More Important Than Money

Robert T. Kiyosaki


Pertanyaan yang Membuat Kiyosaki Bangkrut 

1979. Robert Kiyosaki duduk di kantor kosong yang dulu ramai. Mejanya masih ada. Kursinya masih ada. Tapi semua orang sudah pergi. 

Bisnisnya—yang pernah menghasilkan jutaan dollar dan mempekerjakan ratusan orang—bangkrut. Hancur total. Dia bukan hanya kehilangan uang. Dia kehilangan kredibilitas. Kehilangan kepercayaan investor. Kehilangan mimpi. 

Dan yang lebih menyakitkan: dia kehilangan timnya. 

Duduk sendirian di kantor yang sepi itu, Kiyosaki mengajukan pertanyaan yang akan mengubah hidupnya: 

"Apa yang salah? Mengapa saya gagal?" 

Dia punya produk bagus—dompet nilon untuk surfing yang inovatif. Dia punya marketing yang kuat—produknya masuk ke toko-toko besar. Dia punya uang—investor berbaris untuk mendanai. 

Tapi bisnisnya tetap hancur. 

Butuh bertahun-tahun sebelum dia menyadari jawabannya. Dan jawabannya mengejutkan:

Dia gagal bukan karena kurang uang. Dia gagal karena tidak punya tim yang tepat. 

Dia mencoba melakukan semuanya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana membangun sistem. Dia tidak punya advisor yang berpengalaman. Dia tidak memahami legal dan akuntansi. Dia berpikir entrepreneur yang hebat bisa melakukan segalanya. 

Dia salah. 

Tiga puluh tahun kemudian, setelah membangun kerajaan bisnis Rich Dad senilai ratusan juta dollar, Kiyosaki menulis buku ini dengan satu pesan yang sangat jelas:

"Uang penting. Tapi tim yang tepat jauh lebih penting daripada uang." 

Buku ini bukan tentang bagaimana menghasilkan uang. Buku ini tentang sesuatu yang lebih fundamental: bagaimana membangun tim yang akan membuat uang mengikuti Anda. 

Mari kita mulai dengan pertanyaan yang sama pentingnya dengan yang Kiyosaki tanyakan di kantor kosong itu.

 


Bagian 1: Mengapa Team Mengalahkan Solo Player

Mitos Entrepreneur Superhero 

Kita semua mendengar cerita: Steve Jobs membangun Apple. Mark Zuckerberg menciptakan Facebook. Elon Musk meluncurkan Tesla. 

Tapi inilah yang media tidak ceritakan: 

Steve Jobs punya Steve Wozniak untuk teknologi dan Tim Cook untuk operasi. Mark Zuckerberg punya Sheryl Sandberg untuk bisnis. Elon Musk punya team engineer terbaik di dunia. 

Tidak ada entrepreneur sukses yang benar-benar solo. 

Kiyosaki membandingkan tiga tipe orang dalam bisnis: 

1. Self-Employed (S) - Pemilik Pekerjaan 

Ini adalah dokter, pengacara, konsultan, freelancer. Mereka punya "bisnis" tapi bisnis itu tidak bisa berjalan tanpa mereka. Jika mereka berhenti bekerja, income berhenti. 

Mereka bukan pemilik bisnis. Mereka pemilik pekerjaan yang sangat melelahkan.

2. Small Business Owner (S yang Lebih Besar) 

Mereka punya karyawan. Tapi mereka masih harus ada di bisnis setiap hari. Mereka masih firefighting. Masih menyelesaikan semua masalah. Masih menjadi bottleneck untuk setiap keputusan. 

Bisnis mereka sedikit lebih besar dari self-employed, tapi tidak lebih bebas.

3. True Entrepreneur (B - Big Business) 

Mereka membangun sistem dan tim yang bisa berjalan tanpa mereka. Mereka bisa pergi berlibur 6 bulan dan bisnis masih menghasilkan profit. 

Bedanya? Tim yang solid dan sistem yang proven. 

Rich Dad vs Poor Dad dalam Membangun Bisnis 

Kiyosaki mengingatkan pelajaran dari Rich Dad-nya: 

Poor Dad berkata: "Pergi ke sekolah yang bagus, dapat nilai bagus, cari pekerjaan aman dengan perusahaan besar."

Rich Dad berkata: "Bangun bisnis. Tapi jangan mencoba melakukannya sendiri. Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang lebih pintar darimu." 

Poor Dad percaya pada keamanan individual. Rich Dad percaya pada kekuatan tim. 

Poor Dad berpikir: "Jika saya ingin sesuatu dilakukan dengan benar, saya harus melakukannya sendiri." 

Rich Dad berpikir: "Jika saya mencoba melakukan semuanya sendiri, saya akan gagal di semuanya." 

Kiyosaki menulis: "Rich Dad mengajarkan saya bahwa entrepreneurship adalah team sport, bukan individual sport."

 


Bagian 2: The B-I Triangle—Peta Membangun Bisnis Sejati 

Delapan Komponen yang Tidak Bisa Diabaikan 

Rich Dad memberikan framework yang dia sebut B-I Triangle (Business-Investor Triangle). Ini adalah delapan komponen yang harus ada untuk membangun bisnis yang sustainable: 

Mari kita lihat dari bawah ke atas (seperti piramida): 

Level 1: MISSION (Misi) 

● Dasar dari segalanya 

● Bukan "menghasilkan uang" - itu hasil, bukan misi 

● Pertanyaan: "Mengapa bisnis ini ada? Siapa yang kita layani? Masalah apa yang kita selesaikan?" 

Kiyosaki berbagi misi Rich Dad Company: "Meningkatkan kesejahteraan finansial umat manusia." 

Tanpa misi yang jelas dan powerful, bisnis hanya akan menjadi mesin penghasil uang yang soulless—dan cepat atau lambat akan kehilangan energi. 

Level 2: TEAM (Tim) 

● Orang-orang yang akan mewujudkan misi 

● Bukan sekadar karyawan - tapi people who share the vision 

● Advisor, mentor, partner, specialist 

Level 3: LEADERSHIP (Kepemimpinan) 

● Kemampuan menggerakkan tim menuju misi 

● Bukan bos yang memerintah - tapi leader yang menginspirasi 

● Emotional intelligence lebih penting dari IQ 

Level 4 & 5: PRODUCT dan LEGAL 

● Product: Apa yang Anda jual - barang, jasa, atau solusi 

● Legal: Struktur legal yang melindungi Anda dan bisnis 

Level 6: SYSTEMS (Sistem) 

● Cara bisnis beroperasi tanpa Anda 

● McDonald's bukan tentang burger terbaik - tentang sistem terbaik 

● Sistem membuat bisnis bisa di-scale dan di-franchise

Level 7: COMMUNICATIONS (Komunikasi) 

● Sales, marketing, branding, PR 

● Jika produk Anda hebat tapi tidak ada yang tahu - Anda gagal 

● Cerita yang Anda ceritakan tentang bisnis Anda 

Level 8: CASH FLOW (Aliran Kas) 

● Darah dari bisnis 

● Bukan profit di kertas - tapi kas nyata yang masuk dan keluar 

● Banyak bisnis profitable tapi bangkrut karena cash flow problem 

Kesalahan Fatal: Membangun dari Atas 

Kebanyakan entrepreneur baru melakukan ini: 

Mereka mulai dari PRODUCT. 

"Saya punya ide produk hebat!" 

Lalu mereka buat produk. Lalu mereka coba jual. Lalu mereka kehabisan uang. Lalu mereka bingung kenapa gagal. 

Kiyosaki bilang: "Anda membangun piramida dari atas. Itu sebabnya runtuh."

Cara yang benar: 

1. Mulai dari MISSION - Mengapa Anda melakukan ini? 

2. Bangun TEAM - Siapa yang akan membantu Anda? 

3. Develop LEADERSHIP - Bagaimana Anda akan memimpin mereka?

4. Baru kemudian produk, legal, sistem, marketing, dan cash flow 

Bisnis yang dibangun dari fondasi misi dan tim akan sustainable. Bisnis yang dibangun dari produk saja akan rapuh.

 


Bagian 3: Advisors—Orang yang Lebih Penting dari Uang

Team of Advisors Kiyosaki 

Salah satu hal unik dari buku ini: Kiyosaki menulis bersama advisors-nya. Setiap chapter ditulis oleh expert berbeda yang membantu Rich Dad Company sukses: 

1. Ken McElroy - Real Estate Investor Mengajarkan tentang real estate sebagai bisnis, bukan sekadar investasi. 

2. Blair Singer - Sales & Team Building Mengajarkan bahwa sales adalah skill #1 entrepreneur dan bagaimana membangun sales team. 

3. Garrett Sutton - Attorney Mengajarkan tentang struktur legal yang melindungi aset dan meminimalkan pajak. 

4. Andy Tanner - Paper Assets Mengajarkan tentang stock, bonds, dan instrumen keuangan lainnya. 

5. Josh & Lisa Lannon - Social Entrepreneurship Mengajarkan tentang bisnis dengan purpose yang lebih besar dari profit. 

6. Tom Wheelwright - Tax Strategist Mengajarkan bahwa pajak adalah expense terbesar dan bagaimana mengelolanya secara legal. 

Kenapa Kiyosaki membagi buku dengan mereka? Karena dia mengakui: 

"Saya tidak tahu segalanya. Dan saya tidak perlu tahu segalanya. Saya hanya perlu tahu siapa yang tahu." 

Perbedaan Advisor vs Employee 

Banyak entrepreneur bingung: "Saya tidak punya uang untuk hire advisor mahal." 

Kiyosaki menjawab: "Anda tidak hire advisor dengan uang. Anda attract advisor dengan visi." 

Employee: Anda bayar untuk waktu mereka. Mereka bekerja untuk uang. 

Advisor: Mereka percaya pada misi Anda. Mereka melihat potensi jangka panjang. Mereka mungkin bekerja untuk equity, untuk profit share, atau untuk impact. 

Advisor yang baik tidak bekerja untuk Anda. Mereka bekerja DENGAN Anda.

Kiyosaki berbagi cerita:

Ketika dia memulai Rich Dad Company, dia tidak punya uang untuk bayar advisors top-tier. Tapi dia punya visi yang compelling: mengubah pendidikan finansial global. 

Dia approach orang-orang terbaik di bidang mereka dan berkata: "Saya tidak bisa bayar Anda banyak sekarang. Tapi jika Anda percaya pada misi ini, mari kita bangun bersama. Dan ketika kita sukses, kita semua sukses." 

Banyak yang menolak. Tapi beberapa orang terbaik—yang kemudian menjadi core advisors-nya—bilang ya. 

Mereka tidak bergabung karena uang. Mereka bergabung karena misi.

 


Bagian 4: Emotional Intelligence—EQ Mengalahkan IQ

Mengapa Smart People Gagal dalam Bisnis 

Kiyosaki bertanya: "Mengapa banyak orang pintar, dengan nilai A di sekolah, bekerja untuk orang yang nilai C?" 

Jawabannya: Emotional Intelligence. 

Sekolah mengajarkan IQ - kemampuan akademis. Tapi entrepreneurship membutuhkan EQ - kemampuan emosional. 

IQ tinggi membuat Anda pintar. EQ tinggi membuat Anda sukses. 

Lima Komponen EQ untuk Entrepreneur 

1. Self-Awareness (Kesadaran Diri) 

Mengetahui kekuatan dan kelemahan Anda. 

Entrepreneur dengan self-awareness tinggi tidak mencoba menjadi superman. Mereka tahu: "Saya hebat di visi dan sales. Tapi saya buruk di detail dan accounting. Jadi saya hire orang yang hebat di itu." 

Entrepreneur dengan self-awareness rendah: "Saya bisa melakukan semuanya!" (Dan gagal di semuanya.) 

2. Self-Regulation (Mengatur Diri) 

Kemampuan mengelola emosi, terutama saat krisis. 

Ketika bisnis hampir bangkrut (dan ini akan terjadi beberapa kali), apakah Anda: 

● Panik dan membuat keputusan buruk? 

● Atau tetap tenang dan mencari solusi? 

Kiyosaki: "Entrepreneur yang tidak bisa mengelola emosinya akan dibunuh oleh emosinya sendiri." 

3. Motivation (Motivasi) 

Bukan motivasi eksternal (uang, status) - tapi motivasi intrinsik (misi, impact). 

Ketika uang habis, investor pergi, customer komplain, karyawan resign—apa yang membuat Anda tetap berdiri?

Jika motivasi Anda hanya uang, Anda akan menyerah. Jika motivasi Anda adalah misi yang lebih besar, Anda akan menemukan cara. 

4. Empathy (Empati) 

Kemampuan memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan. 

Entrepreneur tanpa empati: "Kenapa karyawan saya tidak bekerja lebih keras? Saya bayar mereka!" 

Entrepreneur dengan empati: "Apa yang karyawan saya butuhkan untuk berkembang? Bagaimana saya bisa membuat mereka merasa valued?" 

Empati bukan kelemahan. Empati adalah superpower. 

5. Social Skills (Kemampuan Sosial) 

Kemampuan membangun relasi, negosiasi, menyelesaikan konflik, memimpin tim. 

Bisnis adalah tentang orang. Jika Anda tidak bisa bekerja dengan orang, Anda tidak bisa berbisnis. 

Kiyosaki menulis: "Technical skills akan membuat Anda masuk ke dalam permainan. Tapi people skills yang akan membuat Anda menang."

 


Bagian 5: Mission vs Money—Purpose yang Lebih Besar

The Trap of Money-First Mindset 

Banyak entrepreneur memulai dengan mindset: "Saya ingin kaya." 

Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi ada masalah: 

Money-first mindset membuat Anda rentan menyerah. 

Ketika Anda menghadapi: 

● Tahun pertama tidak menghasilkan profit 

● Investor menolak 

● Kompetitor menyerang 

● Team member keluar 

Jika satu-satunya motivasi Anda adalah uang, Anda akan berpikir: "Ini tidak worth it. Lebih baik saya cari kerja dengan gaji besar." 

Dan Anda menyerah. 

Mission-First Mindset 

Entrepreneur yang driven by mission berpikir berbeda. 

Ketika mereka menghadapi kesulitan yang sama, mereka berpikir: "Ini sulit. Tapi misi ini terlalu penting untuk menyerah. Orang-orang membutuhkan solusi yang saya tawarkan. Saya harus menemukan cara." 

Dan mereka bertahan. 

Kiyosaki berbagi contoh pribadi: 

Ketika dia menulis "Rich Dad Poor Dad," 12 penerbit menolaknya. Mereka bilang: "Buku keuangan tidak laku. Dan Anda bukan expert keuangan terkenal." 

Jika motivasi dia hanya uang atau fame, dia akan menyerah di penolakan ke-5. 

Tapi misinya adalah: "Orang-orang perlu tahu kebenaran tentang uang yang tidak diajarkan di sekolah." 

Jadi dia self-publish. Dia jual dari bagasi mobilnya. Dia berikan gratis di seminar. 

Bertahun-tahun kemudian, "Rich Dad Poor Dad" menjadi buku keuangan #1 terlaris sepanjang masa. Diterjemahkan ke 51 bahasa. Mengubah puluhan juta hidup.

Bukan karena dia cari uang. Tapi karena dia mengejar misi—dan uang mengikuti.

Spiritual Capitalism 

Josh dan Lisa Lannon, dua dari advisor Kiyosaki, memperkenalkan konsep "spiritual capitalism" dalam buku ini: 

Spiritual Capitalism = Bisnis yang menghasilkan profit DAN impact positif ke dunia.

Bukan "profit atau purpose." Tapi "profit DAN purpose." 

Mereka memberikan contoh perusahaan seperti: 

● TOMS Shoes: Setiap sepatu yang dibeli, satu sepatu didonasikan 

● Patagonia: Bisnis outdoor yang juga environmental activist 

● Warby Parker: Kacamata terjangkau + satu kacamata didonasikan per pembelian

Bisnis-bisnis ini tidak hanya profitable—mereka sangat profitable. Karena: 

1. Customer lebih loyal - Mereka tidak hanya beli produk, mereka beli ke misi

2. Employee lebih engaged - Mereka tidak hanya bekerja untuk gaji, mereka bekerja untuk impact 

3. Investor lebih supportive - Mereka tidak hanya cari return, mereka cari purpose

Money follows mission. Always.

 


Bagian 6: Leadership—Seni Menggerakkan Tim

Leader vs Boss 

Kiyosaki membedakan dengan tegas: 

Boss: "Lakukan ini karena saya yang membayar Anda." Leader: "Mari kita lakukan ini karena ini penting untuk misi kita." 

Boss: Mendapatkan compliance (kepatuhan). Leader: Mendapatkan commitment (komitmen). 

Boss: Orang bekerja untuk mereka karena harus. Leader: Orang bekerja dengan mereka karena mau. 

The Three Types of Money 

Blair Singer, sales expert dan advisor Kiyosaki, berbagi konsep powerful tentang tiga jenis uang dalam bisnis: 

1. Competitive Money 

Ini adalah uang yang Anda dapatkan dengan bersaing—harga terendah, deal terbaik, kerja paling keras. 

Masalahnya: Selalu ada yang lebih murah. Selalu ada yang kerja lebih keras. Ini adalah race to the bottom. 

2. Creative Money 

Ini adalah uang yang Anda dapatkan dengan menciptakan nilai baru—produk inovatif, solusi unik, customer experience yang berbeda. 

Lebih baik dari competitive money. Tapi masih bisa ditiru kompetitor. 

3. Cooperative Money 

Ini adalah uang yang datang dari kolaborasi—partnership, joint venture, alliance.

Cooperative money adalah yang paling powerful. Mengapa? 

Karena 1+1 tidak jadi 2. Dalam kolaborasi yang tepat, 1+1 bisa jadi 10, atau 100. 

Kiyosaki berbagi: "Rich Dad Company bukan hasil saya bekerja sendiri. Ini hasil kolaborasi dengan advisors, dengan Warner Books, dengan ribuan affiliates di seluruh dunia. Cooperative money."

Memimpin Dengan Pertanyaan, Bukan Jawaban 

Leader yang buruk: Mereka punya semua jawaban. Mereka memberitahu tim apa yang harus dilakukan. 

Leader yang hebat: Mereka punya pertanyaan yang tepat. Mereka membuat tim berpikir dan menemukan solusi. 

Contoh situasi: Sales turun 30% bulan ini. 

Boss berkata: "Kalian harus kerja lebih keras! Telepon lebih banyak prospek! Tutup lebih banyak deals!" 

Leader bertanya: "Menurut kalian, mengapa sales turun? Apa yang berubah? Apa yang bisa kita pelajari? Apa yang perlu kita ubah?" 

Dengan pendekatan pertama, tim hanya menjalankan perintah—tanpa ownership. 

Dengan pendekatan kedua, tim berpikir, berkolaborasi, dan merasa memiliki solusi—karena mereka yang menemukannya.

 


Bagian 7: Lessons from Failure—Mengapa Kegagalan Adalah Guru Terbaik 

Kiyosaki's Greatest Failure 

Kiyosaki tidak menyembunyikan kegagalannya. Justru, dia berbagi dengan detail: 

Bisnisnya yang pertama—perusahaan dompet surfing—bangkrut total. Dia kehilangan semua uang investor. Kehilangan rumah. Bahkan sempat homeless, tinggal di mobil bekas Toyota. 

Tapi dari kegagalan itu, dia belajar pelajaran yang tidak bisa dipelajari dari kesuksesan:

Pelajaran 1: Produk bagus tidak cukup 

Dompet nilon-nya inovatif. Customer suka. Tapi dia tidak punya sistem operasional yang solid. Produksi chaos. Inventory management buruk. Cash flow mengerikan. 

Lesson: Bisnis bukan tentang produk. Bisnis tentang sistem. 

Pelajaran 2: Anda tidak bisa melakukan semuanya 

Dia mencoba menjadi CEO, CFO, Head of Operations, Head of Sales—semuanya sekaligus. Hasilnya? Dia gagal di semuanya. 

Lesson: Anda butuh tim. Dan Anda harus willing to delegate. 

Pelajaran 3: Cash is King 

Bisnisnya profitable di kertas. Tapi cash flow-nya negatif. Customer bayar 90 hari. Tapi supplier minta bayar 30 hari. Gap 60 hari itu membunuh bisnis. 

Lesson: Profit di laporan keuangan tidak membayar gaji. Cash flow yang riil membayar gaji.

Pelajaran 4: Legal structure matters 

Ketika bisnisnya bangkrut, dia personally liable untuk semua hutang. Investor bisa sue dia personally. Ini menghancurkan hidup finansialnya bertahun-tahun. 

Lesson: Struktur legal yang tepat melindungi Anda. Jangan skip ini. 

Kiyosaki menulis: "Kegagalan pertama saya adalah hadiah terbesar. Karena itu mengajarkan saya apa yang TIDAK BOLEH dilakukan. Dan itu sama berharganya dengan tahu apa yang harus dilakukan."

 


Penutup: Membangun Tim Anda—Starting Today

Kiyosaki menutup buku dengan pesan yang sangat personal: 

"Buku ini bukan tentang saya. Ini tentang Anda." 

Anda mungkin berpikir: "OK, konsep tim itu bagus. Tapi saya tidak punya uang untuk hire orang. Saya bahkan belum punya bisnis yang jelas." 

Kiyosaki menjawab: "Anda tidak mulai dengan uang. Anda mulai dengan MISI."

Langkah Konkret Mulai Hari Ini 

1. Tentukan Misi Anda 

Bukan "saya ingin kaya." 

Tapi: "Saya ingin menyelesaikan masalah X untuk orang Y dengan cara Z."

Contoh: 

● "Saya ingin membuat pendidikan coding accessible untuk anak-anak di desa"

● "Saya ingin membantu UMKM masuk ke digital dengan mudah dan murah"

● "Saya ingin menciptakan produk eco-friendly yang terjangkau" 

Misi yang jelas akan menarik tim yang tepat. 

2. Identifikasi Gap Anda 

Anda tidak bisa ahli di semua bidang. Dan itu OK. 

Buat daftar: 

● Apa yang Anda hebat? (Fokus di sini) 

● Apa yang Anda lemah? (Cari orang yang hebat di sini) 

Jujur pada diri sendiri. Ego adalah musuh terbesar entrepreneur. 

3. Cari Mentor dan Advisor 

Anda tidak perlu bayar mereka (belum). Mulai dengan: 

● Baca buku mereka 

● Ikuti konten mereka 

● Hadiri seminar/workshop mereka 

● Reach out dan minta 15 menit untuk bertanya

Banyak orang sukses SUKA membantu entrepreneur muda—jika Anda approach dengan humble dan serius. 

4. Bangun Network Sebelum Anda Butuh 

Jangan mulai cari investor ketika Anda desperate butuh uang. Jangan mulai cari partner ketika Anda sudah overwhelmed. 

Bangun relasi sekarang. Beri value duluan. Membantu orang lain. Networking adalah investasi jangka panjang. 

5. Start Small, Think Big 

Anda tidak perlu team 50 orang dari hari pertama. 

Mulai dengan: 

● Satu co-founder atau partner yang melengkapi skill Anda 

● Satu mentor yang bersedia guide Anda 

● Satu accountability partner yang bisa jadi sounding board 

Tim kecil yang solid mengalahkan tim besar yang mediocre. 

The Final Wisdom 

Kiyosaki meninggalkan kita dengan satu quote powerful dari Rich Dad: 

"Jika Anda ingin pergi cepat, pergi sendiri. Jika Anda ingin pergi jauh, pergi bersama."

Entrepreneurship adalah marathon, bukan sprint. Dan tidak ada yang finish marathon sendirian. 

Anda butuh orang yang mendukung Anda ketika Anda jatuh. Yang celebrate ketika Anda menang. Yang tell you the truth ketika Anda salah arah. Yang percaya pada misi Anda bahkan ketika Anda sendiri ragu. 

Anda butuh tim. 

Uang penting. Sangat penting. Tapi tim yang tepat akan membuat uang. Tim yang salah akan membakar uang. 

Jadi investasi terbesar Anda bukan di produk. Bukan di marketing. Bukan di teknologi.

Investasi terbesar Anda adalah di ORANG. 

Karena pada akhirnya, bisnis bukan tentang balance sheet atau income statement.

Bisnis tentang orang yang Anda bangun bersama dan dampak yang Anda ciptakan bersama. 

That's more important than money.

 


Tentang Buku Asli 

"More Important Than Money: An Entrepreneur's Team" diterbitkan tahun 2017 sebagai bagian dari Rich Dad Advisors series. 

Yang unik dari buku ini: Kiyosaki tidak menulis sendiri. Dia menulis bersama delapan advisors-nya yang masing-masing adalah expert di bidangnya—real estate, sales, legal, tax, paper assets, social entrepreneurship. 

Ini adalah praktek dari prinsip yang dia ajarkan: Anda tidak perlu tahu segalanya. Anda perlu tahu siapa yang tahu. 

Robert T. Kiyosaki adalah penulis "Rich Dad Poor Dad"—buku personal finance #1 terlaris sepanjang masa. Tapi dia selalu menekankan: kesuksesannya bukan hasil kerja sendiri, tapi hasil kolaborasi dengan tim yang luar biasa. 

Untuk pemahaman lengkap tentang membangun bisnis dengan tim yang solid, sangat disarankan membaca buku aslinya. Setiap advisor memberikan perspective dan expertise yang berbeda—dan detail-detail praktis yang tidak bisa sepenuhnya dirangkum. 

Buku ini wajib dibaca untuk: 

● Entrepreneur yang merasa overwhelmed melakukan semuanya sendiri

● Founder yang ingin scale bisnis tapi tidak tahu caranya 

● Siapa pun yang ingin memahami bahwa success is a team sport 

Sekarang pergilah dan mulai bangun tim Anda. Tidak besok. Tidak tahun depan. Hari ini. 

Karena seperti yang Rich Dad katakan: "The sooner you realize you can't do it alone, the sooner you will succeed." 

Tim Anda sedang menunggu. Saatnya untuk menemukan mereka.