Khawatir tentang meeting besok. Fantasi tentang masa depan. Penyesalan tentang masa lalu.
Dan yang paling penting: Anda akan mengidentifikasi diri dengan pikiran-pikiran ini. Anda akan terjebak dalam cerita mereka. Anda akan lupa bahwa Anda sebenarnya hanya sedang duduk dan bernapas.
Inilah yang terjadi hampir sepanjang waktu dalam hidup kita—kita tersesat dalam pikiran tanpa menyadarinya.
Mindfulness—Kunci Pertama
Mindfulness adalah kesadaran akan apa yang terjadi saat ini terjadi.
Bukan tentang menjadi santai. Bukan tentang berpikir positif. Hanya sadar.
Sadar bahwa Anda sedang berjalan ketika berjalan. Sadar bahwa Anda sedang makan ketika makan. Sadar bahwa Anda sedang marah ketika marah.
Harris menulis:
"Sebagian besar penderitaan kita berasal dari tidak menyadari apa yang sedang kita alami dalam momen ini."
Kita menderita bukan karena pengalaman itu sendiri, tapi karena reaksi tidak sadar kita terhadapnya.
Contoh: Seseorang mengatakan sesuatu yang menyinggung Anda.
Tanpa mindfulness: Kemarahan muncul → Anda langsung teridentifikasi dengan kemarahan → Anda bertindak dari kemarahan (berteriak, membalas dendam) → Anda menyesal kemudian.
Dengan mindfulness: Kemarahan muncul → Anda menyadari "Oh, ini kemarahan" → Anda melihat kemarahan sebagai fenomena mental yang lewat → Anda memilih bagaimana merespons (atau tidak merespons).
Ada jeda—space—antara stimulus dan respons. Dan dalam space itu, Anda menemukan kebebasan.
Vipassana—Melihat Lebih Dalam
Vipassana berarti "melihat dengan jelas" atau "insight."
Ini adalah praktik untuk melihat tiga karakteristik fundamental dari semua pengalaman:
1. Anicca (Impermanence/Ketidakkekalan) Segala sesuatu berubah. Tidak ada yang tetap. Bahkan sensasi yang intens—rasa sakit, pleasure, emosi—datang dan pergi jika Anda amati cukup lama.
2. Dukkha (Suffering/Ketidakpuasan) Selama kita berpegangan pada hal-hal yang berubah (dan semua hal berubah), kita akan menderita. Suffering berasal dari craving—keinginan agar pengalaman berbeda dari apa adanya.
3. Anatta (No-self/Tidak Ada Diri) Tidak ada "aku" yang tetap dan terpisah. Yang ada adalah proses—pikiran, sensasi, emosi yang muncul dan lenyap dalam kesadaran.
Ketika Anda benar-benar melihat tiga hal ini—bukan hanya memahami secara intelektual, tapi merasakan kebenaran mereka secara langsung—sesuatu bergeser.
Anda berhenti berpegangan begitu erat. Anda berhenti mengidentifikasi begitu kuat dengan "aku." Dan dengan itu, suffering berkurang secara alami.
Bagian 5: Pengalaman Mistis dan Otak
Harris di Pegunungan Himalaya
Harris menceritakan pengalaman retreat meditasi intensifnya di India dan Nepal. Bermeditasi 12+ jam sehari selama berminggu-minggu. Tidak berbicara. Tidak membaca. Tidak eye contact.
Dalam kondisi itu, dengan pikiran yang sangat tenang dan perhatian yang sangat tajam, sesuatu yang luar biasa terjadi:
Sense of self sepenuhnya lenyap.
Bukan secara teoritis. Bukan secara konseptual. Tapi secara eksperiensial—benar-benar tidak ada lagi perasaan "aku" yang terpisah.
Yang tersisa adalah kesadaran murni. Pengalaman tanpa yang mengalami. Melihat tanpa yang melihat.
Ini adalah apa yang tradisi spiritual sebut "enlightenment" atau "awakening."
Apakah Ini Real atau Halusinasi?
Sebagai neuroscientist, Harris bertanya: Apakah pengalaman ini menunjukkan kebenaran tentang realitas, atau hanya keanehan dari otak?
Jawabannya kompleks:
Di satu sisi, pengalaman mistis jelas melibatkan perubahan dalam otak. Studi brain imaging menunjukkan aktivitas berkurang di parietal lobe—area yang terkait dengan sense of self dan batas antara diri dan dunia.
Jadi ya, ada dasar neurologis untuk pengalaman ini.
Tapi di sisi lain, fakta bahwa ada dasar neurologis tidak berarti pengalaman itu tidak valid atau tidak penting.
Setiap pengalaman—dari melihat matahari terbit hingga jatuh cinta—punya dasar neurologis. Itu tidak membuat pengalaman itu kurang nyata atau kurang bermakna.
Yang penting adalah: Apakah insight yang datang dari pengalaman mistis bernilai? Apakah mereka membantu kita hidup lebih baik?
Harris berpendapat: Ya. Absolutely.
