The Lazy Way to Invest in Real Estate

Robert T. Kiyosaki


Pertanyaan yang Mengubah Permainan 

Bayangkan ini: Anda bangun pagi Senin. Cek ponsel. Ada notifikasi transfer masuk ke rekening—Rp 15 juta. Bukan gaji. Bukan bonus. Tapi uang sewa dari properti yang Anda miliki. 

Anda belum melakukan apa-apa hari ini. Bahkan belum menyikat gigi. Tapi uang sudah masuk. 

Minggu depan, transfer lagi. Bulan depan, transfer lagi. Tahun depan—dengan atau tanpa Anda bekerja—uang terus mengalir. 

Ini bukan fantasi. Ini kenyataan bagi investor properti yang paham sistemnya. 

Tapi tunggu—sebelum Anda berpikir "Ah, itu butuh modal ratusan juta" atau "Saya tidak punya waktu urus properti," dengarkan dulu. 

Robert Kiyosaki, penulis bestseller "Rich Dad Poor Dad," punya pertanyaan sederhana yang mengubah cara jutaan orang melihat investasi properti: 

"Bagaimana jika Anda bisa berinvestasi properti tanpa harus kerja keras seperti tukang, tanpa modal besar, dan tanpa harus mengurusi detail setiap hari?" 

Kedengarannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan? Itulah yang kebanyakan orang pikirkan—sampai mereka memahami apa yang Kiyosaki sebut sebagai "The Lazy Way." 

"Lazy" di sini bukan berarti pemalas. Ini tentang bekerja cerdas, bukan keras. Tentang membangun sistem yang bekerja untuk Anda, bukan Anda bekerja untuk sistem. 

Mari kita mulai dengan pertanyaan paling mendasar: Apa bedanya investor malas dengan investor bodoh?

 


Bagian 1: Malas vs Bodoh—Perbedaan yang Mengubah Hidup 

Definisi "Malas" yang Salah Kaprah 

Ketika Kiyosaki bilang "lazy investor," kebanyakan orang langsung salah paham. Mereka pikir ini tentang duduk-duduk, tidak melakukan apa-apa, dan berharap uang datang dari langit. 

Itu bukan lazy. Itu bodoh. 

Lazy investor yang dimaksud Kiyosaki adalah seseorang yang: 

● Bekerja keras di AWAL untuk membangun sistem 

● Kemudian membiarkan sistem itu bekerja dengan autopilot 

● Menggunakan leverage—uang orang lain, waktu orang lain, keahlian orang lain

● Fokus pada hasil jangka panjang, bukan kesibukan jangka pendek 

Pikirkan ini seperti membangun pabrik. Di awal, Anda kerja keras membangun mesin, melatih karyawan, menyusun sistem produksi. Tapi setelah pabrik jalan, Anda tidak perlu lagi berdiri di lini produksi setiap hari. Anda punya manajer. Punya tim. Punya sistem. 

Properti yang dikelola dengan benar adalah pabrik penghasil uang. 

Investor Aktif vs Investor Pasif 

Kiyosaki membagi investor properti menjadi dua kategori: 

Investor Aktif: 

● Membeli properti, renovasi sendiri 

● Cari penyewa sendiri 

● Urus perbaikan toilet bocor jam 2 pagi 

● Kejar-kejar tagihan sewa yang telat 

● Waktu dan energi habis untuk properti 

Mereka punya properti, tapi properti malah memiliki mereka. Ini bukan investasi—ini kerja paruh waktu yang melelahkan. 

Investor Pasif (Lazy): 

● Membeli properti dengan sistem 

● Punya property manager yang urus semuanya 

● Terima laporan bulanan dan transfer uang 

● Fokus pada strategi, bukan eksekusi harian 

● Waktu dan energi untuk mencari deal berikutnya

Mereka punya properti, dan properti bekerja untuk mereka. Ini investasi sejati—aset yang menghasilkan cash flow tanpa memakan waktu Anda. 

Pertanyaan kunci yang Kiyosaki ajukan: 

"Apakah Anda ingin memiliki 1 properti yang Anda urus sendiri dengan susah payah, atau 10 properti yang dikelola orang lain sementara Anda tidur?" 

