Hari yang Hilang
Senin pagi. Alarm berbunyi jam 6.
Anda menekan snooze. "Lima menit lagi." Lima menit jadi lima belas. Akhirnya bangun jam 6:30, terburu-buru.
Sampai kantor jam 8:30. Check email. Ada 47 email baru. Anda mulai membalas yang mudah-mudah dulu. 30 menit berlalu.
Buka media sosial "sebentar saja." 20 menit hilang scroll Instagram dan LinkedIn.
Meeting jam 10. Meeting yang seharusnya 30 menit jadi 1 jam 15 menit. Tidak ada keputusan jelas. Semua orang bicara, tidak ada yang bertindak.
Makan siang. Anda scroll ponsel sambil makan. Tidak benar-benar makan, tidak benar-benar istirahat.
Sore hari. Anda mulai mengerjakan proyek penting yang deadline-nya besok. Tapi konsentrasi buyar. Check email lagi. Chat dengan rekan kerja. Scroll media sosial lagi.
Jam 5 sore. Proyek masih belum selesai. "Oke, saya lanjutkan di rumah." Di rumah, setelah makan malam, Anda buka laptop. Tapi terlalu lelah. "Besok pagi saja deh."
Sebelum tidur, Anda merasa bersalah. "Hari ini saya ngapain aja sih? Kok rasanya sibuk banget tapi tidak ada yang selesai?"
Anda tidur dengan anxiety. Dan besok, siklus yang sama berulang.
Ini yang Darius Foroux sebut sebagai "Illusion of Productivity"—ilusi produktivitas.
Anda merasa sibuk. Anda menghabiskan banyak energi. Tapi pada akhir hari, hampir tidak ada hasil bermakna yang dicapai.
Inilah masalah yang ingin dipecahkan buku "Do It Today": Bagaimana mengubah diri dari orang yang sibuk tapi tidak produktif menjadi orang yang fokus dan mencapai hasil bermakna.
Bukan dengan bekerja lebih lama. Bukan dengan multitasking lebih banyak. Tapi dengan bekerja lebih cerdas, lebih fokus, dan dengan sistem yang jelas.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Mengapa Kita Menunda—Psikologi Prokrastinasi
Prokrastinasi Bukan Masalah Manajemen Waktu
Kebanyakan orang berpikir prokrastinasi adalah masalah time management. "Kalau saja saya punya lebih banyak waktu..."
Salah.
Darius Foroux menulis dari pengalaman pribadinya. Dia dulu adalah prokrastinator kronis. Punya banyak waktu, tapi tidak pernah menyelesaikan apa-apa. Deadline selalu mepet. Stress selalu tinggi.
Sampai suatu hari dia menyadari: Prokrastinasi adalah masalah emosi, bukan manajemen waktu.
Kita menunda bukan karena tidak punya waktu. Kita menunda karena:
1. Takut Gagal
"Bagaimana kalau saya mulai bisnis ini dan gagal?" "Bagaimana kalau saya tulis artikel ini dan tidak ada yang baca?" "Bagaimana kalau saya apply pekerjaan itu dan ditolak?"
Jadi kita tidak mulai sama sekali. Karena tidak mulai = tidak bisa gagal.
2. Perfeksionisme
"Saya mau tunggu sampai saya benar-benar siap." "Saya mau tunggu sampai saya punya semua informasi." "Saya mau tunggu sampai kondisi sempurna."
Tapi kondisi sempurna tidak pernah datang. Kesiapan 100% tidak pernah tercapai.
3. Overwhelm (Kewalahan)
Proyeknya terlalu besar. List to-do terlalu panjang. Tidak tahu harus mulai dari mana.
Jadi kita freeze. Paralyzed. Dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa.
4. Tidak Melihat Dampak Langsung
Olahraga hari ini tidak membuat Anda fit besok. Belajar hari ini tidak membuat Anda pintar besok. Menulis hari ini tidak membuat Anda penulis sukses besok.
Hasilnya tidak langsung terlihat. Jadi otak kita tidak termotivasi.
The Procrastination Loop (Lingkaran Prokrastinasi)
Foroux menjelaskan siklus berbahaya:
1. Tugas penting datang → Anda tahu harus dikerjakan
2. Anxiety muncul → Anda merasa overwhelmed atau takut
3. Mencari distraksi → Media sosial, YouTube, ngobrol, hal apapun selain tugas itu
4. Relief sementara → Merasa lebih baik karena avoid anxiety
5. Guilt muncul → "Gila, kenapa saya nunda-nunda terus?"
6. Last-minute panic → Deadline mepet, stress maksimal
7. Menyelesaikan dengan hasil mediocre → Karena terburu-buru
8. Berjanji tidak akan menunda lagi → Tapi siklusnya berulang
Familiar?
