Survival Is Not Enough

Seth Godin


Kecoak, Panda, dan Perusahaan Anda

Mari kita mulai dengan pertanyaan aneh: Siapa yang lebih sukses—kecoak atau panda? 

Secara insting, kebanyakan orang akan bilang panda. Mereka lucu, karismatik, simbol konservasi dunia. Kita semua suka panda. 

Tapi dari perspektif evolusi? Kecoak menang telak. 

Kecoak sudah ada selama 300 juta tahun. Mereka selamat dari kepunahan massal yang membunuh dinosaurus. Mereka hidup di setiap benua kecuali Antartika. Ada lebih dari 4,000 spesies kecoak yang berkembang. 

Panda? Hampir punah. Hanya 1,800 ekor di alam liar. Mereka hanya makan satu jenis makanan (bambu). Mereka hanya hidup di satu wilayah kecil di China. Mereka sangat buruk dalam bereproduksi sehingga manusia harus membantu mereka kawin. 

Mengapa kecoak menang? Karena mereka ahli dalam beradaptasi

Mereka tidak lebih besar. Tidak lebih kuat. Tidak lebih cerdas. Tapi mereka lebih cepat berubah ketika lingkungan berubah. 

Sekarang pertanyaan untuk Anda: Apakah perusahaan Anda lebih seperti kecoak atau panda? 

Seth Godin, dalam buku brilian yang ditulis tahun 2002 ini, punya pesan yang menggelisahkan tapi penting: 

"Kebanyakan perusahaan adalah panda. Mereka fokus pada survival—bertahan hidup. Mereka takut perubahan. Mereka bergerak lambat. Mereka bergantung pada satu model bisnis, satu produk, satu cara berbisnis. Dan ketika lingkungan berubah—dan lingkungan selalu berubah—mereka bingung, panik, dan akhirnya mati."

Tapi beberapa perusahaan adalah kecoak. Mereka tidak hanya survive—mereka thrive (berkembang pesat). Mereka merangkul perubahan. Mereka berevolusi lebih cepat dari kompetitor. Dan mereka yang menang. 

Buku ini bukan tentang biologi. Ini tentang bagaimana perusahaan Anda bisa berhenti jadi panda yang ketakutan dan mulai jadi kecoak yang tidak terkalahkan. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Survival Is NOT Enough—Mengapa Bertahan Tidak Cukup 

The Corporate Death Rate 

Godin membuka dengan statistik yang mengerikan: 

Pada tahun 1955, perusahaan rata-rata di Fortune 500 bertahan selama 75 tahun.

Pada tahun 2020, angka itu turun menjadi kurang dari 15 tahun. 

Apa yang terjadi? Perubahan mempercepat. 

Dulu, Anda bisa membangun perusahaan dengan satu produk bagus dan menjualnya selama puluhan tahun dengan sedikit perubahan. Customers loyal. Kompetisi lambat. Disruption jarang. 

Sekarang? Everything changes constantly

● Teknologi berubah setiap 18 bulan 

● Customer expectations berubah setiap 6 bulan 

● Kompetitor baru muncul dari mana saja 

● Model bisnis yang bekerja hari ini obsolete besok 

Dan inilah masalahnya: Kebanyakan perusahaan masih beroperasi dengan mentalitas era 1955. 

Mereka fokus pada: 

● Efisiensi (melakukan hal yang sama dengan biaya lebih rendah) 

● Stabilitas (menjaga hal tetap sama) 

● Prediktabilitas (merencanakan 5 tahun ke depan) 

Tapi di dunia yang berubah cepat, strategi ini adalah resep untuk kematian.

The New Game: Thrive, Don't Just Survive 

Godin menulis: "Tujuan Anda bukan lagi bertahan. Tujuan Anda adalah berkembang melalui perubahan yang konstan." 

Apa bedanya? 

Survival thinking: "Bagaimana kita bisa mempertahankan market share?" Thriving thinking: "Bagaimana kita bisa menciptakan market baru?"

Survival thinking: "Bagaimana kita bisa mengurangi biaya?" Thriving thinking: "Bagaimana kita bisa menciptakan value lebih?" 

