How Successful People Win

John C. Maxwell


Perbedaan Antara Menang dan Kalah Bukan yang Anda Kira 

Dua orang menghadapi penolakan yang sama. 

Keduanya melamar pekerjaan impian mereka. Keduanya melewati 5 tahap interview. Keduanya sampai tahap final. Dan keduanya—ditolak. 

Orang pertama pulang ke rumah, merasa hancur. "Saya tidak cukup baik," pikirnya. "Saya sudah coba yang terbaik dan tetap gagal." Dia berhenti melamar pekerjaan sejenis selama berbulan-bulan. Setiap kali melihat lowongan serupa, dia mengingat penolakan itu dan berpikir, "Untuk apa coba lagi?" 

Orang kedua juga kecewa. Tapi dia melakukan sesuatu yang berbeda. Dia mengirim email kepada pewawancara: "Terima kasih atas kesempatannya. Saya akan sangat menghargai jika Anda bisa memberikan feedback apa yang bisa saya tingkatkan untuk kesempatan di masa depan." 

Dia mendapat respons. Ternyata skillnya sudah cukup, tapi pengalamannya dalam satu area tertentu kurang. Orang kedua mengambil kursus online, mencari proyek freelance untuk mengisi gap itu, dan enam bulan kemudian melamar lagi—kali ini di perusahaan yang lebih besar. Dan diterima. 

Apa perbedaannya? 

Bukan talent. Bukan keberuntungan. Bukan koneksi. 

Perbedaannya adalah cara mereka merespons kegagalan.

John C. Maxwell, penulis buku kepemimpinan terlaris dan mentor jutaan pemimpin di seluruh dunia, menghabiskan puluhan tahun mempelajari orang-orang paling sukses di berbagai bidang. Dan dia menemukan pola yang konsisten: 

Orang sukses tidak gagal lebih sedikit. Mereka hanya gagal lebih baik. 

Mereka jatuh lebih sering—karena mereka mencoba lebih banyak hal. Tapi mereka bangkit lebih cepat, belajar lebih dalam, dan mengubah setiap kemunduran menjadi kekuatan untuk melangkah lebih maju. 

Maxwell menulis: "Perbedaan antara orang rata-rata dan orang yang berprestasi adalah persepsi mereka terhadap kegagalan dan respons mereka terhadapnya." 

Buku ini bukan tentang bagaimana menghindari kegagalan—itu mustahil. Buku ini tentang bagaimana menang meskipun gagal. 

Mari kita pelajari bagaimana mereka melakukannya.

 


Bagian 1: Kegagalan Adalah Fakta, Bukan Identitas

Kesalahan Fatal Pertama: Personalisasi Kegagalan 

Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kebanyakan orang melakukan kesalahan fatal: mereka mempersonalisasi kegagalan. 

Mereka berkata: 

● "Saya gagal" (bukan "Usaha saya kali ini tidak berhasil") 

● "Saya tidak cukup baik" (bukan "Pendekatan saya perlu perbaikan")

● "Saya selalu gagal" (bukan "Saya belum menemukan cara yang tepat") 

Lihat perbedaannya? 

Yang pertama membuat kegagalan menjadi identitas. Yang kedua membuat kegagalan menjadi kejadian

Identitas adalah permanent. Kejadian adalah sementara. 

Maxwell memberikan contoh: Thomas Edison gagal 10.000 kali sebelum menemukan bola lampu yang berfungsi. Ketika ditanya tentang kegagalannya, dia menjawab: 

"Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil." 

Edison tidak melihat dirinya sebagai "orang yang gagal." Dia melihat dirinya sebagai "peneliti yang sedang dalam proses menemukan." 

Reframe: Kegagalan adalah Umpan Balik 

Dalam dunia yang sempurna, kita akan sukses pada percobaan pertama. Tapi dunia tidak sempurna. 

Jadi kegagalan—yang Maxwell lebih suka sebut "hasil yang tidak diinginkan"—adalah sistem umpan balik yang memberitahu kita apa yang perlu disesuaikan. 

Bayangkan Anda belajar naik sepeda. Anda jatuh. Apakah itu kegagalan? Atau itu umpan balik bahwa keseimbangan Anda perlu disesuaikan? 

Bayangkan Anda memasak resep baru. Terlalu asin. Apakah itu kegagalan? Atau umpan balik untuk mengurangi garam next time? 

