The Information

James Gleick


Ketika Drum Bicara 

Afrika Barat, tahun 1730. 

Francis Moore, seorang pedagang Inggris, berdiri di tepi Sungai Gambia, kebingungan total. 

Dia mendengar suara drum dari kejauhan—bunyi yang bergema di antara pepohonan. Bukan ritme musik. Bukan tarian. Tapi komunikasi. 

Dalam hitungan menit, seluruh desa tahu bahwa kapal Eropa akan tiba besok pagi. Mereka tahu berapa banyak awaknya. Mereka tahu apa yang dibawa. Informasi bergerak dengan kecepatan suara drum—jauh lebih cepat daripada messenger berlari. 

Moore tercengang. "Bagaimana mungkin drum bisa menyampaikan pesan kompleks seperti itu?" 

Bagi orang Eropa abad ke-18, ini tampak seperti sihir. Mereka berasumsi bahwa talking drums hanya bisa menyampaikan pesan sederhana—seperti sinyal bahaya atau panggilan untuk berkumpul. 

Tapi mereka salah. 

Talking drums Afrika memiliki bahasa yang lengkap—dengan grammar, vocabulary, dan nuansa. Drummer bisa menyampaikan berita, gosip, bahkan puisi. Informasi yang kompleks ditransmisikan tanpa tulisan, tanpa kata-kata terucap. 

Bagaimana ini mungkin? 

Rahasia terletak pada pemahaman mendalam tentang sesuatu yang belum punya nama di tahun 1730: informasi itu sendiri. 

James Gleick memulai "The Information" dengan talking drums untuk alasan yang brilian: untuk menunjukkan bahwa jauh sebelum telegraph, telepon, atau internet—bahkan sebelum tulisan—manusia sudah menemukan cara untuk encode, transmit, dan decode informasi.

Dan perjalanan dari talking drums hingga smartphone di saku Anda adalah kisah paling penting dalam sejarah manusia—kisah tentang bagaimana kita menguasai informasi, dan bagaimana informasi kemudian menguasai kita.

 


Bagian 1: Dari Suara ke Simbol—Revolusi Tulisan

Masalah dengan Bahasa Lisan 

Talking drums itu brilliant. Tapi punya batasan fundamental: informasi hilang setelah suara memudar. 

Tidak ada cara untuk menyimpan pesan. Tidak ada cara untuk mengirim informasi melampaui jarak yang bisa dijangkau suara. Tidak ada cara untuk mewariskan pengetahuan dengan akurat ke generasi berikutnya. 

Setiap generasi harus belajar ulang dari awal. Cerita berubah setiap kali diceritakan. Pengetahuan hilang ketika orang yang tahu meninggal. 

Tulisan—Perubahan yang Mengubah Segalanya 

Sekitar 3200 SM di Mesopotamia, sesuatu yang luar biasa terjadi: manusia menemukan cara untuk membuat bahasa menjadi visible. 

Tulisan awal bukan untuk puisi atau cerita. Itu untuk hal yang sangat praktis: akuntansi.

"3 ekor domba" "5 karung gandum" "Hutang kepada Enlil: 2 bushel barley" 

Tapi begitu simbol bisa merepresentasikan konsep—begitu informasi bisa dipisahkan dari keberadaan fisik pembawa pesan—segalanya berubah. 

Pengetahuan bisa disimpan. Pesan bisa dikirim melintasi jarak tanpa messenger. Ide bisa bertahan melampaui kematian penciptanya. 

Socrates, ironisnya, sangat menentang tulisan. Dia khawatir bahwa tulisan akan membuat orang malas berpikir—mereka akan mengandalkan teks eksternal daripada memperkuat memori internal mereka. 

Dia benar, dalam satu hal. Tulisan mengubah cara otak kita bekerja. Tapi trade-off-nya layak: kita kehilangan beberapa kemampuan memori, tapi kita mendapat seluruh peradaban. 

