How Children Succeed

Paul Tough


Dua Anak, Dua Jalan yang Berbeda

Tahun 2006. Paul Tough sedang meneliti sekolah-sekolah di Chicago. 

Di sana dia bertemu dua anak yang mengubah cara dia memahami kesuksesan: 

Kewayne tumbuh di Roseland, salah satu lingkungan termiskin dan paling berbahaya di South Side Chicago. Ayahnya di penjara. Ibunya berjuang dengan tiga pekerjaan. Dia tinggal di apartemen kecil dengan enam orang lainnya. Di sekolah, dia sering berkelahi. Nilainya jelek. Semua orang—guru, konselor, bahkan keluarganya—sudah menulis dia sebagai "anak yang gagal." 

Tapi ada sesuatu yang berbeda dari Kewayne. 

Meskipun nilainya buruk, dia tidak menyerah. Dia terus datang ke sekolah. Ketika dia gagal, dia mencoba lagi. Dan perlahan—sangat perlahan—sesuatu mulai berubah. 

Angela, sebaliknya, tumbuh di Upper West Side Manhattan. Orang tua profesional. Apartemen mewah. Sekolah swasta terbaik. Kursus musik, bahasa, matematika. IQ 140. Nilai sempurna di semua tes. 

Semua orang yakin Angela akan sukses luar biasa. 

Lima tahun kemudian, Tough melakukan follow-up. 

Kewayne lulus SMA—menjadi salah satu dari sedikit anak di lingkungannya yang mencapai itu. Dia diterima di community college. Bekerja part-time. Lambat tapi pasti, dia membangun hidupnya. 

Angela drop out dari universitas Ivy League di tahun kedua. Kecanduan video games. Depresi. Tidak bisa menangani kegagalan pertamanya. Orang tuanya bingung: "Bagaimana bisa? Dia sangat pintar!" 

Apa yang membuat perbedaan?

Bukan IQ. Bukan nilai tes. Bukan privilege. Tapi karakter. 

Paul Tough menghabiskan bertahun-tahun meneliti pertanyaan ini: Apa yang benar-benar membuat anak-anak sukses? Dan jawabannya mengejutkan dunia pendidikan, orang tua, dan policy makers. 

Buku "How Children Succeed" membuktikan dengan riset yang solid: Karakter—bukan kecerdasan—adalah prediktor terbaik kesuksesan dalam hidup. 

Mari kita mulai perjalanan ini.

 


Bagian 1: Mitos Kognitif—Mengapa Kita Salah tentang Kesuksesan 

Obsesi dengan IQ dan Nilai Tes 

Selama puluhan tahun, sistem pendidikan kita dibangun di atas satu asumsi:

Anak yang pintar = Anak yang sukses 

Jadi kita fokus pada: 

● Meningkatkan IQ anak 

● Drill untuk tes standar 

● Les matematika, bahasa, sains 

● Program "gifted and talented" 

● Masuk ke sekolah terbaik 

Hasilnya? Triliunan rupiah dihabiskan untuk program pendidikan kognitif. Orang tua stress memastikan anak mereka masuk sekolah "terbaik." Anak-anak stress menghadapi tes demi tes. 

Dan yang terjadi? 

Anak-anak dengan IQ tinggi dan nilai sempurna sering gagal dalam hidup. 

Mereka tidak bisa menangani kegagalan. Mereka menyerah ketika hal menjadi sulit. Mereka tidak punya ketahanan. Mereka brilian—tapi rapuh. 

Apa yang Benar-Benar Membedakan? 

Tough mempelajari penelitian dari berbagai bidang—neuroscience, ekonomi, psikologi, pendidikan—dan menemukan pola yang konsisten: 

Anak-anak yang sukses dalam hidup bukan yang paling pintar, tapi yang punya karakter terkuat. 

Karakter seperti apa? 

Psikolog Martin Seligman dan Christopher Peterson mengidentifikasi 24 karakter kunci.