Kunci keluar dari loop ini bukan motivasi. Motivasi datang dan pergi. Kuncinya adalah sistem dan mindset.
Bagian 2: The "Do It Today" Mindset
Shift dari "Someday" ke "Today"
Foroux punya aturan sederhana yang mengubah hidupnya:
"Jika sesuatu bisa dilakukan hari ini, lakukan hari ini. Jangan tunda sampai besok."
Bukan "Suatu hari saya akan menulis buku." Tapi "Hari ini saya akan menulis 500 kata."
Bukan "Tahun depan saya akan mulai bisnis." Tapi "Hari ini saya akan research 1 jam tentang ide bisnis saya."
Bukan "Nanti kalau ada waktu saya akan belajar skill baru." Tapi "Hari ini saya akan belajar 30 menit."
Pergeseran mindset ini mengubah segalanya.
The Two-Minute Rule (Aturan Dua Menit)
Aturan sederhana dari David Allen yang Foroux adopsi:
"Jika sesuatu butuh waktu kurang dari dua menit, lakukan sekarang juga."
Balas email itu? Dua menit. Lakukan sekarang. Cuci piring itu? Dua menit. Lakukan sekarang. Taruh baju kotor ke keranjang? Dua menit. Lakukan sekarang.
Mengapa ini powerful?
Karena kebanyakan tugas kecil yang kita tunda sebenarnya cuma butuh waktu sangat singkat. Tapi karena kita tunda, tugas-tugas kecil itu menumpuk dan menciptakan mental clutter.
"Oh iya, saya harus balas email itu." "Oh iya, saya harus bayar tagihan itu." "Oh iya, saya harus..."
Semua itu memakan mental energy. Dan ketika mental energy habis untuk mengingat to-do list, tidak ada energy tersisa untuk mengerjakan hal-hal penting.
Bias Menuju Action
Foroux menulis: "Ketika ragu, act. Jangan overthink. Just do it."
Kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk planning, analyzing, perfecting. Dan terlalu sedikit waktu untuk executing.
Contoh:
● Ingin mulai YouTube channel? Jangan habiskan 3 bulan research kamera terbaik. Mulai dengan kamera ponsel Anda. Record video pertama hari ini.
● Ingin mulai blog? Jangan habiskan 2 bulan design website sempurna. Gunakan template gratis. Tulis artikel pertama hari ini.
● Ingin belajar skill baru? Jangan habiskan sebulan cari course terbaik. Mulai dengan satu video YouTube 10 menit hari ini.
Done is better than perfect.
Foroux mengutip Reid Hoffman (pendiri LinkedIn): "If you are not embarrassed by the first version of your product, you've launched too late."
Bagian 3: One Thing at a Time—Kekuatan Fokus Tunggal
Multitasking Adalah Mitos
Darius Foroux menulis dengan tegas: "Multitasking tidak exist. Yang ada adalah task-switching—dan itu membunuh produktivitas Anda."
Penelitian menunjukkan:
● Setiap kali Anda switch dari satu tugas ke tugas lain, otak Anda butuh waktu 23 menit untuk kembali fokus penuh
● Multitasking menurunkan IQ sementara sebanyak 10 poin (setara dengan kurang tidur semalaman)
● Orang yang multitasking menyelesaikan tugas 40% lebih lambat dibanding yang fokus pada satu tugas
Tapi kita semua merasa multitasking itu produktif:
● Kerja sambil check email
● Meeting sambil scroll media sosial
● Makan sambil nonton YouTube
● Ngobrol sambil main ponsel
Hasilnya? Tidak ada yang dikerjakan dengan baik. Semuanya mediocre.
The ONE Thing
Foroux mengadopsi konsep dari buku "The ONE Thing" oleh Gary Keller:
"Apa satu hal yang jika saya lakukan hari ini, akan membuat hal-hal lain menjadi lebih mudah atau tidak perlu?"
Bukan to-do list dengan 20 item. Tapi satu prioritas utama.
Setiap pagi, sebelum check email, sebelum check media sosial, tanyakan: "Apa satu hal terpenting yang harus saya selesaikan hari ini?"
Lalu kerjakan hal itu pertama. Ketika energi dan fokus Anda masih fresh.
Jangan tunggu sampai sore. Jangan tunggu "nanti kalau ada waktu." Karena waktu itu tidak akan pernah datang.