Alphabet—Kompresi Informasi yang Jenius 

Sistem tulisan awal—hieroglif Mesir, aksara Cina—membutuhkan ribuan simbol berbeda. Butuh bertahun-tahun untuk belajar membaca dan menulis. 

Lalu datang inovasi yang mengubah dunia: alphabet

Bahasa Phoenicia mengembangkan sistem di mana sekitar 22 simbol—masing-masing merepresentasikan suara, bukan konsep—bisa dikombinasikan untuk membuat kata apa pun.

Ini adalah kompresi informasi yang brilian. 

Alih-alih menghafal 5,000 simbol, Anda hanya perlu 22. Alih-alih menciptakan simbol baru untuk setiap konsep baru, Anda hanya mengkombinasikan simbol yang sudah ada. 

Alphabet adalah building blocks yang bisa digunakan kembali—seperti DNA yang menggunakan hanya 4 "huruf" (A, T, G, C) untuk encode semua kehidupan.

 


Bagian 2: Telegraph—Awal Zaman Informasi

Masalah Jarak dan Kecepatan 

Selama ribuan tahun setelah penemuan tulisan, ada batasan fundamental: informasi bergerak dengan kecepatan fisik. 

Pesan hanya secepat kuda yang membawanya. Berita dari Roma ke London butuh berminggu-minggu. Informasi tentang kematian presiden di Washington bisa sampai ke California sebulan kemudian. 

Jarak dan waktu adalah musuh informasi. 

Samuel Morse dan Kode yang Mengubah Dunia 

1844. Samuel Morse mengirim pesan pertama melalui telegraph: "What hath God wrought?" 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, informasi bergerak lebih cepat dari objek fisik. 

Pesan melintasi jarak dalam hitungan detik. Tidak perlu messenger. Tidak perlu kereta. Hanya kawat dan listrik. 

Tapi ada masalah teknis: Bagaimana Anda encode huruf dan kata dalam pulsa listrik?

Solusi Morse adalah kode

Setiap huruf direpresentasikan oleh kombinasi dot (pulsa pendek) dan dash (pulsa panjang): 

● A = · — 

● B = — · · · 

● E = · 

● T = — 

Ini tampak sederhana. Tapi ini adalah langkah revolutionary: Morse memisahkan informasi dari medium. 

Huruf bukan lagi tinta di kertas. Huruf adalah pola—pola yang bisa ditransmisikan melalui kabel, gelombang radio, atau medium apa pun yang bisa carry pulsa. 

The Birth of Digital 

Morse code adalah digital

Bukan analog (seperti suara yang kontinyu), tapi diskrit: on atau off, dot atau dash, 1 atau 0.

Ini adalah awal dari dunia digital yang kita tinggali sekarang. 

Gleick menulis: "Telegraph adalah internet pertama. Orang-orang tiba-tiba bisa berkomunikasi secara instant melintasi benua. Perdagangan saham, berita perang, gosip—semuanya bergerak dengan kecepatan listrik. Dunia menjadi lebih kecil."

 


Bagian 3: Claude Shannon—Orang yang Menemukan Informasi 

Musim Panas 1948—Paper yang Mengubah Dunia 

Claude Shannon, seorang engineer berusia 32 tahun di Bell Labs, mempublikasikan paper yang tampaknya teknis dan membosankan: "A Mathematical Theory of Communication." 

Tapi paper ini adalah salah satu karya paling penting abad ke-20. 

Shannon melakukan sesuatu yang belum pernah ada yang lakukan sebelumnya: dia mendefinisikan informasi secara matematis. 

Sebelum Shannon, "informasi" adalah konsep yang kabur. Berita. Pengetahuan. Pesan. Tapi tidak ada cara untuk mengukurnya. 

Shannon berkata: Informasi adalah pengurangan ketidakpastian. 

Bit—Unit Fundamental Informasi 

Shannon menciptakan unit: bit (binary digit). 

Satu bit adalah jawaban untuk pertanyaan ya/tidak. Coin flip: heads atau tails. Switch: on atau off. 1 atau 0. 

