The Leader in You

Dale Carnegie


Kepemimpinan Bukan tentang Jabatan 

Tahun 1912, seorang pemuda berusia 24 tahun naik kereta dari Missouri ke New York dengan uang pas-pasan di saku. Dia tidak punya gelar mewah. Tidak punya koneksi powerful. Tidak punya jabatan tinggi. 

Yang dia punya hanyalah keyakinan sederhana: setiap orang punya potensi untuk memimpin—dimulai dari diri sendiri. 

Pemuda itu adalah Dale Carnegie. 

Puluhan tahun kemudian, prinsip-prinsip yang dia ajarkan telah mengubah jutaan kehidupan. CEO Fortune 500, entrepreneur, guru, orangtua, mahasiswa—orang-orang dari semua latar belakang menemukan bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang titel atau kekuasaan. 

Kepemimpinan adalah tentang pengaruh. Dan pengaruh dimulai dari bagaimana Anda memperlakukan orang lain. 

Sekarang, coba renungkan ini: 

Berapa banyak "pemimpin" dengan jabatan tinggi yang Anda kenal—tapi tidak ada yang mau mengikuti mereka? 

Dan berapa banyak orang tanpa jabatan formal yang kata-katanya didengar, kehadirannya membuat perbedaan, dan orang-orang secara natural tertarik untuk mengikuti mereka? 

Perbedaannya bukan di kartu nama. Perbedaannya ada di dalam diri. 

"The Leader In You" adalah tentang menemukan dan mengembangkan pemimpin yang sudah ada dalam diri Anda—terlepas dari posisi Anda saat ini. 

Karena dunia tidak butuh lebih banyak bos. Dunia butuh lebih banyak pemimpin sejati.

Mari kita mulai perjalanan ini.

 


Bagian 1: Kepemimpinan Dimulai dari Cermin

Pertanyaan yang Harus Anda Jawab Dulu 

Sebelum Anda bisa memimpin orang lain, ada satu pertanyaan fundamental yang harus Anda jawab dengan jujur: 

"Apakah saya bisa memimpin diri sendiri?" 

Ini pertanyaan yang kebanyakan orang skip. Mereka langsung ingin belajar teknik mempengaruhi orang lain, strategi negosiasi, cara memotivasi tim—tapi melupakan fondasi paling dasar. 

Carnegie menulis: "Anda tidak bisa memberikan apa yang tidak Anda miliki. Anda tidak bisa menginspirasi disiplin jika Anda kacau. Anda tidak bisa membangun kepercayaan jika Anda tidak bisa dipercaya. Anda tidak bisa memimpin perubahan jika Anda takut berubah." 

Tiga Pilar Self-Leadership 

1. Kejujuran terhadap Diri Sendiri 

Pemimpin sejati berani melihat kekurangan mereka tanpa defensif. 

Carnegie menceritakan kisah seorang CEO yang setiap Jumat sore mengunci pintu kantornya dan menulis jurnal refleksi. Tiga pertanyaan yang selalu dia tanyakan: 

● Di mana saya gagal minggu ini? 

● Apa yang saya pelajari dari kegagalan itu? 

● Apa yang akan saya lakukan berbeda minggu depan? 

"Kesalahan terbesar yang bisa Anda lakukan," tulis Carnegie, "adalah membohongi diri sendiri bahwa Anda tidak punya kesalahan." 

2. Tanggung Jawab Penuh 

Tidak ada kambing hitam. Tidak ada alasan. Tidak ada "itu bukan salah saya."

Pemimpin sejati mengambil tanggung jawab—bahkan untuk hal yang di luar kontrol mereka. 

Ketika tim gagal, pemimpin lemah bilang: "Tim saya tidak kompeten." Pemimpin sejati bilang: "Saya gagal mempersiapkan dan memotivasi tim dengan baik." 

Perbedaan ini mengubah segalanya. Yang pertama mencari kambing hitam. Yang kedua mencari solusi. 

3. Pertumbuhan Berkelanjutan

Pemimpin yang berhenti belajar, berhenti memimpin. 

Dunia berubah terlalu cepat. Apa yang berhasil kemarin mungkin tidak bekerja hari ini. Yang bekerja hari ini mungkin obsolete besok. 

Carnegie menekankan: "Investasi terbaik yang bisa Anda buat adalah dalam diri Anda sendiri. Buku. Kursus. Mentor. Pengalaman baru. Ini bukan biaya—ini investasi yang akan memberikan return selamanya."