Orang sukses melihat kegagalan sebagai data, bukan disaster.

 


Bagian 2: Tujuh Kemampuan Orang Sukses dalam Menghadapi Kemunduran 

Maxwell mengidentifikasi tujuh kemampuan kunci yang membedakan orang yang bangkit dari kegagalan dengan orang yang terpuruk di dalamnya. 

1. Kemampuan untuk Tetap Positif dalam Situasi Negatif 

Ini bukan tentang toxic positivity—bukan tentang berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika jelas tidak. 

Ini tentang memilih untuk fokus pada apa yang bisa Anda kontrol, bukan pada apa yang sudah terjadi. 

Ketika bisnis Maxwell mengalami kerugian besar di tahun 1980-an, dia punya dua pilihan: 

● Fokus pada uang yang hilang (yang tidak bisa dia kembalikan) 

● Fokus pada apa yang bisa dia lakukan selanjutnya (yang masih dalam kontrolnya) 

Dia memilih yang kedua. Dan dalam lima tahun, dia tidak hanya pulih tapi melebihi level sebelumnya. 

Pertanyaan powerful: "Dalam situasi ini, apa yang masih saya bisa kontrol?"

Selalu ada sesuatu. Mungkin hanya attitude Anda. Tapi itu sudah cukup untuk memulai.

2. Kemampuan untuk Bertanggung Jawab tanpa Menyalahkan 

Ini paradoks yang sulit: Anda harus mengakui peran Anda dalam kegagalan, tapi tidak membiarkan itu menghancurkan Anda. 

Orang sukses tidak bilang: 

● "Ini bukan salah saya!" (mengelak tanggung jawab) 

● "Ini semua salah saya!" (overwhelmed dengan guilt) 

Mereka bilang: "Ini bagian saya. Apa yang bisa saya pelajari dan lakukan berbeda?" 

Contoh: Proyek Anda gagal karena kombinasi dari timeline yang tidak realistis (bukan kontrol Anda), tim yang kurang terlatih (sebagian tanggung jawab Anda), dan perubahan requirements dari klien (bukan kontrol Anda). 

Orang rata-rata fokus pada apa yang bukan salah mereka: "Timeline-nya gila! Klien terus berubah pikiran!"

Orang sukses fokus pada bagian yang bisa mereka perbaiki: "Next time saya akan push back terhadap timeline unrealistis, dan saya akan invest lebih banyak di training tim." 

3. Kemampuan untuk Melepaskan Masa Lalu dan Melangkah Maju 

Maxwell mengutip sebuah studi tentang pilot pesawat: Pilot terbaik bukan yang tidak pernah membuat kesalahan—mereka yang paling cepat memindahkan fokus dari kesalahan ke solusi. 

Pilot yang buruk akan terus memikirkan kesalahan yang baru saja terjadi ("Ya ampun, kenapa saya lakukan itu?") sementara pesawat terus terbang—dan mereka membuat kesalahan kedua karena tidak fokus pada saat ini. 

Pilot terbaik acknowledge kesalahan dalam 2 detik ("Oke, itu terjadi"), lalu segera fokus 100% pada memperbaiki situasi. 

Waktu untuk berkabung itu penting—tapi harus dibatasi. 

Maxwell merekomendasikan: Berikan diri Anda waktu yang ditentukan untuk merasa kecewa—mungkin 24 jam, mungkin seminggu, tergantung besar kegagalan. Rasakan perasaan itu sepenuhnya. 

Tapi setelah waktu itu habis, keputusan conscious untuk melangkah maju.

4. Kemampuan untuk Fokus pada Kekuatan, Bukan Kelemahan 

Setelah kegagalan, ada godaan untuk memperbaiki semua kelemahan Anda. Ini exhausting dan sering tidak efektif. 

Orang sukses bertanya: "Di mana saya sudah kuat, dan bagaimana saya bisa leverage itu lebih banyak?" 

Contoh: Michael Jordan di-cut dari tim basket SMA-nya. Dia tidak mencoba menjadi pemain serba bisa. Dia fokus pada kekuatannya—atletisisme, kompetitiveness, work ethic—dan menjadi yang terbaik di area itu. 