Dengan konsep ini, tiba-tiba semua informasi bisa dikuantifikasi. 

Berapa banyak informasi dalam kalimat ini? Berapa banyak bit yang dibutuhkan untuk encode simfoni Beethoven? Berapa kapasitas informasi dari otak manusia? 

Semuanya sekarang bisa diukur dalam bit. 

Entropy—Kejutan dan Informasi 

Shannon menemukan hubungan mendalam antara informasi dan entropy—konsep dari termodinamika yang mengukur disorder atau randomness. 

Inilah yang counterintuitive: Semakin tidak terduga suatu pesan, semakin banyak informasi yang dikandungnya. 

Contoh: 

Pesan A: "Matahari terbit dari timur pagi ini." Pesan B: "Matahari terbit dari barat pagi ini."

Pesan mana yang lebih informatif?

B. Karena tidak terduga. Karena mengejutkan. 

A tidak memberikan informasi baru—kita sudah tahu matahari selalu terbit dari timur. Tidak ada pengurangan ketidakpastian. 

Ini menjelaskan mengapa kalimat seperti "the the the the the" tidak membawa informasi—kita sudah bisa predict kata berikutnya dengan sempurna. 

Redundancy—Mengapa Bahasa "Boros" 

Shannon menemukan bahwa bahasa Inggris sekitar 50% redundant. 

Artinya: setengah dari setiap kalimat sebenarnya tidak perlu untuk memahami makna.

Coba ini: 

"Y cn ndrstnd ths sntnc vn wth mssng vwls." 

Anda masih bisa membaca "You can understand this sentence even with missing vowels," kan? 

Redundancy tampak seperti pemborosan. Tapi sebenarnya esensial untuk komunikasi yang reliable. 

Dalam dunia yang penuh noise—static di telepon, typo dalam email, distortion dalam audio—redundancy memastikan pesan tetap sampai meskipun ada error. 

Ini mengapa kita bisa memahami orang berbicara di lingkungan yang berisik. Redundancy bahasa membuat kita bisa "mengisi kekosongan."

 


Bagian 4: Information Overload—Dari Kelangkaan ke Banjir 

The Paradox of Abundance 

Sepanjang sejarah manusia, informasi itu langka

Buku adalah barang mewah. Perpustakaan adalah harta karun. Pengetahuan dikontrol oleh elite. 

Tapi kemudian datang: 

● Printing press (1440s) - buku menjadi affordable 

● Telegraph (1840s) - berita menjadi instant 

● Telephone (1876) - suara melintasi jarak 

● Radio (1920s) - broadcast massal 

● Television (1950s) - gambar bergerak di rumah 

● Internet (1990s) - akses ke seluruh pengetahuan manusia 

Tiba-tiba, masalahnya bukan kelangkaan informasi—tapi overabundance.

Information Anxiety 

Tahun 1600, jika Anda ingin tahu sesuatu, masalahnya adalah: di mana menemukan informasi? 

Tahun 2024, jika Anda ingin tahu sesuatu, masalahnya adalah: bagaimana filter informasi? 

Gleick mengutip observasi dari tahun 1890-an: "Kita hidup di era information glut. Ada terlalu banyak buku, terlalu banyak paper, terlalu banyak yang harus dibaca." 

Ini tahun 1890! Sebelum internet. Sebelum TV. Sebelum radio. 

Dan keluhan ini sudah ada sejak printing press ditemukan. Erasmus di tahun 1525 mengeluh: "Ada terlalu banyak buku sekarang! Bagaimana kita tahu mana yang perlu dibaca?" 

Kita selalu merasa overwhelmed oleh informasi. Tapi sekarang, keadaannya eksponensial lebih buruk. 

The Cost of "Free" Information 

Google membuat semua informasi accessible secara gratis. 

Tapi ada cost tersembunyi: attention.

Setiap email. Setiap notification. Setiap headline clickbait. Semuanya fighting untuk resource paling berharga kita: perhatian kita. 