Deep Work Block
Cal Newport (yang bukunya juga direferensikan Foroux) membedakan dua jenis pekerjaan:
Shallow Work: Email, meeting, chat, administrasi—penting tapi tidak menghasilkan nilai tinggi.
Deep Work: Pekerjaan yang butuh konsentrasi tinggi dan menghasilkan nilai tinggi—menulis, coding, design, strategi, problem-solving kompleks.
Masalahnya: Kita menghabiskan 80% waktu untuk shallow work dan hanya 20% untuk deep work.
Solusi Foroux:
Blokir 2-3 jam setiap hari untuk deep work. Non-negotiable.
● Matikan notifikasi
● Tutup email dan media sosial
● Pakai headphone (dengan atau tanpa musik)
● Kasih tahu orang: "Jangan ganggu saya dari jam X sampai Y kecuali emergency"
● Fokus pada satu tugas high-value
Dalam 2-3 jam deep work, Anda bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan bermakna dibanding seharian multitasking.
Bagian 4: Sistem Lebih Penting dari Goals
Masalah dengan Goals
Foroux menulis: "Goals itu overrated. Sistem itu underrated."
Semua orang punya goals:
● "Saya mau turunkan berat badan 10 kg"
● "Saya mau hasilkan income tambahan 10 juta/bulan"
● "Saya mau menulis buku"
Tapi goals tanpa sistem adalah mimpi.
Dan yang lebih bahaya: Goals menciptakan mindset "all-or-nothing."
Anda set goal turunkan berat 10 kg dalam 3 bulan. Bulan pertama turun 2 kg. Bulan kedua naik 1 kg. Anda frustasi. Anda menyerah.
Atau Anda mencapai goal itu. Lalu apa? Anda kembali ke kebiasaan lama. Berat badan naik lagi.
Goals adalah destinasi. Sistem adalah kendaraan.
Build Systems, Not Goals
Alih-alih fokus pada goal "turunkan berat 10 kg," fokus pada sistem:
● Olahraga 30 menit setiap Senin, Rabu, Jumat
● Makan sayur di setiap makan
● Jalan kaki 10,000 langkah setiap hari
Alih-alih fokus pada goal "tulis buku," fokus pada sistem:
● Tulis 500 kata setiap pagi sebelum sarapan
● Read 30 menit setiap malam
● Review dan edit Minggu pagi
Dengan sistem, Anda tidak tergantung pada motivasi. Anda hanya perlu konsisten.
The Compound Effect (Efek Majemuk)
Foroux menekankan: "Small actions, repeated consistently, create massive results."
Menulis 500 kata sehari = 182,500 kata setahun = 2-3 buku Belajar 30 menit sehari = 180 jam setahun = master satu skill Tabung Rp50,000/hari = Rp18 juta setahun
Masalahnya: Kebanyakan orang menyerah karena tidak melihat hasil langsung.
Hari 1: Tulis 500 kata. Belum jadi penulis. Hari 2: Tulis 500 kata. Masih belum. Hari 30: Tulis 500 kata. Masih belum terlihat hasil.
Tapi di hari 365, Anda punya buku lengkap.
Hasil tidak linier. Hasil exponential. Tapi hanya jika Anda konsisten.
Bagian 5: Eliminate, Automate, Delegate
The 80/20 Rule (Pareto Principle)
Foroux menulis: "80% hasil datang dari 20% usaha Anda."
Artinya:
● 80% income Anda datang dari 20% klien atau produk
● 80% kebahagiaan datang dari 20% aktivitas
● 80% masalah datang dari 20% sumber
Pertanyaannya: Apakah Anda fokus pada 20% yang menghasilkan 80% hasil?
Atau Anda menghabiskan waktu pada 80% aktivitas yang hanya menghasilkan 20% hasil?
Eliminate (Hilangkan)
Langkah pertama produktivitas sejati: Stop doing things that don't matter.
Audit waktu Anda selama seminggu. Tulis semua aktivitas Anda. Lalu tanyakan untuk setiap aktivitas:
"Apakah ini benar-benar penting? Apakah ini membawa saya lebih dekat ke tujuan? Atau ini hanya busy work?"
Eliminate:
● Meeting yang tidak perlu (kebanyakan meeting bisa jadi email)
● Notifikasi yang menginterupsi (95% notifikasi tidak urgent)
● Social media scrolling tanpa tujuan
● "Yes" kepada hal-hal yang seharusnya "No"
Saying no to good things means saying yes to great things.