Maxwell menulis: "Anda akan mencapai keunggulan dengan memaksimalkan kekuatan Anda, bukan dengan meminimalkan kelemahan Anda." 

Strategi praktis: Untuk setiap kelemahan yang terekspos oleh kegagalan, tanyakan: 

● Apakah ini kelemahan yang HARUS saya perbaiki untuk sukses? 

● Atau bisakah saya delegate/outsource/partner dengan seseorang yang kuat di area ini?

5. Kemampuan untuk Mengubah Perspektif

Ini adalah kemampuan untuk melihat situasi dari angle berbeda. 

Maxwell menceritakan tentang seorang sales yang ditolak 95 kali dari 100 sales call. Kebanyakan orang akan hancur. Tapi sales ini berkata: 

"Saya tahu secara statistik, saya close 5 dari 100. Itu artinya setiap penolakan membawa saya 1% lebih dekat ke penjualan. Saya dibayar setiap kali ditolak!" 

Dia mengubah penolakan dari "kegagalan" menjadi "progress." 

Pertanyaan reframe: 

● "Apa gift dalam situasi ini?" (Ya, setiap kegagalan punya hadiah—minimal pembelajaran) 

● "Bagaimana ini bisa menjadi blessing in disguise?" 

● "Lima tahun dari sekarang, apa saya akan grateful ini terjadi?" 

6. Kemampuan untuk Bangkit Satu Kali Lagi 

Orang sukses punya aturan sederhana: Selalu bangkit satu kali lebih banyak dari jatuh.

Jatuh 7 kali, bangkit 8 kali. Jatuh 100 kali, bangkit 101 kali. 

Tidak perlu bangkit dengan perfect. Tidak perlu bangkit dengan heroik. Cukup bangkit.

Maxwell menulis tentang Abraham Lincoln: 

● 1832: Kalah dalam pemilu legislatif 

● 1834: Gagal dalam bisnis 

● 1835: Kematian tunangannya 

● 1838: Kalah dalam pemilu speaker 

● 1843: Kalah dalam nominasi kongres 

● 1848: Kalah lagi dalam nominasi kongres 

● 1855: Kalah dalam pemilu senat 

● 1856: Kalah dalam nominasi wakil presiden 

● 1858: Kalah lagi dalam pemilu senat 

● 1860: Terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat 

22 tahun kegagalan berturut-turut. Tapi dia bangkit 22 kali. Dan kemenangan ke-23 mengubah sejarah. 

7. Kemampuan untuk Tetap Rendah Hati dan Belajar 

Ironisnya, banyak orang gagal belajar dari kegagalan karena ego mereka menghalangi.

Mereka lebih memilih membuat excuse daripada mengakui kesalahan. Lebih memilih menyalahkan orang lain daripada introspeksi. 

Orang sukses punya ego yang cukup kuat untuk mengakui kesalahan, tapi cukup rendah hati untuk belajar. 

Maxwell memberikan praktik: After Action Review setelah setiap kegagalan (atau kesuksesan): 

● Apa yang seharusnya terjadi? 

● Apa yang benar-benar terjadi? 

● Mengapa ada gap? 

● Apa yang akan saya lakukan berbeda next time? 

Sederhana. Tapi powerful jika dilakukan dengan jujur.

 


Bagian 3: Strategi Praktis untuk Bangkit Lebih Cepat

Strategi 1: Jangan Tunggu Sampai Siap 

Ini mungkin counterintuitive: Jangan tunggu sampai Anda "siap" atau "sudah heal" sepenuhnya sebelum mencoba lagi. 

Tindakan menciptakan momentum. Momentum menciptakan kepercayaan diri. Kepercayaan diri mempercepat penyembuhan. 

Maxwell menyebutnya "Action precedes feeling." 

Anda tidak akan merasa percaya diri sebelum bertindak. Anda merasa percaya diri karena bertindak. 

Praktik: Identifikasi smallest possible action yang bisa Anda ambil dalam 24 jam ke depan. Bukan action besar. Action kecil yang mengarah ke tujuan Anda. 

● Bisnis gagal? Buat satu phone call untuk networking. 

● Ditolak dari pekerjaan? Update satu bagian dari resume Anda. 

● Proyek tidak berhasil? Brainstorm satu ide baru. 

Small wins build momentum. 