Tapi penelitian menunjukkan tujuh karakter yang paling predictive untuk kesuksesan: 

1. Grit (kegigihan) 

2. Self-control (kontrol diri) 

3. Zest (antusiasme untuk hidup) 

4. Social intelligence (kecerdasan sosial) 

5. Gratitude (rasa syukur)

6. Optimism (optimisme) 

7. Curiosity (rasa ingin tahu) 

Anak-anak dengan karakter ini—bahkan jika IQ mereka rata-rata, bahkan jika mereka datang dari kemiskinan—jauh lebih mungkin untuk sukses daripada anak dengan IQ tinggi tapi karakter lemah.

 


Bagian 2: Stress Masa Kecil—Luka yang Tersembunyi

Adverse Childhood Experiences (ACEs) 

Pada 1990-an, peneliti Vincent Felitti melakukan studi groundbreaking dengan 17,000 pasien di Kaiser Permanente. 

Dia bertanya tentang Adverse Childhood Experiences (ACEs)—pengalaman traumatis di masa kecil: 

● Kekerasan fisik atau emosional 

● Pelecehan seksual 

● Penelantaran 

● Orang tua dengan masalah mental health atau kecanduan 

● Perceraian atau penjara orang tua 

● Kemiskinan ekstrem 

Lalu dia melacak kesehatan mereka selama bertahun-tahun. 

Hasilnya mengejutkan: 

Semakin tinggi skor ACEs seseorang, semakin tinggi risiko untuk segala macam masalah: 

● Kegagalan akademis 

● Pengangguran 

● Kemiskinan 

● Penyakit jantung 

● Diabetes 

● Depresi 

● Kecanduan 

● Bahkan kematian dini 

Seseorang dengan skor ACEs 4 atau lebih: 

● 2x lebih mungkin untuk drop out dari sekolah 

● 2x lebih mungkin untuk pengangguran kronis 

● 4x lebih mungkin untuk depresi 

● 7x lebih mungkin untuk kecanduan alkohol 

● 12x lebih mungkin untuk percobaan bunuh diri 

Trauma masa kecil bukan hanya "masa lalu yang menyakitkan"—itu mengubah biologi otak dan tubuh. 

Bagaimana Stress Mengubah Otak

Ketika anak mengalami stress kronis—hidup dalam kemiskinan, mengalami kekerasan, atau penelantaran—tubuh mereka terus-menerus dalam mode "fight or flight." 

Hormon stress seperti cortisol membanjiri sistem mereka. Dan dalam dosis tinggi yang terus-menerus, cortisol merusak perkembangan otak—khususnya bagian yang bertanggung jawab untuk: 

● Kontrol diri 

● Regulasi emosi 

● Fokus dan perhatian 

● Memory 

Inilah mengapa anak-anak dari lingkungan traumatis sering: 

● Tidak bisa duduk diam di kelas 

● Meledak marah dengan mudah 

● Kesulitan fokus 

● Tidak bisa "mengingat" pelajaran 

Bukan karena mereka "bodoh" atau "nakal"—otak mereka secara literal berkembang berbeda karena stress. 

Kabar Baik: Otak Bisa Diperbaiki 

Tapi ada kabar baik yang luar biasa: 

Otak anak sangat plastis—bisa berubah dan memperbaiki diri jika diberikan lingkungan yang tepat. 

Yang dibutuhkan bukan program akademis yang lebih ketat. Yang dibutuhkan adalah relasi yang stabil, hangat, dan responsif dengan orang dewasa yang peduli. 

Tough menceritakan kisah Monisha, anak yang mengalami trauma ekstrem—ayah kecanduan narkoba, ibu di penjara, pindah dari foster home ke foster home. 

Pada usia 12, dia violent, tidak bisa dipercaya, gagal di sekolah. Semua orang sudah menyerah padanya. 

Lalu dia bertemu Keitha Jones, seorang counselor di program after-school. 

