Dua Orang yang Mengubah Segalanya
Tahun 1969. Universitas Hebrew, Yerusalem.
Di sebuah ruang seminar gelap, seorang profesor muda bernama Daniel Kahneman sedang memberikan kuliah tentang persepsi visual. Audiensnya adalah para dosen senior dan peneliti—orang-orang yang sudah menghabiskan puluhan tahun mempelajari psikologi.
Di barisan belakang duduk Amos Tversky, seorang profesor yang dikenal sebagai orang paling brilian di fakultas. Tampan. Percaya diri. Selalu benar. Orang yang membuat orang lain merasa bodoh hanya dengan kehadirannya.
Selama kuliah, Amos mengangkat tangan berkali-kali. Setiap kali dia berbicara, dia menunjukkan kelemahan dalam argumen Kahneman. Setiap pertanyaannya membuat orang lain mengangguk—"Ah, iya juga ya."
Kahneman merasa terhina. Ini adalah salah satu presentasi terburuk dalam karirnya.
Tapi setelah kuliah, sesuatu yang aneh terjadi.
Amos menghampiri Kahneman dan berkata: "Presentasimu sangat menarik. Aku ingin bicara lebih banyak tentang ini. Makan siang besok?"
Dan dari pertemuan yang canggung itu—antara dua orang yang sangat berbeda, yang seharusnya tidak cocok—lahir salah satu kolaborasi paling produktif dalam sejarah sains.
Dalam 15 tahun ke depan, Daniel Kahneman dan Amos Tversky akan:
● Menciptakan bidang baru yang disebut behavioral economics
● Membuktikan bahwa manusia tidak rasional seperti yang dikira ekonom selama ratusan tahun
● Mengidentifikasi puluhan bias kognitif yang mempengaruhi setiap keputusan kita
● Mengubah cara dokter mendiagnosis, manajer merekrut, dan hakim memutuskan hukuman
● Membuat salah satu dari mereka (Kahneman) memenangkan Hadiah Nobel
Dan kemudian, persahabatan itu akan hancur—dengan cara yang tragis dan menyakitkan.
Buku "The Undoing Project" adalah kisah mereka. Bukan hanya tentang ide-ide yang mengubah dunia. Tapi tentang bagaimana ide-ide besar lahir dari hubungan manusia yang rumit, intens, dan penuh dengan kecemerlangan sekaligus kerentanan.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Dua Orang yang Tidak Seharusnya Cocok
Danny: Anak yang Selamat dari Holocaust
Daniel Kahneman lahir di Tel Aviv tahun 1934. Masa kecilnya dihabiskan melarikan diri dari Nazi di Prancis yang diduduki.
Dia ingat momen ketika dia berumur 6 tahun, berjalan sendirian di jalan Paris memakai sweater dengan bintang Yahudi yang wajib. Seorang tentara Nazi berjalan ke arahnya. Danny membeku ketakutan.
Tapi tentara itu hanya mengangkatnya, memeluknya, menunjukkan foto anak kecil di dompetnya, memberikan Danny uang, dan meninggalkannya begitu saja.
Momen itu mengajarkan Danny sesuatu yang fundamental: Manusia itu kompleks. Tidak ada yang benar-benar bisa diprediksi.
Ayahnya meninggal karena diabetes yang tidak dirawat selama perang. Keluarganya selamat dengan keberuntungan tipis dan bersembunyi terus-menerus.
Pengalaman ini membentuk Danny menjadi orang yang ragu-ragu, introspektif, selalu mempertanyakan diri sendiri. Dia tidak pernah merasa brilian. Dia selalu merasa seperti penipu—impostor syndrome yang kronis.
Amos: Golden Boy yang Tidak Pernah Ragu
Amos Tversky lahir di Haifa tahun 1937 dalam keluarga yang sangat berbeda.
Ibunya adalah anggota parlemen Israel. Ayahnya adalah dokter terkemuka. Amos tumbuh dengan kepercayaan diri absolut bahwa dia adalah orang terpintar di ruangan mana pun—dan biasanya, dia benar.
Di militer Israel, dia adalah pahlawan perang. Ketika sersan dalam unitnya menginjak ranjau, Amos berlari ke arahnya—bukan menjauh—dan menyingkirkan ranjau dengan tangannya sendiri, menyelamatkan nyawa sersan itu. Dia menerima medali keberanian tertinggi Israel.
Sebagai mahasiswa, dia begitu cemerlang sehingga profesor-profesornya tidak tahu harus mengajarinya apa lagi. Dia menyelesaikan PhD di University of Michigan dalam waktu singkat dengan disertasi yang brilian.
Semua orang menyukai Amos. Dia lucu. Charming. Percaya diri tanpa arogan. Dan tidak seperti kebanyakan jenius, dia membuat orang lain merasa pintar ketika berbicara dengannya.
Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Setelah makan siang pertama mereka, Danny dan Amos mulai bertemu secara teratur.
Mereka berbicara tentang satu pertanyaan sederhana: Mengapa para ahli begitu sering salah dalam prediksi mereka?
Danny punya pengalaman langsung. Sebagai psikolog militer Israel, tugasnya adalah menilai rekrut baru dan memprediksi siapa yang akan menjadi perwira yang baik.
Dia punya data bertahun-tahun. Dan datanya menunjukkan sesuatu yang memalukan: Prediksinya tidak lebih baik dari tebakan acak.
Dia bisa menghabiskan berjam-jam mewawancarai seseorang, mengobservasi mereka, menganalisis kepribadian mereka. Tapi ketika dia check bertahun-tahun kemudian—prediksinya salah separuh waktu.
Lebih parah lagi: Dia tahu ini. Tapi dia tetap percaya pada penilaiannya setiap kali dia mewawancarai rekrut baru.
Mengapa? Mengapa kita terus percaya pada intuisi kita meskipun bukti menunjukkan kita salah?
Pertanyaan ini akan memakan 15 tahun kehidupan mereka.
Bagian 2: Bias Kognitif—Kesalahan yang Kita Buat Berulang Kali
The Linda Problem—Eksperimen yang Mengejutkan
Danny dan Amos membuat eksperimen sederhana tapi mengungkap sesuatu yang mengejutkan tentang cara kita berpikir.
Mereka memberikan deskripsi kepada ratusan orang:
"Linda berusia 31 tahun, lajang, blak-blakan, dan sangat cerdas. Dia jurusan filsafat. Sebagai mahasiswa, dia sangat peduli dengan isu diskriminasi dan keadilan sosial, dan juga berpartisipasi dalam demonstrasi anti-nuklir."
Lalu mereka bertanya: Mana yang lebih mungkin?
A. Linda adalah teller bank B. Linda adalah teller bank dan aktif dalam gerakan feminis
Lebih dari 85% orang memilih B.
Tapi ini salah secara logika.
Kenapa? Karena probabilitas dua hal terjadi bersamaan (teller bank DAN feminis) tidak mungkin lebih besar dari probabilitas satu hal terjadi (hanya teller bank).
Ini seperti bertanya: "Apa yang lebih mungkin—seseorang punya mobil, atau seseorang punya mobil DAN punya motor?"
Jelas yang pertama. Karena kelompok "punya mobil" mencakup semua orang yang punya mobil—termasuk yang juga punya motor.
Tapi otak kita tidak berpikir seperti itu. Otak kita berpikir: "Linda terdengar seperti aktivis feminis. Jadi pasti dia feminis."
Danny dan Amos menyebut ini representativeness heuristic—kita menilai probabilitas berdasarkan seberapa "cocok" sesuatu dengan stereotip kita, bukan pada logika statistik.
Availability Heuristic—Mengapa Kita Takut Hal yang Salah
Pertanyaan: Apa yang lebih menyebabkan banyak kematian—hiu atau mesin penjual otomatis yang jatuh?
Kebanyakan orang bilang hiu. Tapi jawabannya: mesin penjual otomatis—hampir 13 kali lebih banyak.
Mengapa kita salah? Karena serangan hiu lebih dramatis, lebih sering diberitakan, lebih mudah kita ingat. Informasinya lebih "available" di memori kita.
Ini adalah availability heuristic: kita menilai kemungkinan sesuatu terjadi berdasarkan seberapa mudah kita mengingat contohnya.
Akibatnya:
● Orang takut terbang meskipun mengemudi jauh lebih berbahaya
● Orang takut terorisme tapi tidak takut penyakit jantung (meski penyakit jantung membunuh ribuan kali lebih banyak)
● Orang overthink risiko yang kecil dan mengabaikan risiko yang besar
Anchoring—Angka Acak yang Mengontrol Kita
Danny dan Amos memutar roda keberuntungan di depan mahasiswa. Roda berhenti di angka 10 atau 65 (diatur secara diam-diam).
Lalu mereka bertanya: "Berapa persen negara Afrika adalah anggota PBB?"
Mahasiswa yang melihat angka 10 menebak rata-rata 25%. Mahasiswa yang melihat angka 65 menebak rata-rata 45%.
Padahal roda keberuntungan tidak ada hubungannya dengan PBB!
Tapi otak kita ter-"anchor" pada angka pertama yang kita dengar—bahkan jika itu angka acak yang tidak relevan.
Dalam kehidupan nyata:
● Harga pertama yang kita lihat menentukan apakah harga berikutnya terasa mahal atau murah
● Tawaran gaji pertama dalam negosiasi set ekspektasi untuk seluruh negosiasi
● Diagnosis pertama dokter mempengaruhi bagaimana mereka interpret gejala berikutnya
Bagian 3: Prospect Theory—Mengapa Kita Takut Rugi
Eksperimen yang Memenangkan Nobel
Danny dan Amos memberikan dua skenario kepada ratusan orang:
Skenario 1: Anda akan mendapat $1,000 pasti. ATAU 50% kesempatan mendapat $2,500 dan 50% kesempatan tidak dapat apa-apa.
Mayoritas memilih $1,000 pasti—meskipun secara matematis, expected value opsi kedua lebih tinggi ($1,250).
Skenario 2: Anda akan kehilangan $1,000 pasti. ATAU 50% kesempatan kehilangan $2,500 dan 50% kesempatan tidak kehilangan apa-apa.
Mayoritas memilih untuk berjudi—meskipun secara matematis, expected loss-nya lebih besar.
Apa yang terjadi?
Kita risk-averse ketika menghadapi keuntungan, tapi risk-seeking ketika menghadapi kerugian.
Atau dalam bahasa sederhana: Rasa sakit kehilangan $100 lebih kuat daripada kesenangan mendapat $100.
Danny dan Amos menyebut ini loss aversion—dan ini menjelaskan begitu banyak perilaku irasional kita:
● Mengapa investor hold saham yang terus turun (tidak mau "realize" kerugian)
● Mengapa orang tetap di pekerjaan yang mereka benci (takut kehilangan stability)
● Mengapa kita tetap di hubungan toxic (takut kehilangan apa yang sudah kita investasikan)
● Mengapa bisnis tidak mau membatalkan proyek yang jelas akan gagal (sudah invest terlalu banyak)
Prospect Theory mereka—yang menjelaskan bagaimana orang benar-benar membuat keputusan dalam kondisi uncertainty—mengubah ekonomi selamanya.
Ekonom tradisional percaya manusia adalah "rational actors" yang selalu memaksimalkan utility. Danny dan Amos membuktikan: Kita tidak rasional. Kita predictably irrational.
Untuk kerja ini, Kahneman menerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002. (Amos sudah meninggal tahun 1996; Nobel tidak diberikan secara posthumous.)
Bagian 4: Sistem 1 vs Sistem 2—Dua Cara Otak Bekerja
Pertanyaan Jebakan
Pertanyaan sederhana:
Sebuah bat dan bola harganya total $1.10. Bat harganya $1.00 lebih mahal dari bola. Berapa harga bola?
Jika jawaban spontan Anda adalah $0.10—Anda salah.
(Jawaban benar: $0.05. Jika bola $0.05, maka bat $1.05, total $1.10.)
Mengapa begitu banyak orang—bahkan dari universitas top—menjawab salah?
Karena otak kita punya dua sistem:
Sistem 1: Cepat, Otomatis, Intuitif
● Bereaksi dalam milidetik
● Tidak butuh usaha
● Tidak bisa dimatikan
● Sering salah tapi percaya diri
Sistem 2: Lambat, Deliberatif, Analitis
● Butuh usaha mental
● Bisa menghitung, menganalisis, berpikir logis
● Malas—lebih suka membiarkan Sistem 1 yang kerja
Untuk pertanyaan bat dan bola:
● Sistem 1 langsung menjawab "$0.10!"—karena terdengar benar
● Sistem 2 seharusnya check perhitungannya—tapi dia malas, jadi dia percaya saja pada Sistem 1
Sebagian besar kesalahan kita terjadi karena kita terlalu percaya pada Sistem 1 dan terlalu jarang mengaktifkan Sistem 2.
Dalam Kehidupan Nyata
Kedokteran: Dokter melihat gejala dan langsung diagnosis (Sistem 1). Kadang benar. Kadang salah—tapi mereka overconfident.
Dokter yang baik forcing diri untuk mengaktifkan Sistem 2: "Tunggu, apa diagnosis alternatif? Apa yang saya mungkin lewatkan?"
Rekrutmen: Interviewer bertemu kandidat 5 menit dan "tahu" apakah orang ini cocok atau tidak (Sistem 1). Tapi penelitian menunjukkan first impression tidak prediktif.
Google mengubah sistem hiring mereka berdasarkan penelitian Danny dan Amos—menggunakan structured interviews dan data, bukan "gut feeling."
Investasi: Investor melihat pola dalam grafik saham dan "merasa" ini saat yang tepat beli atau jual (Sistem 1). Tapi pasar tidak bisa diprediksi dari pola.
Warren Buffett sukses karena dia memaksa dirinya berpikir dengan Sistem 2—analisis fundamental, jangka panjang, melawan instinct.
Bagian 5: Aplikasi yang Mengubah Dunia
Daryl Morey dan NBA Draft
Daryl Morey, GM Houston Rockets, membaca paper Danny dan Amos dan menyadari sesuatu: NBA scouts making the same mistakes.
Scouts menilai pemain basket berdasarkan "feel"—mereka nonton pemain dan "tahu" apakah dia akan bagus di NBA.
Masalahnya: track record mereka buruk. Banyak pemain yang diprediksi akan superstar ternyata bust. Banyak pemain yang diabaikan ternyata menjadi All-Star.
Mengapa? Karena scouts terlalu percaya pada:
● Representativeness: "Pemain ini terlihat seperti superstar" (tinggi, atletis, percaya diri)
● Availability: Mereka over-weight performance dalam game besar yang mereka tonton
● Halo effect: Jika pemain punya satu kualitas bagus, mereka assume semua kualitasnya bagus
Morey mengubah sistem. Dia menggunakan data dan statistik—bukan gut feeling.
Hasilnya: Houston Rockets consistently drafting better, spending smarter, winning more.
Billy Beane dari Oakland A's melakukan hal yang sama di baseball (diabadikan dalam buku dan film "Moneyball").
Kedokteran: Why Doctors Kill More People Than They Should
Dokter adalah manusia. Dan seperti semua manusia, mereka punya bias kognitif.
Contoh nyata:
Seorang wanita datang dengan nyeri dada. Dokter UGD langsung diagnosis: panic attack (karena dia muda, wanita, terlihat cemas).
Tapi sebenarnya dia sedang heart attack. Diagnosis yang salah hampir membunuhnya.
Mengapa dokter salah? Representativeness bias: "Pasien heart attack biasanya pria tua. Ini wanita muda. Jadi bukan heart attack."
Penelitian menunjukkan:
● Dokter terlalu percaya pada diagnosis pertama mereka (anchoring)
● Dokter overestimate seberapa langka penyakit tertentu (availability)
● Dokter overconfident tentang akurasi mereka
Solusi: Checklist, algoritma, second opinions.
Beberapa rumah sakit mengadopsi sistem di mana komputer memberikan differential diagnosis berdasarkan gejala—memaksa dokter mempertimbangkan alternatif sebelum memutuskan.
Bagian 6: Persahabatan yang Intens—Dan Keruntuhannya
Kolaborasi yang Ajaib
Selama bertahun-tahun, Danny dan Amos bekerja bersama dengan cara yang luar biasa.
Mereka bertemu hampir setiap hari. Berbicara berjam-jam. Menulis paper bersama—saling melengkapi dengan sempurna.
Danny adalah penanya—selalu ragu, selalu mempertanyakan. "Bagaimana kalau kita salah? Bagaimana kalau ada penjelasan lain?"
Amos adalah answer—percaya diri, decisive, bisa melihat struktur jelas dalam kekacauan ide.
Orang yang mengenal mereka berkata: "Ketika mereka bersama, mereka menjadi pikiran tunggal yang lebih pintar dari masing-masing mereka."
Mereka bahkan develop bahasa sendiri. Shorthand. Lelucon internal. Cara berpikir yang hanya mereka berdua mengerti.
Tapi ada masalah yang mengintai.
Crack Mulai Muncul
Seiring waktu, Amos menjadi lebih terkenal. Dia yang diundang memberikan keynote. Dia yang diwawancarai media. Dia yang namanya disebut pertama.
Danny mulai merasa seperti shadow—meskipun dia berkontribusi setidaknya 50% dari ide mereka.
Lebih buruk lagi: Amos tidak pernah mengoreksi orang yang memberikan semua kredit padanya. Dia menikmati perhatian.
Ketika mereka memenangkan award besar, Amos naik panggung sendirian. Danny duduk di audiens.
Sesuatu di dalam Danny patah.
Akhir yang Tragis
Pada akhir 1980-an, persahabatan mereka hancur.
Mereka berhenti berbicara. Berhenti bekerja sama. Danny pindah dari Israel ke Kanada, jauh dari Amos.
Bertahun-tahun berlalu dengan keheningan yang dingin.
Lalu tahun 1996, Amos didiagnosis dengan melanoma stadium lanjut. Kanker kulit yang sangat agresif. Dia punya waktu enam bulan.
Danny terbang ke California untuk melihatnya.
Mereka berbicara. Menangis. Mengakui kesalahan masing-masing. Memaafkan.
Amos meninggal di usia 59 tahun—terlalu muda, terlalu banyak yang belum selesai.
Enam tahun kemudian, ketika Danny menerima Hadiah Nobel, dia bilang dalam pidatonya:
"Kerja yang dihargai hari ini adalah hasil kolaborasi. Banyak ide yang dikreditkan pada saya sebenarnya adalah ide Amos atau lahir dari percakapan kami. Saya berharap dia bisa di sini untuk menerima penghargaan ini bersama saya."
Bagian 7: Warisan yang Mengubah Dunia
Pengaruh yang Tak Terhitung
Riset Danny dan Amos mengubah:
Ekonomi: Lahirnya behavioral economics. Richard Thaler, Dan Ariely, dan ratusan ekonom lainnya membangun di atas fondasi mereka.
Kedokteran: Sistem diagnosis yang lebih baik. Checklist di rumah sakit. Awareness tentang bias dokter.
Hukum: Pemahaman bahwa saksi mata tidak reliable. Bahwa hakim bias. Bahwa hukuman dipengaruhi oleh mood dan anchoring.
Bisnis: Cara perusahaan merekrut, invest, dan membuat keputusan strategis.
Pemerintah: "Nudge units" di puluhan negara yang menggunakan insight dari behavioral economics untuk membuat kebijakan lebih efektif.
Kehidupan sehari-hari: Awareness bahwa kita tidak serasional yang kita kira. Bahwa kita perlu slow down, double-check intuisi kita, dan aware terhadap bias kita.
Pelajaran Terbesar
Michael Lewis, penulis buku ini (yang juga menulis "Moneyball" dan "The Big Short"), menutup dengan observasi:
"Kerja Danny dan Amos bukan hanya tentang bagaimana kita berpikir. Ini tentang bagaimana kita hidup."
Karena setiap keputusan yang kita buat—dari yang kecil hingga yang mengubah hidup—dipengaruhi oleh bias kognitif yang mereka temukan.
Dan awareness adalah langkah pertama.
Kita tidak bisa menghilangkan bias. Tapi kita bisa:
1. Aware bahwa bias itu ada
2. Slow down sebelum keputusan penting
3. Seek second opinions dan perspektif alternatif
4. Use data ketika tersedia, bukan hanya gut feeling
5. Check ourselves—"Apakah saya terlalu percaya diri? Apakah saya ter-anchor pada angka pertama? Apakah saya avoiding loss yang sebenarnya harus saya terima?"
Penutup: Pertanyaan untuk Anda
Setelah membaca kisah Danny dan Amos, ada beberapa pertanyaan yang perlu kita renungkan:
1. Bias Apa yang Sedang Mempengaruhi Anda Sekarang?
Pikirkan keputusan besar yang sedang Anda hadapi:
● Apakah Anda ter-anchor pada angka atau ide pertama yang Anda dengar?
● Apakah Anda menghindari kerugian meskipun itu keputusan terbaik?
● Apakah Anda terlalu percaya diri pada prediksi Anda?
2. Kapan Terakhir Kali Anda Salah—Dan Mengakuinya?
Overconfidence adalah salah satu bias paling berbahaya. Kita semua berpikir kita lebih akurat, lebih objektif, lebih rasional daripada orang lain.
Kita salah.
Danny dan Amos menghabiskan karir membuktikan bahwa bahkan para ahli constantly salah—dan tidak menyadarinya.
3. Apakah Anda Menggunakan Sistem 1 atau Sistem 2?
Untuk keputusan penting:
● Apakah Anda slow down dan benar-benar analyze?
● Atau Anda trust gut feeling Anda tanpa mempertanyakan?
Gut feeling bagus untuk hal-hal yang Anda sudah punya banyak pengalaman. Seorang grandmaster catur bisa trust instinctnya karena dia sudah lihat ribuan posisi.
Tapi untuk situasi baru atau kompleks, gut feeling sering salah. Dan kita perlu memaksa Sistem 2 untuk bekerja.
4. Siapa "Amos" untuk "Danny" Anda?
Salah satu pelajaran terbesar dari buku ini: Ide terbaik lahir dari kolaborasi.
Danny dan Amos, masing-masing brilian, menjadi lebih brilian bersama. Mereka saling melengkapi. Saling menantang. Saling membuat lebih tajam.
Siapa orang dalam hidup Anda yang:
● Menantang ide-ide Anda?
● Membuat Anda berpikir lebih dalam?
● Melengkapi kelemahan Anda dengan kekuatan mereka?
Jika Anda tidak punya orang seperti itu, carilah. Karena kita tidak bisa melihat blind spots kita sendiri.
Refleksi Akhir: Keindahan dan Tragedi
Kisah Danny dan Amos adalah kisah tentang keindahan kolaborasi dan tragedi ego.
Mereka menciptakan sesuatu yang luar biasa bersama. Tapi mereka hampir kehilangan satu sama lain karena kredit, pengakuan, dan perasaan tidak dihargai.
Ini mengingatkan kita:
Ide-ide besar penting. Tapi hubungan yang menciptakan ide-ide itu sama pentingnya—mungkin lebih penting.
Danny hidup dengan penyesalan. Bukan karena penelitian yang tidak dia lakukan. Tapi karena tahun-tahun yang dia sia-siakan tidak berbicara dengan sahabat terbaiknya.
Ketika Amos meninggal, Danny kehilangan bukan hanya kolaborator. Dia kehilangan bagian dari dirinya sendiri—bagian yang membuat dia lebih baik, lebih tajam, lebih kreatif.
Jadi sementara kita belajar tentang bias kognitif dan keputusan rasional dari Danny dan Amos, mungkin pelajaran terdalam adalah ini:
Jangan biarkan ego mengalahkan hubungan yang membuat Anda menjadi versi terbaik dari diri Anda.
Karena pada akhirnya, kita semua adalah "undoing project"—makhluk yang terus-menerus salah, terus-menerus belajar, terus-menerus perlu orang lain untuk menunjukkan blind spots kita.
Dan itu tidak memalukan. Itu adalah kondisi menjadi manusia.
Tentang Buku Asli
"The Undoing Project: A Friendship That Changed Our Minds" diterbitkan pada tahun 2016 oleh Michael Lewis, penulis bestseller internasional.
Michael Lewis terkenal karena kemampuannya mengubah topik kompleks menjadi narasi yang engaging. Buku-bukunya yang lain termasuk:
● "Moneyball" (tentang baseball dan statistik)
● "The Big Short" (tentang krisis finansial 2008)
● "Flash Boys" (tentang high-frequency trading)
"The Undoing Project" adalah eksplorasi paling personal Lewis—tentang bagaimana persahabatan, kolaborasi, dan kreativitas bekerja (dan kadang tidak bekerja).
Lewis pertama kali mendengar tentang Danny dan Amos ketika seseorang menunjukkan bahwa "Moneyball" sebenarnya adalah aplikasi dari riset mereka—meskipun Lewis tidak tahu tentang mereka ketika menulis buku itu.
Intrigued, Lewis menghabiskan bertahun-tahun mewawancarai Danny (yang masih hidup), teman-teman mereka, kolega, dan keluarga untuk merekonstruksi kisah persahabatan yang luar biasa ini.
Untuk pemahaman lengkap tentang kehidupan Danny dan Amos dan bagaimana ide-ide mereka berkembang, sangat disarankan membaca buku aslinya. Lewis menulis dengan kedalaman emosional dan detail yang tidak bisa diringkas.
Buku ini bukan textbook tentang behavioral economics—ini adalah kisah manusia yang kebetulan mengubah cara kita memahami pikiran manusia.
Sekarang pergilah dan pertanyakan asumsi Anda. Aware terhadap bias Anda. Dan cari kolaborator yang akan membuat Anda lebih baik.
Karena seperti yang Danny dan Amos buktikan: Kita tidak serasional yang kita kira. Tapi bersama orang yang tepat, kita bisa menjadi lebih bijaksana.

