17 Essential Qualities of a Team Player

John C. Maxwell


Meja yang Retak 

Bayangkan sebuah meja kayu solid dengan empat kaki. 

Tiga kaki kuat, kokoh, terbuat dari kayu jati terbaik. Tapi kaki keempat? Rapuh. Retak. Hampir patah. 

Apa yang terjadi ketika Anda meletakkan beban di atas meja itu? Tidak peduli seberapa kuat tiga kaki lainnya—meja itu akan miring, goyah, dan akhirnya runtuh. 

Ini adalah metafora sempurna untuk tim. 

John C. Maxwell—penulis lebih dari 100 buku tentang kepemimpinan dan pakar yang telah melatih jutaan pemimpin di seluruh dunia—menghabiskan puluhan tahun mengamati satu kebenaran sederhana yang sering dilupakan: 

Tim hanya sekuat anggota terlemahnya. 

Anda bisa punya superstar, genius, dan pekerja keras. Tapi jika ada satu orang yang tidak berkomitmen, tidak bisa diandalkan, atau hanya memikirkan diri sendiri—seluruh tim menderita. 

"17 Essential Qualities of a Team Player" lahir dari observasi Maxwell terhadap ratusan tim—dari tim olahraga hingga perusahaan Fortune 500, dari organisasi nonprofit hingga tim militer. Dia bertanya: 

"Apa yang membuat seseorang menjadi team player yang setiap tim inginkan? Bukan sekadar toleransi, tapi benar-benar inginkan?" 

Jawabannya bukan tentang bakat luar biasa. Bukan tentang IQ tertinggi. Bukan tentang pengalaman terpanjang. 

Jawabannya adalah 17 kualitas karakter yang bisa dipelajari, dipraktikkan, dan dikembangkan oleh siapa saja.

Kualitas-kualitas ini membedakan orang yang "hanya ada di tim" dengan orang yang membuat tim menjadi lebih baik. 

Mari kita mulai perjalanan untuk menjadi orang yang setiap tim perjuangkan untuk dipertahankan.

 


Bagian 1: Fondasi—Kualitas yang Membangun Kepercayaan 

1. Dependable (Dapat Diandalkan)—Melakukan Apa yang Anda Katakan

Tim hancur ketika anggota tidak bisa diandalkan. 

Maxwell menceritakan kisah tentang Dave, seorang desainer grafis berbakat di sebuah agensi. Dave selalu punya ide brilian. Presentasinya memukau klien. Tapi ada satu masalah: dia tidak pernah menepati deadline. 

"Saya akan selesaikan besok pagi," katanya. Tapi besoknya tidak ada. "Sore ini pasti selesai." Tapi sorenya dia buat alasan lagi. 

Rekan timnya harus bekerja lembur untuk menutupi. Klien mulai kehilangan kepercayaan. Manager stres. Dan meskipun Dave punya bakat luar biasa, akhirnya dia dipecat—bukan karena tidak kompeten, tapi karena tidak bisa diandalkan. 

Maxwell menulis: "Bakat membuat Anda diperhatikan. Tapi keandalan membuat Anda dipertahankan." 

Bagaimana menjadi dependable: 

Janji hanya apa yang bisa Anda tepati. Lebih baik under-promise dan over-deliver.

Komunikasikan lebih awal jika ada masalah. Jangan tunggu sampai deadline untuk bilang tidak bisa selesai. 

● Konsisten dalam hal-hal kecil. Orang menilai keandalan Anda dari punctuality, follow-through, dan detail kecil lainnya. 

2. Committed (Berkomitmen)—Memberikan Lebih dari yang Diharapkan

Ada perbedaan besar antara keterlibatan dan komitmen. 

Maxwell menggunakan analogi sarapan: "Dalam telur dan bacon, ayam terlibat—tapi babi berkomitmen." 

Orang yang terlibat melakukan yang diminta. Orang yang berkomitmen melakukan apapun yang diperlukan. 

Kisah tentang Margaret Thatcher ilustrasi sempurna. Ketika menjadi Perdana Menteri Inggris, Thatcher sering bekerja 18 jam sehari. Stafnya mengeluh kelelahan. Thatcher menjawab dengan sederhana: 

"Jika Anda ingin sesuatu dikatakan, minta laki-laki. Jika Anda ingin sesuatu dilakukan, minta perempuan."