Jones tidak fokus pada akademis. Dia fokus pada relasi. Dia konsisten. Dia ada ketika Monisha butuh. Dia tidak menyerah ketika Monisha push away. 

Perlahan, selama bertahun-tahun, Monisha mulai berubah. Otak stress-nya mulai "belajar" bahwa dunia bisa aman. Dia mulai bisa mengatur emosinya. Dia mulai percaya pada diri sendiri.

Pada usia 18, Monisha lulus SMA dan diterima di college.

Relasi yang stabil bisa memperbaiki otak yang rusak oleh trauma.

 


Bagian 3: Grit—Karakter yang Paling Penting

Marshmallow Test dan Kesuksesan 40 Tahun Kemudian 

Psikolog Walter Mischel melakukan eksperimen terkenal di Stanford pada 1960-an. Anak-anak usia 4 tahun diberi satu marshmallow dan pilihan: 

● Makan sekarang 

● Tunggu 15 menit, dapat dua marshmallow 

Lalu peneliti meninggalkan ruangan. 

Beberapa anak langsung makan. Beberapa mencoba menunggu tapi menyerah. Beberapa berhasil menunggu—dengan strategi seperti tutup mata, lihat ke arah lain, bernyanyi. 

Inilah yang luar biasa: Mischel melacak anak-anak ini selama 40 tahun.

Anak-anak yang bisa menunggu di usia 4: 

● SAT scores 210 poin lebih tinggi 

● Tingkat obesitas lebih rendah 

● Hubungan yang lebih stabil 

● Penghasilan lebih tinggi 

● Lebih jarang masalah dengan hukum 

Satu kemampuan di usia 4 memprediksi kesuksesan empat dekade kemudian.

Angela Duckworth dan Grit 

Psikolog Angela Duckworth mengambil penelitian ini lebih jauh. Dia mempelajari orang-orang sukses di berbagai bidang—atlet Olimpiade, salesman top, siswa di West Point Military Academy. 

Dia menemukan satu karakter yang membedakan mereka semua: Grit—kombinasi dari passion dan perseverance untuk tujuan jangka panjang. 

Bukan bakat. Bukan IQ. Bukan keberuntungan. Grit

Di West Point, setiap tahun ribuan cadet terbaik dari seluruh Amerika masuk. Mereka semua atletis, pintar, berkarakter kuat. Tapi 20% drop out di tahun pertama—di "Beast Barracks," periode pelatihan brutal yang dirancang untuk memecahkan mental mereka. 

Duckworth ingin tahu: siapa yang bertahan dan siapa yang keluar? 

Dia memberi mereka Grit Scale—kuesioner sederhana yang mengukur kegigihan dan passion.

Hasilnya: Grit adalah prediktor terbaik siapa yang akan bertahan—lebih baik dari SAT scores, leadership scores, atau physical fitness scores. 

Cadet dengan grit tertinggi bertahan. Yang dengan grit rendah keluar—tidak peduli seberapa pintar atau kuat mereka. 

Grit di Dunia Nyata: Kewayne dan KIPP 

Kembali ke Kewayne—anak dari South Side Chicago. 

Dia masuk ke KIPP Academy, sekolah charter yang fokus pada karakter. KIPP tidak hanya mengajar matematika dan bahasa—mereka mengajar grit, self-control, dan optimisme. 

Kewayne kesulitan. Nilai matematika dan bahasa-nya masih buruk. Tapi dia punya sesuatu yang lain: dia tidak menyerah. 

Setiap kali gagal test, dia datang untuk tutoring. Setiap kali guru bilang "kamu harus kerja lebih keras," dia dengarkan. Lambat tapi pasti, nilainya naik. 

Yang lebih penting: dia belajar sesuatu yang tidak bisa diukur dengan tes—dia belajar bahwa usaha penting. Bahwa kegagalan bukan akhir. Bahwa dia bisa grow. 

Pada saat lulus, Kewayne masih bukan siswa terpintar. Tapi dia adalah salah satu yang paling gigih. 