Automate (Otomatisasi)
Untuk tugas-tugas yang harus dikerjakan tapi tidak butuh keputusan kreatif—otomatisasi.
Contoh:
● Set auto-transfer dari rekening gaji ke rekening tabungan/investasi
● Gunakan template untuk email berulang
● Schedule social media posts
● Gunakan tools untuk backup otomatis
● Set reminder untuk tagihan
Setiap tugas yang diotomatisasi = mental energy yang dihemat.
Delegate (Delegasikan)
Untuk tugas yang penting tapi orang lain bisa lakukan—delegasikan.
Banyak orang berpikir: "Lebih cepat saya kerjakan sendiri."
Mungkin benar untuk sekali ini. Tapi jika tugas itu berulang, Anda menghabiskan waktu berharga Anda untuk hal yang orang lain bisa lakukan.
Hitung value of your time. Jika Anda bisa hasilkan Rp200,000/jam dengan skill Anda, apakah masuk akal Anda habiskan 2 jam untuk bersih-bersih rumah? Atau lebih baik bayar orang Rp100,000 untuk melakukannya dan Anda fokus pada pekerjaan Rp200,000/jam?
Delegasi bukan tentang malas. Delegasi tentang fokus pada highest-value activities.
Bagian 6: Energy Management Beats Time Management
You Can't Manage Time, But You Can Manage Energy
Kita semua punya 24 jam sehari. Itu fixed. Tidak bisa ditambah.
Tapi energi? Itu bisa dikelola.
Foroux menulis: "Orang produktif bukan yang bekerja lebih lama. Tapi yang bekerja dengan energi tinggi pada waktu yang tepat."
Anda bisa bekerja 12 jam dengan energi rendah—hasil mediocre, burnout.
Atau bekerja 4 jam dengan energi tinggi—hasil luar biasa, masih punya energi untuk kehidupan lain.
The Four Types of Energy
1. Physical Energy (Energi Fisik)
Basis dari semua energi lain.
● Tidur: 7-8 jam non-negotiable. Kurang tidur = produktivitas turun drastis
● Olahraga: 30 menit/hari. Bukan untuk estetika. Untuk energi dan mental clarity
● Nutrisi: Makanan adalah bahan bakar. Junk food = junk energy
2. Emotional Energy (Energi Emosional)
● Habiskan waktu dengan orang yang memberi energi, bukan yang menguras
● Hindari toxic relationships
● Gratitude practice: Setiap hari, tulis 3 hal yang Anda syukuri
3. Mental Energy (Energi Mental)
● Batasi decision fatigue: Kurangi keputusan kecil yang tidak penting (Steve Jobs memakai baju sama setiap hari)
● Single-tasking, bukan multitasking
● Breaks teratur: Pomodoro technique (25 menit fokus, 5 menit istirahat)
4. Spiritual Energy (Energi Spiritual)
● Punya purpose yang lebih besar dari diri sendiri
● Meditasi atau refleksi
● Align pekerjaan dengan nilai-nilai Anda
Peak Performance Times
Setiap orang punya "prime time"—waktu di mana energi dan fokus mereka paling tinggi.
Untuk banyak orang, itu pagi hari (2-3 jam setelah bangun). Untuk sebagian orang, itu sore atau malam.
Kenali prime time Anda. Lalu lindungi waktu itu untuk deep work.
Jangan buang prime time untuk email atau meeting. Gunakan untuk tugas yang paling penting dan paling sulit.
Bagian 7: Tools dan Tactics Praktis
Morning Routine
Foroux menekankan: "Cara Anda mulai hari menentukan bagaimana hari itu berjalan."
Morning routine-nya:
● 5:30 AM: Bangun (tanpa snooze)
● 5:45 AM: Air putih + kopi
● 6:00 AM: Journaling (5-10 menit—apa yang saya syukuri, apa prioritas hari ini)
● 6:15 AM: Deep work (2-3 jam untuk tugas paling penting)
● 9:00 AM: Baru check email dan komunikasi
By the time most people start working, dia sudah selesai 80% pekerjaan penting hari itu.
The NOT-To-Do List
Sama pentingnya dengan to-do list adalah not-to-do list:
❌ Tidak check social media sebelum jam 12 siang
❌ Tidak attend meeting tanpa agenda jelas
❌ Tidak check email lebih dari 3x sehari
❌ Tidak say yes ke commitment baru sebelum pikir 24 jam
❌ Tidak multitask saat deep work
Weekly Review
Setiap Minggu, luangkan 30 menit untuk review:
Look back:
● Apa yang saya capai minggu ini?