Strategi 2: Cari Mentor atau Komunitas 

Orang yang bangkit paling cepat dari kegagalan adalah orang yang tidak melakukannya sendirian. 

Maxwell menekankan: "You don't have to fail alone, and you don't have to succeed alone." 

Cari orang yang pernah melewati kegagalan serupa—dan bangkit. Mereka tahu jalan keluar. Mereka bisa memberi perspektif yang Anda tidak punya. 

Bergabung dengan komunitas yang supportive—bukan yang toxic positivity ("Semua akan baik-baik saja!"), tapi yang memberikan honest encouragement ("Ini berat, tapi Anda bisa melewatinya. Begini caranya.") 

Strategi 3: Document Your Journey 

Maxwell merekomendasikan menulis jurnal tentang kegagalan Anda—tidak untuk merenung dalam kesengsaraan, tapi untuk track progress

Tulis: 

● Apa yang terjadi

● Apa yang Anda rasakan (jujur) 

● Apa yang Anda pelajari 

● Apa langkah berikutnya 

Mengapa ini powerful? 

Karena ketika Anda dalam proses recovery, progress terasa lambat atau bahkan tidak ada. Tapi ketika Anda membaca jurnal dari minggu atau bulan lalu, Anda melihat seberapa jauh Anda sudah datang. 

Itu memberikan hope. Dan hope adalah bahan bakar untuk terus maju. 

Strategi 4: Rayakan Small Wins 

Jangan tunggu sampai Anda "fully recovered" atau "achieve ultimate goal" untuk merayakan.

Rayakan setiap langkah kecil: 

● Bangun dari tempat tidur setelah kegagalan besar? Win. 

● Mengirim satu aplikasi pekerjaan setelah ditolak? Win. 

● Belajar satu skill baru setelah bisnis gagal? Win. 

Maxwell: "Success is a series of small wins that compound over time." 

Otak Anda perlu reinforcement positif untuk terus bergerak maju. Jangan pelit memberikan itu pada diri sendiri. 

Strategi 5: Redefine Success 

Mungkin Anda gagal mencapai goal A. Tapi dalam prosesnya, Anda mendapat B, C, dan D yang tidak Anda rencanakan. 

Contoh: Anda melamar menjadi manager, tidak diterima (goal A). Tapi dalam proses interview, Anda bertemu seseorang yang membuka peluang karir lain (B). Anda juga mendapat feedback yang membuat Anda tahu gap skill Anda (C). Dan Anda belajar cara interview yang lebih baik (D). 

Apakah Anda "gagal"? Atau Anda mendapat sesuatu yang berbeda—tapi mungkin sama berharganya? 

Pertanyaan powerful: "Meskipun saya tidak mendapat apa yang saya inginkan, apa yang saya dapatkan?"

 


Bagian 4: Mengubah Adversity Menjadi Advantage

Principle: Setiap Masalah Membawa Gift 

Maxwell mengajarkan konsep yang dia sebut "The Gift of Failure." 

Setiap kegagalan membawa hadiah—jika Anda bersedia mencarinya. 

Gifts yang mungkin: 

Clarity: Sekarang Anda tahu jalan mana yang TIDAK berhasil 

Character: Kesulitan membangun ketahanan yang tidak bisa diajarkan

Connections: Orang yang bertahan di masa sulit adalah teman sejati

Creativity: Keterbatasan memaksa Anda berpikir di luar kotak 

Compassion: Anda lebih empati terhadap orang lain yang struggle 

Beberapa hadiah terbaik dalam hidup datang terbungkus dalam kegagalan.

Contoh Nyata: J.K. Rowling 

Maxwell mengutip cerita J.K. Rowling. Sebelum Harry Potter sukses, dia: 

● Dipecat dari pekerjaannya 

● Bercerai 

● Single mother dengan welfare 

● Ditolak 12 penerbit 

Dalam pidato wisuda di Harvard, Rowling berkata: 

"Kegagalan mengupas segala yang tidak esensial. Saya berhenti berpura-pura menjadi orang lain dan mulai menuangkan semua energi saya ke satu-satunya pekerjaan yang penting bagi saya." 

Kegagalan memaksanya untuk fokus. Dan fokus itu menciptakan salah satu franchise paling sukses dalam sejarah. 

The Adversity Advantage 

Orang yang tidak pernah gagal tidak membangun "failure muscle"—kemampuan untuk bangkit. 