Bukan tentang gender—tapi tentang komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan bagaimanapun caranya. 

Tanda-tanda komitmen sejati: 

● Anda memikirkan kesuksesan tim bahkan di luar jam kerja. 

● Anda bersedia mengorbankan kenyamanan pribadi untuk tujuan tim.

● Anda tidak mudah menyerah ketika situasi sulit. 

3. Disciplined (Disiplin)—Melakukan yang Benar Meskipun Sulit 

Disiplin adalah melakukan yang perlu dilakukan, ketika perlu dilakukan, bahkan ketika Anda tidak ingin melakukannya. 

Maxwell menceritakan tentang Jerry Rice—wide receiver NFL yang dianggap salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Tapi Rice bukan atlet paling cepat atau paling kuat. 

Rahasianya? Disiplin ekstrem dalam latihan. 

Sementara pemain lain pulang setelah latihan wajib, Rice terus berlatih. Di musim off-season, dia lari di bukit-bukit dengan kecepatan sprint. Setiap hari. Tidak peduli cuaca. Tidak peduli perasaan. 

Tim percaya pada Rice karena mereka tahu: dia akan melakukan pekerjaannya, setiap saat, tanpa pengawasan. 

Disiplin dalam tim berarti: 

● Tidak butuh diingatkan untuk melakukan tanggung jawab Anda.

● Mengontrol emosi ketika situasi tegang. 

● Fokus pada prioritas meskipun ada distraksi.

 


Bagian 2: Kolaborasi—Kualitas yang Membangun Sinergi

4. Collaborative (Kolaboratif)—Bekerja Bersama untuk Tujuan Bersama

Maxwell mengatakan: "Teamwork membuat dream work." 

Tapi kolaborasi bukan hanya tentang bekerja bersama—ini tentang bekerja bersama dengan ego di check. 

Kisah Wright Bersaudara ilustrasi powerful. Orville dan Wilbur Wright—penemu pesawat terbang pertama—bekerja dengan kolaborasi sempurna. Mereka berdebat keras tentang desain, tapi tidak pernah membiarkan ego menghalangi. 

Sementara itu, Samuel Langley—saintis brilian dengan funding pemerintah yang jauh lebih besar—gagal karena dia kerja sendiri dan menolak input orang lain. 

Wright bersaudara terbang pertama kali bukan karena lebih pintar, tapi karena lebih kolaboratif. 

Cara menjadi lebih kolaboratif: 

● Dengarkan sebelum berbicara. Berikan ruang untuk ide orang lain.

● Kredit kesuksesan ke tim, ambil tanggung jawab atas kegagalan sendiri.

● Cari complementary strengths—bukan klon dari diri Anda. 

5. Communicative (Komunikatif)—Berbagi Informasi dengan Jelas

Tim tidak bisa bekerja jika komunikasi buruk. 

Maxwell menceritakan pengalamannya melatih tim basket anak-anak. Dia punya satu pemain—Kyle—yang sangat skilled. Tapi Kyle tidak pernah memberitahu rekan timnya apa yang dia rencanakan. 

Kyle dribble, lalu tiba-tiba pass—tanpa kontak mata, tanpa signal. Rekannya tidak siap. Bola jatuh. Kesempatan hilang. 

Coach Maxwell mengatakan ke Kyle: "Bakat tanpa komunikasi adalah seperti mobil balap tanpa kemudi. Cepat, tapi menabrak." 

Komunikasi efektif dalam tim: 

Proaktif, bukan reaktif. Jangan tunggu orang bertanya—informasikan sebelumnya.

● Jelas dan konkret. Hindari asumsi. Klarifikasi ekspektasi. 

● Dua arah. Jangan hanya bicara—dengarkan feedback.

6. Enlarging (Memperbesar Orang Lain)—Membuat Rekan Lebih Baik

Ini adalah kualitas yang memisahkan team player biasa dari yang extraordinary. 

Orang yang "enlarging" tidak hanya melakukan pekerjaan mereka dengan baik—mereka membuat orang lain di sekitar mereka menjadi lebih baik. 

Maxwell menggunakan contoh Magic Johnson—point guard legendaris LA Lakers. Magic bukan scorer terbanyak di timnya. Tapi dia membuat semua pemain lain bermain lebih baik dengan passing, encouragement, dan leadership. 