Herbert Simon, ekonom peraih Nobel, menulis pada 1971: 

"Informasi yang melimpah menciptakan kemiskinan attention." 

Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sedikit waktu dan mental energy yang kita punya untuk memproses masing-masing. 

Hasilnya? Kita jadi konsumen informasi yang superficial. 

Scrolling tanpa membaca. Skimming tanpa memahami. Mengumpulkan fakta tanpa sintesis.

Signal vs. Noise 

Di dunia yang penuh informasi, skill yang paling penting adalah filtering—memisahkan signal dari noise. 

Signal adalah informasi yang penting, relevan, true. Noise adalah informasi yang tidak penting, misleading, false. 

Tapi masalahnya: noise sering lebih menarik daripada signal. 

Skandal lebih menarik daripada policy analysis. Kontroversi lebih viral daripada nuanced discussion. Simplified narrative lebih easy-to-digest daripada kompleksitas faktual. 

Algoritma media sosial memperburuk ini—mereka mengoptimalkan untuk engagement, bukan truth. Mereka memberikan kita apa yang kita klik, bukan apa yang kita butuhkan.

 


Bagian 5: DNA—The Ultimate Information Storage

Life as Information 

Salah satu bagian paling profound dari buku Gleick adalah tentang DNA sebagai information storage. 

Dalam tahun 1950-an, ketika Watson dan Crick menemukan struktur DNA, mereka menyadari sesuatu yang revolutionary: 

Life is code. 

DNA adalah string dari empat "huruf": A (adenine), T (thymine), G (guanine), C (cytosine). 

Kombinasi huruf-huruf ini—seperti alphabet—encode instruksi untuk membangun dan mengoperasikan setiap organisme hidup. 

Gen adalah software. Protein adalah hardware. Cell adalah komputer biologis.

Information Density 

DNA adalah storage medium paling efisien yang kita kenal. 

Satu gram DNA bisa menyimpan sekitar 215 petabytes data—setara dengan seluruh data yang diproduksi manusia dalam satu hari di tahun 2023. 

Dan DNA sudah melakukan ini selama 3,5 miliar tahun—jauh lebih lama dari hard drive apa pun yang kita ciptakan. 

Evolution as Information Processing 

Darwin tidak tahu tentang DNA atau gen. Tapi dia memahami prinsip fundamental: evolution adalah proses transmisi informasi dari generasi ke generasi, dengan variasi dan seleksi. 

Mutasi adalah error dalam copy informasi. Natural selection adalah filter yang memilih informasi mana yang survive. Reproduction adalah transmisi informasi ke generasi berikutnya. 

Gleick menulis: "Kehidupan adalah informasi yang ingin tetap eksis. Dan evolusi adalah algoritma untuk optimalisasi informasi itu."

 


Bagian 6: Information Theory dan Kehidupan Kita

Compression—Membuang yang Tidak Penting 

Salah satu konsep penting dari information theory adalah compression—mengurangi ukuran data tanpa kehilangan informasi esensial. 

JPEG compress gambar. MP3 compress musik. ZIP compress file. 

Bagaimana? Dengan membuang redundancy. 

Tapi ada trade-off: terlalu banyak compression dan Anda kehilangan kualitas. Tidak cukup compression dan file terlalu besar. 

Ini adalah trade-off yang sama dalam hidup: 

Terlalu detail = overwhelm. Terlalu simplified = misleading. 

Seni dalam communication—dan dalam thinking—adalah compression yang tepat: menyampaikan essence tanpa membuang nuance penting. 

Error Correction—Dealing with Noise 

Dalam dunia yang tidak sempurna, informasi selalu mengalami corruption.

Bit flip dalam transmisi data. Typo dalam teks. Distortion dalam audio. 

Information theory mengajarkan kita bagaimana detect dan correct error dengan menambahkan redundancy yang terencana. 