Ketika mereka akhirnya menghadapi kegagalan besar (dan semua orang akan menghadapinya), mereka hancur. Mereka tidak punya resilience. 

Tapi orang yang gagal berkali-kali—dan bangkit—mereka punya immunity terhadap kegagalan.

Mereka tahu: "Saya pernah jatuh sebelumnya. Saya bangkit. Saya akan bangkit lagi."

Adversity advantage adalah confidence yang datang dari knowing bahwa Anda bisa survive apa pun.

 


Bagian 5: Membangun Resilience Jangka Panjang

1. Develop Growth Mindset 

Carol Dweck's research (yang Maxwell reference) menunjukkan dua mindset: 

Fixed Mindset: "Saya punya kemampuan tertentu. Kegagalan berarti saya tidak cukup berbakat." 

Growth Mindset: "Kemampuan bisa dikembangkan. Kegagalan berarti saya perlu belajar lebih." 

Orang dengan growth mindset melihat effort sebagai jalan menuju mastery. Orang dengan fixed mindset melihat effort sebagai tanda kurangnya bakat. 

Bagaimana mengembangkan growth mindset? 

● Ganti "Saya tidak bisa" dengan "Saya belum bisa" 

● Ganti "Saya gagal" dengan "Saya belajar" 

● Ganti "Ini terlalu sulit" dengan "Ini akan butuh waktu dan strategi" 

2. Build Your Support System Sebelum Anda Membutuhkannya

Jangan tunggu sampai Anda jatuh untuk mencari teman. 

Bangun network, komunitas, dan relationship ketika waktu bagus. Sehingga ketika waktu buruk datang, Anda punya orang untuk bersandar. 

Maxwell: "Build your well before you're thirsty." 

3. Maintain Spiritual/Philosophical Foundation 

Apa yang memberikan Anda meaning ketika segalanya hancur? 

Bagi sebagian orang, itu faith. Bagi yang lain, filosofi hidup. Atau purpose yang lebih besar dari diri sendiri. 

Maxwell, sebagai orang yang deeply spiritual, menulis: 

"Ketika saya tahu bahwa hidup saya punya purpose yang lebih besar dari kesuksesan atau kegagalan individual, saya bisa melihat setiap kemunduran sebagai bagian dari journey yang lebih besar." 

Anda tidak perlu religius. Tapi Anda perlu anchor—sesuatu yang tetap ketika segalanya goyang.

4. Take Care of the Physical 

Resilience mental dimulai dari resilience fisik. 

Ketika Anda gagal: 

● Tetap olahraga (endorphins membantu mood) 

● Jaga pola tidur (lack of sleep membuat segala terasa lebih buruk) 

● Makan dengan baik (body dan mind connected) 

Ini bukan "self-care" yang indulgent. Ini strategic recovery. 

5. Practice Gratitude 

Ini mungkin terdengar klise ketika Anda baru saja gagal. Tapi research menunjukkan: orang yang praktik gratitude harian bangkit lebih cepat dari adversity. 

Mengapa? Karena gratitude melatih otak untuk melihat apa yang Anda punya, bukan hanya apa yang Anda hilang

Maxwell merekomendasikan: Setiap malam, tulis 3 hal yang Anda syukuri hari itu—meskipun hari terburuk. 

Bahkan di hari terburuk, selalu ada sesuatu: matahari terbit, makanan di meja, orang yang peduli, napas di paru-paru.

 


Bagian 6: The Ultimate Test—Menghadapi Kegagalan Berulang 

Ketika Anda Gagal Lagi... dan Lagi... dan Lagi 

Apa yang terjadi ketika Anda mengikuti semua saran ini, bangkit dari kegagalan, mencoba lagi—dan gagal lagi? 

Maxwell tidak menghindar dari pertanyaan ini. Karena ini adalah realitas untuk banyak orang.

Jawabannya: Anda kembali ke fundamentals. 

1. Tanyakan apakah Anda mengejar goal yang benar, atau apakah Anda perlu pivot

2. Tanyakan apakah approach Anda perlu diubah drastis, bukan hanya di-tweak

3. Tanyakan apakah timing-nya salah 

4. Tanyakan apakah Anda membutuhkan skill atau resource yang belum Anda punya 

Tapi yang paling penting: Jangan biarkan kegagalan berulang membuat Anda berhenti mencoba segala hal. 