Kareem Abdul-Jabbar berkata tentang Magic: "Dia membuat saya ingin bermain lebih keras, lebih pintar, lebih unselfish. Dia adalah katalisator yang membuat kami semua lebih baik." 

Cara menjadi enlarging: 

● Rayakan kesuksesan orang lain dengan tulus. 

● Bantu rekan mengembangkan kekuatan mereka. 

● Berikan encouragement, terutama ketika situasi sulit.

 


Bagian 3: Karakter—Kualitas yang Membangun Integritas

7. Selfless (Tanpa Pamrih)—Menempatkan Tim di Atas Ego 

Maxwell menulis: "Tidak ada 'saya' dalam TEAM. Tapi ada dalam WIN—dan itulah masalahnya." 

Orang yang egois menghancurkan tim dari dalam. Mereka mencuri credit. Mereka mengutamakan statistik pribadi di atas kemenangan tim. Mereka mencari spotlight bahkan ketika itu merugikan grup. 

Contoh powerful: Michael Jordan di tahun-tahun awalnya. 

Jordan adalah pemain paling berbakat di NBA. Tapi Bulls tidak pernah memenangkan championship sampai Jordan belajar menjadi lebih selfless—passing ke rekan yang open shot, bermain defense lebih keras, dan menerima bahwa kesuksesannya terikat pada kesuksesan tim. 

Ketika ego Jordan berkurang, championship-nya meningkat. Enam ring championship setelah dia belajar menjadi team player sejati. 

Selflessness berarti: 

● Bersedia bermain peran yang tidak glamor demi tim. 

● Memberikan assist sama pentingnya dengan scoring. 

● Sukses tim lebih penting dari penghargaan pribadi. 

8. Solution-Oriented (Berorientasi Solusi)—Fokus pada Jawaban, Bukan Masalah 

Setiap tim punya dua tipe orang: pembawa masalah dan pembawa solusi. 

Pembawa masalah: "Ini tidak akan berhasil. Ada terlalu banyak obstacle. Situasinya impossible." 

Pembawa solusi: "Ini challenging. Tapi bagaimana kalau kita coba pendekatan ini? Atau mungkin kita bisa..." 

Maxwell menceritakan tentang Tom Landry—coach legendaris Dallas Cowboys. Ketika timnya kalah atau menghadapi kesulitan, Landry tidak pernah membuang waktu menyalahkan. Dia langsung bertanya: 

"What's next? Bagaimana kita fix ini?"

Culture solution-oriented ini membuat Cowboys menjadi salah satu franchise paling sukses dalam sejarah NFL. 

Menjadi solution-oriented: 

● Setiap kali Anda identifikasi masalah, usulkan minimal satu solusi.

● Fokus pada apa yang bisa dikendalikan, bukan yang tidak bisa. 

● Tanya "Bagaimana kita bisa?" alih-alih "Mengapa kita tidak bisa?"

9. Tenacious (Gigih)—Tidak Mudah Menyerah 

Kegigihan adalah menolak untuk berhenti ketika situasi sulit. 

Winston Churchill merangkum ini dalam pidato tersingkatnya kepada mahasiswa: "Never give in. Never, never, never, never." 

Maxwell menceritakan tentang Truett Cathy—pendiri Chick-fil-A. Cathy memulai bisnis kecil-kecilan yang hampir bangkrut beberapa kali. Dia mengalami kebakaran yang menghancurkan restorannya. Dia menghadapi penolakan dari investor dan banker. 

Tapi dia tidak berhenti. Satu langkah kecil setiap hari. Perbaiki, coba lagi, improve. 

Sekarang Chick-fil-A adalah salah satu chain restoran paling sukses di Amerika—bukan karena Cathy paling pintar atau paling beruntung, tapi karena dia paling gigih. 

Kegigihan dalam tim: 

● Tidak panik ketika plan A gagal—pindah ke plan B. 

● Melihat kegagalan sebagai feedback, bukan final. 

● Menginspirasi orang lain untuk tidak menyerah ketika Anda tidak menyerah.

 


Bagian 4: Kompetensi—Kualitas yang Membangun Performa 

10. Competent (Kompeten)—Berkualitas dalam Apa yang Anda Lakukan

Maxwell blak-blakan: "Niat baik tidak cukup. Anda harus bisa melakukan pekerjaan." 