 


Bagian 2: Prinsip Emas—Membuat Orang Merasa Penting

Kebutuhan Manusia yang Paling Dalam 

Carnegie mengidentifikasi satu kebutuhan yang dimiliki setiap manusia—lebih kuat dari kebutuhan akan makanan atau tempat tinggal: 

Kebutuhan untuk merasa penting. 

Setiap orang ingin diakui. Dihargai. Didengar. Dianggap penting. 

Dan inilah kunci kepemimpinan: Pemimpin sejati membuat orang lain merasa penting—dan mereka melakukannya dengan tulus. 

Kisah Charles Schwab 

Carnegie menceritakan kisah Charles Schwab, salah satu eksekutif dengan bayaran tertinggi di masanya—$1 juta per tahun di awal 1900-an (setara puluhan juta dollar hari ini). 

Mengapa dia dibayar begitu mahal? Bukan karena dia paling pintar. Bukan karena dia paling keras bekerja. 

Tapi karena dia luar biasa dalam membuat orang lain merasa penting. 

Schwab pernah bilang: "Saya punya aset yang lebih berharga dari semua pabrik dan mesin yang kita miliki. Aset itu adalah kemampuan saya membangkitkan antusiasme pada orang-orang. Dan cara untuk melakukannya adalah dengan penghargaan dan dorongan." 

Dia tidak pernah mengkritik karyawan di depan umum. Tidak pernah memarahi. Sebagai gantinya, dia mencari hal-hal yang mereka lakukan dengan baik dan memuji itu dengan tulus. 

Hasilnya? Orang-orang bekerja dengan hati untuk Schwab. Bukan karena takut—tapi karena tidak ingin mengecewakan seseorang yang menghargai mereka. 

Prinsip Praktis: Apresiasi yang Tulus 

Kata kunci: TULUS

Pujian palsu lebih buruk daripada tidak ada pujian. Orang bisa merasakan ketidaktulusan dari jarak mil. 

Formula Carnegie: 

1. Spesifik - "Laporan Anda sangat detail dan berguna" lebih baik dari "Good job."

2. Tepat Waktu - Apresiasi yang terlambat kehilangan kekuatannya. 

3. Personal - Lihat mata mereka. Bukan lewat email copy-paste.

4. Fokus pada Usaha, Bukan Hanya Hasil - "Saya lihat Anda bekerja keras untuk ini" kadang lebih berarti daripada "Hasilnya bagus." 

Percobaan: Mulai hari ini, buat komitmen untuk memberikan minimal satu apresiasi tulus setiap hari—kepada pasangan, anak, karyawan, teman, siapa saja. 

Dalam sebulan, Anda akan lihat perubahan luar biasa dalam hubungan Anda.

 


Bagian 3: Seni Mengubah Orang Tanpa Menyinggung

Kritik yang Membunuh vs Kritik yang Membangun 

Carnegie mulai bagian ini dengan kisah tragis: 

Seorang karyawan muda membuat kesalahan yang merugikan perusahaan. Bosnya menghajarnya dengan kata-kata pedas di depan seluruh kantor: "Anda bodoh atau bagaimana? Bahkan anak SD tahu ini salah!" 

Karyawan itu pulang. Malam itu, dia bunuh diri. 

Ekstrim? Ya. Tapi ini menunjukkan sesuatu: Kata-kata punya kekuatan untuk menghancurkan—atau membangun. 

Carnegie menulis: "Kritik itu berbahaya. Dia melukai harga diri seseorang, membangkitkan kebencian, dan seringkali membuat orang defensif—bukan reflektif." 

Lalu bagaimana jika seseorang memang salah dan Anda harus memberitahunya?

Formula Carnegie untuk Kritik yang Konstruktif 

Langkah 1: Mulai dengan Apresiasi yang Tulus 

"Saya tahu Anda bekerja keras untuk project ini, dan saya hargai dedikasi Anda..." 

Ini bukan "sandwich pujian" palsu. Ini tulus mengakui usaha mereka sebelum membahas masalah. 

Langkah 2: Bicarakan Perilaku, Bukan Karakter 

JANGAN: "Anda ceroboh dan tidak profesional." LAKUKAN: "Ada beberapa detail dalam laporan yang perlu kita perbaiki." 

Yang pertama menyerang identitas mereka. Yang kedua fokus pada tindakan yang bisa diubah.

Langkah 3: Berikan Solusi Konkret 

"Saya pikir jika kita tambahkan checklist sebelum submit, kita bisa catch errors lebih awal. Apa menurut Anda?" 