Ini mengapa: 

● Credit card number punya checksum digit 

● Barcode punya error correction built-in 

● Data di internet dikirim dengan parity bits 

Dalam kehidupan, kita juga butuh error correction: 

● Double-check sumber sebelum percaya berita 

● Verifikasi informasi dari multiple sources 

● Acknowledge bahwa persepsi kita bisa salah 

The Limits of Information 

Gleick mengakhiri dengan reminder important: Informasi bukan pengetahuan. Pengetahuan bukan wisdom.

Informasi adalah raw data. Pengetahuan adalah informasi yang dipahami dan terorganisir. Wisdom adalah pengetahuan yang diterapkan dengan judgment dan context. 

Anda bisa punya akses ke semua informasi di dunia dan tetap bodoh—jika Anda tidak tahu bagaimana memproses, mensintesis, dan mengaplikasikannya.

 


Bagian 7: Hidup di Abad Informasi—Strategi Survival

1. Curate, Don't Consume 

Jangan hanya consume informasi secara pasif. Curate—pilih dengan sengaja apa yang Anda konsumsi. 

Seperti museum curator yang memilih karya seni dengan hati-hati, pilih sumber informasi Anda dengan bijak. 

Pertanyaan filter: 

● Apakah sumber ini kredibel? 

● Apakah ini menambah pemahaman saya atau hanya noise? 

● Apakah saya mengonsumsi ini karena valuable atau karena addictive?

2. Deep Work, Not Shallow Scrolling 

Cal Newport (yang Gleick kutip) membedakan antara deep work (fokus tanpa distraksi pada tugas kognitif yang demanding) dan shallow work (multitasking, responding, scrolling). 

Deep work menciptakan value. Shallow work hanya menciptakan ilusi produktivitas.

Untuk thrive di information age: Protect your deep work time. 

3. Build a Second Brain 

David Allen's GTD, Tiago Forte's BASB—semua tentang externalize informasi untuk free up mental capacity. 

Jangan coba ingat segalanya di kepala. Capture, organize, synthesize dalam sistem eksternal. 

Tapi—dan ini penting—jangan hanya hoard informasi. Process dan apply.

4. Practice Information Hygiene 

Seperti Anda punya hygiene fisik (mandi, sikat gigi), Anda butuh information hygiene: 

● Unsubscribe dari email yang tidak Anda baca 

● Mute orang/akun yang hanya menghasilkan noise 

● Set boundary—no phone di kamar tidur, no email setelah jam 8 malam

● Digital detox rutin—satu hari tanpa layar per minggu 

5. Value Quality Over Quantity

Lebih baik baca satu buku dengan mendalam daripada skim 20 buku tanpa retensi.

Lebih baik punya percakapan bermakna dengan 5 orang daripada scroll feed 500 orang. 

Lebih baik pahami satu konsep sampai mastery daripada surface-level understanding dari 10 konsep. 

Di dunia information abundance, quality attention adalah luxury.

 


Penutup: We Are What We Remember 

Gleick menutup "The Information" dengan refleksi yang profound: 

"Kita hidup di era di mana semua informasi accessible. Tapi akses bukan pemahaman. Dan pemahaman bukan wisdom." 

Paradoks information age: 

● Kita tahu lebih banyak fakta, tapi memahami lebih sedikit 

● Kita lebih terkoneksi, tapi lebih kesepian 

● Kita punya lebih banyak pilihan, tapi lebih overwhelmed 

Sejarah informasi adalah sejarah manusia mencoba overcome batasan biologis kita. 

Kita menciptakan tulisan karena memori kita terbatas. Kita menciptakan telegraph karena suara kita tidak bisa melintasi jarak. Kita menciptakan komputer karena otak kita tidak bisa compute dengan cukup cepat. 

Tapi di sepanjang jalan, kita menciptakan sesuatu yang lebih besar dari kita sendiri: information ecosystem yang hidup dan berkembang. 

Dan sekarang kita menghadapi pertanyaan: 

Apakah kita master dari informasi, atau budak darinya? 