Kebanyakan orang memilih yang pertama karena mereka takut "kehilangan kontrol." Padahal, kontrol sejati adalah ketika sistem Anda berjalan bahkan tanpa Anda.

 


Bagian 2: Kekuatan OPM—Other People's Money

Mindset Kaya: Jangan Gunakan Uang Sendiri 

Ini salah satu konsep paling kontroversial yang Kiyosaki ajarkan: 

"Jangan pernah gunakan uang Anda sendiri untuk investasi properti."

Apa? Lalu pakai uang siapa? 

Uang orang lain. 

Sebelum Anda berpikir ini ilegal atau tidak etis, dengarkan penjelasannya.

Ketika Anda beli properti seharga 1 miliar dengan uang cash Anda sendiri, apa yang terjadi? 

● 1 miliar uang Anda terkunci di properti 

● Anda punya 1 properti 

● Return on investment (ROI) terbatas pada cash flow dari 1 properti itu

Sekarang bandingkan dengan skenario ini: 

Anda beli properti seharga 1 miliar dengan: 

● Down payment 200 juta (20%) 

● KPR 800 juta dari bank 

Dengan 1 miliar, Anda bisa beli 5 properti (200 juta x 5). 

Lima properti menghasilkan cash flow 5x lebih besar. Lima properti nilai asetnya naik 5x lebih cepat. Lima properti memberikan diversifikasi risiko. 

Ini adalah leverage. 

Dan yang lebih brilian: cicilan KPR dibayar oleh penyewa Anda. Bukan Anda. 

Jadi siapa yang sebenarnya membeli properti itu? Penyewa. Anda hanya jadi perantara yang pintar. 

Sumber OPM yang Bisa Anda Manfaatkan 

Kiyosaki mengidentifikasi beberapa sumber "uang orang lain" yang legal dan etis: 

1. Bank (KPR/Kredit) Sumber paling umum. Bank senang meminjamkan uang untuk properti karena ada jaminan fisik. Interest rate rendah untuk investasi jangka panjang.

2. Investor/Partner Anda bawa deal, mereka bawa uang. Profit dibagi sesuai kesepakatan. Anda dapat properti tanpa modal. 

3. Penjual (Owner Financing) Penjual yang butuh jual cepat kadang mau memberikan "kredit" langsung. Anda bayar cicilan ke penjual, bukan bank. 

4. Penyewa (Deposit & Sewa di Depan) Penyewa bayar deposit dan sewa beberapa bulan di depan. Uang ini bisa dipakai untuk modal awal atau renovasi. 

5. Pemerintah (Subsidi/Program KPR) Di beberapa negara, ada program subsidi untuk first-time buyer atau properti tertentu. Manfaatkan. 

Prinsip inti: Uang Anda yang terbatas harus di-leverage sebanyak mungkin. Satu rupiah Anda harus menghasilkan 5-10 rupiah return.

 


Bagian 3: Memilih Properti yang "Bekerja Sendiri"

Kriteria Properti Lazy Investor 

Tidak semua properti cocok untuk strategi lazy investor. Kiyosaki punya checklist ketat:

1. Positive Cash Flow dari Hari Pertama 

Rumusnya sederhana: 

● Pendapatan sewa bulanan > (cicilan + biaya maintenance + pajak + asuransi) 

Jika properti tidak menghasilkan cash flow positif dari awal, jangan beli. Ini bukan investasi—ini beban. 

2. Lokasi dengan Demand Tinggi 

Properti di lokasi yang selalu ada penyewa: 

● Dekat universitas (mahasiswa selalu butuh tempat tinggal) 

● Dekat area industri/kantor (pekerja butuh tempat tinggal) 

● Dekat transportasi publik 

● Area yang berkembang (gentrification) 

Lokasi buruk = properti kosong = nol cash flow. 