Kritik tanpa solusi hanya membuat orang merasa buruk. Kritik dengan solusi membuat mereka merasa diberdayakan. 

Langkah 4: Akhiri dengan Keyakinan

"Saya tahu Anda capable untuk ini. Mari kita coba approach baru dan saya yakin hasilnya akan jauh lebih baik." 

Kisah Teddy Roosevelt 

Carnegie menceritakan bagaimana Teddy Roosevelt menjadi presiden termuda AS (usia 42) bukan karena dia paling pintar atau paling kaya—tapi karena dia master dalam membuat orang merasa dihargai. 

Roosevelt punya kebiasaan unik: setiap kali akan bertemu seseorang—dari presiden negara lain hingga tukang kebun—dia mempelajari topik yang dia tahu orang itu sukai. 

Ketika bertemu seorang diplomat dari Prancis, dia belajar sejarah Prancis semalam suntuk. Ketika bertemu ahli botani, dia baca buku tentang tanaman langka. 

Mengapa? "Jalan tercepat ke hati seseorang adalah berbicara tentang hal yang mereka paling pedulikan." 

Hasilnya? Orang merasa Roosevelt benar-benar peduli pada mereka—dan mereka benar. Dia memang peduli.

 


Bagian 4: Kekuatan Mendengar—Senjata Rahasia Pemimpin 

Kesalahan Fatal Kebanyakan "Pemimpin" 

Carnegie menulis: "Banyak orang gagal dalam percakapan karena mereka terlalu sibuk memikirkan apa yang akan mereka katakan selanjutnya, sehingga mereka tidak benar-benar mendengar apa yang orang lain katakan." 

Ini adalah kesalahan fatal. 

Orang tidak peduli seberapa banyak Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli. Dan cara tercepat menunjukkan Anda peduli adalah dengan benar-benar mendengarkan. 

Perbedaan Hearing vs Listening 

Hearing (Mendengar): Telinga Anda menangkap suara. Otak Anda mencatat kata-kata. Tapi pikiran Anda di tempat lain. 

Listening (Mendengarkan): Anda fokus penuh. Anda tidak menyela. Anda tidak menghakimi. Anda mencoba memahami bukan hanya apa yang mereka katakan, tapi mengapa mereka mengatakannya dan apa yang mereka rasakan. 

Carnegie mengidentifikasi tiga level mendengarkan: 

Level 1 - Mendengar untuk Menjawab Anda tunggu mereka selesai bicara agar Anda bisa berbicara. Ini bukan percakapan—ini dua monolog bergantian. 

Level 2 - Mendengar untuk Memahami Anda berusaha mengerti perspektif mereka. Anda ajukan pertanyaan klarifikasi. Ini sudah lebih baik. 

Level 3 - Mendengar dengan Empati Anda tidak hanya memahami kata-kata mereka—Anda merasakan emosi mereka. Anda hadir sepenuhnya dalam momen itu. 

Pemimpin sejati beroperasi di Level 3. 

Teknik Praktis: Active Listening 

Carnegie memberikan formula sederhana namun powerful: 

1. Kontak Mata Bukan menatap menakutkan. Tapi kontak mata yang menunjukkan: "Saya di sini. Saya hadir. Anda penting."

2. Bahasa Tubuh Terbuka Menghadap ke mereka. Tidak main ponsel. Tidak lihatlihatan jam. Postur yang bilang: "Saya punya waktu untuk Anda." 

3. Refleksi "Jadi kalau saya pahami dengan benar, Anda merasa frustasi karena..." Ini menunjukkan Anda benar-benar mendengar dan ingin memastikan Anda paham. 

4. Validasi "Saya bisa mengerti mengapa Anda merasa seperti itu." Bukan berarti Anda setuju—tapi Anda akui perasaan mereka valid. 

5. Pertanyaan Terbuka "Ceritakan lebih banyak tentang itu." "Bagaimana perasaan Anda tentang hal ini?" Ini mengundang mereka berbagi lebih dalam, bukan sekadar jawaban ya/tidak. 

Kisah Lincoln yang Mendengar Musuhnya 

Carnegie menceritakan bagaimana Abraham Lincoln terkenal suka mendengarkan—bahkan kritik pedas dari musuh politiknya. 

Ada senator yang membencinya, seringkali menyerang kebijakan Lincoln di publik. Ketika orang bertanya mengapa Lincoln membiarkannya, Lincoln menjawab: 

"Jika saya menutup telinga untuk kritik, bagaimana saya tahu di mana saya salah? Musuh yang jujur kadang lebih berguna daripada teman yang hanya mengangguk-angguk." 