Survival thinking: "Bagaimana kita melindungi diri dari kompetitor?" Thriving thinking: "Bagaimana kita bisa bergerak lebih cepat dari kompetitor bisa mengikuti?" 

Perbedaan mentalitas ini menentukan siapa yang mati dan siapa yang dominan.

 


Bagian 2: Zooming—Kunci untuk Thrive 

Apa Itu Zooming? 

Godin memperkenalkan konsep yang dia sebut "zooming"—kemampuan perusahaan untuk bergerak cepat dan beradaptasi. 

Analogi sederhana: Bayangkan Anda mengemudi di jalan raya. 

Perusahaan yang "survive": Mengemudi dengan kecepatan konstan, mengikuti aturan dengan ketat, tidak pernah mengubah jalur. Aman, tapi lambat. 

Perusahaan yang "zoom": Mengemudi dengan cepat, mengubah jalur ketika ada kesempatan, mempercepat ketika jalan kosong, memperlambat ketika ada hambatan. Dinamis dan responsif. 

Zooming bukan tentang menjadi reckless (sembrono). Zooming adalah tentang responsiveness (kemampuan merespons). 

The Three Zoomers 

Godin mengidentifikasi tiga jenis "zoomer"—perusahaan yang ahli beradaptasi:

1. The Experimenter (Sang Eksperimen) 

Perusahaan ini terus mencoba hal baru. Mereka tidak takut gagal karena mereka tahu setiap kegagalan adalah data. 

Contoh: Google di era awal. Mereka meluncurkan ratusan produk. Kebanyakan gagal (ada yang ingat Google Wave? Google+? Google Glass?). Tapi beberapa yang berhasil (Gmail, Google Maps, Android) menjadi gold mines. 

2. The Fast Follower (Pengikut Cepat) 

Perusahaan ini tidak harus first mover. Tapi mereka sangat cepat mengadopsi apa yang bekerja dan membuatnya lebih baik. 

Contoh: Facebook tidak menciptakan social media (Friendster dan MySpace lebih dulu). Tapi mereka mengadopsi ide itu dan meng-execute-nya dengan sempurna. 

3. The Platform Builder (Pembangun Platform) 

Perusahaan ini menciptakan ekosistem di mana orang lain bisa berinovasi.

Contoh: Apple dengan App Store. Mereka tidak membuat semua aplikasi sendiri. Mereka membuat platform di mana jutaan developer bisa membuat aplikasi—dan Apple mendapat 30% dari setiap transaksi. 

Yang penting: Semua tiga jenis ini zoom. Mereka bergerak cepat dan beradaptasi.

Why Most Companies Don't Zoom 

Jika zooming begitu penting, mengapa kebanyakan perusahaan tidak melakukannya?

Godin mengidentifikasi tiga hambatan: 

1. Fear of Failure (Takut Gagal) 

Perusahaan tradisional menghukum kegagalan. Jika proyek gagal, kepala orang akan jatuh. Jadi semua orang bermain aman. 

Tapi di dunia yang berubah cepat, tidak mencoba = kegagalan yang pasti.

2. Obsession with Efficiency (Obsesi dengan Efisiensi) 

Efisiensi bagus—untuk proses yang stabil. Tapi zooming membutuhkan redundancy, eksperimen, dan "waste." 

Godin menulis: "Perusahaan yang terlalu efisien tidak punya ruang untuk berinovasi. Mereka terlalu sibuk mengoptimalkan kemarin untuk menciptakan besok." 

3. Committee Paralysis (Kelumpuhan Komite) 

Semakin banyak orang yang harus approve keputusan, semakin lambat perusahaan bergerak. 

Perusahaan yang zoom memberikan autonomy kepada tim kecil untuk bereksperimen tanpa approval dari 15 level manajemen.

 


Bagian 3: mDNA—Marketing DNA Perusahaan Anda

Marketing Bukan Departemen 

Godin membuat klaim kontroversial: "Marketing bukan departemen. Marketing adalah DNA perusahaan." 

Kebanyakan perusahaan berpikir marketing adalah: 

● Iklan 

● Branding 

● Departemen yang membuat brochure dan website 

Salah total. 