Maybe Anda perlu berhenti mencoba jalan A. Tapi masih ada jalan B, C, D sampai Z.

The Difference Between Perseverance dan Stupidity 

Ada garis tipis antara kegigihan dan keras kepala. 

Perseverance: Mencoba cara berbeda untuk mencapai goal yang sama Stupidity: Mencoba cara yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil berbeda 

Maxwell: "Jangan menyerah pada goal. Tapi bersedia untuk menyerah pada strategy yang tidak bekerja."

 


Penutup: Kegagalan Adalah Pendirian, Bukan Tujuan

Di akhir buku, Maxwell memberikan perspektif final yang mengubah segalanya: 

"Kegagalan bukanlah lawan dari kesuksesan. Kegagalan adalah bagian dari kesuksesan." 

Tidak ada yang sukses tanpa gagal. Yang membedakan orang sukses adalah mereka tidak membiarkan kegagalan menjadi permanent

Kegagalan adalah pendirian sementara, bukan tujuan akhir. 

The Winner's Creed 

Maxwell menutup dengan creed yang dia anjurkan untuk dibaca setiap hari: 

"Saya akan gagal. Itu tidak terelakkan. Tapi saya tidak akan tinggal di kegagalan. Itu adalah pilihan. Saya akan belajar dari setiap kemunduran. Saya akan bangkit satu kali lagi dari setiap kejatuhan. Saya akan mengubah setiap kegagalan menjadi batu loncatan. Dan suatu hari, ketika saya melihat ke belakang, saya akan melihat bahwa 'kegagalan' saya adalah pondasi dari kesuksesan saya." 

Pertanyaan untuk Anda 

Maxwell meninggalkan kita dengan pertanyaan powerful: 

1. Kegagalan apa yang masih Anda pegang yang perlu Anda lepaskan?

2. Pelajaran apa dari kegagalan masa lalu yang belum Anda terapkan?

3. Langkah kecil apa yang bisa Anda ambil hari ini untuk bergerak maju? 

Tidak perlu langkah besar. Tidak perlu transformation dramatis overnight.

Cukup satu langkah kecil. Hari ini. 

Dan satu lagi besok. 

Dan satu lagi lusa. 

Karena kesuksesan bukan tentang tidak pernah jatuh. Kesuksesan adalah tentang selalu bangkit

Dan sekarang, Anda tahu caranya. 

Jadi pertanyaannya bukan: "Apakah saya akan gagal?" 

Pertanyaannya adalah: "Ketika saya gagal, bagaimana saya akan bangkit?"

Anda sudah punya blueprint-nya. Sekarang giliran Anda untuk menggunakannya.

Pergilah. Coba. Gagal jika perlu. Tapi jangan pernah berhenti bangkit.

Karena orang sukses bukan yang tidak pernah gagal. 

Orang sukses adalah yang bangkit satu kali lagi—setiap kali.

 


Tentang Buku Asli 

"How Successful People Win: Turn Every Setback Into A Step Forward" adalah salah satu buku dari seri "How Successful People" karya John C. Maxwell, penulis, pembicara, dan leadership coach yang telah menjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia. 

Maxwell telah melatih jutaan pemimpin dan entrepreneur selama lebih dari 40 tahun. Dia adalah pendiri The John Maxwell Company, The John Maxwell Team, dan EQUIP—organisasi nonprofit yang telah melatih lebih dari 6 juta pemimpin di 180+ negara. 

Buku ini adalah destilasi dari pengalaman pribadinya menghadapi kegagalan bisnis, rejection, dan setback—serta observasinya terhadap ratusan pemimpin sukses yang dia mentor dan pelajari. 

Untuk pemahaman yang lebih dalam, lebih banyak contoh nyata, dan latihan praktis yang bisa langsung diterapkan, sangat disarankan membaca buku aslinya. 

Buku asli memberikan lebih banyak studi kasus, framework detail, dan wisdom dari pengalaman Maxwell yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Sekarang pergilah dan praktikkan. 

Karena pengetahuan tanpa action adalah sia-sia. 

Dan action—bahkan jika mengarah ke kegagalan—selalu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. 

Gagallah dengan berani. Bangkitlah dengan lebih berani lagi.