Kemampuan mendengar—terutama hal yang tidak ingin Anda dengar—adalah tanda kematangan kepemimpinan.

 


Bagian 5: Memimpin Melalui Perubahan 

Satu-satunya Konstanta Adalah Perubahan 

Carnegie menulis di era sebelum internet, smartphone, atau AI. Tapi prinsip yang dia ajarkan tentang perubahan tetap relevan—bahkan lebih relevan—di dunia yang berubah 100x lebih cepat hari ini. 

"Dunia tidak peduli apakah Anda suka perubahan atau tidak. Perubahan akan terjadi. Pertanyaannya: Apakah Anda akan menjadi korban perubahan, atau pemimpin yang membentuk perubahan?" 

Tiga Reaksi terhadap Perubahan 

1. Resistor (Penolak) "Ini tidak akan berhasil." "Cara lama lebih baik." "Mengapa kita harus berubah?" 

Orang-orang ini akan punah—atau hidup dalam kepahitan karena dunia meninggalkan mereka. 

2. Adaptor (Penyesuai) "OK, saya akan ikuti arus." Mereka survive, tapi tidak thrive. Mereka reaktif, bukan proaktif. 

3. Navigator (Pemandu) "Ini kesempatan. Bagaimana kita bisa menggunakan perubahan ini untuk keuntungan kita?" 

Pemimpin sejati adalah Navigator. Mereka tidak menunggu perubahan menghantam mereka—mereka mengantisipasi dan mempersiapkan. 

Formula Carnegie untuk Memimpin Perubahan 

Langkah 1: Komunikasikan "Mengapa" 

Orang menolak perubahan bukan karena perubahan itu sendiri—tapi karena mereka tidak paham alasannya. 

Jangan hanya bilang "Mulai besok, kita pakai sistem baru." Katakan: "Sistem lama membuat kita kehilangan 10 jam per minggu. Sistem baru akan membebaskan waktu itu untuk pekerjaan yang lebih penting. Ini kenapa kita berubah." 

Langkah 2: Libatkan Orang Sejak Awal 

Perubahan yang dipaksakan dari atas akan ditolak. Perubahan yang orang bantu rancang akan dipeluk. 

"Apa pendapat kalian? Apa concern kalian? Bagaimana kita bisa membuat ini lebih baik?"

Ini bukan hanya taktik psikologis. Orang yang melakukan pekerjaan sehari-hari seringkali punya insight yang leadership tidak punya. 

Langkah 3: Rayakan Small Wins 

Perubahan besar menakutkan. Pecah jadi langkah-langkah kecil dan rayakan setiap kemajuan. 

"Minggu pertama kita pakai sistem baru, sudah hemat 2 jam. Great job tim! Mari kita terus improve." 

Momentum penting. Small wins menciptakan momentum. 

Kisah IBM yang Hampir Mati 

Carnegie menceritakan kisah (yang dia update dalam edisi berikutnya) tentang bagaimana perusahaan-perusahaan besar bisa runtuh jika gagal beradaptasi. 

IBM mendominasi komputer mainframe di tahun 70-80an. Ketika personal computer muncul, leadership IBM tidak anggap serius. "Itu mainan. Bisnis serius butuh mainframe." 

Mereka hampir bangkrut. 

Apa yang menyelamatkan mereka? Leadership baru yang bilang: "Kita harus berubah atau mati." 

Pelajaran: Tidak ada yang terlalu besar untuk gagal. Dan tidak ada yang terlalu kecil untuk berhasil—jika mereka mau berubah.

 


Bagian 6: Mengembangkan Pemimpin Lain 

Warisan Sejati Seorang Pemimpin 

Carnegie menulis: "Ukuran sejati seorang pemimpin bukan berapa banyak pengikut yang dia punya. Tapi berapa banyak pemimpin yang dia ciptakan." 

Pemimpin lemah merasa terancam oleh orang pintar di sekitarnya. Mereka mau jadi orang terpintar di ruangan. 

Pemimpin sejati secara aktif mencari orang yang lebih pintar dari mereka—dan membantu mereka tumbuh melebihi diri mereka sendiri. 

Prinsip: Buat Diri Anda Tidak Diperlukan 

Kedengarannya kontraintuitif? Ini justru tanda kepemimpinan tertinggi. 