Godin mendefinisikan marketing sebagai: "Bagaimana perusahaan Anda berinteraksi dengan dunia." 

Ini termasuk: 

● Produk yang Anda buat 

● Cara customer service menjawab telepon 

● Harga yang Anda tetapkan 

● Packaging 

● Proses pembelian 

● After-sales experience 

● Cara karyawan berbicara tentang perusahaan 

Semua ini adalah marketing. Dan semua ini adalah DNA Anda. 

The mDNA Test 

Godin memberikan tes sederhana untuk mengevaluasi "mDNA" perusahaan Anda: 

1. Apakah customer Anda excited untuk menceritakan produk Anda kepada teman mereka? 

Jika tidak, Anda punya masalah mDNA. 

2. Apakah karyawan Anda bangga bekerja di perusahaan Anda? 

Jika mereka hanya "melakukan pekerjaan," mDNA Anda lemah. 

3. Apakah produk Anda remarkable (layak dibicarakan)? 

Jika produk Anda "biasa saja," Anda tidak akan zoom.

4. Apakah perusahaan Anda berevolusi lebih cepat dari kompetitor?

Jika kompetitor bisa copy Anda dengan mudah, mDNA Anda tidak cukup kuat.

Mengubah mDNA 

Berita buruk: Mengubah DNA perusahaan sulit. Seperti mengubah DNA biologis—tidak bisa dilakukan dengan setengah hati. 

Berita baik: Ini bisa dilakukan. Dan perusahaan yang berhasil mengubah mDNA mereka mendominasi industri. 

Contoh klasik: Apple 

Tahun 1997: Apple hampir bangkrut. mDNA mereka adalah "perusahaan komputer yang membuat produk untuk graphic designers." 

2001-2007: Steve Jobs mengubah mDNA mereka menjadi "perusahaan yang membuat produk indah yang mengubah industri." iPod mengubah musik. iPhone mengubah telepon. iPad mengubah komputer. 

Bagaimana mereka melakukannya? Dengan mengubah SEMUA aspek perusahaan secara simultan

● Product design 

● Retail stores 

● Marketing campaigns 

● Customer experience 

● Employee culture 

Tidak ada jalan pintas. mDNA harus diubah dari dalam.

 


Bagian 4: Evolution vs. Intelligent Design 

Darwin Mengalahkan Komite Perencanaan 

Godin membuat argumen yang memprovokasi: "Evolusi biologis lebih pintar dari strategic planning Anda." 

Mengapa? 

Karena evolusi tidak mencoba merencanakan masa depan. Evolusi mencoba ribuan variasi dan melihat mana yang survive

Kebanyakan perusahaan melakukan kebalikannya: 

1. Habiskan 6 bulan membuat strategic plan 

2. Investasi besar dalam satu arah 

3. Berharap plan itu benar 

4. Kalau salah—panic dan blame someone 

Perusahaan yang zoom melakukan ini: 

1. Luncurkan 10 eksperimen kecil secara simultan 

2. Lihat mana yang bekerja 

3. Double down pada yang bekerja 

4. Kill yang tidak bekerja dengan cepat 

5. Repeat 

Ini adalah evolusi dalam bisnis. 

The Failure Portfolio 

Godin memperkenalkan konsep "failure portfolio"—portfolio kegagalan yang Anda sengaja buat.

Ide: Jika Anda tidak punya cukup kegagalan, Anda tidak coba cukup keras.

Aturan praktis: Untuk setiap 10 eksperimen, Anda harus punya: 

● 7 kegagalan (tidak bekerja, kill dengan cepat) 

● 2 hasil biasa (OK, tapi tidak game-changing) 

● 1 home run (sukses besar yang membayar untuk semua kegagalan) 

Jika semua 10 eksperimen Anda berhasil, Anda bermain terlalu aman. Anda tidak mengambil risiko cukup besar. 

Speed Over Perfection

Dalam evolusi, kecepatan iterasi lebih penting dari kesempurnaan. 

Perusahaan tradisional: "Mari kita sempurnakan produk ini selama 2 tahun sebelum launch." Result: Ketika akhirnya launch, dunia sudah berubah. Produk sudah obsolete. 