● Apa yang bekerja dengan baik?
● Apa yang tidak bekerja?
● Apa yang saya pelajari?
Look forward:
● Apa prioritas utama minggu depan?
● Apa potential obstacles?
● Bagaimana saya bisa avoid kesalahan yang sama?
Tanpa review, Anda hanya busy. Dengan review, Anda improving.
Penutup: From Busy to Productive
Darius Foroux menutup buku dengan insight powerful:
"Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action."
Orang sibuk adalah orang yang tidak pernah berhenti untuk berpikir: "Apakah saya mengerjakan hal yang benar?"
Mereka hanya terus mengerjakan apapun yang datang. Email masuk—balas. Meeting diundang—datang. Request datang—iya.
Tapi produktivitas sejati bukan tentang melakukan banyak hal. It's about doing the right things.
The Productivity Pyramid
Foroux memberikan hierarki:
HASIL
↑
SISTEM
↑
KEBIASAAN
↑
MINDSET
Level 1: Mindset
● "Do it today" mindset
● Bias toward action
● Anti-perfectionism
Level 2: Kebiasaan
● Deep work block
● Morning routine
● Weekly review
Level 3: Sistem
● Eliminate, automate, delegate
● Energy management
● NOT-to-do list
Level 4: Hasil
● Pekerjaan bermakna selesai
● Goals tercapai
● Kehidupan seimbang
Kebanyakan orang mulai dari atas (fokus pada hasil). Tapi foundation yang kuat dimulai dari bawah (mindset).
Pertanyaan Terakhir
Foroux mengajak kita bertanya di akhir setiap hari:
"Apakah saya hari ini lebih dekat ke tujuan saya dibanding kemarin?"
Jika ya—great, lanjutkan. Jika tidak—apa yang perlu diubah besok?
Produktivitas bukan sprint. It's a marathon. Tapi marathon yang terdiri dari hari demi hari yang konsisten.
Action Steps: Mulai Hari Ini
Jangan tunggu "Senin depan" atau "awal bulan" atau "tahun baru."
Mulai hari ini. Literally.
Hari Ini (5 menit):
1. Tulis satu hal terpenting yang harus Anda selesaikan hari ini
2. Block 2 jam untuk mengerjakan hal itu—no distraction
3. Matikan notifikasi ponsel
Minggu Ini (30 menit):
1. Buat NOT-to-do list—3 hal yang akan Anda stop
2. Audit waktu Anda—tulis semua aktivitas, identify time wasters
3. Set morning routine sederhana
Bulan Ini (2 jam):
1. Identify ONE Thing—satu prioritas utama untuk bulan ini
2. Buat sistem untuk konsistensi (bukan hanya goal)
3. Schedule weekly review setiap Minggu
Ingat Ini
Seperti yang Darius Foroux tulis:
"Procrastination is the enemy of progress. Action is the antidote."
Anda tidak perlu sempurna. Anda hanya perlu start.
Anda tidak perlu tahu semua jawaban. Anda hanya perlu take the first step.
Anda tidak perlu motivasi tinggi setiap hari. Anda hanya perlu sistem yang membuat Anda bergerak bahkan ketika Anda tidak feel like it.
Because here's the truth: You will never feel like it. There will never be a perfect time. The only time is now.
Do it today.
Tentang Buku Asli
"Do It Today: Overcome Procrastination, Improve Productivity, and Achieve More Meaningful Things" diterbitkan pada tahun 2018.
Darius Foroux adalah blogger, podcaster, dan penulis yang fokus pada produktivitas, mindfulness, dan personal development. Blognya dibaca oleh jutaan orang setiap tahun.
Buku ini adalah kompilasi dari artikelnya yang paling popular, ditambah dengan insights baru dan framework yang lebih terstruktur. Gaya penulisannya praktis, straightforward, tanpa fluff—yang membedakannya dari banyak buku produktivitas lain yang penuh teori tapi minim action.
Untuk panduan lengkap dengan lebih banyak contoh, studi kasus, dan strategi detail, sangat disarankan membaca buku aslinya. Foroux memberikan puluhan tactics praktis yang bisa langsung diterapkan.
Ringkasan ini menangkap prinsip-prinsip inti, tetapi buku asli menawarkan kedalaman, variasi strategi untuk berbagai situasi, dan motivasi yang akan membuat Anda ingin langsung action.
Sekarang tutup device ini. Dan lakukan satu hal penting yang sudah Anda tunda.
Karena besok tidak pernah datang.
Yang ada hanya hari ini.
Do it today.