Jika tim Anda tidak bisa berfungsi tanpa Anda, ada dua kemungkinan: 

1. Anda micromanage dan tidak percaya tim 

2. Anda gagal develop kemampuan mereka 

Pemimpin sejati membangun sistem dan orang sehingga organisasi bisa berjalan bahkan tanpa mereka. 

Mengapa ini penting? 

Pertama, ini membebaskan Anda untuk bekerja pada hal strategis, bukan operasional. 

Kedua, ini menciptakan organizational resilience. Jika Anda sakit, resign, atau dipromosikan, organisasi tidak collapse. 

Ketiga, ini adalah hadiah terbesar yang bisa Anda berikan kepada orang yang Anda pimpin—kepercayaan dan kesempatan untuk tumbuh. 

Cara Praktis Mengembangkan Pemimpin 

1. Delegasi dengan Kepercayaan 

Jangan hanya delegasikan tugas—delegasikan tanggung jawab dan authority. 

"Ini project penting. Saya percaya Anda bisa handle. Jika butuh bantuan, saya di sini. Tapi keputusan ada di tangan Anda." 

2. Biarkan Mereka Gagal (dengan Aman)

Kesalahan adalah guru terbaik. Jika Anda tidak membiarkan orang membuat kesalahan, mereka tidak akan pernah belajar. 

Tentu saja, bukan kesalahan yang catastrophic. Tapi kesalahan yang bisa dijadikan pembelajaran. 

3. Tanya, Jangan Dikte 

Daripada bilang "Ini yang harus kamu lakukan," tanya "Menurutmu apa yang harus dilakukan?" 

Ini mengembangkan critical thinking mereka. Dan seringkali, mereka punya solusi yang lebih baik dari yang Anda pikirkan. 

4. Akui Mereka Secara Publik 

Ketika ada kesuksesan, puji tim—bukan diri Anda. Ketika ada kegagalan, ambil tanggung jawab—jangan lempar tim. 

Ini menciptakan loyalitas yang tidak bisa dibeli dengan uang.

 


Bagian 7: Karakter—Fondasi yang Tidak Bisa Ditipu

Reputasi vs Karakter 

Carnegie mengutip Abe Lincoln: "Karakter adalah seperti pohon, reputasi adalah bayangannya. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan tentangnya; pohon adalah hal yang sebenarnya." 

Anda bisa menipu orang tentang reputasi Anda untuk sementara waktu. Tapi karakter Anda—siapa Anda ketika tidak ada yang melihat—akan selalu terungkap pada akhirnya. 

Kisah Warren Buffett tentang Karakter 

Carnegie (dalam edisi update) menceritakan filosofi Warren Buffett dalam memilih orang: 

"Saya cari tiga hal: integritas, intelligence, dan energi. Tapi jika mereka tidak punya yang pertama, dua lainnya akan membunuh Anda." 

Orang pintar tanpa integritas adalah berbahaya. Orang energik tanpa integritas adalah destruktif. 

Karakter adalah filter paling penting dalam kepemimpinan. 

Empat Pilar Karakter Pemimpin 

1. Integritas 

Anda melakukan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan—bahkan ketika tidak nyaman.

Janji Anda adalah bond. Kata-kata Anda adalah kontrak. 

2. Kerendahan Hati 

Anda cukup aman untuk mengakui ketika Anda salah, ketika Anda tidak tahu, ketika Anda butuh bantuan. 

Ego adalah musuh pembelajaran. Kerendahan hati adalah jalan menuju pertumbuhan.

3. Keberanian 

Bukan berarti tidak takut. Tapi melakukan hal yang benar meskipun takut. 

Kadang keberanian adalah membela orang yang tidak bisa membela diri sendiri. Kadang keberanian adalah mengakui kesalahan Anda di depan semua orang. Kadang keberanian adalah berjalan menjauh dari kesempatan yang secara etis dipertanyakan. 

4. Konsistensi

Orang tidak bisa mengikuti pemimpin yang berubah-ubah seperti cuaca.

Anda tidak harus sempurna. Tapi Anda harus predictable dalam nilai-nilai Anda.

 


Penutup: Pemimpin dalam Diri Anda 

Pertanyaan Terakhir 

Dale Carnegie menutup dengan pertanyaan sederhana tapi profound: 

"Jika Anda meninggal besok, apa yang akan orang katakan tentang Anda?"

Bukan di eulogy formal. Tapi di percakapan jujur mereka saat pulang dari pemakaman. 

"Dia orang yang baik." "Dia benar-benar peduli." "Dia membuat saya merasa penting." "Dia membantu saya percaya pada diri sendiri." 