Perusahaan yang zoom: "Mari kita launch MVP (Minimum Viable Product) dalam 2 bulan. Lalu iterate berdasarkan feedback." Result: Mereka belajar 12 kali lebih cepat. Dan produk final jauh lebih baik karena dibangun dengan input real dari customer. 

Godin menulis: "Kecepatan pembelajaran mengalahkan kedalaman perencanaan. Setiap waktu."

 


Bagian 5: The Cow, The Chicken, and The Pig

Metafora Komitmen 

Godin menceritakan sebuah fabel untuk menjelaskan level komitmen terhadap perubahan:

Sapi, ayam, dan babi mendiskusikan membuka restoran breakfast. 

Ayam: "Saya bisa kontribusi telur!" Sapi: "Saya bisa kontribusi susu!" Babi: "Tunggu... kalau breakfast, saya harus kontribusi bacon. Itu artinya saya harus mati." 

Moral: Ayam dan sapi "involved" (terlibat). Babi "committed" (berkomitmen penuh). 

Dalam bisnis, pertanyaan yang sama muncul: Apakah Anda involved atau committed terhadap perubahan? 

Three Types of Companies 

The Chicken Company (Perusahaan Ayam) 

Mereka bilang mereka mau berubah. Mereka attend seminar tentang innovation. Mereka hire consultant. Mereka buat task force. 

Tapi ketika perubahan real mulai—yang artinya mengubah bagaimana mereka bekerja, mengubah struktur organisasi, mengubah produk inti—mereka mundur. 

"Mungkin tahun depan." 

The Cow Company (Perusahaan Sapi) 

Mereka melakukan perubahan... tapi perubahan permukaan. Redesign logo. Ganti nama. Buat website baru. Launch produk "baru" yang sebenarnya hanya variasi produk lama. 

Mereka berubah cukup untuk terlihat berbeda, tapi tidak cukup untuk benar-benar berbeda.

The Pig Company (Perusahaan Babi) 

Mereka committed. Mereka tahu bahwa perubahan real berarti membunuh versi lama dari diri mereka sendiri. 

Contoh: Netflix. 

Tahun 2007: Netflix adalah perusahaan DVD-by-mail yang sukses. Mereka mendominasi market. 

Tapi mereka melihat streaming video adalah masa depan. Apa yang mereka lakukan?

Mereka bunuh bisnis DVD mereka sendiri. Mereka invest besar dalam streaming meskipun itu cannibalize bisnis core mereka. 

Hasilnya? Hari ini Netflix adalah raksasa streaming dengan 230+ juta subscribers. Blockbuster (yang tidak mau "commit" pada perubahan) sudah mati. 

Itu komitmen level babi. 

Are You Willing to Die? 

Godin bertanya: "Apakah Anda bersedia 'membunuh' versi lama perusahaan Anda untuk menciptakan versi baru yang lebih baik?" 

Jika jawaban Anda ragu-ragu, Anda masih ayam atau sapi. 

Dan di dunia yang berubah cepat, ayam dan sapi akan dimakan oleh babi.

 


Bagian 6: The Virus of Change 

Change as a Virus 

Godin menggunakan metafora powerful: perubahan menyebar seperti virus

Virus tidak bisa dipaksakan dari atas. Virus menyebar dari orang ke orang, dari tim ke tim, dari customer ke customer. 

Perusahaan yang sukses berubah tidak melakukannya dengan memo dari CEO. Mereka melakukannya dengan menginfeksi organisasi dengan ide-ide baru. 

How to Start the Infection 

1. Find the Sneezers 

Dalam setiap organisasi, ada orang-orang yang enthusiastic tentang ide baru. Godin menyebut mereka "sneezers"—orang yang "menyebarkan" ide. 

Temukan mereka. Berdayakan mereka. Berikan mereka tools dan permission untuk menyebarkan perubahan. 

2. Make It Easy to Spread 

Ide yang mudah dijelaskan menyebar lebih cepat dari ide kompleks. 

Jika perubahan yang Anda inginkan memerlukan 50-slide PowerPoint untuk menjelaskan, itu tidak akan menyebar. 

Jika bisa dijelaskan dalam satu kalimat yang powerful—it will spread like wildfire.

3. Reward the Infected 

Orang yang adopt perubahan harus di-reward—dengan recognition, dengan resources, dengan advancement. 

Jika Anda bilang "kita mau inovasi" tapi promote orang yang bermain aman, Anda mengirim pesan yang berlawanan. 

Resistance is Inevitable 

Tidak semua orang akan terinfeksi. Dan itu OK. 

Godin menulis: "Jangan habiskan waktu mencoba meyakinkan yang resistenest 20%. Focus pada yang receptive 20%. Ketika mereka sukses, yang 60% di tengah akan ikut."

Yang resistenest 20%? Either mereka akhirnya ikut, atau mereka pergi. Dan perusahaan Anda akan lebih baik tanpa mereka.

 


Bagian 7: The Meatball Sundae Problem 

When Tactics Don't Match Strategy 

Godin memperkenalkan metafora yang dia akan expand menjadi buku tersendiri: The Meatball Sundae

Bayangkan Anda ambil meatball (bakso) dan taruh di atas ice cream sundae.

Secara individual, keduanya enak. Tapi kombinasinya? Menjijikkan. 

Banyak perusahaan melakukan ini: 

Mereka punya strategi lama (meatball) dan mencoba menambah taktik baru (sundae) di atasnya. 

Contoh: 

● Perusahaan dengan budaya top-down, command-and-control mencoba "jadi Agile"

● Perusahaan yang terbiasa dengan model penjualan traditional mencoba "go viral"

● Perusahaan dengan customer service buruk mencoba "build community" 

Tidak akan bekerja. 

Karena taktik baru membutuhkan strategi baru. Budaya baru. Struktur baru. DNA baru.

The Only Two Options 

Ketika Anda menghadapi perubahan besar (new technology, new customer expectations, new competitive landscape), Anda punya dua pilihan: 

Option 1: Evolve Completely 

Ubah strategi, struktur, budaya, produk—semua aspek perusahaan—untuk match dengan realitas baru. 

Ini sulit. Ini menyakitkan. Tapi ini satu-satunya cara untuk thrive. 

Option 2: Stay in Your Lane 

Terima bahwa Anda tidak akan adopt perubahan baru. Focus pada niche yang masih menghargai cara lama. 

Ini valid—tapi Anda harus accept bahwa market Anda akan menyusut. 

Yang tidak bisa Anda lakukan: Setengah-setengah. Meatball sundae. Ini akan gagal.

 


Bagian 8: The Zooming Organization 

How to Build a Company That Zooms 

Godin menutup dengan blueprint praktis untuk membangun organisasi yang bisa zoom:

1. Hire Zoomers 

Cari orang yang: 

● Tidak takut perubahan 

● Excited dengan eksperimen 

● Comfortable dengan ambiguitas 

● Learn cepat dari kegagalan 

Jangan hire orang yang: 

● Membutuhkan detailed instructions 

● Takut membuat kesalahan 

● Hanya mau melakukan "what they're told" 

2. Create Autonomy 

Tim kecil dengan autonomy zoom lebih cepat dari organisasi besar dengan bureaucracy.

Berikan tim: 

● Budget untuk experiment 

● Permission untuk fail 

● Authority untuk make decisions tanpa approval 10 layer manajemen

3. Measure What Matters 

Stop measure: 

● Jam kerja 

● Jumlah meeting 

● Thickness of reports 

Mulai measure: 

● Jumlah experiments launched 

● Speed of iteration 

● Learning dari failures 

● Customer delight

4. Kill Sacred Cows 

Setiap perusahaan punya "sacred cows"—hal yang "selalu kita lakukan begini." 

Identifikasi mereka. Tanyakan: "Mengapa?" Kalau jawabnya "karena selalu begitu," itu bukan alasan. 

Kill them. 

5. Embrace "Good Enough" 

Perfect adalah musuh dari shipped. 

Launch produk yang "good enough." Iterate berdasarkan feedback real. Improve dengan cepat.

Jangan tunggu perfect—karena pada saat produk Anda perfect, dunia sudah berubah lagi.

 


Penutup: Survival vs. Thriving—Pilihan Ada di Tangan Anda 

Seth Godin menutup dengan reminder yang sobering: 

"Dalam dunia yang berubah dengan cepat, Anda tidak bisa stay still. Standing still adalah bergerak mundur. Survival adalah strategi kalah. Satu-satunya strategi menang adalah evolving faster than the change around you." 

Lima Pertanyaan untuk Diri Sendiri 

Sebelum Anda menutup buku ini (atau ringkasan ini), tanyakan pada diri sendiri:

1. Apakah saya ayam, sapi, atau babi? 

Apakah saya hanya bicara tentang perubahan (ayam)? Melakukan perubahan cosmetic (sapi)? Atau benar-benar committed mengubah DNA (babi)? 

2. Berapa banyak eksperimen yang saya jalankan bulan lalu? 

Jika jawabannya nol atau satu, Anda tidak zoom cukup cepat. 

3. Apakah failure dihukum atau dirayakan di organisasi saya? 

Jika dihukum, Anda tidak akan pernah innovate. 

4. Apakah produk/service saya remarkable? 

Jika customer tidak excited menceritakannya, Anda punya problem mDNA.

5. Apakah saya bergerak lebih cepat dari kompetitor saya? 

Jika tidak, Anda akan ditinggalkan. 

The Ultimate Question 

Godin meninggalkan Anda dengan satu pertanyaan final: 

"Apakah Anda ingin jadi panda yang cantik tapi hampir punah, atau kecoak yang tidak glamor tapi tidak terkalahkan?" 

Jawaban Anda akan menentukan masa depan perusahaan Anda. 

Langkah Konkret Mulai Besok 

Jangan tunggu. Mulai zoom hari ini:

Minggu 1: Luncurkan satu eksperimen kecil. Apapun. Produk baru, marketing campaign baru, proses baru. Something. 

Minggu 2: Identify satu "sacred cow" di organisasi Anda dan challenge it. Tanya "mengapa kita melakukan ini?" 

Minggu 3: Give satu tim kecil autonomy penuh untuk solve satu problem—tanpa bureaucracy. 

Minggu 4: Review semua experiments. Kill yang tidak bekerja. Double down pada yang bekerja. 

Repeat selamanya. 

Karena zooming bukan project. Zooming adalah way of life.

 


Tentang Buku Asli 

"Survival Is Not Enough: Why Smart Companies Abandon Worry and Embrace Change" diterbitkan tahun 2002 oleh Seth Godin, ditulis ketika gelombang dot-com baru saja crash dan ribuan perusahaan tech bangkrut. 

Meskipun ditulis lebih dari 20 tahun lalu, buku ini mungkin lebih relevan hari ini daripada ketika pertama kali diterbitkan. 

Mengapa? Karena kecepatan perubahan telah meningkat secara eksponensial: 

● AI mengubah setiap industri dalam hitungan bulan 

● Startup bisa mencapai skala global dalam waktu yang dibutuhkan perusahaan traditional untuk launch produk 

● Customer expectations berubah lebih cepat dari sebelumnya 

Prinsip-prinsip Godin tentang zooming, evolusi, dan mDNA bahkan lebih critical sekarang. 

Seth Godin adalah salah satu thought leader marketing paling berpengaruh di dunia. Dia telah menulis 20+ buku bestseller dan blog setiap hari selama lebih dari 20 tahun—practicing what he preaches tentang consistency dan showing up. 

Untuk pemahaman lebih dalam tentang bagaimana membangun organisasi yang evolve, sangat disarankan membaca buku aslinya. Godin memberikan puluhan case study, contoh konkret, dan nuansa yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Ringkasan ini memberikan essence dari ide-idenya, tapi buku lengkap memberikan detail, depth, dan actionable frameworks yang bisa langsung diterapkan. 

Sekarang pergilah dan mulai zoom. Karena dunia tidak akan memperlambat untuk Anda.

Survive saja tidak cukup. Thrive atau die. Pilihan ada di tangan Anda.

Dan ingat: Kecoak akan selalu mengalahkan panda

Jadi menjadi kecoak. Tidak glamor. Tidak imut. Tapi tidak terkalahkan.