3. Properti yang Mudah Dikelola 

Lazy investor menghindari: 

● Properti tua yang butuh renovasi besar terus-menerus 

● Properti unik yang susah dicari penyewa 

● Properti di area terpencil yang susah diawasi 

Lazy investor mencari: 

● Apartemen/rumah standar yang mudah disewakan 

● Properti dalam kondisi baik atau butuh renovasi kecil saja 

● Properti yang bisa dikelola oleh property manager tanpa drama 

4. Potensi Apresiasi 

Cash flow itu bagus. Tapi yang lebih bagus: properti yang nilainya naik seiring waktu.

Cari area yang: 

● Pemerintah sedang bangun infrastruktur (jalan tol, MRT, dll)

● Developer besar mulai masuk 

● Gentrification sedang terjadi 

Dalam 5-10 tahun, properti Anda bisa naik nilai 50-100%. Ini capital gain di atas cash flow.

Formula Sederhana: 1% Rule 

Kiyosaki suka hal sederhana. Salah satu rule of thumb-nya: 

Sewa bulanan harus minimal 1% dari harga beli properti. 

Contoh: 

● Properti 500 juta → sewa minimal 5 juta/bulan 

● Properti 1 miliar → sewa minimal 10 juta/bulan 

Jika tidak memenuhi 1% rule, kemungkinan besar cash flow tidak akan positif setelah dikurangi semua biaya.

 


Bagian 4: Membangun Tim—Anda Bukan Superhero

Kesalahan Fatal Investor Pemula 

Investor pemula sering berpikir: "Saya harus melakukan semuanya sendiri untuk menghemat biaya." 

Mereka jadi: 

● Tukang (renovasi sendiri) 

● Agen properti (cari penyewa sendiri) 

● Property manager (urus komplain sendiri) 

● Akuntan (hitung sendiri) 

● Lawyer (urus legal sendiri) 

Hasilnya? Mereka kelelahan, kewalahan, dan tidak punya waktu untuk scale. Mereka punya 1 properti dan stuck di situ selamanya. 

Kiyosaki bilang: "Jika Anda melakukan semuanya sendiri, Anda bukan investor—Anda pekerja." 

Tim Inti Lazy Investor 

Untuk benar-benar menjadi lazy investor, Anda butuh minimal 5 orang dalam tim:

1. Property Manager (Pengelola Properti) 

Ini adalah orang PALING PENTING dalam tim Anda. 

Tugas mereka: 

● Cari dan screening penyewa 

● Collect sewa bulanan 

● Urus perbaikan dan maintenance 

● Handle komplain penyewa 

● Laporan bulanan ke Anda 

Biaya: biasanya 5-10% dari pendapatan sewa. Worth every penny. 

Dengan property manager yang baik, Anda benar-benar bisa "lazy"—Anda hanya terima laporan dan transfer uang. 

2. Real Estate Agent (Agen Properti) 

Orang yang membantu Anda cari properti bagus sebelum masuk ke market umum. Mereka punya akses ke "off-market deals"—properti yang belum di-listing publik.

Agen yang baik menghemat waktu Anda berbulan-bulan. 

3. Lawyer (Pengacara Properti) 

Urus semua legal: kontrak, due diligence, permasalahan hukum. 

Jangan pernah skip ini. Satu kesalahan legal bisa cost Anda jutaan rupiah atau bahkan kehilangan properti. 

4. Accountant (Akuntan) 

Urus pajak, pembukuan, struktur kepemilikan. 

Akuntan yang baik bisa save Anda puluhan juta dalam pajak setiap tahun melalui strategi legal tax optimization. 

5. Contractor/Handyman (Tukang Terpercaya) 

Untuk renovasi dan perbaikan. Anda tidak perlu pegang palu—Anda perlu orang yang Anda percaya untuk pegang palu dengan harga reasonable. 

Mentalitas yang Harus Anda Ubah: 

Jangan lihat tim sebagai "biaya." Lihat mereka sebagai investasi yang menghasilkan return. 

Property manager fee 10% terdengar mahal? Tapi mereka membebaskan 20 jam waktu Anda per bulan. Jika 20 jam itu Anda pakai untuk cari deal properti baru, ROI-nya jauh lebih tinggi.

 


Bagian 5: Strategi Memulai dengan Modal Terbatas

"Tapi Saya Tidak Punya Uang!" 

Ini alasan #1 yang Kiyosaki dengar dari orang yang ingin investasi properti tapi tidak mulai-mulai. 

Jawabannya: "Justru karena Anda tidak punya uang, Anda HARUS investasi properti dengan leverage." 

Ini paradoks yang kebanyakan orang tidak paham. 

Jika Anda punya 100 juta cash dan taruh di deposito, dapat 5% setahun = 5 juta.

Jika Anda punya 100 juta dan pakai sebagai DP untuk properti 500 juta: 

● Properti menghasilkan sewa 5 juta/bulan = 60 juta/tahun 

● Dikurangi cicilan dan biaya = cash flow 20 juta/tahun (conservative estimate)

● ROI: 20% dari modal Anda 

Belum termasuk apresiasi properti 5-10% per tahun. 

Leverage mengubah 100 juta Anda menjadi kekuatan 500 juta. 

Strategi Modal Minim Kiyosaki 

1. House Hacking 

Beli properti dengan 2-3 unit (atau rumah dengan kamar kost-an). 

● Anda tinggal di 1 unit 

● Sewakan unit lainnya 

● Sewa dari unit lain bayar cicilan Anda 

Anda tinggal gratis atau bahkan dapat cash flow. Ini strategi paling mudah untuk pemula.

2. Partnership (Kemitraan) 

Anda bawa deal dan kerja, partner bawa uang. 

Profit split: misalnya 50-50 atau 60-40 tergantung negosiasi. 

Anda tidak perlu modal tapi tetap dapat profit dan belajar prosesnya.

3. Wholesaling (Jadi Perantara)

Anda cari properti murah (below market value), ikat dengan kontrak, jual kontrak itu ke investor lain dengan markup. 

Anda tidak beli properti—Anda jual hak beli. Modal minim, risk rendah. 

4. BRRRR Strategy 

Buy - Rehab - Rent - Refinance - Repeat 

Strategi favorit investor properti: 

● Beli properti murah yang butuh renovasi 

● Renovasi (naikan nilai) 

● Sewakan (dapat cash flow) 

● Refinance ke bank (tarik uang berdasarkan nilai baru yang lebih tinggi)

● Uang refinance dipakai beli properti berikutnya 

Dengan strategi ini, modal awal Anda bisa "recycle" berkali-kali.

 


Bagian 6: Kesalahan yang Membuat Investor Bangkrut

Jebakan yang Harus Dihindari 

Kiyosaki pernah rugi jutaan dolar dalam investasi properti. Dia belajar dari kesalahan. Ini kesalahan paling umum: 

1. Negative Cash Flow Sejak Awal 

"Properti ini akan naik nilainya nanti!" 

Ini spekulasi, bukan investasi. Jika properti tidak menghasilkan cash flow dari hari pertama, Anda dalam bahaya. 

Setiap bulan Anda harus keluar uang untuk cover deficit. Satu tahun? Dua tahun? Lima tahun? Berapa lama Anda sanggup? 

Prinsip: Cash flow is king. Apresiasi adalah bonus. 

2. Jatuh Cinta dengan Properti 

"Rumah ini cantik sekali! Saya suka desainnya!" 

Ini bukan rumah untuk Anda tinggali. Ini investasi. Emosi harus dipisahkan dari kalkulasi. 

Yang penting bukan apakah Anda suka—tapi apakah penyewa akan suka dan mau bayar harga yang menghasilkan cash flow positif. 

3. Tidak Punya Dana Darurat 

Properti itu tidak pernah bebas masalah 100%. Akan ada: 

● AC rusak 

● Pipa bocor 

● Atap perlu perbaikan 

● Penyewa tiba-tiba pindah (properti kosong 1-2 bulan) 

Jika Anda tidak punya cash reserve minimal 6 bulan pengeluaran properti, satu kejadian darurat bisa membuat Anda terpaksa jual rugi. 

4. Skip Due Diligence 

"Properti ini deal bagus, harus cepat ambil!" 

Tidak pernah skip: 

● Inspection profesional

● Cek legal dokumen 

● Research area (crime rate, demand, development plan)

● Kalkulasi ulang semua angka 

Satu kesalahan due diligence bisa cost Anda puluhan juta.

5. Tidak Pakai Property Manager Karena "Hemat"

Anda hemat fee 5-10%, tapi habiskan 20 jam/bulan dan stress.

Bahkan lebih buruk: karena Anda bukan profesional, Anda mungkin: 

● Pilih penyewa yang salah (tidak bayar sewa, rusak properti)

● Tidak tahu regulasi dan kena denda 

● Lambat respond masalah (penyewa kabur) 

Hasilnya? Anda rugi lebih banyak daripada fee property manager.

 


Bagian 7: Dari 1 Properti ke 10—Scaling Up

Mindset Scaling 

Kebanyakan orang stuck di 1-2 properti. Mengapa? 

Karena mereka berpikir: "Saya harus urus yang ini dulu dengan sempurna sebelum beli yang lain." 

Ini pemikiran yang salah. 

Scaling bukan tentang kesempurnaan—scaling tentang sistem yang bisa direplikasi. 

Jika Anda tunggu sampai properti pertama sempurna, Anda tidak akan pernah beli yang kedua. Karena properti tidak pernah "sempurna." Selalu ada masalah kecil. 

Yang Anda butuhkan: 

● Sistem untuk cari deal 

● Sistem untuk analisa properti 

● Sistem untuk financing 

● Sistem untuk property management 

Sekali sistem ini jalan di properti pertama, Anda tinggal copy-paste ke properti kedua, ketiga, kesepuluh. 

The Snowball Effect 

Properti pertama: 100 juta modal, 2 juta cash flow/bulan. 

Setelah 2 tahun, properti naik nilai jadi 120 juta. Anda refinance, tarik 20 juta. Plus akumulasi cash flow 48 juta. 

Total: 68 juta untuk DP properti kedua. 

Properti kedua: 300 juta, DP 68 juta, cash flow 4 juta/bulan. 

Sekarang total cash flow: 6 juta/bulan. 

Setahun kemudian, Anda punya 72 juta cash flow + apresiasi. Cukup untuk DP properti ketiga dan keempat. 

Ini snowball effect. Semakin banyak properti, semakin cepat pertumbuhannya. 

Orang yang paham ini bisa dari 0 jadi 10 properti dalam 5 tahun. Orang yang tidak paham stuck di 1 properti selamanya.

 


Bagian 8: Kesalahan Terbesar—Tidak Mulai

Analisis Paralisis 

Kiyosaki menulis: "Kesalahan terbesar yang orang buat dalam investasi properti bukanlah membeli properti yang salah. Kesalahan terbesarnya adalah tidak pernah membeli sama sekali." 

Orang bilang: 

● "Saya tunggu pasar turun dulu." 

● "Saya tunggu punya uang lebih banyak." 

● "Saya tunggu timing yang sempurna." 

● "Saya tunggu sampai saya benar-benar paham semua." 

Mereka tunggu selamanya. 

Pasar tidak pernah "sempurna." Tidak akan pernah ada momen di mana semua lampu hijau dan tidak ada risiko. 

Yang membedakan investor sukses dengan orang biasa: mereka mulai meskipun belum sempurna. 

Mulai Kecil, Tapi Mulai Sekarang 

Anda tidak perlu beli apartemen 1 miliar untuk properti pertama. 

Mulai dengan apa yang Anda bisa afford: 

● Kamar kost 

● Rumah kecil di area berkembang 

● Partnership dengan investor lain 

Yang penting: mulai belajar prosesnya. 

Setiap deal mengajarkan Anda sesuatu. Deal pertama mungkin tidak sempurna—tapi itu memulai learning curve Anda. 

Deal kesepuluh? Anda sudah jadi pro. 

Tapi jika Anda tidak pernah mulai, Anda selamanya pemula.

 


Penutup: Lazy Tapi Kaya 

Pelajaran Inti dari "The Lazy Way" 

Mari kita recap apa yang Kiyosaki ajarkan: 

1. Malas yang Cerdas ≠ Pemalas 

Lazy investor bekerja keras membangun sistem, lalu membiarkan sistem bekerja untuk mereka. Mereka fokus pada strategi dan leverage, bukan detail eksekusi harian. 

2. Gunakan Uang Orang Lain 

Uang Anda terbatas. Tapi dengan leverage—bank, investor, partner—Anda bisa kontrol aset 5-10x lebih besar dari modal Anda. Ini yang bikin orang kaya makin kaya. 

3. Cash Flow adalah Raja 

Jangan beli properti yang tidak menghasilkan cash flow positif dari hari pertama. Apresiasi adalah bonus. Cash flow adalah jaminan. 

4. Bangun Tim, Jangan Kerja Sendiri 

Property manager, agen, lawyer, akuntan, contractor—tim ini bukan biaya, tapi investasi yang membebaskan waktu Anda untuk scale. 

5. Mulai Sekarang dengan Apa yang Anda Punya 

Tidak ada timing sempurna. Tidak ada modal cukup. Mulai dengan apa yang Anda punya. Belajar sambil jalan. 

Pertanyaan untuk Anda 

Robert Kiyosaki selalu bilang: "Pertanyaannya bukan APAKAH Anda bisa. Pertanyaannya adalah KAPAN Anda akan mulai?" 

Jadi sekarang, tanyakan pada diri Anda: 

● Berapa lama lagi Anda akan menunda karena alasan "belum siap"? 

● Jika Anda punya 1 properti yang menghasilkan 5 juta/bulan tanpa Anda kerja, apa yang akan berubah dalam hidup Anda? 

● Jika Anda punya 10 properti yang menghasilkan 50 juta/bulan, berapa banyak "kebebasan" yang Anda dapatkan? 

Kebebasan finansial bukan tentang bekerja lebih keras. Ini tentang membuat uang bekerja untuk Anda.

Properti—jika dilakukan dengan benar—adalah salah satu cara paling proven untuk mencapai itu. 

Anda tidak perlu jadi genius. Anda tidak perlu punya modal ratusan juta. Anda hanya perlu: 

1. Pendidikan (baca buku ini adalah langkah pertama) 

2. Tim yang tepat 

3. Action—mulai dengan properti pertama 

Sisanya? Sistem akan bekerja untuk Anda. 

Seperti Kiyosaki katakan: 

"Orang kaya tidak bekerja untuk uang. Mereka membuat uang bekerja untuk mereka. Dan properti adalah salah satu pekerja terbaik yang pernah ada." 

Jadi, kapan Anda akan mulai? 

Karena hari Anda mulai adalah hari Anda mengubah masa depan finansial Anda.

The lazy way is the smart way. Sekarang giliran Anda untuk jadi lazy—dan kaya.

 


Tentang Buku Asli 

"The Lazy Way To Invest In Real Estate" adalah salah satu karya Robert T. Kiyosaki dalam seri Rich Dad yang fokus pada strategi investasi properti pasif. 

Robert Kiyosaki adalah investor, entrepreneur, dan educator yang terkenal melalui buku bestseller internasional "Rich Dad Poor Dad" yang telah terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia. Filosofi Kiyosaki berpusat pada literasi finansial, investasi cerdas, dan membangun passive income. 

Buku ini khususnya ditujukan untuk: 

● Pemula yang ingin mulai investasi properti tapi tidak tahu caranya 

● Investor yang sudah punya properti tapi overwhelmed dengan kerja operasional

● Siapa saja yang ingin membangun passive income melalui real estate 

Untuk pemahaman lengkap dan detail strategi praktis, sangat disarankan membaca buku aslinya. Kiyosaki memberikan banyak contoh kasus, template analisa, dan worksheet yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Ringkasan ini memberikan esensi filosofi dan strategi—buku lengkapnya memberikan roadmap praktis langkah demi langkah. 

Sekarang pergilah dan mulai perjalanan Anda menjadi lazy investor yang kaya.

Karena bekerja keras itu bagus—tapi bekerja cerdas sambil tidur? Itu lebih bagus lagi.