Atau... 

"Dia bos yang ditakuti." "Dia hanya peduli tentang hasil, bukan orang." "Saya senang tidak harus kerja dengannya lagi." 

Kepemimpinan adalah pilihan setiap hari tentang siapa Anda dan bagaimana Anda memperlakukan orang lain. 

Pelajaran Inti 

Mari kita recap apa yang Carnegie ajarkan: 

1. Kepemimpinan Dimulai dari Diri Sendiri Sebelum Anda bisa memimpin orang lain, kuasai diri Anda sendiri. 

2. Buat Orang Merasa Penting—dengan Tulus Ini bukan manipulasi. Ini adalah pengakuan fundamental atas nilai setiap manusia. 

3. Kritik dengan Cara yang Membangun Fokus pada perilaku, bukan karakter. Berikan solusi, bukan hanya masalah. 

4. Dengarkan Lebih Banyak daripada Berbicara Dua telinga, satu mulut. Gunakan dengan proporsi itu. 

5. Pimpin Perubahan, Jangan Ditaklukkan Perubahan Menjadi navigator, bukan korban. 

6. Kembangkan Pemimpin Lain Warisan sejati adalah berapa banyak pemimpin yang Anda ciptakan. 

7. Karakter adalah Segalanya Skill bisa dipelajari. Karakter menentukan apakah skill itu digunakan untuk kebaikan atau keburukan. 

Pertanyaan untuk Anda

Sekarang, tanyakan pada diri Anda: 

Hari ini, siapa yang akan Anda buat merasa penting? 

Minggu ini, perubahan apa yang akan Anda pimpin—dimulai dari diri Anda sendiri?

Bulan ini, siapa yang akan Anda bantu berkembang menjadi pemimpin yang lebih baik? 

Kepemimpinan bukan tentang besok. Ini tentang hari ini. Pilihan kecil yang Anda buat dalam setiap interaksi. 

Apakah Anda akan mendengarkan, atau hanya menunggu giliran berbicara?

Apakah Anda akan mengangkat orang, atau menjatuhkan mereka? 

Apakah Anda akan memberi kredit, atau mencuri kredit? 

Apakah Anda akan membangun kepercayaan, atau memecahkannya? 

Setiap momen adalah kesempatan untuk memimpin. 

Dan pemimpin sejati bukan yang paling keras berteriak atau yang paling tinggi jabatannya. 

Pemimpin sejati adalah yang membuat perbedaan—satu orang, satu percakapan, satu tindakan kebaikan pada satu waktu. 

The leader in you sedang menunggu. 

Tidak menunggu jabatan. Tidak menunggu promosi. Tidak menunggu kesempatan sempurna. 

Menunggu Anda untuk membuat pilihan—hari ini—untuk mulai memimpin dengan cara yang penting. 

Jadi, mulailah. 

Karena dunia membutuhkan kepemimpinan Anda—bukan besok, tapi sekarang.

 


Tentang Buku Asli 

"The Leader In You: How to Win Friends, Influence People and Succeed in a Changing World" diterbitkan oleh Dale Carnegie & Associates pada tahun 1993, puluhan tahun setelah karya klasik Carnegie "How to Win Friends and Influence People" (1936). 

Dale Carnegie (1888-1955) adalah pioneer dalam pengembangan diri dan pelatihan kepemimpinan. Kursus dan prinsip-prinsipnya telah mengubah jutaan kehidupan di seluruh dunia. Dale Carnegie Training masih beroperasi di lebih dari 90 negara hari ini. 

Buku ini adalah adaptasi modern dari prinsip-prinsip klasik Carnegie, dengan contoh-contoh dari bisnis kontemporer dan tantangan kepemimpinan di dunia yang berubah cepat. Buku ini ditulis dengan kontribusi dari Stuart Levine dan Michael Crom, leaders dalam organisasi Dale Carnegie. 

Untuk pemahaman lengkap dan cerita-cerita inspiring yang lebih mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Carnegie adalah master storyteller, dan buku aslinya dipenuhi dengan anekdot yang memorable dan applicable. 

Ringkasan ini memberikan esensi prinsip—buku lengkapnya memberikan pengalaman transformatif yang bisa mengubah cara Anda memimpin dan hidup. 

Sekarang pergilah dan jadilah pemimpin yang dunia butuhkan. 

Karena pemimpin sejati bukan dilahirkan—mereka dibentuk melalui pilihan sadar setiap hari untuk membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain.