Be a People Person

John C. Maxwell


Kejeniusan yang Gagal 

Pernahkah Anda bertemu orang yang sangat pintar tapi tidak ada yang mau bekerja dengannya? 

John C. Maxwell menceritakan kisah tentang seorang insinyur brilian di sebuah perusahaan Fortune 500. IQ-nya di atas 160. Gelarnya dari universitas top. Kemampuan teknisnya tidak ada tandingannya di perusahaan. 

Tapi dia dipecat setelah dua tahun. 

Bukan karena dia tidak kompeten. Bukan karena dia tidak produktif. Tapi karena tidak ada yang tahan bekerja dengannya. 

Dia arogan. Meremehkan orang lain. Tidak mendengarkan. Tidak bisa bekerja dalam tim. Setiap meeting dengannya adalah pertempuran ego. Setiap proyek bersama berakhir dengan konflik. 

Perusahaan memilih: mempertahankan satu jenius yang toxic, atau mempertahankan 20 orang lain yang bisa bekerja sama. Pilihan mereka jelas. 

Di sisi lain, Maxwell juga menceritakan tentang seorang manajer dengan kemampuan teknis rata-rata. Tidak punya gelar prestisius. Tidak punya IQ tertinggi di ruangan. 

Tapi orang-orang ingin bekerja dengannya. Tim-nya selalu melebihi target. Karyawannya loyal. Atasannya mempromosikannya. Dalam 10 tahun, dia menjadi VP. 

Apa perbedaannya? 

People skills. 

Penelitian dari Carnegie Institute of Technology mengungkapkan fakta mengejutkan: 85% kesuksesan Anda dalam pekerjaan ditentukan oleh people skills. Hanya 15% oleh technical skills. 

Membaca itu lagi. 85% versus 15%.

Tapi coba pikirkan: berapa persen waktu pendidikan Anda dihabiskan untuk belajar technical skills? Berapa persen untuk belajar bagaimana berhubungan dengan orang? 

Sebagian besar dari kita menghabiskan 99% waktu pendidikan untuk 15% yang menentukan kesuksesan. Dan mengabaikan 85% yang benar-benar penting. 

Maxwell menulis "Be A People Person" untuk memperbaiki ketidakseimbangan ini. Dan kabar baiknya: 

People skills bisa dipelajari. 

Anda tidak perlu dilahirkan karismatik. Anda tidak perlu secara alami ekstrovert. Anda hanya perlu memahami prinsip-prinsip dan mempraktikkannya. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Prinsip Lensa—Cara Anda Melihat Orang

Semua Orang Memakai Lensa 

Maxwell memulai dengan konsep fundamental: kita semua melihat orang melalui lensa.

Lensa ini terbentuk dari: 

● Pengalaman masa lalu kita 

● Luka-luka kita 

● Keyakinan kita 

● Bias kita 

Dan inilah yang penting: lensa yang kita pakai menentukan bagaimana kita memperlakukan orang

Jika Anda memakai "lensa curiga"—Anda melihat semua orang sebagai ancaman potensial. Anda berhati-hati. Anda tidak percaya. Anda membangun tembok. 

Jika Anda memakai "lensa kompetisi"—Anda melihat semua orang sebagai rival. Setiap interaksi adalah pertarungan untuk menang. 

Jika Anda memakai "lensa proyeksi"—Anda mengasumsi orang lain berpikir seperti Anda. Dan ketika mereka tidak, Anda bingung atau tersinggung. 

Maxwell mengajarkan: Untuk menjadi people person, Anda harus memakai lensa yang benar: lensa nilai. 

Lensa Nilai: Melihat Orang Sebagai Aset 

People person sejati melihat setiap orang sebagai: 

Berharga secara intrinsik - Tidak peduli posisi, penampilan, atau status mereka

Unik - Dengan bakat, perspektif, dan kontribusi yang tidak bisa digantikan

Potensial - Bukan hanya siapa mereka hari ini, tapi siapa mereka bisa menjadi 

Maxwell menceritakan bagaimana dia mengubah lensanya sendiri: 

Sebagai pendeta muda, dia frustrasi dengan jemaat yang "tidak kooperatif." Mereka tidak datang ke program yang dia buat dengan susah payah. Mereka tidak antusias seperti yang dia harapkan. 