Tidak peduli seberapa baik attitude Anda, seberapa ramah Anda, atau seberapa committed Anda—jika Anda tidak kompeten dalam peran Anda, Anda membebani tim. 

Bayangkan tim sepak bola di mana setiap orang baik hati dan supportif. Bagus! Tapi jika goalkeeper tidak bisa menangkap bola, striker tidak bisa mencetak gol, dan defender tidak bisa tackle—mereka akan kalah. 

Kompetensi adalah harga masuk untuk menjadi team player yang berharga.

Membangun kompetensi: 

● Kuasai fundamental dari peran Anda. 

● Terus belajar dan update skill. 

● Minta feedback tentang bagaimana Anda bisa improve. 

11. Prepared (Siap)—Antisipasi Sebelum Bertindak 

Orang yang tidak siap membuat seluruh tim menunggu atau mengulang pekerjaan.

Maxwell menceritakan pengalamannya sebagai pembicara. Sebelum setiap acara, dia: 

● Research audience 

● Tes teknologi 

● Rehearse materi 

● Siapkan backup plan jika sesuatu salah 

Hasilnya? Dia hampir tidak pernah mengalami kegagalan presentasi—bukan karena beruntung, tapi karena sangat prepared. 

Kontraskan dengan speaker yang datang terlambat, tidak tahu audiencenya, dan baru buka laptop 5 menit sebelum presentasi. Tidak peduli seberapa pintar mereka, mereka terlihat unprofessional. 

Persiapan dalam tim: 

● Baca agenda sebelum meeting—datang dengan ide, bukan hanya telinga.

● Antisipasi pertanyaan dan challenge. 

● Punya contingency plan untuk yang bisa salah.

12. Self-Improving (Mengembangkan Diri)—Terus Bertumbuh

Maxwell percaya: "Jika Anda tidak bertumbuh, Anda mati—secara profesional." 

Dalam dunia yang berubah cepat, skill yang relevan hari ini bisa usang besok. Team player terbaik tidak pernah berhenti belajar. 

Contoh: Ray Kroc—yang mengubah McDonald's dari restoran kecil menjadi franchise global. Di usia 52 tahun—ketika kebanyakan orang berpikir tentang pensiun—Kroc masih belajar strategi bisnis baru, teknologi baru, tren consumer baru. 

Dia bilang: "Jika Anda hijau, Anda bertumbuh. Jika Anda matang, Anda membusuk."

Mindset self-improvement: 

● Baca setidaknya satu buku per bulan tentang bidang Anda. 

● Minta mentor atau coach. 

● Keluar dari comfort zone secara teratur.

 


Bagian 5: Sikap—Kualitas yang Membangun Atmosfer

13. Enthusiastic (Antusias)—Membawa Energi Positif 

Antusiasme adalah contagious. Begitu juga ketiadaannya. 

Maxwell menulis: "Orang mengikuti pemimpin dengan visi. Tapi mereka bertahan karena antusiasme." 

Pikirkan tentang orang di tim Anda yang selalu membawa energi positif. Ketika mereka masuk ruangan, atmosfer berubah. Orang tersenyum. Meeting menjadi lebih produktif. Bahkan tugas membosankan terasa lebih ringan. 

Sekarang pikirkan kebalikannya—orang yang selalu mengeluh, skeptis, negatif. Mereka menguras energi semua orang. 

Walt Disney dikenal dengan antusiasmenya yang tidak pernah pudar. Di usia 60-an, ketika membangun Disneyland, investor skeptis. "Theme park untuk anak-anak? Tidak akan profitable." 

Tapi Disney terus excited. Energinya menular ke tim. Dan mereka membangun sesuatu yang revolutionary—bukan karena punya semua jawaban, tapi karena punya antusiasme yang tidak tergoyahkan. 

Membangun antusiasme: 

● Temukan meaning dalam pekerjaan Anda—kenapa itu penting? 

● Rayakan small wins. 

● Fokus pada progress, bukan perfection. 

14. Adaptable (Fleksibel)—Menyesuaikan Ketika Situasi Berubah

Satu-satunya konstanta dalam hidup adalah perubahan. 

Maxwell menggunakan analogi: "Orang yang tidak fleksibel seperti pohon oak yang kaku—strong tapi rapuh. Orang adaptable seperti bambu—bengkok tapi tidak patah." 

Kisah Blockbuster vs Netflix adalah pelajaran tentang adaptabilitas. 

Blockbuster punya semua keunggulan—brand recognition, ribuan toko, customer base besar. Tapi mereka tidak adaptable. Ketika dunia bergerak ke streaming, Blockbuster tetap bertahan pada model rental fisik. 

Netflix—bahkan mengubah model bisnis mereka sendiri dari DVD-by-mail ke streaming. Mereka fleksibel. Dan mereka menang.

Adaptabilitas dalam tim: 

● Jangan defensif terhadap perubahan—curious terhadapnya. 

● Mau belajar skill baru ketika peran berubah. 

● Liat perubahan sebagai kesempatan, bukan ancaman. 

15. Intentional (Sengaja)—Bertindak dengan Tujuan 

Banyak orang reaktif—mereka merespons apa yang terjadi pada mereka.

Team player terbaik adalah proaktif—mereka sengaja menciptakan hasil yang mereka inginkan. 

Maxwell menceritakan tentang John Wooden—coach basket legendaris UCLA yang memenangkan 10 championship dalam 12 tahun. 

Wooden sengaja dalam setiap aspek: 

● Latihan direncanakan hingga menit 

● Dia mengajar pemain cara mengikat sepatu dengan benar (untuk menghindari blister)

● Dia punya sistem untuk setiap situasi game 

Tidak ada yang random. Semua intentional. Dan hasilnya luar biasa. 

Being intentional: 

● Set tujuan spesifik untuk kontribusi Anda di tim. 

● Review progress secara regular. 

● Tanya: "Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membuat tim lebih baik?"

 


Bagian 6: Perspektif—Kualitas yang Membangun Visi

16. Mission-Conscious (Sadar Misi)—Fokus pada Gambaran Besar

Detail penting. Tapi jika Anda terlalu fokus pada detail, Anda kehilangan forest for the trees. 

Team player yang mission-conscious selalu tahu mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan—bukan hanya apa yang mereka lakukan. 

Maxwell menceritakan kisah klasik: Tiga tukang batu ditanya apa yang mereka lakukan. 

Tukang pertama: "Saya memotong batu." Tukang kedua: "Saya membuat dinding." Tukang ketiga: "Saya membangun katedral." 

Ketiganya melakukan pekerjaan fisik yang sama. Tapi yang ketiga memiliki mission consciousness—dia melihat gambaran besar. 

Orang yang mission-conscious: 

● Membuat keputusan berdasarkan impact jangka panjang, bukan convenience jangka pendek. 

● Tidak terjebak dalam drama office politics—mereka fokus pada mission.

● Mengingatkan tim tentang "why" ketika semua orang lelah. 

17. Relational (Relasional)—Memprioritaskan Orang 

Di akhir hari, tim adalah tentang orang. 

Maxwell menulis: "Orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli." 

Team player terbaik bukan yang paling pintar atau paling skilled—mereka yang paling peduli tentang rekan tim mereka. 

Kisah tentang Mother Teresa powerful di sini. Ketika ditanya bagaimana dia bisa melakukan pekerjaan yang begitu berat dengan orang-orang yang sekarat, dia menjawab sederhana: 

"Saya melihat Yesus dalam setiap orang yang saya layani." 

Dia relational—dia melihat humanity, dignity, dan value dalam setiap orang.

Dalam konteks bisnis, ini berarti: 

Tahu nama rekan kerja Anda—dan sesuatu tentang kehidupan mereka.

● Peduli ketika mereka mengalami kesulitan. 

● Rayakan bersama ketika ada kabar baik.

 


Penutup: Menjadi Orang yang Setiap Tim Inginkan

John C. Maxwell menutup buku ini dengan refleksi personal: 

"Saya telah menjadi bagian dari tim hebat dan tim yang buruk. Dan saya bisa memberitahu Anda perbedaannya tidak pernah tentang bakat—itu selalu tentang karakter." 

Tim dengan bakat luar biasa tapi karakter buruk implode. Tim dengan bakat rata-rata tapi karakter luar biasa thrive. 