Insight bahwa self adalah ilusi—bahwa Anda bukan identitas yang Anda pikir Anda adalah—membebaskan.
Bagian 6: Drugs vs Meditasi
Pintu Lain ke Kesadaran
Harris mengakui dia pernah bereksperimen dengan psychedelics—LSD, psilocybin (magic mushrooms), MDMA.
Dan dia mengakui: Drugs bisa memberikan pengalaman mistis yang mendalam.
Dalam satu trip, Anda bisa merasakan larutnya ego, kesatuan dengan alam semesta, cinta yang overwhelming—pengalaman yang kadang membutuhkan meditasi tahunan untuk dicapai.
Jadi mengapa tidak pakai drugs saja?
Masalah dengan Drugs
Harris melihat beberapa masalah:
1. Tidak Ada Kontrol Dengan drugs, Anda tidak bisa mengontrol pengalaman. Kadang trip indah. Kadang trip menakutkan. Dan Anda tidak punya skill untuk navigate.
2. Tidak Berkelanjutan Drugs memberi Anda glimpse—sekilas pandang—ke state kesadaran yang berbeda. Tapi ketika efeknya habis, Anda kembali ke state normal. Tidak ada transformasi permanen kecuali Anda integrasikan pengalaman itu dengan banyak usaha.
3. Dependensi Eksternal Dengan meditasi, Anda mengembangkan skill untuk mengakses state kesadaran yang lebih jernih kapan pun Anda mau. Tidak perlu substansi eksternal.
4. Risiko Legal dan Kesehatan Psychedelics ilegal di banyak tempat. Dan meskipun relatif aman jika digunakan dengan bijak, ada risiko—terutama untuk orang dengan predisposisi masalah mental.
Posisi Harris
Harris tidak anti-drugs. Dia berpendapat psychedelics harus diteliti lebih lanjut untuk potensi terapeutik mereka.
Tapi untuk spiritual practice jangka panjang, meditasi adalah jalan yang lebih sustainable.
Drugs bisa membuka pintu. Tapi meditasi memberi Anda kunci untuk pintu itu.
Bagian 7: Hidup dengan Lebih Terbangun
Tidak Perlu Sempurna untuk Mendapat Manfaat
Harris jelas: Anda tidak perlu mencapai enlightenment penuh untuk mendapat manfaat dari meditasi.
Bahkan 10 menit meditasi sehari bisa memberi perbedaan:
● Lebih sedikit reaktif terhadap stress
● Lebih present dengan orang yang Anda cintai
● Lebih mampu menikmati momen sederhana
● Lebih sedikit terjebak dalam pikiran negatif
Anda tidak perlu menjadi Buddha. Anda hanya perlu sedikit lebih terbangun dari sebelumnya.
Paradox Spiritual
Ada paradox dalam spiritual practice:
Anda berlatih untuk mencapai sesuatu (awakening, enlightenment). Tapi latihan itu sendiri adalah tentang berhenti mencoba mencapai sesuatu—dan hanya ada di sini, sekarang.
Ini seperti tidur. Semakin Anda berusaha untuk tidur, semakin sulit tertidur. Anda harus "let go" dari usaha itu.
Sama dengan meditasi. Semakin Anda "mencoba" untuk enlightenment, semakin jauh Anda darinya. Awakening terjadi ketika Anda berhenti mencari—dan menyadari Anda sudah di sini.
Integrasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Spiritual practice bukan tentang melarikan diri dari dunia. Ini tentang membawa kesadaran ke dalam setiap aspek hidup.
Dalam pekerjaan: Sadari ketika Anda stress. Sadari ketika ego Anda defensif. Jeda sebelum reaksi otomatis.
Dalam hubungan: Dengarkan dengan benar-benar present. Sadari ketika Anda tidak benar-benar mendengar tapi hanya menunggu giliran bicara.
Dalam pleasure: Nikmati makanan, musik, keindahan—tapi tanpa craving untuk pengalaman bertahan selamanya.
Dalam suffering: Lihat rasa sakit—fisik atau emosional—sebagai sensasi yang muncul dalam kesadaran, bukan sebagai "aku yang menderita."
Bagian 8: Mengapa Ini Penting untuk Semua Orang
Bukan Hanya untuk Buddhist atau Hippies
Harris menulis buku ini untuk orang-orang skeptis, rasional, saintifik—seperti dirinya.
Anda tidak perlu percaya pada reinkarnasi. Anda tidak perlu percaya pada karma. Anda tidak perlu menjadi vegetarian atau membakar dupa.
Anda hanya perlu tertarik pada sifat sejati dari pikiran Anda sendiri.
Dan jika Anda tertarik pada pertanyaan:
● Mengapa saya menderita ketika tidak ada yang secara objektif salah dalam hidup saya?
● Mengapa saya tidak bisa menikmati momen ini tanpa selalu berpikir tentang masa lalu atau masa depan?
● Apakah ada cara untuk hidup dengan lebih sedikit kecemasan, kemarahan, dan ketidakpuasan?
Maka meditasi adalah eksperimen yang layak Anda coba.
Sains Kesadaran
Harris berpendapat bahwa sains—khususnya neurosains—akan semakin mengungkap mekanisme kesadaran.
Tapi ada batasan pada apa yang sains bisa lakukan. Sains bisa menjelaskan korelasi neural dari kesadaran. Tapi tidak bisa menggantikan eksplorasi langsung dari kesadaran itu sendiri.
Jika Anda ingin memahami apa rasanya menjadi sadar, Anda harus mengalami kesadaran dengan cara yang teliti dan sistematis.
Meditasi adalah fenomenologi eksperimental—first-person science.
Dan temuan dari first-person science ini sama pentingnya dengan temuan dari third-person science.
Penutup: Perjalanan Tanpa Akhir
Sam Harris menutup buku dengan observasi yang humble:
"Saya tidak mengklaim telah 'terbangun' sepenuhnya. Saya masih mengalami kecemasan, kemarahan, ketidaksabaran. Tapi saya tahu ada cara lain untuk berhubungan dengan pengalaman ini."
Ada mode kesadaran di mana suffering berkurang secara dramatis—bukan karena hidup menjadi sempurna, tapi karena hubungan Anda dengan pengalaman berubah.
Anda berhenti bertarung dengan realitas. Anda berhenti mengidentifikasi dengan setiap pikiran dan emosi. Anda mulai melihat pikiran dan emosi sebagai cuaca mental—mereka datang dan pergi, tapi bukan "Anda."
Langkah Pertama
Anda tidak perlu pergi ke India. Anda tidak perlu retreat 10 hari. Anda bisa mulai sekarang.
Coba ini:
Duduk selama 10 menit. Set timer.
Perhatikan napas Anda. Rasakan sensasi udara masuk dan keluar dari hidung. Pikiran akan mengembara. Itu normal. Itu yang pikiran lakukan.
Ketika Anda sadari pikiran mengembara, hanya perhatikan: "Oh, pikiran mengembara." Tidak perlu menghakimi. Tidak perlu frustrasi. Hanya sadari.
Lalu kembalikan perhatian ke napas.
Lakukan ini berulang-ulang. Ribuan kali jika perlu.
Ini adalah latihan. Bukan tentang menjadi "baik" dalam meditasi. Tentang melihat bagaimana pikiran bekerja.
Untuk Anda
Pertanyaan terakhir:
Apakah Anda benar-benar present dalam hidup Anda? Atau Anda hidup dalam autopilot—tersesat dalam pikiran tentang masa lalu dan masa depan, jarang benar-benar di sini?
Jika jawaban jujur Anda adalah yang kedua—dan untuk kebanyakan dari kita, itu adalah jawaban jujur—maka Anda punya alasan untuk mencoba meditasi.
Bukan karena dogma religius. Bukan karena tradisi spiritual kuno. Tapi karena kesadaran adalah satu-satunya kehidupan yang Anda miliki.
Dan hidup tanpa kesadaran adalah hidup yang terlewatkan—bahkan ketika Anda "sukses" dalam setiap metrik eksternal.
Seperti Harris tulis:
"Tujuan spiritual practice adalah untuk menyadari bahwa Anda tidak perlu mencari sesuatu di luar momen ini. Kebebasan, kedamaian, kebahagiaan—semua sudah tersedia. Anda hanya perlu terbangun dari mimpi bahwa mereka ada di tempat lain."
Jadi bangunlah.
Tidak besok. Tidak setelah Anda mencapai goal berikutnya. Tidak setelah Anda pensiun.
Sekarang. Di napas berikutnya ini.
Tentang Buku Asli
"Waking Up: A Guide to Spirituality Without Religion" diterbitkan pada September 2014 dan menjadi New York Times bestseller.
Sam Harris adalah neuroscientist dengan PhD dari UCLA, penulis lima buku bestseller, dan host dari podcast "Making Sense" (sebelumnya "Waking Up"). Dia juga founder dari Waking Up app—aplikasi meditasi yang mengajarkan mindfulness dan vipassana dalam konteks sekuler.
Buku ini unik karena menggabungkan rigor saintifik dengan eksplorasi spiritual yang serius. Harris tidak menolak nilai dari tradisi kontemplatif—dia hanya menolak supernatural baggage yang sering datang bersama mereka.
Untuk pemahaman lengkap tentang kesadaran, meditasi, dan filosofi mind, sangat disarankan membaca buku aslinya. Harris memberikan argumen filosofis yang detail, penjelasan neurosains yang mendalam, dan panduan praktis meditasi yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Buku ini juga dilengkapi dengan 28 hari guided meditation yang Harris rekam sendiri untuk pembaca yang ingin mulai praktik.
Sekarang pergilah dan mulai eksplorasi—bukan eksplorasi dunia luar, tapi eksplorasi yang paling penting: eksplorasi kesadaran Anda sendiri.
Karena seperti Harris buktikan: Anda bisa menemukan kebebasan, kedamaian, dan makna—tanpa perlu percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal.
Kesadaran itu sendiri sudah cukup ajaib.
Wake up.