Dan grit itu membawanya ke college, sesuatu yang hampir mustahil bagi anak-anak di lingkungannya.

 


Bagian 4: Paradox Motivasi—Mengapa Anak Kaya Juga Gagal 

Terlalu Banyak Bantuan, Terlalu Sedikit Perjuangan 

Salah satu temuan paling mengejutkan dari Tough: 

Anak-anak dari keluarga kaya juga struggle dengan karakter—tapi dengan alasan yang berbeda. 

Anak-anak miskin menghadapi terlalu banyak stress. Anak-anak kaya menghadapi terlalu sedikit adversity. 

Tough mengunjungi Riverdale Country School, sekolah swasta elit di New York dengan biaya $40,000 per tahun. 

Siswa-siswa di sana brilian. IQ tinggi. Akses ke semua resources. Tapi banyak dari mereka rapuh. 

Mereka tidak pernah mengalami kegagalan sejati. Orang tua mereka selalu menyelamatkan mereka. Guru memberi mereka nilai bagus bahkan ketika mereka tidak berusaha maksimal. 

Hasilnya? Mereka tidak tahu bagaimana menangani kesulitan. 

Ketika mereka masuk college dan menghadapi kegagalan pertama—nilai C, ditolak dari klub, diputus pacar—mereka runtuh. Anxiety. Depression. Mereka tidak punya mental muscle untuk bounce back. 

Dominic Randolph dan Character Report Cards 

Kepala sekolah Riverdale, Dominic Randolph, menyadari masalah ini. Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu radikal: 

Riverdale mulai memberi "character report cards" selain academic report cards. Mereka menilai siswa pada karakter seperti: 

● Grit 

● Self-control 

● Optimism 

● Gratitude 

● Social intelligence 

Dan yang lebih penting: mereka mulai membiarkan siswa gagal.

Tidak ada lagi email ke profesor college untuk "menjelaskan" mengapa siswa tidak submit paper on time. Tidak ada lagi intervensi orang tua untuk "memperbaiki" nilai. 

Siswa harus menghadapi konsekuensi. Dan dalam proses itu, mereka belajar sesuatu yang jauh lebih berharga dari nilai A: mereka belajar resilience.

 


Bagian 5: Chess, Musik, dan Mitos "Skill Transfer"

Mengapa Chess Tidak Membuat Anak Pintar 

Selama bertahun-tahun, kita percaya: "Ajarkan anak bermain catur, mereka akan pintar di matematika." 

Program catur di sekolah dijual dengan promise: "Chess melatih otak! Chess meningkatkan IQ!" Tapi riset menunjukkan sesuatu yang berbeda: 

Chess membuat anak bagus di... chess. Tapi tidak secara otomatis transfer ke kemampuan lain. 

Anak yang bagus di chess tidak otomatis bagus di matematika atau problem-solving di area lain. 

Apa yang Sebenarnya Chess Ajarkan 

Tapi ada sesuatu yang lebih penting yang chess ajarkan: 

Chess mengajarkan bagaimana menangani kegagalan. 

Di chess, Anda akan kalah. Banyak. Bahkan pemain terbaik kalah hampir separuh waktu. Dan ketika Anda kalah, Anda harus duduk dan menganalisis: "Apa kesalahan saya? Apa yang bisa saya perbaiki?" 

Tough menceritakan Elizabeth Spiegel, guru chess di IS 318 di Brooklyn—sekolah di lingkungan miskin yang menjadi salah satu tim chess terbaik di negara. 

Siswa-siswanya tidak punya IQ super tinggi. Tapi Spiegel mengajarkan mereka sesuatu yang lebih berharga: 

"Kegagalan adalah feedback. Bukan identitas." 

Ketika siswa kalah, dia tidak bilang "kamu tidak berbakat." Dia bilang: "Apa yang kamu pelajari dari game ini? Apa yang akan kamu lakukan berbeda next time?" 