Masalahnya? Dia melihat mereka sebagai proyek, bukan orang

Ketika dia mengubah lensanya—mulai benar-benar mendengarkan kebutuhan mereka, memahami tantangan mereka, menghargai perspektif mereka—segalanya berubah.

Bukan karena jemaat berubah. Tapi karena cara dia melihat mereka berubah.

Latihan: Identifikasi Lensa Anda 

Maxwell memberikan pertanyaan refleksi: 

1. Ketika Anda bertemu orang baru, pikiran pertama Anda apa? 

○ "Apa yang bisa dia lakukan untuk saya?" (Lensa transaksional)

○ "Apakah dia akan menyukai saya?" (Lensa insecurity) 

○ "Menarik, siapa dia?" (Lensa rasa ingin tahu) 

2. Ketika seseorang membuat kesalahan, reaksi Anda apa? 

○ "Dasar bodoh!" (Lensa judgment) 

○ "Apa yang bisa dia pelajari dari ini?" (Lensa pertumbuhan) 

3. Ketika seseorang sukses, perasaan Anda apa? 

○ Cemburu (Lensa kompetisi) 

○ Senang (Lensa abundance) 

Jujurlah pada diri sendiri. Karena Anda tidak bisa mengubah apa yang tidak Anda akui.

 


Bagian 2: Memberikan Apresiasi—Kebutuhan Terdalam Manusia 

Eksperimen yang Mengubah Segalanya 

Pada 1920-an, psikolog William James melakukan penelitian dan menemukan: Kebutuhan terdalam manusia adalah merasa dihargai. 

Bukan uang. Bukan kekuasaan. Bukan seks. Tapi apresiasi

Maxwell mengutip penelitian lain: 

● 79% karyawan yang keluar dari pekerjaan mengatakan alasan utama adalah "kurang dihargai" 

● Bukan gaji rendah 

● Bukan jam kerja panjang 

● Tapi merasa tidak dihargai 

Ini adalah wawasan emas: Jika Anda ingin mengubah hidup seseorang, buat mereka merasa dihargai. 

Tiga Level Apresiasi 

Maxwell membagi apresiasi menjadi tiga level: 

Level 1: Ucapan Terima Kasih Generik 

"Terima kasih." "Good job." "Bagus." 

Ini lebih baik daripada tidak ada, tapi dampaknya minimal. Generik. Tidak personal. Terdengar otomatis. 

Level 2: Apresiasi Spesifik 

"Terima kasih sudah begadang membantu menyelesaikan laporan kemarin. Karena kamu, kita bisa presentasi dengan percaya diri pagi ini." 

Ini lebih kuat. Spesifik. Orang merasa Anda benar-benar memperhatikan apa yang mereka lakukan. 

Level 3: Apresiasi Karakter 

"Yang saya kagumi dari kamu adalah integritasmu. Meskipun tidak ada yang melihat, kamu tetap melakukan yang benar. Itu langka dan berharga."

Ini level tertinggi. Anda tidak hanya menghargai apa yang mereka lakukan, tapi siapa mereka. Dampaknya transformatif. 

Kisah Motivator yang Hampir Bunuh Diri 

Maxwell menceritakan tentang seorang motivator terkenal yang hampir bunuh diri di puncak karirnya. 

Dia berbicara di depan ribuan orang. Buku-bukunya best seller. Gajinya fantastis. Tapi di dalam, dia hampa. 

Mengapa? Karena tidak ada yang benar-benar mengenalnya. Semua orang menghargai penampilannya, tapi tidak ada yang menghargai pribadinya. 

Dia diselamatkan oleh seorang teman yang mengatakan padanya: 

"Saya tidak peduli seberapa sukses kamu. Saya menghargaimu karena kamu setia. Karena kamu punya hati yang baik. Karena kamu teman yang bisa diandalkan. Itu yang membuat kamu berharga—bukan panggung atau buku." 

Itu menyelamatkan hidupnya. 

Pelajarannya: Hargai orang untuk siapa mereka, bukan hanya untuk apa yang mereka lakukan. 

Cara Praktis Memberikan Apresiasi 

1. Buat spesifik - "Kamu mengerjakan ini dengan baik" kalah dengan "Cara kamu menangani klien yang marah tadi—sabar, empati, solusi-fokus—itu profesional sekali." 

2. Lakukan di depan umum - Apresiasi pribadi bagus. Apresiasi di depan orang lain 10x lebih powerful. 

3. Tulis - Email, catatan tulisan tangan, pesan. Sesuatu yang bisa mereka simpan dan baca ulang. 

4. Sering - Jangan tunggu moment besar. Hargai hal-hal kecil secara konsisten.

5. Jujur - Pujian palsu lebih buruk daripada tidak ada pujian. Orang tahu.

 


Bagian 3: Menciptakan Lingkungan yang Mengangkat Orang 

Maxwell percaya: Pemimpin tidak hanya mempengaruhi orang, tapi juga atmosfer di sekitar orang. 

Anda bisa masuk ke ruangan dan merasakan energinya—positif atau negatif, tegang atau rileks, mendukung atau mengkritik. 

Dua Jenis Lingkungan 

Lingkungan Nourishing (Memelihara) 

Karakteristik: 

● Orang merasa aman untuk mencoba dan gagal 

● Kesalahan dilihat sebagai pembelajaran, bukan hukuman 

● Ide-ide baru disambut, bukan ditolak 

● Orang saling mendukung, bukan saling menjatuhkan 

● Sukses seseorang dirayakan, bukan dicemburui 

Hasilnya: Kreativitas, inovasi, loyalitas, pertumbuhan. 

Lingkungan Toxic (Beracun) 

Karakteristik: 

● Orang takut membuat kesalahan 

● Politik kantor lebih penting dari kinerja 

● Kritik lebih sering dari pujian 

● Orang saling bersaing, bukan berkolaborasi 

● Trust rendah, gosip tinggi 

Hasilnya: Turnover tinggi, produktivitas rendah, stress, burnout. 

Kisah Dua Kantor 

Maxwell membandingkan dua perusahaan yang dia konsultasikan: 

Perusahaan A: Ruang meeting seperti courtroom. CEO duduk di kepala meja seperti hakim. Setiap presentasi diinterupsi dengan pertanyaan tajam yang membuat presenter defensif. Tidak ada yang berani menawarkan ide berani karena takut dipermalukan. 

Hasilnya? Inovasi nol. Karyawan terbaik keluar dalam 2 tahun.

Perusahaan B: Ruang meeting dengan bean bags dan whiteboard di setiap dinding. CEO sering mengatakan: "Ide bagus! Mari kita eksplorasi." Bahkan ide buruk disambut dengan "Interesting, mengapa kamu pikir begitu?" 

Hasilnya? Beberapa produk terbaik perusahaan datang dari meeting ini. Karyawan stay rata-rata 7+ tahun. 

Pertanyaan untuk Anda: Lingkungan mana yang Anda ciptakan? 

Cara Menciptakan Lingkungan Positif 

1. Model perilaku yang Anda inginkan - Jika Anda ingin orang jujur, jadilah jujur. Jika Anda ingin orang mengakui kesalahan, akui kesalahan Anda. 

2. Rayakan usaha, bukan hanya hasil - "Saya tahu proyeknya tidak berhasil, tapi saya menghargai kerja keras dan kreativitas yang kamu tunjukkan." 

3. Respons terhadap kesalahan dengan pertanyaan, bukan kemarahan - "Apa yang bisa kita pelajari?" bukan "Bagaimana kamu bisa bodoh begitu?" 

4. Buat aturan jelas, tapi beri ruang untuk kreativitas - Struktur memberikan keamanan. Fleksibilitas memberikan kebebasan. 

5. Lindungi orang dari serangan tidak adil - Ketika seseorang diserang secara pribadi (bukan profesional), bela mereka.

 


Bagian 4: Seni Mendorong—Membuat Orang Percaya Pada Diri Mereka 

Kisah Guru yang Mengubah Hidup 

Maxwell berbagi kisah pribadinya: 

Sebagai anak, dia biasa-biasa saja di sekolah. Tidak menonjol. Tidak pede. Tidak punya arah.

Lalu dia bertemu guru Mrs. Nay di kelas 7. 

Suatu hari, Mrs. Nay memanggilnya setelah kelas: "John, saya melihat potensi besar dalam diri Anda. Saya percaya Anda akan melakukan hal-hal besar." 

Maxwell bingung. "Kenapa Anda bilang begitu? Nilai saya biasa saja." 

Mrs. Nay tersenyum: "Karena saya melihat sesuatu yang Anda belum lihat pada diri sendiri." 

Kata-kata itu mengubah hidupnya. Untuk pertama kalinya, seseorang melihat potensi dalam dirinya, bukan hanya kinerja saat ini. 

Itu mengubah bagaimana dia melihat dirinya sendiri. Dan itu mengubah segalanya. 

Pelajaran: Salah satu hadiah terbesar yang bisa Anda berikan adalah membuat seseorang percaya pada diri mereka sendiri. 

Perbedaan Antara Pujian dan Dorongan 

Pujian fokus pada pencapaian: "Kamu dapat A! Hebat!" 

Dorongan fokus pada karakter dan proses: "Saya lihat betapa kerasnya kamu belajar. Dedikasimu luar biasa. Apa pun hasilnya, saya bangga dengan usahamu." 

Pujian membuat orang bergantung pada approval eksternal. Dorongan membangun confidence internal. 

Lima Cara Mendorong Orang 

1. Percaya sebelum mereka percaya pada diri sendiri 

Ketika seseorang berkata "Saya tidak bisa," jawab: "Saya percaya kamu bisa. Dan saya akan bantu kamu sampai kamu juga percaya." 

2. Rayakan kemajuan kecil

Jangan tunggu sampai finish line untuk memberikan dorongan. Rayakan setiap langkah maju: "Kamu sudah lebih baik dari bulan lalu!" 

3. Ingatkan mereka tentang kekuatan mereka ketika mereka lupa 

"Ingat ketika kamu menghadapi situasi sulit tahun lalu? Kamu melewatinya. Kamu punya kekuatan yang sama sekarang." 

4. Berdiri di sisi mereka ketika yang lain ragu 

Ketika semua orang berkata "Kamu tidak bisa," jadilah orang yang berkata "Saya percaya padamu." 

5. Lihat tidak hanya siapa mereka hari ini, tapi siapa mereka bisa menjadi

Ini adalah gift visioner. Melihat potensi yang belum terealisasi.

 


Bagian 5: Kekuatan Memaafkan—Membebaskan Diri Sendiri 

Tahanan yang Tidak Terkunci 

Maxwell menceritakan metafora powerful: 

Bayangkan Anda di penjara. Tapi pintunya tidak terkunci. Anda bisa keluar kapan saja. Tapi Anda tidak keluar karena Anda terus menunggu sipir (orang yang menyakiti Anda) untuk datang dan meminta maaf. 

Tahun demi tahun berlalu. Sipir tidak pernah datang. Dan Anda masih di dalam sel, meskipun pintu terbuka. 

Itulah yang terjadi ketika Anda tidak memaafkan. 

Anda memenjarakan diri sendiri menunggu orang lain untuk mengakui kesalahan mereka, meminta maaf, "membayar" untuk apa yang mereka lakukan. 

Sementara itu, mereka mungkin sudah lupa. Atau tidak peduli. Dan Anda yang menderita.

Memaafkan Bukan Melupakan 

Maxwell klarifikasi kesalahpahaman umum: 

Memaafkan ≠ Melupakan 

Anda tidak bisa memaksa diri untuk melupakan. Otak tidak bekerja begitu.

Memaafkan ≠ Menyetujui 

Anda tidak bilang "Apa yang kamu lakukan tidak apa-apa." Anda bilang "Apa yang kamu lakukan salah, tapi saya memilih untuk tidak membiarkan itu mengendalikan saya lagi." 

Memaafkan ≠ Rekonsiliasi 

Memaafkan adalah keputusan sepihak. Anda bisa memaafkan tanpa kembali ke hubungan dengan orang itu—terutama jika mereka masih toxic. 

Memaafkan = Melepaskan hak untuk balas dendam dan kepahitan 

Itu saja. Sederhana, tapi tidak mudah. 

Mengapa Sulit Memaafkan?

Karena ada bagian dari kita yang percaya: "Jika saya memaafkan, itu artinya mereka menang." 

Maxwell membantah: "Ketika Anda tidak memaafkan, mereka yang menang—karena mereka masih mengendalikan emosi Anda, pikiran Anda, bahkan kesehatan Anda." 

Penelitian menunjukkan kepahitan kronis terkait dengan: 

● Tekanan darah tinggi 

● Penyakit jantung 

● Depresi 

● Sistem imun lemah 

Anda membuat diri sendiri sakit untuk menghukum orang lain. 

Proses Memaafkan 

Maxwell memberikan langkah praktis: 

1. Akui rasa sakit - Jangan minimize. Perasaan Anda valid. 

2. Putuskan untuk memaafkan - Ini adalah keputusan, bukan perasaan. 

3. Lepaskan hak untuk balas dendam - Secara mental, serahkan keadilan kepada Tuhan/alam semesta. 

4. Berdoa untuk orang itu (jika Anda orang beriman) - Ini mengubah hati Anda terhadap mereka. 

5. Ulangi setiap kali kepahitan muncul lagi - Pengampunan sering bukan one-time event, tapi proses berulang.

 


Bagian 6: Memahami Perbedaan—Empat Tipe Kepribadian 

Maxwell menggunakan model DISC untuk membantu pembaca memahami mengapa orang bertindak berbeda: 

D - Dominant (Dominan) 

Karakteristik

● Tegas, hasil-oriented, suka kontrol 

● Berbicara langsung, kadang blunt 

● Tidak suka small talk 

● Fokus pada "Apa" dan "Kapan," tidak peduli "Mengapa" 

Cara berinteraksi: 

● Langsung ke poin 

● Berikan opsi, bukan instruksi detail 

● Hargai efisiensi mereka 

Kelemahan: Bisa terlihat kasar atau tidak sensitif 

I - Influencing (Mempengaruhi) 

Karakteristik

● Antusias, optimis, suka bersosialisasi 

● Banyak bicara, ekspresif 

● Lebih peduli hubungan daripada tugas 

● Suka ide baru (tapi tidak selalu follow-through) 

Cara berinteraksi: 

● Berikan waktu untuk cerita 

● Rayakan kreativitas mereka 

● Bantu mereka fokus pada detail 

Kelemahan: Bisa terlihat superficial atau tidak serius 

S - Steady (Stabil) 

Karakteristik

● Tenang, loyal, tidak suka konflik

● Pendengar yang baik 

● Suka rutinitas dan stabilitas 

● Tidak nyaman dengan perubahan cepat 

Cara berinteraksi: 

● Berikan keamanan dan jaminan 

● Jangan paksa keputusan cepat 

● Hargai loyalitas mereka 

Kelemahan: Bisa terlihat pasif atau resisten terhadap perubahan 

C - Compliant (Compliant) 

Karakteristik

● Analitis, perfeksionis, detail-oriented 

● Butuh data sebelum memutuskan 

● Sistematis dan terorganisir 

● Kurang nyaman dengan emosi 

Cara berinteraksi: 

● Berikan data dan fakta 

● Berikan waktu untuk menganalisa 

● Hargai ketepatan mereka 

Kelemahan: Bisa terlihat kaku atau terlalu kritis 

Aplikasi Praktis 

Maxwell: "Konflik sering terjadi bukan karena seseorang salah, tapi karena mereka berbeda." 

Contoh: 

● Boss D mengatakan "Selesaikan hari ini!" kepada karyawan S yang butuh waktu untuk memproses. 

● Suami C menginginkan rencana detail untuk liburan, istri I hanya ingin "spontan dan seru." 

Solusi: Pahami perbedaan. Sesuaikan komunikasi. Hargai keunikan.

 


Bagian 7: Memotivasi dengan Benar—Apa yang Benar-Benar Menggerakkan Orang 

Kesalahan Fatal tentang Motivasi 

Maxwell mengidentifikasi mitos terbesar: "Saya bisa memotivasi orang lain." 

Kebenaran: Anda tidak bisa memotivasi siapa pun. Orang sudah termotivasi—Anda hanya perlu menemukan apa yang memotivasi mereka dan terhubung dengannya. 

Setiap orang punya motivator berbeda: 

Pencapaian - "Saya ingin menang." 

Afiliasi - "Saya ingin diterima." 

Kekuasaan - "Saya ingin memimpin." 

Keamanan - "Saya ingin aman." 

Otonomi - "Saya ingin bebas." 

Tiga Pertanyaan untuk Menemukan Motivator 

1. "Apa yang membuat Anda antusias?" - Dengarkan apa yang membuat mata mereka berbinar. 

2. "Apa yang Anda lakukan di waktu luang?" - Ini menunjukkan nilai intrinsik mereka. 

3. "Jika uang bukan masalah, apa yang akan Anda lakukan?" - Ini mengungkap passion sejati. 

Kisah Motivasi yang Salah 

Maxwell menceritakan tentang manajer yang mencoba memotivasi karyawannya dengan bonus uang—tapi karyawan itu tidak berubah. 

Mengapa? Karena yang dia inginkan bukan uang. Yang dia inginkan adalah pengakuan

Ketika manajer mengubah pendekatannya—secara publik menghargai kontribusinya di meeting, memberikan plakat, memuji di depan CEO—karyawan itu bertransformasi. 

Pelajaran: Motivasi yang efektif adalah personal, bukan universal.

 


Penutup: 20 Kualitas People Person 

Maxwell menutup dengan daftar 20 kualitas yang membedakan people person sejati: 

1. Genuine interest - Tertarik pada orang lain secara tulus 

2. Perspective - Melihat dari sudut pandang orang lain 

3. Energy - Membawa energi positif 

4. Integrity - Dapat dipercaya 

5. Good listener - Benar-benar mendengar 

6. Encourager - Mengangkat orang lain 

7. Sense of humor - Tidak terlalu serius 

8. Forgiver - Cepat memaafkan 

9. Follow-through - Melakukan apa yang dijanjikan 

10. Available - Bisa dihubungi 

11. Flexible - Tidak kaku 

12. Patient - Memberi waktu pada orang 

13. Positive - Melihat yang baik 

14. Confidential - Bisa menyimpan rahasia 

15. Growing - Terus belajar dan berkembang 

16. Grateful - Menghargai orang dan kesempatan 

17. Humble - Tidak arogan 

18. Initiator - Mengambil langkah pertama 

19. Servant - Melayani, bukan dilayani 

20. Secure - Tidak terancam oleh kesuksesan orang lain 

Pertanyaan refleksi: Berapa dari 20 ini yang Anda miliki hari ini? 

Formula Sederhana Maxwell 

Di akhir buku, Maxwell memberikan formula yang powerful dalam kesederhanaannya:

Kesuksesan = Technical Skills (15%) × People Skills (85%) 

Tidak peduli seberapa pintar Anda. Tidak peduli seberapa berbakat Anda. Jika Anda tidak bisa bekerja dengan orang, kesuksesan Anda akan terbatas. 

Tapi jika Anda menguasai seni berhubungan dengan orang—menghargai mereka, mendorong mereka, memahami mereka, melayani mereka—tidak ada yang bisa menghentikan Anda. 

Tantangan untuk Anda 

Maxwell menutup dengan tantangan praktis: 

Minggu ini:

1. Berikan apresiasi spesifik kepada 3 orang 

2. Dorong seseorang yang sedang down 

3. Minta maaf atau maafkan seseorang yang Anda punya konflik

4. Pelajari tipe kepribadian orang terdekat Anda 

5. Dengarkan tanpa interupsi dalam percakapan berikutnya

Bulan ini: 

1. Identifikasi lensa yang Anda pakai 

2. Ciptakan lingkungan positif di satu area hidup Anda

3. Cari tahu motivator dari 5 orang penting dalam hidup Anda

4. Baca ulang 20 kualitas dan pilih 3 untuk dikembangkan 

Tahun ini: 

1. Jadilah mentor untuk seseorang 

2. Bangun Mastermind group 

3. Perbaiki satu hubungan yang rusak 

4. Ukur kembali 20 kualitas dan lihat pertumbuhan Anda

 


Kata Penutup: Investasi Terbaik 

Maxwell menulis di halaman terakhir: 

"Investasi terbaik yang pernah Anda buat bukanlah di saham, properti, atau bisnis. Investasi terbaik adalah di ORANG." 

Karena: 

● Bisnis dibangun oleh orang 

● Produk dibuat oleh orang 

● Layanan diberikan oleh orang 

● Kehidupan dibagi dengan orang 

Tanpa people skills, Anda mungkin mencapai kesuksesan jangka pendek melalui bakat atau keberuntungan. 

Tapi kesuksesan jangka panjang—yang bermakna, yang berkelanjutan, yang memberikan kepuasan sejati—selalu melibatkan orang

Jadi mulai hari ini: 

● Lihat orang dengan lensa nilai 

● Hargai mereka dengan tulus 

● Ciptakan lingkungan yang mengangkat 

● Dorong mereka untuk menjadi versi terbaik diri mereka 

● Maafkan dengan cepat 

● Pahami perbedaan mereka 

● Temukan apa yang memotivasi mereka 

Dan lihat bagaimana hidup Anda berubah—bukan karena Anda menjadi orang yang berbeda, tapi karena Anda menjadi people person. 

Seperti yang Maxwell katakan: 

"Orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli." 

Sekarang pergilah dan tunjukkan bahwa Anda peduli.

 


Tentang Buku Asli 

"Be A People Person: Effective Leadership Through Effective Relationships" pertama kali diterbitkan pada 1989 oleh Victor Books dan telah menjadi salah satu karya klasik John C. Maxwell. 

John C. Maxwell adalah penulis, pembicara, dan ahli kepemimpinan yang telah menulis lebih dari 100 buku dengan penjualan total melebihi 30 juta eksemplar. Dia telah melatih lebih dari 6 juta pemimpin di seluruh dunia. 

Buku ini lahir dari pengalaman Maxwell sebagai pendeta, konsultan organisasi, dan pelatih kepemimpinan selama puluhan tahun. Dia melihat secara langsung bagaimana people skills—atau ketiadaannya—membuat atau menghancurkan karir, hubungan, dan organisasi. 

Untuk pemahaman lengkap tentang cara membangun hubungan yang transformatif, sangat disarankan membaca buku aslinya. Maxwell menulis dengan gaya yang personal, penuh cerita, dan sangat praktis. Setiap chapter dilengkapi dengan action steps yang bisa langsung diterapkan. 

Ringkasan ini menangkap esensi, tapi buku lengkap memberikan kedalaman, contoh tambahan, dan nuansa yang akan memperkaya pemahaman Anda. 

Sekarang ambil langkah pertama: pilih satu orang hari ini dan praktikkan satu prinsip dari buku ini. 

Karena people skills bukan teori—ini adalah praktik. 

Jadilah people person. Bukan karena Anda harus. Tapi karena itu membuat hidup lebih kaya, lebih bermakna, dan lebih indah.