Pertanyaan untuk Anda 

1. Berapa jam sehari Anda habiskan consuming informasi vs. processing informasi? 

Jika mayoritas consuming—scrolling, skimming, multitasking—Anda tidak belajar. Anda hanya overwhelmed. 

2. Bisakah Anda duduk selama 30 menit tanpa mengecek ponsel?

Jika tidak, attention span Anda telah tererosi oleh information overload. 

3. Berapa banyak dari yang Anda baca minggu lalu yang masih Anda ingat?

Jika jawabannya "tidak banyak," Anda consuming terlalu cepat. Slow down. 

4. Apakah informasi yang Anda konsumsi membuat Anda lebih wise atau hanya lebih anxious?

Jika lebih anxious, Anda consuming noise, bukan signal. 

Gleick menulis: 

"Informasi adalah kekuatan. Tapi hanya jika Anda tahu bagaimana menggunakannya. Jika tidak, informasi adalah gangguan—noise yang menghalangi pemikiran yang jernih." 

Kita hidup di era di mana attention adalah resource paling berharga. 

Dan seperti resource langka lainnya, attention Anda akan dieksploitasi—oleh social media, oleh advertisers, oleh clickbait—kecuali Anda menjaganya dengan fierce protection. 

Jadi pilih dengan bijak: Apa yang layak mendapat attention Anda? 

Karena di akhir hidup, Anda tidak diukur dari berapa banyak informasi yang Anda konsumsi. 

Anda diukur dari apa yang Anda pahami, apa yang Anda ciptakan, dan bagaimana Anda berkontribusi. 

Dan itu semua dimulai dengan satu keputusan sederhana: 

Matikan notifikasi. Tutup tab yang tidak perlu. Dan fokus pada apa yang benar-benar penting. 

Perjalanan dari talking drums Afrika hingga smartphone di tangan Anda adalah perjalanan panjang. 

Tapi perjalanan dari information consumption menjadi wisdom—itu ada di tangan Anda sekarang. 

Mulai hari ini.

 


Tentang Buku Asli 

"The Information: A History, a Theory, a Flood" diterbitkan pada tahun 2011 dan memenangkan berbagai penghargaan termasuk Royal Society Prize for Science Books. 

James Gleick adalah science writer dan author terkenal yang sebelumnya menulis bestseller "Chaos: Making a New Science" (1987) dan "Genius: The Life and Science of Richard Feynman" (1992). Dia adalah salah satu writer yang paling skilled dalam menjelaskan konsep kompleks dengan cara yang accessible dan engaging. 

Buku "The Information" adalah karya monumentalnya—hasil dari bertahun-tahun research, menggabungkan sejarah, science, philosophy, dan technology menjadi satu narrative yang comprehensive. 

Buku ini bukan hanya tentang teknologi komunikasi. Ini tentang bagaimana konsep informasi itu sendiri mengubah cara kita memahami dunia—dari physics (entropy) hingga biology (DNA) hingga consciousness (otak sebagai information processor). 

Untuk pemahaman lengkap tentang sejarah dan teori informasi, sangat disarankan membaca buku aslinya. Gleick menulis dengan gaya yang beautiful—full of anecdotes, historical detail, dan insight yang profound. 

Ringkasan ini menangkap ide-ide inti, tetapi buku lengkap menawarkan kedalaman, stories, dan connections yang akan mengubah cara Anda melihat dunia. 

Sekarang pergilah dan gunakan informasi dengan bijak. 

Karena seperti yang Gleick tunjukkan: Kita tidak hanya hidup di information age. Kita adalah informasi. 

Setiap memory, setiap thought, setiap cell dalam tubuh Anda adalah information yang terorganisir. 

Dan bagaimana Anda manage informasi itu—internal dan eksternal—akan menentukan kualitas hidup Anda. 

Pilihan ada di tangan Anda. 

Dan itu adalah informasi paling penting yang bisa Anda terima hari ini.