Siswa-siswanya belajar bahwa kegagalan itu normal, bahkan necessary. Mereka belajar untuk analyze, adjust, dan try again. 

Karakter inilah—bukan skill chess itu sendiri—yang membuat mereka sukses di chess dan di kehidupan.

 


Bagian 6: Apa yang Orang Tua Bisa Lakukan

Paradox Parenting Modern 

Orang tua modern menghabiskan lebih banyak waktu dan uang untuk anak-anak mereka daripada generasi mana pun dalam sejarah. 

Tapi anak-anak tidak lebih bahagia atau lebih sukses. Malah, tingkat anxiety dan depression di anak-anak meledak. 

Mengapa? 

Karena kita melakukan hal yang salah. Kita fokus pada: 

● Akademis, akademis, akademis 

● Melindungi anak dari semua kesulitan 

● Menyelesaikan masalah mereka 

● Memastikan mereka "sukses" dengan definisi sempit (nilai, trophy, college ranking)

Kita membesarkan anak yang pintar tapi tidak tangguh. 

Lima Prinsip Membesarkan Anak dengan Karakter 

Berdasarkan riset yang dikumpulkan Tough, inilah yang benar-benar penting:

1. Biarkan Mereka Gagal 

Jangan rescue anak dari setiap kesulitan. Biarkan mereka experience konsekuensi natural dari tindakan mereka. 

Lupa bawa homework? Jangan antar ke sekolah. Biarkan dia dapat nilai rendah dan belajar untuk lebih organized. 

Tidak masuk tim? Jangan komplain ke coach. Biarkan dia rasakan disappointment dan figure out bagaimana improve. 

Kegagalan adalah gym untuk membangun mental muscle. 

2. Praise Process, Bukan Hasil 

Jangan bilang: "Kamu pintar!" 

Bilang: "Kamu bekerja sangat keras untuk memecahkan masalah itu."

Penelitian Carol Dweck menunjukkan: anak yang dipuji untuk "being smart" takut gagal (karena gagal berarti mereka tidak pintar). Anak yang dipuji untuk "working hard" embrace challenges (karena effort adalah hal yang bisa mereka kontrol). 

3. Model Grit dan Optimism 

Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. 

Ketika Anda menghadapi kesulitan, jangan sembunyi. Tunjukkan bagaimana Anda menangani frustrasi, bagaimana Anda persist, bagaimana Anda bounce back. 

"Wah, proyek ini sulit. Tapi aku akan coba approach berbeda." 

4. Ciptakan Rutinitas dan Struktur 

Anak-anak dengan karakter kuat datang dari rumah dengan rutinitas yang konsisten—waktu makan, waktu tidur, waktu homework, waktu keluarga. 

Bukan tentang rigid control. Tapi tentang predictability dan safety—anak tahu apa yang diharapkan, dan itu membuat mereka merasa aman untuk take risks. 

5. Relasi Hangat Adalah Foundation 

Yang paling penting dari semua: anak membutuhkan minimal satu orang dewasa yang peduli secara konsisten

Bukan sempurna. Bukan supaya selalu. Tapi ada. Konsisten. Hangat. Responsif. 

Relasi inilah yang memperbaiki otak yang rusak oleh stress. Relasi inilah yang memberi anak secure base untuk explore dunia. 

Anak tidak perlu childhood yang sempurna. Mereka perlu childhood dengan minimal satu orang yang membuat mereka merasa aman dan dihargai.

 


Bagian 7: Apa yang Guru dan Sekolah Bisa Lakukan

KIPP to College: Belajar dari Kegagalan 

KIPP (Knowledge Is Power Program) adalah jaringan sekolah charter yang terkenal dengan kesuksesannya membawa anak-anak miskin ke college. 

Tapi pada awal 2000-an, mereka menemukan masalah: 

Banyak alumni KIPP masuk college tapi tidak lulus. 

Mereka punya nilai bagus di high school. Mereka pintar. Tapi mereka struggle di college dan drop out. 