Pertanyaan Evaluasi Diri 

Dari 17 kualitas, berikan nilai 1-10 untuk diri Anda: 

□ Dependable - Apakah orang bisa mengandalkan Anda? □ Committed - Apakah Anda berkomitmen penuh atau hanya setengah hati? □ Disciplined - Apakah Anda melakukan yang benar tanpa pengawasan? □ Collaborative - Apakah Anda bekerja dengan baik dengan orang lain? □ Communicative - Apakah Anda komunikasi proaktif dan jelas? □ Enlarging - Apakah Anda membuat orang lain lebih baik? □ Selfless - Apakah Anda menempatkan tim di atas ego? □ Solution-Oriented - Apakah Anda membawa jawaban atau hanya masalah? □ Tenacious - Apakah Anda gigih ketika situasi sulit? □ Competent - Apakah Anda berkualitas dalam pekerjaan Anda? □ Prepared - Apakah Anda siap atau sering unprepared? □ Self-Improving - Apakah Anda terus bertumbuh? □ Enthusiastic - Apakah Anda membawa energi positif? □ Adaptable - Apakah Anda fleksibel dengan perubahan? □ Intentional - Apakah Anda proaktif atau hanya reaktif? □ Mission-Conscious - Apakah Anda fokus pada gambaran besar? □ Relational - Apakah Anda peduli pada orang? 

Anda tidak perlu sempurna di semua 17. Tapi Anda perlu aware dan terus improve.

Rencana Aksi 

Maxwell menyarankan pendekatan sederhana: 

1. Pilih 3 kualitas terlemah Anda. 

2. Fokus pada satu kualitas per bulan. 

3. Set action steps konkret untuk improve. 

4. Minta accountability dari rekan tim. 

Misalnya, jika "Communicative" adalah kelemahan: 

● Mulai send update project mingguan tanpa diminta 

● Klarifikasi ekspektasi di awal setiap tugas 

● Minta feedback tentang kejelasan komunikasi Anda

Kebenaran Terakhir 

Maxwell menutup dengan statement powerful: 

"Anda tidak bisa memilih apakah akan menjadi bagian dari tim atau tidak—hampir setiap pekerjaan dan kehidupan memerlukan teamwork. Tapi Anda BISA memilih menjadi tipe team player seperti apa." 

Anda bisa menjadi anggota yang hanya "cukup baik"—yang ditoleransi tapi tidak dihargai. 

Atau Anda bisa menjadi anggota yang setiap tim ingin pertahankan—yang membuat tim lebih baik hanya dengan kehadiran Anda. 

Pilihannya ada pada Anda. Dan pilihan itu dimulai hari ini. 

Dengan 17 kualitas ini, Anda punya roadmap. Sekarang tugasnya adalah eksekusi—satu kualitas, satu tindakan, satu hari pada satu waktu. 

Karena seperti yang Maxwell katakan: 

"Teamwork membuat dream work. Tapi itu dimulai dengan YOU being the kind of team player yang membuat teamwork mungkin."

 


Tentang Buku Asli 

"17 Essential Qualities of a Team Player: Becoming the Kind of Person Every Team Wants" diterbitkan oleh Thomas Nelson pada tahun 2002. 

John C. Maxwell adalah salah satu pakar kepemimpinan paling berpengaruh di dunia. Dia telah menulis lebih dari 100 buku yang telah terjual lebih dari 31 juta eksemplar dalam 50 bahasa. Dia adalah pendiri The John Maxwell Company, The John Maxwell Team, dan EQUIP—organisasi nonprofit yang telah melatih lebih dari 6 juta pemimpin di seluruh dunia. 

Buku ini adalah bagian dari seri "Qualities" yang mencakup "The 21 Irrefutable Laws of Leadership" dan "The 21 Indispensable Qualities of a Leader." 

Yang membuat buku ini berbeda: ini fokus pada anggota tim, bukan hanya pemimpin. Maxwell percaya bahwa kesuksesan organisasi bergantung pada setiap orang menjadi team player berkualitas—bukan hanya menunggu pemimpin yang hebat. 

Untuk pemahaman lengkap dengan lebih banyak cerita, contoh, dan latihan praktis, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi 17 kualitas, tapi buku lengkap memberikan depth dan aplikasi yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam format ringkas. 

Sekarang pergilah dan jadilah team player yang setiap tim perjuangkan untuk dipertahankan. 

Karena dunia tidak kekurangan talented individuals. Dunia kekurangan team players berkualitas. 

Jadilah yang langka. Jadilah yang berharga. Jadilah orang yang setiap tim inginkan.