David Levin, co-founder KIPP, bingung. Lalu dia menyadari: 

"Kami mengajarkan mereka bagaimana lulus tes. Tapi kami tidak mengajarkan mereka bagaimana menangani kegagalan." 

KIPP mulai mengubah pendekatan mereka. Mereka tetap mengajar akademis dengan ketat. Tapi mereka juga mulai fokus pada karakter: 

● Grit 

● Self-control 

● Optimism 

● Social intelligence 

Mereka mengajarkan siswa bahwa kegagalan adalah bagian dari learning process. Mereka melatih mereka untuk seek help ketika struggle. Mereka membantu mereka develop support network. 

Hasilnya? Tingkat college completion meningkat signifikan. 

OneGoal: Coaching untuk College 

Program lain yang Tough pelajari adalah OneGoal di Chicago. 

OneGoal tidak fokus pada anak-anak pintar. Mereka fokus pada anak-anak dengan potential tapi tidak advantage—anak yang punya grit, tapi tidak punya support system atau knowledge tentang bagaimana navigate college. 

OneGoal memberikan mereka coaching intensive selama high school dan bahkan sampai college. 

Bukan academic tutoring. Tapi life coaching:

● Bagaimana mendaftar financial aid 

● Bagaimana berbicara dengan professor ketika struggle 

● Bagaimana manage waktu 

● Bagaimana deal dengan homesickness dan culture shock 

● Bagaimana persist ketika ingin menyerah 

Dan yang paling penting: OneGoal tidak abandon mereka setelah lulus high school. Coach mereka terus ada—via text, phone, visit—sampai mereka graduate college. 

Hasilnya luar biasa: 85% siswa OneGoal graduate college dalam 6 tahun—bandingkan dengan 8% untuk anak dari demographic yang sama tanpa program.

 


Bagian 8: Karakter Bisa Diajarkan—Tapi Tidak dengan Cara yang Kita Kira 

Bukan Melalui Ceramah 

Anda tidak bisa mengajarkan grit dengan bilang "Kamu harus punya grit!"

Anda tidak bisa mengajarkan self-control dengan kuliah tentang pentingnya self-control. 

Karakter tidak diajarkan melalui instruksi langsung. Karakter diajarkan melalui experience dan relasi. 

Melalui Tiga Hal 

1. Pengalaman dengan Kegagalan dan Recovery 

Anak-anak perlu mengalami kesulitan, gagal, dan kemudian figure out bagaimana bangkit. 

Sekolah dan orang tua perlu menciptakan safe space untuk fail—di mana konsekuensinya nyata tapi tidak devastating, di mana support tersedia tapi tidak menyelamatkan. 

2. Relasi dengan Role Models 

Anak-anak belajar karakter dari watching adults yang mereka respect menangani kesulitan. 

Guru, coach, mentor, orang tua—mereka adalah model. Dan anak-anak absorb tidak dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita lakukan. 

3. Budaya yang Menghargai Karakter 

Sekolah dan keluarga perlu explicitly value karakter—bukan hanya lip service, tapi dalam struktur reward mereka, dalam apa yang mereka celebrate, dalam apa yang mereka prioritize. 

Ketika sekolah hanya celebrate academic achievement, anak belajar: "Yang penting adalah nilai." 

Ketika sekolah celebrate persistence, improvement, helping others—anak belajar: "Yang penting adalah karakter."

 


Penutup: Kesuksesan Sejati adalah Karakter

Paul Tough menutup buku dengan observasi powerful: 

"Kita telah menghabiskan decades dan miliaran dollar mencoba meningkatkan cognitive skills anak-anak. Dan itu penting. Tapi kita mengabaikan sesuatu yang sama pentingnya, jika tidak lebih: character." 

Anak-anak yang sukses dalam hidup—yang punya karir memuaskan, hubungan yang sehat, kehidupan yang bermakna—bukan necessarily yang paling pintar. 

Mereka adalah yang punya: 

Grit untuk persist meskipun kesulitan 

Self-control untuk delay gratification dan fokus pada long-term goals

Optimism untuk bounce back dari kegagalan 

Curiosity untuk terus belajar dan grow 

Social intelligence untuk navigate hubungan kompleks 

Gratitude yang membuat mereka appreciate apa yang mereka punya

Dan kabar baiknya: semua ini bisa diajarkan dan dikembangkan. 

Tidak melalui program fancy atau curriculum mahal. Tapi melalui: 

● Relasi yang stabil dan hangat 

● Kesempatan untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan 

● Adults yang model karakter ini dalam kehidupan mereka sendiri

Pertanyaan untuk Anda 

Jika Anda orang tua: 

1. Apakah Anda fokus pada nilai atau pada karakter? 

Jujur jawab: Apa yang lebih membuat Anda bangga—anak Anda dapat A, atau anak Anda persist meskipun kesulitan? 

2. Apakah Anda rescue anak dari setiap kesulitan? 

Atau Anda membiarkan mereka struggle dan belajar? 

3. Apa yang anak Anda lihat ketika Anda menghadapi kesulitan? 

Apakah mereka melihat Anda menyerah atau persist?

Jika Anda guru: 

1. Apakah kurikulum Anda hanya fokus pada cognitive skills?

Atau ada explicit focus pada character? 

2. Apakah Anda create space untuk students to fail safely? 

3. Apakah Anda celebrate effort dan improvement—atau hanya hasil final? 

Seperti Paul Tough tulis: 

"Anak-anak tidak membutuhkan childhood yang sempurna. Mereka membutuhkan childhood yang mempersiapkan mereka untuk ketidaksempurnaan kehidupan." 

Dan persiapan terbaik bukan IQ tinggi atau nilai sempurna. 

Persiapan terbaik adalah karakter yang kuat.

 


Tentang Buku Asli 

"How Children Succeed: Grit, Curiosity, and the Hidden Power of Character" diterbitkan pada 2012 dan langsung menjadi New York Times bestseller. 

Paul Tough adalah jurnalis yang menulis untuk The New York Times Magazine, The New Yorker, dan NPR. Buku ini lahir dari reportingnya selama bertahun-tahun di sekolah-sekolah, program intervensi, dan komunitas di seluruh Amerika. 

Sebelum "How Children Succeed," Tough menulis "Whatever It Takes: Geoffrey Canada's Quest to Change Harlem and America" (2008). Setelahnya, dia menulis "Helping Children Succeed" (2016) dan "The Years That Matter Most" (2019)—melanjutkan explorasinya tentang pendidikan dan kesuksesan. 

Buku ini revolutionary karena mengombinasikan riset neuroscience, psikologi, dan ekonomi dengan reportase mendalam tentang anak-anak nyata dan program-program yang bekerja. 

Tough tidak hanya menulis tentang teori. Dia mengikuti anak-anak selama bertahun-tahun—dari KIPP, Riverdale, OneGoal, dan komunitas lain—dan menunjukkan bagaimana karakter benar-benar membuat perbedaan dalam kehidupan mereka. 

Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana membesarkan dan mendidik anak-anak yang tidak hanya pintar tapi juga tangguh, sangat disarankan membaca buku aslinya. Tough memberikan puluhan cerita detail, riset mendalam, dan guidance praktis yang tidak bisa sepenuhnya diringkas. 

Ringkasan ini menangkap konsep-konsep inti, tetapi buku asli menawarkan kedalaman emosional dan evidence-based strategies yang akan mengubah cara Anda membesarkan atau mendidik anak-anak. 

Sekarang pergilah dan bantu anak-anak di sekitar Anda—bukan hanya menjadi pintar, tapi menjadi tangguh, gigih, dan berkarakter. 

Karena seperti Paul Tough buktikan: Kesuksesan sejati datang bukan dari apa yang anak-anak tahu, tapi dari siapa mereka menjadi. 

Dan itu adalah sesuatu yang bisa kita bantu mereka develop.